Datang Lagi Saja Besok

.

.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Warn : TYPO. TYPO. TYPO. OOC.

.

.

.

Ini semua salahnya. Padahal dirinya dikenal jenius, tapi kenapa ia membuat semuanya menjadi rumit? Kalau saja ia membiarkan OSIS bergerak sendiri, untuk meminta proker-sialan-itu, atau bahkan sekedar membiarkan mereka memilih klub yang akan menjadi tanggung jawab mereka, maka pekerjaan ini pasti sudah selesai dari kemarin!

'Dasar Jomblo kurang kerjaan!'

Oh, juga salah teman gendutnya yang tahu-tahu saja membawa-bawa masalah masa lalu, yang mati-matian ia lupakan.

Pemuda itu meringis, memijat pelipisnya sebelum kembali mendesah pasrah.

"Hah … merepotkan."

Tapi memang dirinya sedang sial, atau memang kehendak hatinya sendiri. Niatnya hanya mencari udara segar, sekaligus menghindar dari pertanyaan teman-temannya yang makin lama makin merepotkan. Sepanjang jalan sibuk merutuki nasib dan mengomel entah pada siapa, ia sampai tidak sadar ke mana dirinya melangkah.

Shikamaru bingung sendiri, kenapa ia bisa sampai di depan sebuah bangunan yang mirip pendopo khas tradisional Jepang. Tidak terlalu besar, tapi terawat dengan baik, bisa dilihat dari lantai kayunya yang masih mengkilap. Di bagian belakang bangunan langsung terhubung dengan halaman yang luas.

Ia menengadah, menatap sebuah papan kayu yang terpampang di depannya.

'Kyudo'

Sekali lagi, pemuda itu meringis. Bagaimana bisa kakinya berkhianat dan membawanya pada akar masalah? Padahal letak bangunan ini ada di bagian Utara sekolah, cukup jauh dari kelasnya berada.

Tapi ya,sudahlah. Toh, dia sudah sampai.

Jadi sebagai ketua OSIS yang baik dan benar, yang mematuhi keinginan Kepala Sekolah, maka ia harus melaksanakan tugasnya dengan baik, bahkan jika itu artinya ia harus masuk ke kandang singa.

Dan optimismenya luruh, runtuh begitu saja ketika sebuah suara menghentikkan langkahnya.

"Apa yang kau lakukan di sini, Nara?"

Darahnya berdesir, ia membeku di tempatnya berdiri. Tapi tidak lama, Shikamaru dengan cepat mengambil kesadarannya. Pemuda itu memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya dalam satu hembusan panjang.

Hingga akhirnya ia menoleh, mati-matian memasang wajah malasnya yang biasa. Agar tak berubah menjadi terlalu senang, atau juga terlalu kecewa.

"Yo."

Pada akhirnya hanya itu yang bisa ia keluarkan.

Sedang gadis di hadapannya hanya mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Ia memakai Kyudo-gi, sebuah baju yang mirip kimono polos berwarna putih, dengan bawahan Hakamaberwarna hitam. Ada pelindung dada khusus yang ia kenakan.

Gadis itu melipat tangannya di depan dada, angkuh.

"Apa kepalamu terbentur sesuatu hingga tersasar ke tempat ini? Apa kau mau ku antar pulang ke habitatmu atau bagaimana?"

Shikamaru mendengus malas sembari mengalihkan pandangan ke bawah, sebenarnya ia hanya berusaha menyebunyikan tawanya dan senyumnya yang tahu-tahu merekah.

"Aku kemari ada perlu denganmu, Tema-Nona Temari."

Gadis berkuncir empat itu tertawa dengan satu sudut bibirnya yang terangkat, tidak nyaman dengan panggilan yang dilontarkan untuknya.

"Sebegitu pentingnya 'kah sampai kau memilih langsung menemuiku? Biasanya pelayanan atau orang suruhanmu yang akan datang," Temari mengangkat dagunya, tersenyum mengejek pada wajah malas Shikamaru, "kita bicara di dalam saja, kalau kau tidak keberatan membolos jam pelajaran, Nara."

