Disclaimer : Harry Potter dan Katekyo Hitman Reborn bukan milik saya!
Warning : Beberapa tokoh bashing, Severitus, Mengikuti alur anime, Don't like? Don't Read!
.
.
Pertemuan menakutkan ini akan berakhir. Itulah yang ada di pikiran Tsuna ketika melihat Varia melangkah pergi setelah adanya ketentuan bahwa perebutan cincin akan dimulai besok.
Sayangnya apa yang diharapkan Tsuna berkata lain ketika tanpa diduga sosok kecil bertudung dengan kodok diatasnya berhadapan dengan Harry. Tsuna tidak tahu apa yang terjadi, semua teman-temannya menegang menanti apa yang akan dilakukan oleh sosok itu.
"Arcobaleno Viper."
Tsuna mendengar bisikan dari Reborn. Bahkan Reborn terlihat tidak memprediksikan hal itu. Sama terkejutnya dengan dia, dan itu hanya membuatnya semakin khawatir. Jika Reborn saja tidak tahu, itu benar-benar berbahaya bukan?
Sayangnya tidak ada yang bergerak atau berbicara. Mereka mendengar adanya beberapa bisikan yang terlalu kecil untuk didengar bahkan Reborn terlihat kesulitan. Tsuna dapat melihat bagaimana Reborn menahan diri untuk tidak mencari tahu apa yang terjadi.
Harry terlihat mematung di sana dengan apa yang dibisikan oleh anggota Varia tersebut. Perhatian Tsuna teralihkan ketika Reborn menegang dan perlahan mengeratkan pistol yang entah sejak kapan berada di tangannya.
"Harry!"
"Harry-nii!"
Teriakan dari Yamamoto dan Fuuta membuatnya berpaling dan menemukan Harry ditahan oleh Yamamoto. Fuuta, Lambo, I-Pin, dan lainnya terlihat mengkhawatirkan remaja yang tak sadarkan diri itu. Sosok itu – Viper – entah dimana tak terlihat.
Segera ia dan Reborn menghampiri rombongan itu. Wajah Harry terlihat pucat, meski begitu Harry terlihat seperti orang yang terlelap. Entah mengapa, Tsuna merasa tidak enak.
"Kita kembali ke rumah. Pastikan Mama tidak mengkhawatirkan Harry, Tsuna." Reborn memberikan perintah, dan sesaat Tsuna merasakan tatapan tajam dari Reborn. "Aku akan memanggil Shamal. Kalian sebaiknya bergegas."
Dengan itu, Yamamoto menggendong Harry ketika Tsuna dan lainnya berusaha menenangkan ketiga anak yang cemas dengan kondisi Harry.
"Reborn, apa Potter-kun tidak apa-apa?" Tanya Tsuna cemas ketika Reborn kembali setelah berbincang dengan Shamal. Harry dibaringkan di tempat tidurnya, dan ia dengan sukarela untuk tidur diatas futon.
"Harry menunjukkan tanda-tanda kelelahan dan stress." Jawaban dari Reborn sempat membuat Tsuna syok. Ia tidak menyangka Harry akan mengalami hal itu. Selama ini Harry terlihat senang dan tidak memiliki beban, meski ia akui Harry memang agak pendiam dibandingkan Fuuta dan lebih memaksakan dirinya sendiri. "Tapi selain itu," Reborn terhenti sebelum akhirnya menggeleng.
"Reborn! Apa itu?" Paksa Tsuna, ia benar-benar khawatir dengan keadaan Harry. Belum pertarungan dimulai, orang yang ia kenal sudah lebih dulu dibuat seperti ini. Harry tidak akan diikutsertakan, Harry bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Bagaimana ia bisa menjadi korban? Rasanya Tsuna ingin mengubur dirinya dalam sebuah lubang dan tak pernah kembali.
Sayangnya Reborn tidak menjawab, "Apa Harry pernah mengatakan sesuatu padamu mengenai mafia atau Flame?"
Pertanyaan itu mengejutkan Tsuna, "Ti-tidak. Setahuku tidak."
