Minna-san, apa kabar semuanya? Masih adakah yang inget dan nunggu fict ini?

Gomen, Muki baru bisa update. Beberapa bulan lalu Muki memutuskan untuk hiatus dari FFN karena mau fokus sama UN, eh tapi selesai UN, Muki malah males lanjutin fict-fict Muki *ditendang*. Yosh! Happy reading and No Flame!

Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Story by me terinspirasi dari 'Kdrama Big'. Beta reader MySister.

Tittle : Soulmate

Genre : Supernatural, Angst, Family, Romance.

Rate : T

Pairing : NaruSaku, MenmaHina.

Warning : AU, OOC, gaje, abal, ancur, minim deskriptif, typo(s), dll.

.

.

Summarry: Sejak kecil ia sangat menyukai buku bergambar itu. Buku dongeng berjudul 'Miracle' karya Uzumaki Kushina. Hidup di panti asuhan miskin yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah membuatnya berharap akan adanya suatu keajaiban. Namun apakah 'keajaiban' itu benar-benar ada?

.

Chapter 4 : Meet You

.

.

'This world is like a dark night that swallows everything.'—Menma Namikaze—

oooOOSoulmateOOooo

.

.

.

Hari ini Minato Namikaze dan Yamato sedang berada di panti asuhan Himawari untuk memastikan siapa Naruto sebenarnya. Hasil test DNA-nya dengan Naruto masih belum keluar. Itulah sebabnya ia ingin menggali informasi dari salah satu sister disana. Hanya itu satu-satunya cara agar ia bisa menemukan—Himeji— baby sitter kedua puteranya.

"Ini foto puteraku saat ia baru berusia dua tahun." Minato mulai membuka percakapan dengan memperlihatkan foto Nerro saat ia baru berusia dua tahun. Salah satu sister yang diketahui bernama Konan tampak terkejut.

"Bukankah ini Naruto-kun?"

"Namikaze Naru. Nerro Namikaze adalah nama internasionalnya dan ia adalah puteraku. Aku dengar dulu dia tinggal disini. Bolehkah aku tahu dimana dia sekarang?"

"Naruto-kun memang pernah tinggal disini, tetapi dua tahun yang lalu, ia dan teman-temannya meninggalkan panti ini. Sejak kecil Naruto-kun dan teman-temannya selalu menolak untuk diadopsi dengan alasan tidak ingin berpisah dan ingin selalu bersama. Itulah sebabnya hanya Mina, Reo, dan beberapa anak seusia mereka saja yang kami rekomendasikan kepada para orang tua untuk diadopsi." cerita Konan.

"Sejak saat itu, apa mereka semua sering berkunjung ke sini?" tanya Yamato.

"Ya, cukup sering. Sesekali mereka semua juga memberikan uang untuk membantu panti ini."

"Lalu apa anda kenal dengan seorang wanita yang bernama Himeji Aoi?" selidik Yamato.

"Aoi-san? Ah, dia gadis muda yang memberikan Naruto-kun kepada kami dua belas tahun yang lalu."

"Dimana wanita sialan itu sekarang?" tanya Minato tampak emosi.

"Dia—"

"Dia sudah menculik puteraku! Katakan dimana dia sekarang!"

"Minato-sama, tenanglah!" ujar Yamato.

"Apa maksud anda? Setahu saya Aoi-san adalah orang yang baik!"

"Orang yang baik katamu? Dia sudah memisahkan kami dengan Nerro! Hari itu kami semua pergi ke Zoo. Nerro memang anak yang hiperaktif. Saat itu ia sangat bersemangat melihat binatang-binatang, hingga ia terus berlarian dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Lalu kami kehilangan dia."

Minato mulai meneteskan air mata. Yamato melirik Minato. Ia tidak tega melihat ekspresi tuannya itu. Minato yang selama ini ia kagumi benar-benar terlihat kacau sekarang. Ia mengerti perasaan Minato. Kehilangan seorang anak pasti adalah pukulan terbesar untuknya. Ia yakin di satu sisi, Minato juga pasti merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Nerro saat itu.

"Wanita sialan itu, ia bilang ia akan membantu kami mencari Nerro. Tetapi mereka tidak pernah kembali. Ia malah membawa kabur puteraku."

Sister Konan memperhatikan Minato dengan seksama untuk memastikan Minato berkata jujur atau tidak. Melihat ekspresi Minato saat ini, ia sadar kalau semua yang dikatakan Minato adalah fakta. Tapi Himeji Aoi, tidak sejahat yang Minato pikirkan. Ia harus memberitahukan kebenaran ini pada Minato.

"Aku tahu masa lalunya. Himeji, dia kehilangan suami dan anaknya yang masih bayi dalam sebuah kebakaran sebelum ia bekerja pada kami. Itulah sebabnya ia sangat menginginkan seorang anak, tapi membawa Nerro tanpa sepengetahuan kami itu benar-benar keterlaluan!"

"Aoi-san.. gadis itu meninggal dua belas tahun yang lalu demi menyelamatkan Naruto-kun."

"APA?" kaget Yamato.

"Kau bohong! Kenapa kau menyembunyikan kriminal seperti dia?"

"Akan saya ceritakan semuanya!"

.

Flashback—

Sister Konan bersama beberapa anak panti sedang bermain di sebuah taman. Saat Sora, Kiba, Shino, dan Lee sedang bermain bola bersama, Tenten menghampiri seorang anak laki-laki yang sedang bermain dengan seekor anak anjing shiberian husky.

"Wow, anak anjing itu lucu sekali! Siapa namanya?"

"Namanya Kyu-chan. Induknya baru melahirkannya beberapa bulan yang lalu."

"Ah, kawaii ne! Oh ya, namaku Tenten. Umurku 5 tahun. Siapa namamu?"

"Naru. Kita seumuran Tenten-chan."

"Namamu pendek sekali. Bagaimana kalau aku tambahkan menjadi Naruto?"

"Itu tidak boleh! Setiap makan ramen aku memang paling suka dengan Naruto tapi kau tidak boleh mengganti namaku sembarangan, nanti orang tuaku dan onii-chan marah! Tapi kalau kau mau, kau boleh memanggilku Nerro. Sebenarnya itu nama internasionalku, tapi aku lebih suka dipanggil Nerro daripada Naru."

"Begitu rupanya. Aku iri! Kau memiliki orang tua dan seorang kakak. Ah, dimana mereka sekarang?" tanya Tenten. Tiba-tiba saja Nerro terlihat sedih.

"Nerro-chan?"

"Sebenarnya tiga tahun yang lalu aku tersesat. Gara-gara itu aku berpisah dengan Kaa-chan, Tou-chan, dan juga Onii-chan. Nanny menemukanku. Aku menangis karena ingin cepat-cepat kembali kepada keluargaku tapi nanny bilang, ia tidak bisa menemukan mereka. Aku tidak tahu nanny bohong atau tidak, tetapi aku percaya pada nanny. Lalu nanny menjadikanku anaknya."

"Lalu dimana nanny-mu sekarang!"

"Sedang membeli minuman. Tenten-chan, kau mau ikut bermain bersama Kyu-chan?"

