"Bagaimana kalau ketahuan? Aku harus bisa menggantikan posisi Tsu-chan."
"Hm. Jadi begitu."
"Eh? G-Gray? Apa yang kau-"
"Apa yang sebenarnya terjadi, Natsu?"
"Ah, maksudku.. Natsu, Dragion?"
LOVE STORY OF TWIN
Disclaimer : Hiro Mashima.
Genre : Romance, Friendship.
Rate : T
Warning : AU, OOC, Typo.
Natsu Dragion : Na-chan
Natsu Dragneel : Tsu-chan
"Ke-kenapa kau kesini? Perutmu sakit? Ha-haha-haha.." Na-chan mencoba mengalihkan pembicaraan dan bersikap wajar di depan Gray walaupun ia merasa shock mendengar perkataan pria yang sekarang sedang menatapnya dengan sinis.
"Jangan pura-pura lagi, Dragion. Kenapa kau berakting sebagai Natsu? Maksudku, Natsu Dragneel." jawab Gray ketus. Ia merasa telah ditipu oleh sahabatnya sendiri. Bukan berarti karena rupa Natsu Dragneel dan Natsu Dragion mirip maka pria es ini tidak bisa membedakan keduanya. Si rambut pink yang sedari tadi ditatapnya hanya bisa terdiam dan menundukkan pandangan. Na-chan bingung menyikapi pertanyaan sekaligus pernyataan Gray mengenai identitasnya. Haruskah ku lanjutkan penyamaran ini atau mengaku saja? gumamnya.
"Hm. Jadi, sejak kapan kau tahu hal ini?" Na-chan akhirnya kembali menjadi dirinya sendiri. Ia berpikir melanjutkan penyamaran juga akan sia-sia kalau sudah ada salah satu orang yang mengetahui identitasnya yang sebenarnya. Baginya yang terpenting sekarang adalah membuat Gray percaya padanya dan tidak membocorkan hal ini terutama kepada Lisanna. Sesungguhnya ia sangat menyesal karena telah berbuat ceroboh dan menggagalkan rencana ini. Ia juga jadi khawatir dengan nasib Tsu-chan di Amerika dan tidak berharap memiliki nasib yang sama seperti yang dialaminya saat ini.
"Dari awal aku sudah curiga dengan gelagatmu yang tidak biasa. Terlalu mencolok untuk memperlihatkan bahwa kau bukan Natsu Dragneel."
"Ternyata benar yang dikatakan Tsu-chan. Kau memang pintar, tapi kenapa Gajeel tidak menyadari hal ini?"
"Tsu-chan? Hahaha.. jadi itu nama panggilannya di rumah? Hahahaa.. Ah! Ya ampun. Hahaha.." Gray tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya. Ia begitu terkejut mengetahui nama panggilan Tsu-chan yang menurutnya terdengar begitu 'kawaii', berbeda sekali dengan sifatnya di kampus.
"Yah, tanpa perlu menjelaskan panjang lebar, begitu melihat Gajeel, kau langsung tahu kan dia itu tipe orang yang seperti apa?" jawab Gray sambil tetap memegang perutnya yang kesakitan karena terlalu banyak tertawa. Diam-diam ia merasa puas telah mengatahui rahasia tentang Tsu-chan dan akan menyimpannya sebagai ancaman apabila Tsu-chan berbuat yang aneh-aneh kepadanya.
"Hahaha.. Tsu-chan tidak pernah menceritakan padamu tentang nama panggilannya di rumah? Aku yakin dia pasti malu. Apalagi dengan imagenya di kampus sebagai pria yang sangar dan keren." tawa Na-chan ikut menyeruak dari balik kamar mandi.
"Aku juga berpikir Gajeel hanya tidak ingin terlalu tahu dengan orang lain, ternyata dia sebodoh itu. Hahaha.." lanjutnya. Tawa mereka terdengar hingga ke luar dan membuat mahasiswa yang lewat jadi penasaran dengan topik yang dibicarakan.
"Kau jangan salah sangka dulu, walau begitu, dia adalah orang yang sangat setia pada orang-orang terdekatnya, termasuk sahabatnya. Satu senti saja kau melukai orang-orang yang dia sayangi, maka tamat riwayatmu." ucap Gray seraya menepuk pundak Na-chan. Sedangkan yang ditepuk cukup kagum dengan sifat Gajeel yang diungkapkan oleh Gray.