Ada jeda panjang tak nyaman diantara mereka. Tsuna ingin menanyakan kenapa Reborn menanyakan hal semacam itu, namun dihentikan ketika mereka mendengar suara ketukan di jendela dan betapa terkejutnya mereka melihat seekor burung hantu putih yang besar terlihat berusaha masuk ke kamar.
Reborn menatap burung itu dengan curiga hingga akhirnya meminta Tsuna membuka jendelanya dan membiarkan burung itu masuk.
Dengan sahutan pelan dari burung hantu itu, yang Tsuna curigai sebagai tanda terima kasih karena sudah dibiarkan masuk. Burung itu dengan elegan mendarat ranjang Tsuna yang ditempati oleh Harry. Sahutan sekali lagi, burung itu melompat turun hingga ia berada di sebelah kepala Harry.
Tsuna menatap dengan kagum ketika burung hantu dengan hati-hati dan penuh kasih sayang menggigit pelan telinga Harry dan mengelus pelan pipi remaja tak sadarkan diri itu dengan kepalanya yang terlihat lembut.
Burung itu kembali ke kepala ranjang Tsuna.
"Jinakkan ia, dame-Tsuna." Ujar Reborn yang rupanya sama terpukau dengan perhatian burung hantu itu.
Memberanikan diri, dengan tangan gemetar Tsuna berusaha membelai kepala indah burung itu. Ketika ia berhasil, Tsuna menenangkan dirinya. "Burung yang cantik." Seolah mengerti, burung itu kembali menyahut dan menggigit pelan jari Tsuna sebelum akhirnya menyamankan diri untuk tidur.
Kembali ada jeda panjang setelah itu, kali ini tidak ada yang merasa harus mengakhirinya. "Waw." Bisik Tsuna masih tidak percaya bahwa dirinya dapat menjinakkan seekor hewan, setelah hampir selama hidupnya ia selalu dimusuhi oleh binatang.
"Ya, dame-Tsuna. Waw." Balas Reborn, yang seperti bangga dengan kemajuan Tsuna.
"Apa menurutmu burung hantu ini adalah milik Potter-kun?"
Reborn tak segera membalasnya, namun Tsuna yakin guru tutornya itu bersependapat dengannya.
Selama beberapa hari itu, Mama terlihat mengkhawatirkan keadaan Harry. Shamal bahkan sudah berusaha menenangkan dengan mengatakan bahwa Harry hanya kelelahan, yang rupanya tidak membawa hasil. Meski begitu Mama tetap acap kali berada di kamar Tsuna dan menunggu Harry terbangun.
Gokudera dan Yamamoto terlihat frustasi dengan apa yang dilanda oleh Harry. Terutama Tsuna yang pada malam hari akan berusaha sekuatnya untuk menemani Harry.
Ketegangan itu memuncak kala Lambo terluka setelah pertarungan dengan penjaga petir Varia. Mama sering kali bolak-balik rumah sakit dan rumah untuk menjaga Lambo dan Harry. Reborn yang merasa kasihan, akhirnya meminta Harry agar dirawat di kamar yang sama dengan Lambo yang tentu sangat membantu.
Saat pertarungan antara penjaga kabut, Tsuna benar-benar ingin meledak ketika melihat Viper berdiri diatas lapangan menunggu kedatangan penjaga kabut mereka.
"Apa yang kau lakukan apa Potter-kun?" Entah keberanian apa yang muncul dari benak Tsuna untuk menanyai perihal itu. Tapi ia tidak mau membantu penasaran dan sudah khawatir dengan Harry.
Viper terlihat menanggapinya, ia perlahan melayang diudara melebihi tinggi mereka. Menatap ke bawah seolah ia tengah memandang sekumpulan gelandangan yang meminta-minta. "Apa seharusnya aku lakukan sejak dulu."
Mereka terkejut. "A-apa ma-maksudmu?"
"Viper." Reborn sedikit menggeram. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Mungkinkah mengenangi keadaan Harry atau ketidak tahuan Reborn mengenai apa yang dibicarakan Viper. Tsuna tidak tahu, ia tidak mengerti jalan pikiran Reborn.
