FATE OF MY ADOLESCENCE

Rate: T

Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], Fate Series [Type Moon]

Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun

Genre: School, Friendship, Family, Romance, Drama

Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC

Pairing: ?

Summary: Naruto hidup dalam kesendirian sejak kecil karena perpisahan orang tuanya. Dia bukanlah seseorang yang mudah bergaul ataupun bersosialisasi. Dalam kehidupannya, hanya basket yang dapat membuatnya bertahan dari kesepian. Namun suatu hari, dirinya mengalami kecelakaan yang menyebabkan cedera di kaki kirinya. Banyak hal yang telah dilaluinya hingga saat ia menginjakkan kaki di bangku tahun kedua SMA.. Sobu Gakuen. Kehidupan nya dimulai saat bergabung ke sebuah Klub…

Jangan lupa review, favorite follow!

.

.

.

.

.

Chapter 4: Naruto and His Family's Problem

NARUTO POV

Matahari terbenam menandakan hari sudah malam dan kini saatnya bulan yang menggantikan tugasnya. Sudah satu jam aku memikirkan hal ini. Sebenarnya aku tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Namun sekuat apapun aku berusaha untuk tidak memikirkannya, nama Jeanne-senpai sebagai kakakku terus terukir di pikiranku. Sedikit sulit menerima kenyataan ini. Kenyataan yang mengatakan bahwa Jeanne-senpai adalah… kakakku.

Kakak Sepupu!

Ya… Dia adalah anak dari kakak perempuan ayahku yang sudah meninggal 10 tahun lalu karena kecelakaan pesawat bersama dengan suaminya atau lebih tepatnya ayah dari Jeanne-senpai. Selama 10 tahun, entah apa yang dipikirkan oleh ayahku hingga dia menyembunyikan identitas Jeanne-senpai dari kami.

Ayahku membiayai hidup Jeanne selama 10 tahun ini dan tak satu pun dari kami yang tahu itu. Dia tinggal dan besar tanpa mengenal kami. Sejauh yang kutahu…, bibiku atau ibu dari Jeanne memang sudah memutus ikatannya dengan keluarga Namikaze. Kenapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya adalah hubungan yang tidak direstui.

Oh aku benar benar kasihan dengan bibiku. Dia harus memutus ikatan dengan keluarganya demi bisa menikahi laki laki yang dicintainya. Bahkan kabar mengenai dirinya tak pernah terdengar di telinga keluarga besar hingga akhirnya kabar mengenai dirinya muncul saat kecelakaan pesawat itu.

Lalu sekarang … bagaimana bisa ayahku mengenalkan Jeanne senpai sebagai kakak sepupu kami secara tiba tiba? Dan disaat aku masih menyimpan rasa kepadanya …

Aku merasa sedikit lega karena dia bukanlah kakak kandungku. Dia hanya kakak sepupuku… karena sejujurnya tadi aku nyaris menerima serangan jantung ketika ayah mengatakan Jeanne adalah kakakku, Menma dan Naruko.

Hah~… Lupakan itu. Sekarang tebak dimana aku?

Tepat sekali… aku berada di kamar lamaku. Dengan sebuah bujukan dari Jeanne… neesan?, akhirnya aku terpaksa menginap di rumah malam ini. Tunggu … aku tidak bisa mengatakan tempat ini adalah rumahku. Aku sudah pergi dari rumah ini … ya! … aku hanya menginap di rumah laki laki yang kebetulan adalah ayahku.

TOK TOK TOK

"Naruto …"

"I-Iya…? Tunggu sebentar!"

Suara itu… Jeanne-senpai! Ah tidak, maksudku Jeanne-neesan! Dia tiba tiba mengetuk pintu kamarku. Aku bergegas menuju ke pintu kamarku dan membukanya.

"A-Ada apa, neesan?"

Dia tersenyum ketika kulihat dirinya sudah menungguku untuk membukakan pintu.

"Naruto keliahatannya sudah terbiasa ya memanggilku 'neesan'?"

Barusan dia tak mempedulikan pertanyaanku dan malah membahas hal itu.

"A-Ah… Apa salah jika aku memanggil neesan?"

"Hmm, tidak kok…"

"J-Jadi, ada apa neesan? Apa neesan perlu sesuatu?"

