'Skandal Perselingkuhan Artis papan atas dengan seorang pengusaha'
Tajuk berita penuh drama dan sensasi begitu pamor hari ini. Ditambah sebuah foto dua orang yang sedang berciuman di tempat parkir membuat semua orang yakin jika tak ada kepalsuan di sana.
"Ibumu sakit setelah membaca berita itu"
Xi Luhan, kakak sepupunya melangkah sambil menenteng koran berita di tangannya. Wajahnya yang tampan tampak kalem meskipun sebenarnya ia memendam rasa kesal pada adik sepupunya itu.
"Apa sih maumu itu?" Tanya Luhan.
Sehun menunduk, ia baca tajuk itu. Kepalanya semakin berdenyut-denyut. Plus ibunya yang jatuh sakit dan Sehun sama sekali tak bisa menjenguk sang ibu di Beijing sana mengingat kemarahan sang ibu paska perceraiannya dengan Kim Jongin.
"Itu tidak seperti yang terlihat, hyung"
"Tapi orang-orang lebih percaya bagaimana kalian terlihat. Kau mau beri penjelasan di depan pers? tidak akan ada gunanya"
Kenapa Sehun bisa begitu ceroboh akhir-akhir ini? sang kakak sama sekali tidak tahu apa yang diinginkan sang adik. Sejak bercerai dengan Jongin 1 bulan yang lalu, Sehun jadi pribadi yang sulit ditebak dan hidup semaunya.
Ia tahu jika Sehun merindukan Kyungsoo. Hidup tanpa putra kecilnya telah membuat hidupnya terpuruk. Tetapi mantan istrinya, Kim Jongin tak akan mau tahu. Luhan pernah sekali menghubungi Jongin. Namun hasilnya nihil. Tak ada jawaban dari namja itu. Melainkan operator yang meminta Luhan untuk mencoba beberapa saat lagi.
"Kau merindukan putramu kan?"
"Aku tak perlu menjawabnya lagi, hyung" sahutnya.
Rasanya begitu hampa. Sehampa perasaan Luhan yang ditinggal mati oleh anak dan istrinya akibat kecelakaan mobil 7 tahun silam.
"Seorang pria harus berani menanggung resiko" lelaki yang bersumpah tidak menikah lagi itu bekata.
"I know"
"Jika kau memang merindukan putramu, kau harus berusaha sekalipun Jongin melarangmu untuk bertemu"
.
.
.
.
"Mommy"
Jongin berhenti memoles kue dengan krim vanila ketika ia mendengar putra kecilnya itu memanggilnya.
Balita itu melangkah dengan tas ransel di gendongannya. Dia sudah pulang sekolah, dan sengaja diajak mampir ke toko kue mommy-nya oleh paman Kris.
"Hey, Kyungs my baby" Balasnya. Ia gendong tubuh mungil putranya dan memberikan satu kecupan di kening.
"Mommy tahu tidak, tadi Kyungie cobain onigili buatan mamanya Doyoung. Bentuknya lucu, sepelti panda"
Jongin tertawa mendengar cerita buah hatinya itu. "Benarkah? Apa Kyungs mau mommy buatkan seperti itu?"
"Boleh..Mommy bisa?"
"Tentu saja. Kyungs mau yang bentuk apa?"
"Bentuk paman bel (bear)?"
Jongin terkekeh pelan. Putranya memang sangat lucu dengan tatapan mata bulat itu.
.
.
.
.
From : Luhan Hyung
Bibi Yoona sakit. Dia merindukan dirimu dan Kyungsoo. Jongin, tak bisakah kau sedikit melembut? Aku tahu itu sangat menyakitkan untuk dirimu.
Jongin menarik napas pelan. Ia kembali meletakan ponselnya begitu saja.
Malam sudah semakin larut. Disampingnya Kyungsoo sudah terlelap sambil memeluk erat boneka kesayangannya.
Sebulan lamanya ia hidup tanpa seorang Oh Sehun. Mengabaikan telepon dari namja itu hingga pada akhirnya Sehun lelah sendiri untuk menunggu Jongin mengangkat sambungan teleponnya.
Dia sadar jika dirinya egois. Tapi ia hanya tak mau mendengar berbagai macam pemberitaan mengenai mantan suaminya itu. Jika memang pada akhirnya Sehun bukan miliknya, ia hanya berdoa semoga Sehun bahagia dengan pilihannya itu.
Dia tidak mengharapkan apapun selain Kyungsoo. Harta paling terindah yang pernah Sehun berikan untuknya. Bagi Jongin, Kyungsoo kecil adalah segalanya. Bahkan rela ia berikan nyawanya jika memang Tuhan berkendak.