Sebelum ada yang bertindak lebih jauh, pintu terbuka dengan kedatangan penjaga kabut pihak Tsuna yang bernama Chrome Dokuro. Saat itulah Viper menjauh dari mereka, seolah menghindar untuk ditanyai lebih lanjut perihal tersebut.
Tsuna tidak tahu apa yang terjadi, tapi perasaannya tidak enak ketika Mukuro Rokudo mulai menggantikan Chrome yang rupanya memiliki organ tubuh ilusi yang dibuat oleh Mukuro.
Pertandingan itu terlihat mudah ketika Mukuro melawannya. Dan ketika Mukuro melakukannya untuk bagian yang terakhir, Tsuna tiba-tiba ingin Mukuro tidak melakukannya. Meskipun penjaga kabut mereka menang dengan cara meledakkan Viper, Tsuna tahu sesuatu ada yang tidak benar.
"Reborn..." Panggil Tsuna ingin mengatakan sesuatu perihal perasaannya yang aneh ini. Sayangnya sebelum ia mengatakan sesuatu, Leon sudah berubah menjadi telepon yang berdering.
Reborn terlihat mempersiapkan diri dan segera mengangkatnya. "Ciao-" Salam pembuka Reborn terhenti dan menarik perhatian Colonello yang berada di dekatnya. "Kami akan segera kesana."
Ketika Reborn menutup teleponnya, Tsuna sudah bersiap. "Kita harus bergegas ke rumah sakit." Dengan itu ia segera berlari keluar, meninggalkan yang lainnya untuk mengikutinya.
"Reborn! Apakah terjadi sesuatu dengan Lambo dan Harry?" Tanya Tsuna ketika ia sudah meminta Yamamoto untuk membawa Chrome bersama mereka.
Kali ini Reborn juga tak menjawab. Dan Tsuna berharap, diamnya Reborn menunjukkan ketidaksetujuan. Sayangnya harapannya itu sangatlah kecil.
Setibanya mereka di luar rumah sakit, terdapat sekelompok jendela kamar yang tak menunjukkan adanya kehidupan disana. Setahu Tsuna salah satu diantaranya adalah kamar Lambo dan Harry, dan itu sangat mengkhawatirkannya. Mereka bergegas memasuki rumah sakit, ketika Colonello berjaga di luar.
Mereka menemukkan Bianchi, Fuuta dan Mama tengah menenangkan Lambo yang menangis di luar kamar dengan beberapa dokter dan suster. Hati Tsuna terasa teriris, tangisan Lambo berbeda dari biasanya. Ketika tiap kali Lambo menangis diisi dengan kejahilan dan pura-pura, kini tangisan itu benar-benar terdengar pilu.
"Bianchi apa yang terjadi?" Tanya Reborn.
Tsuna berusaha mencari keberadaan Harry disekitar mereka, sayangnya ia tak menemukannya. Tsuna berharap Harry sudah dipindahkan ke ruang lain atau lebih baik pulang ke rumah.
"Kami tidak tahu apa yang terjadi." Aneh mendengar suara Bianchi yang datar. Biasanya ketika berhadapan dengan Reborn, Bianchi akan bermanja-manja. Tsuna diam-diam melangkah mendekati ibunya dan ketika ingin menanyakan apa ibunya baik-baik saja, ia mendengar suara seseorang merengek di dalam sana.
Tsuna menengok ke dalam ruangan yang sebelumnya digunakan oleh mereka, kamar itu akan sangat gelap jika bukan karena sinar bulan, dan Tsuna tidak akan melihat jubah putih dari beberapa dokter yang terlihat berusaha menenangkan sesuatu yang meringkuk di pojok ruangan.
"Itu adalah Harry." Tsuna terkejut ketika mendapati Reborn terduduk diatas kepalanya.
"Apa maksudmu?"
"Menurut Bianchi ketika mereka tengah menjaga, Harry tiba-tiba berteriak kesakitan dan Fuuta segera mencari dokter. Sayangnya sebelum dokter bisa mengetahui apa yang terjadi, semua aliran listrik mati dan Lambo mulai menangis. Dan ketika listrik mulai berfungsi kembali ruangan yang berada didekat sini tidak bisa menerima aliran, saat itulah mereka mengetahui beberapa benda melayang disekitar Harry."