"Tentu saja! Sister, boleh kan aku bermain dengannya?"

"Tentu saja! Bermainlah sepuasmu!"

Nerro melemparkan sebuah ranting yang langsung diburu oleh Kyu-chan. Tenten berseru senang karena Kyu-chan berhasil menangkap ranting itu dan membawanya ke arah Nerro dengan menggigitnya. Tenten menghampiri Kyu-chan dan memuji, Kyu-chan anjing yang pintar. Ia kemudian mengelus kepala Kyu-chan. Kini giliran Tenten yang melempar ranting. Namun lemparan Tenten terlalu kuat. Ranting itu melambung tinggi dengan jarak yang jauh. Kyu-chan terus berlari mengejar ranting itu. Ranting itu terus melambung hingga terjatuh di tengah jalan. Nerro berlari menyusul Kyu-chan. Biar bagaimana pun ia tidak ingin Kyu-chan pergi terlalu jauh. Ia takut Kyu-chan hilang.

Kyu-chan berhasil menemukan ranting yang dilempar Tenten dan langsung menggigitnya. Nerro yang berhasil menyusul Kyu-chan langsung menggendong anjingnya itu. Tiba-tiba saja sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.

"Nerro-chan, awaaaass!" teriak Tenten.

Sister Konan yang kaget mendengar teriakan Tenten bergegas menghampiri Tenten. Sister Konan terbelalak kaget karena orang yang menyetir mobil tersebut ternyata setengah tertidur. Sementara mobil tersebut masih melaju kencang, Nerro terpaku di tempat. Mendadak kedua kakinya tidak bisa di gerakkan. Himeji yang sedang berjalan di trotoar sekitar situ menjatuhkan kantong belanjaannya dan langsung berlari kencang untuk menyelamatkan Nerro. Secepat kilat ia mendorong tubuh Nerro agar terhindar dari bahaya.

"Tidaaaakkk!" Tenten dan sister Konan berteriak histeris.

Kejadian tragis yang terpangpang dihadapan mereka benar-benar membuat mereka shock. Seorang wanita tertabrak mobil tersebut hingga tubuhnya terlempar. Kepalanya membentur batu. Ia berlumuran darah. Saat itu juga, perhatian para pengunjung lain teralihkan oleh keributan tersebut dan dalam waktu singkat, mereka sudah berkerumun di sekitar tempat kejadian. Salah satu dari mereka bergegas menghubungi polisi dan juga ambulance.

Nerro yang tersungkur jatuh akibat dorongan Himeji, berusaha untuk berdiri. Ia meringis karena keningnya terluka akibat dorongan kuat Himeji. Beberapa bagian tubuhnya juga mengalami luka gores. Sekuat tenaga ia berusaha untuk bangun. Kepalanya terasa pusing, tetapi ia tak peduli. Dengan langkah tertatih-tatih ia menghampiri sosok Himeji. Tangan mungilnya menggerak-gerakkan tubuh Himeji sembari menangis. Kyu-chan terus mengonggong di dekatnya.

"Nanny, bangun! Nanny Aoi bangunlah, onegai!"

Tangis Nerro semakin kencang. Kedua mata Himeji masih terpejam seperti tadi. Nerro pun menyentuh wajah Himeji. Tangannya gemetar. Ada banyak sekali darah Himeji yang menempel di telapak tangannya. Sister Konan berlari menghampiri mereka. Perlahan Himeji membuka kelopak matanya. Dengan tenaganya yang tersisa, ia berusaha menyentuh wajah Nerro. Ekspresi anak itu benar-benar tetlihat shock dan ketakutan.

"Nerro-chan, gomennasai!" ujarnya dengan suara lirih. Detik itu juga Nerro langsung tak sadarkan diri.

Suara sirene mulai terdengar. Himeji dan Nerro langsung di angkat ke dalam ambulance.

"Kiba-kun dan yang lainnya, kalian tunggu disini ya! Sister Guren pasti akan segera datang!"

"Sister mau kemana?"

"Aku rasa sebaiknya aku dan Tenten ikut mereka. Lagipula kami berdua adalah saksi, setelah ini polisi pasti akan mencari kami."

"Jangaan! Nanti sister dan Tenten-chan ditangkap polisi dan dipenjara!" teriak Lee.

"Tidak akan!" kata sister Konan yang langsung memasuki mobil ambulance.

"Nona, boleh aku minta tolong!" kata Himeji dengan suaranya yang masih terdengar lirih.

"Jangan bicara dulu, kau sedang dalam perawatan! Bertahanlah! Tidak lama lagi kita akan segera sampai di rumah sakit."

"Percuma saja! Aku tidak akan selamat. Aku akan kehabisan darah."

"Benar juga! Kenapa kalian tidak segera memberinya labu darah?" tanya sister Konan pada petugas ambulance.

"Himeji Aoi. Kami sudah melihat kartu identitasnya, golongan darahnya AB resius negatif. Kami hanya bisa menghentikan pendarahannya untuk sementara."

"APA? AB-? Bukankah itu sangat langka?"

"Mungkin ini hukuman dari Kami-sama. Aku sudah berbuat dosa. Aku telah memisahkan Naru-chan dari keluarganya."

"A-apa maksudmu?"

"Aku membawa lari anak itu. Aku ingin sekali memiliki seorang anak. Jadi aku menculiknya."

"Maksudmu anak yang tadi?"

"Ya. Dimana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja?"

"Dia ada di ambulance yang satu lagi. Aku sudah meminta Tenten-chan untuk menemaninnya."

"Ka-kalau a-aku -tolong ra-rawat di-dia. A-aku sangat me-nyayanginya."

Melihat air mata yang menetes di wajah Himeji, sister Konan tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia pun ikut menangis.

"Aoi-san, kita harus mengembalikan anak itu kepada keluarganya. Katakan padaku siapa nama orang tuanya!"

"Na-nami—"

Flashback End—

.

"Sebelum ia menyelesaikan kata terakhirnya, Aoi-san sudah terlebih dahulu menghembuskan nafas terakhirnya. Aku mencari keluarga anak itu kemana-mana. Sudah kucoba menemui keluarga Namimoto, dan keluarga lain yang diawali kata 'Nami' tapi tak satu pun dari mereka yang merupakan keluarganya."

"Bohong!" bentak Minato.

"Kalau anda masih tidak mempercayai saya, saya bisa mengantarkan anda ke makam Aoi-san hari ini juga!" tegas sister Konan.

"Lalu bagaimana kondisi tuan muda saat itu?" tanya Yamato.

"Ia sangat shock dan kejadian tragis itu membuatnya trauma. Trauma itu membuatnya kehilangan memori masa kecilnya. Ia tidak ingat siapapun. Ia tidak ingat keluarganya... bahkan ia tidak bisa mengingat namanya sendiri. Tenten bilang namanya Naru dan nama internasionalnya adalah Nerro, tapi saat mereka berkenalan ia tidak menyebutkan nama keluarganya, jadi Tenten juga tidak tahu."

"Saat itu tuan muda masih sangat kecil. Melihat kejadian mengerikan seperti itu... sangat wajar jika ia mengalami trauma."

