Maaf fik ini gagal dan nista banget, sama kayak will be good to you, ah~ soal fik itu kenapa malah jadi the best canon di IFA?*pundung* tapi amai masih pengen tau siapa yang rekomendasiin?

Dan gomen fik ini konfliknya gak jelas dan nyebar gini. Gak ada konflik puncak kayaknya deh. Dan maaf karna ammai lebih mengapdet cerita ini terlebih dahulu. Masalahnya ceritanya sudah terbayang semua dalam otak *padahal gak terlalu suka AU* ternyata AU lebih mudah dibayangin daripada Canon. Gomen yak.

Wedding days seharusnya hari bahagia dalam audition. Kenapa malah jadi gini? T^T

Yang udah rifyu: Namikaze Tania-Chan, SoraHinase, Ultach Fussy Chan, Rinzu15 The 4th Espada, Masahiro 'Night' Seiran, Merai Alixya Kudo, Temari Fanz, Sakura 'Cherry' Snowfalls, Hikaru Uzumaki, Thia2rh, Uchiha Sakura97, Wi3nter, Putri Luna, Narusaku Luna Ichiruki, Kurosaki Kuchiki, Cha-Nichi Kudo Oktora.

Hanachi Mya-chan: iya gapapa, terharu kk denger penuturamu *nangis gaje*makasih atas rifyunya yah.

Yuki tsukushi: makasih yuki*blush* eh, aku gak pake guru dan murid kok. Kan aku nulis sensei? Emang bahasa jepangnya dosen apa? Biar lebih menjurus ke jepang aja* ohm, kuliah ya? Abis temen aku suka nulis di sms kulyah. Jadi keikutan deh. Hehhe. Makasih ya atas sarannya. Berguna sekali. *peluk-peluk*

Namikaze Sakura: Heh? Sasuke emang tega kok. Dia emang mau bunuh Karin. Tapi untungnya gak jadi. Yah maklum dia udah gak punya hati lagi *ngasal* makasih atas rifyunya *membungkuk dalam*

SAASU7KEX jUst cHipmUnkZ: Makasih*melukseenaknya* ini udah dilanjutin. Rifyu terus ya *plakngarepmulu*

Sandal jepit: degdegan? Haha, berarti feelnya dapet donk? Makasih ya. Aduuh bingung ammai mau panggil kamu apa nih?

Rie HanaKatsu: Kya~ ammai suka Gaara yang OOC sih *diinjek rie* oh, ada yang ganjil ya, berarti ceritanya aneh donk. Ya udah makasih ya udah rifyu. Hehe terus ikutin ya *ngarep mulu*

Namikaze Meily Chan: Ohayou mei *izinkan ammai meluk mei karena terharu* T,T makasih atas rifyunya. Rifyu lagi?

Fidy Discrimination: oyah, seharusnya aku yang bilang kamu keren. Sinisini aku cium *plak* XD

Kurosaki Naruto nichan: makasih ya, bag naru paling roman *diem* kayaknya masih lama T,T tapi,tapi tetep nantiin ya? *ngarepmulu

Ichigo: ichi~ ammai udah add fb-mu. Kita WTW-an yuk, tapi ammai jarang OL. *plak* udah diapdet. Rifyu yak?

Sinta: ok, ini udah dilanjutin, makasih ya sinta~

Angga uchiha: iya ini udah diapdet. Hehhehe. Makasih yak tas rifyunya.

Makasih semuanya, pasti saya akan balas rifyu kalian kok *nyengir* wew, kepanjangan a/n-nya.

Amai akan ngasih pelukkan selamat kepada Hikaru Uzumaki yang bisa nebak cerita ini *ditendang* selamat sudah menebak cerita ini XD

Warning: DON'T LIKE? DON'T Read! Typos. Semi M.

Disclaimer: MASASHI KISHIMOTO

.

.

.

ENJOY!

.

.

.

Dalam mobil Naruto masih sibuk mengerjakan tugasnya. Sedari tadi pena yang dipegangnya sangat susah digerakkannya. Sudah lama dia di sini rasanya menunggu Sakura. Tapi gadis itu tak kunjung datang. Apa mungkin gadis itu masih tidur sekaran

g?

Saat dilihatnya jam tangannya ternyata sudah jam setengah lima sore. Awan juga mulai gelap karena mendung akan hujan.

Bergegas Naruto keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kampus lagi. Pria blonde itu langsung mencari jalan cepat menuju UKS tempat Sakura istirahat tadi, mungkin lebih cepatnya lewat lapangan basket. Heran saja baginya sampai jam segini Sakura tidak keluar UKS. Apa terjadi sesuatu padanya?

Naruto baru menyadari saat ini ternyata dia sungguh mengkhawatirkan Sakura. Sempat di hatinya sedikit bersyukur dapat bertemu Sakura walau dengan jalan seperti ini. Gadis itu sungguh mampu menggerakkan hatinya. Kemarin ia memang mengagumi Sakura. Namun rasa itu tidak seperti sekarang. Rasa itu sebagian adalah rasa takut kehilangan, kegelisahan, kegundahan. Sebagiannya lagi rasa yang entahlah. Sangat sulit untuk diungkapkan dan dideskripsikan.

Pria blonde itu mempercepat langkahnya menyusuri koridor. Tidak sengaja mata shappire-nya menangkap sosok yang dikenalnya. Gaara. Laki-laki itu sedang bermain dengan bola basket di tengah lapangan yang saat ini dilewatinya.

