Hay hay hay, saya kembali buat ngelanjutin fict aneh bin ancur saya yang berjudul Maetantei Naruto.

Terimakasih buat yang udah ngebelain buat ngereview fict saya ini. Dan ya, seperti biasa saya akan membalas yang udah ngeriview fict ini.

Dan inilah balasan reviewer;

Himynameischaca: Aduuh makin suka ya? Padahal Aoyama makin bingung #hammer XD. Wah hebat chaca-senpai bisa segitu telitinya #matabelo. yosh ini diapdet lagi ;)

Laila Sakatori: Saya juga gak tahu kenapa saya bisa-bisanya masukin SasuSaku #bingung? Maaf atas typo yang tidak menyamankan ini #sorry ^^v. Apa ya musuhnya si Naruto? Mahluk haluskah? Saya sendiri juga bingung hehe :d

AKA: mungkin 3, mungkin juga lebih, atau bahkan se-RT hehehe :D, Kenapa ya gak boleh SasuSaku? apa harus AkaSasu? Soal jejak sepatu gak dikasih ke tim forensik, Naruto punya alasan tersendiri :cool

B.C: Ini udah update! :D

Itulah balasan yang udah ngereview fict saya.

Dan dengan bangga saya mempersembahkan...

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Naruto:
Masashi Khisimoto

Meitantei Naruto (story):
Aoyama Eiichi

Warning:
ou, ooc, death chara, typos, etc.

Pair:
?

GENRE:
Crime/Suspense

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Meitantei Naruto:
Serlock Holmes vs Jack The Ripper

chapter IV

"Well, Teme, sepertinya lawan kita bukan manusia," ujar Naruto sembari menopang dagu dengan kedua tangannya yang bertautan.

"Maksudmu, Dobe?" tanyaku tidak mengerti.

"Kau tahu, aku memasang dua micro cam di kamar ini? Yang satu ada di pintu lemari bagian dalam, yang kedua berada diatas sana," kata Naruto menunjuk atap kamar yang tepat berada diatas tempat tidur kami.

"Lalu?"

"Itu, biar Shikamaru yang menjelaskan besok. Aku sangat lelah dan ingin beristirahat sejenak, ya, meskipun aku yakin tidak akan bisa istirahat dengan nyaman. Tapi setidaknya aku bisa memulihkan tenagaku barang sejenak," lanjutnya seraya menjatuhkan diri dikasur dan aku mengikutinya.

Mataku memang terpejam, namun pikiranku melayang-layang memikirkan apa yang sedang terjadi, dan tanpa sadar aku pun terlelap hingga esok pagi.

Sinar mentari menyeruak memasuki celah pentilasi dan menyorot mataku hingga aku tak kuasa untuk tidak terbangun. Aku kerjap-kerjapkan mataku untuk bisa beradaptasi dengan cahaya yang kini telah menguasai seluruh ruangan kamar. Aku melihat kesampingku berharap menemukan Naruto, namun aku tidak mendapatinya dan aku pun bangun sepenuhnya dan beranjak dari tempat tidurku. Setelah aku benar-benar terbangun sepenuhnya, aku mendapati Naruto yang tengah menghisap rokok dengan tangan kanannya yang mengapit rokoknya sembari tangan kirinya menahan badan Naruto di jendela.

"Sudah bangun, Teme," katanya tanpa melirik kearahku. Mata Naruto menerawang jauh kearah langit biru.

"Pagi sekali kau bangun," ujarku.

"Aku belum tidur sama sekali, Teme,"

Aku kaget mendengar jawabannya yang begitu singkat. Naruto memalingkan wajahnya kearahku dan benar katanya, aku bisa melihat daerah dibagian matanya berwarna hitam dengan kantung mata yang membengkak seperti seorang mayat.

"Kenapa kau tidak tidur?"

"Aku benar-benar tidak bisa tidur tadi malam. Aku sudah menyuruh Shikamaru ke tempat kemarin kita bertemu. Sekarang lekas mandi, dan kita berangkat," kata Naruto sembari meniupkan asap rokoknya.

Aku telah siap untuk berangkat. Kami menuruni tangga menuju lantai bawah, dan disana kami bertemu dengan Hidan dan Ny. Kin.