Gadis itu melewati Shikamaru, memimpin langkah mereka memasuki bangunan milik klub memanah.

Shikamaru bergumam 'Merepotkan', sebelum akhirnya ikut mengekori.

Lantai kayu yang berdenyit ketika diinjak, suara gemerisik daun yang ditabrak angin, hal itu tidak membuyarkan tatapan Shikamaru pada punggung gadis di depannya.

Untung saja dia jenius, buru-buru ia betulkan ekspresi wajah kalutnya yang lepas begitu saja.

"Kau boleh duduk di sini."

Shikamaru mengedip sekali, memfokuskan kembali dirinya.

Ia duduk di sebuah kursi kayu yang menghadap langsung ke halaman belakang, berjarak beberapa meter di sana terdapat beberapa papan bergambar lingkaran besar hingga mengecil yang biasa dijadikan target memanah.

Bangunan ini hanya terdiri dari tiga ruangan, yaitu aula yang terhubung langsung dengan halaman belakang, toilet dan Gudang. Didirikan memang untuk Temari, khusus untuk keluarga Sabaku.

Jadi jangan heran, kalau klub ini tidak memiliki anggota. Temari adalah satu-satunya anggota sekaligus ketua Kyudo, klub memanah khas Jepang.

Harusnya kedua adikknya lah yang menjadi anggota, tapi mereka berdua tidak tertarik.

Sementara Shikamaru duduk dengan manis, Temari kembali mengambil busur dan anak panahnya. Ia berdiri beberapa meter dari tempat pemuda itu berada. Kakak tertua Sabaku mengangkat bususrnya, kembali mengambil ancang-ancang.

"Sudah lama kita tidak bertemu."

Shikamaru yang pertama membuka suara, memecah keheningan yang sama sekali tidak terasa menganggu, ia menatap gadis di depannya lekat-lekat.

"Kau ini ketua OSIS, kau terlibat di semua kegiatan sekolah, mana mungkin aku tidak bertemu denganmu, bodoh."

Temari masih fokus, mencari posisi yang pas agar anak panahnya tepat menembus sasaran.

Shikamaru megehela napas. Bertemu? Tentu saja. Pemuda itu selalu berusaha bertemu dengan kakak tertua Sabaku, seperti diam-diam menoleh ke kumpulan senior kelas tiga tempatnya biasa berada, atau ke kantin di barisan menu kesukaannya, atau ke sudut sekolah, walau ia tahu itu percuma. Toh, gadis itu selalu menghindar.

Tapi bertemu saja tidak pernah ada artinya.

"Maksudku, kita tidak pernah benar-benar bicara satu sama lain semenjak-"

Tak!

Satu anak panah berhasil melesat, tapi sayang tidak tepat pada lingkaran di tengah yang menjadi pusat sasaran, tidak sampai masuk pada lingkaran kedua dari luar.

Temari mengambil satu lagi anak panahnya, mengangkat busurnya dan kembali membidik. Ia tak menoleh sekali pun pada pemuda berambut nanas yang menatapnya dalam-dalam.

"Lupakan saja, Nara. Itu sudah sangat lama. Usiamu 12 tahun dan usiaku 14 tahun ketika ayahku dan ayahmu sepakat menjodohkan kita berdua, lagipula kau yang paling senang 'kan ketika sepuluh bulan kemudian ayahku membatalkannya secara sepihak?"

"Aku pikir juga aku bisa melupakannya, tapi-"

Tak!

Anak panah kembali melesat, kali ini menancap mendekati lingkaran pusat, walau masih bersisa beberapa jarak.

Temari masih tidak menoleh.

"Pura-pura lupa juga tidak masalah."

"Aku tidak pandai berpura-pura sepertimu."