Gaara merasa ada yang datang kearahnya lantas ia menoleh, "Cari Sakura?" tanyanya berbasa-basi seolah sudah tahu maksud Naruto.

Naruto menghentikan langkahnya sebentar. Ia menoleh menghadap Gaara yang saat itu sedang menatapnya juga. Bagaimana pria ini bisa tahu tujuan pria blonde ini?

"Iya." Jawab Naruto singkat, akhir-akhir ini Naruto suka sekali berbicara singkat. Mungkin karena suasana hatinya yang selalu dilanda kegelisahan yang rasanya tiada akhir ini. Kapan dia bisa lepas dari semua beban yang tidak pernah dilihatnya bahkan disentuhnya.

"Dia sudah keluar dari UKS dari tadi. Aku lihat dia pergi bersama Sasuke tadi." Jawab Gaara dengan nada santai. Memang iya, tadi memang Gaara melihat Sakura digandeng Sasuke pergi. Tidak, tepatnya diseret pria emo itu beberapa menit yang lalu. Gaara tidak bisa berbuat apa-apa pada saat itu karena nyatanya dia tahu Sakura suka Sasuke.

Awalnya Naruto terbelalak mendengar perkataan Gaara, ada di sebagian hatinya tidak mempercayai perkataan pria ini. "Hm?"

"Tidak percaya tidak masalah." Setelah itu Gaara langsung berjalan mendekat kearah Naruto masih dengan memegang bola basketnya, "Kau boleh melihatnya sekarang."

"Dimana Sakura sekarang?" tanya Naruto garang.

"Mana ku tahu. Dia pergi bersama Sasuke bukan aku!" setelah itu Gaara berlalu meninggalkan Naruto yang masih berdiri di sana.

Kuat-kuat Naruto mengepalkan tangannya menahan emosinya yang memucak sekarang. Ia juga tidak tahu kenapa sekarang ia menjadi orang yang mudah marah dan susah mengendalikan emosi.

Namun sedetik kemudian pria blonde itu langsung berlari kearah UKS.

"Sakura?" panggil Naruto setelah pria blonde itu membuka pintu UKS-nya. Ia melempar pandangan ke seluruh ruangan. Sepi. Tidak ada siapapun di sana. Hanya tempat tidur dan benda-benda mati saja.

Mungkinkah Sakura memang pergi bersama Sasuke sekarang? Kenapa sikapnya seperti itu? Tadi siang gadis itu bilang ia ingin Naruto selalu mengertinya, tapi kenyataannya ia tidak pernah mengerti diri pria ini.

Padahal siang tadi ia sempat menunjukkan sesuatu yang hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya. Padahal siang tadi pria blonde itu sempat merasakan getaran perasaan gadis itu. Ia baru merasakan hal yang begitu menyesakkan seperti ini.

Naruto berjalan gontai kembali ke mobilnya. Ia membuka mobil itu dengan agak kasar dan setelah itu ia masuk ke dalam lalu membanting pintunya pula.

Pikirannya sangat kacau. Kenapa hanya gara-gara Sakura dia jadi begini? Hanya gara-gara seorang wanita? WANITA!

Pria blonde itu menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya keluar pagar kampusnya. Dia harus mendapatkan Sakura kembali. Atau tidak untuk selamanya.

.

.

.

Sakura pov

Kurasakan mobil hitam Sasuke berhenti tiba-tiba di pinggir jalan. Aku masih diam sedari tadi dengan pandangan tajam kesegala tempat yang ku tatap.

Saat aku melempar pandangan ke depan—ketempat kami berhenti ternyata di depan sebuah sekolah. Kalau tidak salah ini adalah sekolah ku yang dulu. Kenapa dia mengajakku kemari?

Lalu Sasuke keluar dari dalam mobil. Ia berdiri sambil memandang sekolah ini dari depan mobilnya. Sedetik kemudian aku pun yang tergerak untuk keluar dari sini, dari tempat yang mulai terasa pengap ini.

Kakiku melangkah mendekat ke depan pagar SMA Konoha ini. Sudah lama aku tidak kesini, sekitar setengah tahun mungkin. Aku sedikit bingung kenapa Sasuke mengajakku kesini. Mau apa dia?

Saat aku akan memutar tubuh ternyata pria itu sudah tegak tepat di depanku, ia masih memandangku mengerikan seperti tadi. Aku ingin menangis tapi tidak bisa.

"Kau ingat sesuatu." Ujarnya datar, "Kau pernah mengajak bertemu di sini seusai pesta perpisahan jam empat sore."

Aku diam sambil mengingat janji yang tidak pernah aku ketahui itu. Rasanya aku tidak pernah membuat janji, aku masih mengernyit bingung, "Janji apa?" tanyaku bingung.

"Sudah kuduga kau melupakannya!" kini dia agak sedikit membentakku. Aku terkejut sebentar atas perlakuannya yang sangat kasar ini. Kami-sama mengapa dia jadi seperti ini?

"Hari itu kau tidak datang, dan aku sangat kecewa." Katanya lagi, saat ku lihat lagi eksprsei mukanya, aku menangap raut kekecewaan di sana. Rautnya yang dingin sekarang terkuak ekspresi itu.

"Maaf, aku benar-benar tidak ingat." Aku jadi merasa sangat bersalah, kalau tidak salah waktu pesta perpisahan aku sudah tidak ada di Konoha lagi.

