.

THE HEIRS EXO VERSION
EPISODE 3
(The beginning)

.

.

ALL EXO MEMBER AS MAIN CAST
.

This story is genuinely mine and inspirited by Korean Drama entitled "The Heirs"
All the Cast is belong to their selves, Ace Wu is mine!

.

WARNING!

This is GS! Typo(s)! Hurt/comfort, Romance, Family, Friendship

.

No Bash! No Plagiarism!

.

Happy Reading!

.

.

THE HEIRS EXO VERSION
EPISODE 3
(The Beginning)

Previous Episode!

"Hei,... apa kau menangis? Yah... kau kekanankan sekali sih?" Kris ikut berjongkok dan berbisik di sebelah telinga Tao, jujur saja dia merasa tidak enak membentak gadis manis itu, terlebih lagi para pelayan boutique itu kini memperhatikan mereka.

"Zitao... please... jangan menangis... come on... kau sudah besar" bisik Kris lagi

"Tapi kau harus berjanji kau tidak boleh membentakku lagi,!" rengek Zitao dalam isakannya

"Okay! Fine... sudah jangan menangis... aku tidak mau pengantinku bermata lebam di hari pernikahan kita..." dan entah kenapa pria kejam seperti Kris luluh dengan tangisan dan ancaman dalam rengekan gadis semanis bayi panda itu.

.

THE HEIRS EXO VERSION
EPISODE 3
(The Beginning)

06 September 2013
(Jeonju, Korea)

Angin musim gugur berhembus di Kota Jeonju, membawa kesan romantis juga tenang ke dalam sebuah gereja yang hari ini nampak ramai. Itu adalah Jeongdong Catholic Church, yang merupakan satu dari tiga gereja tertua dan bersejarah di Korea dan berumur lebih dari seratus tahun. Gereja yang dibangun pada masa Dinasti Joseon itu memadukan seni beraliran Byzantine dan Romanesque dalam arsitekturnya, dan di Gereja itulah janji pernikahan seorang putra Mahkota bernama Wu Yifan dan seorang putri cantik bernama Huang Zitao akan diikat.

Mereka memilih untuk menikah di Jeonju karena WH company yang merupakan perusahaan baru bentukan Sinopec Group dan Huang Coorporation, perusahaan yang bergerak di bidang property dan pariwisata itu memang akan berpusat di sana. Dan gereja ini, Zitao sendiri yang memilihnya. Alasan Zitao memilih gereja ini lah yang membuat seorang Kris Wu saat ini berdiri dengan tatapan kosong memandang patung Bunda Maria di Altar.

FLASH BACK

"Apakah segala hal dalam pernikahan kita ini sudah diatur?" tanya Zitao polos sambil memakan es krimnya di sebuah bangku taman bersama Kris. Kris juga memakan sebuah es krim rasa coklat, yang mati - matian Zitao paksa agar Kris mau memakannya.

Mereka baru saja selesai melakukan kegiatan fitting baju dan gladi pernikahan mereka.

"Tentu saja, semua hal sudah diatur dan akan beres dengan rapi. Orang - orang yang bekerja padaku sangat terlatih dalam hal itu" Kata Kris kalem dan masih memakan es krimnya

"Wah... keren! Aku benar - benar menikahi seorang Putra Mahkota..." Zitao memandang Kris dengan intense.

Hening sejenak dan Zitao hanya terpaku memandang Kris yang sibuk dengan es krimnya. Namun kemudian Kris sadar jika dia sedang dipandangi.

"Kenapa kau memandangku?" tanya Kris dengan tatapan mata dinginnya

"Mmmm... hanya saja aku merasa jika dibalik tatapan datar, nada dingin dan tingkah tak pedulimu ini sebenarnya kau adalah orang yang hangat, lembut dan penuh kasih sayang" ungkap Zitao sambil tersenyum manis

"Jangan berlagak seperti kau mengenalku dengan baik Zitao!" jawab Kris malas lalu melanjutkan makan es krimnya

"Eh apa yang kau lakukan?" tanya Kris lagi ketika Zitao mengusap sudut kanan bibirnya

"hahaha... kau makan es krimnya belepotan Kris, lihat..." Zitao menunjukkan jempolnya pada Kris, bekas cream coklat terlihat di jempol itu.

"Thanks.." Kris salah tingkah.

Zitao kemudian tertawa kecil sementara wajah Kris memerah sangking salah tingkahnya, entah kenapa ini sudah yang keberapa kalinya Kris salah tingkah hari ini.

"Oh ya... ku dengar, tempat kita menikah besok... kau yang memilihnya... benar?" Kris mengalihkan pembicaraan

"mmm... aku sendiri yang bicara pada mamamu" jawab Zitao yakin

"Kenapa? Kenapa kau memilih gereja tua itu? Bukannya sebuah convention center yang besar dan mewah akan lebih bagus?" tanya Kris yang baru saja membuang stick es krimnya

"Aku punya alasan yang panjang untuk itu, yakin kau mau mendengarnya?" tanya Zitao dengan tatapan mata menggoda, kemudian Kris hanya memberikan anggukannya sebagai jawaban.

"Aku, adalah seorang putri yang lahir dengan takdir yang sudah ditentukan oleh kedua orang tuaku. Sejak kecil aku selalu diberitau jika masa depanku akan berakhir seperti ini, aku akan menikah dengan seseorang yang sudah ditentukan dan harus menjadi istri yang baik untuk orang itu, dan orang itu ternyata adalah Kau... Aku dulu punya cita - cita ingin menjadi seorang balerina, tapi semua orang mengatakan itu tidak mungkin bisa terwujud, karena aku di masa depan hanya akan menjadi seorang Nyonya besar yang akan menuruti, mendampingi dan melayani suamiku nanti. Awalnya aku tidak terima dengan takdir yang sudah diatur itu, tapi lama kelamaan aku mulai bisa merelakan mimpiku dan menerima takdirku untuk menjadi seorang istri yang baik. Jadi akhirnya aku mengubur cita - citaku menjadi balerina itu. Lalu aku bercita - cita lagi, menikah dengan seorang pangeran tampan di sebuah Gereja yang indah dengan acara yang sederhana namun tenang, sakral dan hangat, ditambah lagi dengan permainan piano yang mengalunkan nada cinta... uah romantis sekali. Maka dari itu sekarang aku memilih gereja tua itu daripada gedung pernikahan yang awalnya sudah dipesan, karena... itu adalah satu - satunya cita - citaku yang mungkin terwujud..."

Zitao mengakhiri ceritanya dengan sebuah senyuman lucu, sementara Kris, matanya hanya menatap kosong taman yang terhampar di depan mereka, kepalanya sibuk mencerna cerita Zitao barusan. Gadis di sebelahnya adalah gadis yang memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pendampingnya. Gadis yang merelakan mimpinya, rela menukar semua itu dan duduk di sampingnya.

Kris tenggelam dalam pikirannya sendiri, seperti memikirkan hal yang cukup serius...

FLASH BACK END

.

Dan lamunan Kris yang kemarin nampaknya masih berlanjut hingga saat ini. Kris masih berdiri di depan sebuah patung Bunda Maria yang berada tepat di tengah Altar yang akan menjadi tempat Kris dan Zitao mengikat sumpah pernikahan mereka. Kris sudah mengenakan Tuxedonya dengan rapi, terlihat jelas dia adalah mempelai pria yang sangat tampan, walaupun dia sedang berdiri dan melamun, dia tetap saja tampan.

Semua orang yang sedang mempersiapkan ruangan terheran - heran, apa yang kira - kira pria tampan itu pikirkan, wajahnya terlihat begitu berat dan sulit. Dan jawabannya adalah cerita Zitao kemarin, Kris masih memikirkan itu...

KRIS POV

Aku masih ingat betul cerita Zitao kemarin, Zitao dalah seorang putri yang lahir dengan takdir yang sudah ditentukan oleh kedua orang tuanya untuk menikah denganku. Sejak dia kecil, dia selalu diberitau jika masa depannya akan berakhir seperti ini, akan menikah dengan seseorang yang sudah ditentukan dan harus menjadi istri yang baik untuk orang itu, dan orang itu adalah aku.

Apakah mama juga dulunya seperti Zitao? yang rela menukarkan mimpinya dan duduk di samping papa? pantas saja mama menjadi kejam seperti itu saat mama tau papa berselingkuh, ternyata tidak mudah untuk menjadi gadis seperti zitao dan mama dulu, harus rela mengubur mimpi dan cita - cita mereka dalam - dalam untuk ambisi perusahaan,

Entah kenapa aku kecewa pada papa saat ini, entah kenapa aku merasa kasihan pada mamaku yang terhianati dan menjadi sekejam itu... Tapi... itu hal yang wajar jika papa menghianati mama, pernikahan mereka berdua bukanlah pernikahan yang berdasar atas cinta... mereka sama seperti aku dan Zitao, mereka juga dijodohkan seperti ini, papa tidak salah, tidak ada yang salah dengan menjadi jatuh cinta pada seseorang, mama, papa dan bibi Liu mereka hanya korban dari ambisi perusahaan... dan... akankah aku dan Zitao juga akan menjadi korban selanjutnya?

Akankah aku akan menjadi seperti papa? Akankah aku menghianati Zitao jika aku bertemu dengan orang yang aku cintai nanti? Apakah Zitao juga akan menjadi sekejam mama jika itu terjadi? Tapi... itu mungkin tidak akan terjadi jika aku... dan Zitao... saling mencintai... apakah hal itu mungkin terjadi? Apakah aku dan Zitao bisa saling mencintai sementara kita berdua masih terlalu asing seperti ini...

Bunda Maria, hari ini kau adalah saksi dari sumpah dan janji setia pernikahanku dengannya. Apakah aku berdosa karena ini adalah pernikahan yang berdasarkan janji perusahaan? Bunda Maria... aku tidak ingin aku dan Zitao berakhir seperti Mama dan Papa... aku tidak ingin anak - anakku nanti harus berakhir seperti Aku dan Shixun, harus saling menyingkirkan seperti itu, aku tidak mau...

Bunda Maria... tolong sampaikan permohonanku pada Tuhan, permohonanku hanya satu... izinkan aku dan Zitao untuk bisa saling mencintai dan bersama hingga akhir, tanpa penghianatan dan tanpa perpisahan... bantu kami Bunda Maria...

KRIS POV END

.

"Tuan, acaranya sebentar lagi dimulai... harap tuan bersiap - siap" sekretaris pribadi Kris menghampiri dan berhasil membawa Kris kembali dari lamunannya

"Baiklah, apa mama dan papaku sudah datang?" tanya Kris mengedarkan pandangannya

"Sudah tuan, mereka sedang bersama dengan keluarga nona Huang..." jawab sekretaris itu,

dan benar saja, disalah satu sudut gereja itu dia melihat sosok sang mama sedang tersenyum bahagia sambil memegang tuas kursi roda papanya. Kris tau betul, senyum itu adalah senyum kepalsuan, karena dibalik senyum itu mamanya adalah seorang wanita yang penuh dendam dan ambisi.

.

Acara dimulai, Kris sudah berdiri dengan tegap di ujung altar. Sebuah piano sudah mengalunkan nada cinta sesuai dengan yang Zitao inginkan. Tak lama, seorang pengantin muncul digandeng oleh ayahnya. Zitao nampak beribu - ribu kali lebih cantik daripada saat mereka fitting baju kemarin. Zitao terlihat sangat cantik dengan make up natural dan rambutnya yang ditata rapi. Hiasan kepala Zitao menutupi bagian wajahnya hingga ke pinggang, dan benar saja apa yang Zitao katakan kemarin, walaupun gaunya itu gaun tanpa lengan dengan potongan rendah tapi hiasan kepala itu akan menutupi dadanya yang bebas, ditambah lagi kalung simple berbahan emas putih yang tergantung di lehernya membuat dada Zitao terlihat manis.

'Tunggu, Kris... apa kau memikirkan dada Zitao lagi?' batin Kris dalam hati, Kris tersenyum kecil sambil menunduk, dia tak bisa menyembunyikan kegeliannya karena sudah dengan 'tidak sengaja' memikirkan dada Zitao yang dia lihat kemarin. Oh Bunda Maria maafkan Kris yang memiliki pemikiran prevert disaat - saat sakral seperti ini.

Zitao akhirnya sampai di ujung altar, Kris kemudian membungkuk pada ayah Zitao dan laki - laki tua itu memberikan senyumnya sebagai jawaban, setelah itu Kris menengadahkan tangan kanannya untuk meminta tangan Zitao pada lelaki itu, Tuan Huang kemudian melepas tautan tangan kiri Zitao dilengannya dan hendak memberikan tangan putrinya pada Kris, namun sebelum Tuan Huang benar - benar melepas Zitao dia berkata.

"Aku serahkan putriku Huang Zitao padamu, Kris Wu. Aku sebagai ayahnya yang selama ini menjaga dan merawatnya, kini menyerahkan putriku yang amat aku cintai ini kepadamu, aku mempercayakan putriku seutuhnya padamu. Aku harap kalian bisa bahagia dan terus bersama hingga Tuhan sendiri yang memisahkan kalian..."

Mendengar kata - kata Tuan Huang, Kris dapat melihat bagaimana air mata jatuh dari mata panda manis seorang gadis yang beberapa saat lagi sah menjadi miliknya itu. Hati Kris seperti bergetar melihat itu, dan saat tangan Zitao menyentuh tangan Kris, entah Kris mendapat keajaiban darimana, entah itu anugerah Tuhan atau Kris mulai gila, tapi hati Kris bergetar lebih kencang, ingin rasanya Kris memeluk Zitao saat ini.

Namun Kris berusaha kembali pada kesadarannya sebelum dia larut terlalu jauh dalam getaran hatinya. Kris membawa Zitao ke altar. Dan mereka berduapun mengikat janji pernikahan mereka disana, janji untuk saling mencintai, percaya, setia dan menghargai walau dalam kedaan susah, senang, sakit, sehat, siang maupun malam.

"Kalian dinyatakan resmi menjadi suami istri, kau boleh mencium istrimu Tuan Wu" kata pendeta yang menikahkan mereka.

Perlahan Kris dan Zitao saling berhadapan, Kris membuka penutup kepala Zitao hingga menampilkan wajah manis dan imut natural Zitao, bibir peach zitao nampak begitu manis, namun mata gadis itu kini penuh dengan air mata, Kris yang melihatnya, dia kemudian menatap Zitao dengan pandangan menenangkan dan hangat, jauh dari pandangan mata dinginnya yang selalu dia bawa kemana - mana.

"Kenapa kau menangis?" bisik Kris

"Entahlah, aku hanya... bahagia... dan hatiku rasanya bergetar" jawab Zitao dalam isakan lemahnya

Kris menakupkan kedua tangannya ke wajah Zitao dan menghapus jejak air mata di pipi istrinya, lalu Kris tersenyum dan Zitao membalas senyumnya. Keduanya kemudian menutup mata mereka dan Kris akhirnya menempelkan bibirnya pada bibir peach milik Zitao, perlahan ciuman itu semakin dalam namun lembut dan hangat, Kris sedikit menyesap bibir bawah Zitao lalu ciuman itu berakhir dengan satu kecupan singkat di bibir Zitao. Dan keduanyapun tersenyum bahagia.

Di salah satu sudut gereja, Chanyeol duduk disebelah kedua orang tuanya dan menyaksikan adegan Kissing sahabatnya itu. Chanyeol yang geli lalu tertawa terbahak bahak. Chanyeol menggunakan setelan jas berwarna abu – abu senada, gaya rambut yang biasanya berbentuk sedikit berjambul di depannya segaja dia rebahkan sebagai penyamaran, dan penyamaran itu diperhalus dengan kacamata persegi yang dia gunakan. Chanyeol juga sengaja tidak menghampiri Kris, dia memlih pergi ketika acara pemberkatan telah usai dan acara pesta dimulai, itu sebagian dari janji mereka dulu, dimana mereka tidak akan bertemu satu sama lain. Dalam misi ini Chanyeol dan Kris tidak akan berhubungan melalui media apapun dan sebisa mungkin tidak melakukan kontak dan pembicaraan apapun. Ini bertujuan untuk memperkecil kemungkinan terciumnya berita bahwa perginya Chanyeol ke Eropa ada kaitannya dengan Kris. Chanyeol hanya tersenyum sendiri sambil melihat kearah sahabatnya yang terlihat cukup bahagia di mata Chanyeol. Setelah dia merasa cukup, akhirnya pria tampan berdimpel mungil di pipi kirinya itu segera pergi meninggalkan Eunhyuk dan Donghae berdua saja.

.

Di acara pesta, Kris dan Zitao sedang menerima banyak sekali tamu. Kris mengedarkan mata tajamnya, berharap dia dapat melihat sekelebatan sosok sahabatnya Chanyeol. Entah kenapa dia berfirasat jika sahabatnya itu ada di sana. Memang benar, tapi Kris tidak pernah tau jika Chanyeol datang, faktanya orang yang si mempelai pria cari sudah pergi.

Namun seperti petir di siang bolong. Ada satu yang membuat hati Kris seperti terkena Bom atom.

"Eoraemaniya... Chinguya..." sapa seorang pria bersuara merdu menghampiri Kris.

"Ne... eoraemaniya, Suho..." jawab Kris sambil menjabat tangan Suho.

"Chukae! Kau sudah menemukan pelabuhan cintamu... pengganti Yixing eoh?" Kata Suho sambil menatap sinis kearah Zitao.

"Dia tidak mengganti posisi siapapun, ini adalah posisinya!" Kris membela Zitao

"Benarkah? tapi mungkin gadis ini tidak akan berdiri di altar bersamamu jika Yixing masih ada!" gumam Suho

"Walaupun dia masih ada, dia tidak akan berdiri di altar bersamaku" Kris menahan diri untuk tidak menonjok seringaian menyebalkan Suho dihadapannya.

"Kenapa tidak? Bukankah kau yang merebutnya dariku Kris?" Suho langsung berpaling menjauh, dia juga tidak mau merusak headline pernikahan putra Mahkota keluarga Wu di tabloit bisnis dengan berita pertengkaran mereka.

6 September 2013
(Edinburgh, Scotland)

Kai sedang berkunjung ke rumah Sehun, sekarang keduanya tengah asik dengan benda favorite mereka masing - masing. Sehun asik dengan kameranya sedangkan Kai sibuk dengan tablet PCnya.

"Ya... Sehun-ah... kau tau? Hari ini adalah hari pernikahan kakakku... sayang sekali aku tidak bisa ke Korea sekarang... padahal aku ingin memberikannya pelukan selamat" gerutu Kai sambil cengar - cengir di hadapan tablet PCnya

"Geurae? Bukannya kau itu anak tunggal? Kakakmu yang mana Kai?" Tanya Sehun masih sibuk dengan kameranya.