"Makan malam sudah siap… ayo turun dan kita makan sama sama!"

Makan malam bersama sama? Ha?... Apa aku tidak salah dengar barusan? Seketika ekspresiku jadi datar dan aku langsung mengalihkan pandangan ku dari Jeanne-neesan. Sebelumnya… tak pernah ada yang namanya makan malam bersama kurasa… Aku memaksakan sebuah senyuman di wajahku namun hal itu berakhir menjadi sebuah senyuman masam.

"N-Nanti aku menyusul… Neesan duluan saja,"

Bisa kulihat sekarang Jeanne-neesan memasang ekspresi heran dan penasaran. Lalu tak lama kemudian, tatapannya berubah menjadi serius.

"Apa kau sedang sakit, Naruto?"

"T-Tidak… Aku hanya berpikir untuk… ehm, melewatkan makan malam?"

Mendengar jawabanku… Jeanne-neesan langsung berkacak pinggang dan menatapku tajam. Dia meraih tangan kanan ku lalu menarikku… memaksaku untuk turun ke lantai satu bersamanya. Tentu saja aku langsung memprotes tindakannya lewat kata kata namun semua itu tak digubris olehnya.

"T-Tunggu! Kubilang tunggu!"

"Tidak! Kau harus ikut makan malam!"

"A-Aku sudah kenyang, neesan!"

"Kau belum makan apa apa sejak pagi, kan? Naruko-chan yang mengatakannya padaku. Apa harus kusuapi?"

S-S-Suap? Suapi? Disuapi olehnya? Pikiran ku mulai terbang kemana mana dan detak jantungku semakin cepat ketika membayangkan adegan suap menyuap makanan itu. Ya Tuhan… sudah sejak lama aku menginginkan hal itu. Tapi… tapi kenapa harus pada kondisi seperti ini!? Disaat gadis yang kini menarik tanganku ini ternyata diketahui sebagai kakak sepupuku!

"Jadi bagaimana?"

"H-Hentikan, neesan! A-Aku bisa makan sendiri! Tolong lepaskan tanganku…!"

"Oke… Kalau begitu ayo kita makan malam bersama!"

Jeanne-neesan melepaskan tanganku dari genggamannya dan kukira hal menegangkan sudah terlewati namun dia malah melakukan sesuatu yang lebih ekstrim. Dia tiba tiba melingkarkan tangannya di lenganku dan membuatku benar benar tak bisa lepas. Yang kupermasalahkan sebenarnya bukan hanya itu. Namun… juga karena… dadanya menyentuh tubuhku.

Ukhhh… Aku bisa merasakan benda kenyal itu terus menekanku. Sangat bohong jika kukatakan aku tidak menikmatinya. Jujur aku menikmatinya dan aku tahu kalau wajahku sekarang sudah memerah total karenanya. Jantungku berdegup kencang dan aku mencoba mengalihkan pikiran ku pada hal lain. Sesuatu yang menyebalkan… sesuatu yang menyebalkan!

GYUUUTTT

Arrgghhh! Dada nya kembali menyentuh dan menekan di lengan dan tubuhku! Ini benar benar menyiksa sekaligus membahagiakan untukku.

"Naruto-kun? Kau baik baik saja? Kau sakit ya..? Wajahmu kelihatan memerah,"

Saat dia menatapku dengan khawatir seperti itu. Ohh sungguh, dia benar benar manis.

"T-Tidak apa apa… Aku hanya sedikit kelelahan,"

"Hmm… Coba biar kuperiksa,"

Tiba tiba saja dia melepaskan tangannya dari lenganku dan menyentuh kedua pipiku dengan kedua telapak tangannya. Dan itu benar benar membuatku terkejut sekaligus hampir jantungan. Tapi hal itu ternyata masih sebuah permulaan. Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil menutup kedua matanya.

Nafasku memburu dan jantungku berdetak semakin cepat. Apa yang akan dia lakukan!? Wajahnya benar benar sangat dekat denganku! Hingga saat dahinya bersentuhan dengan dahiku, wajahnya berhenti mendekat. Meski begitu aku masih bisa melihat bibir mungil itu dengan jelas. Nampaknya Jeanne-neesan sedang memeriksa suhu tubuhku.