"Aku menunggumu di sini sampai larut malam. Kau tahu Sakura, saat aku pulang hari itu aku kecelakaan." aku terbelalak kaget mendengar perkataannya. Sekarang dia berbicara agak berbisik, dia seperti bercerita tentang semua bebannya kepadaku. Kalau memang itu sangat mengganjal di hatinya, silahkan kau curahkan semuanya, aku akan menampungnya.

"Sasuke, aku merasa benar-benar bersalah, tapi aku sungguh tidak ingat. Maaf." Aku menundukkan kepalaku kebawah. Aku benar-benar ingin menangis sekarang. "tapi kau tidak apa-apa kan sewaktu kecelakaan?"

Ia agak lama menjawab pertanyaanku, "Hanya tanganku saja yang patah." Aku benar-benar terkejut dengan cerita ini. Ternyata memang banyak sekali hal yang sudah aku lewatkan selama ini. Padahal baru setengah tahun aku menghilang dari kehidupanku yang dulu. Jantungku terus-terusan berdetak takut dan gelisah.

Kurasakan titik-titik air jatuh di atas kepala, perlahan demi perlahan lama-lama menjadi deras. Kami masih berdiri di sana seperti tadi. Tidak peduli hujan yang sekarang tengah menghujam kami.

"Dan sekarang kau malah pacaran dengan Naruto sepupumu kan?" katanya ditengah deruan hujan deras ini.

Aku mengangkat kepalaku cepat untuk menatap matanya, "Kenapa kau bisa bilang begitu? Kau tahu hal itu darimana?" lagi. aku terkejut dengan perkataannya.

Dia tersenyum sinis, "Aku melihatnya tadi, kau berciuman dengannya siang tadi di UKS." Katanya datar. Suara mesin mobil di jalan raya samping kami sangat terdengar jelas, sehingga perkataannya kurang jelas di telingaku. Walau begitu aku masih bisa mendengarnya dengan rasa bimbang. Tidak ada sedikit pun di hati ini ketakutan dengan kecemburuannya.

Eh? Kecemburuan? Apa dia memang benar cemburu? Kenapa tidak ada rasa senang di hati ini? Rasanya hanya hampa dan mati rasa.

Tiba-tiba pria emo ini memelukku ke dalam dekapannya, bisa kurasakan badannya basah karena hujan juga. Aku hanya bisa membeku diam di tempat. Tidak bisa berkutik atau melakukan sesuatu yang membuat hatinya memanas. Aku juga tidak bisa membuat diriku sendiri nyaman.

Tidak peduli orang-orang di jalan sana yang melihat kearah kami dan berbisik-bisik. Pengendara motor yang lewat juga melirik kearah kami. Namun nyatanya baik aku dan dia tidak peduli akan hal itu. Seolah ini bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan dalam diri masing-masing.

Baru sebentar aku memejamkan mata. Tiba-tiba aku mendengar sesuatu.

"Lepaskan Sakura!"

Setelah itu aku terdorong paksa ke belakang karena sesuatu, mungkin lebih tepatnya ditarik sesuatu. Sesuatu yang menarikku keras lengan kananku. "Awww!" aku berteriak refleks begitu. Saat ku lihat ternyata yang menarikku adalah Naruto. Aku sempat juga merasakan Naruto menyentakkan tangan Sasuke agar melepas dari memelukku. Kali ini lenganku yang sakit akibat tarikkan Naruto. Aku meringis.

Belum sempat aku melihat mata Naruto, dia sudah mendekat kearah Sasuke, tanpa bicara apa-apa lagi…

'Duagh'

Satu pukulan mendarat di pipi Sasuke yang membuatnya tersungkur ke tanah.

"Narutooo!" aku menjerit histris karena ulahnya yang tiba-tiba itu. Mataku agak rabun karena banyak air hujan yang menghalangi penglihatanku dan karena keluarnya air mata dari dalam emerald-ku.

Aku akan berjalan mendekat kearah Sasuke dan menjelaskan semuanya kepada Naruto. Tapi pria blonde itu malah mencengkram dan menarik tanganku dengan kuat.

"Masuklah ke dalam mobil!" Suruh Naruto sedikit membentakku. Aku memutar kepala untuk melihat dirinya. Matanya begitu mengerikan sekarang. Mata itu membuat aku takut. Matanya tidak secerah sebelum-sebelumnya.

Aku pun balik menatap mata shappire-nya dengan amarah yang memuncak. Dia pikir hanya dia saja yang bisa emosi. "Lepaskan tanganku!" ujarku sengit. Dia malah mengeratkannya seolah tidak mau melepaskannya lagi. "Atau aku akan berteriak!" Tambahku dengan sengit. Aku yakin sekarang ini banyak yang melihat kami seperti ini. Sayangnya aku sekarang tidak peduli akan hal itu. Mau masuk berita pagi atau koran tidak masalah.

"Kau lihat Naruto, dia lebih memilihku!" Sasuke berbicara di belakangku. Aku langsung melihat kearahnya lagi. Ia memegangi sudut bibirnya yang sedikit berdarah. Perlahan ia bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan kami.

"Kau tidak berhak berbicara seperti itu karena kau bukan siapa-siapanya!" Naruto berbicara lagi dengan nada sengit. Aku masih berdiam diri di tempat dalam genggaman erat Naruto.

"Kau yang tidak berhak berkata seperti itu, karena kau sebagai pacarnya tidak mendapatkan cintanya." Sasuke melempar kata lagi. rasanya aku ingin berlari dari sini. Kenapa semuanya jadi begini. Entah mengapa sekarang sangat sulit bagiku bernapas.