"Kau belum tidur?"
Ia menoleh, melihat ibu kandungnya yang melangkah menuruni anak tangga.
Sejak 1 jam yang lalu ia memutuskan untuk menonton acara malam hari yang dikhususkan untuk orang-orang dewasa.
"Tidak biasanya kau terjaga di malam hari begini" Yeoja itu berkata.
"Entahlah, ma. Aku pun juga tidak tahu"
Yeoja itu mengulum senyum. Ia duduk di samping putra bungsunya itu. Ia sendiri pun juga tidak bisa tidur. Padahal nanti siang ia harus menemani putri sulungnya itu menemui kliennya.
"Ibu sudah dengar jika Yoona sakit" ujar Jaejoong. Matanya menatap penuh keibuan anak bungsunya itu.
"Dia bilang dia rindu Kyungsoo"
"Itu wajar" sahutnya. "Yoona sangat menyayangi Kyungsoo dan dirimu"
"Mama"
"Ya?"
Jongin nampak berpikir. Lalu melontarkan sebuah pertanyaan seperti ini. "Apa menurut mama semua yang ku lakukan salah?"
"Memang kau melakukan apa?"
"Melarang Sehun menemui Kyungsoo"
Yeoja itu tertawa pelan. "Kau sudah dewasa, Jongin" sahutnya. "Benar atau pun salah semuanya ada di tanganmu sendiri"
"Tapi ma-"
"Mama tak ingin mendengar alasan lagi, sayang" Jaejoong berkata. "lakukan yang ingin kau lakukan. But you must to take your own risk"
.
.
.
.
Kyungsoo tumbuh besar. Wajahnya kalem dengan pemikiran orang-orang pintar yang Sehun wariskan untuknya sebagai seorang ayah. Balita menggemaskan itu telah jadi seorang remaja yang pintar.
Dan Sehun pun juga sudah menjadi tua dengan rambut yang ditumbuhi beberapa rambut putih.
Ia begitu senang ketika melihat putranya. Sehun hendak menemuinya. Tapi seorang namja dewasa lain lebih dulu menemui Kyungsoo dan bertingkah seolah dialah ayahnya Kyungsoo.
Sehun merasa bahagia saat Kyungsoo menoleh ke arahnya. Tapi hanya sekejab, karena selanjutnya Kyungsoo malah menatap dirinya penuh kebencian dan amarah yang membuat Sehun terpaku di tempat.
"Tuan Oh"
Sehun tersadar. Rupanya itu hanya lamunan Oh Sehun saja. Dimana ia membayangkan Kyungsoo yang tumbuh jadi seorang remaja dan membenci dirinya.
"Anda melamun" Jongdae berkata. Rambut panjangnya sengaja dikepang ala fish tail. Tatanan rambut yang membuatnya terlihat manis.
"Maaf, Nona Kim" ucap Sehun. Wajahnya terlihat menyesal. "Aku tidak mendengar apa yang anda katakan"
Jongdae mengulum senyum tipis. "Kyungsoo eommonim akan menjemput nanti siang. Apa anda yakin tak mau menemui putra anda?"
"Apa aku terlihat seperti seorang pengecut?"
"Tuan Oh, jika pada akhirnya anda harus bertengkar dengan istri anda. setidaknya anda sudah mencoba untuk menunjukan kalau anda bersungguh-sungguh menyayangi putra anda"
"Aku hanya takut jika Kyungsoo membenciku" kata Sehun.
"Itu hanya ketakutan yang alami. Anda tidak akan tahu bagaimana hasilnya kalau belum mencoba"
...
Sehun melangkahkan kedua kakinya ke arah Kyungsoo yang tengah duduk seorang diri sambil memeluk boneka kesayangannya.
Anak itu sama sekali belum menyadari jika Sehun hendak menemuinya.
Jantung ayah satu orang anak itu berdegup cepat. Ia hanya belum siap untuk menemui Jongin maupun Kyungsoo. Tapi perasaan rindu itu begitu terasa dan membuat Sehun mengabaikan rasa takutnya.
Tinggal beberapa meter lagi. Tapi seorang namja dewasa bertubuh jangkung mendahuluinya.
Sehun tahu jika namja itu adalah Kris Wu. Namja yang sempat ia khawatirkan akan menggantikan posisinya sebagai seorang ayah untuk Kyungsoo.
"Paman Klis" Seru Kyungsoo.
