Tajam menyayat berdarah

Luka tersayat meninggalkan bekas

Terluka hati penghianatan

Terluka batin kebencian

Terluka pikiran kebohongan

Istriku yang tak kucintai

Kau telah memutar balikkan duniaku

Tahukah kamu ...

Kututup kedua mata

Kututup kedua telinga

Kututup mulut diam beribu kata

Chapter 4 : Berdamai

Naruto POV

"Kau mabuk Naruto?"Sakura menghampiri suaminya dan membantunya berjalan karena sepertinya pria itu berjalanpun sudah kepayahan.

.

.

"Diam kau"desis Naruto tepat ditelinga sang istri

.

.

Wanita yang telah menjadi istriku ini membantuku menaiki tangga menuju kamarku entah kenapa aku tak berusaha melepas tangannya dari tubuhku. Anehnya justru aku merasakan kenyamanan dan kehangatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya bahkan aroma lembut yang menguar dari tubuhnyapun membantuku mengurangi rasa pusingku akibat mabuk. Aneh benar-benar aneh wangi lembut sejenis bunga yang berasal dari tubuhnya sungguh membuatku ingin terus menghirup kelembutan aroma wanginya. Tak segan semakin kudekatkan tubuhnya semakin mendekat kearahku dan aku semakin bisa menyentuh bahkan mencium wewangian yang ada di rambutnya dibibirku.

.

.

Setelah beberapa saat aku merasa sangat kecanduan dengan aroma ini,dan tak akan kulepaskan apapun yang terjadi. Aromanya yang membuatku melayang dan dengan tiba-tiba tubuhku merasakan panasnya untuk mencicipi wanita yang telah menjadi istriku ini.

"Kau istriku bukan" bisikku ditelinganya dan sedikit mengagetkannya

"I-Iya " jawabnya terbata-bata

"Kau tahu apa yang harus kau lakukan saat suamimu membutuhkanmu bukan?"

"A-Apa maksudmu Naru..." kupotong perkataanya dengan merenggut paksa bibirnya mendekat kearah bibirku dan kucium dia bagai tak ada lagi hari esok untuk mencicipi manisnya bibir wanitaku ini.

.

.

.

.

Ciiiit... ciiiit...ciiiit

Sayup-sayup kudengar suara burung berkicau yang kuyakini pasti ini sudah pagi. Sial semalam aku pulang dengan mabuk berat. Pantas saja kepalaku serasa pecah, tapi tunggu apa semalam mabuk dan kepanasan sehingga membuka bajuku sendiri hingga telanjang?. Sialan aku tak ingat apa-apa dari semalam setelah menyetir sampai rumah.

.

.

Tapi saat kutolehkan kepalaku disebelah kiriku aku mencium aroma wangi manis di bantal yang tak kugunakan,lalu aroma siapa ini seingatku aku tak pernah tidur dikamarku setelah menikah dengan wanita itu.

Kuraba bagian kiri king size bed ku dengan tangan kiri, lalu sempat kurasakan hangat secara spontan kududukan diriku yang masih merasa pusing ini kupaksakan kedua mataku memfokuskan pada sisi ranjang yang masih aku raba. Lalu tak sengaja kuperhatikan pada satu titik ditengah ranjang yang masih kududuki dan seketika itu juga mataku menatap tajam tak kuhiraukan pusing yang menghantam kepalaku.

.

.

"Bercak darah..."bisikku pelan

Oh Shit, Oh Shit, Oh Shit...

Dengan tetap menatap sprai putih yang berantakan serta adanya bercak darah di arena ranjangku sudah kupastikan semalam pasti terjadi sesuatu di dalam kamarku atau boleh ku rinci terjadi sesuatu antara aku dan seorang gadis dan telah kujadikan menjadi seorang wanita pada malam tadi.

.

.

.

Sial...Sial...Sial...

Tapi seingatku semalam aku pulang tidak membawa gadis manapun atau seorang wanita. Buntunya pikiranku kuremas rambut pirang dikepalaku dengan kesal. Lalu tak sengaja mataku melihat helaian merah muda di bantal yang tak kugunakan. Jangan-jangan... 'Sakura' satu nama itulah yang terlintas dikepalaku saat kuambil helaian merah muda yang halus itu di telapak tanganku. Indah,cantik rambut ini sangat cantik juga wangi.

Jadi malam tadi aku dan wanita itu, bukan wanita itu dia bukan orang asing dia istriku Sakura.

