Eclipse

.

.

a BTS Fanfiction

Kim Namjoon x Kim Seokjin (GS!)

Kim Taehyung x Kim Seokjin (GS!)

.

.


Warn!

Fantasy, AU, GS. NamJin with TaeJin


.

.


Read at your own risk


.

.


Part 3 : The Vampire


Seokjin masih mencoba bernapas dengan normal, sekujur tubuhnya terasa sakit dan lengannya perih, begitu perih hingga terasa seperti terbakar.

Dia menggigit bibirnya, mencoba menahan rasa sakit dan berdoa agar seseorang menemukannya di sini. Tubuhnya tidak bisa digerakkan, kakinya sakit dan terasa berdenyut-denyut mengerikan.

"Hmm.. I smell blood."

Itu bukan suara Namjoon, Seokjin berani bersumpah atas nama nyawanya yang mungkin hanya tersisa separuh bahwa itu bukan suara Namjoon.

Seokjin menahan napasnya saat tiba-tiba saja seseorang melompat turun dari atas pohon dan mendarat dengan begitu mulusnya, tak jauh dari tempatnya berbaring dengan keadaan menyedihkan.

'Orang itu jelas bukan manusia.'

Seokjin menarik napas, dia meringis karena rasanya begitu sakit bahkan hanya untuk bernapas.

"Bau darahmu tercium hingga ke kastilku," sosok asing itu melangkah semakin mendekat. "Aroma termanis yang pernah kucium seumur hidupku." Dia benar-benar berhenti di hadapan Seokjin, "Siapa kau?"

Kehilangan banyak darah membuat Seokjin pusing, dia merasa pandangannya mulai kabur, dan kepalanya terasa berdenyut-denyut. Seokjin menarik napas lagi, mencoba menjawab pertanyaan itu namun dia merasakan kesadarannya semakin menipis dan setelahnya Seokjin tidak tahu apakah dia berhasil menjawab pertanyaan itu atau tidak.

Sosok asing yang berada di hadapan Seokjin terdiam saat Seokjin tidak sadarkan diri. Aroma manis Seokjin tercium begitu pekat di udara dan sosok itu membungkuk, mencolek sedikit darah Seokjin yang mengalir kemudian membawanya ke bibirnya sendiri.

Di detik darah Seokjin menempel di lidahnya, dia langsung tersentak, memang ada sesuatu yang asing di dalam darah Seokjin, tapi rasa darah Seokjin benar-benar luar biasa.

Sosok asing itu tertegun sesaat sebelum kemudian dia mendesis rendah, "Milikku.."

"Dia bukan milikmu."

Sosok itu menegakkan tubuhnya saat mendengar suara itu, dia mengeluarkan dengusan rendah kemudian berbalik, menatap sang Alpha yang berdiri di belakangnya.

"Dia masih manusia,"

"Dia milikku, gigitan klaimku ada padanya." Namjoon menggeram seraya melangkah mendekat, "Jauhkan taringmu darinya, Taehyung."

Taehyung menyeringai, "Aku bisa mengganti gigitan klaimmu itu. Dia masih manusia, dan dia adalah milikku, rasa dan aroma darahnya membuktikan itu."

Namjoon menggeram lagi, kali ini terdengar lebih buas dan mengerikan.

Hoseok yang sejak tadi memperhatikan situasi memutuskan untuk melangkah maju. "Oke, tenanglah kalian berdua, kita harus mengusahakan pertolongan untuk Seokjin atau kalian akan benar-benar kehilangan dia." Hoseok melangkah maju mendekati Seokjin dan mengangkat tubuhnya dengan hati-hati.

Namjoon bergegas mendekat dan mengambil alih tubuh Seokjin dari lengan Hoseok. Dia memperhatikan mata Seokjin yang terpejam dan Namjoon merasakan jantungnya seperti diremas dengan kuat.

Detakan jantung Seokjin melemah.