"Baiklah, maukah kau membantuku?" Na-chan memberikan tawaran pada Gray.
"Memang apa rencana kalian berdua?"
"Kami sedang bertukar posisi, aku menggantikan Tsu-chan dan dia juga sedang menggantikanku." sifat Na-chan sebagai orang yang pandai bernegosiasi ia tampilkan. Gray dapat merasakan aura yang sangat berbeda dengan saat Na-chan yang mencoba menjadi sosok Tsu-chan dan malah membuatnya ilfeel.
"Aku hanya ingin identitasku yang sesungguhnya tidak diketahui orang lain. Mungkin lain waktu ku ceritakan detailnya. Kau setuju?" lanjutnya dan menyodorkan tangan pada sahabat kembarannya.
"Ya, oke. Mungkin akan seru juga melihat kau menggantikannya untuk sementara." ucapnya menjabat tangan Na-chan. "Ayo kita kembali. Kasihan Gajeel sudah menunggu dari tadi."
Mereka berdua pergi meninggalkan kamar mandi dan menuju kantin sambil membayangkan apa yang akan dikatakan Gajeel karena telah menunggu cukup lama.
"Hey, kalian berdua. Jangan bilang kalau kalian mesum di toilet? Hahaha.." kata Gajeel dan menjitak kepala Na-chan dan Gray karena membuatnya lama menunggu.
"Geezzz.. Dasar maniak BL!"
.
.
.
Sepulang kuliah, Na-chan segera menemui Lisanna sesuai saran Gray. Menguntungkan juga jika ada salah satu dari teman kembaranmu yang mengetahui identitasmu. Kenapa tidak kulakukan dari dulu saja? batinnya.
Ia menuju Fakultas milik Lisanna yang tidak jauh dari Fakultasnya. Tidak rumit mencarinya, dari kejauhan sudah terlihat sekumpulan mahasiswa yang memakai seragam serba putih, mereka semua menggunakan seragam atasan berwarna putih dan celana putih. Beberapa ada yang tengah berusaha melakukan resusitasi jantung seperti yang ia lihat di televise. Mahasiswa lain sibuk dengan berbagai buku tebal yang terlihat menyakitkan mata baginya. Beberapa dari mereka tampak tengah berdiskusi dengan berbagai bahasa asing, samar-samar ia menangkap beberapa kata seperti 'trauma kepala', 'resusitasi jantung', dan 'gambaran EKG'.
Di depan gedung terpampang jelas tulisan 'Fakultas Kedokteran'. Pacar Tsu-chan mengambil jurusan Keperawatan dan memang masih satu gedung dengan jurusan kedokteran dan farmasi. Jadi ini Fakultas Kedokteran Universitas Tokyo? Mendadak Na-chan merindukan kampusnya.
"Lisa-chan!" panggil Na-chan dan melambaikan tangan pada sosok yang dituju.
"Selamat siang, Tsu-chan!" Lisanna dan seorang gadis berambut biru ombak menghampiri Na-chan. Gadis pemilik mata biru ini terpaku melihat penampilan 'Tsu-chan' karena terlihat sangat casual dan sederhana namun tetap terlihat keren.
"Hai, Juvia." sapa Na-chan. Nama gadis yang tepat berada di samping Lisanna bernama Juvia Lockser. Dari cerita Tsu-chan, mereka merupakan teman satu kelas. Juvia tipe orang yang lebih akrab dengan sesama wanita dibanding laki-laki. Entah katena dia anti laki-laki atau hanya kurang nyaman jika berada di dekat laki-laki.
"Kau masih ada kuliah?" tanya Lisanna.
"Tidak, kau sendiri?"
"Kuliahku hari ini juga sudah selesai."
"Ayo kita pulang." ajak Na-chan.
Lisanna sedikit kaget dengan sikap Natsu yang berubah. Dia terlihat lebih dingin dari biasanya. Namun, Lisanna tertarik dengan sifat Natsu yang baru ditampakkannya kali ini. Ternyata Natsu juga mempunyai sisi lain yang tidak Lisanna ketahui.
"Hoiii Natsuuuu!" Gray dan Gajeel berlari menghampiri Na-chan. Gajeel menggenggam sebuah buku yang cukup tebal. Sepertinya buku itu pernah Na-chan lihat, namun ia mengabaikannya dan melanjutkan obrolan dengan Lisanna.