"Sama seperti apa yang dilakukan Fuuta?" Tanya Tsuna khawatir mendengarnya.
"Ya dan tidak. Jika Fuuta dapat mengendalikan hal itu sayangnya Harry tidak."
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Mukuro Rokudo." Reborn menjawab datar.
"Apa?"
"Kita memerlukannya lagi." Dengan itu Reborn segera berlari menuju Yamamoto yang masih berusaha menahan Chrome. "Bangunkan dia."
"Tapi..."
"Cepat."
"O.. Baiklah." Yamamoto terlihat ragu-ragu. Dengan pelan ia menggoyang-goyangkan tubuh gadis yang kelelahan itu. "Hei, hei, bangun."
Tak sabaran, Gokudera segera mengambil alih. Ia dengan kasar menggoyangkan bahu Chrome dan berteriak membangunkan. Segera Chrome bangun dengan bingung dan ketakutan. Tsuna merasa kasihan melihatnya.
"Mukuro, kami membutuhkan dia." Perintah Reborn tanpa penjelasan.
"Ta-tapi Mukuro-sama..."
"Lakukan seperti yang aku minta."
"Jangan memerintah Chrome kesayanganku seenaknya, Arcobaleno." Suara Mukuro mengambil alih tubuh Chrome. Detik itu juga Mukuro sudah ada didepan mereka.
"Ada sesuatu yang hanya kau yang bisa melakukannya."
"Oh... Apakah Arcobaleno yang terkuat membutuhkan bantuanku?" Tanya Mukuro main-main. Sayangnya Reborn tak menggubris godaan itu, ia kembali menuju kamar sebelumnya dan entah sejak kapan sudah mengenakan pakaian dokter.
Reborn segera meminta dokter yang ada untuk menunggu di luar dan membiarkan mereka mengatasi hal tersebut.
Tsuna tidak tega melihat Harry meringkuk di pojok sana sendirian. Ia terus menggumamkan sesuatu yang tak rasional. Seperti "Maafkan aku," dan "Ini semua salahku," berulang-ulang kali. Benar kata Reborn ada beberapa benda melayang di sekitar Harry yang sepertinya berperan sebagai tameng.
Tsuna memperhatikan Mukuro yang terlihat tertarik dengan apa yang ia lihat.
"Siapa dia?"
"Potter Harry. Sebelumnya ia berhadapan dengan Viper." Jawab Reborn.
"Potter Harry atau Harry Potter?" Tanya Mukuro tak pada siapapun.
"Kau mengenalnya?" Balas tanya Reborn.
"Mengenalnya? Oh, tidak. Siapa aku yang mengenal The Great Harry Potter?" Mukuro melangkah maju perlahan dan benda-benda melayang itu menegang, bersiap menyerang siapa saja yang berani mendekati mereka.
Tsuna berfikir, siapa The Great Harry Potter yang Mukuro maksudkan? Ia menengok pada Yamamoto yang terlihat tak tahu apapun dan Gokudera yang berusaha mengingat nama tersebut. Sayangnya tidak membuahkan hasil.
Ketika Tsuna berpaling pada Harry, ia menatap tertarik pada Mukuro yang menyentuh pelipis Harry yang semakin meringkuk ketakutan. Ketika Mukuro membuka matanya, terdapat rasa sakit disana.
"Berapa lama ia seperti ini?"
"Mungkin bertepatan dengan berakhirnya pertarunganmu dengan Viper."
Ada rasa menyesal di wajah Mukuro ketika mendengarnya, dan Tsuna penasaran terhadap apa yang ia ketahui. "Ia terjebak di ingatannya." Hal itu membuat yang lain membebelak terkejut. "Arcobaleno kabut itu sepertinya tengah memberinya ingatan selama ini. Namun pertarungan sebelumnya membuat hubungan itu terputus secara tiba-tiba yang mengakibatkan si penerima kesakitan dan akhirnya terjebak pada ingatan paling dalamnya."