"Aku berhak karena dia istriku!" kali ini aku benar-benar terbelalak kaget mendengar lemparan kata Naruto. Dia menekankan disetiap katanya. Saat aku melihat reaksi Sasuke ternyata pria itu terkejut dan bingung. Jangankan Sasuke aku saja sangat terkejut, rasanya jantung ini akan meledak sekarang.

Normal pov

Tanpa sadar gadis pink itu dengan sekali hentakkan melepaskan tangannya dari Naruto. Dan Naruto merelakan sebentar kepergian gadis itu tanpa melihatnya. Dengan gontai ia berlari menuju mobil yang juga terparkir di samping mobil hitam Sasuke dan masuk ke dalam.

"Apa maksudmu berkata seperti itu? Bukannya kau sepupunya?" Sasuke mentap tajam seperti biasa.

"Aku bicara jujur, terserah kau mau berkata apa." Balas Naruto tak kalah sengit, "Jadi, kau jangan ganggu Sakura lagi, karena aku dan dia sudah menikah."

Pria blonde itu berbalik dan berjalan cepat menuju mobilnya pula. Gelegar Guntur sekarang menghadiri tempat ini. Gelegarnya sangat besar dari yang biasanya. Itu sudah seperti menggambarkan perasaan Sasuke sekarang.

Pria itu sekarang masih berdiri di tempat. Disetiap napasnya sangat berat dirasakannya. Tangannya mengepal kuat menahan amarah dan keterkejutannya. Jadi Sakura sudah menikah? Apa waktu itu dia tidak datang karena dia sedang menikah?

.

Naruto langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya kembali. Ia menoleh kearah Sakura yang duduk di belakangnya sambil membenamkan kepalanya kelutut. Mungkin saja sekarang gadis itu sedang menangis. Suaranya sedikit pun tidak terdengar walau di dalam mobil lumayan sepi.

Naruto hanya menghela napas panjang, dia ingin memeluk Sakura sekarang. Tapi ia tak mampu. Lagi. Pria blonde itu hanya menghela napas. Ia merasakan telah menyakiti hati gadis yang dicintainya ini.

Kemudian Naruto memandang ke depan lagi, memandang kosong ke jalanan yang saat itu sedang ramai. Tidak menyangka semuanya jadi begini. Dia juga tidak tahu mengapa harus melihat semua ini di pinggir jalanan Konoha. Dia hanya keliling di sekitar kampus Konoha, dan tidak sengaja melintas tepat di depan SMA Konoha yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Kampusnya. Seharusnya ia tidak melihatnya, sehingga ia tidak menjadi emosi seperti ini. Ia juga tidak tahu mengapa ia dapat menemukan gadis ini. Ia juga heran kenapa Sakura bisa ada di depan SMA Konoha sambil berpelukkan.

Mungkin hanya satu yang dipercayainya. Takdir lah yang menyeretnya sekarang kemari.

Mungkin lebih baik pulang sekarang. Setelah Naruto menghilangkan sedikit amarahnya ia menghidupkan mesin mobilnya dan melaju ke jalanan. Dia tidak tahu lagi apa yang Sasuke akan lakukan setelah ini. Yang pasti pria itu sudah membuat hatinya sakit.

.

.

Sakura langsung masuk kamar ketika mobil mereka baru saja sampai menuju rumah. Masih dalam keadaan basah setengah kering akibat hujan tadi, gadis pink itu langsung melempar badannya ke atas kasurnya.

Ia menyembunyikan kepalanya diantara kumpulan bantal-bantal yang empuk itu. Sakit rasanya dihati ini entah karena apa. Yang bisa ia lakukan hanya mengeluarkan air mata dan sesegukkan. Ia menumpahkan semuanya sampai ia merasa lelah. Entah sudah berapa lama gadis itu betah dengan cara seperti ini.

Naruto hanya bisa menghela napas panjang sambil menutup pintu rumah. Ia langsung duduk di sofa dan memandang jendela kaca yang diluar sana menampakkan hujan lebat yang rasanya tidak berujung. Hanya ada rintikkan deras dari langit yang menambah suasana hati menjadi suram.

Menyesal?

Tidak ada sedikit pun yang ia rasakan. Hanya saja dia merasa bersalah telah membuat Sakura kecewa. Ia tahu pasti ada kata-katanya tadi yang tidak gadis itu inginkan.

Pria blonde itu tersudut mati di sini. Dia ingin sekali menenangkan hati gadis itu dan memeluknya agar hatinya mereda. Tidak seperti sekarang ini.

Perlahan pria blonde itu bangkit menuju kamar mandi yang berada di dapur. Sebaiknya ia mandi dan membersihkan diri dari kelelahan dan amarah sepanjang hari ini.

.

.

.

Baru saja Hinata akan masak makan malam buat keluarganya tapi ia kekurangan satu bahan. Garam di rumahnya habis. Bagaimana itu bisa terjadi. Padahalkan garam itu sangat penting.

Mau tak mau Hinata memutuskan akan membeli makanan yang sudah jadi saja. Bukannya dia malas atau apa. Waktu buat makan malam sudah mepet. Ayahnya sebentar lagi akan pulang. Kalau masak kan banyak sekali memelukan waktu. Belum lagi waktu untuk membeli garam yang letak market mini-nya jauh sekali.

Dia hanya akan mendayung sekali saja. Waktu tepat. Garam dapat. Masakkan sudah ada di rumah.

