Lama ya updatenya? Maaf… x(( sy sibuk sekali (sok sibuk) belakangan ini, berikut summary dari chapter sebelumnya untuk mengingat-ingat kembali (sy copas dari paragraf terakhir tapi, tidak apa kan?)
Summary :
Hari demi hari, Dengan tubuh Rukia yang semakin kurus itu, Dokter menyuruhnya untuk tetap berada di ranjang. Rukia pun lebih sering tertidur dari pada aktif. Hal itu membuat Ichigo sedih karena ia tak bisa mengantarkan Ruki jalan-jalan keluar maupun mengajaknya bciara.
Tapi apa daya, Ichigo pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia mencoba untuk berbicara pada Rukia walau mungkin Rukia hanya menjawabnya dengan beberapa patah kata saja. Tapi hal itu tidak membuat Rukia jatuh. Dengan keoptimisannya yang besar, ia mampu membangkitkan semangat Ichigo maupun dirinya sendiri. Tidak seperti dulu, di mana ia sangat depresi dengan penyakitnya. Hal itu seakan sudah hilang begitu saja semenjak ia bersama dengan Ichigo yang menemaninya setiap hari.
Disclaimer:
BLEACH © Kubo Tite
SECONDS TO PAST AWAY © Mae Otsuka
Main Pair: RukiaxIchigo
Adventure-Romance xD
RnR please: D !
OOC
"She had love, gave love. And love doesn't die."
"—Dan Ishida memutuskan untuk turun dan mengambil kayu bakar itu di tukang bakso tadi." Cerita Ichigo riang. Rukia tertawa kecil mendengar kisah perjalanan Ichigo dan kawan-kawan ke bukit Karakura itu minggu lalu.
"Hhhhh…" helanya capek bercerita, "Mau makan apa?" tanya Ichigo basa-basi. Rukia hanya tersenyum datar. "Mau bubur? pokoknya Kau harus makan." Kata Ichigo lagi. Kali ini Ichigo sudah siap dengan mangkuk dan sendok makan di tangannya. Rukia terpaksa menangguk pelan walau dalam hatinya ia tak mau makan. "Aku segera kembali," ucap Ichigo.
Di tengah perjalanannya menuju dapur tempat dia memasak air panas, Ichigo bertemu dengan Hisana dan Byakuya. Ia juga melihat seorang dokter berdiri tegap di hadapan mereka. Tampangnya nanar. Ia mendekati mereka dan mendapati Hisana dengan matanya yang bengkak. Pipinya basah. Ia menangis.
"Nee-san! Ada apa?" tanya Ichigo setengah berlari. Merangkulkan tangannya di kedua bahu Hisana. Dan, Hisana hanya menjawabnya dengan gelengan. "Ada apa Byakuya-san!" tampang Ichigo kali ini was-was sekali. Kemudian, dilihatnya Hitsugaya. Masih berdiri dengan tiang infuse di sampingnya yang juga dari tadi bersama dengan mereka. Tampang HItsugaya yang dari semula memang sudah pucat, semakin pucat. "He—Hei, apa ini tentang Rukia?" Ichigo masih berusaha bertanya. "Apa sesuatu terjadi pada Rukia? Ha…ha…seperti film saja, hei cepat katakan, aku sudah berpikir yang tidak-tidak pasalnya!" tanya Ichigo mendesak mereka untuk segera menjawab.
Hitsugaya menghela nafas, tak berani melihat mata Ichigo. Demikian juga dengan dokter itu dan Hisana. Byakuya lalu angkat bicara,
"Kurosaki," panggilnya, Masih dengan nada yang datar. "Stadium Rukia meningkat."
"…hah?" tanya Ichigo.
"Stadium 4. dan…"
"Byakuya…" bisik HIsana. Menyuruh Byakuya untuk tidak melanjutkan kata-katanya.
"Apa! Cepat katakan!" teriak Ichigo. Teriakkannya menggema di hall way itu. Matanya sudah berkaca-kaca. Kali ini Hitsugaya yang hendak melanjutkan kalimat Byakuya.
"…hhh.." helanya "Kurosaki-san… Kuchiki-san diperkirakan…hidupnya tak lama lagi… kanker otaknya sudah—"
"Hidupnya tak lama lagi? Ha..ha..ha... kalian bercanda kan? Kenapa serupa dengan yang kubayangkan sih! Katakan ini tidak benar. Ini tidak benar kan? " tanya Ichigo, disertai tawa sinis dan menganggap ini tidak benar. Tapi tak satupun menjawab pertanyaan Ichigo itu. Ia lalu menarik kerah Byakuya dengan paksa, "KATAKAN ! KAU HANYA BERCANDA KAN!"
"Oh…bercanda? Tatap mataku Kurosaki, apa ini yang disebut bercanda? Penyakit Rukia dari awal memang sudah parah! Dan seharusnya kau tahu itu!" kata Byakuya dingin. Ichigo melepaskan tarikan kerah itu. Ia terduduk di lantai, bersandar di tembok, dan meremat rambutnya. Tubuhnya gemetaran. Ia terisak. Sungguh tak bisa dipercaya teman specialnya itu tak lama lagi akan hilang dari hidupnya. Teman yang sudah menemaninya selama 4 tahun.