Ada diam panjang saat itu, hanya diisi oleh rengekan pelan Harry. Tsuna ingin sekali merengkuh Harry ke tempat yang aman. Harry terlihat sangat rapuh, Tsuna merasa bersalah ketika ia penasaran ingatan apa yang dilihat anak yang terlihat kuat itu.
"Apa yang bisa kau lakukan?" Pertanyaan Reborn diajukan dengan datar.
"Jika dibiarkan lebih lama, ia akan gila." Mukuro menyimpulkan pelan, seolah ia ingin apa yang diucapkannya salah. "Aku akan berusaha menghalang ingatan itu. Selama beberapa hari, ia akan terlihat seperti cangkang kosong, bicara dengannya perlahan-lahan." Ia terhenti sebentar mengingat sesuatu. "Tsunayoshi pastikan kau menjaga Chrome dengan baik karena selama itu aku yang akan mengurus anak ini."
Menelan ludahnya, Tsuna mengangguk cepat. Ia diberi kepercayaan oleh Mukuro untuk menjaga Chrome. Gokudera terlihat ingin protes mengenai Juudaime-nya diperintah seenaknya, namun segera dicegat oleh Yamamoto.
Beberapa kabut mengelilingi mereka, menutupi apa yang dilakukan oleh Mukuro. Untuk beberapa saat listrik kembali berfungsi dan mereka menemukan Chrome dan Harry yang tak sadarkan diri. Dengan cepat mereka menghampiri dan memastikan kedua remaja itu baik-baik saja.
Esok paginya terasa melelahkan bagi Tsuna dan lainnya. Mereka harus tetap terjaga, meski semuanya kembali seperti normal. Lambo perlahan-lahan mulai pulih, ketika Chrome hanya kelelahan dan sedangkan Harry kembali tidur.
Sayangnya ketika malam sebelumnya Harry dalam keadaan tenang, kini ia terus merengek pelan, hampir tak terdengar dan tertahan. Tsuna terus berusaha keras meminta ibunya untuk beristirahat, sayangnya Mama dengan senyum sendu mengatakan bahwa Tsuna bisa menjaga Lambo jika ia ingin membantu dia.
Beberapa saat setelah yang lain pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Akhirnya Mama meminta Tsuna menjaga mereka ketika beliau pulang ke rumah bersama Fuuta, I-Pin untuk mengambil beberapa pakaian dan makanan dengan bantuan Bianchi.
"Reborn, apa kau tahu apa yang dilakukan Viper pada Potter-kun?" Tanya Tsuna ketika ia membuka jendela dan menampakkan burung hantu putih yang sebelumnya berada di rumahnya. "Aku benar-benar berfikir burung hantu ini milik Potter-kun."
"Aku penasaran dengan Harry menamai burung hantu itu siapa." Balas Reborn, ia memperhatikan burung putih itu kembali duduk di ranjang yang ditempati Harry.
"Melihatnya membuatku ingin memiliki peliharaan."
Reborn mengendus menantang mendengarnya, ia menarik fedoranya menutupi seringai yang ia kenakan. Tak ada yang mengatakan apapun saat itu, hanya suara rintihan Harry yang terdengar. Tsuna ragu-ragu menyingkirkan beberapa rambut dari wajah Harry.
"Aku tidak tahu apa tujuan Viper melakukan hal itu pada Harry. Kita juga tidak bisa melakukan sesuatu karena Harry bukanlah bagian dari Famiglia milikmu."
Tsuna terhenti dengan kegiatan barunya setelah mendengar jawaban tak terduga dari Reborn. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Reborn atau ayahnya atau semua hal tentang mafia ini. Jadi, Tsuna hanya diam dan kembali menyingkirkan rambut berantakan Harry.
Tsuna kembali terhenti ketika ia menatap pada bekas luka di dahi Harry. Luka seperti petir itu pasti menarik perhatian bagi semua orang. "Aku tidak tahu Harry punya luka. Apa tadi malam ia tidak sengaja melukai dirinya sendiri?"