"Rumah sakit, Joon. Sekarang." Hoseok berujar tegas kemudian mereka berdua segera pergi meninggalkan tempat itu.

Meninggalkan Taehyung yang masih diam di sana seraya menjilat bibirnya sendiri.

"Luna sang Alpha, heh? Tak kusangka pasanganku sehebat itu."


.

.

.


Seokjin membuka matanya dengan perlahan kemudian menarik napas dalam. Kepalanya masih terasa berdenyut-denyut menyakitkan namun Seokjin sudah merasa jauh lebih baik sekarang.

Remasan di tangannya membuat Seokjin menoleh dan dia melihat Namjoon duduk di sebelahnya, menatapnya dengan wajah khawatir.

"Hei, merasa lebih baik?" Namjoon berbisik serak seraya bergerak untuk memberikan sebuah kecupan di dahi Seokjin.

Seokjin memejamkan matanya merasakan kecupan Namjoon di dahinya. Dia membuka matanya lagi kemudian berujar pelan, "Sakit."

Namjoon tersenyum tipis, "Kakimu terkilir dan lenganmu robek, dan ada beberapa luka-luka lainnya, tapi dokter sudah menanganinya dengan baik."

Seokjin mengangguk, memilih untuk memejamkan matanya kembali. Yah, dia baru saja terjatuh dari tempat yang lumayan tinggi, wajar saja dia terluka di sana-sini.

Baru saja Seokjin ingin tertidur, dia teringat pada sosok yang menghampirinya sebelum dia pingsan. Seokjin membuka matanya lagi dan menatap Namjoon.

"Sebelum aku pingsan, aku melihat seseorang, seorang pria. Siapa dia?"

Walaupun tidak terlalu mencolok, tapi Seokjin menyadari tubuh Namjoon menegang.

"Namjoon, siapa dia?" Seokjin bertanya lagi, kali ini dengan nada lebih tegas.

"Dia Dracula, Taehyung. Dia tinggal di sisi selatan wilayah, dan kau terjatuh di wilayah netral, wajar jika dia menemukanmu karena darahmu. Dan untungnya dia tidak menghisap darahmu." Namjoon menjelaskan dengan sedikit enggan.

Seokjin tertegun, tapi jika dia mencoba mengingatnya kembali, dia ingat sosok itu bertanya siapa Seokjin.

Apakah itu akan dilakukan oleh seorang vampire pada korbannya?

"Tapi.."

Namjoon berdiri, "Aku harus kembali ke pack, aku tidak bisa meninggalkan mereka terlalu lama." Namjoon membungkuk, memberikan kecupan lainnya di dahi Seokjin, "Istirahatlah, Hoseok akan menemanimu."

Dan Namjoon pergi begitu saja, meninggalkan Seokjin yang bahkan tidak sempat mengeluarkan suara untuk mencegahnya.

Seokjin mendesah pasrah, dia memilih untuk menatap ke arah jendela yang mulai menampilkan semburat jingga. Apakah itu berarti dia tidak sadarkan diri selama sisa hari? Karena dia ingat dia keluar dari rumah saat pagi hari.

"Hai, Seokjin."

Seokjin menoleh dan melihat Hoseok berjalan masuk ke dalam kamarnya. Hoseok tersenyum lebar seraya duduk di sebelah Seokjin.

"Merasa lebih baik?" Hoseok bertanya dengan ceria.

"Yah, sedikit." Seokjin tersenyum tipis, "Ah, bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Hoseok mengangguk.

"Siapa vampire itu? Aku bertanya padanya soal Namjoon dan dia bilang dia ada di sana karena mencium aroma darahku. Tapi sebelum aku pingsan, aku ingat dia bertanya mengenai diriku. Apakah vampire akan melakukan itu pada korbannya?"

Hoseok menegang, "Ada lagi yang dia katakan padamu?"

Seokjin menggeleng.

