Hana-tachi is back everyone! *nari gaje* Oke. Akhirnya saya update. Makasih yah buat reviewnya, smua ;3 Semoga ente2 masih pada baca fanfic saya yg abal ini. Oke! Let's baca!(?)

Recap:

Aku mendesah saat mengingat kejadian antara Hisagi dan Ggio tadi.

Oh, Tuhan. Mengapa hidupku sangat berbeda?


GgioSoi(Hisa)

Nobody's POV

I'm Sorry
Chapter 3: Shocking

Sekira-kiranya sudah 3 hari Ggio dan keluarganya sudah balik dari Amerika. Karena itu, Soifon sungguh pusing. Ia pusing karena Ggio selalu mengganggunya setiap pulang sekolah, dan Hisagi selalu mendekatinya saat istirahat di kantin bersama yang lainnya. Juga pula saat pulang sekolah, mereka bertiga berjalan pulang, dikelilingi dengan udara panas. Tidak, bukan dari panas matahari. Tetapi dari panas tatapan mereka-Ggio dan Hisagi-yang menyengat. Soifon pusing karena mereka. Ia tidak tau apa yang terjadi. Ia tidak tau apa yang Ggio dan Hisagi rasakan jika dekat dengannya. Ia tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Ia tidak tau apa yang akan Ggio dan Hisagi lalui nanti siang. Ia sama sekali tidak tau.

Ggio hanya melihat Kyoraku-sensei menjelaskan tentang Sejarah yang ia tidak mengerti. Sejarah adalah mata pelajarannya yang paling ia tidak suka setelah Matematika. Ia tidak punya waktu mendengarkan ocehan-jelasan Kyoraku-sensei. Ia memutar bola matanya ke samping kanan-melihat seseorang yang tekun mendengarkan penjelasan Kyoraku-sensei. Mata orang itu tertuju pada papan tulis yang terisi dengan tulisan-tulisan Kyoraku-sensei, dan tangannya menari dengan ahli di atas buku tulisnya. Orang yang ia cintai dari kecil.

Soifon.

Ia selalu melihat kearah Soifon jika guru yang mengajar bukan Byakuya. Karena ia takut ketahuan sang kakak dari Kuchiki Rukia, dan dihukum dengan cara yang memalukan, seperti ia yang ia lihat kemarin sesudah berkumpul bersama yang lain di kantin, yakni Abarai Renji.

Flashback

Ggio, sang anak baru sedang berjalan melalui koridor-koridor sekolah dengan terburu-buru. Karena? Karena... Ia ingin ke kamar mandi. Tetapi, ia tidak tau tempatnya karena ia masih baru, hasilnya-ia tersesat. Ia malah kesasar di kelas junior. Saking malunya di tatap adik kelas, ia langsung terbirit-birit keluar gedung sekolah. Di luar gedung, ia melihat seseorang berambut merah sedang berlari keliling lapangan dengan... Telanjang, tidak memakai baju, dan, tentunya memakai celana. Tidak ada orang, Ggio memutuskan untuk menghampirinya.

"Hei, kau." Panggilnya.

Orang berambut merah itu berhenti, dan menoleh ke arah Ggio sambil menunjuk dirinya sendiri, "aku?"

"Bukan, burung yang di langit. You don't say?" Ujar Ggio secara sarkastik.

Orang itu memukul wajahnya sendiri.

"Kamu... Ngapain kayak gini?" Tanya Ggio.

"Aku... Dihukum." Jawab orang itu sambil menunduk malu.

"Dihukum?"

"Aku... Tadi tidak memperhatikan Byakuya-sensei menjelaskan rumus matematika... Jadi... Inilah hasilnya." Jelasnya, membuat Ggio merinding.

"Hanya... Hanya karena kau tidak memperhatikannya?"

"Iya..."

Ggio terkejut. Kakak Kuchiki Rukia itu memang kelihatannya dingin, dan juga sifatnya dingin pula. Tapi ia tidak menduga Byakuya-sensei bisa sekejam ini.

Ggio menelan ludah.

"Ngomong-ngomong, aku tidak pernah melihatmu di kelas manapun. Kau... Anak baru yang sekelas bicarakan itu?" Tanya orang itu padanya.

'Aku dibicarakan oleh kelas-kelas lain?' Batinnya. "Ah, ya, mungkin... Namaku Ggio Vega. Panggil saja Ggio."

"Ooh, benar. Kau Ggio yang dibicarakan Ichigo itu." Ujar orang itu, sambil mengingat-ingat perkataan Ichigo. "Namaku Abarai Renji."