Reborn melangkah mendekati dan memperhatikan dengan penasaran apa yang ditunjuk oleh Tsuna. Burung hantu itu menyahut seolah ia mengatakan sesuatu, sayangnya tidak ada yang mengerti bahasa unggas.
"Kurasa tidak. Tidak ada noda darah di ruangan sebelumnya dan sepertinya ini adalah bekas luka yang cukup lama. Mungkin sejak ia kecil."
Pintu bergeser dan menampilkan ibunya yang terlihat lebih segar dan sehat. Ia membawa beberapa tas.
"Ibu. Dimana Fuuta dan I-Pin?" Tanya Tsuna ketika ia mencari kedua anak itu, Bianchi juga tak terlihat dimana-mana.
"Ah, mereka kelelahan jadi mereka istirahat dan nanti siang mereka akan kembali." Jawab ibunya. "Lebih baik kau membersihkan dirimu, Tsu-kun. Ibu membawa baju ganti dan sarapan untukmu dan Reborn-kun."
Senang melihat ibunya baik-baik saja, Tsuna bergegas ke kamar mandi rumah sakit. "Um!"
Ketika ia kembali, Reborn tengah memakan sarapan yang telah disiapkan. Ibunya kembali duduk ditempat biasanya. Tempat duduk itu berada diantara ranjang Harry dan Lambo, seperti yang Mama inginkan. Sehingga Mama bisa mengawasi keduanya.
Tsuna melahap makanannya, berhati-hati agar Reborn tidak mencoba mencuri miliknya. "Apa ibu sudah makan?"
Ibunya tengah membersihkan wajah Harry dengan pakaian bersih yang basah, dan sepertinya Lambo sudah selesai dibersihkan sebagai pengganti mandi. "Tentu Tsu-kun."
Ibunya terlihat tidak sedang ingin bicara, jadi Tsuna hanya memperhatikan bagaimana ibunya hati-hati dalam membersihkan Harry dan Lambo. Ia sedikit teringat tiap kali ia jatuh atau dijahili oleh teman sekelasnya, ibunya akan selalu berperilaku seperti itu, hati-hati dan teliti. Tsuna tidak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya jika ibunya tidak lembut seperti itu.
"Ia bangun." Suara Reborn terdengar memperingatkan, namun lebih berbisik. Tsuna harus menahan teriakan terkejut atau apapun itu ketika ia melihat mata Harry yang terbuka.
Bukannya histeris, Harry hanya menatap pada wajah ibunya yang sibuk membersihkan lengannya tanpa mengetahui apa yang terjadi. Tsuna ingin sekali memberitahu ibunya kalau Harry sudah sadar, namun ia teringat dengan apa yang dikatakan oleh Mukuro semalam. Jadi ia diam, seperti yang Reborn lakukan saat ini.
Selang beberapa lama ibunya masih terus terhanyut dalam kegiatannya, Tsuna dapat melihat Harry ingin membuka mulutnya.
"Apa anda ibuku?" Pertanyaan itu muncul menggunakan bahasa Inggris. Dan itu tetap tidak mempengaruhi reaksi ibunya yang terkejut. Mulutnya terbuka, ingin mengatakan sesuatu. Namun tidak ada kata yang keluar, hingga Harry mendahuluinya. "Tidak. Anda bukan ibuku," Ada nada sedih didalamnya, "Anda tahu ibuku sangat cantik sepertimu. Dia memiliki rambut merah panjang yang indah, senyumnya membuatku tertawa." Kali ini Harry terlihat senang. "Anda yakin anda bukan ibuku?"
Mama yang tak seratus persen mengerti apa yang dikatakan oleh Harry, hanya tersenyum dan membalas dengan sesuatu yang ia mengerti. "Maaf, Harry-kun. Tapi aku bukan ibumu."
Harry mengangguk perlahan, terlihat mencerna apa yang baru saja ia dengar. "Anda benar-benar cantik."
Mama memerah mendengar pujian itu, ia diam-diam melirik pada Tsuna dan Reborn. Jelas meminta bantuan berdasarkan keterbatasan bahasa antara mereka.