Mendengar jawaban dari lawan bicaranya, gerakan gadis berambut pirang itu tercekat sesaat, sebelum akhirnya ia kembali mengambil anak panah ketiga, kali ini harus tepat.

Tapi sebelum ia melepaskan anak panahnya, gadis itu terdiam. Pandangannya tertuju pada sasaran, tapi pikirannya entah bercabang ke mana.

"Menyerahlah, Shika."

Pemuda itu kembali membeku, panggilan itu sudah lama sekali tidak ia dengar. Shikamaru tersenyum, kecut.

"Ya, aku menyerah padamu."

Tak!

Selepas anak panah ketiga melesat, selepas itu juga rasa sakit di dadanya timbul.

Hasilnya cukup baik, ia hampir mengenai sasaran.

"Jadi, bagaimana kabar Paman Rasa?"

Temari mendengus setengah mengejek, "Jangan sok akrab," gadis itu memutar maniknya malas, "ia tidak berubah dari terakhir kali kau melihatnya."

Sedang Shikamaru tertawa hambar, ia paham betul maskud jawabannya.

Gadis itu hendak mengambil anak panah keempat, hingga ia sadar bahwa ujung anak panahnya kotor. Tangannya terjulur mangambil tisu yang terletak di samping kursi lawan bicaranya.

Ia berbalik, tapi tidak menatap manik kelam si Pemuda.

"Bagaimana dengan Gaara dan Kankuro?"

Temari meletakkan busurnya sesaat, tangan halusnya mengelap ujung anak panah dengan tisu.

"Kau 'kan satu angkatan dengannya, harusnya kau yang paling tahu."

Sesaat ia pastikan noda di anak panahnya hilang dan kembali meraih busurnya. Mengangkatnya sejajar dengan bahu, ia bidik lagi sasaran di ujung sana.

Tarik napas, buang. Oke, fokus.

"Lalu …." Shikamaru bangkit dari duduknya, mendekat pada gadis yang sayangnya tidak menyadari hal itu, masih fokus pada target.

"… bagaimana kabar tunangan barumu itu, Temari?"

Gadis bermabut pirang itu melirik tajam, tangan Shikamaru menahan gerakkannya. Satu tangannya menahan busur, sedang tangan satunya menahan anak panah yang siap meluncur di genggaman Temari.

Tapi Shikamaru tak merubah wajahnya, ia masih memandangi manik gadis itu dalam-dalam dengan jarak yang cukup dekat.

"Apa urusanmu kemari?"

Suaranya menajam, selaras dengan matanya yang memandang balik Shikamaru.

Pemuda itu mendengus, "Merepotkan." Kemudian melepas genggamannya pada kakak tertua Sabaku. Ia berbalik dan meninggalkan gadis itu, mengabaikan pandangan penuh tanya dari cinta pertamanya.

Cinta pertama? Huh.

"Aku akan datang lagi besok, tidak peduli kau mengizinkannya atau tidak."

Temari mengerutkan alisnya, ia baru saja akan membalas kata-kata penuh keegoisan Shikmaru sebelum pemuda itu kembali menoleh hanya untuk memamerkan senyum mengejeknya, lalu berbalik begitu saja.

Meninggalkan dirinya yang memandang sendu pada punggung yang lama-lama tertelan jarak.

.

.

.

"Kau?"

Sakura mengerutkan alisnya dalam-dalam. Ia merasa pernah bertemu dengan orang di hadapannya, tapi entah di mana.

"Maaf, aku menendangnya terlalu keras."

Seorang pria dari balik pohon muncul, ia tersenyum penuh kharisma, membuat Sakura sedikit bersemu merah.

Yah, untung saja ganteng.

"Lain kali hati-hati, kau hampir membunuhku."

Pemuda yang tidak terlihat seperti warga sekolah itu hanya mengangguk mengerti dan kembali meminta maaf. Manik hitam dan rambut kelamnya yang dikuncir di ujung itu mengingatkannya pada seseorang.