"Dasar kau pelupa!" kata Gajeel dan melemparkan buku itu ke arah Na-chan. Untung saja Na-chan bisa menangkap buku itu sehingga tidak jatuh dan rusak. Ternyata itu adalah buku mengenai ….. milik Tsu-chan. Ia hampir lupa kalau membawa buku itu ke kampus.
"Bukumu ketinggalan di kelas, untung saja kami temukan." ucap Gray yang masih terengah-engah sambil mengatur nafas. Keringat membanjiri Gray dan Gajeel, namun hal itu membuat mereka semakin terlihat maskulin dan para mahasiswi makin terpesona dengan mereka berdua.
"Hehehe.. Maaf maaf. Terima kasih ya."
"Kau memang-" kata-kata Gray langsung terpotong ketika ia melihat gadis bersurai biru yang tepat berada di sebelah Lisanna. Semburat merah melapisi sebagian wajah putihnya. Ia dapat merasakan hawa panas mengalir di wajahnya ketika melihat gadis tersebut.
"Gray-san, Gajeel-san. Selamat siang!" sapa Lisanna.
"S-se-selamat si-siang." ucap Gray terbata-bata. Mendadak Gray salah tingkah saat melihat Juvia, sedangkan sang gadis yang sedang ditatapnya sesekali tertawa kecil, membuat Gray menjadi semakin malu dan wajahnya sekarang sudah semerah tomat.
"HAHAHA.. Lihatlah wajah bodo-AKH!"
"Berisiikk! Kami pergi dulu Natsu!"
Gajeel yang belum menyelesaikan kalimatnya langsung dibuat pingsan oleh Gray dengan sekali pukul. Ia segera menyeret Gajeel menjauhi Natsu, Lisanna, dan Juvia sambil menutupi wajahnya yang merah padam.
"Ayo pulang. Juvia, mau pulang bersama kami?" ajak Lisanna.
"Oh, tidak perlu. Aku mau melanjutkan penelitian bersama teman satu ekskul. Kalian duluan saja." jawab Juvia.
"Ya sudah kalau begitu. Dah Juvia. Semangat ya." Lambaian tangan dari Lisanna dan Natsu mengakhiri obrolan di antara mereka bertiga.
.
.
.
Lisanna dan Natsu (baca: Na-chan) duduk santai di taman sambil menikmati sepoinya angin dan bunga sakura yang berguguran, tanda dimulainya musim semi. Sesuai petunjuk Tsu-chan, kadang sepulang kuliah, Lisanna suka duduk di taman sambil menikmati suasana dan lalu lalang orang-orang yang berada di sana. Menurutnya dengan hal itu ia dapat me-refresh pikirannya yang penat setelah seharian berada di kampus.
"Ada apa Lisanna? Nampaknya kau sedang tidak bersemangat hari ini." tanya Na-chan.
"Eh? Tidak apa-apa kok." jawab Lisanna sambil memberi tanda bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kalau memang ada masalah, ceritakanlah. Mungkin aku tidak bisa membantu, tapi setidaknya kau akan lega jika menceritakannya. Lagipula aku ini kan pacarmu." Na-chan mengelus lembut rambut Lisanna.
"Natsu." Lisanna terkejut melihat Tsu-chan yang lagi-lagi menunjukkan sikap aneh. Kali ini Natsu terlihat sangat dewasa dan mampu membuat perasaannya menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Ia kagum dan tidak percaya dengan sosok Natsu yang ada di hadapannya sekarang.
"Eh, ano, um.. Sebenarnya aku bingung dengan hal ini." Lisanna mengeluarkan buku yang berisi ilmu keperawatan. Ia sebenarnya sedang kesulitan memahami materi mengenai kegawatdaruratan, terutama tentang penanganan pada pasien dengan luka pada area kepala yang tadi dijelaskan professornya, bukannya ia tidak memperhatikan hanya saja kadang penjelasan professornya itu sulit dipahami.
"Oh, ternyata tentang trauma kepala. Jadi ini begini, kalau ada pasien dengan trauma kepala sebaiknya kepala diposisikan lebih tinggi sekitar 300 sampai 450 untuk menghindari penumpukan cairan pada otak dan melancarkan perdarahan ke otak. Akan lebih berbahaya kalau terjadi penumpukan cairan pada otak, selain meninggikan kepala juga perlu diberikan cairan hipertonik seperti manitol untuk mengurangi penumpukan cairan pada otak." jawab Na-chan panjang lebar.
