Blue and Red Love

Disclaimer: K Project is not my own. It's owned by GoRa and Go Hand

Blue and Red Love is mine

Pairing: Munakata x Mikoto and Saruhiko x Misaki

Warning: Yaoi, Boys Love, Shonen-ai, B x B, OOC, AU

#04 : Gift

"Kita ke toko souvenir sekarang.." ucap Munakata sambil menarik tangan Mikoto.

"Hh... baiklah."

Ini adalah hari kedua mereka di Yokohama beach. Tour mereka akan berakhir besok, jadi, sebelum meninggalkan pantai ini, Munakata yang sudah berjanji pada Fushimi untuk membelikan oleh-oleh, memutuskan untuk menggunakan waktu santai yang disediakan. Seperti biasa, Mikoto selalu mendampingi Munakata dengan setia. Sebab mereka berdua sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Pernyataan cinta dari Munakata kemarin menjadi langkah yang membuat hubungan mereka ke tahap ini. Mikoto-lah yang 'menembak' Munakata meski pada awalnya, Munakata-lah yang menyatakan perasaan duluan. Tangan mereka kini bertautan satu dengan yang lainnya. Hal itu membuat Munakata agak blushing karena Mikoto sejak tadi tidak melepas genggamannya.

Yokohama (Souvenir Shop)

"Apa anda menjual sebuah kalung mutiara yang dihiasi oleh sapphire dan ruby?" tanya Munakata pada penjaga toko itu.

"Ada. Mau yang dihiasi oleh sapphire atau ruby, tuan?"

"Harganya berapa?" tanya Mikoto.

"Yang sapphire 250.000 yen dan yang ruby 200.000 yen." Ucap sang penjaga toko.

Mikoto yang mendengar harganya itu langsung sweatdrop seketika itu juga. Yang benar saja, hanya sebuah kalung... pikir Mikoto dalam hati. Munakata meminta sang pelayan toko untuk membawakan kalung itu. Memang kalung itu sangat indah. Perak asli yang berwarna putih sungguh cantik dengan sebuah liontin berbentuk diamond yang dibuat dari batu sapphire dan juga ruby asli. Munakata pun membeli keduanya.

"Kau gila..."

"Hm?"

"450.000 yen habis untuk kalung semacam itu.."

"Ini titipan Fushimi."

"Oh.."

Next Day... Mansion Fushimi (Fushimi's room)

Sepasang laki-laki sedang tertidur lelap di sebuah ranjang yang berukuran king size itu. Cahaya matahari tidak berhasil masuk keruangan itu karenadihalangi oleh sebuah tirai yan berwarna biru muda. Well, untuk isi kamar ini memang rata-rata dekorasinya dihiasi oleh warna biru. Itu karena sang pemilik kamar sangat menyukai warna biru. Selain warna biru yang mendominasi, warna netral seperti putih dan hitam menjadi pilihan kedua untuk masalah dekorasi dan interior ruangan itu. Benar-benar simple kan? Kita kembali ke atas tempat tidur yang sedang ditiduri oleh 2 orang pemuda. Misaki terlihat biasa saja dengan posenya yang dieluk oleh Fushimi bagaikan sebuah bantal guling. Dan entah kenapa, mereka berdua hanya ditutupi sebuah selimut. Oke ini rated T, jadi kalian bisa mengerti maksudnya tanpa perlu menjelaskannya secara detail kan? Sebuah selimut berwarna deep blue memang satu-satunya yang berhasil menutupi tubuh mereka yang sama-sama tidak ditutupi oleh benang sehelai pun. Baju mereka tergeletak di lantai dekat tempat tidur itu. sungguh kalian pasti tahu akan yang mereka perbuat semalam kan?

"Ngh..." sebuah suara terdengar dari sosok yang sedang dipeluk itu. Misaki mulai membuka matanya dan berusaha mengatur cahaya yang memasuki matanya yang berwarna hazel itu. Perlahan dia menggosoknya menggunakan tangan kanannya. Setelah benar-benar menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya, dia memandang kearah orang yang masih berada di sampingnya.