Tiba-tiba saja ia tersadar dengan bola yang kini telah kempes dalam genggamannya.

'Astaga, aku benar-benar bodoh!'

Melihat gadis di depannya meringis karna menyadari kebodohannya sendiri membuat pemuda itu tertawa, "Lupakan saja bolanya, lagipula aku yang salah."

Sakura hanya mengangguk menahan malu, ia meraih kotak makan siangnya dan beranjak dari sana. Untung saja sepertinya pemuda itu bukan murid atau guru di sini, jadi kemungkinan Sakura bertemu lagi dengannya kecil, membuatnya sedikit bernapas lega.

Tepat ketika gadis itu benar-benar telah pergi, seorang pemuda ikut keluar dari balik pohon, seperti Jin saja.

"Kenapa kau tidak menyapanya langsung, Sasuke?"

Yang ditanya hanya mendengus kesal, ia menatap bola yang kempes itu sesaat, "Percuma, ia tidak mengenalku. Lagi pula ini memang salahmu yang menendangnya terlalu keras."

Itachi hanya tertawa sebagai balasan, ia tahu betul bagaimana sifat adiknya.

"Sudahlah, sebaiknya kau pergi sekarang, Itachi-nii."

Pemuda itu mengangguk dan berbalik meninggalkan adiknya. Kakinya melangkah dengan pasti menyusuri lorong sekolah. Sebagai lulusan Konoha High, ia sudah hapal betul seluk beluk sekolah ini.

Hingga akhirnya ia sampai pada tujuannya, ruang kepala sekolah.

Tangannya mengetuk beberapa kali, sampai suara di balik sana mengizinkannya masuk.

"Lama tidak bertemu, Kakashi-senpai."

Kakashi mengalihkan pandangannya sesaat dari laporan yang menumpuk, senyumnya merekah ketika mendapati siapa tamunya kali ini.

"Itachi? Wah, aku senang kau mau mampir ke mari, ada perlu apa?"

Kakashi mempersilahkan tamunya duduk, Itachi tersenyum ramah dan berterima kasih pada seniornya di universitas dulu.

"Aku masih tidak paham, kenapa kau menjadi kepala sekolah padahal otakmu itu jenius. Kita itu ada di jurusan yang sama, Teknik Jembatan dan Jalan Layang, kalau kau masih ingat."

Kakashi tertawa renyah dari balik maskernya.

"Aku masih mengharapkanmu bergabung di Uchiha Corp, kalau kau berubah pikiran."

Kakashi tertawa lebih lebar dari sebelumnya, "Hahaha … tapi maaf saja, walau aku tahu perusahaanmu akan membesar setelah kau menikah dengan putri keluarga Sabaku, aku tetap tidak bisa, Itachi."

Itachi memutar matanya malas, ia menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Matanya menerawang langit-langit ruangan.

"Kau pun melakukan ini semua untuk Obito, kenapa semua orang begitu mencintai dirinya, padahal ia hanya anak angkat kakek Madara. Ia bukan Uchiha."

Kepala Sekolah muda itu ingin kembali mengeluarkan tawanya, tapi ia memang tidak pandai berbohong, ia hanya tersenyum sebagai balasan.

"Kau juga sebaiknya mencari pasangan, Senpai. Dulu ada gadis yang mengejar-ngejarmu, bukan? Yang selalu Bersama dengan Obito itu."

Itachi bergumam, matanya masih menatap langit-langit ruangan tanpa menoleh pada pria yang lebih tua darinya. Kakashi meraih pulpen terdekat, melemparnya tepat mengenai kepala si Uchiha. Pemuda itu mengaduh dan menatap kesal ke arah seniornya.

"Kalau urusanmu sudah selesai, pulang sana."

"Kau mengusirku? Awas saja kalau nanti rindu, Senpai."

Itachi hanya tertawa melihat Kakashi memasang wajah seakan ingin muntah. Ia melangkah keluar ruangan dan meninggalkan Kakashi sendirian.