"Aoi-san juga hanya menyebutnya Naru-chan. Kami tak ingin kejadian tragis itu membuat kondisinya semakin parah. Itulah sebabnya kami memberinya identitas baru. Kami mengganti namanya menjadi Naruto dan menjadikannya bagian dari keluarga kami."

Yamato menganggukkan kepalanya. Sekarang semuanya sudah jelas. Ia pun meminta sister Konan untuk mengantarkannya dan Minato ke makam Himeji Aoi.

Foto seseorang yang terpajang di makam tersebut memang foto Himeji Aoi yang mereka kenal. Ia wanita yang cantik. Rambut panjangnya berwarna cokelat muda. Ia memiliki iris mata sewarna almond. Ia memang salah, tetapi ia bukanlah orang yang jahat.

"Terimakasih karena kau sudah menyelamatkan nyawa puteraku. Sekarang aku sudah memaafkanmu dan tidak lagi membencimu. Kau juga menganggapnya sebagai anakmu sendiri. Terimakasih banyak Himeji-san." Kata Minato yang kemudian berdo'a untuk Himeji.

"Himeji-san, kau sudah hidup berdua bersamanya selama tiga tahun. Apakah kau bahagia?" tanya Yamato.

"Dia pasti bahagia. Naruto-kun adalah anak yang baik. Tapi sayang sekali... saat itu Aoi-san baru berusia 27 tahun." jawab sister Konan.

"Ya, dia masih muda. Seharusnya dia menikah lagi dan memiliki anak sendiri."

"Itu tidak mungkin Yamato! Himeji-san, dia pernah bercerita pada Kushina, kalau dia hanya mencintai suaminya. Itulah sebabnya dia memutuskan untuk tidak menikah lagi."

"Sekarang Aoi-san pasti jauh lebih bahagia, sebab anda sudah memaafkannya, Minato-san."

"Ya. Kushina dan Menma juga pasti akan memaafkannya."

"Apa Naruto-kun sudah tahu bahwa anda adalah ayahnya?"

"Dia belum tahu. Itulah sebabnya kami mencarinya."

"Ya, tapi sejujurnya kami sudah menemukan tuan muda. Maaf, sebenarnya tadi kami bertanya mengenai keberadaannya untuk bisa menemukan Himeji Aoi."

"Lalu kalau memang kalian sudah menemukannya, kenapa dia masih belum tau siapa anda sebenarnya, Minato-san?"

"Itu karena saat ini dia masih koma."

"Koma? Apa maksud anda? Apa yang terjadi?"

"Beberapa minggu yang lalu tuan muda mengalami kecelakaan."

"Apa?"

"Konan-san, sebagai ucapan terimakasih karena kalian sudah merawat dan membesarkan puteraku, saya akan menjadi donatur tetap untuk panti asuhan ini."

Sister Konan terkejut, baru saja ia menerima kabar buruk mengenai Naruto, ia langsung menerima kabar baik pula. Ia benar-benar bersyukur. Dengan begini panti asuhan himawari akan menjadi panti asuhan yang lebih baik. Tidak hanya mendapat suntikkan dana dari keluarga Hyuuga, kali ini panti asuhan himawari juga akan mendapatkan suntikkan dana dari keluarga Namikaze.

oooOOSoulmateOOooo

.

.

"Lee, Shino, bisa tinggalkan aku berdua saja dengannya?" tanya Tenten. Saat ini; ia, Lee, dan Shino sedang menjenguk Naruto.

"Kenapa kami harus membiarkan kalian berdua saja?" tanya Shino.

"Aku ingin bicara dengannya!"

"Memangnya tidak bisa di depan kami?" sambung Lee.

"Bisa saja sih, tapi aku tidak yakin kalian bisa menjaga rahasia."

"Jangan-jangan kau menyukai Naruto! Tapi karena dia menyukai Sakura-san... selama ini kau pura-pura tidak menyukainya!" kata Lee pula.

"Hey, orang bodoh! Apa aku terlihat menyukainya?"

"Entahlah."

"Naruto bukan type Tenten. Jadi dia tak mungkin menyukainya. Aku tahu cowok idamannya seperti apa."

"Kau dengar itu, Lee?"

"Memangnya type cowoknya seperti apa?"

"Sekarang panti asuhan himawari sudah menjadi panti asuhan yang besar berkat suntikkan dana dari keluarga Hyuuga. Kau masih ingat anak yang bernama Neji Hyuuga? Hari itu dia datang bersama Hiasi-san!"

"Ya. Aku ingat."

"Seperti itulah cowok idaman Tenten; cerdas, tampan, tegas, dan berkarisma."

Mendengar perkataan Shino tersebut, Tenten langsung blushing.

"Ah, rupanya kau menyukai Hyuuga Neji? Ciee, Tenten!" goda Lee.

"Urusai!" teriak Tenten.

"Apa yang akan kau katakan pada Naruto? Katakan saja disini! Kami pasti akan menjaga rahasia!"

"Baiklah, akan aku katakan di depan kalian!"

Tenten kembali mengalihkan pandangannya pada Naruto. Ia masih sama seperti sebelumya. Tidak ada perubahan yang berarti. Hal itu membuat teman-temannya semakin sedih. Mereka ingin sekali Naruto cepat siuman.

"Naruto, meski kau belum juga membuka mata... Aku yakin kau pasti bisa mendengar suara kami. Beberapa hari yang lalu seseorang datang ke toko kita. Ia menanyakan tentangmu. Akulah yang memberitahunya mengenai kondisimu."

"..."

"Hari itu orang itu bertanya, apa aku kenal dengan Nerro Namikaze?"

"..."

"Awalnya aku mau bilang tidak karena aku memang tidak tahu nama itu, tetapi aku ingat... dulu saat aku berkenalan denganmu, kau bilang namamu adalah Nerro. Aku pun meminta orang itu menunjukkan foto orang yang dia maksud dan ternyata itu memang kau."

"Ha? Jadi Naruto masih memiliki keluarga?" tanya Lee dan Shino bersamaan.

"Ya. Keesokan harinya aku pergi ke warnet untuk mencari informasi mengenai keluarga Namikaze. Kalian tau, ternyata sahabat kita ini adalah anak orang kaya. Perusahaan ayahnya adalah salah satu perusahaan terbesar di Jepang."

"EH? BENARKAH?" kaget Lee.

"Aku juga menemukan foto keluarga mereka. Itu memang Naruto dan dia memiliki saudara kembar."

"Aku tak pernah membayangkan ada orang yang sama dengannya." sambung Shino.

"Kami senang karena keluargamu sudah menemukanmu. Itulah sebabnya kau harus cepat siuman, mengerti?!"

"Apa Sakura-san sudah tahu soal ini?" tanya Lee.

"Belum. Aku ingin memberitahunya secepatnya tapi ponselnya sulit sekali dihubungi."

"Dia pasti sedang bersenang-senang di Okinawa. Kau bisa menghubunginya lagi setelah dia kembali." Kata Shino, dan Tenten pun mengangguk.

.

.

.