Ggio terdiam sebentar. Lalu berkata, "Kau mengenal Kurosaki?"

Renji menatapnya, tidak ada raut wajah terkejut di mukanya. "Tentu saja. Aku sekelas dengannya. Aku juga kenal dengan Rukia." Jelasnya.

"Oh. Begitu. Berarti, kau seharusnya tadi di kantin juga?" Tanya Ggio.

Renji mengangguk mantap. "Bingo! Aku memang seharusnya ikut, tapi karena Byakuya-sensei, aku jadi seperti ini..." Ujarnya sambil menghela nafas dalam-dalam.

"Kau menyalahkanku, Renji?" Tiba-tiba suara berat terdengar dari belakang Ggio, membuat dirinya dan Renji merinding.

"T-Tentu tidak, Byakuya-sensei! Aku hanya..." Renji terlihat mencari kata yang benar untuk mengisi kalimatnya. "Hanya curhat ke Vega-san, sensei!" Pernyataan itu membuat kedua belah pihak merinding, kecuali Byakuya.

Byakuya berjalan ke sebelah Renji menatap Ggio tajam, membuat Ggio menganga, ingin berkata sesuatu, tetapi tidak sepatah katapun terdengar. "Kau... Anak baru itu?"

"Y-Ya. N-Nama saya Ggio Vega, sensei." Ujar Ggio, gugup plus takut.

Byakuya terdiam sebentar. Lalu, membalikkan badan, sehingga punggungnya bisa terlihat, dan berjalan pelan meninggalkan mereka. Ggio mematung. 'Sensei ini kejam sekali. Dingin pula.' Batinnya dalam hati. Byakuya berhenti berjalan.

"Kau berpikir aku kejam?" Tanya Byakuya tiba-tiba pada Ggio.

Ggio kaget. 'Apa sensei ini bisa membaca pikiran orang?'

"T-Tidak! Tentu saja tidak!" Ujar Ggio sambil mengibaskan tangannya didepan mukanya.

Byakuya menatapnya dingin. Lalu membalikkan badan seraya berkata, "Pergilah. Sebelum aku berubah pikiran untuk tidak menghukummu." Ujarnya.

Beberapa detik kemudian, Ggio sudah tidak terlihat.

Flashback End

Ggio mendesah saat ingat kejadian itu. Terutama saat Byakuya menatapnya tajam. Tatapan itu bagaikan tatapan serigala yang ingin menerkam mangsanya. Oke, lupakan kejadian kemarin. Fokus pada pelajaran ini sekarang. 'Fokus... Fokus... Fokus...'

Jauh dari tempat duduk Ggio, terdapat Soifon sedang mengamati penjelasan Kyoraku-sensei dengan tekun. Sesekali ia menengok ke arah jendela, sesekali juga ia mendapat Ggio sedang bermain dengan pulpennya dengan cara memutar-mutarkannya di tangannya. 'Anak itu benar-benar tidak memperhatikan pelajaran ini. Huh, ia tidak berubah. Tetap membenci pelajaran Sejarah. Yah, walaupun tidak setara dengan bencinya ia dengan mati-matian. Maksudku, matematika.' Batin Soifon.

Sekali lagi, pulpennya menari di atas buku tulisnya.


Akhirnya bel tanda istirahat berbunyi. Soifon langsung memasukan semua buku yang ada di mejanya ke dalam tas, lalu menyiapkan buku pelajaran selanjutnya di laci meja. Ia mengambil bekalnya, dan langsung mengajak Hisagi, Rukia, dan Ggio untuk pergi ke kantin.

"Aaaagh! Kenapa di dunia ini harus ada pelajaran Sejarah, sih?!" Gerutu Ggio sambil menghentakkan kakinya keras-keras.

"Hei, hati-hati. Nanti lantainya jebol, loh." Ujar Hisagi, membuat Rukia tertawa dan Soifon tersenyum. Hisagi menatap Rukia. "Apa yang lucu?" Tanyanya datar.

'Sepertinya ia tidak tau barusan dirinya berbicara lucu.' Batin Soifon sambil senyum-senyum.

"Shuuhei, Shuuhei... Apakah diri Anda tidak sadar bahwa barusan Anda membuat sebuahlelucon?" Tanya Rukia dalam tawanya, sedangkan Ggio memandang mereka kesal.

"Hei! Aku disini sedang kesal! Mengapa kalian tertawa seakan tidak ada aura hitam di sekelilingku?!" Ujar Ggio, malah membuat Rukia semakin tertawa.