Sendirian dengan perasaan sesak di dada yang datang tiba-tiba.

.

.

.

"Nah, jadi seperti itu ceritanya!"

Tenten terlihat bersemangat dan berbinar-binar ketika menceritakan betapa hebat dirinya dalam menyelesaikan kasus percintaan orang-orang.

Neji tidak mengerti, kenapa gadis di depannya itu malah menceritakan kasus-kasus cinta yang berhasil ia selesaikan. Gadis itu tidak menyebut siapa orang-orang yang ada di dalamnya, privasi ia bilang, tapi Neji tetap tidak habis pikir. Apa perlu ia menceritakan hal ini padanya?

"Tapi ada satu lagi kasus yang menarik."

Pemuda Hyuuga itu bisa melihat binar di mata Tenten ketika menceritakan kasus cinta yang sebelumnya, tapi kali ini sorot matanya meredup, entah kenapa raut wajahnya berubah sendu.

"Satu yang tidak bisa kuselesaikan. Orang itu tidak memintaku membantunya, tapi aku tahu ia butuh bantuan, karna ia orang paling bodoh sedunia, hahaha." Neji yang awalnya mengabaikan ocehan gadis bercepol itu, kini mulai berbalik mengabaikan dangonya, ia menatap lekat-lekat pada gadis yang asyik memandang ke luar jendela.

Sinar matahari sore menyinari wajahnya, tapi tak sampai menghidupkan lagi binar yang tadi ia keluarkan.

Padahal, Neji benar-benar lupa dengan janji makan dango sepulang sekolah yang dibuat gadis itu, ia hendak menunggu Hinata yang masih sibuk dengan kegiatan klub. Sampai Tenten benar-benar datang menemuinya di gerbang sekolah dan menyeret pemuda itu sampai ke sini.

Tapi sepertinya Neji tidak menyesal. Siapa yang tahu?

"Ia menyukai seseorang, yang ternyata cintanya pun terbalas. Tapi cinta mereka harus kandas karna aturan yang melarang mereka jatuh cinta. Karna memang orang ini dan pemuda yang ia suka sama bodohnya, sama-sama patuh dan tunduk pada aturan, membuat mereka menerima takdir begitu saja. Mereka tak melawan sedikit pun."

Neji tak berkedip ketika wajah Tenten berubah semakin sendu, meredup dibawah siraman cahaya matahari sore.

"Aku ingin membantunya, tapi apa yang bisa kulakukan, Neji?"

Pemuda itu terperangah, waktu seakan berhenti ketika pandangan mereka bertabrakan. Neji dengan perasaan aneh di dadanya melawan kalut yang dipancarkan mata gadis itu.

Tak ada yang berkedip atau memecah keheningan mereka yang sebenarnya hanya berlangsung beberapa detik.

Sebab sebuah suara membuyarkan keheningan yang mereka ciptakan, membuat keduanya mengalihkan wajah bersamaan dengan rona merah tak kasat mata.

"Neji-nii!"

Hinata melambaikan tangannya dari balik jendela, ia berdiri di sebrang jalan bersama seorang gadis berambut coklat sebahu. Mobil keluarga mereka sudah siap membawa kakak beradik itu kembali ke kediaman Hyuuga.

Neji meraih tasnya dan bergegas untuk pergi, sesaat ia tolehkan kepalanya pada gadis yang menjadi teman bincang sorenya ini, "Terima kasih untuk waktunya, Ketua Klub Drama. Aku akan datang lagi besok ke ruang klubmu."

Tenten mengangkat alisnya, "Kenapa? Kan sudah kubilang, aku butuh waktu tiga hari, datang saja tiga hari lagi."

"Ada hal yang ingin aku amati di klubmu, ini juga bagian dari tugasku. Sampai nanti."

Untuk pertama kalinya, Tenten mendapati pemuda itu tersenyum, walau sangat-sangat tipis. Tapi cukup untuk membuat gadis bercepol itu terperangah dan kembali merona.