Balita manis itu meminta Kris untuk menggendongnya. dan Kris menuruti permintaan Kyungsoo dengan menggendong tubuh mungil Kyungsoo.
Seketika waktu berhenti bagi Oh Sehun. Bagai anak panah menusuk dalam bagian terdalam ulu hatinya. Kyungsoo tampak baik-baik saja tanpa dirinya. Mungkin begitu juga dengan Kim Jongin. Mantan istrinya itu pastilah sudah menemukan kebahagiannya sendiri mengingat apa yang diinginkan Jongin hanyalah kebahagiaan dan keluarga kecil yang hangat. cukup sederhana sebenarnya..
.
.
.
.
Jongin membaca tajuk berita yang sedang hangat minggu ini.
Ada nama suaminya dan seorang artis papan atas yang tengah naik daun dalam karirnya. Berita yang dramatis dengan sebuah gambar yang juga romantis pula.
Para pemburu berita telah mengemasnya dengan sangat apik. Sehun sudah semakin berani, mencium kekasihnya di depan publik tanpa mempedulikan apa yang terjadi ke depannya nanti.
Dan entah kenapa itu membuatnya muak. Mobil yang ia tumpangi berhenti di depan toko kuenya. Matanya membulat sempurna ketika mendapati beberapa pemburu berita mulai mengerumuni pintu masuk hingga membuatnya gusar.
Apa-apaan ini. Mengapa dirinya harus terseret kembali dalam urusan si bodoh itu?
"Bagaimana ini, Tuan muda?" Tanya paman Jung. Dia supir pribadi kakak perempuannya.
"Tak apa, paman" sahutnya. "Aku titip Kyungsoo" Pintanya. Ia menoleh ke jok belakang dimana putra tunggalnya tengah terlelap kelelahan.
Para pemburu berita itu mulai mengerumuninya. Bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya dan penyebab perceraian mereka nyaris dua bulan lalu.
"Aku percaya jika dia orang yang selalu menjaga privasinya" Kata Jongin.
"Mengapa anda bisa berkata seperti itu?" Salah satu wartawan bertanya.
"Karena aku pernah hidup bersamanya"
"Tapi apa penyebab kalian berpisah?"
Jongin mengulas senyum tipis. "Tanyakan sendiri padanya"
.
.
Tanpa menunggu waktu berhari-hari berita Jongin yang diwawancarai pun telah menyebar ke seluruh media sosial. Ada yang menanggapinya dengan sangat baik, ada pula yang merutuki Oh Sehun, dan ada pula yang menanggapi Jongin hanya mencari pencitraan belaka.
Tapi mereka yang tidak tahu bagaimana hidup Kim Jongin memang akan selalu seperti itu. Jongin sama sekali tidak peduli. Toh dirinya juga sudah tak mau ambil pusing dengan segala pemberitaan.
Dirinya hanya ingin hidup setenang mungkin. Dia hanya orang lain bagi Oh Sehun. Begitupun juga sebaliknya. Tak ada yang harus dipikirkan lagi. Dia sudah sepenuhnya lepas tangan dan tidak mau memikirkan apa yang akan terjadi pada namja bermarga Oh itu.
"Jongin sudah lepas tangan mengenai dirimu" Jinri berkata.
Sehun sudah melarangnya untuk menemuinya di kantor. Tetapi yeoja itu sepertinya tampak tidak peduli. Dan terkesan cuek dengan segala pemberitaannya itu.
"Itu lebih baik" Sehun menyahut. Ada nada tidak suka ketika melihat cuplikan pemberitaan Jongin yang diwawancarai oleh banyak wartawan.
Jongin sudah melupakan dirinya. Dan bisa ia lihat jika Jongin baik-baik saja. Bahkan wajahnya pun terlihat lebih terawat setelah mereka bercerai. Senyum manis dan pipi gembil itu sudah mulai terlihat lagi.
"Dia menjadi model dadakan rupanya" Jinri berkomentar.
Sehun menoleh, Yeoja itu menunjukan ponselnya dengan memperlihatkan salah satu designer terkenal merekrut Jongin sebagai modelnya. Dan Jongin dengan balutan kemeja longgar itu terlihat begitu sexy dan menggairahkan.
Lalu ada Jongin yang merebahkan tubuhnya di lengan seorang pria di atas sofa besar dengan berbalut mantel tidur mewah yang senada di pakai oleh namja tampan di sampingnya. Sehun tahu namja dewasa itu. Namanya Lee Seohyuk, dia memang seorang model pria yang paling digilai di dunia permodelan.