5 detik. Hening

10 detik. Hening

15 detik. Hening

"HUWAAA? APA YANG KAU LAKUKAN DISINI, SARU?"

Sebuah teriakkan yang cukup keras dan membuat seluruh orang yang ada di mansion itu cukup kaget. Terutama yang tidur di sebelahnya. Dengan tenang dia membuka matanya dan terbangun dari tidur nyenyaknya.

"Ohayou, Misaki..."

"Kuso! Bisa-bisanya kau menyapa dengan tenang. Apa yang kau lakukan semalam hah?" tanya Misaki sambil berusaha menutupi badannya dengan selimut itu.

"Heh? Bukannya kemarin kita melakukan 'itu'? kau lupa ya, Misaki?"

"APAAAA? Jangan asal bicara, Kuso Saru." Ucap Misaki sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Hm? Untuk apa aku berbohong padamu, Misaki?"

Seketika itu juga, Misaki speechless dan hanya menundukkan kepalanya. Tubuhnya sangat lemas saat itu juga. Matanya tidak berani memandang Fushimi yang ada dihadapannya. Ia benar-benar percaya akan perkataan Fushimi yang melakukan hal itu semalam. Sebenarnya, memang tidak seperti apa yang dikatakan Fushimi. Ia hanya ingin mengerjai Misaki untuk saat ini. Jadi sebelum tidur, semalam Fushimi melepas baju Misaki dan menjatuhkannya kelantai seolah-olah mereka benar-benar sedang melakukan hal 'itu'. Fushimi berhasil dengan rencananya itu. Namun ia tidak memikirkan dampaknya bagi Misaki yang kini terlihat suram.

"Ada apa, Misaki?" tanya Fushimi dengan nada agak khawatir.

"Kau pikir apa lagi hah?!"

"Misaki? Kau benar-benar marah?"

"Aku mau pulang."

Ketika Misaki ingin meninggalkan kamar Fushimi, tangannya ditahan oleh sang pemilik kamar. Misaki memandang Fushimi dengan kesal. Mata hazel-nya benar-benar terlihat tajam. Tapi bukan Fushimi namanya kalau tidak bisa mengendalikan Misaki yang sedang naik darah tingkat dewa ini. Tatapan Fushimi terlihat tenang dan mendominasi seperti biasa. Warna matanya yang berwarna biru bagaikan air yang kini berusaha memadamkan api yang ada di hati Misaki. Tanpa kata, Fushimi menarik Misaki dengan kuat dan membawanya kepelukannya. Awalnya Misaki memberontak, namun Fushimi berhasil menenangkannya. Tangan kanan Fushimi mengelus kepala Misaki layaknya seekor kucing. Kucing yang sangat disayangi oleh pemiliknya. Dapat dirasakan oleh tangan kiri Fushimi yang memeluk pingang Misaki kalau tubuhnya Misaki sedang bergetar hebat. Tangan Misaki mengenggam erat kemeja piyama Fushimi. Masih dalam posisi menunduk dan tidak memandang Fushimi, Misaki terlihat sedang menangis.

"Gomen." Ucap Fushimi dengan nada suara yang terdengar menyesal.

Masih tidak ada balasan dari Misaki. Terdengar suara isakan tangis dari lawan bicara Fushimi itu. Awalnya tidak ingin Misaki sampai menangis, namun hal ini tidak disangka oleh Fushimi. Perlahan Fushimi mengangkat dagu Misaki hingga memandang kearahnya. Mata Misaki berair dan wajahnya agak memerah karena menangis. Sungguh, Fushimi sama sekali merasa menyesal untuk saat ini...

"Misaki..."

"...Apa?"

"Aku minta maaf."

"..."

"Misaki...?"