"Selamat pagi, Ny. Kin, Mr. Hidan," sapa Naruto seramah mungkin.

"Pagi, Tuan Tuan, ayo sarapan bersama kami," balas Ny. Kin ramah pula.

Kami pun bergabung untuk segera memulai sarapan.

Ditengah sarapan kami, Hidan berkata, "Perasaan saya ko tidak enak ya?"

"Maksud anda?" tanya Naruto.

"Entahlah, saya rasa sesuatu akan terjadi," gumam Hidan.

Naruto memandang Hidan dengan tatapan aneh begitu juga aku dan Ny. Kin.

"Jangan melihatku seperti itu," ujar Hidan merasa risih karena dilihat oleh kami bertiga. "Itu hanya perasaanku saja, aku rasa," lanjutnya.

Naruto melirik arlojinya dan berkata seakan harus pergi, "Maaf, saya ada janji dengan seseorang, Ny. Kin, Mr. Hidan."

"Memang sulit menjadi orang sesibuk anda, Tuan Naruto," balas Ny. Kin.

"Ya, seperti biasa, kami mungkin kembali agak sorean,"

"Hati-hati, Sir," ujar Hidan memandang Naruto penuh teka-teki.

"Terima kasih, Mr. Hidan," kata Naruto membungkukan badan hormat.

.

x

.

Kami telah sampai di tempat yang Naruto janjikan bertemu bersama Shikamaru, dan kami lihat Shikamaru bersama seorang temannya tengah menunggu kami.

"Hey, Naruto, Sasuke," ujar teman Shikamaru yang bertubuh gemuk, Choji Akamichi.

"Maaf kami terlambat," kata Naruto singkat. Kami pun duduk bergabung dengan dua anggota Dragon Police yang ternama di kota Hokaido itu.

"Jadi apa yang kalian dapatkan?" tanya Naruto langsung ke inti permasalahan.

"Perlihatkan padanya, Choji!" ujar Shikamaru kepada Choji. Choji terlihat mengeluarkan sebuah monitor mini dari dalam tas yang ia bawa. Choji pun memperlihatkan sebuah adegan dalam monitor tersebut. Naruto nampak serius memperhatikannya sampai ia tidak sadar dengan keadaan sekelilingnya.

Dalam gambar yang terlihat dalam monitor tersebut yang menampilkan kamera pertama yang disimpan naruto dalam lemari memperlihatkan bagian lemari terbuka dengan sendirinya tanpa ada orang yang membukanya kemudian tertutup kembali tanpa ada apaun yang nampak.

Lalu Choji menekan salah satu tombol dalam monitor tersebut yang memperlihatkan hasil rekaman kamera dua yang tersimpan tepat diatas tempat tidur kami, namun kamera tersebut mendadak blank hitam dalam waktu tiga puluh detik dan kemudian kembali terlihat ranjang kamar penginapan yang tiba-tiba telah ada secarik kertas yang kami baca kemarin malam. Dan hanya itulah yang tertangkap kamera tanpa ada seorang pun yang masuk ke kamar tempat kami menginap.

"Hebat," gumam Naruto setelah melihat hasil rekaman tersebut.

"Apa kau mendapatkan sesuatu yang berubah dikamarmu selain kertas yang berada di atas kasur, Naruto?" tanya Shikamaru.

"Jejak kaki, aku menaburkan bedak diatas lantai tepat didepan lemari yang terbuka-tutup sendiri itu,"

"Jejak kaki?"

"Ya, aku melihat jekak sebuah sepatu yang tertempel diatasnya, dan aku perkirakan si pengirim surat kaleng itu mempunyai tinggi seratus tujuh puluh sampai seratus delapan puluh centi meter, aku memperkirakannya dari jarak langkahnya. Dalam langkah-langkahnya aku melihat dia menujuh kasur kami, lalu dia berjalan menuju pojok ruangan dan jejaknya tidak terlihat lagi. Ini benar-benar hebat," kata sobatku Naruto.

"Setankah yang melakukan hal ini?" Choji berpendapat.

"Dia lebih senang bila disebut IBLIS," ujar Shikamaru, "Lagi pula, dimana ada setan yang memakai sepatu," lanjutnya.