Jika keyakinanku goyah sedikit saja… aku yakin… aku sudah nekat menyerbu bibir mungil itu. Ya ampun… maafkan aku Jeanne-neesan! Aku berpikiran seperti ini! Mohon maklumi aku!

"Hmm… Tidak panas tapi wajahmu memerah,"

"S-Sudah tak usah pedulikan hal itu, neesan! Ayo segera turun saja… A-Aku lapar,"

"Hmm… Kau sudah mendapatkan kembali nafsumu?"

"N-N-Nafsu?" tanyaku terkejut.

"Ya… Nafsu makanmu," jawab Jeanne-neesan sambil memiringkan kepalanya.

"A-Ah, iya! Aku benar benar kelaparan! Uwaaahh, ayo neesan!"

Aku berjalan turun mendahului neesan dengan kondisi ku yang berada dalam kepanikan. Sesaat setelahnya, aku menoleh ke belakang… masih dalam kondisi yang bingung dan canggung. Aku melihat neesan yang tersenyum manis kepadaku.

"A-Ayo, neesan!"

"Hmm, kau duluan… aku akan menyusul!"

"O-Oke!"

Lalu setelah itu aku segera meninggalkan neesan dan menuruni tangga dan berlari menuju ke ruang makan.

END OF NARUTO POV

.

.

.

.

.

Selepas Naruto meninggalkannya turun ke ruang makan, Jeanne berdiri diam di tangga cukup lama. Setelah dia bosan dengan posisi itu, dia bersandar ke dinding sambil menundukkan kepalanya dan merenungkan sesuatu. Tanpa disadarinya, setetes air mata turun dari bola matanya. Dia mengernyitkan alisnya menyadari tetesan air mata yang jatuh.

"Aku harus membunuh perasaan ini secepat mungkin…"

Ekspresinya terlihat menyakitkan dan terasa begitu sedih. Hal yang barusan dilakukannya kepada Naruto mungkin merupakan bentuk pelampiasan dari perasaan yang selama ini dia pendam kepada Naruto. Ya… Sebuah perasaan. Yang dia simpan diam diam sejak SMP.

Jeanne mengusap matanya lalu berkedip beberapa kali hingga terlihat dirinya benar benar seperti sedia kala. Sangat sempurna untuk menutup dirinya yang tadi menangis. Dia menepuk kedua pipinya.

"Saa~… Waktunya makan malam!"

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Lalu ketika di ruang makan

Suasana terasa begitu canggung saat Naruto duduk di sebelah Menma dan menghadap ke arah Jeanne yang berada di seberang meja makan sedangkan Menma menghadap Naruko. Lalu di tengah bagian sudut… terdapat Minato yang jelas merasakan suasana canggung tersebut.

Seolah tak ada yang bisa dibicarakan bahkan setelah makanan di piring mereka hampir habis, tak ada satupun dari mereka yang membuka obrolan. Hingga akhirnya Minato berinisiatif memulai perbincangan…

"Ehem…"

Dimulai dengan sebuah deheman.

"J-Jadi, bagaimana dengan sekolahmu, Naruto?"

Naruto yang mendapat pertanyaan itu langsung melirik perlahan ke arah ayahnya.

"…Biasa saja,"

Jawaban itu jelas mengatakan bahwa Naruto tidak tertarik dengan obrolan yang ingin dibuka oleh Minato.

"A-Ah… begitu. Bukankah kau satu sekolah dengan Jeanne, Naruto?"

"Hmm? Bukankah ayah sudah tahu? Kenapa harus bertanya…?"

Jawabannya kali ini benar benar menegaskan bahwa dirinya tak ingin bicara saat ini. Mungkin juga hal ini disebabkan oleh mereka yang jarang sekali makan malam bersama.

"A-Ah… L-Lalu bagaimana denganmu, Menma? Kau masih berada di tim basket?"

Menma melirik ke arah ayahnya. Serupa dengan lirikan yang diberikan oleh Naruto tadi.

"Aku tidak pernah masuk ke dalam tim Basket, Tou-san."

Naruto yang sedang sibuk mengunyah makanannya langsung terdiam mendengarkan jawaban Menma barusan. Naruko yang berada di seberang Menma juga langsung melirik ke arah Naruto dengan ekspresi khawatir.