"Hei! Ada apa nih, ketawa-ketawa?" Sahut seseorang dari belakang Ggio.

"Oh, stroberi. Kau datang pada waktu yang tepat." Ujar Soifon.

Ichigo terlihat berusaha menahan kekesalannya saat dipanggil 'stroberi'. "Oh. Begitu ya..." Ujarnya, lalu tersenyum pada Rukia.

Semua orang sudah terlihat di kantin saat mereka mencapainya. Mereka berlima duduk di tempatnya masing-masing.

"Oh, Ggio! Kau juga disini?" Ujar seseorang di sebelah Gin kepada Ggio.

Mata Ggio menuju ke arah asal suara, lalu tersenyum. "Ya, tentu saja. Bukankah kemarin sudah kubilang?" Ujarnya santai.

"Ggio-san kenal [1]akapine?" Tanya Mashiro.

"Yah... Kami kenalan secara tidak sengaja." Ujar Renji. "Tunggu! Akapine?!" Teriaknya, tapi dihiraukan.

"Gara-gara Abarai, aku tidak jadi ke toilet." Desah Ggio.

"Hei! Itu salahmu! Kenapa kamu menghampiriku pula?!" Tanya Renji.

"Hei, heeii, sudahlah! Jangan berantem!" Ujar Rangiku dengan suaranya yang... Seksi. (A/N: Gue ngakak disini)

Soifon menghiraukan mereka semua. Ia hanya kesini bertujuan untuk menghabiskan makanan miliknya itu. Tetapi entah kenapa, ia tidak lapar. Mungkin karena ia tidak suka makanan yang terhidang di depannya ini. Omelette. Di depannya terhidang dua buah omelette dengan rapi. Soifon hanya memandang dua buah omelette itu dengan tatapan jijik. Ia dari kecil memang tidak suka omelette. Tetapi, entah kenapa sang ibu yang tadinya bermarga Shihoin ini membekalinya dua buah omelette yang sudah jelas ia tidak suka. Soifon pun mendesah.

Ggio, yang ada di sebelahnya mendengar desahan Soifon. Ggio ingin menanyakan sebuah pertanyaan yang sudah sangat biasa didengar, yaitu, "Ada apa?" Tetapi tepat sebelum mulutnya melontarkan pertanyaan itu, matanya tertuju pada kotak makannya yang berisi omelette itu. Ggio pun tersenyum geli. Ia tau bahwa Soifon tidak suka omelette. Ggio mengambil kotak makan Soifon, membuat dirinya terkejut. Ggio pun mengangkat kotak makan itu lalu berkata, "Hei! Ada yang suka omelette disini? Aku tidak lapar. Jadi kalian boleh memakannya dengan sesuka hari kalian."

Yang lain bersorak, lalu satu persatu mengambil omelette itu dengan senangnya. Soifon menatap Ggio tidak percaya, sedangkan Ggio menyenggol pinggang Soifon.

"Bilang apa, hayo?" Ujarnya.

Soifon menunduk kebawah, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sedang merona. "T-Terima kasih..." Ujar Soifon terbata-bata karena malu.

Ggio tersenyum dan mengelus kepala Soifon, membuat dirinya semakin merona, dan hampir berteriak, "Hentikan!" Tetapi ia tidak mengatakannya, karena akan menarik perhatian yang lain.

Mereka sama sekali tidak tau, bahwa mereka dipelototi oleh seseorang di seberang mereka.

"Aaaghh!" Rukia mengulat sampai puas. Soifon, Rukia, Ichigo, Hisagi, dan Ggio sedang berjalan ke luar pintu gerbang. Yah, pastinya karena sudah waktunya pulang.

"Ada apa, Rukia?" Tanya Soifon.

"Tidak apa-apa... Hanya, tadi Nii-sama-ah, maksudku Byakuya-sensei memberi kita ceramah habis-habisan... Ada apa ya?" Tanya Rukia.

"Hmm... Aku juga tidak tau." Soifon menengok ke arah Ggio yang ada di sebelahnya. "Kau tau sesuatu tentang ini?" Tanyanya.

Ggio membeku di tempat. Dengan ragu, ia menjawab, "A-Aku tidak tau." 'Agh! Kenapa kata-kataku jadi seperti itu?!' Batinnya.

Untung saja Soifon dan Rukia percaya. Tetapi Ichigo dan Hisagi menatapnya curiga. Mengetahui dirinya sedang ditatap dengan rasa curiga, ia langsung bertanya kepada mereka, "Ada apa?" Padahal ia tahu alasannya. "Kau berbohong?" Itulah pertanyaan yang akan terlontar dari mulut Hisagi atau Ichigo. Atau lebih buruk lagi, keduanya secara bersamaan.