Kalau misalanya dirumah butuh—kekurangan sesuatu ia tinggal minta antar saja pada kakaknya, sayangnya Neji sudah menikah sekarang dan tinggal dengan keluarganya. Rasanya rindu saja ingin makan malam bersama dengan keluarga yang lengkap.

Sepi sekali rasanya di rumah hanya ada dia dan ayahnya. Sedangkan Hanabi adiknya sekolah di asrama putri. Dia hanya pulang sesekali saja.

Baru saja Hinata kembali dari belanja makan malamnya—dengan membeli beberapa lauk di restoran yang berada di genggaman ini—ia mengernyit bingung melihat sesuatu yang tergeletak di depan pagar rumahnya.

Seingatnya tadi kardus itu tidak ada di sana sewaktu ia belum keluar tadi. Jangan-jangan kardus ini baru saja diletakkan seseorang di sini.

Saat dilihatnya apa isi dalam kardus itu ternyata seekor anak anjing kecil. Tersenyum simpul Hinata menatapnya. Anjingnya lucu dan membuat Hinata merona menatapnya.

Mata anjing itu menatap Hinata dengan pandangan belas kasihan yang tersirat di sana. Ah, kasihan sekali anjing malang ini. kenapa masih saja ada orang yang membuang anjing di depan rumah orang lain. Apa mungkin orang tersebut tidak mau lagi memeliharanya dan sengaja membuangnya kemari, berharap orang itu—Hinata akan mengambilnya.

Kali ini anjing itu menjulurkan lidah masih di dalam kardus. Hinata duduk jongkok mensejajari tempatnya, "Kau lapar?"

Sepertinya Hinata memang harus memberikan sebagian lauk yang baru saja dibelinya tadi. Tidak masalah untuk sekarang ia memberinya selagi ayahnya masih dalam perjalanan pulang dari kantor. Kalau ayah sudah pulang Hinata pasti tidak boleh memberikan anjing ini makan. Dan intinya ia tidak bisa juga memelihara anjing ini.

Dengan tangan sebelah Hinata memasukkan kardus itu ke dalam pagar rumahnya dan meminggirkannya. Gadis itu lalu masuk kedalam sebentar—dan tak lama kemudian ia membawa semangkuk nasi dan daging ayam yang dibelinya tadi. Hanya ini yang ia punya. Ia tak tahu mau memberi anjing ini makanan apa. Ia kan tidak pernah memelihara hewan.

Entah mengapa saat anjing itu makan makanan yang diberinya tadi dengan lahap ia sangat senang sekali. Mungkin ini adalah kesenangan pribadi dalam diri masing-masing. Seandainya ayahnya memperolehkan Hinata memeliharanya…

Lalu setelah ini kemana Hinata akan membuangnya? Rasanya sayang sekali.

Kiba.

Tiba-tiba Hinata teringat akan temannya yang satu itu. Apa ia minta bantuan saja ya pada pria pencinta anjing itu. tapi… apa Kiba mau? Ah. Dicoba saja dulu.

"Hallo Kiba-kun. Maa-af mengganggumu." Ujar Hinata setelah sambungan telponnya diangkat dari seberang sana. Ia sengaja menelpon Kiba sekarang karena ia ingin minta bantuan. Yah, semoga saja Kiba mau membantunya.

"Eh, Hinata? Tumben nelpon."

"Bisa kerumahku sekarang?"

"Memangnya ada apa?"

"Ada sesuatu yang akan aku tawarkan."

Mungkin karena Kiba sedang tidak ada kerjaan jadi ia menyetujui ajakkan Hinata, "Harus sekarang ya?"

"He-em."

"Baiklah."

.

Tidak butuh berjam-jam Kiba sampai dirumah Hinata. Ia ingat dimana Hinata tinggal. Tidak jauh darinya namun cukup memakan waktu, untung saja saat itu Hiashi belum pulang. Jadi Hinata bisa leluasa ngobrol dengan Kiba setidaknya di depan rumah.

"Oh, anjing ini." Kiba sudah paham saat raut Hinata menatap anjing di depannya. Padahal tadi Kiba sempat berharap sesuatu yang lain. Musnahlah sudah semua itu.

"Maaf ya Kiba-kun, aku memang merepotkanmu." Hinata malah jadi bersalah. Ia merasa tidak semestinya malam-malam begini mengundang Kiba hanya untuk memintanya memelihara anjing itu. Tapi kalau ditunggu besok yang ditakutinya adalah anjing ini akan mati kedinginan. Dan sayangnya Hinata tidak setega itu.

"Aku mau kok memeliharanya, dia bisa jadi teman Akamaru."

Akamaru yang juga berdiri di samping kaki Kiba menyalak setuju dengan pendapat Kiba, asalkan perhatiannya tidak teralihkan sepenuhnya pada pendatang baru ini.

"Aku jadi senang sekali, Kiba-kun."

Kiba hanya tersenyum, kalau ia bisa membuat Hinata senang ia juga jadi senang rasanya, "Anyway, kau tidak suka anjing?"

"Bu-bukan begitu, aku suka kok. Masalahnya ayahku tidak memperbolehkan memeliharanya. Ia tidak suka ada hewan peliharaan dalam lingkungan rumah."

Kiba mengangguk kecil, "Yah, aku mengerti." Sahutnya. "Kalau begitu aku bawa dia ya." Kiba mengangkat kardus itu dan berjalan kearah motornya yang terparkir di depan pagar rumah Hinata.

"Bagaimana caramu untuk membawanya?"