"Bukankah kau dan Naruto dulu adalah anggota tim Basket?" tanya Minato dengan nada yang keheranan karena seingatnya dulu Naruto dan Menma adalah anggota tim Basket.

"Ya… Itu dulu saat kami masih tinggal satu rumah dan juga sebelum si pirang ini mengorbankan kakinya untukku," jawab Menma sambil menghentikan aktivitasnya melahap makanannya.

"Aku tidak pernah mengorbankan kaki kiriku untukmu," balas Naruto tanpa menoleh ke arah Menma.

Mendengar Naruto mengucapkan hal itu, Menma langsung mengalihkan pandangannya ke arah Naruto yang duduk di samping kanannya.

"Lalu untuk apa kau selamatkan aku dari kecelakaan itu!?" kata Menma dengan nada yang tajam sambil mengerutkan keningnya.

"Aku hanya berusaha menolongmu… aku tidak tahu kalau cedera di kaki kiriku yang jadi bayarannya," jawab Naruto membalas tatapan Menma kepadanya.

"Aku tidak pernah memintamu untuk menolongku!"

"Kalau begitu… Maaf saja jika aku menolongmu saat kau nyaris mati!"

Mereka berdua saling bertukar tatapan tajam dan saling membalas perkataan. Hal itu menyebabkan suasana di ruang makan semakin tidak menyenangkan terutama bagi Naruko dan Jeanne yang nampaknya benar benar khawatir melihat aura permusuhan di antara mereka berdua.

"Cukup… Naruto, Menma! Hentikan pertengkaran kalian…"

Mendengar hal itu, Menma melirik ke arah ayahnya lalu kembali duduk tenang di kursinya sambil melanjutkan kegiatan melahap makan malamnya sedangkan Naruto hanya terdiam di kursinya sambil memainkan makan malamnya dengan sumpitnya.

"Kalian berdua… Lupakan tentang kecelakaan itu! Kecelakaan itu bukan salah siapa siapa… Bukan salah Naruto menyelamatkan Menma… Bukan salah Menma juga menyebabkan Naruto cedera,"

Perkataan itu sedikit memancing perhatian Menma. Dia menghentikan lagi aktivitasnya dan meletakkan sumpitnya di mangkuk nasinya. Lalu dengan ekspresi kesal dia menoleh perlahan ke arah ayahnya.

"Apa yang Tou-san tahu…?"

"M-Menma… Sebaiknya-" kata Jeanne terputus begitu dia mendapat sebuah lirikan tajam dari Menma.

"Apa maksudmu, Menma?"

"Ayah berkata seolah Tou-san tahu apa yang menimpa kami padahal tidak…"

Ya… Yang dikatakan Menma memang tidak salah. Karena Minato sendiri juga tidak secara langsung hadir disaat anak anaknya berada dalam masalah. Dia hanya mengirimkan utusannya untuk memeriksa mereka.

"Bahkan aku yakin… tak seorang pun disini yang datang menjenguk si pirang ini di rumah sakit,"

Ucapan Menma kali ini memang benar. Naruto yang mendengar hal itu hanya mengalihkan pandangannya sedikit ke samping… mencoba menghindari tatapan yang lain.

"Kau juga tidak…" kata Naruto dengan nada malas.

Menma hanya mendecih menanggapi ucapan Naruto barusan.

"Menma-niisan… L-Lebih baik hal ini tak kita bicarakan disi-"

"Diamlah, Naruko…" dan begitu Naruko akan mengeluarkan pendapatnya, Menma langsung memutus kalimat yang akan diucapkan Naruko.

Semuanya mendadak terdiam karena kata kata Menma. Seolah kondisi saat ini diatur oleh Menma sendiri. Tak ada satu pun juga yang nampaknya berniat mengomentari apa yang dikatakan oleh Menma barusan.

"Jangan mulai bertingkah seolah kau adalah pengganti Kaa-san di rumah ini, Naruko. Kita tidak pernah memiliki yang namanya sosok Kaa-san… jadi tidak usah bertindak seolah kau adalah pengganti Kaa-san!"

Kata Menma dengan nada yang benar benar tajam dan menyakitkan untuk didengar oleh Naruko.

"Menma!" kata Minato dengan nada yang ditinggikan.