"Mmmm... sebenarnya dia bukan kakakku, hanya saja dia adalah orang yang sudah seperti kakakku sendiri... dia begitu baik dan hangat padaku! Dia menyayangiku benar - benar seperti dia menyayangi adiknya sendiri, benar – benar seperti kau dan Chanyeol Hyung!" ucap Kai sambil mengunyah makanan ringan yang tak putus - putus di kunyahnya.

Sehun terdiam mendengar pernyataan dari Kai barusan. Sehun mengingat lagi masa lalunya dan jati diri sebenarnya. Semua orang termasuk Kai mengira Sehun dan Chanyeol benar – benar bersaudara, walaupun banyak yang sangsi terhadap penampilan mereka. Walaupun mereka sama – sama tinggi tapi Chanyeol memiliki mata yang cukup bundar dan lebar, tidak seperti mata Sehun yang sipit dan tajam. Kulit Sehun juga lebih putih dari pada Chanyeol. Chanyeol adalah orang yang babnyak bicara, sedangkan Sehun nampak tak seramah Chanyeol.

"Kai, kau tidak tau… Chanyeol bukan kakakku yang sebenarnya… kami hanya bersandiwara…" gumam Sehun dalam hati. Tak terasa mata Sehun mulai berair, hatinya sugguh sesak setiap kali dia mengingat kenyataan pahit akan jalan cerita hidupnya.

"Sehun-ah? wae? kau menangis?" Kai langsung terduduk dari posisinya tadi yang tertidur. Namja berkulit tan itu menangkap gelagat aneh pada sahabat kesayangannya ini.

"Ani... aku hanya kelilipan debu di kamera ini... sebentar, aku harus ke kamar mandi" kata Sehun kemudian dia langsung masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya.

"Aneh sekali anak itu…" gumam Kai sambil meremas bungkus makanan ringan yang sudah tak tersisa lagi.

Setelah membuang bungkus makanan itu di tong sampah dekat meja belajar Sehun, Kai melihat kamera kesayangan sahabatnya itu tergeletak, Kai yang penasaran kemudian mengambilnya dan melihat isi kamera Sehun.

Seketika tangannya bergetar sesaat setelah dia melihat file di dalam kamera itu. Dan Kai tau betul alasan mengapa dadanya begitu panas kali ini, 90% foto di dalam kamera itu adalah foto Kyungsoo. Sehun nampaknya telah mengambil gambar gadis manis bermata bundar itu diam - diam, terlihat beberapa fotonya adalah foto Kyungsoo tidak sedang berpose di depan kamera, lebih banyak foto saat Kyungsoo diam, tersenyum, tertawa atau sedang belajar. Namun yang jelas foto - foto itu membuat Kai merasa cemburu.

"Apa yang kau lakukan?" Sehun memergoki Kai yang tengah membuka koleksi fotonya

Kai seketika langsung mendongak, secepat mungkin dia tersenyum untuk menutupi kecemburuannya.

"Anii,,, aku hanya melihat hasil karyamu... kenapa... isinya... hanya... wajah Kyungsoo saja?" tanya Kai terbata, dadanya berdegup kencang,

"Ahahaha... dia sangat manis dan lucu, setiap apapun yang dia lakukan begitu imut..." jawab Sehun tersenyum lalu mengambil kameranya dari tangan Kai

"Apa... apa... kau... menyukai Kyung..soo?" Kai memberanikan diri untuk bertanya tentang perasaan sahabatnya itu pada Kyungsoo, dia sangat berharap jawabannya tidak, karena sejujurnya Kai sendiri sudah sejak lama menyukai gadis manis itu.

"Mmm... iya,.. aku menyukainya, aku menyukai Kyungsoo! Kai-ah… aku rasa… aku ingin menjadikan Kyungsoo kekasihku… eotte?" Sehun berkata sambil tersenyum dengan semburat merah dipipinya, dan itu berhasil menggores luka di hati Kai.

Disatu sisi Kai ingin berteriak, TIDAK! Sehun tidak boleh menyukai Kyungsoo, tapi di sisi lain dia tidak mau bermusuhan dengan Sehun hanya karena berebut Kyungsoo. Kai benar - benar dilanda dilema kali ini, antara memilih memperjuangkan cintanya pada Kyungsoo atau mempertahankan persahabatannya dengan Sehun. Kyungsoo dan Sehun sama berharganya bagi Kai.

"Ah… meolla… oh ya… Sehun-ah… sepertinya aku harus segera pulang, aku… ada yang harus aku lakukan" kata Kai gugup. Sebisa mungkin dia berusaha menyembunyikan goresan luka di hatinya.

Tanpa menunggu jawaban dari Sehun, namja bermarga Kim itu langsung meninggalkan ruangan attic yang menjadi kamar kebanggaan Sehun lalu pergi dengan langkah panjang – panjang meninggalkan rumah itu.

Sakit. Sakit sekali, itu lah yang dirasakan Kai saat ini. Tidak hanya hatinya, kepalanya juga ikut sakit. Bagaimana bisa kenyataan begitu kejam meyiksanya.

Kai terus berlari, tanpa peduli langit mulai gelap. Hatinya begitu sesak, kepalanya begitu penat. Dia tidak sanggup untuk menerima kenyataan jika Sehun mencintai Kyungsoo.

BRUGH.

Kai tiba – tiba tersungkur di trotoar, kakinya tersandung oleh celah – celah resapan air di trotoar itu.

"Akh…" Kai mengeluh sakit, dilihatnya cairan berwarna merah mengalir indah dari siku tangannya.

"Are you okay?" sebuah suara yeoja menghampiri Kai, namun yang Kai lihat malah sesosok namja bertopi hitam yang berjongkok di hadapannya sekarang.

"Luhan?" Kai mengerutkan keningnya melihat Luhan berjongkok di hadapannya, ternyata itu bukan namja, tampilannya saja yang seperti namja, Luhan selalu dengan celana jeans, baju kaos kebesaran, sepatu kets dan topi.

"Kai-ah… kenapa kau bisa jatuh di sini? Aaah… sikumu berdarah!" Luhan membulatkan matanya melihat darah di siku Kai.

"Gwaenchana… ini hanya luka kecil" gumam namja tan itu

"Sebaiknya obati dulu, Ayo masuk… ini apartemenku!" kata Luhan sambil menunjuk sebuah gedung di hadapan mereka.

Kai mengikuti saran Luhan. Memang sebaiknya dia tidak pulang ke rumah dulu. Sendiri akan membuatnya merasa semakin sesak. Kai masuk kesebuah ruangan apartemen mungil tipe studio. Dimana dalam satu space apartemen terdapat tempat tidur, dapur dan ruang tamu kecil didalamnya tanpa sekat apapun. Kecuali kamar mandi.

Apartemen Luhan termasuk bersih dimata Kai, sebenarnya. Karena kondisi apartemen itu sangat mirip dengan kondisi kamar miliknya. Namun jika dipikir lagi bahwa Luhan adalah seorang yeoja, maka kamar ini bisa dikategorikan berada dalam golongan cukup mengenaskan.

Bayangkan saja, beberapa kaos dan jeans tercecer di atas tempat tidur bergulat bersama beberapa bungkus makanan ringan dan juga buku – buku serta sebuah tablet PC juga bergumul bersama diatas tempat tidur yang bed covernya sendiri tergeletak indah diatas karpet.

Dapur Luhan cukup bersih, hanya saja beberapa sampah seperti kotak susu, kulit buah, bungkus makanan dan kaleng – kaleng tercecer rapi didekat bak cuci piring yang juga terisi beberapa piring dan gelas kotor. Sedangkan tong sampah yang ada di bawahnya cukup penuh. Teflon bekas pakai pun masih dengan manisnya bertengger diatas tungku kompor.

Beberapa sepatu berserakan beserta kaus kakinya di bagian rak sepatu. Menariknya, poster – poster juga tertempel di dinding apartemen itu. Sebagian besar berisi poster sebuah club sepak bola berwarna merah, Manchester United. Dan beberapa poster pemain hebat seperti Christiano Ronaldo dan Park Jisung juga tertempel di dinding kamar itu.

"Duduklah…" ucap Luhan menunjuk sebuah sofa berbentuk bola sepak di sudut ruangan, sofa itu berhadapan langsung dengan TV.

"Oh.. okay.." Kai merasa canggung, bagaimana bisa kamar seorang yeoja bisa semirip ini dengan kamar miliknya, yang adalah namja. Dalam kepalanya Kai berpikir, Luhan bukanlah yeoja biasa.

"Aku tau kau pasti terkejut dengan keadaan kamarku, maaf ini berantakan sekali." Wajah Luhan memerah karena malu

"Jika saja kau itu namja mungkin aku akan biasa saja, tapi kau itu… yeoja…bukankah yeoja tidak suka tempat yang berantakan?" tanya Kai blak – blakan.

"Sebenarnya aku juga tidak suka tinggal begini, tapi apa boleh buat, aku belum terbiasa tinggal sendiri…" Luhan nyengir sedikit sambil mengeluarkan plaster, pembersih luka dan obat merah.

"mana sikumu.." Luhan meminta siku Kai, dengan sigap Kai langsung memberikannya pada Luhan.

Gadis bermata rusa itu langsung dengan telaten membersihkan luka Kai, kemudian memberinya obat merah dan menempel luka itu dengan plaster.

"Kenapa kau bisa jatuh sih?" kata Luhan setelah meletakkan sekaleng cola di sebuah meja bundar dekat sofa kecil itu.

"Aku tidak konsentrasi saat berlari…" Kai menggerutu.

"Oh, itu foto siapa?" Kai menunjuk sebuah foto seorang yeoja berusia cukup muda dengan wajah sekilas mirip Luhan.

"Itu… eommaku…" gumam Luhan

"Wah, kenapa bisa masih semuda itu?" Kai terkejut

"Itu foto lama, diambil sebelum aku lahir.." jawab Luhan sambil tersenyum

"Pasti sekarang tidak jauh berubah ya?"

"Dia sudah meninggal.."

Hening. Kai langsung merasa tidak enak dengan apa yang baru saja dia lakukan. Luhan yang terlihat datar – datar saja tak bergeming sedikitpun. Gadis itu masih terfokus pada luka di siku Kai.

"Dia meninggal sesaat setelah aku dilahirkan. Eommaku bukanlah yeoja yang kuat, kata nenek dia memang sering sakit dan lemah sejak masih balita. Maka dari itu halmeoni dan harabojiku sangat khawatir pada perkembanganku, tapi untungnya aku sehat, tidak seperti eomma" jelas Luhan tetap tidak memandang lawan bicaranya.

"Mianhae.."

"Gwaenchana… sekarang kau tau.. Jika aku tidak punya eomma"

"Tapi appamu pasti sangat menyayangimu.."

"Tidak juga… aku bahkan sudah tak serumah lagi dengannya sejak 7 tahun yang lalu"

"Mi… mian..hae"

"Gwaenchana… aku tidak mau kau kasihan padaku… jja… lukamu sudah kubalut, maaf jika tidak begitu rapi.." Luhan tersenyum lalu merapikan kotak P3knya

"Luhan!"

Kai memanggil Luhan tepat sebelum gadis itu beranjak dari duduknya.

"Gomawo…"

Luhan menangkap ada hal yang aneh di mata Kai saat mengatakan terimakasih. Bagaimana tidak, Kai terlihat sedikit sedih dan resah.

"Kai-ah.. gwaenchana?" Luhan yang tadinya ingin beranjak akhirnya duduk kembali dan memandang intens pada Kai

"Aku sangat ingin mengatakan jika aku baik – baik saja, tapi nyatanya tidak seperti itu. Aku tidak sedang baik – baik saja.." gumam Kai sambil menunduk

"Wae? Kau butuh teman untuk bercerita? Aku rasa aku adalah pendengar yang baik" ucap Luahn sambil tersenyum imut. Gadis tomboy itu menghenyakkan tubuhnya di sofa.

"Aku mencintai seseorang yang juga dicintai oleh sahabatku." Ucap Kai dengan nada lemah. Luhan yang berada di hadapannya tak ingin mengganggu Kai bercerita dan terus memandangi Kai dengan tatapan menyimak.

"Aku bingung antara memilih memperjuangkan cintaku pada gadis itu atau mempertahankan persahabatanku. Mereka berdua begitu berharga untukku" gumam Kai yang kini menatap kosong kotak P3K yang masih ada diatas meja.

"Apa seseorang yang kau cintai itu mencintai sahabatmu juga?" tanya Luhan kemudian

"Entahlah… aku belum tau pasti apakah dia mencintai sahabatku juga atau tidak, aku juga tidak tau bagaimana perasaannya padaku" keluh Kai yang semakin sendu.

"Gwaenchana… selama orang yang kau cintai itu belum secara langsung mengatakan bahwa dia mencintai sahabatmu, itu artinya kau masih punya kesempatan untuk mencintainya" ucap Luhan enteng

"Tapi bagaimana dengan sahabatku? Bagaimana jika dia tau jika aku juga mencintai orang yang sama dengannya?" Kai memandang Luhan dengan penuh harap. Mengharapkan solusi untuk masalah peliknya

"Jika dia sahabatmu, maka dia pasti akan merasakan hal yang sama sepertimu saat ini. Jika dia tahu kau menyukai orang yang sama dengannya, dia pasti akan berpikir hal yang sama denganmu" kata Luhan yang sebenarnya bukanlah solusi, tapi itu adalah fakta yang pasti akan terjadi jika seandainya Sehun tau.

"Aku tidak mau kehilangan dua – duanya" gumam Kai

"Kalau begitu kau harus siap jika orang yang kau cintai ternyata lebih memilih sahabatmu" kata Luhan seperti putusan final bagi nasib Kai

"Tapi selama orang yang sama – sama kalian cintai itu belum memutuskan untuk memilih satu diantara kalian, ada baiknya kau juga berusaha untuk mendapatkannya" sambung Luhan

7 September 2013
Beijing, China

Setelah acara pernikahan Zitao dan Kris selesai, mereka segera kembali ke China untuk mengurus beberapa hal sebelum kepindahan mereka ke Korea guna mengurus WH Company. Zitao sampai di China pukul 3 pagi, saat di pesawat dia duduk bersebelahan dengan Kris namun begitu sampai di Beijing mereka malah berpisah, Zitao tidak tau kemana Kris pergi, yang jelas sekretarisnya datang menjemput Kris dang mengajak suaminya itu pergi dengan menggunakan mobil yang lain dengannya.

"Selamat pagi nyonya." sapa seorang yeoja berdimple dengan senyum manisnya menyapa Zitao

"Hao... selamat pagi..." Zitao yang salah tingkah malah membungkuk hormat pada yeoja itu

"Nama saya Lee Hyori, mulai saat ini saya adalah orang yang ditugaskan oleh Direktur Wu untuk menjadi pelayan pribadi Nyonya." kata yeoja itu kembali membungkuk

"Oh... iya... pelayan pribadi? wah..." Zitao jadi salah tingkah mendapatkan fasilitas seorang pelayan pribadi oleh Kris.

"Silahkan nyonya, Direktur Wu meminta saya untuk mengantar nyonya langsung ke rumah." kata yeoja yang terlihat seumuran dengan ibu Zitao itu

"Oh ya, apa anda tau kemana Kris pergi?" tanya Zitao yang dari tadi penasaran

"Direktur Wu akan langsung menuju ke Guangzhou untuk meninjau pabrik di sana Nyonya.." jawab Leeteuk singkat namun lembut.

Zitao lalu dengan patuh mengikuti perintah Kris dan dia segera masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggunya dan segera mengantar yeoja manis dan polos itu menuju istana keluarga Wu.

.

30 menit di perjalanan akhirnya Zitao sampai di istana keluarga Wu. Istana itu begitu mengah dan besar, benar - benar seperti istana di dongeng - dongeng.

"Nyonya mari saya antar ke kamar anda." Hyori mengajak Zitao agar mengikutinya dan berjalan menuju lantai dua, setelah sampai di lantai dua Zitao melihat dua buah lorong di sisi kanan dan kiri, kemudian Zitao diajak untuk berbelok ke arah kanan, Zitao menyusuri sebuah lorong dengan hiasan eropa yang kental dimana ujungnya terdapat dua buah pintu saling berhadapan.

"Silahkan Nyonya..." Hyori membuka pintu disebelah kiri lalu mempersilahkan Zitao masuk.

"Maaf, yang ini ruangan apa ya?" tanya Zitao agak canggung menunjuk pintu sebelah kanannya

"Oh, itu adalah kamar adik Direktur Wu" jawab yeoja itu.

"Ah... iya, aku ingat, Kris punya adik, dimana dia? Kenapa tidak hadir di pernikahan kami?" tanya Zitao dengan polosnya

Namum senyum di wajah wanita paruh baya itu langsung pudar ketika Zitao menanyakan keberadaan Sehun. "Maaf Nyonya, saya tidak berhak membicarakan hal itu..." Hyori kembali tersenyum lemah

"Oh.. maafkan aku, aku tidak bermaksud menginterogasi.. maaf.." sekali lagi Zitao membungkuk hormat pada wanita itu.

"Barang - barang nyonya sudah ada di kamar, selamat beristirahat nyonya.."

"tunggu... sepertinya anda bukan orang China.." gumam Zitao, nampaknya gadis bermata panda itu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

"Iya nyonya, saya adalah orang Korea yang bekerja pada keluarga Wu... saya dulunya adalah pengasuh Direktur Wu dan Tuan Muda Wu Shi Xun" jawab Hyori dengan senyum terbaiknya

"Uah... senang bertemu dengan anda... kalau begitu boleh aku memanggil anda dengan sebutan Ajhuma?" tanya si panda manis lagi.

"Tentu saja Nyonya, sekarang tugas saya adalah untuk melayani anda sepenuhnya..." kata Leeteuk kembali tersenyum

GREB

"Terima kasih ajhuma... aku senang aku punya teman di sini, jujur saja aku takut kesepian, mengingat Kris pasti sangat sibuk dan rumah ini begitu besar... jika ada ajhuma pasti aku tidak akan kesepian..." gumam Zitao sambil memeluk Hyori kuat - kuat.

'Direktur Wu begitu beruntung mendapatkan wanita yang baik, tulus dan polos seperti ini' batin Hyori dalam hati.

Zitao langsung masuk ke dalam kamar yang sebelumnya merupakan kamar pribadi Kris, di salah satu tembok kamar yang luasnya hampir 4 are itu tergantung foto pernikahannya. Kris dan Zitao bergandengan tangan sambil tersenyum berdua, sebenarnya yang tersenyum sangat ceria adalah Zitao, sementara suaminya hanya tersenyum kecil, seperti biasa Kris memang selalu dingin.