Liburan di Okinawa tetap menyenangkan seperti biasanya. 90% populasi koral Jepang ada di sini. Kondisi alam Okinawa menyebabkan pulau ini kaya akan hasil laut sehingga penduduk asli Okinawa sangat mejaga kebersihan perairannya, sebab mereka sangat bergantung akan hasil laut tersebut. Kepercayaan penduduk sana adalah, jika kita menjaga kebersihan laut dan alam sekitar, maka laut juga akan memberikan hasil laut yang baik dan melimpah bagi mereka.

Hubungan yang erat antara penduduk dan lingkungannya sampai-sampai diabadikan dalam sebuah festival tahunan, dimana anak-anak berkostum ala binatang-binatang laut seperti kostum ikan, kepiting, cumi-cumi, udang, dan sebagainya, menari seirama dengan penuh sukacita. Seringpula diadakan lomba olahraga air, seperti adu cepat balap kapal menggunakan kayuh. Hal ini tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang berlibur kesana, selain dapat menikmati pemandangan, kuliner okinawa dan kebudayaannya juga dapat membuat pikiran menjadi segar kembali.

Kemarin Sakura dan yang lainnya mengunjungi objek-objek wisata terkenal di Okinawa. Mereka juga sudah menonton festival kebudayaan Okinawa, wisata kuliner, dan juga pergi berbelanja. Dan hari ini panitia menyewa kapal pesiar yang cukup mewah. Sepanjang perjalanan, semua orang melakukan kegiatan yang berbeda. Ada yang memancing, sekedar santai, dan adapula yang mengambil banyak foto; baik itu foto pemandangan maupun foto-foto dirinya sendiri, bahkan ada juga beberapa orang yang mabuk laut. Malam harinya mereka mengadakan barbeque party. Setelahnya ada pesta dansa. Dalam pesta tersebut ada orang-orang yang menari tango, salsa, dan lain sebagainya.

.

Hari-hari di Okinawa terasa berjalan dengan cepat. Tanpa terasa lima hari berlalu begitu saja. Sayangnya pada kesempatan ini, Ino dan Hinata masih belum juga berbaikan.

"Ino, kau benar-benar tidak ingin berbaikan dengan Hinata?"

"Tidak dan tidak akan pernah!"

"Ino..."

"Sudahlah, ini masalah kami. Jadi kau tidak perlu ikut campur, Sakura!"

"Ya, aku mengerti. Dua jam lagi pesawat kami akan segera berangkat, aku harus siap-siap!" kata Sakura yang kemudian mengemasi barang-barangnya.

"Sakura, kau benar-benar akan pulang lebih awal?"

"Ya. Maafkan aku, Ino!"

"Aku benar-benar tidak ingin hanya berdua saja dengan Hinata di kamar ini! Bisakah kau tidak pergi?"

"Tidak bisa!"

"Biarkan saja Menma-kun pulang sendiri. Kau pulang bersama kami saja!"

"Aku tidak bisa membiarkannya pulang sendirian. Aku tidak ingin dimarahi Kushina-san!"

"Apa ibunya Menma-kun segalak itu?"

"Yup. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaanku, Ino. Tidak sepertimu... aku harus mencari uang sendiri!"

"Aku mengerti!"

"Terimakasih atas pengertianmu. Aku pamit, ya?!"

"Mmm, hati-hati di jalan!"

"See ya!"

Setelah Sakura pergi, Ino benar-benar merasa bosan. Ia pun pergi ke balkon dan melihat pemandangan laut dari sana. Ia kembali ke kamar untuk membawa camera digitalnya dan kembali lagi ke balkon untuk mengambil gambar. Pemandangannya benar-benar sangat indah. Pada hari sebelumnya ia dan Sakura juga sudah mengambil banyak gambar. Bagi Ino, liburannya kali ini adalah liburan yang paling menyenangkan sekaligus mengesankan, apalagi kemarin ia juga mendapatkan foto-foto Sasuke. Ino tersenyum. Ia benar-benar merasa bahagia. Namun ia kembali murung, hari-hari terakhir di Okinawa tanpa Sakura, apakah akan sama menyenangkannya? Sakura adalah sahabat terbaiknya. Ia tidak terlalu akrab dengan teman-teman sekelasnya yang lain.

"Yah, setidaknya masih ada Sasuke-kun!" gumamnya.

oooOOSoulmateOOooo

.

.

Sakura berdiri di depan jendela. Hari ini pun langit terlihat cerah. Ia yakin cuaca di luar pasti sangat panas. Sakura menutup jendela lalu mengalihkan pandangannya pada Naruto. Naruto masih serius membaca komik. Ia pun menghampiri Naruto.

"Hey, kenapa daritadi kau terlihat santai sekali? Sebentar lagi kau akan kemoterapi. Aku tak menyangka kau bisa setenang ini!"

"Sejujurnya hatiku tidak tenang sama sekali. Bagaimana rasanya kemoterapi itu, ya? Ini pertama kalinya bagiku. Aku sedikit takut." kata Naruto yang kemudian menutup komiknya.

"Merasa takut itu tidak seperti dirimu!"

"Menurutmu seperti apa rasanya? Apa menyakitkan?"

"Jangan tanya aku. Aku sama sekali tidak tahu."

"Setidaknya kau harus memberiku semangat, Sakura-chan!"

"Bagaimana aku bisa melakukan itu, sementara hatiku merasa cemas?"

"Bagaimana kalau kau cium aku?"

"Jika aku menciummu, apa kau akan kembali bersemangat?"

"Tentu saja."

"Baiklah, aku akan menciummu! Pejamkan matamu!"

Naruto tersenyum lalu memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian, ia merasakan sentuhan bibir Sakura di bibirnya. Tidak hanya itu, Sakura juga memeluknya.

"Ganbatte! Kau pasti bisa melewatinya!"

"Arigatou, Sakura-chan."

Sakura melepaskan pelukkannya dan tersenyum. Tidak lama kemudian, Kushina datang. Ia tersenyum.

"Kau sudah siap?" tanyanya.

"Aku sudah siap, kaa-san!"

"Kalau begitu kaa-san akan mengantarmu ke ruang kemoterapi! Sakura, kau mau ikut?"

"Tidak, Kushina-san. Ada seseorang yang ingin aku jenguk."

"Siapa?"

"Ano, dia—"

"Pacarmu?" potong Kushina.

"Ya."

"Sayang sekali kau sudah punya pacar. Padahal aku menyukaimu dan aku ingin kau bisa pacaran dengan Menma."

"Menma-kun adalah sahabatku. Rasanya aneh jika menjadikannya pacar."

"Aku mengerti. Jadi pacarmu juga sedang dirawat di rumah sakit ini?"

"Ya."

"Semoga pacarmu cepat sembuh! Kami pergi dulu!" pamit Kushina yang kemudian pergi diikuti Naruto di belakangnya. Naruto menoleh dan tersenyum kepadanya. Sakura membalas senyumannya dan kembali memberinya semangat.

"Fighting!"

.

.