"Sialan kenapa aku berpikiran seperti ini sejak kapan aku menganggapnya sebagai bagian keluarga ini? Sejak kapan aku menganggapnya sebagai istriku?" gerutuku perlahan

"Brengsek,aku tak bisa mengabaikan aroma manis yang menguar disepenjuru kamarku ini"

"Wangi manis ini sungguh menenangkanku"

Bahkan aku tak bisa membandingkan aroma manis ini dengan aroma lavender milik Hinata. Aroma manis yang menguar diseluruh kamarku ini justru lebih menenangkanku kalau aku ingin jujur aroma manis ini bisa membuatku merasa tenang dan nyaman.

Tiba-tiba sbuah suara menyadarkanku dari lamunanku tak lain adalah ponselku.

.

.

.

'Yo,Naruto kau tak lupa rapat pagi ini kan? Sudah kau temukan berkas kontraknya?'

"Ck dasar kau Kakashi, iya aku tak lupa sekarang aku masih dirumah nanti langsung aku bawa untuk rapat berkasnya"

'APA?,kau bilang tadi kau dimana kukira kupingku salah dengar kalau kau ada dirumah pagi ini'

"Sialan kau, aku memang ada dirumah Kakashi memang kenapa kalau aku dirumah? Lagipula ini rumahku sendiri kau ini Kakashi, seperti mendengar berita kalau Neji akan melahirkan saja"

'Hahaha kalau Neji mendengarmu mengatakan itu sudah kupastikan besok kau berjalan tanpa kepala Naruto'

"Hahaha kupikir itu bisa jadi, lalu selain menelponku untuk membawa berkas ini kau ingin mengatakan apa cepat. Aku ingin mandi dan bersiap-siap kekantor justru kaulah yang membuatku akan terlambat"

'Aku senang kau mau pulang Naruto, terima atau tidak wanita yang tinggal seatap denganmu itu adalah istri sah mu Naruto'

"Entahlah Kakashi, kau tahukan cintaku ini untuk siapa?"

'Kau ini keponakanku dan aku tahu jika apa yang keluargamu paksakan untukmu memang tak adil buat dirimu Naruto, tapi asal kau tahu orang tua itu selalu melakukan segala hal untuk anaknya bahkan jika anaknya tak mengerti apa maksud orang tua melakukan hal yang bahkan dianggap tak masuk akal untuk anaknya sendiri, tapi pada satu titik anak itu mengerti semua maksud orang tuanya melakukan hal itu untuknya, tetapi saat anak itu ingin memperbaiki kesalahannya pada wanita yang dikendakkan orang tuanya pada anak itu tapi semua sudah terlambat. Jangankan meminta maaf untuk melihat wanita itu tersenyumpun itu hal yang mustahil inilah kenapa penyesalan selalu datang terlambat. Jadi yang ingin kuingatkan padamu Naruto cobalah berdamai dengan keadaanmu sekarang meskipun sulit jangan sampai terlambat kau menyadarinya. Jangan lagi kau ulangi kesalahan anak itu, bukan tapi jangan pernah lagi kau ulangi kesalahanku Naruto'

"Ka-Kakashi "

'Iya Naruto inilah kisah yang selalu ingin kauketahui kenapa sampai sekarang aku belum menikah lagi. Karena aku telah jatuh cinta pada wanita yang dulu dipaksakan Ayah untuk kunikahi dan dengan arogannya ku benci wanita yang tak tahu apa-apa itu kulampiaskan segala kemarahanku,kebencianku dan sakit hatiku karena Ayah kepada wanita polos itu'

Saat kudengarkan cerita sesungguhnya dibalik wajah bertopengnya itu seperti refleksi kisah yang sedang kujalani aku akan bisa berdamai dengan keadaanku sekarang? Tapi lalu bagaimana dengan Hinata? Bukankah aku mencintai wanita indigo itu?.Lalu kenapa saat kuhirup lagi aroma manis yang memabukkanku ini aku menjadi bingung, aku menjadi ragu dengan perasaanku sendiri sebenarnya apa yang salah dengan diriku?.

'Naruto...naruto kau masih hidup? Atau kau pingsan mendengar kisah cinta tragisku atau bahkan kau menangis tersedu-sedu sampai kau tak bisa lagi bicara?'