"Wah, bagaimana foto ini sudah terpasang di sini, kita baru menikah kemarin dan itupun di Korea, uah..." Zitao tersenyum geli sendiri kemudian gadis panda itu melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Semua ini terasa begitu nyata, dia adalah istri seorang Kris Wu, dia adalah Nyonya di rumah ini. Senyum manis terukir jelas di wajahnya, sesaat kemudian Zitao membaringkan tubuh jenjangnya di ranjang yang berukuran cukup besar dengan seprai putih bercorak keemasan yang elegan, tempat tidur yang lembut dan empuk. Tanpa terasa Zitao kemudian terlelap dalam tidurnya sambil memeluk sebuah bantal.

.

Tepat pukul 8 pagi, Hyori masuk ke dalam kamar dan membangunkan Zitao, wajah Hyori terlihat sangat panik.

"Nyonya... Nyonya bangun Nyonya..." Hyori terpaksa mengguncang tubuh Zitao untuk membangunkan panda imut itu

"Enghhh... selamat pagi ajhuma.." gumam Zitao hanya merenggangkan tubuhnya namun masih tertidur

"Nyonya... maaf, tapi Nyonya besar ingin anda segera menemui beliau di ruangannya..." ucap Hyori

"Apa? Siapa?" Zitao tiba - tiba bangun dan kaget

"Nyonya besar ingin segera bertemu dengan anda Nyonya.." Hyori mengulangi.

"Nyonya besar itu... mama mertuaku kan?" tanya Zitao masih dengan tatapan super polosnya

"Iya Nyonya, sebaiknya nyonya segera bersiap - siap sebelum nyonya besar emosi" Hyori memohon

Zitao langsung melesat dari tempat tidurnya menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri.

.

20 menit kemudian Zitao sudah siap dan segera turun ke lantai 1 karena Heechul menunggunya di ruang makan.

"Selamat pagi mama..." sapa Zitao dengan senyum lembut

"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Heechul yang baru saja selesai meletakkan secangkir teh di meja.

"Iya ma, aku cukup lelah..." jawab Zitao yang baru saja duduk di sebelah Heechul

"Aku... mengajakmu bertemu pagi ini disela - sela kesibukanku adalah untuk mengajarimu kewajiban sebagai istri dari keluarga Wu" kata Heechul dengan nada dinginnya, persis dengan nada bicara Kris.

"Iya ma..." jawab Zitao masih dengan senyum manis

"Peraturan pertama, kau tidak boleh memanggil Kris dengan sebutan Kris, kau harus memanggilnya dengan sebutan Direktur Wu!"

"Kenapa aku tidak boleh memanggilnya dengan sebutan Kris?"

"Karena kau menikahi anakku bukan untuk bermain - main, menjadi istri seorang Wu itu adalah tanggung jawab besar, jangan kira kau bisa hidup enak, santai - santai dan menjadi seorang ratu di rumah ini."

Zitao langsung berkeringat dingin mendengar penuturan mertuanya

"Dan jangan panggil aku mama jika sedang berada di rumah ini, di rumah ini aku adalah Nyonya besar, kau harus menyapaku dengan sebutan Nyonya besar, dan jika di kantor atau di luar rumah, baru kau panggil aku dengan sebutan Nyonya Presdir. " kata Heechul lalu memberikan smirk mautnya pada Zitao

"Kau juga tidak boleh menyebarkan rahasia perusahaan dan rahasia rumah ini kemanapun! Kau memang berhak atas 20% saham atas total saham keluarga Wu, namun itu akan dikelola dan digabungkan dengan saham milik Kris."

"Iya Nyonya..."

"Kau juga harus menjaga sikap, dan menjaga wibawa keluarga Wu, menjadi istri seorang Wu itu artinya kau harus menjadi wanita sempurna yang bisa ditunjukkan dihadapan publik, kau juga adalah harga diri keluarga WU! Kau tidak boleh melakukan kesalahan apapun! Mengerti?"

"Saya mengerti Nyonya"

"Kau harus selalu berkata jujur dan harus berada di pihak Putraku dalam hal apapun!"

"Saya mengerti Nyonya"

"Satu lagi, tugas utamamu sebagai menantu di keluarga Wu adalah kau harus segera memberikan seorang ahli waris untuk keluarga Wu! Kau harus memiliki seorang Putra, semakin cepat semakin baik!"

Zitao kaget dengan peraturan yang terakhir, dia tidak berani menjawab terlebih karena permintaan itu Zitao anggap terlalu cepat.

"Apa kau mengerti?" tanya Heechul karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari Zitao

"Iya Nyonya, saya mengerti... saya akan selalu berusaha yang terbaik" ucap Zitao mengusahakan suaranya agar tetap tenang walaupun sebenarnya dia sangat ketakutan pada sang mertua yang dulu dia kira begitu hangat dan ramah, tapi begitu dia sampai di istana ini Heechul malah terlihat seram dan menakutkan.

Acara sarapan bersama telah usai, kini Zitao sedang tidak ada kerjaan memilih untuk berjalan - jalan di sekitaran rumah dengan luas 4 hektar itu. Ketika Zitao sampai di halaman belakang, dia menemukan seorang wanita nampak lebih muda dari heechul sedang menyiram beberapa bunga anggrek, wanita itu tidak menggunakan seragam pelayan, wanita itu nampak nyaman dengan pakaian santai rumahannya. Karena penasaran Zitao langsung menghampiri wanita itu

"Selamat siang..." sapa Zitao dengan senyum polosnya, wanita itu langsung berbalik dan tersenyum manis, senyumnya penuh kedamaian dan ramah

"Selamat siang nyonya Wu... wah... kau cantik sekali..." sapa wanta itu masih dengan senyum ramahnya.

"terima kasih... anda juga cantik sekali... bunga - bunga anggrek ini juga.." kata Zitao sambil melebarkan pandangannya pada bunga - bunga anggrek yang bermekaran dengan indah

"Beruntungnya anakku mendapatkan istri semanis dirimu, Zitao.." kata wanita itu lagi

"Maksud anda?"

"Panggil aku mama... aku adalah istri kedua Presdir Wu..."

Zitao hanya melotot tidak mengerti dengan apa yang wanita itu ucapkan, nampaknya sang wanita menangkap sinyal tidak mengerti Zitao itu lalu wanita yang juga adalah ibu kandung Sehun itu langsung mengajak Zitao untuk minum teh santai di sore hari bersama.

Suasana minum teh dengan ibu kandung Sehun ini sungguh berbeda dengan suasana minum teh tadi pagi dengan Heechul. Wanita ini begitu lembut, baik, ramah dan penyayang. Di dalam acara minum teh itu mereka berdua sibuk bercerita tentang Kris dan Sehun dan bagaimana mereka berdua tumbuh besar bersama.

Sungguh menyenangkan dapat mengenal Kris dari seseorang seramah itu. Tapi banyak pertanyaan yang dia simpan untuk dirinya sendiri yang nantinya akan dia tanyakan pada Kris langsung. Dia tidak mau bertanya pada orang lain, karena jujur saja, satu - satunya orang yang dia percaya di rumah itu hanyalah Kris, suaminya.

.

Hari sudah cukup larut, jam menunjukkan pukul 11 malam. Sudah hampir 24 jam Zitao tidak bertemu dengan Kris dan dia juga tidak mendapat kabar apapun dari suaminya itu, Zitao ingin bertanya pada Hyori tapi dia takut akan ancaman Heechul tadi, dia tentu tidak boleh mengatur Kris.

Zitao duduk di lantai kayu kamar Kris yang sudah dilapisi oleh karpet anemone yang sangat empuk, kedua kakinya ditekuk dan tangannya memeluk kedua kaki itu. Matanya yang sendu memandang kearah bulan purnama yang terlihat jelas dari jendela raksasa kamar itu. Zitao mengenakan sebuah piama berwarna baby pink dengan gambar panda lucu di dadanya, rambut panjang dan hitam legam yang indah dia biarkan tergerai begitu saja hingga poninya sedikit menutupi wajahnya, kini matanya terpejam dan pikirannya melayang, melayang entah dimana karena dia sedang memikirkan suaminya yang juga entah dimana.

Setelah membuka matanya Zitao merasakan seseorang tengah duduk tepat di sampingnya. Segera saja Zitao memalingkan wajahnya dan yang dia liat adalah sosok Kris yang masih menggunakan setelan jasnya lengkap dengan dasi dan sepatu yang belum dia lepas.

"Direktur Wu, kau baru pulang...?" sambut Zitao dengan suara seraknya yang beradu dengan degupan jantungnya

"mmm? kau memanggilku apa tadi?" Kris langsung mengangkat kepalanya hingga kedua mata mereka saling bertemu.

"Di...rektur... WU..." jawab Zitao agak canggung terlebih dengan tatapan memprotes Kris sekarang

"Siapa yang menyuruhmu memanggilku dengan sebutan Direktur Wu?" tanya Kris lagi

"Nyonya besar" jawab Zitao singkat, matanya masih terkunci dengan mata Kris

"Nyonya besar siapa?" tanya Kris pura - pura tidak tau

"Mamamu..."

"Panggil aku sekali lagi.."

"Direktur Wu..."

"Memangnya kau siapa? Berani - beraninya memanggilku begitu... apa kau pegawaiku?"

Zitao hanya menggeleng kemudian memasang raut wajah sedihnya

"Kalau begitu jawab aku sekarang, kau siapaku?" tanya Kris lagi

"aku... aku istrimu..."

"That's right... kau istriku! Aku suamimu! Apa pantas seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan Direktur?" protes Kris lagi, Zitao hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya.

"Jangan panggil aku seperti itu, setidaknya jangan panggil aku Direktur Wu saat kita sedang berdua seperti ini, aku menikahimu bukan untuk menjadikanmu pegawaiku.

Zitao memandang Kris dengan penuh haru, dia tidak menyangka sedikitpun Kris akan berkata demikian.

"Kris.. Boleh aku memanggilmu Kris?" Zitao membuka mulutnya dan berkata lemah.

"Tentu saja, apapun asal jangan Direktur Wu... aku tidak mau.." Kris lalu kembali memandangi pemandangan di luar jendela.

"Yah... kau masih belum ganti baju... ayo segera mandi dan ganti bajumu... kau terlihat begitu lelah.." Zitao menatap Kris panik lalu dia berdiri meninggalkan Kris

"Kau mau apa?" tanya Kris ketika Zitao terlihat tengah sibuk

"Aku... mau menyiapkan air hangat di bathup untukmu berendam, sekalian menyiapkan baju ganti.." jawab Zitao polos sepolos polosnya

Kris hanya tersenyum agak sinis kemudian berdiri, "Kau tidak perlu melakukannya, aku bisa melakukan itu sendiri.." kata Kris mulai melepaskan jasnya.

"Tidak... tidak bisa begitu... tadi kau sendiri kan yang bilang jika aku ini istrimu? Ini adalah kewajiban seorang istri... tentu aku mau jadi istri yang baik untukmu..." kata Zitao kemudian tersenyum

"Benarkah? Kenapa kau mau menjadi istri yang baik untukku?" tanya Kris kini sudah mulai melepas dasinya

"Karena aku sudah berjanji di depan saksi, dan dihadapan pastur juga Bunda Maria... aku akan menjadi istri yang baik untukmu Kris.."

DEG

Kris kembali teringat pada pikirannya ketika dia berada di altar. Kembali ingat tentang permohonannya pada Bunda Maria, Kris masih ingat betul bagaimana dia memohon agar diberi kesempatan untuk mencintai Zitao. Kris tentunya tidak mau nasib yang sama denganya dan Sehum harus menimpa anak – anaknya kelak.

"Jujur… aku masih sangat merasa asing denganmu Tao…" kata Kris setelah beberapa saat hening.

"Kau datang begitu saja dalam hidupku sebagai istriku. Kau tidak tau seberapa rumit hidupku." Sambung Kris yang kini sudah terduduk di atas tempat tidur dengan dua kancing kemejanya yang sudah terbuka.

Zitao yang masih berdiri kini mengambil posisi jongkok agar bisa melihat wajah Kris.

"Aku memang tidak mengenal siapa dirimu, aku memang tidak tau seberapa rumit kehidupanmu, tapi aku ada disini untuk hidup bersamamu…" Zitao menggantung kalimatnya kemudian menghela napasnya sejenak

"Bagaimana jika kita memulai ini dengan berteman? Jika aku tidak bisa jadi istri yang baik, mungkin aku bisa jadi teman yang baik untukmu" Zitao melanjutkan kalimatnya.

Kris yang sedari tadi menunduk, kini mulai mengangkat kepalanya dan memandang sepasang mata panda yang sangat polos di hadapannya ini.

"Kau tau, hidupku ini sangat mengerikan… aku adalah orang yang kejam, bisa saja aku melukaimu." Ucap Kris yang lagi – lagi memasang tampang sinisnya

"Kalau begitu aku akan percaya padamu, apapun yang kau lakukan aku akan percaya padamu… dengan begitu aku tidak akan terluka." Jawab Zitao mantap

DEG

Kalimat itu. Ini bukan pertama kalinya Kris mendengar kalimat semacam itu di telinganya. Kalimat itu adalah kalimat yang sama yang pernah Ibu kandung Sehun ucapkan padanya ketika dia tahu bahwa Sehun sebenarnya dibuang, bukan bersekolah di Amerika atau semacamnya.

"Apa kau akan percaya padaku?" Kris bertanya ragu.

"Aku tau, kau pasti sudah mengetahui tentang issue kebangkrutan perusahaan keluarga Huang. Itu benar, keluargaku memang bangkrut. Dan jalan satu – satunya adalah menerima tawaran kerjasama dari keluarga Wu, namun papaku tidak menerimanya begitu saja. Papa menerima tawaran kerjasama itu dengan syarat kau harus menikahiku, tak diduga mamamu setuju. Maafkan aku Kris, aku tak punya pilihan lain untuk membantu perusahaanku. Aku tidak punya cara lain, aku merasa begitu kejam dan menyedihkan.." Zitao mulai meneteskan airmatanya.

"Aku tau itu semua." Sesingkat itu tanggapan Kris.

"Dan sekarang, aku adalah istrimu, dengan kata lain aku adalah milikmu. Jadi kau adalah satu – satunya orang yang berhak atas hidupku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya padamu. Aku hanya akan mnegikutimu, bukan yang lain" kata Zitao dengan suaranya yang tegar walaupun air matanya sudah bercucuran

Kris memandang Zitao yang terisak kali ini. Gadis yang ada dihadapannya ini begitu polos. Kris yang sangat peka terhadap orang lain bisa merasakan seberapa tulus kata – katanya barusan. Entah mengapa Kris seketika merasa bahagia, ditengah rasa kesepiannya dan kepenatannya menghadapi hidup yang lucu seperti hidupnya ini, secara tiba – tiba sesosok Huang Zitao muncul dihadapannya, menjadi istrinya, menyerahkan dirinya sebagai orang yang percaya pada Kris.

10 September 2013
Edinburgh, Scotland

"What? Xiumin ke London?" Kai nampak kaget saat Kyungsoo memberitau keberadaan sahabat chubbynya itu

"Iya, Xiumin ke London untuk bertemu dengan kakaknya, Lay jie jie" imbuh Kyungsoo seakan tau Kai akan bertanya 'untuk apa?'

"Ah… Lay jie jie. Selama ini aku bersahabat dengan Xiumin tapi tak sekalipun aku pernah melihat sosok Lay jie jie, bahkan melihat photonya saja aku tidak pernah" gerutu Kai sambil mengetukkan jarinya diatas meja DO Café.

"Lay jie jie adalah sosok gadis yang baik dan lembut, walaupun dia bisu tetapi hanya dengan menatap manik matanya saja kau sudah akan tau dia ingin mengatakan apa" ujar Kyungsoo sedikit tersenyum melihat wajah Kai yang nampak bosan

"Aku rasa Chanyeol hyung mengenal Lay jie jie, karena aku pernah sekali mendengar Chanyeol hyung berkata pada Sehun bahwa dia akan bertemu dengan seseorang bernama Lay di London" Kai kini menatap Kyungsoo intens

Kyungsoo sendiri langsung gugup mendengar apa yang baru saja dikatakan Jongin. Pasalnya Kyungsoo tau betul siapa Lay dan Xiumin, bagaimana masa lalu Lay hingga kini dua kakak adik berdarah cina itu bisa terdampar di Inggris. Kyungsoo tau semuanya. Kyungsoo tau jika Chanyeol mengenal Lay saat keduanya berkuliah di Amerika. Bahkan Kyungsoo tau jika dulu Lay adalah pengasuh part time untuk Jongin alias Kai. Kyungsoo tau itu semua dari cerita Xiumin,

"Kyungsoo-ah… kau kenapa?"

Kai baru saja mencubit pipi lembut Kyungsoo yang sempat bengong, sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Aku… baik – baik saja… ahahaha… oh ya.. besok kita sudah mulai kuliah. Kemarin aku dan Luhan sudah membeli beberapa persiapan. Kau dan Sehun bagaimana?" tanya Kyungsoo lagi – lagi tersenyum manis pada Jongin

"Aaah… semua yang aku dan Sehun butuhkan sudah aku serahkan pada pelayanku…" jawab Jongin enteng dan sukses dihadiahi pandangan kesal dari Kyungsoo. Ya Kyungsoo memang agak tidak suka dengan sikap Jongin yang suka semena – mena terhadap pelayan setianya itu.

10 September 2013
London, England

Lay dan Xiumin sedang berada di sebuah mantion cukup besar yang biasanya disewakan pada orang – orang yang ingin berlibur di London dalam waktu yang lama atau bekerja di London dalam waktu yang tidak lama. Biasanya mantion itu disewa oleh kaum – kaum konglomerat saja. Dan mantion itulah tempat Lay bekerja sekarang. Lay bekerja sebagai manager mantion, dia akan mengurus segala kebutuhan mantion dan siapapun yang tinggal di mantion itu.

"Jie jie, apa seseorang akan menyewa mantion ini?" tanya Xiumin setelah gadis itu selesai membantu Lay merapikan ruang tengah mantion itu.

"Iya, katanya dia pengusaha muda." Lay menjawab dengan bahasa isyarat tangan yang sudah diketahui Xiumin secara fasih.

Ya. Yixing yang kini sudah berganti nama jadi Lay adalah seorang gadis bisu. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya waktu itu ternyata merusak pita suara Lay hingga Lay kini tidak lagi dapat berbicara. Dan Kris benar – benar sangat menyesal akan hal itu.

"Aaah… jadi yang akan menghuni mantion ini akan bekerja di London" gumam Xiumin seraya mengikuti Lay menuju dapur

"Benar, kabarnya dia akan datang bersama sepupunya" ucap Lay dengan tangannya lagi.

"Oh, jika ada dua orang yang akan tinggal di sini kenapa hanya satu kamar saja yang dirapikan?" Xiumin menautkan alisnya

"Itu karena adik si pengusaha muda itu harus kuliah di Edinburgh"

"Wah… itu artinya aku akan satu kampus dengan adik si penyewa mantion ini ya"

Lay mengangguk untuk jawabannya.

"Apakah yang menyewa mantion ini adalah orang Amerika lagi?" tanya Xiumin yang nampak masih asik dengan posisi duduknya di sofa kamar yang nyaman.