Naruko yang mendengar kata kata Menma barusan langsung membuka kedua matanya lebar dan berdiri dari kursinya sambil menunjukkan sebuah ekspresi kesal, kecewa dan sedih. Semua mata langsung tertuju kepada Naruko seketika tentunya kecuali Menma.

Semua tatapan itu ditujukan nya kepada Menma yang duduk di hadapannya. Seolah tak peduli, Menma hanya melanjutkan melahap makanannya dengan ekspresi tak bersalah. Tak lama kemudian, Naruko menoleh ke arah Naruto. Begitu mendapatkan tatapan itu,Naruto secara refleks langsung mengalihkan pandangannya dari Naruko.

Naruko mengedipkan matanya berkali kali sambil memasang wajah kecewa saat melihat Naruto yang mengalihkan pandangan darinya.

"N-Naruko-chan…"

Jeanne berusaha untuk menenangkan Naruko namun gadis yang merupakan adik kandung dari Naruto dan Menma itu langsung berjalan cepat menuju kamarnya meninggalkan makanannya yang masih tersisa.

Naruto yang menyadari situasi saat ini nampaknya memilih untuk mengambil jaketnya kemudian berdiri dari kursinya lalu menyampaikan niatannya. "Terima kasih atas makan malamnya… aku akan pulang,"

Mendengar pernyataan Naruto, Minato langsung menoleh ke arahnya dan memberikan sebuah ekspresi serius.

"Pulang kemana?"

Dan pada saat itu, posisi Naruto sudah berdiri membelakangi semua orang yang ada disana.

"Aku akan pulang ke apartemenku…"

Ucapnya tanpa membalikkan tubuhnya.

"Untuk apa? Disini lah rumahmu!"

"Tidak… Disini bukanlah rumahku. Rumah ini adalah tempat dimana Tou-san dan Kaa-san bisa meninggalkan kami,"

Dan setelah mengatakan hal itu, Naruto berjalan menuju ke pintu rumah. Dia sudah berjalan hingga ke gerbang keluar namun dari belakang, seorang gadis berlari ke arahnya sambil memanggil namanya.

"Naruto-kun!"

Mendengar suara tersebut, Naruto langsung menyadari siapa gadis itu. Dia segera membalikkan tubuhnya menghadap ke arah gadis itu karena bagaimana pun… dia tidak bisa untuk tidak mempedulikan gadis yang kini berdidi di hadapannya itu.

"Ada apa, neesan?"

"Apa kau sungguh harus pergi malam ini…?"

"Yah, begitulah. Kurasa kehadiranku disini juga hanya mempersulit… Lagipula besok adalah hari Senin dan aku tidak membawa seragamku jadi tidak mungkin aku menginap di rumah ini,"

"Kau… apa masih sempat?"

"Hmm… Sekarang masih pukul 20:11… jadi kurasa masih sempat jika aku buru buru naik kereta sekarang,"

"S-Souka…"

Jeanne nampak sedikit tertunduk sambil memasang sebuah ekspresi lesu.

"Ada apa, neesan? Kenapa kau terlihat lesu…?"

"T-Tidak… aku hanya sedikit… mengkhawatirkanmu,"

Naruto mengedipkan mata sekali begitu mendengar bahwa Jeanne mengkhawatirkan dirinya. Jujur dia merasa bahagia ketika mengetahui Jeanne ternyata mengkhawatirkan dirinya namun sebenarnya kekhawatiran Jeanne baginya sedikit tidak beralasan karena dia sudah terbiasa hidup sendiri.

"Tidak perlu mengkhawatirkanku, neesan… Aku bisa menjaga diriku. Tolong jaga Naruko, Menma dan Tou-san!,"

"U-Uhm… serahkan paman, Naruko-chan dan Menma padaku,"

"Kalau begitu… hmm… sampai jumpa di sekolah besok,"

"Ya… sampai jumpa besok!"

Setelah mengucapkan kata kata sampai jumpa, Naruto meminta satpam untuk membuka gerbangnya lalu sambil melihat situasi di sekitar, dia memakai tudung jaketnya kemudian kembali berjalan pulang.