"Ya syukurlah aku masih hidup, tidak aku tidak menangis sepertimu yang cengeng itu Kakashi"

'Sialan padahal aku sudah ingin mempersiapkan acara kematianmu,hahaha'

"Ha Ha Ha lucu sekali Kakashi"

'Naruto bisakah kau berjanji satu hal padaku agar aku bisa tenang untuk kedepannya?'

"Janji apa?"

'Berjanjilah padaku agar kau memberikan kesempatan pada dirimu sendiri untuk menerima pernikahanmu itu'

"Kau tahu Kakashi itu hal yang susah untuk.."belum sempat kuselesaikan ucapanku kudengar Kakashi berucap.

'Satu kali'

"Apa? Kau mengatakan apa Kakashi?"

'Aku bilang satu kali saja cobalah menerima pernikanmu ini berilah Sakura kesempatan menjadi istrimu seutuhnya bukan hanya tittle keluarga saja, berilah Sakura perhatian meskipun hanya untuk hal yang kecil lakukan sesuatu untuknya walaupun bukanlah sesuatu yang mewah berilah dia kesempatan jangan hanya jadikan dia pelampiasan kemarahanmu karena orang tuamu Naruto. Karena kau pintar kau pasti sudah tahu apa maksudku sebelum kau menyesal seumur hidupmu Naruto jangan kau ulangi kesalahanku'

"..."

'Biarkan dia merasakan bahagia yang berasal darimu Naruto, karena Sakura adalah gadis yang mudah dicintai jangan terus kau lukai dia karena dia juga korban sepertimu dia gadis polos Naruto yang aku tahu pasti kalian adalah pasangan serasi selama aku melihat kalian berdua jadi berusahalah berdamai dengan keadaanmu sekarang'

"Biarkan aku koresi 3 hal dari yang kau katakan tadi Kakashi. Pertama Sakura sudah bukan lagi gadis karena semalam sepertinya aku tidur dengannya. Kedua Sakura adalah istriku dan memang telah menjadi istriku sejak tadi malam. Ketiga aku sudah memutuskan untuk mencoba berdamai dengan takdir,nasib, Ayah,Ibu juga Sakura. Terimakasih Kakashi membantuku membuka mataku selama ini"

'Hahaha aku sangat senang mendengarnya Naruto, sama-sama gaki. Yasudah sana siap-siap pagi ini kita ada meeting penting'

"Yosh semangat Kakashi sudah lama aku tak merasa selega ini mengobrol denganmu dan juga maaf karena aku, kau bercerita tentang Shizune-nee lagi maaf Kakashi jika selama ini aku selalu merepotkanmu"

'Tak apa Naruto aku juga ingin berdamai dengan masa laluku dan membuka lembaran baru ya sudah selamat berjuang suami muda! Sampai jumpa dikantor'

.

.

.

Setelah menutup telepon dari Kakashi dengan cepat aku masuk ke kamar mandi melakukan rutinitas selesai bersiap kulangkahkan kakiku menuju tempat yang sepertinya sudah lama tak ku sambangi mana lagi kalau bukan ruang makan. Sesampainya disana langsung kuedarkan pandanganku tapi aku tak menemukan merah muda Sakura. Apa dia marah padaku, atau dia kecewa padaku?. Lalu tanpa kusadari Akemi mendatangiku.

"Tu-Tuan ada yang bisa saya bantu? Apa tuan ingin sarapan biar aku siapkan dahulu" ucapnya gugup tepat dihadapanku

"Hn"

"Baiklah Tuan silakan duduk dulu biar aku siapkan sarapan Tuan" setelah itu dia melangkah menuju dapur sebelum menjauh kuhentikan langkahnya dengan memanggil namanya.

"Akemi"

"I-Iya, Tu-Tuan ada apa?"

"Mana Sakura?" saat aku bertanya seperti itu kulihat wajah Akemi nampak terkejut terlihat dari matanya yang menatapku dengan matanya yang bulat lalu tak berapa lama senyum lebar tercetak diwajahnya.

"Nyonya sudah berangkat ke Rumah Sakit Tuan, tapi sepertinya pagi ini ada hal mendadak jadi Nyonya berangkat pagi-pagi sekali. Apa ada hal yang ingin sampaikan pada Nyonya saat nanti dia pulang kerumah biar nanti aku sampaikan"

"Tidak akan kukatakan sendiri saja nanti setelah aku pulang kantor kau buatkan aku ramen nanti malam aku makan dirumah"

"Ba-Baik Tuan akan saya siapkan ramennya"

"Mana sarapanku?"

"Ah iya, tunggu sebentar tuan"

.