"Bukan, kebetulan yang menyewa mantion ini adalah orang Korea"

"Ayo cepat kita ke stasiun sebelum kau ketinggalan kereta untuk kembali ke Edinburgh" Lay tersenyum manis hingga memperlihatkan dimplenya yang manis.

"Baiklah jie…" Xiumin menggendong tas ranselnya kemudian menyusul Lay.

.

Tibalah mereka di sebuah stasiun kereta bawah tanah yang berada di jantung kota London. Banyak orang berlalu lalang di sekitaran platform guna menuju gerbong mereka masing – masing.

Lay dan Xiumin masih berjalan dengan santai dan tenang menuju ke platform 7 tempat dimana Xiumin harus naik.

PUK

Lay menepuk bahu Xiumin dan gadis bermata bulat itu langsung melirik kakaknya.

"Kuliah yang baik, jangan menyusahkan keluarga Do, jaga kesehatanmu dan berhati – hatilah" pesan Lay begitu mereka sampai di platform 7.

"Iya jie, aku akan kuliah dengan baik, tidak akan menyusahkan keluarga Do, selalu menjaga kesehatanku dan selalu berhati – hati" kata Xiumin kemudian memeluk Lay dengan erat.

"Makan yang banyak, kau nampak sangat kurus sekarang" saran Lay seraya mengusap pipi chubby Xiumin.

"Jie jie… jika aku chubby terus maka aku tidak akan pernah mendapat pacar.. apalagi sekarang aku sudah mahasiswa" gerutu Xiumin.

"Okay kalau begitu segeralah masuk dan istirahat di kereta. Kirim pesan padaku jika kau sudah sampai" Lay kembali tersenyum

"Okay jie, oh ya… jie jie kan cantik, hati – hati ya… nanti pengusaha tampan itu naksir jie jie loh.." bisik Xiumin yang dihadiahi tepukan pelan di bahunya oleh Lay.

Tak lama setelah pelukan singkat akhirnya Xiumin masuk ke dalam gerbongnya dan Lay pun beranjak dari ruang tunggu di platform itu.

.

"Aku percaya padamu. Misi ini adalah misi yang sangat rahasia. Aku tidak mau kau lengah sedikitpun. Arraseo?!"

Seorang namja tampan dengan tinggi sedang berbisik kepada namja di sampingnya.

Namja tampan itu menggunakan kaca mata hitam, terlihat misterius denggan blazer coklat kebesarannya.

"Tenang saja hyung, kau bisa mengandalkan aku dalam misi ini. Apa kau lupa? Aku adalah putra tunggal Kim Himchan, ketua kelompol Mafia terbesar dan terbaik se Korea selatan" kata namja satunya yang berdandan lebih kasual dengan tas ranselnya.

"Baiklah, kau harus menemukan seorang namja bernama Park Chanyeol di Edinburgh… Yongguk bilang Chanyeol ada di Edinburgh selama ini. Kau juga harus waspadai orang – orang yang dekat dengan Chanyeol." Gumam namja berkaca mata itu lagi.

"Tenang saja Suho hyung, aku pasti akan bekerja sangat baik dan rapi dalam hal ini" ucap si anak itu dengan santai.

"Baiklah, Kim Jongdae, aku percaya padamu. Dan aku akan ada di London selama kau melakukan investigasi." Ucap Suho mantap kemudian meninggalkan Jongdae yang langsung masuk ke dalam gerbong keretanya di platform 7.

.

Lay berjalan cukup pelan menuju mobil yang terparkir di halaman parkir stasiun. Gadis manis itu tak sengaja melihat seorang nenek yang duduk di kursi roda seperti ingin menggapai sebuah tas kecil yang terjatuh di hadapannya. Lay langsung sigap membantu nenek itu.

Sementara tepat di seberang jalan, Suho sedang berdiri menunggu lampu perlintasan berwarna hijau untuk pejalan kaki. Namja tampan dan kaya itu nampak ingin menyebrang menuju ke parkiran yang sama dengan Lay. Kedua tangannya dia selipkan di saku blazernya. Nampak aneh memang, seseorang menggunakan blazer di akhir musim panas, tapi flu yang Suho derita membuatnya harus menggunakan blazer itu.

Suho masih setia menunggu, matanya yang discover oleh kacamata hitam terus mengedar, melihat pemandangan kota London yang jarang dia sambangi. Awalnya dia merasa biasa saja dan sangat tenang. Namun jantungnya langsung seperti berhenti berdetak ketika dia melihat sesosok perempuan manis berambut panjang sedang mendorong kursi roda seorang nenek.

Sekujur tubuh Suho tiba – tiba membeku. Dilepasnya kaca mata hitam yang dia kenakan dan meyakinkan dirinya sendiri, siapa yang dia lihat kali ini.

"Yixing-ah…" gumam Suho pelan.

Lampu pejalan kaki sudah berubah hijau. Suho langsung mencoba berlari, namun apa daya, kerumunan yang cukup sesak sore itu membuatnya susah untuk bergerak.

Dilihatnya punggung si yeoja manis mulai menjauh, dan Suho semakin kencang mencoba berlari. Hingga diberanikannya berteriak.

"YIXING-AH! ZHANG YIXING!"

Lay langsung berbalik menuju sumber suara, walaupun dia bisu namun indra pendengarannya cukup tajam, dia mampu mengenal suara yang memanggilnya. Dilihatnya kini Suho tengah berjuang melintasi lautan manusia menuju kearahnya.

Dengan sekuat tenaga Lay langsung mendorong kursi roda si nenek yang dia tolong tadi dengan cepat dan bersembunyi di sebuah toko buku tengah stasiun.

"Aku melihatmu! Bagaimana kau bisa ada disini? Kenapa hatiku begitu sakit melihatmu? Kenapa aku tak bisa melupakanmu... Suho-ah..." gumam Lay dalam benaknya.

Jujur saja, dia sangat yakin itu Suho. Suho tidak berubah sedikitpun. Tanpa terasa Lay menjatuhkan air matanya kemudian jatuh terduduk di dekat kursi roda sang nenek yang dia tolong tadi.

"Miss.. are you okay?" tanya nenek itu pada Lay, nenek itu nampak cemas dan Lay langsung menghapus air matanya untuk tersenyum.

Sementara itu Suho kehilangan jejak Lay. Namja itu seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Diedarkannya terus pandangan tajam matanya mencari sosok yang amat sangat dia rindukan itu. Namun, tak setitikpun memberinya petunjuk.

"Apa yang aku lihat tadi benar - benar kau Yixing? Apa itu kau? Apa aku tidak bermimpi? Aku merindukanmu Yixing..." air mata Suho menetes seiring dengan rasa sakit di hatinya yang kembali mencuat. Rindu. Suho begitu merindukan Yixing, cinta pertama yang sampai saat ini masih dicintainya.

.

BRUGH!

"Ouch…. Hey are you insane?" Jongdae langsung kesal ketika seseorang berlari menabraknya hingga tersungkur di dalam gerbong kereta.

"Sorry" kata orang itu tanpa sama sekali peduli akan Jongdae.

"Are you okay?" seorang gadis chinesse berpipi chubby mengulurkan tangannya pada Jongdae. Gadis itu nampak khawatir, namun raut khawatirnya sangat manis.

"I'm fine…" ucap Jongdae kemudian melihat angka diatas kursi si gadis chubby itu.

"Oh… this is my sit" kata Jongdae segera.

"Anyeonghaseo…" kata gadis itu

"Oh… kau bisa bahasa Korea?" tanya Jongdae kaget.

"Tentu saja. Walaupun aku orang cina tapi semua sahabatku orang Korea. Xiumin. Zhang Xiumin" gadis itu mengulurkan tangannya pada Jongdae.

""Anyeong! Namaku Kim Jongdae... aku siswa pindahan dari Korea... nice to meet you!" Jongdae menyambut tangan Xiumin.

"Pindahan?" tanya Xiumin bingung

"Mmm… sebelumnya aku diterima di Universitas Seoul. Tapi karena urusan keluarga jadinya orang tuaku memindahkanku ke Edinburgh di tahun pertama." Ucap Jongdae santai.

"Oh kau kuliah? Di mana?" tanya Xiumin antusias

"Aku akan berkuliah di Jurusan Manajemen Bisnis di The University of Edinburgh" kata Jongdae bangga

"Daebak! Kalau begitu kita pasti akan bertemu lagi. Aku dan sahabat – sahabatku juga kuliah di sana. Nanti kau akan aku kenalkan pada Kyungsoo, Jongin, Sehun dan Luhan… mereka semua orang Korea, kecuali Luhan, dia blasteran" sambut Xiumin bahagia.

Ditengah perjalanan, Xiumin dan Jongdae selalu saling mengobrol menceritakan tentang pengalaman masing – masing. Dan keduanya nampak cepat akrab.

10 September 2013
Beijing, China

Suasana makan malam di meja makan besar keluarga Wu sangat mencekam. Di meja makan kini hanya ada Zitao dan Kris yang duduk bersedampingan serta Heechul yang duduk tepat di hadapan Zitao. Mereka bertiga sedang menunggu kehadiran Hangeng dan juga ibu kandung Sehun.

Zitao merasa gugup hanya memainkan tangannya di bawah meja, berharap kegugupannya tak kentara di mata Heechul. Jujur saja, tatapan mata sadis dan dingin milik Heechul sama persis dengan milik Kris yang duduk di sebelahnya.

"Selamat malam" ucap seorang yeoja manis di usianya yang sudah lanjut.

"Selamat malam" sambut Zitao riang, namuan Heechul dan Kris hanya acuh. Zitao mendapat death glare dari mertuanya langsung menunduk dan kembali ke kegugupannya semula.

Hangeng duduk dengan kursi rodanya diujung meja, di sebelah kiri Hangeng ada Xianhua, ibu Sehun. Dan disebelah kanannya ada Kris.

"Senang bisa makan bersama sekeluarga seperti ini." Ucap Hangeng memulai pembicaraan.

Zitao hanya melirik Kris tanpa berani memberi tanggapan apapun.

"Selamat datang aku ucapkan pada menantuku yang manis, Huang Zitao" ucap Hangeng lagi bersamaan dengan dihidangkannya appetizer.

"Xie xie Presdir Wu" ucap Zitao ramah

"Mmm? Presdir? Rasanya janggal jika yang memanggilku Presdir adalah menantuku sendiri, panggil aku papa nak… papa.." ucap Hangeng lagi.

Zitao sedikit melirik Kris, namun yang dilirik sama sekali tak memperdulikan Zitao, Kris malah asik memperhatikan salad di hadapannya.

"Ah… iya,.. Papa.." jawab Zitao akhirnya tersenyum canggung.

"Makan malam ini khusus untuk menyambutmu Zitao, ini adalah makan malam pertama kita sebagai keluarga" gantian Heechul yang memaksakan diri terlihat ramah.

Zitao hanya membungkuk dan tersenyum.

"Ayo dimakan saladnya, Xianhua yang menyiapkan hidangan makan malam kali ini" Hangeng tersenyum bangga dan diangguki oleh perempuan manis di samping kiri Hangeng.

"Kris, apa kau yakin kau dan Zitao akan tinggal di Korea?" tanya Hangeng pada putra sulungnya

Kris yang sedari tadi sibuk bermain dengan saladnya langsung menatap tajam Hangeng yang tersenyum lembut padanya.

"Berhubung WH company yang baru dibangun adalah tanggung jawabku, maka aku akan memperhatikannya secara langsung." Ucap Kris santai.

"Baiklah, aku akan menelpon orang agar menyiapkan sebuah mantion untuk kalian tinggal, dan juga pelayannya" ucap Hangeng lagi

"Tidak pa… tidak usah, aku dan Zitao akan tinggal di WH Hotel yang akan kita resmikan minggu depan. Itu akan lebih nyaman, terlebih lagi itu adalah hotel kami" kata Kris lagi.

"Aku sarankan agar WH company segera digabungkan dalam saham Sinopec Group. Bagaimanapun juga WH company adalah bagian dari perusahaan keluarga kita" ucap Heechul tenang

"Tidak ma, WH company akan tetap berdiri sendiri dan mandiri menjadi WH company, jangan menggabungkannya dengan Sinopec Group" ucap Kris tegas

"KRIS!" Heechul memperdalam suaranya.

"Sudah… sudah… biar saja, Kris dan Zitao pasti ingin merintis masa depan perusahaan mereka sendiri." Hangeng menengahi.

Sementara Zitao hanya berani memakan saladnya dengan damai tanpa mampu memberikan pendapat apapun, toh dia tidak akan mengerti.

Hening. Suasana makan malam ini tak sehangat suasana makan malam keluarga yang sering Zitao rasakan di rumahnya dulu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar hingga makanan utama terhidang di meja mereka. Sup matahari dengan kentang, wortel dan jagung manis di dalamnya.

"Melihat sup ini… aku jadi ingat anak bungsuku, Shixun." Ucap Hangeng santai

Sementara raut wajah Heechul, Kris dan Xianhua langsung ketakutan.

"Anak itu sudah 8 tahun di Amerika, tak sekalipun dia mau pulang atau sekedar menelponku, aku khawatir sesuatu terjadi padanya." Gumam Hangeng lagi

"Shixun baik – baik saja.." gumam Heechul kemudian

"Kris, kau adalah orang yang paling Shixun percaya di keluarga ini. Papa mohon sekali saja bujuk dia untuk pulang dan menemui papa, papa merindukan adikmu" kata Hangeng seraya menatap putra sulungnya penuh harap

Wajah Kris memerah, wajah Kris nampak tenang, namun Zitao seperti mampu menangkap kegugupan dari sinar mata Kris.

"Gege… Shixun sudah dewasa, tahun depan bahkan dia berusia 20 tahun… dia pasti akan pulang jika dia sudah menyelesaikan semua pendidikannya" ucap Xianhua menenangkan Hangeng

"Tapi yang membuatku aneh, Shixun sama sekali tidak pernah memberi kabar apapun padaku, apakah dia pergi karena dia marah padaku?" sesal Hangeng

"Tidak ada yang seperti itu ge" Xianhua menggenggam tangan Hangeng kemudian

Heechul yang melihat betapa dekat suaminya dengan istri keduanya itu mulai cemburu. Pandangan tidak suka terlontar dari sinar matanya, sementara Kris nampak kosong. Pikirannya seperti tidak sedang bersama dengan raganya saat ini.

Zitao seperti sedang berada dalam kerumunan yang menyulitkan dirinya untuk bergerak. Disatu sisi dia ingin bertanya ada apa pada suaminya, namun di sisi lain dia terlalu takut untuk mengutarakan pikirannya.

12 September 2013
Edinburgh, Scotlandia

Luhan, gadis manis namun tomboy, putri tunggal Presiden Republik Rakyat Cina yang kini diasingkan oleh ayahnya sendiri di kota bernama Edinburgh harus rela melalui hidupnya dengan segala kesederhanaan yang bertolak belakang dengan kemewahan yang dia dapatkan di Cina. Selama entah sampai kapan, Luhan harus bisa membiasakan diri hidup mandiri dan penuh kesederhanaan seperti ini.

Luhan yang biasanya kemana – mana ngebut bersama mobil sportnya kini harus rela mengayuh sebuah sepeda gunung menuju ke kampusnya. Dengan berat hati dan makian – makian kecil Luhan mengayuh dengan enggan. Wajahnya tertekuk dan bibirnya dipoutkan lucu.

"Woah… apa tadi pagi sudah terjadi sebuah bencana alam?"

Sebuah suara menghampiri Luhan. Dengan sigap Luhan menoleh ke sumber suara dan, dadanya berdegup kencang. Itu Sehun. Sehun sedang mengayuh sepedanya beriringan di sebelah Luhan.

Senyum kegugupan menggantikan bibir Luhan yang terpout barusan.

"Sehun-ah… kau juga.. naik sepeda?" tanya Luhan kini senyumnya merekah

"Mmm.. aku memang terbiasa naik sepeda dari rumahku kemanapun" jawab Sehun santai.

"Wah kalau begitu aku bisa berangkat denganmu setiap hari ke kampus" ucap Luhan senang. Sehun kemudian menoleh kearah Luhan yang raut wajahnya cepat sekali berubah

"Tadi kau cemberut, sekarang kau malah tersenyum" ledek Sehun dengan senyum datarnya

"Ani.. tadi aku hanya kesal karena harus berangkat sendiri, aku tidak suka sendiri, makanya sekarang aku senang karena ada kau" ujar Luhan mantap

"Aku juga senang kalau begitu, biasanya tak satupun mau bersepeda denganku. Kai, dia punya supir pribadi. Kyungsoo dan Xiumin, mereka diantar Yesung ajhusi kemana – mana"

"Tenanglah, mulai sekarang ada aku yang bersepeda bersamamu" ucap Luhan begitu bahagia.

Luhan seperti bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Ya… Luhan sendiri masih tidak yakin apakah Sehun yang ada di hadapannya ini adalah cinta pertamanya yang dulu menghilang. Namun hati kecilnya berkata, namja yang bersepeda di sebelahnya ini adalah Shixun.

Walaupun kenyataannya Sehun memang benar – benar Shixun, tapi Luhan masih tidak mau gegabah, bagi Luhan belum ada bukti yang kuat jika Sehun dan Shixun adalah orang yang sama.

"Ini aneh, tak biasanya aku bisa cepat dekat dengan orang asing" gumam Sehun kemudian

"Meolla… tapi… aku merasa kita bukan orang asing, aku seperti sudah mengenalmu sejak lama, Sehun-ah" ucap Luhan kemudian

"Apa aku mengingatkanmu pada seseorang?" tanya Sehun santai

Luhan tersentak kaget. Bagaimana Sehun bisa tau, mata rusa itu membulat sempurna dan itu membuat Luhan terlihat sangat lucu.

"Ahahahaha… wajahmu lucu sekali Luhan…ahahaha…" Sehun malah tertawa

"Hei.. Sehun-ah.. aku serius.. kau memang mirip seseorang di masalaluku" ucap Luhan sedikit kecewa dengan reaksi Sehun.

"Baiklah… aku tidak akan mentertawaimu lagi" gumam Sehun kemudian.

"Hei Luhan! Ayo kita balapan sampai ke kampus. Jika aku menang, kau akan aku traktir Bubble tea, tapi jika kau kalah… kau harus menceritakan padaku tentang orang yang ada di masa lalumu… eotte?" tantang Sehun dengan senyum evilnya.

"Baik! Aku tidak takut!" Luhan menyanggupi tantangan itu.

.

The University Of Edinburgh

Kampus sudah ramai. Jongin sedang menatap tablet PCnya untuk mengecek pengumuman pembagian kelas untuk jurusannya. Dan senyum di wajahnya menjelaskan betapa bahagianya Jongin ketika mendapati seluruh nama sahabatnya ada dalam satu kelas bersamanya.