Sakura berjalan menuju bangsal tempat tubuh Naruto dirawat. Ia benar-benar merasa cemas. Tidak lama kemudian Sakura sudah sampai di depan pintu. Ia pun memegang handle pintu dan membukanya. Setelah masuk Sakura menutup pintu itu kembali. Ia berjalan pelan ke arah ranjang sambil terus menunduk menatap lantai.

"Ohaiyo!"

Sakura tersentak kaget mendengar suara seseorang yang menyapanya. Ia pun mengangkat wajahnya. Seseorang yang menyapanya tersenyum kepadanya.

"Menma-kun? Ka-kau sudah sadar? Sejak kapan?"

"Kemarin. Apakah kau Sakura-san?"

"Ha'i. Namaku Sakura Haruno! Salam kenal!"

"Salam kenal juga, Sakura-san!"

"...tapi bagaimana kau tahu kalau aku adalah Sakura?" tanyanya sambil berjalan mendekati Menma.

"Aku hanya menebak dari warna rambutmu."

"Eh?"

"Ada apa dengan Sakura-san hari ini? Kau terlihat lesu!"

"Ah, tidak apa-apa. Ano, Menma-kun saat kau koma, apa kau mendengar semua yang kami katakan?"

"Hmm, aku bisa mendengarnya walaupun tidak semua."

"Jadi kau juga sudah tahu, kalau tubuhmu dan tubuh Naruto tertukar?"

"Aku tahu. Awalnya aku tidak percaya dengan yang kalian katakan. Ini benar-benar tidak masuk akal. Tetapi ketika aku tersadar, ternyata ini memang bukan tubuhku."

"Lalu bagaimana dengan keadaanmu?"

"Aku merasa lebih baik daripada kemarin. Tapi karena aku tertidur cukup lama, aku masih belum bisa turun dari tempat tidur."

"Setelah menjalani masa pemulihan, otot-otot tubuhmu pasti akan kembali berfungsi dengan normal. Kau tidak perlu khawatir!" Kata Sakura sambil tersenyum.

"Duduklah disini, Sakura-san!" kata Menma. Sakura menurut dan segera duduk di tempat biasa ia duduk.

"Ano, saat kau siuman... siapa orang pertama yang kau lihat?"

"Otou-san."

"Maksudmu, Minato-san?"

"Ya."

"Ke-kenapa ia bisa ada disini? Ma-maksudku, saat ini kau sedang berada dalam tubuh Naruto!"

"Sesungguhnya Naruto adalah Nerro, adik kembarku."

"APA?"

Sakura terbelalak kaget. Ia tidak percaya dengan pendengarannya. Sejujurnya ia sama sekali tidak mengharapkan ini. Namun Sakura sadar inilah keajaiban yang Naruto harapkan sejak dulu. Sebuah keluarga. Naruto pasti akan sangat bahagia mendengar hal ini. Tidak seharusnya ia merasa keberatan. Kenapa ia tidak menyadarinya? Harusnya sejak awal dia sadar, bahwa ada begitu banyak kemiripan diantara Naruto, Menma, Minato, dan juga Kushina.

"Otou-san berhasil menemukannya!"

"Ti-tidak mungkin!"

"Surat itu adalah buktinya." Kata Menma sambil menunjuk sebuah amplop di atas meja.

Sakura masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia kemudian mengambil amplop tersebut dan membaca surat di dalamnya.

"Ini?"

"Itu hasil test DNA otou-san dengan Nerro. Ia bilang ia melakukan test itu satu minggu yang lalu."

"99,99% positif. Jadi Naruto, dia benar-benar saudara kembarmu?"

"Ya."

Sakura meneteskan air mata. Tentu ia sangat senang karena ternyata Naruto masih memiliki keluarga. Ia benar-benar bersyukur pada Kami-sama. Hanya saja, di satu sisi Sakura masih kaget dan tak percaya bahwa hal kebetulan seperti ini bisa terjadi. Dan masih ada satu hal yang mengganggunya.

"Aku pikir kalau Menma-kun sudah siuman, kalian berdua akan kembali ke tubuh kalian masing-masing, tapi kenapa hal itu tidak terjadi?"

"Ya. Aku juga tidak mengerti. Aku ingin sekali segera kembali ke tubuhku sendiri. Aku tidak mau Nerro menderita karena menjadi aku."

Sakura bisa melihat ekspresi sedih dan menyesal di wajah Menma. Akhirnya ia sadar betapa Menma sangat menyayangi Naruto. Kalau sudah begini, ia tidak tega juga jika harus melarang Naruto mendonorkan sum-sum tulang dan organ ginjalnya untuk Menma. Ia yakin Naruto sendiri juga pasti akan semakin bersikeras mendonorkan organnya setelah ia tahu kenyataan ini.

'Kau benar-benar kakak yang baik, Menma-kun?'

"Menurutmu adakah cara agar kami bisa kembali ke tubuh kami masing-masing?"

"Pasti ada. Hanya saja aku tidak tahu caranya."

"Kalau begitu kita harus mencari tahu. Aku benar-benar harus kembali ke tubuhku secepatnya."

"Doushite?"

"Waktuku sudah tidak banyak. Dan Nerro tidak boleh terus-menerus menjadi aku. Aku ingin dia menikmati indahnya dunia ini, lebih lama daripada aku. Dia tidak boleh mati sebagai aku."

"Menma-kun, kenapa kau bicara begitu? Kau pasti sembuh!"

"...tapi dokter bilang—"

"Mereka bukan Kami-sama! Bagaimana bisa kau begitu mempercayai vonis mereka?" potong Sakura.

"Aku tahu seperti apa kondisi tubuhku sendiri. Itulah sebabnya aku—"

"Meski begitu kau tidak boleh menyerah! Naruto, dia adalah Nerro! Itu berarti dia bisa menyelamatkanmu! Bukankah begitu?" potong Sakura setengah berteriak.

Entah kenapa Sakura jadi kesal. Ternyata dugaannya benar, Menma benar-benar sudah seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Sekarang ia mengerti mengapa tubuh mereka sampai tertukar. Semua ini pasti rencana Kami-sama agar semangat hidup Menma kembali dan Naruto bisa bersatu lagi dengan keluarganya.

"Aku tidak ingin dia berkorban untukku!"

"Oke, kita lihat saja nanti, siapa yang paling keras kepala diantara kalian berdua?!" tegas Sakura.

"Kelihatannya kau sangat mengenalnya. Kau mencintainya, benar kan?"

"Ya. Aku sangat mencintainya!"

"Dimana Nerro sekarang? Aku ingin sekali bertemu dengannya!"

"Dia sedang menggantikanmu kemoterapi."

"Pasti berat menjadi aku."

"Sejujurnya ini adalah yang pertama kali untuknya, makanya aku merasa cemas. Ne, Menma-kun! Seperti apa rasanya kemoterapi?"

"Sakit."

"Hah?"

"Rasanya menyakitkan dan melelahkan. Saat obat-obatan kimia itu masuk ke dalam tubuhku, aku bahkan tidak bisa untuk sekedar berteriak. Aku hanya bisa meringis di dalam hati. Dan biasanya selesai kemo, selama tiga hari aku hanya menghabiskan waktuku di tempat tidur dan toilet."