"Bisakah kau pergi? Aku sibuk sekali hari ini"
Jinri menautkan alisnya. Sehun sibuk karena pekerjaannya, atau sibuk memikirkan nasib hidupnya yang sudah tak lagi menjadi nomor satu di hati Jongin?
.
.
.
.
"Jongin"
Namja berkulit tan itu menoleh. Ia baru saja hendak masuk ke rumah orangtuanya jika saja Kris tidak menyebutkan namanya.
"Ada apa, hyung?"
Kris mengulas senyum tipis. "Fotomu dan Lee Seohyuk"
Ah..Rupanya soal itu. Kris memuji jika Jongin sangat mempesona sekali di foto itu. Apalagi ketika ia berada di pangkuan Seohyuk dengan pakaian kasualnya. Kris bilang, Jongin sangat profesional dan tidak terlihat amatir.
Jongin tidak tahu kalau Kris akan memujinya seperti itu. Sempat terpikir olehnya jika dirinya tidak bisa mengimbangi Seohyuk yang notabene adalah model sungguhan dan profesional.
"Apa besok kau sibuk?"
"Tidak terlalu"
Namja Wu itu tampak berpikir. Sebelum pada akhirnya ia mengajak Jongin untuk makan malam bersama.
"Apa ini ajakan sebuah kencan?" Tanya Jongin, dengan nada jenaka.
Kris terkekeh pelan. "Hanya permulaan saja" jawab Kris, tak kalah jenaka pula.
"Kita baru saja makan malam bersama tadi" ujar Jongin.
Mereka memang baru saja makan malam bersama. Lebih tepatnya makan malam sekaligus membicarakan bisnis yang akan dikelola Jongin bersama Kim Junmyeon, teman karib Kris semasa sekolah dulu.
Keduanya sudah lebih dulu mengantar Junmyeon ke sebuah bar. Junmyeon bilang dia rindu suasana bar di kota Seoul selama bertahun-tahun tak lagi berkunjung ke sana.
"Hanya berdua. Kau tahu maksudku kan?"
Jongin mengangguk pelan. Entah kenapa sulit sekali menjawab iya. Meski nyatanya dia bukan orang yang bisa dengan mudahnya menolak ajakan orang lain.
"Aku tidak tahu bisa atau tidak" kata Jongin.
Kris menarik napas tak usah Jongin menjawab. Dia sudah tau apa jawabannya. Ini mungkin terlalu cepat, meski mereka sudah saling mengenal lama. Apalagi Jongin juga baru berpisah dengan mantan suaminya.
"Tidak apa-apa, mungkin lain kali" ujarnya, dibarengi senyum di wajah tampannya.
.
.
.
.
"Kenapa kau selalu mengganggu Kyungsoo, Zitao?" Jongdae bertanya perlahan.
Hari ini ia mendapat laporan dari anak-anak kelas Himawari kalau Zitao baru saja mengganggu Kyungsoo dan membuat anak bermata bulat itu menangis.
"Aku tidak tahu tuh, bu gulu"
Jongdae menarik napas sepelan mungkin. Yeoja 24 tahun itu merasa jika kesabarannya sedang diuji kalau menghadapi balita bertubuh jangkung itu.
Huang Zitao anak yang nakal dan senang sekali mengganggu teman-teman sebayanya yang jauh lebih kecil dibandingkan dirinya.
Pantas saja Baekhyun sering menghindari balita ini. Dia terlalu malas menghadapi murid paling nakal seantero sekolah Kinderland.
"Permisi"
Yeoja Kim itu menoleh dan mendapati seorang namja tampan berdiri di depan pintu ruangan siswa bermasalah. Itu bukan Oh Sehun. Namja ini terlihat lebih ramah dibandingkan ayah kandungnya Kyungsoo itu.
"Oh iya, maaf..anda cari siapa?"
Namja itu mengulum senyum, ia membungkuk hormat. "Saya pamannya Kyungsoo. Katanya Kyungsoo terjatuh ya"
Jongdae menganggukan kepala. Ia pamitan pada Zitao dan segera mengantar namja bernama Xi Luhan itu ke UKS.
...
"Hey, Baby" dengan lembut ia menyapa Kyungsoo.
Balita manis itu duduk di pinggir bangsal. Dengan keadaan lutut dibalut perban. "Paman Lu" ia menyahut, wajah manisnya terlihat sembab.
"Yang mana yang sakit, baby?"
"Di sini, paman. Syakitt syekali" ujarnya, seraya menunjuk lututnya yang dibalut perban. "Tapi kata Ibu gulu Dae sudah sembuh kalena diobati"
Luhan terkekeh pelan. Dia dihubungi oleh adik sepupunya itu untuk melihat keadaan anaknya yang terluka di sekolah. Beberapa waktu lalu pihak sekolah menghubungi Oh Sehun mengenai Kyungsoo.