Ia menatap ke luar jendela, memerhatikan Bendahara OSIS itu masuk ke dalam mobil bersama adiknya, meninggalkan gadis berambut coklat berdiri sendirian sambil melambaikan setengah tangannya.

Tenten menghela napas pasrah, ia tidak berniat memanggil Matsuri. Toh, gadis itu juga sudah beranjak pergi dari tempatnya beridiri.

Begitu pun dirinya, Tenten bersiap untuk pulang sebelum suara cempreng Ino membuyarkan keinginannya.

"Tenten!"

Gadis berambut pirang yang diikat satu itu tersenyum senang, ia berjalan menghampiri meja Tenten bersama dengan seorang gadis berambut pink.

"Ino, Sakura, apa yang kalian lakukan di sini?"

Ino duduk di bangku yang tadi di tempati Neji, sedang Sakura memilih bangku di sebelah gadis itu.

"Kami mau makan dango, kebetulan saja bertemu denganmu." Sakura menjawab lengkap dengan senyum manisnya.

"Sudah lama kita tidak berkumpul begini, padahal dulu di SMP kita sering main bersama, hahaha."

Mereka saling melempar tawa satu sama lain mendengar ucapan Ino yang tiba-tiba. Yah, mereka memang sering main bersama dulu, tapi semenjak masuk ke Konoha High, dan berada di kelas berbeda, membuat mereka jarang bertemu.

Ino mengangkat tangannya, memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesanan mereka.

Dan siapa sangka, pelayan yang datang begitu cantik. Ia berambut biru dengan goresan make up tipis yang membuatnya semakin manis, ada semacam bunga berwarna putih yang tersemat di kepalanya. Ino heboh sendiri ketika melihat wanita itu, senggolan tangan Sakura mengintrupsinya untuk berhenti membuat malu.

Setelah pesanan mereka selesai dicatat, pelayan itu undur diri, meminta mereka menunggu beberapa saat hingga pesanan diantar.

Dan tepat ketika pelayan itu pergi, tahu-tahu saja dua orang laki-laki menarik bangku ke dalam meja mereka. Sontak ketiga gadis itu memandang kesal ke arah tamu tak diundang.

"Mau apa kalian? Pergi sana."

Sakura yang paling awal memulai, ia hendak mengusir mereka.

"Kau jahat, Sakura-chan! Aku kan hanya ingin di sampingmu."

Gadis berambut pink itu memutar matanya malas ketika mendengar jawaban si Pemuda bermabut kuning, sedang Tenten hanya tertawa seolah mengerti sesuatu di antara dua orang yang tengah beradu argumen itu.

"Kau juga, Shikamaru, kenapa kau ikut kemari? Biasanya kau langsung pulang ketika jam sekolah selesai."

Shikamaru mendengus malas mendengar ocehan Sakura yang tiada akhirnya.

"Shikamaru habis bertemu Temari-senpai!"

"Nona Temari, Naruto!"

Pemuda berambut nanas itu yang ditanya tapi Naruto yang menjawab, lengkap dengan suara nyaringnya yang memekakan telinga. Naruto menjulurkan lidahnya melihat Ino kembali mencak-mencak, membuat meja mereka semakin ramai.

"Yang benar?! Ceritakan pada kami!"

"Tenanglah, Sakura-chan, aku akan menceritakannya padamu. Tapi pertama-tama ceritakan dulu pada kami, Shika!"

Sakura mengambil botol saus dan pura-pura hendak mendaratkannya pada kepala kuning Naruto, "Itu artinya kau juga belum tahu ceritanya, bodoh!"

"Merepotkan. Berhentilah mengusikku dengan Temari-Temari-Temari. Huh."

Shikamaru menghela napas. Ia melipat tangannya di atas meja dan menjatuhkan kepalanya di sana, menjadikannya bantal sementara.