"Ya, ini aneh dan lucu," kelakar Naruto.

"Sepertinya kau bergadang, apa yang kau lakukan, Naruto?" tanya Shikamaru.

"Aku sungguh dibuat tak bisa tidur oleh kasus ini. Aku penasaran akan bentuk rumah yang kami inapi itu, lalu aku berinisiatif untuk mencari tahu ada apa di rumah itu. Saat aku menuruni tangga, aku melihat Hidan yang sedang terlelap dengan buku yang menutupi wajahnya. Aku rasa dia ketiduran setelah dia membaca buku yang bergambarkan segitiga terbalik yang bertuliskan 'Jashin'. Aku tidak tahu buku apa itu, secara aku baru saja melihat buku berjudul aneh seperti itu. Lalu aku berjalan menuju belakang rumah itu dan menuju tembok yang berada di belakang yang ukurannya lebih tebal dari yang depan, disana aku melihat sebuah ruangan yang dipenuhi benda-benda tak terpakai, mungkin itu gudang. Dan disana aku juga menemukan benda bulat seperti donat yang berukuran ban mobil. Aku memperhatikan benda itu terbuat dari busa, entah apa itu yang sempat terpikir olehku itu adalah sebuah sarung ban yang kemungkina dia pakai agar tidak memperlihatkan jejak mobil. Lalu seperti yang aku perkirakan, aku melihat sebuah lift yang terbuat dari kayu yang menghubungkan ruangan atas yaitu kamar kami dan gudang tersebut. Ini semakin terbaca aku pikir, namun setelah aku melihat hasil rekaman barusan aku merasa kurang yakin dengan teoriku." terang Naruto.

"Justru bukti baru kau sudah dapatkan bukan? Yaitu benda bulat tersebut," kataku berpendapat.

"Sasuke, dengar! Aku berfikir bila hal semacam itu disimpan digudang yang notabene mudah ditemukan oleh seorang penyidik, justru itu hal yang sangat teledor atau ceroboh untuk ukuran penjahat sekelas orang yang sedang kita hadapi ini. Kau paham?" jawab Naruto diakhiri sebuah tanyaan.

"Wah, aku belum paham, Dobe," kataku jujur.

"Begini, Sasuke. Menurut Naruto, ada kemungkina si pelaku menjadikan penghuni rumah penginapan itu dicurigai oleh Naruto sebagai pembunuh. Si pelaku utama menjadikannya sebagai kambing hitam." ujar Shikamaru menjelaskan.

"Maksudmu, hal itu untuk agar Naruto mencurigai Ny. Kin dan Hidan. Begitu?" kataku yang mulai memahami maksud perkataan Naruto. Tiga mahluk sosial dihadapanku menganggukan kepalanya sebagai jawaban iya.

"Jadi, kesimpulan hasil rekaman ini?" tanya Naruto kepada Choji dan Shikamaru.

"Sepertinya dia itu mengetahui apa yang terjadi di kamarmu itu." ujar Shikamaru,

"Ngomong-ngomong apa kau sudah menyerahkan jejak kaki itu ke tim forensik?" timpal Choji.

"Aku tidak bisa mempercayai siapapun untuk saat ini," ujar Naruto. "Tunggu, kau bilang bahwa si iblis itu mengetahui segala yang terjadi di kamar penginapan, Shika?"

"Ya, mungkin saja,"

"Itu dia," seru Naruto menepukan pergelangan tangan kanannya kepada telapak tangan kirinya. "Kenapa aku bodoh sekali," sesal Naruto.

"Teorimu?"

"Dengar. Tidak mungkin bila si pengirim pesan bisa mengetahui apa yang terjadi dikamar itu bila tidak ada yang melihat, bukan? Dengan kata lain bahwa bisa saja si iblis itu telah memasang sesuatu di kamar itu selayaknya mirco cam yang aku pasang." seru Naruto.

"Maksudmu, si pelaku pengiriman surat itu memasang kamera pengintai juga?" tanyaku.

"Ya, begitulah. Aku bisa membaca trik terror ini," ujar Naruto tersenyum penuh teka-teki.

"termasuk lemari yang terbuka sendiri?"