"Dia akan kumasukkan ke dalam jaket saja seperti halnya Akamaru."

Hinata mengangguk paham, "Aku pasti akan selalu menjenguknya."

Kiba tidak sadar bahwa ia nyengir. Senangnya saat Hinata mengatakan itu. Itu artinya ia akan selalu berkomunikasi dengan Hinata melalui anjing kecil ini? Kami-sama terimakasih atas semua itu.

Ternyata di balik kebaikkan pasti ada kebaikkan lagi.

.

.

.

Drrrrttt… drrrrtttt…

Sasuke hanya melirik malas HP-nya yang sedari tadi bergetar, sampai sekarang ia masih duduk di dalam mobil—di depan SMA Konoha. badannya terasa sangat capek hanya untuk sekedar menyetir mobil. Mungkin ia butuh duduk menyendiri di sini sampai ada malaikat penolong mau membantunya untuk menyetir.

Sudah ia tegaskan sekarang kalau ia benar-benar membenci Sakura! Ia benci gadis itu! Ia pembohong! Bukannya ia bilang Naruto adalah sepupunya. Dan lagi kenapa ia tidak curiga selama ini kebersamaannya dengan Naruto dan Sakura—yang faktanya tinggal serumah.

Sempat ia tidak mempercayai perkataan Naruto. Tapi, setelah ia melihat mata pria jabrik itu. ia sadar di sana hanya ada sorot ketegasan dan kejujuran. Buat apa juga si jabrik berbohong disaat seperti ini. dan buat apa juga ia marah-marah saat dirinya memeluk Sakura? Belum lagi melihat reaksi Sakura yang seperti itu.

Rasanya itu hanyalah sebuah drama yang tidak masuk akal.

Drrrtttt… drrtttt..

Ternyata yang menelpon ini tidak kesal-kesalnya sedari tadi tidak dihiraukan. Orang itu—entah siapa tidak bosannya mencoba menghubungi Sasuke.

Tapi, akhirnya si emo meraih HP itu yang tergeletak di hadapannya. Dilihatnya layar kaca HP tersebut.

Ternyata Karin tetangganya yang mecoba menghubunginya.

Mengernyit bingung, Sasuke berfikir. Gadis ini selalu membuat otaknya pusing. Ia selalu mengganggu di waktu yang tidak tepat.

Masih dalam genggaman tangannya. Lagi, HP itu bergetar kembali.

Jari Sasuke tergerak sendiri untuk mengangkat panggilan tersebut, mungkin saja penting. Pikirnya.

"Hn?" seperti biasa jawaban ini lah yang Sasuke lontarkan jika mengangkat telpon.

"Sasuke, kau dimana? Aku lagi pinjam komputermu, aku sudah ada dalam kamarmu nih." Terdengar dari seberang suara Karin seperti biasa.

"Jadi kau mau pinjam atau mencuri?"

"Pinjamlah, kau pulanglah sekarang, ada sesuatu yang terjadi dengan komputermu. Sebelumnya maaf ya. Heheheh."

"Hah? Kau melakukan apa?"

"Tidak tahu, pokoknya semua file dalam sini jadi shortcut. Maaf ya Sasuke."

"Kau ini menyebalkan, baru pinjam sudah merusakkan barang orang, baru ngomong lagi."

"Kan aku sudah berusaha menelponmu, kau saja tidak angkat-angkat. Sekarang kau pulanglah dulu, aku tidak mengerti dengan ini."

"Hn, baiklah." Jawab Sasuke malas-malasan. Tanpa bicara lagi—mengakhiri perkataan lagi Sasuke mematikan sambungannya. Ck, Karin memang menyebalkan, sikapnya tidak pernah berubah dari dulu. Suka nyelonong masuk kamar Sasuke tanpa permisi, meminjam peralatannya seenaknya lalu merusakkannya. Ini bukan hal aneh bagi Sasuke, sudah terbiasa dari dulu.

Berat sekali rasanya hari ini untuk dilaluli. Sebaiknya ia memang harus pulang saja sekarang dan segera membentak Karin. Paling suka memang memarahi Karin. Sedangkan yang dimarahi pasti memasang wajah innoncent dan senyam-senyum yang dapat membuat Sasuke menghentikan amarahnya. Yah, begitulah mereka berdua.

.

.

.

Sakura akhirnya mau berganti baju walau ia tidak mandi. Dia hanya malas bergerak untuk melakukan semua itu. Entah mengapa itu sama sekali susah untuk dilakukan. Ingin rasanya dia mati saja sekarang mendengar semua tadi.

Mati.

Kata itu sangat mudah dipikirkannya sekarang. Jika mati semua akan selesai di dunia ini. Tidak ada lagi masalah yang harus dihadapi dengan kesusahan hati. Kami-sama, kenapa dari awal tidak usah kau lahirkan saja dia kalau tahunya begini.

Sakura mendekat kearah meja rias dan duduk di sana. Ia memandang siluet bayangan pantulan dirinya dari kaca tersebut. Matanya agak bengkak. Hanya itu yang berbeda dalam dirinya. Rambutnya kini mulai menyentuh bahu, mungkin ia harus memotong rambutnya hitung-hitung buang sial. Ternyata kehidupan baru itu memang lebih sulit dari yang dikira. Atau malah mereka lah yang mempersulit sendiri?

Menghela napas ia menengok jam dinding. Jam delapan malam. Berapa jam tadi ia menangis sehingga membuat matanya seperti ini? Naruto juga tidak masuk-masuk kamar sejak tadi.