.

.

.

.

Setelah sampai dikantor meeting akan segera dimulai. Kujalani hari ini dengan suasana hati yang berbeda tak ada lagi kemarahan tak ada lagi kebencian seperti kata Kakashi aku telah berdamai. Bahkan setelah meeting tadi aku sempatkan menelpon Kaa-chan dan beliau sungguh senang mendengar kabarku langsung dari mulutku tak lupa aku juga meminta maaf pada tou-san. Hari ini sungguh hari baru untuk diriku. Tanpa kusadari jam sudah menunjukkan jam 8 malam lalu dengan cepat aku menghubungi nomor yang sudah kuhapal diluar kepalaku.

"Halo Akemi? Oh Nenek Chiyo aku ingin tanya Sakura sudah pulang belum?

'Ah Tuan belum Nyonya belum pulang Tuan memang apa ada yang Anda ingin sampaikan pada Nyonya?' tanya wanita yang telah bersama keluargaku dari ayah masih muda hingga aku yang telah menjadi dewasa itu.

"Tidak usah aku akan menjemputnya kalau begitu. Oh iya jangan lupa ramenku tadi aku sudah bilang pada Akemi aku makan malam dirumah"

'Sudah Tuan, sudah kami siapkan semua tinggal menunggu Tuan dan Nyonya pulang untuk akan alam'

"Ya sudah sampai nanti"

'Baik Tuan'

.

.

Tak menunggu lama aku langsung keluar kantor yang sempat kulihat Kakashi tersenyum dan mengedipkan matanya padaku walaupun dia memakai masker aku selalu hapal dengan senyumnya sampai diparkiran lalu masuk kemobil kulajukan mobilku menuju tempat yang belum pernah kusambangi sebelumnya yaitu Rumah Sakit Haruno tempat Sakura bekerja. Tunggu aku Sakura kau akan jantungan melihatku sadar aku tersenyum membayangkan wajah wanita merah muda itu.

.

.

.

.

.

Haruno Hospital

Setelah sampai di Rumah Sakit langsung kuarakan langkah kakiku menuju Resepsionis Rumah Sakit.

"Permisi apa dokter Sakura masih bertugas?" kutanyakan langsung keberadaan Sakura padanya

"Ah maksud Anda dokter Namikaze Sakura?"

"Benar"

"Kalau boleh tahu ada keperluan apa Anda mencari dokter Namikaze? Kalau tidak keberatan siapa nama Anda agar saya hubungi dokter Namikaze untuk Anda karena memang shift dokter Namikaze telah selesai jam ini"

"Namikaze Naruto itu namaku"

"Ah Kami-sama, maafkan kelancangan saya Namikaze-san saya akan telepon dokter Namikaze segera"

"Baiklah"

.

.

.

Setelah beberapa saat menunggu aku telah duduk dikursi depan tempat pasien mengantri diloby rumah sakit kulihat seorang dokter wanita dengan langkah cepat atau bisa kubilang berlari kecil melewati depan tempatku duduk. Dan tak salah lagi dokter wanita dengan rambut merah muda panjang dikepang agak berantakan itu langsung menuju meja resepsionis rumah sakit tanpa menyadari kehadiranku dia mulai berbicara pada wanita yang tadi aku tanyai.

.

.

.

"AAAAaah kenapa lagi Kirida-san bukankah shiftku telah berakhir dan alam ini giliran shift Ino-pig. Apa Ino-pig ijin lagi? Dasar awas saja kalau dia ijin lagi seenaknya saja bolos kerja aku sudah capek sekali tadi ada 3 operasi yang kutangani jadi aku mohon padamu hubungi saja dokter lain kalau memang bukan keadaan darurat aku sudah lapar perutku minta jatah siang tadi aku tak sempat makan pagi tadi aku hanya sarapan apel jadi ayoollaaaah Kirida-san jangan aku lagi kalau kau memaksaku asuk shift malam ini kupastikan besok aku pasti hanya tulang berjalan kau tak mau kan dokter andalan rumah sakit ini jadi tengkorak merah muda berjalan? Kan? Kan?"

"A-Anu ta-tapi dok..."

"please please please biarkan aku pulang yah? Yah? Aku lelah sekali ini saja sepertinya kakiku sudah tak kuat lagi buat jalan tolonglah aku kau cari dokter lain saja untuk bertugas asal malam ini jangan aku"

Tanpa sadar aku tertawa tertahan melihat tingkah polahnya yang kuanggap itu imut sekali sangat berbeda saat dia bersamaku Sakura yang ini entah kenapa aku suka. Suka?