Lisanna menatap dengan pandangan takjub sekaligus heran, bagaimana bisa pacarnya ini tahu banyak tentang penanganan pada pasien dengan trauma kepala. Biasanya jika dia bertanya tentang mata kuliahnya, pacarnya itu pasti akan berusaha mengalihkan pembicaraan ke arah lain tapi sekarang pemuda itu justru menjelaskan semuanya dengan bahasa yang lebih dimengerti.
"Tsu-chan? Bukannya kau tidak suka dengan hal-hal yang berbau kesehatan?"
"Eh!? A-anoo.. It-itu.. Yaaahhhh hahahaha a-aku waktu itu melihat televisi dan ada acara yang membahas tentang penyakit dan menarik perhatianku. Jadi aku iseng-iseng mempelajarinya. Yaaa begitulah hahahaha.." kilah Na-chan. 'Lagi-lagi aku melakukan hal bodoh.' gumamnya sambil merutuki diri sendiri yang tidak pandai dalam memainkan peran. Kalau kejadian hari ini sampai diketahui oleh Tsu-chan, mungkin ia akan dihabisi tanpa ampun.
"Oh begitu, eh, tak terasa sudah sore, sebaiknya kita pulang." Ajak Lisanna. Ia segera menggandeng tangan Na-chan meninggalkan taman, saat ini Na-chan dapat mendengar debaran jantungnya. Ia merasakan hangatnya tangan Lisanna, membuatnya sejenak berhenti memikirkan segala kejadian hari ini, termasuk saudara kembarnya, Natsu Dragneel.
.
.
.
"Aku pulang."
"Na-chan, bagaimana hari ini di kampus Tsu-chan? Kau bisa mengikuti pelajarannya kan? Teman-teman Tsu-chan bisa akrab denganmu? Kau tidak dipukuli kan di kampus?!" Kaa-san langsung meluncurkan berbagai pertanyaan sambil mengamati dengan detail tiap sudut tubuh Na-chan, berharap tidak menemukan luka lebam di tubuh anak sulungnya ini.
"Tenang saja Kaa-san. Aku senang bisa berada di kampus Tsu-chan." Na-chan melemparkan senyum bahagia di depan kedua orang tuanya dan menuju kamar.
"Kau lihat kan? Sepertinya Na-chan sangat senang dengan pertukaran ini. Ia terlihat betah di kampus Tsu-chan." kata Tou-san dan mengajak Kaa-san untuk menonton tv.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sangat khawatir. Bagaimana ya dengan Tsu-chan? Aku jadi ingin menghubunginya."
"Kau bisa mengiriminya pesan, tapi menurutku jangan lewat telepon, aku pikir mungkin dia akan terganggu. Kau tahu kan?"
"Benar juga. Baiklah."
Di kamar, Na-chan tak henti-hentinya memandangi foto Lisanna yang terpampang di pigura. Pikirannya tak bisa lepas dari semenjak kejadian di taman. Sesaat kemudian ia membayangkan perasaan Tsu-chan kalau melihat saudara kembarnya menggenggam tangan pacarnya sendiri. Rasa bersalah muncul dan menciptakan wajah sedih yang kini tercetak di wajah Na-chan.
"Lisanna. Gadis seperti apakah dia sebenarnya, hingga adikku sendiri bisa takluk padanya?"
TBC
NazuDragneel : hehe berasa tua dipanggil senpai xD makasih buat reviewnya, iya soalnya masih jarang pair edo natsu jadi sengaja author hadirkan disini. Selamat membaca, maaf ya kalau updatenya lama T_T ditunggu reviewnya nazu-chan ^^
Ariri : siapa yaa? Wehehee.. gesture yaa, hmm saran yang sangat bagus ^^b deskripsi keadaan sekitar mungkin udah coba author tambah, ya walaupun masih sedikit (banget malah). Terima kasih buat reviewnya yang sangat detail, ditunggu review selanjutnya, selamat membaca ^_^
Okee saatnya chapter 4! Author minta maaf atas lamanya update (udah biasa x'D) jangan lupa tinggalkan jejak kehidupan di fic ini sebagai masukan buat author juga dalam mengembangkan isi ceritanya. Yosh, selamat membaca! ^^