Lagi-lagi Tenten seolah mengerti akan sesuatu, ia tersenyum dengan penuh makna kepada Naruto dan Sakura yang masih beradu argumen, juga pada Shikamaru yang tengah memejamkan mata. Bagaimana pun juga jangan remehkan Tenten si Ahli CInta, ia memang pengamat yang luar biasa.

"Nah, Shikamaru. Seharusnya kau mengenalku dan Matsuri, bukan?"

Ino, Sakura, dan Naruto yang masih beradu tidak jelas kini terdiam. Mereka memandang Tenten dan Shikamaru bergantian.

"Yah, seperti itu lah." Shikamaru menjawab tanpa membuka matanya, ia mencium gelagat mencurigakan dari gadis di depannya.

"Lalu apa kematian Karura-san juga menjadi alasanmu berhenti datang ke kediaman Sabaku?"

"Jangan samakan aku dengan Gaara dan sahabatmu itu, hubungan kami resmi sebagai tunangan."

Ino, Sakura dan Naruto tidak bisa menyembunyikan kekagetan mereka ketika mendengar kata 'tunangan' dari mulut Shikamaru, tapi mereka serempak memilih untuk diam. Mereka mencoba mencerna pembicaraan yang dilontarkan dua orang temannya itu, walau tak mengerti maksudnya apa.

"Sabaku Rasa berubah setelah kematian Karura-san, bukan?"

Kali ini Shikamaru mengangkat kepalanya, menatap manik Tenten lekat-lekat, ada raut kekesalan yang tertahan di sana hingga membuat gadis itu tercekat kaget.

"Hey, bisa tidak kalian mengehentikan pembicaraan merepotkan ini?"

Ino dan Sakura saling lirik mendapati teman mereka mengeluarkan aura yang tidak mengenakkan. Naruto hanya menggarukkan kepalanya yang tidak gatal, ia tidak tahu bagaimana cara mencairkan suasana ini.

Hingga Ino mengambil suara, mencoba menyelamatkan mereka dari kecanggungan.

"Bicara soal Matsuri, bukankah kalian berasal dari panti asuhan yang sama?"

Tapi pertanyaan Ino sepertinya malah membuat semuanya semakin rumit, Tenten tertawa hambar.

"Ya, kami satu panti asuhan. Hanya saja nasib Matsuri lebih bagus. Karura-san menyukainya, ia diangkat oleh keluarga Sabaku untuk tinggal di kediaman utama, agar kelak ketika sudah dewasa nanti Matsuri bisa mengabdi pada keluarga Sabaku dan menjadi pelayan yang baik."

Tenten mendengus setengah mengejek, ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela sebelum kembali melanjutkan, "Tapi semuanya berubah, semenjak Karura-san meninggal dunia."

Entah karna cerita Tenten memang sudah selesai atau masih menggantung, karna pelayanan cantik tadi sudah kembali membawa dango pesanan mereka, membuat kelima kepala itu beralih pada kudapan manis itu.

"Kalau begitu, Tenten-sama, si Ahli Cinta, tolong berikan aku saran agar hubunganku dengan Sai semakin lengket!"

"Mau lengket semana lagi, Ino? Kasih lem saja kalau belum puas!"

Tenten tertawa mendengar Ino dan Sakura yang berhasil mencairkan suasana. Shikamaru kembali menempelkan kepalanya di atas meja dan berusaha untuk tidur. Sedang Naruto sibuk dengan Dango yang menjadi pesanannya, sesekali ia ikut menimpali argumen yang dikeluarkan gadis berambut pink itu, membuat Tenten semakin tertawa.

Yah, entah bagaimana besok. Setidaknya biarlah hari ini mereka bersantai sejenak, menghilangkan permasalahan yang mendera di antara mereka semua.

.

.

.

TBC

A/N

Makasih buat AiTema, zevivira, Butiran Berlian, Amethys yang udah review haha. Aku gatau yang kepanjangan itu semana, tapi semoga kali ini ga kepanjangan atau kependekkan.