"Kau bohong 'kan."

'Hell! Itu lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan! Dan mereka mengatakannya bersamaan!' Batin Ggio. Jika ia mempunyai kemampuan untuk tidak terlihat, ia pasti akan menjambak-jambak rambut kepangnya itu karena frustasi.

"Kau berbohong." Ulang Hisagi.

"Shuuhei... Aku tidak berbohong." Jawab Ggio sambil menunduk. Hisagi dan Ichigo mengira ia menunduk karena mendesah, tetapi aslinya ia senyum-senyum sendiri.

Sudah diputuskan. Ia akan kabur.

"Soifon!" Panggilnya kepada Soifon. Soifon yang sedang mengobrol dengan Rukia, menengok kepadanya.

"Apa?" Terdengar dingin. Tetapi ia sebenarnya ingin mengatakannya dengan nada biasa, atau bahkan lembut. Yah, mungkin hanya diri Ggio yang bisa memikirkan itu.

"Aku pulang dulu! Aku lupa di rumah ada urusan! Aku juga disuruh pulang cepat sama Aniki! Katanya Aniki akan masak tempe goreng! Yang kutau itu kesukaanku! Dan katanya jikalau tidak segera pulang, tempenya bakalan abis! Maaf ya!" Soifon hanya memandangnya. "Aku pergi dulu ya!" Ggio pun menghilang dari hadapan Soifon dalam jangka waktu yang tidak lama.

Soifon menatap debu-debu yang dibuat Ggio dengan rasa tidak percaya. 'Ada yang aneh.' Batinnya dalam hati.

"Aku juga pulang duluan, ya. Aku lapar. Tadi tidak makan." Ujarnya. Padahal, aslinya ia ingin membuntuti Ggio, yang entah sudah kemana. Untung saja dia punya alasan yang tidak bohong, yaitu bahwa ia belum makan sama sekali dari pagi.

Tanpa menghiraukan panggilan Hisagi, Rukia, dan Ichigo, Soifon langsung melesat keluar gerbang. Dan ia tahu benar kemana Ggio akan pergi. Ke taman dekat rumah mereka. Dulu, setiap Ggio sedang sedih, atau marah, ia akan melampiaskan kesedihan atau kemarahannya itu disana dengan cara menendang ayunan sekencang-kencangnya. Tidak peduli ada orangnya atau tidak.

Taman itu sudah terlihat di depan mata Soifon. Walaupun masih jauh, tetapi sudah terlihat. Soifon pun mencoba untuk berlari lebih kencang. Semoga keturunan ibunya yang mantan atlet lari turun kepadanya. Tiba-tiba, ada yang menghentikkannya. Ia menoleh kebelakang, melihat dua orang yang sangat, sangat kenal. Mau tahu siapa orangnya? Ciri-cirinya adalah botak dan seorang rasis. Nama mereka pasti sudah menyantol di kepala Anda.

"Yo, Soifon. Hisashiburi, nee."

"Madarame... Ayasegawa..."


Balik di tempat Hisagi dan kedua orang lainnya.

"...Mereka kenapa, ya?" Tanya Rukia.

Hisagi mendesah. "Aku tidak tau. Mungkin taktik Ggio untuk membuatku meninggalkan mereka berdua." Ujarnya. Lalu ia sadar apa yang telah ia katakan. 'Oops...'

Terlambat. Rukia dan Ichigo menatapnya penasaran. Ichigo pun membuka mulut, "ada sesuatu yang kalian sembunyikan, ya, dari kami?" Tanyanya kepada Hisagi.

Hisagi membeku, seperti yang dilakukan Ggio tadi. "T-Tidak! Tentu tidak! Kami tidak menyembunyikan apapun!" Ujarnya sambil mengibas-ibaskan tangannya di depan hidungnya.

Rukia hanya menatapnya. "Jadi." Mulainya. Sebuah 'biji' tumbuh di bibirnya. "Kau cemburu terhadap mereka?" 'Biji' itupun tumbuh menjadi sebuah senyuman sinis, membuat Hisagi merinding.

Ia pun langsung mencari alasan yang bagus. 'Ah, itu.'

Hisagi melihat ke arah jam tangan yang dipakainya, seraya berkata, "Ah! Lihat waktunya! Ada anime yang harus kutonton! Aku pergi dulu!" Lalu ia pergi, meninggalkan Rukia dan Ichigo berdua, membuat mereka tercengang.