"Terserahlah. Aku sudah tidak peduli lagi." Ucap Misaki sambil meninggalkan Fushimi di kamarnya. Tangan Fushimi lagi-lagi menarik Misaki, tapi kali ini Fushimi juga bangkit dari tempat tidurnya dan mengikuti Misaki dari belakang. Misaki terlihat membiarkan tangannya di genggam oleh Fushimi. Hingga sore, Fushimi berusaha untuk meminta maaf pada Misaki. Sungguh untuk yang kali ini, Fushimi sama sekali tidak menyerah. Entah apa yang membuatnya seperti itu... Bercanda, tentu saja karena Fushimi benar-benar menyukai Misaki. Setelah berdiaman satu sama lain, akhirnya Misaki membuka suara.

"Hei..."

Baru satu kata yang diucapkan oleh Misaki, Fushimi lagsung menjawabnya dengan sebuah kalimat.

"Misaki, kau mau memaafkanku?" ucap Fushimi.

"Hah... iya iya. Aku memaafkanmu.. sekarang aku lapar. Aku mau makan." Ucap Misaki sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Baiklah. Aku akan mengajakmu makan di luar." Ucap Fushimi sambil tersenyum melihat Misaki sudah memaafkannya. Setelah mengganti pakaiannya, Fushimi yang kini sudah benar-benar sehat dari demamnya mengajak Misaki untuk makan malam di restoran yang menjadi langganan keluarganya. Tentu saja restoran bintang lima yang sungguh mewah dan juga highclass. Ketika sampai disana, Misaki yang hampir tidak pernah kerestoran mewah seperti itu hanya bisa speechless. Fushimi hanya bisa tertawa kecil melihat ekspresi Misaki barusan. Tapi, melihat kondisi restoran itu, Misaki juga makin curiga. Karena hanya mereka berdua saja yang ada di restoran itu.

"Jangan bingung seperti itu, Misaki. Aku sudah memesan restoran ini. Jadi hanya ada kita berdua disini malam ini." Ucap Fushimi sambil mengajak Misaki untuk masuk kedalam restoran itu.

"Ah... aku mengerti..."

Mereka pun duduk didekat dengan jendela yang mengarah ke kota Shizume. Mereka memesan tempat dilantai dua. Fushimi memesan makanan yang sudah biasa di pesannya. Tentu yang tidak ada sayurnya. Sementara Misaki...

"Ini apa? Eh... namanya susah sekali... uh... tapi kelihatannya enak. Ah.. yang ini juga. Argh! Aku bingung mau memesan yang mana... baru kali ini aku bingung memesan makanan..." ucap Misaki sambil mengacak rambutnya sendiri.

"Oh... kalau begitu kau pesan menu yang sama saja denganku." Ucap Fushimi.

"Apa yang kau pesan...?"

"Beef Lasagna." Ucap Fushimi singkat sambil menunggu sang pelayan menyajikan makanan mereka.

Untuk sementara sunyi menghampiri mereka berdua hingga salah satu dari mereka buka suara untuk memecahkan kesunyian itu.

"Oi... Saru... apa kau benar-benar melakukan hal itu kemarin...?" ucap Misaki sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Misaki... kau ingat kan aku hanya mencium lehermu lalu menuju ke bagian bawah tubuhmu. Aku tidak melakukannya... aku sedang demam kemarin." Ucap Fushimi sambil memandang Misaki dengan serius.

"Lalu kenapa tadi pagi kau bilang hal yang berbeda hah?" teriak Misaki sambil berdiri dari kursinya.

Fushimi masih tetap duduk di bangkunya dan hanya tersenyum. Misaki sudah jelas-jelas semakin marah akan sikap orang yang ada di hadapannya itu. baginya, bercanda juga ada batasnya. Sampai mengatakan hal seperti itu, untuk Misaki sudah keterlaluan. Ini masalah harga diri juga, pikir Misaki. Pemuda berambut senja itu kini menghampiri pemuda berambut dark blue yang ada di hadapannya.

"Happy Birthday, Misaki~" ucap Fushimi sambil mengeluarkan sesuatu dari balik jas yang dipakainya.

Hari ini adalah tepat tanggal 20 juli, yakni ulang tahun Misaki. Hari ini Fushimi benar-benar berhasil membuat Misaki bad-mood dan rencananya untuk mengerjai Misaki sangat sukses~

"E..eh?"