"Kim Minseok, Park Sehun, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Xi Luhan… okay… kita sekelas rupanya.. hahaha… oh tunggu, ada yang aneh… Kim Jongdae? Nuguji? Jongdae?" gerutu Jongin pada tablet PC kesayangannya.

"Waah… ada anak asia lain rupanya di sini. Kim Jongdae? Namanya hampir mirip denganku… sama – sama bermarga Kim dan… berawal nama Jong…" Jongin masih menggerutu.

PUK!

"Akh…"

Sesuatu seperti menepuk kepala Jongin dengan lembut. Jongin cukup kesal, dan jika pelakunya adalah Sehun maka bisa dipastikan namja albino itu tidak akan selamat. Namun alangkah kagetnya Jongin ketika pelaku penepukan itu adalah, seorang gadis bermata bulat beserta senyum berbentuk hatinya yang merekah di hadapannya.

"Kyungsoo-ah… appo.." gumam Jongin dengan suara lembut

"Mianhae… habisnya kau kupanggil sama sekali tidak merespon sih" gerutu Kyungsoo kemudian duduk di sebelah Jongin.

"Mian… aku melihat daftar kelas kita dan tak disangka kita semua satu kelas" ucap Jongin beserta senyum girangnya.

"Luhan juga?"

"Iya Luhan juga Kyung…"

"Tapi yang membuatku kaget adalah nama ini, lihat… Kim Jongdae… mirip namaku kan?"

"Aaah… Jongdae, dia adalah teman baru Xiumin, kemarin dia bertemu dengan Jongdae di kereta saat perjalanan kembali dari London. Sekarang Xiumin sedang mengantarkan Jongdae untuk mengurus berkas kebagian tata usaha" jelas Kyungsoo

"Wah… Xiumin memang hebat, dia selalu bisa menemukan sahabat baru untuk kita" puji Jongin masih dengan senyum manisnya yang beradu dengan senyum imut Kyungsoo.

"Oh iya… ini… kau pasti belum sarapan" Kyungsoo menyodorkan kotak bekal berisi sandwich tuna kesukaan Jongin

"Oooh… eottoke arra?" Jongin tak percaya

"Ini hari pertama kuliah, aku hapal betul kebiasaanmu jika sudah di hari pertama, kau pasti akan meninggalkan sarapanmu" ucap Kyungsoo imut.

"Gomawo Kyungie" Jongin langsung merasa sangat bahagia, seketika sakit hatinya yang beberapa waktu lalu dia rasakan sudah menghilang entah kemana.

.

Ckiiiit

"AKU MENANG!" Sehun berteriak dengan lantang di tempat parkir khusus sepeda di areal kampus mereka.

Hosh hosh

Gadis imut bernama Luhan itu masih mengatur napasnya yang tak biasa diajak balapan seperti ini.

"Wah… Kau… memang benar – benar hebat… aku kalah" ucap Luhan terbata.

"Tenangkan dirimu, kau terlihat begitu lelah… ahahahaha" Sehun mentertawai Luhan dengan penuh hikmat.

Dari kejauhan Kyungsoo dan Jongin yang sedang asik makan sandwich dapat melihat Sehun dan Luhan di parkiran. Luhan nampak kehabisan napas sedangkan Sehun tertawa bahagia.

"Aneh… Sehun biasanya tidak mudah dekat dengan orang baru, tapi kenapa dengan Luhan dia jadi terlihat akrab ya" Kyungsoo mengamati Sehun dan Luhan dari posisinya duduk.

Sontak kebahagiaan Jongin memakan sandwich super lezat itu menguap bersama cuaca panas pagi itu. Jongin menangkap jika Kyungsoo kali ini sedang cemburu pada Sehun.

"Ahahahaha… mungkin kebetulan saja begitu, Sehun mungkin sudah lebih terbuka sekarang" ucap Jongin salah tingkah, dia berniat menenangkan Kyungsoo agar gadis itu tidak cemburu pada Sehun. Semenjak itulah Jongin merasa bahwa Kyungsoo menyukai Sehun seperti Sehun juga menyukai Kyungsoo.

"Hei… kalian sedang apa berduaan di sini?" Xiumin menghampiri Kyungsoo dan Jongin

"Aku sedang sarapan, kau tidak lihat eommaku membawakanku Sandwich kesukaanku?" sergah Jongin yang memang terbiasa memanggil Kyungsoo dengan sebutan eomma.

"SEHUN-AH… LUHANNIEEE!" Xiumin kemudian berteriak kearah Sehun dan Luhan yang masih saling tertawa di parkiran.

Mendengar nama mereka diteriakkan Sehun dan Luhan akhirnya melambaikan tangan dengan kemudian menuju karah Xiumin dimana terdapan Jongin, Kyungsoo dan seorang namja yang nampak mereka tak kenal.

"Kalian sudah berkumpul semua. Nah kenalkan, dia teman baru kita, orang Korea juga. Namanya Kim Jongdae!" ucap Xiumin ceria

"HAI JONGDAE" ucap semuanya bersamaan

"Jongdae-ah.. ini semua sahabatku. Yang bermata bulat imut ini, namanya Kyungsoo, tadi kau sudah bertemu dengannya kan?"

"Hai… Do Kyungsoo imnida" Kyungsoo melambaikan tangannya lalu tersenyum

"Nah.. kalau yang sedang makan dan berkulit gelap aneh itu namanya Kim Jongin, dia orang Korea tapi terlalu lama diam di perkebunan anggur di amerika makanya kulitnya gosong" jelas Xiumin panjang lebar

"Hai.. kita sama – sama Kim Jong, aku Jongin, kau boleh panggil aku Kai" sambut Jongin ramah.

"Lalu gadis tomboy yang manis di sebelah Jongin namanya Lu Han, dia orang Cina belasteran Korea dengan wajah imut"

"Annyeonghaseo… Luhan imnida" Luhan membungkuk ceria

"Nah yang terakhir, namja bermata sipit dengan kulit paling putih diantara kita. Namanya Park Sehun"

Jongdae sempat kaget mendengar marga Park diucapkan, maklum saja karena target utamanya adalah seorang namja bernama Park Chanyeol. Namun jika diperhatikan, dari foto Park Chanyeol yang pernah Jongdae lihat, sama sekali tidak ada kemiripan antara Chanyeol dan Sehun.

"Anyeonghaseo. Kim Jongdae imnida" kata Jongdae akhirnya.

"Oh ya, kalian sudah dengar belum jika acara penyambutan mahasiswa baru akan diadakan acara kemah 3 hari dan 2 malam?" kata Xiumin bahagia

"Wah benarkah?" sambut Jongin antusias.

"Mmm… aku dan Xiumin tau karena tadi kami sempat mendengar beberapa staff kampus membicarakan acara kemah untuk mahasiswa baru." Ucap Jongdae gantian

"Menarik. Kapan acaranya?" tanya Sehun

"Mungkin kita akan berangkat besok. Beritanya akan diposting segera." jawab Xiumin seperti berpikir.

12 September 2013
Seoul, Korea

Chanyeol masuk ke dalam ruang rapat bersama Donghae, hari ini memang sudah diputuskan untuk memperkenalkan Chanyeol di hadapan semua kolega bisnis Donghae yang selama ini sudah meraung – raung menanyakan dimana keberadaan putranya itu.

Chanyeol nampak gugup di balik setelan jas yang mempertampan dirinya itu. Bukan karena ini adalah pertama kalinya Chanyeol ikut rapat, Chanyeol merasa gugup karena dia tau, seseorang dari Hyundai corps akan datang mewakili rapat kali ini. Cahnyeol berdoa dalam hati. Berdoa semoga saja manusia itu bukan Suho.

"Anyeonghaseo, Park Chanyeol imnida" Chanyeol membungkuk di hadapan semua kolega bisnis Donghae

"Dialah Chanyeol, putra kebanggaanku. Dia sehat – sehat saja, baik – baik saja dan tampan bukan?" tanya Donghae pada seluruh koleganya.

"Dia memang yang paling tampan Hae-ah" gumam seseorang di ujung meja

"Aku mohon maaf jika selama ini aku belum pernah menunjukkan batang hidungku di perusahaan, tapi aku memang sedang belajar dan mempersiapkan diri untuk posisiku di perusahaan, jadi mohon pengertiannya untuk menungguku bergabung" ucap Chanyeol tegas dan menjanjikan.

Isi rapat keseluruhan hanya membincangkan masalah saham dan berkas bisnis yang akan mereka tanda tangani dengan perusahaan baru bernama WH company.

Chanyeol merasa lega karena wakil dari Hyundai Corps bukan Suho, melainkan sekretaris pribadi Suho yang datang.

Ketika rapat selesai, Donghae meminta Chanyeol untuk tetap tinggal dan bertemu dengan seseorang.

"Hyung… aku kira putrimu akan ikut pertemuan ini, kan sudah aku bilang Chanyeol akan datang" ucap Donghae menghampiri seorang namja yang tadi memuji ketampanan Chanyeol

"Ahhh… anak itu, sperti biasa, dia pasti akan kabur jika aku mengajaknya untuk ikut keacara macam ini" ujar Kangin kemudian menepuk bahu Donghae

"Chanyeol-ah… beri hormat pada ajhusi ini, dia adalah ayah dari calon istrimu" kata Donghae polos

Chanyeol membungkuk hormat kemudian disambut tawa renyah Kangin.

"Sayang sekali diva cantikku tidak bisa datang melihat Chanyeol" sesal Kangin lagi

"Gwaenchanayeo hyung… kan akhir pekan ini mereka direncanakan untuk bertemu" ujar Donghae santai

"Oh, appa, ajhusi, aku permisi dulu ne… ada yang harus aku cari untuk Sehun" Chanyeol sedikit berbisik pada appanya

"Baiklah, tapi ingat kita makan malam bersama di rumah nanti, okay?" putus Donghae

.

Chanyeol menyetir mobilnya sendiri kali ini. Dengan santai dia memasuki kawasan Hongdae, kawasan yang selalu menjadi tempat bergaulnya saat masih di bangku SMA dulu.

Chanyeol memarkir mobil yang cukup mewah itu di salah satu central parkir di Hongdae dan kaki jenjangnya dia bawa menuju ke sebuah toko yang menjual buku – buku fiksi.

Sehun memang sedikit aneh dengan hobinya mengoleksi buku – buku fiksi, bisa dibilang namja tampan itu menyukai hal – hal berbau dongeng. Dan setau Chanyeol, Sehun sangat menyukai cerita Peterpan, bahkan Sehun sendiri memiliki cita – cita yang sama dengan Peterpan, dia tidak ingin menjadi laki – laki dewasa, karena dengan menjadi dewasa artinya dia harus berperang melawan kakaknya sendiri.

Chanyeol menyusuri buku – buku bergendre fiksi, dari mulai fiki anak hingga fiksi ilmiah, dilihatnya beberapa buku bergambar dengan ilustrasi yang menyenangkan.

"Daehyun-ah… pokoknya kau harus mau bersandiwara di depan appaku dan orang yang akan dijodohkan padaku itu… katakan saja jika kau adalah kekasihku" seorang yeoja berwajah imut dengan eyeliner cukup tebal sedang memohon pada sesosok namja di hadapannya.

Chanyeol iseng mencuri dengar permohonan itu, terdengar lucu bagi Chanyeol karena si yeoja sedang memohon agar si namja bernama Daehyun itu mau berpura – pura sebagai kekasihnya.

"Tapi Baek, aku sudah memiliki Yongjae, aku tidak mau Jae salah paham nantinya, kau sendiri tau kan seberapa cemburuannya dia?" ujar Daehyun.

"Daehyun-ah jaebal… kali ini saja aku memohon padamu… aku janji, apapun permintaanmu akan aku tururti, tapi jaebal bantu aku, aku tidak mau di jodohkan" rengek yeoja yang tak lain dan tak bukan adalah Baekhyun.

Chanyeol menahan tawanya ketika mendengar rengekan si yeoja tadi.

"Pasti namja yang akan di jodohkan padanya adalah namja jelek, atau mungkin ajhusi ajhusi tua yang banyak istri… kasian sekali" Chanyeol meledek. Sayangnya Chanyeol tidak tau, jika orang yang baru saja dia ledek adalah dirinya sendiri.

"Daehyun-ah jaebal… aku tidak mau menikah semuda ini, bantu aku kali ini saja… katanya kau sahabatku.." Baekhyun masih tetap merengek dan Chanyeol masih setia menonton acara merengek gadis itu.

"Maafkan aku Baekiie,… tapi Jae adalah yeoja yang cemburuan, kau tau kan? Aku tidak mau Jaeku salah paham, apalagi aku dan Jae sedang dalam hubungan jarak jauh" gerutu Daehyun sambil terus mengamati beberapa buku di rak fiki ilmiah.

"Oh ya… nampaknya novelmu jadi best seller lagi untuk tahun ini" ucap Daehyun seraya mengambil sebuah novel cukup tebal bercover merah maroon dengan judul My Turn to Cry

"Apa gunanya punya novel best seller jika pada akhirnya aku akan berakhir di altar bersama namja yang entah siapa aku tak kenal, lalu aku harus menyerah dan merelakan mimpi dan talentaku demi menjadi seorang nyonya rumah tangga" gerutu Baekhyun tak bersemangat.

"Bukankah asik menjadi seorang istri pengusaha kaya raya? Kau akan jadi nyonya – nyonya sosialita dengan kehidupan jetset dan jadi orang terpandang" acu Daehyun dengan seringaiannya

"Tidak, aku tidak pernah menginginkan hidup sebagai nyonya sosialita seperti itu. Aku punya cita – cita dan duniaku sendiri. Tidak Daehyun-ah" gumam Baekhyun menatap sedih buku best sellernya.

"Kalau begitu kenapa kau tidak meminta calon suamimu itu untuk mengijinkanmu terus menulis?" Kali ini Chanyeol ikut nimbrung dan itu sukses membuat kaget Baekhyun dan Daehyun.

"Maaf, aku tak sengaja mendengar pembicaraan kalian" sanggah Chanyeol ketika mendapatkan tatapan mata sengit dari Baekhyun

"Gwaenchana.." Baekhyun berkata lemah.

"Oh ya, kenapa kau tidak meminta suamimu untuk mengizinkanmu tetap berkarya?" tanya Chanyeol lagi.

"Orang yang akan di jodohkan denganku tidak akan mungkin mengizinkanku untuk melakukannya" jawab Baekhyun singkat

"Wae?" Daehyun dan Chanyeol bertanya bersamaan.

"Kehidupan seorang istri chaebol tidaklah semudah kehidupan seorang istri biasa, kau harus menanggung banyak beban, kau harus mengikuti suamimu kemanapun, menuruti suami, melayani, membsarkan anak – anak. Semua kegiatan itu akan selalu mengurungku, dan mana ada chaebol yang mengizinkan istrinya bekerja" tantang Baekhyun.

"Sepertinya ada saja.." tukas Daehyun

"Diamlah Jung Daehyun! Kau bukan anak seorang Chaebol, appamu pengacara dan eommamu dokter. Mana tau kau penderitaan istri Chaebol seperti eommaku" gerutu Baekhyun

"Aku rasa eommamu bahagia saja" lanjut Daehyun lagi.

"Pokoknya aku tetap ingin jadi penulis" tegas Baekhyun.

"Jika kau yang dijodohkan denganku maka aku akan dengan senang hati mengizinkanmu untuk tetap menulis, authornim" ucap Chanyeol setelah lama hanya melihat Daehyun berdebat bersama Baekhyun

"Memangnya kau putra chaebol?" Daehyun kaget

"Ahahaha… walaupun appaku seorang pengusaha, tapi… sebutan chaebol agak risih di telingaku" jawab Chanyeol.

"Gomawo, tapi sayangnya aku sudah dijodohkan dengan namja lain… appa dan eommaku yang memutuskan" Baekhyun berkata sendu.

"Baiklah kalau begitu, karena aku masih harus mengecek novelku di toko buku yang lain…. Aku permisi dulu" ucap Baekhyun kemudian menggandeng Daehyun.

"Tunggu Agashi…" Chanyeol menghentikan langkah si penulis

"Karena mungkin saja ini akan menjadi novel terakhirmu karena kau harus menikah, maka… bolehkan aku mendapatkan tanda tanganmu di novel ini?" Chanyeol menyodorkan sebuah novel bercover maroon ke hadapan gadis manis bereyeliner itu.

"Tentu saja,… untuk siapa harus aku buat?" tanya Baekhyun

"Park Sehun." Ucap Chanyeol.

.

Park Recidence

Chanyeol menepati janjinya untuk ikut makan malam bersama dengan Donghae dan Eunhyuk di rumah mewah mereka. Begitu Chanyeol keluar dari mobilnya, seorang pelayan sudah menyambut Chanyeol.

"Tuan Muda, Nyonya dan Tuan Park sedang bersiap – siap, anda juga di mohon untuk bersiap – siap karena acara makan malamnya akan segera di mulai" ucap si pelayan

"Oh, bukannya ini hanya makan malam antara aku, eomma dan appa saja? Kenapa jadi formal?" tanya Chanyeol aneh

Si pelayan hanya bisa tersenyum namun Chanyeol sendiri tidak mengerti maksud senyuman itu. Tak mau ambil pusing, namja jangkung itu langsung menuju kamarnya dan mempersiapkan diri.

Tak sampai 30 menit, Chanyeol keluar dari kamar menggunakan setelan jass formal dan rambut yang tertata rapi. Tampan. Begitulah.

Chanyeol berjalan ke halaman belakang dimana acara makan malam akan di selenggarakan. Namun begitu sampai di halaman beakang, Chanyeol langsung mengerutkan keningnya.

"Eomma, appa… kenapa kalian berlebihan sekali sih? Ini kan hanya makan malam keluarga biasa… kenapa dekorasinya heboh begini? Lagian kan hanya ada kita bertiga di sini.." gerutu Chanyeol langsung duduk di satu – satunya kursi kosong.

"Apa kau lupa sekarang hari apa?" tanya Donghae yang baru saja menegak winenya

"Hari Kamis, tentu saja.." jawab Chanyeol santai

"Tanggal berapa?" serbu Eunhyuk

"12 September" jawab Chanyeol seraya melihat tanggal di arlojinya

"Apa kau ingat sesuatu mengenai tanggal 12 September?" tanya Eunhyuk lebih intense

"Entahlah… aku rasa 2NE1 baru saja comeback bulan Juli lalu" ucap Chanyeol santai kemudian menegak segelas air putih yang ada di hadapannya.

"YA! Park Chanyeol… hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan eomma dan appa! Kenapa yang kau pikirkan hanya 2NE1 saja sih?" Eunhyuk langsung membentak putranya.

Chanyeol yang berani bersumpah demi apapun di dunia ini bahwa dia benar – benar lupa jika hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya.

"Happy Anniversary eomma… Appa…" ucap Chanyeol dengan senyum konyolnya.