"Toilet?"

"Usai kemo, aku benar-benar merasa mual. Tubuhku rasanya lemas sekali... tapi muntah di tempat tidur itu sangat menjijikkan. Jadi selemas apapun tubuhku, setiap kali aku merasa mual aku pasti langsung berlari ke toilet."

"Baka! Padahal suster pasti menyediakan peralatan untuk menampung muntahmu, kan? Harusnya kau tidak perlu memaksakan diri!"

"Sudah kubilang itu menjijikan. Jadi aku tidak pernah mau muntah disana."

"Bagaimana dengan muntah darah? Apa kau pernah muntah darah sebelumnya?"

"Ya. Sesekali hal itu terjadi."

"Apa kau memuntahkannya di toilet juga?"

"Kalau itu tergantung keadaan. Muntah darah itu selalu terjadi tiba-tiba. Belum sempat ke toilet, aku sudah memuntahkannya duluan! Biasanya setelah itu aku langsung tidak sadarkan diri."

"Kau pasti menderita?" tanya Sakura. Dan kali ini Sakura bisa melihat Menma tersenyum.

"Tidak juga! Soalnya aku sudah terbiasa!"

'Ya, Tuhan! Ternyata Menma-kun lebih kuat dari yang aku duga!'

"Kurasa kita sudah berbicara banyak. Sebaiknya kau istirahat, Menma-kun!"

"Bukankah kau pernah bilang, masih banyak hal yang ingin kau tanyakan kepadaku?"

"Kita bisa melanjutkannya di lain waktu. Istirahatlah, Menma-kun!"

"Kau sama cerewetnya dengan dokter dan suster."

"Wah, kalian benar-benar saudara kembar! Naruto juga sering berkata begitu, setiap kali aku menyuruhnya untuk istirahat."

"Benarkah?"

"Yup. Ngomong-ngomong apa Minato-san tahu kalau tubuh kalian tertukar?"

"Tidak. Tou-san bahkan tidak terlihat curiga sedikit pun."

"Ya, kalau dipikir-pikir, orang seperti Minato-san tidak mungkin mempercayai hal-hal semacam ini. Biar bagaimana pun, ini benar-benar tidak masuk akal!"

"Ya."

"Istirahatlah, Menma-kun! Aku tidak akan mengganggumu lagi! Tapi aku masih boleh tinggal disini, kan?"

"Silakan! Mau membaca beberapa buku?" tanya Menma pula.

"Memang buku apa saja yang kau punya?"

"Yah, ada beberapa buku yang tou-san bawa kesini untuk dia baca sendiri. Bukunya di dalam laci. Pilih saja buku yang paling kau sukai."

"Kalau itu milik Minato-san, aku tidak tertarik. Paling buku bisnis semua. Aku mau mendengarkan musik saja." kata Sakura yang kemudian berjalan ke arah sofa. Setelah duduk di sofa tersebut, Sakura memakai headset lalu menyetel musik dari ponselnya.

Menma tersenyum melihat tingkah Sakura. Setelah itu, ia mengambil kertas-kertas origami dari bawah bantalnya dan mulai membuat beberapa macam origami; dari mulai bangau kertas, kucing, bunga tulip, dan juga lotus. Tidak lama kemudian, baik Sakura maupun Menma, keduanya tertidur.

oooOOSoulmateOOooo

.

.

Sakura terbangun dari tidurnya untuk yang kesekian kalinya. Lagi-lagi ia mendengar suara keran air yang menyala dari dalam toilet. Sakura yakin, di dalam sana Naruto pasti sedang muntah-muntah lagi. Tadi siang ia sengaja menawarkan diri untuk menginap di rumah sakit agar hari ini Kushina bisa beristirahat di rumah. Sakura melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ia kemudian beranjak dari sofa, lalu terus berjalan hingga akhirnya ia tiba di depan pintu toilet. Ia pun mengetuk pintu toilet tersebut.

"Naruto! Kau sedang apa? Apa kau muntah-muntah lagi? Tidak bisakah kau tidak mengunci pintunya?"

Sakura kembali mengetuk pintu tersebut namun Naruto tidak juga menjawab pertanyaannya. Ia benar-benar khawatir.

"Naruto! Jika kau tak juga membuka pintu ini, aku tak akan segan-segan untuk membukanya secara paksa!" lanjut Sakura dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.

Selang beberapa menit kemudian, Naruto membuka pintu tersebut. Dihadapan Sakura, Naruto berdiri dengan wajah yang sangat pucat. Keringat dingin pun membanjiri wajahnya. Ia tersenyum tipis pada Sakura dengan nafas yang tak beraturan. Untuk yang kesekian kalinya ia berlari ke toilet dan memuntahkan seluruh isi perutnya ke dalam washtafel karena ia merasa sangat mual. Ia yakin Sakura pasti sangat khawatir.

Sakura mengigit bibir bawahnya. Dia tak tega melihat kondisi Naruto yang terus-menerus seperti ini, setelah ia selesai kemoterapi tadi pagi. Dia pun mencium kening Naruto, lalu menyodorkan dua buah permen mint.

"Makanlah, percaya padaku kau akan merasa lebih baik!"

Naruto menerima permen itu, lalu tersenyum pada Sakura.

"Arigatou." ujarnya yang kemudian memakan permen tersebut.

Sakura membalas senyum Naruto, lalu menyentuh dahi Naruto.

"Kau demam. Ayo, kau harus kembali ke tempat tidur!"

"Nanti saja, Sakura-chan. Aku masih mual."

"Kalau kau mau muntah lagi tidak perlu repot-repot ke toilet, kan di atas mejamu itu sudah tersedia baskom berukuran sedang dan juga baskom kecil."

"Sakura-chan, kalau aku muntah disana itu akan sangat menjijikan!" sanggah Naruto.

'Kalian berdua benar-benar saudara kembar yang kompak!'

"Tak apa. Aku akan membersihkannya nanti. Cepatlah, kau harus istirahat!" paksa Sakura sambil memapah Naruto menuju tempat tidurnya.

Sakura duduk di kursi. Ia pun meguap karena masih merasa ngantuk.

"Jangan tidur disini, Sakura-chan! Nanti badanmu pegal-pegal!"

"Itu tak masalah bagiku. Kubilang cepat kau tidur!"

"Iya, kau ini benar-benar sama cerewetnya dengan dokter Tsunade dan suster Hanare."

"Kalau kau tidak tidur juga, aku benar-benar akan membunuhmu, Naruto!" ancam Sakura.

"Iya." Kata Naruto yang kemudian memejamkan matanya.

Sakura terus memperhatikan wajah Naruto untuk memastikan apa Naruto sudah benar-benar tertidur. Sakura mengambil baskom kecil untuk diisi dengan air. Setelah ia kembali dari toilet, ia pun segera membasahi handuk kecil untuk mengompres Naruto. Belasan menit pun berlalu, tetapi tiba-tiba saja Naruto bangkit dari posisi berbaringnya.

"Doushite? Apa kau mimpi buruk?" tanya Sakura.

"Aku mual lagi, Sakura-chan!"