Tsuna menggigit bibirnya, bahasa Inggrisnya masih jauh dari rata-rata. Tapi ia tidak ingin memalukan dirinya di depan ibunya.
"Apa kau bisa berbahasa Jepang?" Reborn tiba-tiba berada di samping meja tempat tidur Harry.
Harry mengedip, bingung. "Memangnya bahasa apa tadi yang aku gunakan?" Tanyanya balik, kali ini menggunakan bahasa yang sama seperti Reborn. "Apa itu bahasa Jepang?" Kini pertanyaan itu ditujukan pada Mama yang tersenyum.
"Tepat seperti saat kau bicara, Harry-kun."
"Oh." Jelas Harry tidak mengerti, dan itu ditunjukkan dengan adanya kerutan di dahinya, namun tidak memperpanjang masalah tersebut.
Mama tersenyum, tidak ingin membuat Harry terkejut. "Apa kau lapar, Harry-kun?"
"Apakah yang anda panggil Harry-kun adalah aku?"
"Ya, Harry-kun. Namamu Potter Harry." Jawab Mama seraya mengambil kotak makan yang ia bawa. Meski tidak tahu kenapa Harry berperilaku seperti itu, Mama masih tetap menanggapinya.
"Bukan 'Boy' atau anak aneh atau 'kau' (you) atau anak nakal atau dia atau-?"
"Tidak, Harry-kun. Namamu Potter Harry dan Harry-kun adalah anak yang baik." Mama memotong ocehan Harry yang sepertinya tidak akan berhenti secepatnya dan menyela dengan kesabaran yang luar biasa. Tsuna tidak tahu dari mana Harry bisa mendengar hal-hal seperti itu.
"Okay." Sebenarnya Harry terdengar masih tidak percaya, tapi menghentikan pemasalahan itu.
"Apa dia adalah anak anda?" Tanya Harry ketika ia pelan-pelan mengunyah dan menelan makanan. Ia menunjuk pada Reborn yang duduk di meja memperhatikan dirinya.
"Panggil aku 'Mama', Harry-kun." Ujar Mama masih terlihat senang dengan Harry yang terbangun meski pertanyaannya aneh-aneh. "Dan bukan, Reborn bukan anakku. Anakku adalah Tsu-kun." Jawab Mama seraya menunjuk Tsuna yang menggeliat gelisah menjadi pusat perhatian.
"Dia benar-benar mirip dengan Mama." Kata Harry, ia kembali mengunyah. "Tsu-kun akan cantik seperti Mama jika rambutnya dipanjangkan."
Tsuna memerah mendengarnya, ia tidak suka dibandingkan dengan ciri-ciri anak perempuan. Ia seorang laki-laki! Tapi mendengar ibunya yang tertawa, bahkan Reborn yang menahan tawa meski tak bisa membantu untuk tersenyum, membuat kekesalan dan rasa malunya memudar. Mukuro mengatakan mereka harus pelan-pelan pada Harry, bukan?
"Aku bukan anak perempuan, Potter-kun." Keluh Tsuna.
"Aku tahu itu." Balas Harry dengan nada aku-dapat-melihatnya-secara-pasti. "Dan aku tidak mengatakan bahwa kau anak perempuan."
Tsuna mengerang, ini benar-benar memalukan. Bagaimana bisa Harry yang sebelumnya pendiam dan baik hati kini berubah menjadi asal bunyi yang membuat kesal?
Mama masih tertawa ketika burung hantu itu merasa ini adalah saat yang tepat untuk ikut serta. Ia terbang dan mendaratkan dirinya di kaki Harry yang tertutup selimut.
"Kau tahu siapa namanya, Harry?" Reborn bertanya, yang membuat Tsuna ingin tertawa geli ketika teringat bagaimana Reborn penasaran terhadap nama burung itu.
Harry terlihat tidak mendengar apa yang dikatakan Reborn. Ia terus menatap burung hantu putih itu dengan senang dan rindu. Dengan hati-hati ia mengelus kepala burung itu, yang mendapat balasan gigitan lembut dari si burung.