"Kau tidak akan bertemu dengannya lagi, jangan khawatir. Namjoon menempatkan penjagaan untukmu di sekitar wilayah rumah sakit, tempat ini adalah wilayah netral, Namjoon harus memberikan perlindungan untukmu."

"Apakah dia berbahaya?"

Hoseok mengangguk, "Kaumnya adalah musuh alami kami, Seokjin."

Seokjin tertegun, "Oh."

"Adakah yang kau butuhkan? Jika ada, aku bisa menyiapkannya untukmu."

Seokjin menoleh ke arah Hoseok dan menggeleng, "Tidak ada, aku ingin istirahat."

Hoseok menghembuskan napas lega, "Kalau begitu tidurlah, aku akan menjagamu di sini sampai giliran patroliku tiba. Jangan khawatir, hanya aku dan Namjoon yang diizinkan untuk masuk ke kamar ini. Nanti jika aku pergi, seorang werewolf akan berjaga di depan pintu kamarmu."

Seokjin mengangguk pelan, "Terima kasih."


.

.

.


Taehyung berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah santai. Dia tidak melihat beberapa werewolf yang ditugaskan untuk menjaga Seokjin karena dia meminta beberapa anggota klannya untuk membuat sedikit keributan hingga membuat mereka semua pergi ke sana.

Sebenarnya Taehyung melakukan ini bukan tanpa alasan. Dia sungguh sangat penasaran terhadap sosok Seokjin, jika melihat dari betapa murkanya Namjoon, dia pasti pasangan Alpha itu.

Tapi kenapa Taehyung merasa terikat dengannya? Bahkan Taehyung merasakan perasaan hangat yang begitu hebat hanya karena mencicipi darah Seokjin.

Jika insting Taehyung benar, maka mungkin saja Seokjin adalah sosok yang dicarinya selama ini.

Taehyung membuka pintu ruang rawat Seokjin dan melihat gadis itu berbaring di tempat tidurnya, tertidur dengan damai.

Kaki Taehyung melangkah semakin dekat dan dia bisa mencium aroma darah Seokjin yang memenuhi udara. Taehyung mengulurkan tangannya, menyentuh helaian rambut Seokjin yang terserak di bantalnya.

Rambut Seokjin, kehangatan Seokjin, detak jantung Seokjin, aroma Seokjin, Taehyung menyukainya. Taehyung memejamkan matanya rapat-rapat dan membungkuk, dia menempelkan hidungnya di garis rambut Seokjin yang berada di dahinya.

Taehyung menarik napas dan aroma Seokjin terasa memenuhi dirinya. Dia tersenyum, bahkan hanya dengan mencium aroma Seokjin, Taehyung sudah merasa dirinya hidup kembali.

"Milikku," Taehyung berbisik pelan, dia menempatkan sebuah kecupan di dahi Seokjin.

Seokjin menggeliat pelan, mungkin disebabkan oleh rasa dingin saat Taehyung menyentuhnya. Taehyung menjauhkan kepalanya dan dia memperhatikan bagaimana Seokjin kembali menggumam nyaman dan kembali pulas.

Deru napas Seokjin terdengar teratur dan ini kembali menimbulkan sebuah senyum di bibir Taehyung.

"Milikku," Taehyung berbisik lagi, dia mengelus lembut pipi Seokjin.

"Aku akan merebutmu darinya, karena kau milikku."


.

.

.


Seokjin menggeliat pelan seraya membuka matanya, dia menggumam pelan seraya melirik ke arah jendela yang tirainya sudah dibuka, mungkin oleh perawatnya.

Tangan Seokjin naik untuk menyentuh dahinya dan mengelusnya. Semalam dia bermimpi aneh dimana vampire yang dilihatnya di hutan itu tiba-tiba saja datang ke kamarnya dan mencium dahinya.

Mimpi itu gila, aneh, dan tidak masuk akal. Tapi Seokjin benar-benar merasakan sensasi dingin saat vampire itu mengusap wajahnya ataupun mengecup dahinya.