Ah iya, Sasuke sudah tahu ia menikah karena mulut Naruto. Dia memang sedih karena hal itu. Tapi sedihnya sangat berbeda. Ada sedikit rasa kecewa dalam benaknya, ada sedikit rasa bersalah dan gundah. Dan yang paling besar ia merasa malu. Malu telah membohongi semuanya karena statusnya dengan Naruto.

Ah, semua itu tidak ia pikirkan dari awal. Kenapa rasa malu itu terlalu besar? Yang ia herankan sedikit pun ia tidak merasakan kesal karena membuat Sasuke kecewa. Mungkin lebih tepatnya ia hanya merasa bersalah karena membohongi semuanya.

Hanya bisa merutukki diri sendiri saja. Ukh. Menyesakkan di sini.

Bagaimana ekspresi yang akan ia keluarkan besok? Apa lagi terhadap Sasuke? Ekspresi yang akan dilontarkan ke Naruto saja tidak tahu bagaimana?

Kami-sama… maafkan diri ini…

Walau Sakura merenung, ia dapat merasakan sesuatu, ia merasakan ada yang mendekat—kemungkinan besar adalah Naruto akan masuk kamar.

Tubuhnya tiba-tiba gugup dan menjadi kaku. Ia merasa belum siap untuk bertemu dengan pemuda itu. Dirasakannya pula ada yang memutar knop pintu. Tanpa pikir panjang lagi, Sakura berdiri dari duduknya—melempar badannya ke kasur—menarik selimut sampai keseluruh badan. Dan rencananya ia akan pura-pura tidur.

Ukh sial kenapa disaat seperti ini kepalanya sungguhan pusing dan ia merasakan lapar… sangat lapar. Belum lagi ia memang tidak tahan hujan. Ia pasti akan benaran sakit besok. Yah, siap-siap saja.

Cklek.

Inner Sakura memang benar, ternyata memang ada yang mendekat dan akan memutar knop pintu. Lalu dirasakannya pula pintu itu tertutup kembali. Siapa lagi yang masuk selain Naruto.

Ya ampun, jantung… kenapa disaat seperti ini kau berdetak cepat sekali. Disuasana hening seperti ini. bisa-bisa pemuda jabrik itu mendengar.

Sakura masih berusaha agar tetap memejamkan mata dengan normal seperti halnya orang tidur biasa. Rasanya kalau sudah seperti ini ia jadi susah menelan air ludah.

Aduh, kenapa dengan dirinya? Padahal nyatanya ia bukanlah yang bersalah, kenapa ia yang malah menghindar? Yah, ia hanya tidak bisa memasang ekspresi sekarang. Ia bingung dan bimbang. Mungkin hanya Kami-sama saja yang mengetahui perasaannya yang serba salah sekarang ini.

Dirasakan pula oleh Sakura, Naruto mendekat kearahnya dan duduk di pinggiran kasur tepat di sampingnya. Untungnya Sakura menghadap ke jendela. Sehingga ia tidak ketahuan kalau ia pura-pura tidur saja.

Sakura hanya berdoa dalam diri agar rasa lapar dalam perutnya tidak ketahuan. Ia terus berdoa supaya perutnya tidak bersuara.

"Sakura, kau sudah tidur?" terdengar kalau Naruto berbicara padanya. Hening sesaat… Naruto berfikir kalau Sakura benar-benar sudah tertidur. Ia memandang punggung wanita itu yang diselimuti sekarang.

"Maafkan aku…" ujar Naruto lirih, biarlah Sakura tidak mendengar bicaranya sekarang karena dipikirnya gadis itu sedang tertidur. Kalau saja Naruto tahu, saat ini Sakura sedang mendengarkan perkataannya dengan seksama. Ia agak sedikit lega ketika Naruto meminta maaf. Apa dia bangun saja ya?

Tapi niatnya terurungkan ketika Naruto mulai berbicara kembali, "Kau pasti kecewa kan? Aku tidak bisa melihatmu bersedih kalau seperti ini. Kau lebih baik menghukumku saja… aku tidak tahu sekarang apa yang harus kulakukan. Kenapa kau seperti ini Sakura?" Naruto diam sebentar, "asal kau tahu Sakura, aku… mencintaimu."

Kata terakhir Naruto membuat Sakura membuka matanya dan dia terbelalak. Sakura masih tetap dengan posisinya sekarang. Entah mengapa sekarang ia merasakan hatinya sedang bergetar. Ia merasakan perasaan yang melambung tinggi keatas langit.

"Aku melakukan itu karena aku tidak ingin kau pergi dariku." Sesal Naruto. Sakura meredupkan matanya lagi. tangannya meremas selimut.

Hening kembali…

Tiba-tiba, "A-aku." Sakura memberanikan diri membuka suaranya, "tidak tahu harus bicara apa lagi padamu." Ia masih tetap membelakangi Naruto.

Naruto hanya tersentak dan terkejut. Tiba-tiba tubuhnya bergetar mendengar—ternyata Sakura masih bangun. Perlahan Sakura bangkit dan duduk di sana. Ia hanya memandangi selimut dan menunduk, "Terimakasih sudah mencintaiku." Ujarnya haru. Ia hanya bisa meneteskan air mata kembali terharu dengan apa yang sudah Naruto katakan. "Aku tidak marah, ini memang salahku. Aku tidak pernah memikirkan orang lain. Aku memang egois kan?" Sakura mulai menahan isakkannya, sesekali ia menyeka air matanya yang mengucur bagai sungai itu. "Kau seharusnya yang membenciku!"