"Ya," jawabnya singkat.

x

x

x

Aku dan Naruto pergi menuju kantor utama polisi Iwa. Disana kami bertemu dengan Kabuto yang tengah memeriksa berkas-berkas kasus yang kami hadapi ini.

"Ada perkembangan, Kabuto?" tanya Naruto.

"Eh kau, Naruto," ujar Kabuto mengankat kepalanya kearah kami, "Entahlah, aku baru pertamakali menghadapi kasus seperti ini," lanjutnya.

"Ya, aku juga begitu," ujar Naruto seraya duduk dihadapan Kabuto.

"Kau sendiri belum mendapat perkembangan?"

"Ya, hanya hal kecil yang aku dapatkan," jawab Naruto tersenyum misterius.

"Aku boleh bicara jujur padamu?" tanya Kabuto.

"Silahkan saja!"

"Aku malah mencurigaimu, Naruto," Naruto terlihat kaget mendengar perkataan Kabuto, "Jangan kaget begitu, Naruto,"

"Aku sangat tersanjung akan hal itu," jawab Naruto dingin.

"Aku bicara serius, Naruto," timpal Kabuto.

"Begitu pun aku. Atas dasar apa kau mencurigaiku, Komandan," ujar Naruto dengan memberi penekanan dikata terakhirnya.

"Pertama, kau mengintai wanita tuna susila dan disergah oleh orang yang tertembak kepalanya namun saat itu kau menyuruh Sasuke menunggu mayat orang asing itu dan mengejar si wanita itu sendiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, apa ceritamu itu bisa dipercaya? Sedangkan saat kami menyusulmu ke TKP kami telah menemukan mayat itu tergeletak sedemikian rupa dan dirimu yang 'pingsan' tidak jelas." kata Kabuto mengikuti gaya Naruto menopang dagu, "Kedua. Jarum, kau seakan tahu letak jarum itu dan mungkin saja kau ingin mengalihkan perhatianku dengan jarum yang tengah kau temukan," lanjutnya memandang Naruto tajam.

"Lalu, kasus sebelumnya?" tanya Naruto dingin. Namun wajahnya terlihat sedikit merah geram marah.

"Itulah yang sedang aku cari tahu," jawabnya singkat tanpa memandang Naruto lagi.

"Yah, kita lihat saja nanti, Kabuto Yakushi yang terhormat," ujar Naruto yang bangkit dari tempat duduknya dan berbalik menuju pintu keluar dan aku mengikutinya dari belakang. Namun saat Kami beranjak keluar, Naruto membalikan badannya dan berkata kepada Kabuto.

"Kau hebat, Kabuto," kata Naruto singkat dan kami pun keluar dari ruangan Kabuto.

"Dobe," kataku setelah kami berada di luar kantor polisi.

Naruto tidak menghiraukan perkataanku dan tetap berjalan lurus kedepan dengan matanya yang tertuju pada jalanan.

"Dobe," kataku lagi dengan sedikit mengkencangkan suaraku.

"Apa, Teme?" katanya tanpa memandang kearahku.

"Tadi itu?"

"Dia pintar, sangat pintar, Teme. Dan aku harap kau tidak termakan teorinya itu,"

"Tapi, setelah dipikir-pikir, teorinya itu masuk akal juga," kataku jujur. Jujur memang, saat aku mendengar penuturan analisis Kabuto akan kasus ini yang menuduh Naruto atau mencurigainya, aku sempat kaget dan marah mendengarnya. Namun setelah dia mengutarakan teorinya, dia ada benarnya juga. Tapi aku tetap percaya, bahwa sobatku ini tidak akan melakukan hal bodoh semacam itu. Tapi, siapa tahu?

"Kita akan kemana sekarang, Dobe?" tanyaku ditengah perjalanan.

"Ikuti saja aku!" katanya singkat. Aku tidak berani bertanya lebih kepadanya, aku tahu saat ini dia sedang mengalami depresi.

Kami sampai disuatu tempat yang tidak asing lagi bagi kami, tempat itu adalah jembatan tempat dimana mayat wanita yang kami intai terbujur kaku tak berbentuk. Kami menuruni jembatan itu dan meuju sungai yang tidak terlalu besar arusnya karena musim panas tengah berlangsung.