Dan di mimpi itu, Seokjin juga mendengar vampire itu menyebut Seokjin sebagai miliknya. Itu diucapkan dengan begitu serius hingga Seokjin ragu itu hanyalah sebuah keinginan sesaat.

Seokjin menggigit bibirnya, dia tidak mengerti kenapa vampire itu bisa masuk ke dalam mimpinya. Tapi ada sesuatu dalam vampire itu yang entah kenapa membuat Seokjin terhanyut.

Bohong jika Seokjin mengatakan dia tidak kecewa mimpi itu berakhir dengan cepat.

Seokjin masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tapi tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan Namjoon masuk ke kamarnya.

Namjoon tersenyum tipis padanya kemudian dia melangkah masuk, namun baru dua langkah dia berjalan, Namjoon terhenti.

Seokjin tidak tahu apa yang salah, tapi tiba-tiba saja Namjoon menggeram dengan menyeramkan. Dia meneriakkan nama Hoseok dan detik berikutnya Hoseok sudah berada di dalam kamar Seokjin.

"Dia masuk ke sini! Dia berada di sini!" Namjoon membentak marah kepada Hoseok. "Bukankah sudah kukatakan pada kalian untuk menjaganya? Bagaimana mungkin kalian membiarkan vampire itu masuk ke kamarnya?!"

Seokjin tertegun, ada seorang vampire yang masuk ke dalam kamarnya dan apakah itu artinya Taehyung benar-benar datang ke kamarnya?

Seokjin menatap Namjoon yang masih terlihat murka, "Namjoon.."

Namjoon terdiam, dia menghela napas dan melangkah dengan langkah lebar untuk mendekati Seokjin. Alpha itu membungkuk dan menggeram rendah saat tubuhnya sudah dekat dengan Seokjin.

"Bahkan kau tercium sepertinya. Dia benar-benar ada di kamar ini." Namjoon menggeram marah dan menatap Seokjin, "Kau melihatnya datang?"

Seokjin menggeleng, "Aku tertidur setelah minum obat." Seokjin berusaha mengatur ekspresi wajahnya, dia tidak akan mengatakan kepada Namjoon bahwa dia melihat Taehyung dalam mimpinya semalam.

Namjoon menyibak sedikit kerah pakaian Seokjin untuk melihat gigitan klaimnya. Namjoon mengelus bagian itu dengan ibu jari dan tersenyum merasakan itu masih sehangat biasanya.

"Kenapa vampire itu menemuiku? Untuk apa? Apakah dia ingin menjadikanku makanan?" Seokjin bertanya seraya mengelus tangan Namjoon yang masih bertahan di lehernya.

"Aku tidak tahu," sahut Namjoon.

Seokjin tahu Namjoon berbohong, tapi Seokjin memilih untuk diam dan tersenyum pada Namjoon. "Yah, aku tidak tahu apa alasannya datang ke sini, tapi aku baik-baik saja. Kurasa dia tidak menghisap darahku."

Namjoon mengangguk, dia menumpukan dahinya dengan dahi Seokjin dan memejamkan matanya. "Malam ini aku akan menemanimu di sini."

Seokjin tersenyum lebar, "Terima kasih."

Dan Namjoon benar-benar menepati ucapannya itu. Bahkan Namjoon tidak meninggalkan kamar rawatnya seharian itu. Dia duduk di sisi Seokjin dan menemaninya melewati harinya di rumah sakit.

Seokjin sedang berbaring seraya memperhatikan Namjoon yang sibuk mengelus buku-buku jarinya. "Namjoon."

"Ya?"

"Kau terikat denganku, kan?"

Namjoon mengangguk, "Ikatan itu akan benar-benar sempurna dalam 1-2 tahun, dan setelahnya, kau hanya akan tercium sepertiku."

Seokjin mengangguk, "Lantas bagaimana dengan ikatan diantara kau dan Omega itu?"