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Keesokan harinya

Dengan tubuh yang kelelahan dan rasa kantuk yang besar, Naruto berjalan di sepanjang lorong gedung sekolahnya menuju ke ruang kelasnya. Baginya tak ada yang berbeda hari ini karena memang menurutnya setiap harinya selalu sama saja. Namun bagi sebagian besar murid murid pagi ini nampaknya merasakan sesuatu yang berbeda. Berbagai bisikan Naruto dengarkan selama dia berjalan di sepanjang lorong.

'Masih pagi tapi sudah banyak sekali obrolan obrolan dan gosip,'

Naruto menghela nafas malas ketika paginya harus terganggu dengan obrolan obrolan gosip semacam ini. Ingin dirinya menutup telinga dengan kedua tangan namun dia pasti disangka sudah gila jika melakukannya. Andai saja dia membawa headset hari ini, pasti dia sudah menyumpali telinga nya.

"Cih... Berita apa kali ini…?" gumam Naruto pelan.

Dia tak mendengarkan dengan pasti namun dari semua obrolan yang tak sengaja ia dengar sekilas… Mereka semua membicarakan tentang dua orang murid pindahan di tahun kedua. Yah sejujurnya Naruto tidak peduli akan hal itu. Entah ada murid pindahan, murid yang keluar… semua itu tidak akan mempengaruhi kehidupannya saat ini. Tapi itu menurutnya…

"Satu orang laki laki dan satu orang perempuan ya?"

"Kudengar si gadis pindahan itu sangat cantik dan yang laki laki begitu pendiam tapi keren dan tampan…"

"Benarkah?"

"Mereka pindahan tahun kedua kan?"

Ketika mendengar itu, Naruto hanya memejamkan mata sambil terus melangkah melewati kerumunan orang satu persatu.

'Jadi… satu gadis dan satu laki laki ya?'

Lalu tiba tiba saja ketika Naruto masih terfokus dengan sepanjang jalan menuju ke ruang kelasnya, yang lain justru terfokus kepada seorang gadis dan laki laki yang berjalan dari arah berlawanan dengan Naruto. Gadis dan laki laki itu nampak terlihat begitu tenang dan memiliki aura yang berbeda.

Mereka berdua adalah murid pindahan di tahun ketiga yang tengah ramai diperbincangkan oleh murid murid di sekolah saat ini. Naruto memang tidak ingin peduli dan tidak mau tahu dengan keberadaan dua murid pindahan baru itu namun bagaimana bisa dia tidak terlibat ketika kedua murid pindahan itu menghalangi jalannya.

"Lama tak bertemu, Naruto…"

"Hmm…?"

Naruto yang menyadari ada dua pasang kaki yang telah menghalangi jalannya langsung menoleh ke arah kedua orang itu. Seorang perempuan dan seorang laki laki yang ia kenal betul siapa mereka.

"Bagaimana kabarmu, Naruto-kun?"

"Apa kau masih suka menyendiri seperti dulu..?"

Naruto membulatkan matanya begitu melihat wajah kedua orang yang sangat familiar di benaknya.

"H-Hinata…? N-Neji…?"

.

.

.

.

.

xxx0xxx

NARUTO POV

Baiklah sekarang aku berada di kelas dengan suasana yang benar benar menyebalkan. Ingin tahu kenapa? Itu karena semua orang di kelasku… maksudku teman sekelasku… Tunggu! Mereka bukan temanku… Biar kuulangi… Maksudku murid lain yang kebetulan satu kelas denganku saat ini tengah memperhatikanku. Ya! Semuanya sedang memperhatikan itu. Dan aku tahu apa alasannya. Beberapa saat yang lalu beredar sebuah berita mengenai dua orang murid pindahan… satu perempuan dan satu laki laki.

Yang menyebabkan diriku menjadi perhatian saat ini adalah dua orang itu adalah orang yang kukenal. Tak hanya mengenal mereka tapi mereka juga merupakan teman masa kecilku. Duo Hyuuga… mereka berdua bukan kakak beradik… lebih tepatnya sepupu! Dan mereka berada dalam satu angkatan yang sama denganku di sekolah ini.

Sejujurnya meski aku mengenal mereka… seharusnya posisiku masih aman disini namun karena mereka tadi menghampiri dan menyapaku… Pagiku yang tenang hari ini nampaknya berakhir. Beruntungnya mereka berdua ditempatkan di kelas A. Kelas orang orang spesial yang bisa kukatakan sejenis dengan Tohsaka.