"Tidak… kau melupakannya" gumam Eunhyuk nampak kecewa.

"Sudahlah sayang, Chanyeol pasti benar – benar lupa… jangan ngambek ne" bujuk Donghae

"Ne eomma… aku benar – benar lupa, aku minta maaf eomma…" Chanyeol beraegyo agar eomma kesayangannya itu tidak marah lagi.

"Bahkan tadi sore Sehun menelpon eomma dan appa untuk mengucapkan Happy Anniversary untuk kami, kau sendiri yang anak kandung eomma malah lupa!" Eunhyuk kembali merajuk.

"Eomma mianhae… aku ada banyak pikiran akhir – akhir ini… mianhaeyeo eomma" Chanyeol memeluk Eunhyuk dengan manja, tak lama Eunhyuk membalas pelukan Chanyeol dan mengelus surai hitam putranya.

"Uri Channie kenapa banyak pikiran?" Eunhyuk nampak lupa jika tadi dia sedang ngambek pada Chanyeol, kini dia malah memandang putranya penasaran. Donghae yang tau betul tabiat sang istri hanya mampu tersenyum manis kemudian mengelus punggung tangan istri tercintanya.

Chanyeol kembali duduk di kursinya, makanan pembuka dihidangkan, ada Thai Chicken Salad di sana. Namun Eunhyuk masih saja memandang putranya penasaran.

"Chanie wangja nim… eommamu akan terus penasaran jika kau tidak memberitahunya tentang pikiranmu yang banyak itu" tegur Donghae ketika Chanyeol seakan lupa mengutarakan pikirannya dan malah sibuk dengan salad kesukaannya.

Chanyeol seketika terdiam setelah menelan saladnya, lalu langsung menatap tajam sang eomma. "Eomma, jujurlah padaku… apa eomma merasa bahagia menjadi istri seorang chaebol seperti appa?"

Pertanyaan Chanyeol yang begitu tiba – tiba membuat pasangan Eunhae kaget serempak. Eunhyuk memandang donghae sebentar, lalu menjawab.

"Tentu saja eomma bahagia, kan eomma sangat mencintai appamu Channie.."

"Geurae, eomma dan appa tidak menikah karena perjodohan… kalian berdua memang menikah karena saling mencintai" gumam Chanyeol

"Kenapa nak, apa kau keberatan dengan perjodohan ini?" tanya Donghae langsung

"Tidak appa, aku tidak merasa keberatan, sama sekali tidak… tapi yang menjadi pikiranku adalah…. Apa calon istriku juga merasa tidak keberatan dengan perjodohan ini?"

Chanyeol mentap kedua orang tuanya meminta jawaban, Eunhyuk langsung tersenyum dan berkata, "Tentu tidak Channie, Leeteuk eonni bilang anaknya sangat bahagia dengan perjodohan ini,"

"Apakah eomma dan appa yakin dia tidak keberatan?"

"Tentu saja" jawab Eunhyuk dan Donghae bersamaan

"Aku hanya tidak mau menikah jika calon istriku keberatan dengan pernikahan ini, aku tidak mau dia tersiksa… karena melakukan sesuatu jika terpaksa akan melukai perasaan, aku tidak mau melukai perasaan seseorang, apalagi orang itu sama sekali aku belum mengenalnya" ucap Chanyeol panjang lebar

"Aigoo… uri aegya hatinya begitu lembut… apakah hal ini yang membuatmu berpikir begitu keras hingga melupakan hari anniversary eomma dan appa?" Eunhyuk kembali mengelus punggung tangan Chanyeol. Dan namja tampan bertelinga peri itu hanya mengangguk pelan.

"Tadi sore, saat aku sedang berjalan – jalan di sebuah toko buku, aku bertemu dengan seorang agashi yang juga akan dijodohkan oleh orang tuanya. Agashi itu nampak sangat sedih, kecewa dan tidak suka dengan perjodohan itu. Dia bilang dia memiliki mimpi dan cita – cita yang berharga, dan jika dia menikah dengan orang yang dijodohkan dengannya, dia bilang dia akan kehilangan mimpi itu. Meskipun orang yang dijodohkan dengannya nampak cukup mapan, namun agashi itu bilang dia membenci kehidupan istri seorang pengusaha, dia masih ingin melanjutkan mimpinya"

Chanyeol akhirnya bercerita pada Eunhyuk dan Donghae. Pasangan itu mengangguk berbarengan dan nampak meyimak semua perkataan sang putra dengan seksama.

"Eomma… apa benar menjadi istri chaebol seperti appa sangat membosankan?" tanya Chanyeol lagi.

"Disatu sisi kadang eomma juga merasa bosan dengan kegiatan eomma, menemani appamu, melayani appamu, ikut kemanapun appamu pergi, mengikuti acara, kegiatan atau perkumpulan sesama istri chaebol dan begitu seterusnya… tapi itu eomma jalani dengan ikhlas, karena eomma mencintai appamu, secara tidak langsung, eomma juga mencintai kegiatan eomma ini, terlebih lagi saat eomma memilikimu Channie, hari – hari eomma jadi semakin berwarna, eomma bahkan merasa bersyukur karena eomma adalah istri appamu dan tidak perlu bekerja maka dari itu eomma bisa memantau perkembanganmu setiap hari."

Eunhyuk menjelaskan panjang lebar lagi. Chanyeol menyimak apa yang eommanya katakan, memang benar, eomma kesayangannya itu memang selalu ada bersamanya disaat susah, senang, saat dia sakit, saat dia dalam keadaan apapun sang eomma pasti ada.

Bahkan ketika Chanyeol harus ke amerika dan hidup di asrama, dia setiap hari pasti akan menelpon Eunhyuk hanya untuk sekedar menceritakan apa saja yang dia lakukan sepanjang hari itu. Kris yang dulu adalah roommate Chanyeol di asrama saat mereka kuliah di Amerika tentu tau betul bagaimana Chanyeol sering kelabakan di bulan – bulan pertama kehidupan dorm mereka karena namja itu terbiasa hidup dengan eommanya.

"Tapi… bolehkan istri seorang chaebol bekerja sesuai dengan cita – citanya?" Cahnyeol bertanya, kali ini mata bulat Chanyeol memandang sang appa.

"Kebanyakan memang melarang istrinya bekerja Channie, tapi itu semua kembali ke kesepakatan kalian, seorang chaebol tentu membutuhkan istrinya kapanpun di manapun. Jika istrimu bekerja nanti, apakah kau yakin dia bisa menemanimu hingga bepergian keluar negeri setiap saat? Apa kau mampu berjauhan dan mengurus dirimu sendiri saat kau bekerja di luar?" Donghae bertanya pada Chanyeol dengan wajah cukup serius.

"Tapi appa… cita – cita kan hak asasi manusia. Tentu calaon istriku berhak memiliki cita – cita" Chanyeol menegaskan

"Tentu saja nak, tentu saja… tapi ingat, kewajiban seorang istri adalah mendampingi suami dan hidup untuk keluarganya, itu yang utama" Donghae memperjelas.

"Tapi appa… apakah boleh nanti istriku bekerja sesuai dengan cita – citanya?" tanya Chanyeol memelas

Eunhyuk dan Donghae sempat bertukar pandang, tak lama keduanya tersenyum.

"Eomma dan Appa tidak akan memaksa istrimu harus diam di rumah dan mengikutimu seperti eomma, kalian berdualah yang harus menentukan sendiri bagaimana kalian akan menjalani kehidupan rumah tangga kalian berdua…" jawab Eunhyuk dengan pandangan lembut

"Oh ya, dua hari lagi kau akan bertemu dengan calon istrimu, mungkin saat itu bisa kau gunakan untuk membicarakan hal semacam ini dengannya" Donghae menyarankan.

"Okay appa… aku rasa aku akan membicarakannya nanti bersama dengan putri dari LG Group itu" putus Chanyeol.

.

The Byun Recidence

"Kau yakin kau akan kabur baek?"

Tanya seorang namja yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat sepermainan Baekhyun, siapa lagi jika bukan Daehyun.

"Aku tidak punya jalan lain Daehyun-ah… aku harus kabur demi menyelamatkan mimpiku" desis Baekhyun yang kini sedang mengemas barang – barangnya ke koper.

"Bukannya aku mau melarangmu, tapi coba dipikirkan lebih matang lagi, siapa tau saja kau menyukai calon suamimu, kau bahkan belum mengenalnya" cegah Daehyun

"Aku bahkan tidak tau namanya! Tapi itu lebih baik, jadi aku tak terbebani." Ketus Baekhyun

"Jadi, kau mau kabur kemana?" tanya Daehyun polos dan seketika Bakehyun menghentikan kegiatan mengepak barangnya.

"Aku…. Tidak tau…" bisik Bakehyun kemudian duduk di sisi ranjangnya.

"Kau tau, kau itu adalah sahabatku yang paling gila… Jae pernah bilang jika kau bisa melakukan apapun diluar nalar!" Daehyun berdecak sesaat setela menutup majalah yang dia baca di kamar baekhyun.

FYI. Baekhyun dan Daehyun adalah dua sahabat yang tak terpisah sejak mereka dilahirkan. Itu berkat kedua eomma mereka yang kebetulan juga bersahabat semenjak di bangku Senior High School. Itulah mengapa Baekhyun dan Daehyun memiliki nama yang hampir mirip, keduanya bahkan selalu dibilang seperti kembar. Memang benar, mereka sudah selayaknya kakak dan adik.

"Zelo sempat menawarkan aku sesuatu.." ucap baekhyun tertunduk. Zelo adalah sahabat baekhyun yang lain, sama – sama penulis, tentu saja.

"Apa?"

"Dia menawarkan aku untuk kabur ke rumah bibinya di Scotlandia."

"Kau menerimanya?"

Baekhyun mengangguk.

"Kau benar – benar gila Baek!" dengus Daehyun seperti tak habis pikir atas keputusan sahabatnya ini.

"Kau bahkan tidak mengenal siapa bibinya Zelo!" Daehyun sedikit membentak Baekhyun

"Zelo bilang dia adalah seorang guru Sekolah Dasar di sana, bibinya janda beranak satu, anaknya perempuan masih berusia 7 tahun, Zelo sudah bilang jika aku akan kabur ke sana, dan bibinya pun setuju. Di sana aku juga akan bergabung dengan club penulis yang didirikan oleh JK Rowling itu, dan belajar lebih banyak dari sana" Baekhyun mencoba menjelaskan panjang lebar.

"Lalu bagaimana bisa kau menopang hidupmu di sana?"

"Aku punya sedikit tabungan rahasia, aku rasa itu cukup untuk menopang hidupku selama beberapa bulan, lalu setelahnya aku akan mencari pekerjaan juga,… sudah lah,,, aku sudah memikirkannya"

"Kau gila Baek… gila!"

"Tentu saja, aku Byun Baekhyun,.. aku gila dan aku bangga akan kegilaan itu."

Edinburgh
13 September 2013

Kyungsoo, Jongin, Xiumin, Jongdae, Sehun dan Luhan sedang bersiap untuk mengikuti kemah dalam rangka kegiatan persahabatan mahasiswa baru. Masing – masing membawa tas backpacker yang besar dan padat, seperti sudah sangat siap dengan kegiatan ini.

Kegiatan kemah akan dilaksanakan di sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung Ben Nevis, gunung tertinggi di Scotlandia. Desa kecil itu bernama Fort William. Mengingat September adalah akhir musim panas, jadi udara dan cuaca bukanlah penghalang untuk kegiatan menyenangkan seperti camping ini.

Seluruh mahasiswa baru menggunakan kereta express untuk sampai ke Fort William, dan mereka memakan waktu sekitar 3 jam untuk sampai di sana dengan kereta.

Setelah sampai, seluruh panitia membagi beberapa kelompok sesuati dengan jurusan dan kelas mereka. Setiap kelompok terdiri dari enam orang, kebetulan sekali, semua member Asia tergabung dalam satu kelompok, Jongin, Kyungsoo, Jongdae, Xiumin, Sehun dan Luhan.

Seorang panitia yang juga Asia menghampiri kelompok Jongin dan kawan – kawan. Kyungsoo dan Xiumin mengenal yeoja ini sebagai pelanggan café keluarga Do, dia adalah Suzy. Gadis Cina yang merantau juga di Edinburgh, dua tingkat diatas mereka.

"Hai…aku Suzy, pendamping kelompok kalian… kalian adalah kelompok D" ucap Suzy dengan senyum bahagia.

"Jadi apa kalian sudah menentukan siapa Leader di kelompok ini?" tanya Suzy lagi

"Leader?" semuanya berbisik.

"Baiklah, kalau begitu aku menunjuk Jongdae! Kau Leader kelompok D kali ini!" ucap Suzy kemudian tersenyum dan keputusan itu ditanggapi bahagia oleh semuanya.

"Okay, jadi di sini ada tiga tenda, satu tenda di huni dua orang, tenda satu di huni Do Kyungsoo dan Zhang Xiumin, tenda dua dihuni Kim Jongdae dan Kim Jongin lalu tenda tiga dihuni oleh Park Sehun dan Lu Han"

"MWO?" Luhan dan Sehun berteriak bersama.

"Kenapa?" Suzy mengernyit

"Bagaimana bisa kami satu tenda?" Sehun memprotes

"Loh bukannya Park Sehun dan Lu Han sama – sama pria?" Suzy mengernyit lagi

"Oh My GOD! Aku PEREMPUAN!" Teriak si tomboy Luhan frustasi

"Tapi… di foto berkas registrasimu terlihat seperti seorang pria… bagaimana ini…" gumam Suzy bingung.

"Sudah lah… ini hanya perkara tidur satu tenda saja, tidak masalah" ucap Suzy menganggap ini enteng

"Tapi…"

"tidak ada tapi – tapian, jika ada yang bertukar tenda maka kelompok kalian dalam masalah!" ujar Suzy tegas kemudian pergi dari areal kelompok D.

"Kajja… kita ke areal tenda saja dulu" ajak Jongdae yang diangguki lesu oleh Hunhan

Sesampainya di areal tenda kelompok D, sudah terdapat 3 buah tenda kapasitas dua orang berdiri dengan kokoh dan saling bersebelahan. Di depannya sudah terdapat satu tenda yang rupanya adalah tenda dapur yang lengkap dengan peralatan masak dan juga bahan – bahan makanan.

"Jadi… Sehun dan Luhan akan tetap satu tenda?" Xiumin bertanya pada sang leader, Jongdae.

"Aku rasa begitu, karena tadi Liyin sunbae bilang tidak ada yang boleh protes" gumam Jongdae

"Gwaenchana… hanya dua malam saja kan kalian tidur dalam satu tenda, ini bukan perkara besar… ayolah" kata Jongin menepuk bahu Sehun

"Benar kata Jongin, ini hanya untuk dua hari, tidak masalah bukan?" Kyungsoo mendukung sahabat berkulit tannya

Sementara Luhan sendiri sebenarnya tidak keberatan, apalagi kita semua tau kan bagaimana perasaan Luhan terhadap Sehun yang dia anggap mirip dengan cinta pertamanya dulu.

"Baiklah,… jika kita tidak bisa menolaknya, maka kita nikmati saja… ayo Lu!" ucap Sehun yang segera menarik tangan Luhan menuju tenda.

Stelah itu baru Xiumin, Kyungsoo, Jongdae dan Jongin masuk ke tenda mereka masing – masing.

.

Pukul 5 sore semuanya berkumpul di dapur, Kyungsoo dan Xiumin sedang sibuk dengan masakannya, sementara Jongdae dan Jongin sibuk dengan gadget mereka, nampaknya Jongin telah menemukan sahabat gadgetnya kali ini, Luhan… karena gadis itu tak bisa memasak, jadilah dia dengan senang hati mencuci peralatan masak yang Xiumin dan Kyungsoo, sementara Sehun, namja berkulit putih pucat itu sibuk sendiri dengan kameranya.

"Oh ya Tuhan… lihat betapa akrabnya Jongdae dan Jongin itu…." Cibir Xiumin yang kesal karena kedua namja itu tidak mau membantu

"Jongin pasti senang sekarang dia memiliki sahabat yang sama – sama suka mengutak – atik gadget sepertinya" Kyungsoo berkata sambil tersenyum

Xiumin beralih ke arah Luhan yang sedang mencuci beberapa Teflon yang tadi digunakan Xiumin untuk menggoreng sosis isian sandwich. Namun mata Xiumin menangkap bagaimana Luhan dengan intense memperhatikan Sehun yang sedang asik dengan pemandangan disekitar Fort William.

"Ohoo… uri Luhannie memperhatikan Sehun terus" cetus Xiumin yang berhasil mengacaukan lamunan Luhan

"Ahahha.. ani.. Sehun juga tidak membantu kok, dia malah main saja dengan kameranya" ucap Luhan spontan

"Sehun memang suka fotografi, dia banyak sekali mengambil gambar yang bagus" dukung Kyungsoo

"Oh benarkah, Sehun suka foto?" Luhan tersentak kaget.

"Dia juga pintar menggambar" imbuh Xiumin.

"Shixun juga pandai menggambar dan suka mengambil foto" gumam Luhan dalam hati.

"Hai ibu – ibu… butuh bantuan?" Sehun yang dipikirkan Luhan tiba – tiba muncul di areal dapur.

"Untunglah kau datang, tapi ini sudah selesai, hanya makan malam simple…" Xiumin menjawab sambil memamerkan beberapa buah sandwich dengan ukuran super.

"Akh!" tiba – tiba Kyungsoo memekik keras karena tangannya terkena Teflon yang dia gunakan untuk menggoreng telur.

Jongin langsung berdiri tanpa peduli ipadnya terjatuh. Namun sayang, Sehun lebih cepat meraih jari Kyongsoo dan langsung menghisap telunjuknya yang terkena luka bakar.

Jongin dan Luhan yang melihat adegan itu hanya bisa menatap dengan tidak rela, terutama Jongin yang pada saat itu langsung meninggalkan areal tenda mereka tanpa sepatah kata apapun. Luhan sendiri entah kenapa dia merasa sakit di hatinya, seperti ada yang meremas jantungnya melihat bagaimana Sehun dengan sigap menghampiri Kyungsoo, seperti saat pertama Sehun menolong Kyungsoo dengan pecahan piring saat di café Do dulu.

.

"Dimana Jongin?" Kyungsoo bertanya pada Jongdae saat semuanya berkumpul untuk makan malam

"Oh… entahlah, tadi dia tiba – tiba pergi begitu saja" jawab Jongdae kemudian melahap sandiwchnya.

Kyungsoo bingung, dia langsung merasa khawatir dengan Jongin, napsu makannya langsung hilang seketika.

"Kau tidak makan soo?" tanya Sehun yang entah bagaimana bisa dia duduk di sebelah Kyungsoo dan berhadapan dengan Luhan

"Aku… menghawatirkan Jongin Hun-ah…" gumam Kyungsoo, Sehun menghentikan kegiatan makannya dan memperhatikan yeoja manis itu.