"Lihat ini!" tunjuk Naruto kepada sebuah tiang kayu yang menyangga dibawah jembatan.

"Apa itu? Aku tidak paham, Dobe,"

"Perhatikan tiang ini secara seksama!" perintahnya lagi.

"Ada bekas tangan, Dobe," seruku agak tersentak, "Apakah ini sidik jari Kabuto?" aku mencoba menebak. Namun tebakanku salah besar, Naruto menggelengkan kepalanya.

"Itu sidik jariku, Teme," jawab Naruto akhirnya.

"Kapan kau kemari? Apa saat kemarin kau menyelidiki tempat ini?"

"Ya," jawabnya, "Tapi aku tidak menyentuh tiang ini. Saat kemarin aku menyelidiki tempat ini, instingku mengatakan bahwa ada sesuatu yang menarik dibawah sini, dan ternyata dugaanku tepat. Awalnya aku senang mendapat bekas jempol ini dan mengirimkan sidik jari ini ke Shikamaru, namun hasilnya sungguh mengagetkanku karena sidik jari ini sangat cocok dengan sidik jariku, Teme,"

"Aku tetap mempercayaimu, Dobe," kataku tulus.

"Aku tau kau akan mengatakan hal itu, Kawan," katanya menepuk pundaku, "Yang menjadi pikiranku saat ini ialah, bagaimana ada bekas jempolku menempel disini? Mungkin saja awal kecurigaan Kabuto karena melihat sidik jari ini juga. Aku tahu Kabuto itu orang hebat, bahkan analisisnya hampir sama dengan Shikamaru. Oleh karena itu, Teme, aku tidak mempercayainya."

"Jadi, kabuto juga menemukan sidik jari ini?"

"Bisa jadi begitu, atau mungkin dia yang menepelkannya? Tapi bagaimana?" kata Naruto bergumam.

"Ini kasus membuat aku ikut pusing, Dobe," kataku.

"Apalagi aku, Teme," timpal Naruto.

"Sekarang bagaimana?"

"Kita ikuti permainannya, tentu dengan cara kita sendiri,"

"Bila itu memang harus dilakukan, Kenapa tidak?" aku berkata penuh percaya diri.

Kami kembali menaiki jembatan yang sempat kami turuni. Setelah kami naik keatas dengan susah payah, akhirnya kami pun bisa berdiri di atas jembatan ini.

"Langkah pertama. Kita harus mengefakuasi para wanita malam kembali seperti kemarin aku mengefakuasinya," kata Naruto.

"Ayo..." kataku penuh semangat.

x

x

x

Kami mendatangi salah satu bar yang belum buka. Naruto masuk ke sebuah ruangan dan menghampiri seorang laki-laki tua yang tengah duduk di kursi ruangan manager yang didepan mejanya bertuliskan sebuah nama 'Mr. Kakuzu'.

"Anda kemari lagi, tuan Naruto," ujar Kakuzu menyapa Naruto yang memasuki ruangannya, "Nampaknya anda membawa teman," lanjutnya.

"Dia sahabat saya, kenalakan dirimu Sasuke!"

"Sasuke, Uciha Sasuke," kataku mengulurlan tangan berupaya bersalaman.

"Kakuzu. Senang berkenalan dengan anda, tuan Uciha." balas Kakuzu. kemudian kembali memandang Naruto, "Ada yang bisa saya bantu lagi?"

"Saya minta kepada anda agar tidak beroprasi lagi untuk malam ini," jawab Naruto.

"Aduh, kalau setiap hari seperti ini, saya bisa bangkrut," keluh Kakuzu.

"Anda tinggal pilih saja, antara rugi sesaat atau bangkrut permanen?"

"Ya, apa boleh buat. Dari pada saya harus bangkrut, saya lebih baik rugi sesaat," nampaknya Kakuzu sedang malas berdebat.

"Anda sangat membantu, sir," puji Naruto tersenyum ramah.

Kami keluar dari bar tersebut dan menuju tempat yang sama namun berbeda lokasi. Hal yang sama pun terjadi tanpa ada orang yang merasa sangat susah payah untuk merajuk pemilik bar tersebut. Namun bisa kulihat bahwa dari raut wajah para pemilik tempat hiburan malam itu ada rasa tida ikhlas. Dan akhirnya kami telah selesai mengefakuasi para pelacur setelah kami keluar dari kelab malam ketiga.