"Kyungs"
Ketiganya menoleh. Jongin berdiri di depan pintu ruang UKS dengan wajah panik.
"Baby, kau tidak apa-apa kan?" Tanya Jongin, seolah melupakan orang-orang dewasa di sana.
Kyungsoo jatuh dari atas jungkat-jungkit karena ulah teman sekelasnya yang iseng. Jongdae tidak bercerita siapa nama anak itu, Kyungsoo sendiri pun juga tidak menceritakan bagaimana ia bisa terjatuh pada ibunya yang juga tidak bertanya.
.
.
"Aku juga tidak tahu, Hyung" kata Jongin, saat Luhan bertanya kapan Jongin bisa mengunjungi mantan ibu mertuanya di Beijing.
Luhan menarik napas lewat hidung. Melihat wajah Jongin yang masih menyiratkan duka saja sebenarnya dia tidak tega. Tapi Bibi Yoona yang sakit-sakitan merindukan mantan menantu dan cucunya saat ini.
Jika Sehun tidak bisa membujuk Jongin. Maka Luhan akan melakukannya. Dia tidak tega manakala melihat bibi Yoona terbaring sakit dengan kerinduan yang luar biasa.
"Ku mohon Kim Jongin" ucapnya. "Bibiku membutuhkan dirimu" Luhan berkata lagi.
Kantin sekolah tidak terlalu ramai. Keduanya memutuskan untuk mengobrol di kantin Kinderland sekaligus makan siang bersama.
"Aku masih belum bisa bertemu dengan Sehun"
Inilah alasan paling utama mengapa Jongin terkesan menghindari siapa saja yang ada sangkut pautnya dengan mantan suaminya itu. Apalagi ia juga melarang Sehun menemui Kyungsoo. Tapi ternyata pihak dimana Kyungsoo bersekolah tak mau ikut campur, dan sama sekali tidak melarang pihak keluarga Sehun menemui Kyungsoo.
"Kau hanya akan menemui bibi Yoona. Bukan Oh Sehun, Jong" Luhan berkata. "Kau tahu tidak? Bibi Yoona tinggal di Beijing itu juga untuk menghindari Sehun"
"Kenapa?"
Luhan terkekeh pelan. Matanya berjumpa dengan Kyungsoo yang sedang menikmati puddingnya. Balita itu terus bersenandung, seolah mengabaikan dua orang dewasa yang sedang mengobrol di sampingnya.
"Sejak kalian bercerai bibi Yoona tidak mau bertemu Sehun lagi"
Jongin terkejut dengan jawaban Luhan.
"A..apa?"
Luhan mengangguk, "Bibi Yoona pernah merasakan apa yang kau rasakan. Dia sama sekali tidak menyangka jika putranya akan melakukan hal yang sama dengan suaminya dulu"
Menyedihkan, pikir Jongin. Dia tidak pernah menyangka jika Bibi Yoona juga mengalami hal seperti ini puluhan tahun silam. Luhan pun kembali bercerita tentang masa lalu bibinya itu.
Menurut kabar yang ia dengar terakhir kali. Mantan suami bibi Yoona pernah berlutut di bawah kaki Yeoja itu. Tapi tak pernah berhasil dan tidak menggugah hati yeoja cantik itu untuk kembali bersama.
Semua rasa sakit hatinya ia tuangkan ke dalam karirnya. Ia menjadi yeoja ambisius dan berambisi untuk mendapatkan banyak harta agar para namja tidak menghina dirinya. Semua orang pun jadi tahu, jika Oh Yoona adalah yeoja kuat yang tidak membutuhkan namja di sampingnya dengan segala keberhasilan yang ia dapatkan.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
A/n :
Hey..Thx for review. Ini aku lanjut ya. Maaf kalo ff nya sadless haha. Kan udh aku bilang, bikin ff sedih itu bukan genre ku. Ketauan ya aku org yg kaku? Btw ada salah satu readers yg bisa baca sifat org dari tulisan lho..waaaaa..Emg bener bisa ya? Btw jgn terlalu byk tanya soal alur ya. Aku gak tau mau jelasin gimana. Dibaca aja dulu. Kalo gak paham dan gak suka ya jgn dibaca. Seperti biasa, aku terima kritik tp gak terima bashing. Egois ya? Jgn tersinggung ya minna. Lanjut? review 20 ya dilanjut..