Tidak.
Bahkan lebih.
"Kurosaki-kun…" bisik Hisana masih menangis. Hisana mencoba untuk mengajak Ichigo bangkit berdiri. Namun gagal. Ichigo tak mau berdiri. Ia hanya ingin meringkuk. Bersandar di tembok itu dan menangis.
"Kurosaki-san…" bisik Hitsugaya, "Maafkan aku."
"Biar kami sendiri saja yang menyampaikan ini pada Kuchiki Rukia." Kata Byakuya pada Dokter itu.
"Baik, Kami turut berduka." Ucap Dokter itu.
"JIka ini terlalu berat untukmu, maka biar kami sendiri yang menyampaikannya pada Rukia, Kurosaki." Ucap Byakuya seraya berjalan meninggalkan Ichigo di sana. "Ayo Hisana."
Melihat kepergian mereka menuju kamar Rukia, Hitsugaya hanya bisa menghela nafas. Ia lalu melihat Ichigo sudah berhenti terisak. Ia ikut duduk di samping Ichigo dan berbisik,
"Seharusnya aku tidak kemari…" kata Hitsugaya, "Padahal awalnya aku hanya hendak pergi membeli mochi… hhh…" ia lalu tersenyum, "…aku tak ingin mendengar berita yang akan menimpaku juga nantinya."
"….ha..?" tanya Ichigo dengan suara parau. Ia mulai memunculkan wajahnya dengan mata yang sembab itu.
"…aku dan Kuchiki-san mengidap penyakit yang sama. dan… tak kusangka ia akan mengalami hal ini jauh lebih parah dariku. Sewaktu gadis yang kusayangi memutuskan hubungan kami, aku merasa hanya diriku lah yang paling menderita di dunia. Aku menghentikan semua hal yang kuminati. aku selalu ingin menjadi pencipta game, tapi seketika saja setelah aku tahu aku mengidap penyakit ini, aku merasa hidupku tak ada artinya. Tapi tidak setelah aku bertemu dengan Kuchiki-san." Ia lagi-lagi tersenyum. Mendongakkan kepalanya melihat langit-langit hall way. "…Kuchiki-san selalu sibuk dengan hal yang ia minati itu dengan suka cita. Ia selalu sibuk dengan kameranya. Ia tidak pernah berhneti berkarya. Tapi, ia pernah mengaku padaku dirinya sempat merasa sepertiku. Merasa hidup tak ada artinya lagi. Akan tetapi… tidak setelah ia bertemu denganmu, Kurosaki-san."
"….eh?" tanya Ichigo.
"Ia senang sekali saat melihatmu datang mengunjunginya hari itu. Ia membangkitkan semangatnya seketika. Kau ingat? Itu adalah Di hari di mana kau mengecup dahinya. Ia tak pernah menerima hal itu sebelumnya bukan?"
"… ah..kau benar." Ichigo semakin memelankan suaranya.
"Kenapa? Empat tahun lamanya kau tak gunakan sebaik-baiknya… aku yakin kau sekarang sangat menyesal. Tapi kau masih punya waktu. Senangkan dirinya, Kurosaki. Kau menyayanginya, dan ia tahu itu."
"…kau benar." Kata Ichigo. Ia tersenyum. Dan beranjak berdiri. "Terima kasih,"
"Ya, sama-sama." Kata Hitsugaya.
"Dan… kau tidak baru saja mendengar berita yang akan menimpamu nanti. Jika kau percaya kau akan hidup mungkin seribu tahun lagi, kau tak akan berkata seperti itu, tapi kau akan berkata, "Aku masih punya masa depan." …" ucap Ichigo. "Aku belajar itu… dari sosok gadis yang kucintai ini."
" But She did not let sickness stop her from living, take away the hope of faith that made her believe she had a future."
"Oh…" gumam Rukia. Ia hanya tersenyum pasrah saat merespon pesan Byakuya barusan. Hisana pun semakin memperkeras isakannya. Sedang Ichigo sendiri berencana untuk tak melihat langsung wajah Rukia yang menurutnya akan menangis hebat. Tapi yang ia lihat malah senyuman polos itu. Senyuman polos dan pasrah benar-benar terpancar jelas dari wajah Rukia. Ia seakan tak mempermasalahkan hal ini sama sekali.
"Oh… halo Ichigo. Sudah buburnya?" tanya Rukia yang melihat Ichigo berdiri di pintu itu, "Kenapa pasang wajah seperti itu sih? Jelek."
"…" ichigo tak merespon pertanyaan Rukia yang terlalu aneh untuk dijawab itu. Tidak. Lebih tepatnya terlalu menyedihkan untuk dijawab.
"Kau membutuhkan waktu untuk saling berbicara kan?" tanya Byakuya masih dingin. Tapi Ichigo tak menjawab sepatah katapun. Ia memalingkan wajahnya pada Byakuya. Byakuya yang mengerti maksud Ichigo langsung membawa Hisana keluar dari ruangan itu dan meninggalkan mereka berdua di sana.