"Dia pasti baik – baik saja, Jongin kan memang suka bergaul… mungkin saja dia sedang menemui teman lain di tendanya" kata Sehun menenangkan

"mmm… semoga saja begitu.." desah kyungsoo nampak khawatir.

"Luka di tanganmu bagaimana? Apa sudah di obati?" tanya Sehun.

Sontak Kyungsoo langsung mengantongi tangan kanannya dan berkata, "aku baik – baik saja"

"Jinjja? Mana coba aku liat tanganmu" paksa Sehun

Uhuk … uhuk… uhuk…

Luhan langsung batuk, atau lebih tepatnya berpura – pura batuk karena dia sudah merasa sangat tidak nyaman dengan bagaimana Sehun memperhatikan Kyungsoo.

"Pelan – pelan makannya Luhaniie… apa kau begitu lapae eoh?" Xiumin menyodorkan segelas air minum pada Luhan

"Mian, tadi aku mau bicara sesuatu… tapi aku malah tersedak" Luhan bohong

"Sesuatu apa?" Jongdae yang bertanya

"Mmmm… aku jadi lupa kan apa yang mau aku bilang… hehehe.." ucap Luhan segera.

.

Setelah makan Luhan memutuskan untuk berkeliling areal kemah, siapa tau dia bisa menemukan angin sejuk dan melupakan kejadian yang tidak mengenakkan menurutnya tadi.

"Oh… Jongin-ah… kau di sini?" Luhan menghampiri Jongin yang sedang duduk di pinggir tebing.

"Kenapa tidak makan? Tadi Kyungsoo mencarimu lo…" ujar Luhan kemudian ikut duduk di sebelah Jongin

"Aku tidak ingin makan." Ketus Jongin

"Kenapa? Sandwich buatan Kyungsoo dan Xiumin sangat enak.

"Aku tau, aku sudah memakannya sejak usia 12 tahun..' ketus Jongin lagi

"Ya… kenapa kau jadi ketus begitu padaku," Luhan mempoutkan bibirnya lucu.

"Kau menyukai Sehun kan? Matamu berkata jelas..." Jongin berkata asal. Namun perkataan itu sukses membuat mata Luhan membulat dan kaget setengah mati.

"Asal kau tau, Sehun itu menyukai Kyungsoo!" Jongin melanjutkan

Luhan terdiam. Ini kedua kalinya Luhan melihat Jongin menjadi muram begini, setelah sebelumnya dia sempat mendengar curhat Jongin di apartemennya tempohari.

"Jadi gadis yang kau sukai itu Do Kyungsoo…" gumam Luhan seakan paham dengan alur cerita Jongin

"Gadis itu Kyungsoo.." balas Jongin

"Dan sahabatmu yang menyukainya dalah…" Luhan menggantung kalimatnya, tak kuasa untuk melanjutkan

"Park Sehun." Ucap Jongin singkat

"Aaa… jadi… Sehun menyukai Kyungsoo?" Luhan bertanya lagi, kali ini bukan untuk mendengar curhat Jongin, tapi dia bertanya untuk meyakinkan hatinya sendiri.

"Sehun menyukai Kyungsoo, bahkan dia sudah memberitahuku langsung." Kata Jongin dan akhirnya hati Luhan jadi lebih sakit lagi.

Luhan berjalan gontai ke areal tenda, terlihat sudah sepi karena ini juga sudah cukup malam.

"Oh… Luhan, kau dari mana?" Kyungsoo yang tiba – tiba keluar dari tendanya nampak kaget melihat Luhan

"Dari kamar mandi" Luhan berbohong, kemudian melanjutkan perjalanannya ke tenda yang dia tempati bersama Sehun.

Setelah menarik napas cukup dalam, akhirnya Luhan memberanikan diri untuk masuk ke tenda.

"Hai Lu!" Sehun melambaikan tangan dan tersenyum.

"Hai.." Luhan menjawab seadanya.

"Kau darimana?" tanya Sehun lagi

"Kamar mandi" lagi – lagi Luhan bohong

"Jongin sudah kembali belum ya.." gumam Sehun seraya mengecek ponselnya

"Sehun-ah... boleh aku bertanya sesuatu?" Luhan duduk menghadap Sehun. Dan Sehun nampak mengangguk antusias.

"Bagaimana tipa yeoja idealmu?" tanya Luhan

Sejenak hening, Sehun seperti sempat berpikir sebentar lalu menjawab,

"Aku menyukai yeoja yang lembut, halus, keibuan, pintar memasak, terampil, tenang, senyumnya manis dan baik hati... memangnya kenapa kau bertanya yeoja idamanku Lu?"

"Ani… hanya saja aku ingin bertanya," Luhan menghela napasnya

"Hei… pasti ada sesuatu, katakan!" Sehun menepuk bahu Luhan

"Tidak… aku rasa, tidak ada namja yang menyukai yeoja tomboy seperti aku, semuanya pasti suka yeoja yang keibuan." Gumam Luhan pelan tapi Sehun masih bisa mendengarnya.

"Tidak juga… pasti ada kok namja yang menyukai yeoja tomboy sepertimu! Kau harus yakin!" ujar Sehun semangat.

"Sehun-ah… Luhanie"

Terdengar suara Xiumin dari Luar. Sehun dan Luhan sempat saling pandang sebentar kemudian keduanya keluar.

"Ada apa Xiu-ah?" tanya Sehun

"Ani… aku hanya ingin memberi ini pada kalian" Xiumin menyerahkan sebotol lotion anti gatal pada Sehun

Xiumin menyipitkan matanya pada Sehun dan Luhan. Keduanya menggunakan hanya baju kaos biasa berwarna putih, yang membuat berbeda adalah baju kaos putih yang Sehun kenakan terdapat tulisan Pyrex di dada kirinya, sementara kaos putih yang Luhan kenakan terdapat tulisan Boy Who Cried Wolf di dadanya.

"Jangan menggunakan baju seperti itu, di sini banyak serangga" himbau Xiumin.

"Gomawo Xiu…" Luhan memeluk Xiumin dan gadis itu langsung berlari ke tenda sebelah untuk memberikan lotion yang sama untuk Jondae.

.

"Kau belum tidur Kyung?" tanya Xiumin saat dia kembali dari acara pembagian lotion anti gatal.

"Apa Jongin ada di tenda?" tanya Kyungsoo segera.

"Oh, baru saja Jongin datang saat aku kembali dari tenda mereka" ujar Xiumin.

Tanpa sepatah kata Kyungsoo langsung melesat dan berlari keluar dari tenda lengkap dengan satu paper bag yang sedari tadi dia pegang.

"Jongin-ah… Kim Jongin… kau di dalam?" Kyungsoo memanggil Jongin sedikit berbisik.

Sementara di dalam tenda Jongin hanya diam.

"Keluar lah… Kyungsoo dari tadi mencarimu" ujar Jongdae

"Nanti" ketus Jongin

"Hei.. kau ini kenapa sih… kasian Kyungsoo, tadi dia tidak makan hanya untuk menunggumu!" bentak Jongdae

"MWO?" Jongin kaget dan langsung keluar,

Didapatinya seorang gadis bermata bundar cemerlang berdri didepan tendanya, jelas terlihat raut kekhawatiran di mata yeoja itu.

"Darimana saja tadi? Kenapa tidak ikut makan malam?" Kyungsoo bertanya perlahan

"Aku hanya… berkeliling…" jawab Jongin

"Apa kau sudah makan?"

Jongin menggeleng.

"Ayo makan." Ajak Kyungsoo

"Apa kau juga belum makan?" tanya Jongin

"Aku menunggumu!" ucap Kyungsoo dengan sneyum teduhnya.

Sebersit rasa penyesalan mengena di hati Jongin. Bersalah, karena gara – gara dia Kyungsoo belum makan.

"Ini makanlah" Kyungsoo menyerahkan satu sandwich ke hadapan Jongin begitu mereka sampai di tenda dapur areal camping mereka.

"Tanganmu belum diobati? Ini kan yang terkena Teflon tadi" Jongin memekik langsung menarik tangan Kyungsoo

"Oh,.. jadi kau melihat kejadian tadi? Kenapa kau tidak menolongku" Kyungsoo menarik lagi tangannya

"Kan sudah ada Sehun yang membantumu" sinis Jongin

"Tapi aku berharap kau yang menolongku" ujar Kyungsoo

"Kenapa kau berharap aku yang menolongmu? Memangnya aku ini superman menolong semua orang?" Jongin terbawa emosinya

"Lagi pula ada Sehun yang menyukaimu, kau pasti juga menyukainya" Jongin berbicara tanpa alasan, dan itu membuat Kyungsoo bingung.

"Aku tau Sehun menyukaiku, tapi perihal aku menyukainya juga atau tidak itu urusanku, bukan urusanmu Jongin-ah!" Kyungsoo terlihat marah dan emosi karena gadis itu tak mengerti, bagaimana bisa Jongin selalu mengatakan dia menyukai Sehun sementara Kyungsoo sendiri sudah secara belak – belakan menunjukkan bahwa dia menyukai Jongin.

"Maaf…" desis Jongin setelah melahap habis sandwichnya.

"Tidak perlu!" ketus Kyungsoo.

Tak peduli dengan apa tanggapan Kyungsoo, Jongin kemudian berlutut di hadapan gadis yang sebenarnya dia cintai itu. Jongin merogoh sesuatu yang selalu dia bawa dalam sakunya. Plaster luka.

Segera jongin meraih tangan Kyungsoo yang terluka dan merekatkan plaster itu pada Kyungsoo. "Mianhae… maafkan aku…" katanya lagi.

"Lepas sepatumu!" perintah Kyungsoo tiba – tiba

Jongin segera mengerutkan keningnya, tidak mengerti kenapa gadis manis itu memintanya membuka sepatu.

"CEPAT!" Bentak Kyungsoo ketika tak ada respon dari Jongin.

Namun setelah bentakan itu Jongin langsung melepas sepatunya.

"Kau… kenapa tidak memakai kaos kaki lagi!?" tanya Kyungsoo sambil mempoutkan bibirnya

"Aku…"

"Tidak suka memakainya?"

Jongin mengangguk.

"Jika malam, disini akan sangat dingin, pakai ini" Kyungsoo mengeluarkan sepasang kaus kaki dari sebuah paper bag yang dia bawa.

"Gomawo…. Eomma…" lirih Jongin

"Aku suka kau memanggilku eomma" kata Kyungsoo lalu tersenyum.

London
13 September 2013

Yixing masih tak bisa tidur, dia masih mengingat kejadian yang dia alami tempohari, saat dimana dia benar – benar melihat Suho di depan matanya.

Kali ini gadis itu memang sedang berada di flat sederhananya, semenjak kejadian pertemuannya dengan Suho dia memang izin dari pekerjaannya, cuti selama seminggu untuk memulihkan keadaannya. Mental breakdown itulah yang gadis manis itu rasakan.

Yixing yang terjaga kini duduk di sebuah kursi meja makan kecil di dapur mininya. Dia melihat ke arah jam dinding. Pukul 1 pagi.

"Suho…" desah Yixing dalam hatinya.

"Sepertinya kau baik – baik saja… Masih tetap tampan seperti dulu…" batin Yixing lagi.

Diraihnya sebuah buku note yang biasa dia bawa kemana – mana. Sebuah foto langsung terpampang ketika Yixing menyibak note itu. Itu adalah fotonya berdua berama Suho. Foto yang sudah cukup usang namun menyimpan berjuta kenangan indah dalam hati Yixing.

"Aku mencintaimu, Kim Suho… Apa kau tau itu?"

.

Suho. Namja itu juga nampak tak bisa tertidur dikarenakan pemikirannya yang terus melayang pada bayang – bayang Yixing. Suho sedang terduduk di ruang tengah sebuah mansion yang dia sewa di London.

"Apa benar itu kau? Apa kau masih hidup?" Suho bergumam sendiri

"Maafkan aku yang telah menyakitimu dengan keegoisanku, Yixing-ah… Aku merindukanmu Yixing-ah… sangat merindukanmu…" Suho meneteskan airmatanya, meredam semua rasa rindu yang selama 8 tahun selalu bersarang di hatinya.

Sejak dia melihat bayangan Yixing, semangat hidupnya mulai terkumpul. Kepercayaan hati kecilnya yang selalu berkata bahwa Yixing masih hidup kini semakin kuat. Suho segera menggapai gagang telpon mansionnya untuk menelpon seseorang.

"Nona Zhang, tolong siapkan sebuah mobil untukku besok" perintah Suho

"Baik tuan" jawab seorang gadis yang telponnya tersambung dengan Suho.

Gadis itu adalah manager mansion yang bekerja bersama Yixing, biasanya mereka bekerja bersama selama 24 jam di mansion, namun karena Yixing sakit, maka Zhang Liyin harus bekerja sendirian seminggu ini.

"Aku akan mencarimu Yixing-ah" gumam Suho pelan setelah menutup telponnya.

.

Fort William Camping Areal

Sehun dan Luhan tidur dengan tidak begitu nyaman, mereka berdua basah dan berkeringat. Tidak seperti ramalan Kyungsoo, ternyata malam di Fort William begitu panas saat musim panas begini

Sehun akhirnya menyerah dengan panas, akhirnya dia melepas baju kaosnya dan bertelanjang dada, baru setelah itu dia bisa tidur lebih nyenyak. Sementara Luhan? Gadis itu juga kepanasan. Dan dalam tidurnya dia juga melepas kausnya dan hanya menyisakan kaus dalam yang menutupi bra hitam yang dia pakai.

.

Pagi harinya, Sehun dan Luhan belum juga terbangun, wajar saja, semalam mereka baru bisa tidur nyenyak diatas jam 1 pagi.

"Sehun-ah… Luhannie… Irreonaaaa…." Teriak Xiumin dari luar

"mmh…" Luhan menggeliat dan langsung terduduk, di sisi lainnya Sehun juga terduduk sambil mengucek matanya

"Jam berapa ini…" terdengar suara Sehun bertanya

"Jam 6 pagi…" desis Luhan melihat ponselnya. Luhan langsung berbalik melihat Sehun dan…

"KYAAAAAAAA!" Luhan berteriak. Sehun pun segera berbalik melihat Luhan dan "WOOAAAAAA…" namja itu ikut berteriak.

"SEHUN-AH.. LUHANIE… Apa kalian baik – baik saja?" tanya Xiumin segera ingin menerobos masuk.

"XIU-AH! JANGAN MASUK!" bentak Sehun, segera mengambil sebuah kaos putih di dekatnya.

"WAE? KALIAN KENAPA?" Teriak Xiumin lagi.

"POKOKNYA JANGAN MASUK DULU!" Pekik LUhan seraya mengenakan kaosnya asal – asalan.

Tak lama Sehun dan Luhan pun muncul dengan keadaan acak – acakan khas baru bangun tidur. Mereka langsung mendapati Xiumin yang mengerutkan keningnya kebingungan.

"Waeyeo Xiu-ah?" tanya Sehun sambil mengacak rambutnya sendiri.

"YA! Park Sehun! Xi Luhan... Kenapa baju kalian tertukar dan terbalik? Apa yang kalian lakukan di dalam tenda semalam?" pekik Xiumin dengan wajah super kaget.

Keduanya kemudian saling pandang. Benar sekali, Luhan menggunakan kaos Sehun dan Sehun menggunakan kaos Luhan semalam, diperparah langi dengan keadaan kaos mereka yang terbalik.

"Ah…. Ini… kami… tidak sengaja.. tertukar…" jawab Luhan menundukkan wajah merahnya

"Bagaimana bisa tertukar?" serang Xiumin

"Santai Xiu! Kemarin kami berdua kepanasan, mungkin tanpa sadar kami melepas kaos kami dan barusan saja tertukar." Gumam Sehun berusaha kalem.

"Benarkah begitu?"

"Iya Xiuminnie.. benar.." Luhan memastikan.

"Benar kan kalian tidak macam – macam?" Xiumin makin menatap tajam keduanya.

"Apa wajah ini terlihat berbohong?" Sehun langsung memasang wajah andalannya.

"Kalau begitu kalian cepat mandi dan sarapan, kegiatan akan di mulai pukul 9 nanti!" ucap Xiumin kemudian beralih ke tenda Jongin dan Jongdae. Sementara dari dapur Kyungsoo hanya tersenyum geli melihat bagaimana Sehun dan Luhan kembali menukar kaos mereka.

Seoul, Korea
14 September 2013

Baekhyun menghendap – hendap keluar dari rumah mewahnya menuju mobil pribadinya. Dengan sigap gadis manis itu memasukkan koper besarnya ke dalam bagasinya. Ini masih jam 3 pagi di Korea. Dan gadis itu nampak sibuk dengan rencana kaburnya hari ini.

Dia akan terbang ke Edinburgh sesuai dengan rencananya kemarin. Dan Daehyun sudah bersumpah demi hubungannya dengan Yongjae bahwa dia tidak akan membocorkan rahasia kaburnya gadis itu.

Setelah berhasil menyelundupkan kopernya gadis itu langsung masuk kembali ke kamarnya, berpura – pura tidur dengan nyenyak sebelum aksinya di mulai.

.

10 jam telah berlalu dari kegiatan Baekhyun menyembunyikan kopernya. Kini gadis itu tengah bermalas – malasan di halaman belakang rumahnya sebelum sore nanti harus bersiap untuk acara pertemuannya dengan putra pemilik CJ group.

"Baekkie sayang… kenapa ada di sini?" tanya Leeteuk yang baru saja duduk di bangku sebelah Baekhyun

"Oh Eomma… waseo? Bagaimana perjalanan kalian ke Jeju?" tanya Baekhyun dengan sneyum manisnya

"Seperti biasa, tapi agak melelahkan karena appamu harus meninjau lapangan dan eomma diminta ikut" ucap Leeteuk seraya menselonjorkan kakinya santai

"Oh ya, tumben kau santai di sini, biasanya kau selalu menatap laptopmu saja…" gerutu Leeteuk

"Percuma aku menatap laptopku eomma, sebentar lagi aku akan menikah dan meninggalkan dunia menulisku" ucap Baekhyun kalem

"Mianhae uri princess… eomma tidak bermaksud untuk menghancurkan mimpimu, tapi percayalah, ini yang terbaik untuk kita semua.." Leeteuk mengelus lembut surai kecoklatan putrinya.

"Ne eomma…" Baekhyun menyahut kalem, tapi dalam hatinya dia sudah tersenyum evil.

.

"Tuan Muda, ada telpon dari Edinburgh" ucap seorang pelayan paruh baya.

"Siapa? Sehun? Atau Miss Russel?" tanya Chanyeol sigap

"Bukan tuan tapi ini dari Tuan Myungsoo" jawab pelayan itu.

"Myungsoo?" Chanyeol mengernyit bingung.

"Baiklah, akan aku terima.." sambung Chanyol kemudian meraih gagang telepon di kamarnya.