"Hedwig, namamu Hedwig." Bisik Harry terkagum-kagum. Hedwig membalasnya dengan sahutan seolah membenari apa yang dikatakan Harry. Harry memeluk tubuh Hedwig penuh perhatian. "Aku benar-benar merindukanmu. Mereka tidak melukaimu, bukan?"
"Nama yang indah untuk seekor burung hantu yang cantik, Harry-kun." Puji Mama yang terlihat senang ketika melihat Hedwig membusungkan dadanya mendengar perkataan Mama. "Dia benar-benar mengerti apa yang kita bicarakan."
"Siapa yang kau maksud mereka, Harry?"
"Reborn..." Tsuna berusaha mengingatkan.
Namun, Harry mengedip, ia seperti seseorang yang bangun tidur. "Apa aku mengatakan sesuatu?" Tanyanya linglung, ia terdengar gelisah dan beberapa kali mengedarkan pandangan pada mereka untuk mencari tahu apa yang terjadi. "A-aku tidak bisa mengingatnya. Mama, kenapa aku tidak ingat apa yang baru saja ku katakan?" Harry terdengar histeris sekarang. Hedwig berusaha menenangkan pemiliknya.
Mama terlihat berusaha menahan diri. "Tidak ada yang perlu diingat, Harry-kun." Ucapnya penuh kesabaran. "Kau baru saja mengatakan bahwa nama burung hantu cantik ini adalah Hedwig."
Harry kembali terlihat orang linglung. "Benarkah?" Tanya Harry tak pasti dan mendapat anggukan menenangkan dari Mama. "Dia benar-benar cantik, bukan?" Setelah itu Harry dan Mama bercakap-cakap layaknya hari biasa, tapi jika kau mendengarnya dengan seksama kalian tidak akan bisa mengikutinya.
"Tidakkah Mukuro mengatakan sesuatu tentang mood swing seperti ini?" Tanya Tsuna berbisik tidak ingin mengejutkan Harry lagi.
"Tidak. Tapi sepertinya ini disebabkan adanya tekanan pada ingatannya, sehingga ia kebingungan dengan apa yang ia lihat, dengar, dan ingat. Kita seharusnya bersabar beberapa hari lagi dan aku ingin mengetahui segalanya."
Tsuna mengernyitkan alisnya, "Reborn, jangan terlalu memaksakan. Kau lihat bagaimana itu mengganggu pemulihan Potter-kun."
Reborn melirik padanya, penasaran untuk mengetahui darimana Tsuna mendapat keberanian untuk menentang keputusannya. "Kita lihat saja nanti."
A/N :
Nah, saya akan meluruskan beberapa hal mengenai chapter ini;
Pertama, perihal kekuatan Viper. Meskipun di anime Viper terlihat lemah saat bertarung dengan Mukuro, tapi saya ingin menunjukkan bahwa sebagai bagian dari anggota Arcobaleno yang katanya adalah terkuat, Viper dapat melakukan hal-hal yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Pengiriman ingatan yang dilakukan oleh Viper namun disebutkan oleh Mukuro adalah contohnya.
Untuk mengetahui apa isi ingatan tersebut, akan terjawab di chapter-chapter selanjutnya.
Kedua, jika ada yang menganggap alurnya terlalu cepat. Saya kira saya tidak mungkin menuliskan terperinci perihal yang ada di anime dan tidak memperlukan peran Harry yang cukup besar. Dan jika terlalu lama menuju permasalahan, saya takut saya akan melupakan jalan cerita yang sudah saya rancang. Jika kalian merasa bingung, kalian bisa menonton anime-nya.
Ketiga, pada chapter ini saya menggunakan sudut pandang dari Tsuna, sedangkan sebelum-sebelumnya saya menggunakan Harry. Hanya untuk mengingatkan agar kalian tidak bingung.
Dipersilahkan bagi yang me-review, fav, follow atau bertanya. Saya tidak menerima kata-kata kasar dalam bentuk flame atau komentar. Kalian bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Ru Unni Nisa
Sign Out
Jaa ne~