Sakura pun segera menyodorkan baskom berukuran sedang pada Naruto. Namun Naruto malah menggelengkan kepalanya.

"Kali ini aku benar-benar tidak akan membiarkanmu pergi ke toilet!" tegas Sakura sambil melotot.

Akhirnya Naruto terpaksa menuruti Sakura. Ia kembali muntah-muntah dan Sakura terus menepuk-nepuk punggung Naruto.

"Menma selalu seperti ini, kan? Dia pasti lelah!" ujar Naruto dengan suara lirih.

"Ya, kurasa juga begitu. Ayo tidur lagi! Kau harus istirahat!"

"Gomennasai." sambung Naruto masih dengan suara yang lirih.

"Untuk apa?"

"Soalnya aku selalu merepotkanmu, Sakura-chan."

"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan olehmu karena aku mencintaimu." Kata Sakura sambil memamerkan senyumnya.

"Aku juga mencintaimu, Sakura-chan." Naruto membalas senyuman Sakura dan mulai mencoba memejamkan matanya.

"Naruto, bisakah lain kali kau tidak usah mengucapkan kata maaf?"

"Doushite? Kau menyukai quote dalam kutipan film Love Story, ya? Cinta tidak pernah mengucapkan kata maaf!"

"Bukan itu maksudku, baka! Mulai sekarang kau harus mengubah kata gomen dengan arigatou!"

"Baiklah. Arigatou."

"Istirahatlah!" kata Sakura.

"Ngomong-ngomong Sakura-chan, hari ini kau terlihat sedikit aneh. Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"

"Aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Aku hanya menunggu moment yang tepat."

"Apapun itu aku ingin kau mengatakannya sekarang, Sakura-chan!"

"Yah, kurasa memang sebaiknya aku katakan sekarang. Tunggu sebentar!" kata Sakura yang kemudian mengambil tasnya. Lalu mengeluarkan sebuah amplop dan menyodorkannya pada Naruto.

"Apa ini?" tanyanya.

"Hasil test DNA kau dengan Minato-san. Untuk lebih jelasnya kau bisa lihat sendiri."

Naruto masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh Sakura. Kenapa Minato-san harus melakukan test DNA dengannya? Tetapi karena penasaran ia pun mengeluarkan surat itu dari amplopnya. Naruto tampak terkejut setelah membaca hasil test DNA tersebut.

"99,99% positif. Apa maksudnya ini?"

"Sudah jelas, kan? Naruto kau adalah Nerro!"

"Ti-tidak mungkin! Aku sama sekali tidak memiliki ingatan tentang mereka."

"Bukan tidak punya. Mungkin kau lupa... saat itu kau kan masih sangat kecil, Naruto!"

"...tapi mungkin saja hasil test DNA ini salah!"

"Kurasa itu juga tidak mungkin. Harusnya kau merasa bahagia Naruto, karena ternyata kau masih memiliki keluarga."

"Kalau aku memang Nerro... lantas kenapa mereka membuangku?"

"Mungkin mereka tidak membuangmu. Mereka mungkin terpaksa menitipkanmu ke panti asuhan karena masalah ekonomi. Mungkin saja saat kau masih kecil, kau hilang atau diculik orang. Bukankah itu yang selama ini kau pikirkan mengenai orang tua kandungmu?"

"Mereka orang kaya, jadi alasan kedua kurasa tidak berlaku lagi."

"Yah, apapun itu Naruto, nanti kau pasti akan mendapatkan jawabannya! Sekarang kau harus istirahat! Rileks dan jangan pikirkan apapun lagi, okay?"

"Ya, kau benar. Saat ini aku butuh istirahat. Selamat tidur, Sakura-chan!"

"Hmm, oyasumi."

Bulir-bulir bening berjatuhan membasahi pipi Sakura setelah Naruto benar-benar tertidur. Ia mengerti, seperti kata Menma, pasti berat menjadi dirinya, tetapi ia sudah memutuskan untuk tidak memperlihatkan airmatanya kepada Naruto. Sakura menghapus jejak-jejak air matanya. Menghela nafas panjang, ia lalu mengambil baskom berukuran sedang yang kini sudah penuh itu dan membawanya ke kamar mandi, kemudian dibersihkannya.

"Dia muntah sebanyak ini. Tubuhnya pasti lemas sekali." gumam Sakura.

Sakura kembali menghampiri Naruto. Ia pun mengompres kening Naruto lagi, berharap besok pagi suhu tubuh Naruto kembali normal.

.

.

Keesokan harinya, saat Naruto terbangun dari tidurnya, ia merasakan seseorang menggenggam erat tangannya. Rupanya Sakura yang menggenggam tangannya.

"Ya ampun! Kau benar-benar tidur disini?" kata Naruto. Ia pun membangunkan Sakura.

Merasakan sentuhan Naruto di pipinya dan juga mendengar bisikannya, Sakura pun langsung terbangun. Tubuhnya terasa pegal karena tertidur dalam posisi yang tidak nyaman, tetapi Sakura tidak ingin menunjukannya pada Naruto. Ia pun tersenyum.

"Ohaiyo!"

"Kenapa kau tidur disini, Sakura-chan?"

"Mau bagaimana lagi? Aku ketiduran!"

"...tapi—"

Perkataan Naruto terhenti karena ia mendengar suara gesekan pintu. Ternyata Kushina yang datang. Kushina pun langsung menghampiri mereka.

"Menma, bagaimana perasaanmu hari ini?"

"Aku sudah merasa lebih baik. Kaa-san tidak perlu khawatir."

"Jangan bohong! Aku tahu tubuhmu masih terasa lemas!"

"Sakura-chan..."

"Benarkah?" tanya Kushina tampak cemas.

"Sudahlah Kaa-san, itu tidak usah dibahas! Kaa-san, ada hal penting yang ingin aku tanyakan!"

"Apa itu? Kenapa kau terlihat serius sekali?"

"Kaa-san, seandainya Tou-san sudah menemukan Nerro... siapa yang akan lebih Kaa-san utamakan? Aku atau Nero?"

"Tentu saja kau, Menma!"

'Kushina-san keterlaluan!' pikir Sakura yang langsung mengalihkan pandangannya pada Naruto.

Sakura menggigit bibir. Naruto benar-benar terlihat kecewa. Tiba-tiba saja Naruto tertawa kecil.

"Kaa-san keterlaluan! Aku menceritakan situasi dimana puteramu yang selama ini hilang, akhirnya kembali... tapi tanpa pikir panjang kaa-san langsung menjawab 'aku'. Doshite? Apa karena aku sakit? Kalau Nerro mendengar ini dia pasti akan sangat kecewa!"

"Kenapa kau berpikir begitu? Kau bahkan bukan Nerro!"

"Nerro adalah setengah dari diriku. Tentu saja aku tahu bagaimana perasaannya. Tidakkah kaa-san berpikir, betapa Nerro membutuhkan kalian selama ini? Selama ini dia mungkin kesepian dan sering mengalami kesulitan... tetapi tampaknya kaa-san sama sekali tidak peduli!"