Kembali ke Hisagi,

Ia pun berlari ke arah Soifon tadi pergi, mencoba mencarinya. 'Aku mempunyai feeling buruk tentang ini...' Batinnya, khawatir akan Soifon. Beberapa menit berlalu, ia pun mencapai taman dimana dirinya dan Soifon mengobrol waktu SMP. Lalu ia berhenti. Ia melihat pemandangan yang sangat buruk.

Di depan matanya, dirinya melihat Soifon yang kecapaian karena berlari, tak berdaya, terpojok oleh dua orang yang sangat ia benci. Seorang rasis dan seorang botak yang botaknya sangat silau sehingga Hisagi harus mengedipkan matanya berkali-kali. Ia bahkan tidak perlu mengingat nama mereka. Hanya muka mereka yang jelek yang harus diingatnya. Lebih buruknya, ia melihat Ggio sedang duduk di ayunan, membelakangi mereka, sehingga Ggio tidak bisa melihat mereka.

Tepat pada saat tangan si botak ingin menyentuh wajah Soifon, Hisagi dengan gesit memegang tangan si botak dengan kasar, membuat si botak meraung-raung kesakitan. "H-Hei! Berani-beraninya kau!" Sang rasis pun membalas Hisagi dengan tonjokkannya, tetapi Hisagi memutar tangan sang rasis sampai berbunyi, membuatnya berteriak kesakitan. Mereka berdua pun jatuh berlutut sambil memegangi tangan mereka masing-masing.

Dengan suara dingin, Hisagi memerintahkan mereka, "Pergi. Sekarang."

"Gue bakal balik! Awas kalian!" Ujar sang botak sambil berlari meninggalkan mereka berdua. "Itu sangat tidak indah!" Ujar sang rasis sambil mengikuti sang botak.

Setelah mereka pergi, Hisagi berbalik ke arah Soifon. Lalu memegang pundaknya. "Kau tidak-apa-apa 'kan?" Tanyanya khawatir.

"Y-Ya... Aku tidak apa-apa... Aku hanya kecapaian karena berlari tadi... Mungkin bakat ibuku tidak menurun ke aku." Ujar Soifon sambil mendesah.

Hisagi terdiam sebentar. Ia menatap Soifon dari kaki ke kepala (A/N: oke, jangan salah sangka ya.), lalu menatap matanya, membuat jantung Soifon berdegup kencang.

"A-Ada apa?" Tanya Soifon.

Hisagi tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan teliti, seperti menghafal tiap detil-detil mukanya, dan mengencangkan cengkramannya pada pundak Soifon, melepaskan satu tangan dan menaruhnya dibawah dagu Soifon. Hisagi memegang dagu Soifon, dan menarik muka Soifon sehingga mendekat, membuat jantung Soifon semakin berdegup. "H-Hisagi..."

Akhirnya bibir mereka bertemu. Soifon membulatkan pupil matanya, sangat terkejut akan perlakuan Hisagi. Tetapi ia menutup matanya, mencoba untuk menikmatinya.

Di sisi lain, Ggio yang sedang duduk di ayunannya berdiri karena terganggu dengan keheningan secara tiba-tiba. Tadi, terdengar suara orang sedang bertengkar, tetapi sekarang hening. Ia pun membersihkan debu yang ada di bagian belakang celananya, lalu menengok kebelakang.

"Ada apa ya...?" Tanyanya kepada diri sendiri seraya membalikkan badannya.

Ia membeku melihat pemandangan di depan matanya. Matanya terbelalak. Jantungnya seperti sudah berhenti berdetak. Otaknya seperti sudah berhenti bekerja. Darahnya seperti sudah berhenti mengalir. Kakinya kesemutan. Rasa sakit muncul dari dalam dirinya. Rasa sakit itu disebut orang-orang dengan kata cemburu.

Sekali lagi ia melihat ke pemandangan itu. Rasa sakit di dalamnya perih. Lama-lama makin perih. Rasanya ia ingin pingsan melihat pemandangan ini. Rasanya sangat sakit.

Pemandangan itu adalah:

Shuuhei Hisagi.

Dengan.

Shaolin Urahara.

Berciuman.


Ini termasuk cliff hanger kagak? ._. Kalo iya, maaf deh xD Lagian gak punya ide lg... terus harus lanjutin fanfic fandom Hunter x Hunter ku, sama Beelzebub/Kuroshitsuji crossover... *sigh* Berat ya, jadi author. Setuju? (Readers: SETUJU!)(?)

Oke, bagaimana chapter ini? Fail? Iya, emang. *smirks*

See you later on Chapter 4!