Namjoon menegang, dia berdehem kemudian dia membuka mulutnya untuk menjawab. "Itu juga ikatan, dia hanya bisa berhubungan denganku."

"Aku tidak suka berbagi, tapi itu seharusnya diucapkan oleh Omega itu karena dia yang memilikimu lebih dulu." Seokjin memalingkan pandangannya, dia masih membenci kenyataan Namjoon memiliki orang lain dalam hidupnya.

Namjoon menghela napas pelan, "Tapi kau adalah yang utama, Seokjin."

Seokjin mendesah pasrah, "Aku tahu." Dia menaikkan selimutnya hingga menutupi sebagian wajahnya. "Aku mau tidur."

Kelopak mata Seokjin menutup dan Namjoon memberikan sebuah kecupan di tiap kelopak matanya.

"Mimpi indah, sayang."

Seokjin tersenyum,
'Apakah vampire itu akan muncul dalam mimpinya lagi malam ini?'


.

.

.


Beberapa hari berikutnya berlalu dengan cepat untuk Seokjin. Proses pemulihannya berlangsung dengan cepat dan selama proses itu Namjoon tidak pernah meninggalkan sisinya sedikitpun.

Seokjin tidak mengerti kenapa Namjoon mendadak menjadi sangat protektif disaat Seokjin jelas-jelas tidak mau berurusan dengan Namjoon dulu.

Seokjin masih marah. Itu jelas.

Namjoon mendorong kursi roda Seokjin menyusuri koridor rumah sakit. Hari ini Seokjin sudah diperbolehkan untuk pulang dan Namjoon bersikeras bahwa Seokjin harus duduk di kursi roda walaupun Seokjin yakin dia kuat untuk berjalan sendiri.

"Bagaimana kabar Omegamu?" tanya Seokjin pada saat mereka sudah tiba di sebelah mobil Namjoon.

Hoseok yang memegangi pintu mobil itu terbatuk dengan keras dan dia berdehem dengan canggung.

Seokjin mendongak menatap Namjoon yang sedang mengulurkan lengannya untuk menggendong Seokjin. "Kau menemaniku terus belakangan ini. Apa dia baik-baik saja?"

"Ya, dia mengerti siapa dirimu, Seokjin. Kau tetap yang paling utama di sini." Namjoon mengangkat tubuh Seokjin dengan mudah dan membawanya masuk ke mobil.

"Oh, benarkah? Senang mendengarnya." Seokjin mengayunkan nada bicaranya dengan gaya mengejek. Hoseok meringis di kursi kemudi sementara Namjoon terlihat dingin seperti biasa.

"Ada sesuatu yang kau inginkan saat kita sudah tiba di rumah?" Namjoon mencoba mengalihkan pembicaraan.

Seokjin menoleh ke arah Namjoon dan tersenyum manis padanya. "Ya, menjauh darimu. Kau bisa bebas bersama dengan sosok yang sudah bersama denganmu selama 50 tahun. Tenang saja, jangan pedulikan aku."

Namjoon menghela napas pelan, "Seokjin.."

"Peraturan pertama setelah hari kencan pertama adalah menjelaskan status kita, kau tahu?" Seokjin menatap Namjoon dengan tajam. "Seharusnya kau mengatakan kalau kau sudah memiliki pasangan saat itu."

"Seokjin, aku.."

Seokjin memalingkan pandangannya ke arah jendela mobil, "Diamlah,"

Namjoon menutup mulutnya seraya menghela napas lagi. Seokjin mencoba tidak mempedulikan gerutuan pelan Namjoon dan memilih untuk fokus menatap keluar.

Kemudian Seokjin melihatnya, sosok vampire yang pernah hadir dalam mimpinya namun tidak pernah muncul lagi, sedang berdiri di bawah sebuah pohon besar seraya menatap Seokjin.