"Hei," panggil Rukia masih dengan senyumannya itu "… sudahlah jika memang itu—"
"Jika kau ingin menangis… menangislah, jika kau ingin teriak, teriaklah… aku tidak masalah, yang menjadi masalah itu kau Rukia…" ucap Ichigo pelan. Ia menundukkan kepalanya agar tak bisa melihat wajah Rukia. "Ti—Tidak usah berbohong… kau sedih kan? Kau kecewa kan? Katakan saja! Aku tak ingin menangis sendirian, Rukia!" teriaknya.
"Ichi—"
"Aku tahu..aku tahu kau merasa semuanya berakhir, dan—"
"Siapa bilang aku merasa semuanya berakhir?" tanya Rukia.
"Eh?" kata Ichigo seraya mendongakkan kepalanya untuk menatap mata Rukia.
"Aku tidak pernah merasa semuanya berakhir. Maupun saat aku mendengar berita itu barusan, aku tak pernah merasa semuanya berakhir. Aku masih bermasa depan, Ichigo. Dan aku memiliki berbagai cara untuk mewujudkan impianku walau aku hanya memiliki waktu sehari saja." Tuturnya.
"…"
" Karena aku pun tahu, aku tak mau hidupku berakhir mengenaskan. Dan karena aku tahu, aku bisa."
"… tapi, aku tak ingin kau memaksakan dirimu, Rukia! Kau tidak tahu betapa sedihnya aku mendengar berita itu tadi! Aku mencintaimu Rukia! Sangat! Dan aku akan melakukan segala cara untukmu!"
"… terima kasih," senyum Rukia. "Dan jika kau benar-benar menyatakan hal itu, maka kau akan membiarkanku melanjutkan mimpi-mimpi yang akan kukejar."
"…Rukia…" kata Ichigo lirih. Rukia pun tersenyum pasi dan berkata,
"Kau pasti capek kan? Sudah kau pulang saja dulu."
"Eh! Yang benar sa—"
"Sudah pulang saja, Ichigo." Kata Rukia dengan nada yang berbeda hingga Ichigo terpaksa diam dan mengambil tas ranselnya.
"… be—besok aku kemari." Kata Ichigo pelan.
"Tidak usah, besok kau ada ujian kan? Inoue memberi tahuku. Jadi, tidak usah dipaksakan." Kata Rukia. Kali ini ia benar-benar tak memandang wajah Ichigo dan mengalihkan pandangannya ke slr miliknya.
"…" Ichigo hendak mengatakan sesuatu. Tapi ia memutuskan untuk menahannya saja dan tetap berkata,
"Besok… aku kemari."
TO BE CONTINUED
Ya... begitulah akhir dari chapter 4... :D sy usahakan dalam seminggu paling tidak update 1 kali di setiap hari sabtu beserta fanfic sy yg satunya. makasih untuk yg sudah review! berikut balasan reviews xD
Untuk Ai :D sy doakn semoga lekas sembuh y Ai, fightin!
Ohh…itu soalnya Ruki kan pernah sempet ngomong kalau kayaknya dia sm Ichi tuh cuma temen dekat. Ruki sendiri ga pernah dapet prilaku romantis dari Ichi pasalnya, jadi karena itu hitsu ngomong kalau si ichi pasti Cuma masih malu-malu dan g berani jujur sm Ruki kalau dia sayang. Hehehe, makasih sudah review xD semoga lekas sembuh!
Untuk Whitey-Toshiro :D Cuma a pair kayaknya. Hohoho. :D makasih udah review!
Untuk Yupi –AkaiYuki- Kurosaki :D iya saking parahnya tambah lama tambah kurus. Sy juga kasian lama-lama sm si Ruki. Hehe, makasih ya sudah review xD
Untuk Kurochi Agitohana :D hehe, iya akhirnya baikan juga. Oke sy banyakin xD makasih sudah review ya~
Untuk SeiichiroRaikaSiiStoicAlone :D romantis-romantisan? Hehe, iya sebentar lagi. Ditunggu saja ya, hehe, makasih sudah review xD
Untuk minami-san, :D O.. yg ichi ngambil kameranya si rukia itu memang tidak diceritakan secara detail. Dia ngambilnya ya pas marah2 sm rukia kapan lalu itu. xD hehe. Rukia makin lemes-tidak bertenaga dsb itu karena penyakitnya makin parah. Ya begitulah pokoknya, hahaha. Makasih sudah review~XD
Untuk Cha :D yeaaaa! (bahagia entah mengapa) Hahaha, kerasa kan IchiRukinya? Seneng deh, saya banyakin IchiRukinya nih! (membara)hehehe,makasih sudah review xD
Untuk Bl3achtou4ro dan Ruki Yagami,dan Nyit-Nyit :D indeed. xD hehehe, itu karena sayang pasalnya, kalau ga sayang Ichi ga bakal balik2…hehe, makasih sudah review~!
Untuk dorami fil, dan Minna IchiRuki :D Terlambat sudah.. terlambat.. sy mau bikin dia sekarat malah (boong ding-maaf suka error) hahaha. makasih sudah review~!