"Tapi dokter Namikaze bukan itu yang ingin aku sampaikan tapi aku ingin bilang bahwa Anda ditunggu seseorang dokter"

"Ditunggu seseorang? Siapa memang?"

"Itu dia orangnya"

.

.

Setelah itu aku melangkah mendekat kearah Sakura berada dengan senyum dan tawa yang masih tersisa aku datang padanya.

"Hai Sakura, aku mau menjemputmu ayo pulang shiftmu sudah selesaikan malam ini dan ayo kita makan malam karena aku tak mau tengkorak merah muda menjadi istriku kau juga bilang kakimu sudah tak bisa untuk jalan apa kau ingin aku menggendongmu? Hahaha kau manis sekali Sakura-chan" tak bisa kutahan lagi aku menggodanya dan wajahnya sangat terkejut dengan mulut terbuka dan bola mata emeraldnya yang menatap tak percaya kearahku seperti yang telah aku bayangkan sejak tadi reaksinya saat melihatku disni.

"Na..Na...Naruto?"

"Yep One and Only "

"Ka-Kamu disini? Dirumah sakit? Kau sakit? Lau kenapa kau kesini? Ayah atau ibu yang sakit yah? Siapa yang sakit kenapa sampai kau kesini?"

"Easy-easy one by one Sakura. Aku kesini menjemputmu aku tidak sakit jadi tenanglah"

Setelah itu kulihat raut wajahnya yang semula tegang dan ketakutan perlahan berubah menjadi tenang dan tak lupa juga semburat pink di pipi pucatnya.

"Jadi. Kau sudah siap pulang Sakura? Aku juga sudah kelaparan dan asal kau tau juga aku juga tak mau menjadi tengkorak kuning berjalan" masih sempat kugoda dia sambil tersenyum menyeringai sesuai tebakanku wajahnya semakin memerah mengalahkan warna rambutnya sendiri.

"A-Aku ambil tas dulu lalu kita pulang "

"Ok aku tunggu"

Setelah itu kutatap dia yang melangkah menjauh guna mengabil tasnya dan sempat kudengar bisik-bisik suster dan dokter dirumah sakit ini membicarakan tentang aku yang seorang suami Sakura serta menilai jika aku dan Sakura adalah pasangan yang manis. Aku juga mulai merasa kami adalah pasangan yang cocok.

.

.

.

.

Yosh kelar juga ni chapter yang paling nguras otak buat Kiri semoga kalian suka (^o^)/

Saatnya bales review

Paijo Payah : Ini udh di next :D

Riyuzaki namikaze : chapter it emg diulang tapi dr sudut pandang berbeda hopefully u like this chap :D

Aion Sun Rise : Ini sudah lanjut :D

Ayuki Hikari : Hu'um emg kasihan Sakuranya tp gk di chap ini kan? Mksih udh bca dan review ttp bca ff ni yah :D

Geki uzumaki : Mksh ni udh lnjut, wah soal itu hanya hinata yg tau knp st dia bo'ong :P

the Carpenter3 :Mksh. Wah udh pngn nikah aja nih u bisa aja, makasih udh review smoga ttp suka ff ni yah :D

Guest : Udh di balap mksh udh review ttp bca and review yah :D

Bray : wah tmbh rate yah? Ane blm berani hehehe tp mksh udh review ttp bca and review lg yah :D

NSL : hehehe akhirnya udh gk bngung lg kan, di chap ni narusaku nya udh kerasa kan? Naruto kejam yah ni msh naruto versi iutnya versi kejamnya tunggu ja dichap" slnjutnya mkasih udh baca and review jgn bosen bca and review ya :D

Guest : sudah di next mksh udh review jgn bosen bca and riview :D

CEKBIOAURORAN : ksh udh review :D

fans narusaku : Yups I love narusaku, salam kenal udh udh usha ada lucunya tp gtw lucu pa gk mksh udh review jgn bosen bca and review yah :D

fans narusaku : I love narusaku. Ni udh lanjut mksh dah review jgn bosen bca and review ya :D

fans narusaku : salam kenal juga. Mksih udh suka ff ni q tunggu review slnjutnya :D

fans narusaku : sudah lanjut :D

Seliria : ni udh lnjut jgn lupa R&R yah :D

Sampai jumpa di chap selanjutnya ya (^o^)/