Otak Misaki masih belum bisa mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh pemuda berambut deep blue di hadapannya ini. Mata hazel Misaki memandang kearah kotak kecil berwarna merah dengan pita putih diatasnya.

"Tch.. otanjuubi omedettou, Misaki~" ucap Fushimi sekali lagi sambil memberikan kotak kecil yang ada di tangannya ke Misaki. Misaki yang masih speechless kini hanya mengambil kotak itu.

"JADI KAU HANYA MENGERJAIKU TADI?" teriak Misaki lagi. Kotak yang tadi di ambilnya diletakkan di atas meja. Fushimi yang melihat reaksi Misaki pun langsung berdiri juga dan mencium bibir Misaki dengan sedikit memaksa. Awalnya Misaki menolaknya, namun pada akhirnya dia berhasil ditaklukan oleh ciuman Fushimi yang semakin 'hebat' karena Misaki yang terus berontak.

"Apa ini?" ucap Misaki yang kini kembali tenang dan duduk di kursinya kembali sambil membuka kotak yang diberikan Fushimi tadi.

"Itu kalung couple yang baru saja kubeli dari Yokohama. Warnanya cocok dengan rambutmu kan? Merah. Punyaku warna biru." Ucap Fushimi sambil tersenyum dan mengeluarkan kalung yang ada di lehernya.

"Wah... keren..." ucap Misaki yang masih terkagum-kagum.

Tak lama kemudian, menu yang mereka pesan pun datang dan kini mereka pun memutuskan untuk menikmati makan malam mereka. Sungguh hari yang benar-benar tidak terduga untuk seorang Yata Misaki hari ini. Yah, bagaimana pun juga dia berulang tahun hari ini, jadi dia pantas untuk dikerjai dan diberi kejutan manis di akhirnya. Otanjuubi Omedettou, Misaki-chan.

Omake:

Misaki dan Fushimi kini sedang dalam perjalanan menuju pulang kerumah. Memang wajar untuk seorang Misaki menyadari suatu hal dengan agak lama.

"Oi, Saru. Kau bilang kalung ini dari Yokohama kan?" ucap Misaki.

Fushimi yang masih menyetir mobil hanya mengangguk.

"Bagaimana caranya bisa sampai ke Shizume?"

"Tentu saja aku menyuruh Munakata-sama untuk mengirimkannya secara kilat." Ucap Fushimi.

"Tapi bukannya kau baru saja meneleponnya sehari yang lalu. Bagaimana bisa secepat itu?" tanya Misaki lagi.

"Aku mendesaknya untuk mengirimkannya dengan cepat. Satu malam saja barang itu sudah sampai di Shizume."

"Mendesaknya...?"

"Ya~ Mendesaknya." Ucap Fushimi sambil menyeringai.

Misaki yang mendengar hal itu langsung speechless.

"Jarak Yokohama dengan Shizume kan tidak terlalu jauh. Jadi wajar saja kalau satu malam barang itu bisa tiba. Dasar, jangan-jangan Misaki memikirkan hal yang tidak-tidak.." pikir Fushimi.

Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang dengan Misaki yang terdiam karena memikirkan Fushimi yang mendesak Munakata sementara itu Fushimi puas mengerjai Misaki hari ini.

To Be Continue

A/N: Gomen baru bisa update sekarang... habisnya saya baru aja selesai magang. Jadi yah... udah agak santai. Happy birthday untuk Misaki~ fic ini sepertinya agak kurang memusakan ne~ hontou gomenasai, minna-san. Maklum pikiran saya lagi kacau. *sigh* untuk kali ini, silahkan tinggalkan flame juga gpp kok. Itu saya anggap api dari HOMRA... pada akhirnya di note yang paling gaje ini. Bersediakah meninggalkan jejak review reader-san...? arigato.. dan maaf juga saya gak bisa membalas semua review minna-san semua.. sekali lagi gomenasai.. T.T