"Ada apa L?" tanya Chanyeol segera

"Ini gawat Yeol… departemen pendidikan di Scotlandia akan mengadakan inspeksi ke sekolah musik kita lusa, dan ini akan sangat bermasalah jika pemilik sekolah ini tidak ada di tempat" ucap Myungsoo yang sering Chanyeol panggil L itu.

"Kan ada kau yang mewakiliku… Sabtu aku sudah pulang" balas Chanyeol

"Tidak yeol… tidak bisa, pihak departemen ingin langsung berurusan denganmu!" Ucap Myungsoo lagi

"Memangnya masalah apa sih?" tanya Chanyeol masih bingung

"Masalah perijinan dan akreditasi sekolah musik kita!" Myungsoo sedikit membentak

"Astaga… aku ada pertemuan penting sore ini.." desis Chanyeol

"Yeol Jaebal… sekolah ini adalah tempatku menggantungkan hidup, dimana lagi anak dan istriku akan aku carikan makan jika tidak di sekolah ini!" Myungsoo memelas

"Baiklah, hari ini juga aku akan terbang ke Edinburgh,… kau tenang saja." Chanyeol menutup telponnya.

Segera setelah itu Chanyeol segera menghubungi sekretarisnya untuk mencarikan tiket untuknya ke Edinburgh hari ini juga.

"Pak Lee, dimana eomma dan appaku?" tanya Chanyeol pada kepala pembantu di rumah itu

"Tuan dan Nyonya sedang ada pertemuan degan kolega dari Mesir" jawab pak Lee

"Tolong sampaikan pada mereka bahwa aku tidak bisa menghadiri acara pertemuan dengan putri pemilik LG group yang akan dijodohkan denganku itu, Sekolah musikku di Edinburgh sedang dalam keadaan bahaya" ucap Chanyeol seperti orang kesetanan.

"Baik Tuan, akan aku sampaikan." Pak lee membungkuk lalu pergi.

.

Chanyeol segera mengambil ranselnya, memasukkan semua gadget, paspor dan semua surat – surat penting yang dia butuhkan. Tak lupa dompet, MP3 player dan juga earphone.

Chanyeol segera mengganti pakaiannya menjadi lebih casual, dia menggunakan celana jeans hitam panjang, baju kaos putih, Hoodie tipis dan jaket jearsey LA Dodgers biru dan putih, snap back bertulisan Illegeal dan sepasang sepatu Kolon sport berwarna coklat dengan tali biru. Satu lagi, sebuah kacamata persegi.

"Beres." Ucapnya

Setelah itu Chanyeol langsung menuju ke lantai bawah dan meminta salah satu supir untuk langsung mengantarnya ke bandara dan mengurus tiketnya yang sudah dia pesan.

.

"Baekkie,… kau mau kemana?" Leeteuk melihat Baekhyun menggunakan baju casualnya, celana pendek coklat muda, kemeja bermotif kotak berwana hitam dan biru yang lengan panjangnya ia lipat, serta wedges 5 cm berwarna gading.

"Eomma mian, aku harus ke kantor Kyobo untuk memberikan surat pengunduran diriku." Ucap Baekhyun santai.

"Benar kau menyerah dengan mimpimu..?" Leeteuk kaget.

"Menyerah untuk sebuah kemenangan, mungkin" Seriangai Baekhyun

"Baiklah nak… kalau begitu kau harus pulang sebelum jam 5 sore untuk siap – siap acara nanti malam, okay?" Leeteuk memeluk Baekhyun

"Arraseo eomma" jawab gadis itu kalem.

Baekhyun segera masuk ke mobil pribadinya dan langsung melesat menuju kantor Kyobo. Memang, dia memang mengundurkan diri dari kantor itu, namun tidak untuk mengikuti perjodohan sialan menurutnya. Dia mengundurkan diri untuk pergi ke Edinburgh.

Setelah urusannya beres, Baekhyun langsung saja melesat ke Bandara.

.

"Yunho ajhusi!" Chanyeol menyapa seorang namja tampan dengan seragam pilotnya.

"Channie, kau di Korea?" tanya Yunho kaget.

"Ne… hampir seminggu, tapi aku harus segera kembali" Chanyeol mengedipkan matanya, dan Yunho langsung mengerti kemana anak itu pergi. Yunho adalah sahabat Donghae, dan Ya… Yunho tau, dialah yang sering menyelundupkan Chanyeol dan Sehun melalui penerbangannya. Yunho adalah seorang pilot senior Korean Air.

"Jangan bilang kau ikut penerbangan Edinburgh untuk pukul 4!" Yunho memastikan.

"Iya, aku ikut yang itu, Waeyeo ajhusi?" Chanyeol bertanya lagi

"Itu penerbanganku nak!" Yunho mengedipkan matanya lagi

"Oh ya, dimana Jae ajhuma? Tidak biasanya dia tidak mengantar ajhusi." Tanya Chanyeol

"Ah… Jae baru saja kembali, katanya nanti malam keluargamu ada acara makan malam di restoran kami" ucap Yunho

"Aaah… pertemuan perjodohanku…" Chanyeol mengaruk tengkuknya yang tak gatal

"Loh, kenapa yang dijodohkan malah di sini?" Yunho kaget

"Ada uruan penting Ajhusi,…." Desah Chanyeol

"Dasar anak nakal! Baiklah, Ajhusi harus segera bersiap, mau ikut ke kabin atau di ruang tunggu?"

"Aku menunggu saja.."

.

"Akhirnya sampai…. Uri boom boomie… maafkan eonni kau harus aku tinggal di bandara ne.. nanti appa pasti menjemputmu… mian.." Baekhyun berbicara pada mobil mininya.

"Ah sudah tidak ada waktu lagi, harus check in sekarang" Bakehyun segera berlari menuju tempat check in.

"Eoh… bukankah itu Baekhyun? Kenapa ada di bandara? Iya benar itu Baekhyun! Kenapa membawa koper? Bukankah… gadis itu harusnya ada acara perjodohan dengan Chanyeol?"

Seorang yeoja cantik memperhatikan Baekhyun yang berlari dari parkiran menuju ruang check in bandara.

"Siap janal Nyonya?" tanya sang supir.

"Tunggu, aku akan menelpon Leeteuk eonni dulu" kata nyonya itu.

Jaejong menempelkan ponselnya di telinga sebelah kiri, menunggu leeteuk menerima telpon tersebut.

"Oh! Eonni…. Apa Baekhyun ada di rumah?"

"Tidak… tadi Baekkie berpamitan untuk ke kantor Kyobo, ada apa Jae-ah?"

"Aniyeo eonni… tapi apakah baekhyun menggunakan celana pendenk coklat dan kemeja kotak kotak hitam dan biru?"

"Ne majja… waeyeo?"

"Berarti benar itu Baekhyun… eonni… aku melihat Baekhyun di bandara dan dia sedang menenteng koper sedang berwarna putih"

"MWO? JANGAN BERCANDA JAE-AH!"

"Tidak Eonni, makanya aku menelpon untuk memberi tau eonni!"

Tak ada jawaban namun telpon terputus.

.

"SEKRETARIS KANG! DIMANA SEKRETARIS KANG!" Leeteuk berteriak histeris.

"Siap Nyonya, anda memanggil saya?"

"CEPAT KIRIM ORANG SEBANYAK – BANYAKNYA SEKARANG JUGA KE INCHEON AIR PORT! BAEKHYUN KABUR!"

"Baik nyonya"

Sekretaris Kang langsung melaksanakan perintah, Sementara Leeteuk nampak berusaha menghubungi Kangin.

.

"Akhirnya sampai juga di ruang tunggu." Bakehyun menghenyakkan tubuh mungilnya di deretan sofa tunggu.

Sengaja dia tidak memasukkan kopernya ke bagasi, karena ukurannya yang sedang jadi itu pasti muat jika diletakkan di kabin. Baekhyun juga sengaja tidak membawa ponsel dan laptopnya. Khusus untuk acara kabur, agar dia tidak bisa di deteksi. Semua akun SNSnya sudah di non aktifkan, dia tidak mau siapapun menemukannya.

Sebuah tas ransel kecil bertengger di bahu baekhyun, tas itu isinya hanya paspor, visa, surat – surat berharga dan juga dompetnya. Setelah sebelumnya dia menarik banyak uang dari tabungan yang dibuat oleh appanya untuk Baekhyun sementara tabungan rahasianya masih tetap aman di kartu rahasianya. Agak licik memang, tapi Baekhyun juga butuh uang kan?

"TANGKAP DIA! ITU BYUN AGASHI!" sebuah teriakkan mengagetkan Baekhyun dan seisi ruangan.

Baekhyun langsung bangkit dari tempatnya duduk dan berlari tanpa arah, sekencang – kencangnya. Tanpa sadar gadis manis itu meninggalkan kopernya dan hanya menggendong tas ranselnya.

"Ya… kenapa mereka bisa menemukanku…. Sial!" Baekhyun meracau seraya berlari kencang.

Baekhyun langsung saja berlari kea rah toilet. Sebelumnya dia sempat berpikir, tidak. Toilet yeoja bukan tempat aman. Seketika Baekhyun masuk ke toilet namja, untungnya sepi. Dan dia akhirnya memilih salah satu bilik toilet untuk tempatnya bersembunyi.

"WOA! APA YANG KAU LAKUKAN!" sebuah suara bass berteriak kaget ketika Baekhyun memasukki biliknya.

Untuk saja namja itu sudah menaikkan resleting celananya sebelum yeoja ini masuk.

"Aku mohon selamatkan aku... jaebal... aku tidak mau masa depanku hancur!" Baekhyun memelas

"Mworagau?" tanya suara bass itu.

"Aku akan dijodohkan dengan ajushi tua yang prevet dan pedofil oleh orang tuaku. Aku harus kabur jika aku ingin menyelamatkan masa depanku… jaebal… selamatkan aku…" Baekhyun memohon dengan sangat.

"Changkaman…. Kau… Author agashi…"

Baekhyun langsung mendongakkan kepalanya dan melihat wajah bingung Chanyeol di hadapannya.

"Kau… namja, Park Sehun…" Bakehyun ingat.

"Ah… itu…. Majja…" Chanyeol berkata cepat.

"Kenapa kau disini.?" Chanyeol bertanya bingung

"Aku mau kabur, tapi orang – orang dari keluargaku mengetahuinya dan sekarang mereka sedang ada diluar untuk mengangkapku!" Baekhyun berseru ketakutan.

"Agashi akan pergi kemana?"

"Ke Edinburgh dan oh my GOD… pesawatku sebentar lagi pasti akan boarding!"

"Edinburg? Aku juga akan kesana!"

"Jinjjayeo?"

Chanyeol mengangguk.

"Panggilan kepada seluruh penumpang Korean Air tujuan Edinburgh, untuk segera masuk ke dalam pesawat di pintu J8"

"Eottoke…" Baekhyun ketakutan

"orang – orang itu pasti masih di luar" racau Baekhyun

"Agashi… tenangnlah! Aku akan membantumu!" kata Chanyeol

"Jinja? Gomawo… gomawoo.."

Chanyeol melepas snap backnya, lalu jaketnya dan juga hoodie tipisnya.

"Kau mau apa? Kenapa buka baju?" Baekhyun mulai ketakutan lagi

"Ini untuk penyamaranmu agashi.." ucap Chanyeol tenang.

"Nah… pakai Hoodie ini"

Baekhyun menurutinya. Kemudian Chanyeol mengikatkan jaket jerseynya di pinggang Baekhyun untuk menutupi celana pendeknya.

"Maaf Agashi… bisakah rambutmu kau ikat, atau kau gulung ke atas?" tanya Chanyeol, dan Baekhyun hanya mengangguk kemudian mengikuti instruksi Chanyeol.

Setelah selesai Chanyeol langsung menggunakan Snap backnya ke kepala Baekhyun, kemudian namja itu memasangkan kaca matanya pada Baekhyun.

"Selesai."

"Panggilan terakhir kepada seluruh penumpang Korean Air tujuan Edinburgh, untuk segera masuk ke dalam pesawat di pintu J8"

"Ayo kita keluar" ajak Chanyeol

Baekhyun pun mengikuti Chanyeol dengan seksama. Tepat di pengecekan tiket dan passport Bakehyun takut melihat seseorang anak buah appanya ikut mengecek nama di area itu.

"Tenanglah, aku akan atasi ini" Chanyeol berucap mantap.

'Tuan Park Chanyeol, keberangkatan ini hanya menunggu anda saja… Kapten meminta saya untuk mencari anda!" kata seotang pramugari menghampiri Chanyeol

Chanyeol diajak oleh pramugari itu lewat jalur tanpa pengecekkan.

"Oh, anda tidak boleh ikut agashi!" kata pramugari itu.

"Ah… maaf tapi dia… dia… dia.." Chanyeol nampak mencari alasan.

"Dia istriku… aku harus mengajaknya" Chanyeol akhirnya menemukan alasan tepat dan segera menggenggam tangan mulus Baekhyun.

"Oh begitu, maaf… biasanya anda sendiri jika tidak bersama tuan Sehun" kata pramugari kepercayaan Yunho itu.

"Mari Nyonya.."

Dan Baekhyun juga Chanyeol akhirnya berhasil masuk ke dalam kabin tanpa harus melewati sistem pengecekan. Setelah masuk di area kabin, dan pramugari itu meninggalkan mereka barulah Chanyeol melepas tangan Bakehyun.

"Gomawo tuan…"

"Chanyeol! Park Chanyeol"

"Aku Baekhyun, Byun Baekhyun"

"Baiklah, aku harus ke tempat dudukku" Chanyeol menunjuk arah executive class, sementara Baekhyun hanya mengangguk dan meluncur ke area economi class.

.

"Ah…. Jaket dan hoodieku!" Chanyeol teringat dengan barang – barangnya yang masih melekat di tubuh Bakehyun.

Setelah peswat take off dan kondisi perjalanan peswat sudah stabil, akhirnya Chanyeol berjalan kea rah kabin ekonomi class untuk mencari jaket dan hoodie juga snap back dan kaca mata kesayangannya.

.

"Nona manis… sendirian saja… sini tidur bersandar di bahu oppa.." seorang ajhusi paruh baya menggoda Baekhyun yang duduk di sebelahnya.

"Ajushi jangan ganggu aku!" bentak Baekhyun

"Jangan jual mahal sayang… sini sini…" ajhusi itu mulai menyentuh Baekhyun

"YA! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRIKU!" Chanyeol menghampiri Baekhyun dan langsung menegur si ajhusi tua yang tengah mencoba menggerayangi si manis Baeki

"Istri? Hah… kalian bahkan tidak menggunakan cincin pernikahan… mana buktinya.."

"Lebih baik daripada ajhusi yang menggunakan cincin nikah tapi masih mengganggu istri orang!" Chanyeol menggertak.

"Ayo chagi, kita pindah ke tempatku!" Chanyeol menarik tangan Baekhyun

"N… ne.. yeobo.." ucap baekhyun mengikuti chanyeol.

.

"Mianhae… aku merepotkanmu lagi…" Baekhyun tertunduk sedih

"Gwaenchana Author Byun… kau tadi dalam bahaya, kau duduk di sebelahku saja,… tempat ini kosong"

"Tapi kan tiketku untuk economi class"

"Sudah lah… lagipula kapten penerbangan ini adalah pamanku… tenang saja!" Ucap Chanyeol enteng.

"Ya Park Chanyeol, apa sekarang kau menjadi spesialis penyelundup orang - orang pelarian? Tidak cukupkah hanya Sehun dan Yixing? Kenapa sekarang kau membawa gadis bermarga Byun ini juga?" Chanyeol membatin seraya memperhatikan punggung Baekhyun menjauh.

.

.

.

.

(TBC ke Episode 4)

Anyeonghaseo! Author Aruna Wu is here...
Pertama - tama Author ucapkan maaf sebelumnya jika episode ini panjang banget...
Mungkin ini bakal jadi cirikhas author Aruna Wu, iya ceritanya gak pernah pendek tiap chapter pasti panjang - panjang, gak yang WGM gak yang ini juga panajng bgt...
kekeke...

.

Auuu... ah Mianhaeyeo... kalo author lama banget update ini FF... karena banyak tugas dan fokus ke WGM hunhan and TAoris.. mian mian... Bagaimana dengan Episode panjang ini? Wah... semoa kalian puas ya, ini semua official pairs. Emang agak ribet kalo bikin semua pairs muncul begini... tapi author akan selalu berusaha untuk menunjukkan bahwa ini mungkin dan pasti bakal sampai END, soalnya janrang banget ada FF yang lengkap official Pairs yang dilanjutin sama authornya sampe end. kekekeke... semoga reader deul suka sama eps ini ya...

.

Buat yang mau temenan sama author di BBM atau Line bisa PM langsung ya... kekeke.

.

Mohon kesediaannya untuk RnR

CUPLIKAN EPISODE 4

"Aku percaya padamu Zitao, dan saat ini, hanya kau satu - satunya orang yang bisa aku percaya di dunia ini." - Kris

...

"Mungkin saat ini kau belum bisa mencintaiku, tapi aku yakin... suatu saat nanti kau pasti akan mengatakan 'wo ai ni Zitao-ie' padaku" - Zitao

...

"Aku menangis karena cinta pertamaku... baru saja menyatakan perasaannya pada gadis lain, Sehun-ah" - Luhan

...

"Sehun-ah... Hyungku datang ke Edinburgh! Akan aku perkenalkan kau pada Kris Hyung!" - Kai

...

"Kau tidak perlu berubah menjadi orang lain agar kau bisa dicintai, aku lebih suka Luhanku yang tomboy, sembrono dan kekanakan." - Sehun

...

"Aku mencintai Jongin! Bukan Sehun." - Kyungsoo

...

"Anyeonghaseo... aku Zhang Xiumin, yeojachingu Kim Jongdae" - Xiumin

...

"Mianhae, aku selalu merepotkanmu Chanyeol-ah... tapi aki janji aku akan membantumu sebisaku!" - Baekhyun

...

"Kenapa aku selalu merasakan hal aneh saat aku melihat senyumnya? Apa aku jatuh cinta? Tidak... aku sudah punya Calon istri. dan dia juga sudah di jodohkan" - Chanyeol

...

"Aku bahagia, walaupun hanya bisa berkomunikasi lewat note kecil ini denganmu Suho... aku bahagia" - Lay

...

"Aku sudah menemukan Park Chanyeol dan dia memiliki adik bernama Park Sehun seumuran denganku!" - Chen

...

"Tidak! Chanyeol adalah anak tunggal... apa jangan - jangan... Park Sehun adalah Wu Shixun?" - Suho

Maaf... author tidak membalas review readerdeul satu persatu, karena takutnya ini bakal kepotong seperti chap kemarin... maaf banget ne... :(
Akhir kata Author ucapkan...

Auuu... Ah! Saranghaeyeo!