Ya ampun! Bagaimana mereka bisa bersekolah disini?

"Murakami… Kudengar kau kenal dengan dua orang pindahan itu ya?" tanya seseorang yang kutahu adalah teman dari Siegfried dan Luvia. Ya… Laki laki ini merupakan salah satu anggota kelompok Siegfried yang berisikan orang orang paling mencolok di kelas ini dengan reputasi mereka yang tinggi di sekolah.

Reputasi yang kukatakan disini bukanlah dalam bidang akademis melainkan… seberapa populer mereka di sekolah ini. Memiliki banyak teman dan hal hal semacam itu. Sejujurnya aku sedikit rishi ketika laki laki ini tiba tiba sok akrab denganku.

"A-Ah… Begitulah, aku hanya sebatas mengenal mereka,"

"Bagaimana bisa kau mengenal mereka, Murakami-kun?" tanya Siegfried yang tiba tiba muncul entah darimana.

Dia langsung menunjukkan senyumnya itu… sesuatu yang kubenci darinya. Jangan pernah mencoba sok akrab denganku, Siegfried!

"Aku tak bisa menceritakannya… kami hanya sebatas mengenal,"

"Hmm… Tentu saja, tak mungkin orang sepertimu memiliki teman seperti mereka,"

Dan kali ini yang mengucapkan hal itu adalah sang ratu dari kelas ini. Luvia…

Biar kutebak… Dia mungkin masih mengingat kejadian kemarin saat aku mengancamnya dan sekarang mungkin saja jika tidak karena kehadiran Siegfried disini… dia sudah membalasku dan memaki makiku. Yah sejujurnya aku juga tidak peduli dengan semua perkataannya. Kuanggap semua itu hanyalah angin berlalu.

"Yah, begitulah… Jadi bisa kalian menyingkir dariku?"

Tanyaku dengan nada datar tanpa mencoba menyulut amarah mereka.

"Cih… Kau yang harusnya menyingkir dari sini!" ucapan Luvia barusan benar benar membuatku kesal sebenarnya namun aku berusaha untuk tidak terlalu tersulut oleh emosi disini.

"Apa yang salah dengan ucapanku? Ini mejaku… Meja kalian ada disana bukan?"

Balasku kepada Luvia sambil menunjukkan deretan mejanya. Dan saat menerima balasanku barusan, aku bisa melihat dengan jelas ekspresi kesal di wajah Luvia. Hmm… Ternyata menyulut emosi gadis ini menyenangkan juga. Mungkin aku harus lebih sering melakukan hal seperti ini.

Tapi lebih baik tidak! Aku hanya akan jadi pusat perhatian! Dan itu benar benar menggangguku…

Tak lama kemudian sensei yang mengajar pada jam pertama memasuki kelas kami. Dan murid murid yang kebetulan berada di kelas yang sama denganku segera duduk di kursi mereka masing masing. Aku terselamatkan karena kedatangan sensei kurasa…

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Istirahat Makan Siang

Tebak dimana aku sekarang? Kalian seharusnya sudah bisa menebaknya… Yap! Aku berada di lorong menuju ke ruangan klub sekarang. Melewati pagi yang benar benar tak menyenangkan, entah kenap aku merasakan bahwa akan ada hal tak menyenangkan lainnya yang akan menimpaku hari ini. Dan hal itu kurasakan begitu aku melangkah semakin dekat dengan ruangan klub dimana aku seharusnya berada.

Aku membuka pintu masuk ruangan dan disana duduk seorang gadis berambut pirang yang menemani Tohsaka. Aku berdiri dalam keheningan sambil menatap kedua gadis itu yang tengah mengobrolkan sesuatu.

Mereka adalah Tohsaka Rin dan Namikaze Jeanne.

Satu adalah gadis yang paling menyebalkan untukku dan yang satunya adalah gadis yang kusukai sejak dulu dan tiba tiba kini aku dan dirinya terikat dalam sebuah hubungan keluarga bernama 'Sepupu'.

"Ohh, Naruto-kun!"

"Hmm, kau datang disaat yang tepat Murakami-kun!"

Aku masih terdiam membisu ketika mendapat sapaan dari mereka berdua. Aku cukup senang dengan senyuman yang kudapatkan dari Jeanne-neesan karena senyuman manis itu benar benar membahagiakanku ketika aku melihatnya.