Seokjin nyaris saja membuka kaca untuk memanggil sosok itu namun untungnya dia masih bisa menahan diri untuk tetap duduk diam di kursinya.

Entah kenapa ada sesuatu yang membuat Seokjin yakin bahwa dia akan bertemu lagi dengan sosok vampire itu.


.

.

.


"Mau kemana?"

Langkah kaki Seokjin yang sudah tiba di depan pintu terhenti saat mendengar suara Namjoon. Dia menghela napas keras dan berbalik untuk menatap manusia serigala yang masih menjadi suaminya itu.

"Jalan-jalan." Seokjin menyahut singkat.

"Sudah hampir gelap, Seokjin." Namjoon menunjuk keluar. "Sebentar lagi matahari terbenam."

"Aku membawa senter dan ponselku."

"Seokjin.."

"Aku pergi."

Seokjin melanjutkan langkahnya dengan cepat dan bersyukur saat Namjoon tidak mengejarnya. Kaki ramping Seokjin yang terbalut sneakers berjalan cepat menyusuri jalan hingga akhirnya dia tiba di pinggir hutan tempatnya masuk dulu.

Seokjin memperhatikan sekitar dan saat sudah memastikan tidak ada yang memperhatikannya, Seokjin menyalakan senternya dan melangkah masuk ke dalam hutan.

Berjalan di dalam hutan itu masih sama seperti yang sebelumnya. Hutan yang semakin rimbun membuat Seokjin benar-benar bersyukur dia membawa senter.

"Kalau tidak salah aku terjatuh di sini." Seokjin menyinari tepian jurang yang agak tergerus, mungkin karena dia jatuh di sana dan membuat tanahnya sedikit longsor akibat berat badannya.

Seokjin mengarahkan senternya ke sekitar tempatnya berada. "Tapi dimana dia?"

"Mencariku?"

Seokjin terlonjak, dia menoleh dengan cepat ke arah asal suara dan melihat sosok vampire yang dicarinya sedang tersenyum ke arahnya.

"Tidak juga," sahut Seokjin, "aku hanya ingin bertanya padamu."

Vampire itu tersenyum pada Seokjin dan melangkah mendekat. "Apa?"

"Siapa kau?"

"Aku Count Dracula." Vampire itu tersenyum, "Kurasa Alpha itu sudah mengatakan siapa namaku tapi aku akan mengatakannya lagi padamu. Aku Taehyung, pemimpin klan vampire."

Seokjin mengulum bibirnya, "Apa kau yang waktu itu datang ke kamarku di rumah sakit?"

Taehyung memiringkan kepalanya, "Ya, rumah sakit adalah wilayah netral. Aku bisa bebas keluar-masuk di sana."

Seokjin menarik napas dalam, "Kenapa kau melakukan itu? Apa kau.." Seokjin terhenti sebentar, "Apa kau ingin memangsaku?"

Taehyung tertawa kecil, "Tidak, sayang. Aku tidak akan membunuh pasanganku sendiri."

"Huh?"

"Kau, adalah pasangan yang ditakdirkan untukku."

Seokjin menggeleng, "Tidak mungkin. Aku.. Namjoon sudah mengikatku. Kau pasti salah."

"Darahmu tidak akan berbohong. Kau adalah milikku sejak awal." Taehyung tersenyum miring, "Aku akan menunjukkan buktinya padamu."

"B-bagaimana caranya?" Seokjin mulai merasa ini bukanlah sesuatu yang bagus tapi entah kenapa dia tidak bisa menjauh dari Taehyung.

Taehyung menyeringai, "Datanglah ke kastilku, Seokjin." Taehyung menatapnya dalam-dalam, "Aku akan menunjukkan buktinya padamu di sana."

To Be Continued

.

.

Oke Taehyungnya sudah resmi muncul. Hehehehe

Kira-kira Seokjin mau atau nggak ya ke kastilnya Taehyung? Wkwkwk

Ditunggu selalu tanggapannya~