Sakura reflek menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Saat ini Naruto benar-benar terlihat marah. Mendengar Naruto berkata seperti itu, ia ingin sekali menangis. Namun ia harus menahan air matanya. Ia tidak ingin membuat Naruto semakin sedih karena melihatnya menangis.

"Dia mungkin iri padaku yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah. Selama ini aku sudah sering mendapatkan perhatian dan kasih sayang kalian, tetapi Nerro... kalaupun ia merasa bahagia hidup bersama orang-orang disekitarnya, ia pasti masih merasa ada yang kurang. Ia mungkin merasa hampa tanpa orang tua. Sepertinya kaa-san sama sekali tidak menyayanginya!"

"Bukan begitu Menma, Kaa-san hanya—"

Perkataan Kushina terhenti karena pintu tiba-tiba saja terbuka dan memunculkan sosok Minato. Minato yang merasa aneh dengan suasana saat ini pun langsung bertanya.

"Apa yang terjadi?"

"Otou-san, kau datang diwaktu yang tepat. Ada satu hal yang ingin aku tanyakan?"

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Tou-san seandainya Nerro sudah ditemukan, siapa yang akan lebih kau utamakan? Aku atau Nerro!"

"Sudah jelas, kan? Tentu saja Nerro!"

Sakura dan Naruto sama-sama terkejut. Mereka benar-benar tidak menyangka dengan jawaban Minato. Naruto yang sudah tidak sanggup menahan perasaannya akhirnya meneteskan air mata.

"Sekarang aku mengerti, mengapa tou-san baru menjengukku sekarang? Doushite? Kenapa Tou-san lebih memilih Nerro daripada anakmu yang sakit ini?" tanya Naruto. Dilihatnya Minato tersenyum.

"Dengar, rasa sayang tou-san padamu dan Nerro itu sama besarnya, tapi tou-san sangat merindukan adikmu. Jadi sebagai kakaknya, kau jangan iri ya... jika aku lebih mengutamakannya?! Lagipula sejak kecil kau sudah mendapatkan banyak perhatian dan kasih sayang yang berlimpah dari kami. Dan sekarang giliran Nerro. Aku ingin menebus semua waktu yang selama ini kita lewatkan tanpa Nerro. Bukan hanya kau yang membutuhkan kami... Nerro juga pasti membutuhkan kami."

Mendengar perkataan Minato tersebut, tangis Naruto pun pecah, begitu juga dengan tangis Sakura. Mereka benar-benar merasa bahagia. Keduanya jadi semakin mengagumi Minato.

"Menma, ada apa? Kenapa tiba-tiba kau menangis? Kau jadi terlihat seperti Nerro! Sakura-chan juga, kenapa kau ikut menangis?"

"Memang aku tidak boleh menangis?" tanya Naruto.

"Doushite? Kau marah karena tou-san bilang begitu?"

"Tidak. Aku justru bahagia karena aku yakin Nerro juga pasti akan sangat bahagia mendengarnya!"

'Arigatou, Minato-san. Aku benar-benar bisa merasakan ketulusanmu.' kata Sakura dalam hati.

"Kushina, kenapa kau diam saja?" tanya Minato. Ia benar-benar heran karena biasanya Kushina sangat cerewet.

"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit kesal karena kau tiba-tiba saja datang sebelum aku menyelesaikan perkataanku."

"Oh, gomen. Kalau begitu kau bisa melanjutkannya sekarang!"

"Yah, tadi aku ingin bilang... Maksudku bukan itu, aku hanya merasa lebih berat pada Menma, tapi sebenaranya aku sangat menyangi kedua puteraku. Menma, kau harus mengerti! Aku adalah seorang ibu... itulah kenapa aku seperti ini."

"Ya, kaa-san benar. Gomennasai... tadi aku hanya sedikit emosi."

"Tidak apa! Kaa-san tau kalau kau sangat menyayangi adikmu!"

oooOOSoulmateOOooo

.

.

Naruto sudah merasa lebih baik. Namun ia bosan karena Sakura belum mengunjunginya. Sepertinya Sakura belum pulang sekolah. Ia pun memutuskan untuk jalan-jalan ke taman belakang rumah sakit. Saat Naruto tengah duduk disebuah bangku panjang dan menikmati semilir angin, sebuah pesawat kertas terbang ke pangkuannya. Naruto pun mengambil pesawat kertas itu.

'Siapa yang melempar pesawat kertas ini?' pikir Naruto.

Naruto menangkap sebuah tulisan yang entah kenapa menarik perhatiannya. Ia pun membongkar pesawat kertas itu untuk bisa membaca apa yang tertulis di dalamnya. Rupanya itu adalah sebuah puisi. Naruto merasa familiar dengan bentuk tulisan yang saat ini tengah dibacanya.

.

.

Begitu dalam nafas ini mereguk kehidupan

Begitu indahnya warna dari kehidupan, dan

Begitu usang hidupku dalam kehidupan

.

Kehidupan memberiku cinta, kasih, dan sayang

Kehidupan memberiku duka, lara, dan bahagia

Kehidupan pulalah yang memberiku hidup, tapi...

Sudahkah aku memberi arti untuk kehidupan?

.

.

"Apa maksudnya?" gumam Naruto heran. Ia benar-benar tidak mengerti apa maksud puisi ini.

Saat ia masih memutar otak untuk bisa mencerna makna dari puisi tersebut, sebuah pesawat kertas yang lain kembali terbang ke arahnya, lalu terjatuh dibawah kakinya. Naruto pun memungut pesawat kertas tersebut dan membongkarnya kembali. Kali ini kertas tersebut menuliskan sebuah quote yang benar-benar menyentuh hatinya.

.

This world is like a dark night that swallows everything

But since you come into my life and you were so kind to find me

I don't need friend or status anymore

I only need to have you by my side

I Love you, Hinata-chan...

.

"Hinata-chan?"

Naruto yang semakin heran karena ia melihat nama Hinata dalam kertas tersebut, lekas memperhatikan sekelilingnya. Dan ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya, saat tatapan matanya menangkap sosok seseorang yang sangat ia kenal, sosok yang sangat mirip dengannya. Sosok itu berdiri beberapa meter darinya dan tengah menerbangkan sebuah pesawat kertas.

Sosok itu nampak sedih karena kali ini pesawat kertasnya tidak terbang jauh, melainkan malah kembali kepadanya seperti sebuah bumerang yang setiap dilempar selalu kembali ke tempat si pelempar. Tiba-tiba angin kencang berhembus, pesawat kertas itu pun terbuka dan menampilkan sebuah tulisan,

.

Kuharap waktuku cukup untuk melihatnya hidup bahagia...

.

Angin itu juga membuat rambut dan piyama pasien yang mereka kenakan bergoyang. Dan saat itulah tatapan mereka bertemu.

"Tu-tubuhku? Menma?"

"Nerro..."

.

.

_TBC_

.

.

Minna-san, gomen karena saya tidak sempat membalas review-review kalian pada chapter sebelumnya, tapi semua review kalian udah Muki baca, kok. Arigatou na, minna. Nah, minna-san, untuk chapter kali ini, mind to review? Review please and No Flame! Arigatou. ^^