Lalu bagaimana dengan Tohsaka? Senyuman itu… Entah kenapa aku ketakutan melihat senyuman itu. Aku yakin di balik senyuman itu terdapat sebuah niatan jahat yang akan mengancam hidupku!

Aku menelan ludahku sendiri sambil menampakkan ekspresi datar dan tatapan kosong.

"Ada urusan apa J-Jeanne-senpai kemari?"

"Tidak usah menutupinya, Murakami-kun! Aku sudah dengar ceritanya," jawab Tohsaka masih dengan senyuman itu. Senyuman yang kurasa palsu dan sebenarnya memiliki sebuah tujuan dibaliknya.

"O-Oh, begitukah Tohsaka?"

"Ya, begitulah… Murakami-kun!"

"J-Jadi ada urusan apa Jeanne-neesan kemari?"

Setelah kurasa aku bisa bicara dengan Jeanne-neesan seperti biasa, aku langsung memanggilnya neesan di hadapan Tohsaka. Pertanyaanku langsung melesat ke intinya karena aku sendiri juga kebingungan akan kehadiran Jeanne-neesan disini. Tohsaka nampaknya masih tak melepaskan senyuman itu dari wajahnya dan kini malah menunjukkan sebuah aura mengerikan di balik senyuman itu.

Aku duduk di kursiku lalu memandang Jeanne-neesan yang kini tengah berpikir sejenak kemudian menatap diriku dan Tohsaka dengan sebuah ekspresi yang benar benar serius.

"Aku ingin membuat permintaan… aku ingin kalian menolongku sesuai dengan tugas kalian di klub ini!"

Jadi Jeanne-neesan ingin membuat permintaan. Sebuah request dari Jeanne-neesan. Sejujurnya aku penasaran apa itu…

"P-Permintaan apa, senpai?"

Tanya Tohsaka yang sekaligus mewakili rasa penasaranku akan pertanyaannya barusan. Setelah itu aku menoleh lagi ke arah Jeanne-neesan dengan perasaan yang penasaran. Dan entah kenapa Jeanne-neesan sudah menatapku serius yang membuatku tersipu sekaligus keheranan menerima tatapan itu.

"Jadilah pacarku, Naruto-kun!"

"Eh..?

TBC

.

.

.

Author Note:

Ehem… Shiba disini. Tes tes! Apa kabar? Bagaimana dengan kenyataan yang saya buat bahwa Jeanne adalah kakak sepupunya Naruto? Fufufu… kalian kira pasti kakak kandung atau kakak tiri kan? Maaf saya cuma mau mempermainkan reader wkwkwk. Gomennasai

Saya merasa gak ada yang perlu dijelaskan karena biarlah semua pertanyaan terjawab seiring berjalannya fic ini. Dan mungkin di sesi kali ini saya akan sedikit curhat mungkin…

Saya merasa kurang bersemangat jujur saja… untuk menyelesaikan fic fic saya. Apalagi ffn mulai sepi. Bohong jika saya bilang semangat saya tidak turun ketika ffn mulai sepi. Apalagi banyak fic fic yang jarang update lah… bahkan fandom Naruto juga mulai sepi. Karena nya ane jadi makin pesimis buat bisa namatin fic fic saya karena terkadang saya khawatir jika ffn sudah benar benar sepi baik dari authornya maupun readernya.

Saya bersyukur karena sampai sekarang masih memiliki reader reader yang membaca fic saya. Yah intinya di sesi kali ini ntah kenapa saya mau bilang terima kasih saja buat reader reader sekalian yang masih mengikuti dan membaca fic fic saya. Saya ucapkan terima kasih sekali karena jujur saja tanpa review dan dukungan kalian saya juga gatau apakah masih sanggup jadi seorang author sampai sekarang. Meski fic fic saya juga masih sangat jauh dari kata sempurna dan kemampuan saya juga masih sangat terbatas, saya bersyukur masih ada reader yang membacanya dan mendukungnya. Jadi terima kasih sekali lagi.

Maaf jika author ini sering mengecewakan reader sekalian.

Update selanjutnya, saya akan mengupdate fic saya yang Symbol of Revenge. Entah kapan jadwal pastinya..

See you in next chapter