"Langkah selanjutnya apa, Dobe?" aku bertanya kepada orang yang berjalan disampingku.

"Sekarang giliran dia yang maju, Teme," jawab Naruto.

Kami melangkah pulang dengan perasaan tidak menentu. Namun saat dijalan kami bertemu dengan Hidan yang nampak tergesa-gesa menghampiri kami.

"Tuan Naruto, apa anda melihat ibu saya?" tanya Hidan terengah engah setelah berada di hadapan kami.

"Terakhir saya lihat, Ny. Kin ada dirumah bersama anda tadi pagi. Memang ada apa, Tuan Hidan?"

"Beberapa kali saya hubungi ke telepon rumah tidak ada yang menjawab, begitu pun dengan menghubungi ponselnya."

"Terakhir anda melihat kapan?"

"Setelah anda dan tuan Sasuke pergi, tak lama setelah itu saya berangkat menuju lokasi Shoting. Dan ketika di lokasi saya mendapat pesan singkat seperti ini," Hidan menunjukan telepon genggamnya yang nampak ada sebuah pesan yang masuk. Dan beginilah isi pesan tersebut:

Tahan orang yang bernama Naruto!

Aku dapat melihat ekspresi kekagetan dalam wajah Naruto.

"Saya tidak mengerti maksudnya ini, tapi saya harap anda dapat menjelaskan hal ini," ujar Hidan.

"Kapan anda mendapat pesan ini?" tanya Naruto kepada Hidan.

"Dalam waktu pengiriman tercatat terkirim pukul 10:00 am. Namun saya tidak mengaktifkan ponsel saya, karena saya tidak suka bila ada yang mengganggu ketika saya kerja. Dan ketika saya mengaktifkan ponsel saya, saya mendapatkan pesan ini. Lalu saya mencoba menghubungi ibu saya namun tak pernah dijawabnya,"

"Sebaiknya kita kerumah anda," usul Naruto.

Kami pun menyergah sebuah mobil, Naruto menunjukan kartu identitas polisi entah punya siapa kepada sopir mobil yang kami sergah. Kami pun melaju menuju rumah penginapan.

Setelah kami sampai kami langsung membuka pintu depan. Namun sayang pintu rumah itu terkunci dari dalam, sialnya lagi tidak ada yang membawa kunci duplikat sehingga kami harus mendobrak pintu itu, dan kami bertiga akhirnya dapat membuka pintu itu meski harus sekuat tenaga.

Kami sangat terperangah ketika apa yang kami lihat begitu mengenaskan. Ny. Kin yang berlumuran darah dengan sebuah pisau yang menancap tepapt di tengah dadanya, Naruto langsung menghampiri Ny. Kin yang telah terbujur kaku dan memeriksanya.

"KELUAR KAU IBLIS JAHANAM!" teriak Naruto geram. Belum pernah sebelumnya aku melihat sahabatku segeram ini. "Keluar kau jahanam! Jangan bersembunyi lagi, aku tahu kau masih ada disini," lanjut Naruto masih berteriak.

"Siapa, Dobe?" kataku.

"Mayat ini masih baru, aku yakin dia masih disini,"

Hidan nampak memeluk jasad Ny. Kin dan menangis tersendu-sendu.

"Siapa pun yang melakukan ini, aku akan membunuhnya," gumam Hidan ditengah tangisnya.

Suara tembakan mengagetkan kami semua, dan yang lebih membuatku tersentak adalah sebuah peluru tepat menembus dada bagian kiri Naruto hingga ia terpental dan mengeluarkan cairan merah dari dadanya.

"NARUTOOO..."

-TO BE CONTINUES

a/n: YOSH! chap 4 wis rengse! Aneh kah? pasti, Ancurkah? tentunya, tidak layak publishkah? pastinya #sedih karena gak bisa bikin fict yang bermutu :'(

Tolong dengan sangat, Reviewlah fic ini! Mau itu saran, keritik, atau bahkan flame, Saya terima dengan senang hati...

YANG NGEREVIEW MOGA MASUK SURGA... Amin :)