Sesaat Naruto hanya diam. Kaki yang tadinya terjulur ke bawah, kini Naruto angkat ke kasur untuk mendekati istrinya. Sungguh ia tidak bisa melihat Sakura menangis seperti ini. maka ditariknya Sakura ke dalam dadanya berusaha menenangkan hatinya. Apa yang direspon Sakura mampu membuat hati pria blonde itu tambah bergetar hebat lagi. Sakura malah semakin terisak di sana di dalam dada bidang Naruto. Cengkraman tangan Sakura di baju Naruto semakin dieratkannya. Ia sadar ia butuh itu. Ia butuh sandaran seseorang yang mampu menstabilkan pikiran penat dalam palung jiwanya yang terdasar dan terdampar mati ini.

Rasanya dengan memeluk si pink, Naruto sudah kembali hidup lagi. Seandainya ia bisa begini terus. Ia akan mampu melangkah sampai sejauh mungkin.

Agak lama akhirnya Sakura berhenti untuk menangis. Namun saat gadis itu menarik kembali tubuhnya Naruto berbisik padanya, "Aku ingin tahu perasaanmu padaku." Ujarnya yang membuat tubuh Sakura tiba-tiba memanas.

"A-aku." Sebenarnya Sakura memang bingung dengan apa yang akan dijawabnya, gadis itu memilih diam dan menatap mata Naruto dalam jarak dekat. Untuk sekarang mungkin ia tidak memiliki perasaan apa pun. Semuanya hanya terasa kosong dan hampa. Rasanya ingin pergi jauh-jauh dari kehidupan ini, sungguh menyesatkan jalan pikirannya.

Naruto melihat respon Sakura saat ia mendekatkan wajahnya dan memegangi belakang lehernya. Gadis itu hanya diam saja. Ketika hidung mereka bersentuhan Sakura malah menggesekkan—memainkan hidungnya di ujung hidung Naruto seraya memejamkan mata.

Tersenyum sebentar. Tanpa keraguan Naruto memiringkan kepala dan mengecup bibirnya. Ia melumat bibir atas Sakura dengan kehangatan yang pasti. dirasakannya pula Sakura mengerang di bawah bibir pria jabrik itu.

Tangan si pink lebih mengeratkan lagi dan memeluk Naruto. Bibirnya terbuka memberi celah pria itu untuk lebih menguasainya. Jantungnya berdetak cepat seirama dengan jantung pria itu. ini lebih dari sekedar nafsu bahkan godaan sekaligus. Gadis itu merasakan ia membutuhkan bukan dari sekedar penyerahan diri. Apa yang pria blonde itu rasakan bukan hanya untuk kebutuhan untuk memberi, tapi untuk kebutuhan mendapatkan.

Hanya beberapa kali mereka mencuri-curi mengambil napas. Gadis itu bahkan melemaskan tubuhnya ketika Naruto mendorongnya perlahan ke kasur dan menindihnya. Ia bahkan memberikan ruang gerak untuk Naruto menggerayangi lehernya sesaat sebelum ia membuka kancing baju atas dress pink itu.

Sakura tidak yakin raut ekspresinya saat ini seperti apa. Yang ia tahu pasti sangat berlebihan. Ia hanya bisa mendesah sangking ia tidak sadarkan diri. Ia mungkin akan malu sendiri kalau ia menyaksikan raut dirinya dan Naruto saat itu. Mereka sungguh menikmati.

Naruto mengecup sekilas bibir istrinya yang membuatnya memanas ini, "Aku membutuhkanmu Sakura." Erangnya lemah. Entah mengapa hanya menyentuh Sakura saja ia sudah lemah. Naruto melihat Sakura mengangguk lemah dengan muka bersemu merah dan mata agak sedikit meredup.

Perlahan pria itu membuka baju kaosnya—menariknya keatas. "Kau hanya milikku kan? Aku hanya mencintaimu, percayalah." Bisik Naruto, Sakura hanya bisa memegang lengan otot Naruto yang dapat membuatnya benar-benar terpanggang panas.

"Aku benar-benar mencintaimu." Naruto hanya bisa mengulangi kalimatnya dengan lemah. Ia kembali menggigiti leher Sakura yang sudah terekspos itu—meninggalkan bercak merah kecil di sana, sebagai saksi dari perkataan cintanya. Peluh keringat Naruto mulai merebak keluar. Begitu juga dengan Sakura, ia memanas dan mengeluarkan keringat. Keringat mereka bercampur—dan wangi tubuh mereka menjadi satu.

Untuk pertama kalinya, ternyata begini rasanya menyentuh seseorang yang sangat dicintai. Apa ini akan selamanya?

.

.

TBC

Dengan gajenya T,T

.

.

.

Sisanya bayangin sendiri ya ^^v ...

Eh, Saku nya belum sepenuhnya tuh cinta Naru. Hehehe. Gomen tambah jelek, chap ini pasti gak ada feelnya. Masih banyak masalah yang belum terkuak *halah*

Saya pengen cepet namatin ini karenaaaa… saya pengen berhenti dari FFN dengan alasan gak tentu *plak, hehhe. Makasih ya yang membacanya. Saya akan selalu ingat kalian semua.

Yaa sudah saya hanya minta satu dari kalian. Hanya rifyu saja ya. Kritik dan lainnya sangat saya butuhkan. Flame juga boleh. Karena chap ini gajenya minta diampuni.

Arigato…