-Hari keempat-
Empat pasang kaki terlihat mengitari meja kotak di sebuah café. Dua pasang kaki itu menggunakan cats –duduk berdampingnya di salah satu sisi meja-, sepasang lagi menggunakan sandal jepit sedang sepasang lainnya bertelanjang kaki –juga duduk berdampingan-.
Canggung.
Satu kata yang cukup jelas menggambarkan atmosfir disana. Meja lainnya terlihat ramai dengan percakapan hangat dan gelak tawa, tapi bagi mereka berempat yang sedang berbagi meja itu, mungkin masing-masing dari mereka berpikir tentang 'apa yang harus dicapkan pertama kali di pertemuan tak terduga seperti ini?'
Kibum hanya diam, bersandar santai pada kursi dan menatap kosong kakinya. Apa yang harus diucapkannya pada dua sahabat lama yang sedang duduk di sampingnya. Sahabat yang tak ingin ditemuinya, namun takdir justru mempertemukan mereka ketika masing-masing dari mereka sudah tumbuh dewasa.
Matanya kemudian bergulir pada sepasang kaki telanjang yang sedang bergoyang riang di kursi sampingnya. Gestur senang yang sangat ketara dari Kyuhyun. Kibum menghembuskan nafasnya dengan halus. Jika mereka 'dapat melihat' Kyuhyun, maka yang sebenarnya bukan hanya deru nafas yang terdengar di meja meraka.
Kyuhyun. Kembaran kecilnya itu sedari tadi tak berhenti mengoceh.
"apa kau Mino?" Kyuhyun memiringkan kepalanya ke kanan, tubuhnya dicondongkan ke depan untuk menatap lekat orang yang duduk dihadapannya. Matanya semakin bulat –mengisyaratkan tanya, mulutnya mengerucut. "Mino?" kepalanya ganti miring ke kiri. "Mino?" kembali miring ke kanan. "sekarang Mino perempuan?".
Kyuhyun hanya bingung dengan penampilan Minho sekarang. Sahabatnya itu dulu punya hobby yang sama dengannya. Menangis, penakut dan manja. Tapi kenapa sekarang Minho berubah seperti kemoceng? Rambutnya berwarna hijau dengan bibir berwarna nyala. Ah, jangan lupakan anting hitam di telinga kirinya, benda yang membuat Kyuhyun berkesimpulan bahwa Minho sekarang berubah gender.
Minho, yang dicecar pertanyaan dari Kyuhyun justru lebih asyik menopang dagu dan menatap jalanan lenggang di balik jendela. Jangan lupakan headset yang bertengger di telinganya. Sama seperti Kibum yang tak menduga pertemuan ini, dia sebenarnya juga tak mengharapkan mereka bertemu. Karena Kibum, wajah itu mengingatkannya dengan sahabat yang sangat dirindukannya.
"Chwang, apa kau hobby makan tiang?" Kyuhyun menatap Tanya Changmin. Sahabat penggila makannya itu sekarang jauh-jauh lebih tinggi. Padahal Kyuhyun dulu pernah bersumpah akan mengalahkan tinggi Changmin. Bahkan tiap ke gereja Kyuhyun selalu berdoa jika Tuhan tidak bisa membuatnya tinggi, maka dia meminta agar Tuhan menyusutkan tinggi Changmin.
Kibum berdiri. Tak ada gunanya lama-lama disini. Lebih baik dia pulang dan kembali menyendiri di kamar. Tak akan lagi iseng keluar rumah hingga bertemu orang-orang di masa lalu.
"kau sudah akan pergi?" Changmin akhirnya bersuara setelah mendengar suara kursi di hadapannya berderit, menghentikan Kibum yang akan melangkah keluar meja. "tak ingin mengenang masa kecil kita? Tentang Kyuhyun-" Changmin menggantungkan kalimatnya.
Kyuhyun memandang bergantian Changmin dan Kibum, diam menunggu respon Kibum tentang apa yang dilontarkan Changmin. Kyuhyun paham itu tentang dirinya. Ada perasaan sesak yang mulai muncul di dadanya yang tidak dia tau apa itu.
"aku merindukan Kyuhyunnie hyung" suara lirih itu berasal dari Minho. Matanya masih menatap jendela, namun dari bias matahari di wajahnya, jelas terlihat ada genangan air disana. Minho dewasa tetaplah Minho kecil yang cengeng. "sangat..sangat merindukannya" Minho akhirnya berani menatap wajah Kibum, dengan satu tetes air mata yang berhasil merangsek keluar.
Hati Kyuhyun berdesir. Memandang hyung dan dua sahabatnya yang hanya diam membuatnya sadar. Tidak hanya dirinya yang merindu, tapi dirinya juga dirindukan. "hiks" satu isakan mulai meluncur. "hiks". Bolehkah kali ini dia bersungguh dalam berdoa pada Tuhan? Kyuhyun menangis keras. "bummie hyung..tolong Kyunnie.. Kyunnie ingin bermain bersama kalian" dan Jika Tuhan tak bisa mengabulkan permintaanya, bisakah hyung yang paling diandalkannya mengabulkan?
Changmin beranjak dari kursinya, berjalan pergi dan kembali beberapa saat kemudian. Meletakkan dua botol soda besar di atas meja. "mari bersenang-senang. Kita tidak seharusnya bersedih atau bocah cengeng itu akan menangis disana." Changmin menampilkan kembali cengiran khasnya. Soda adalah minuman favorit mereka ketika masih kecil. Ketika Kyuhyun menangis, mereka akan minum soda layaknya orang dewasa meminum suju. Berlagak mabuk dan kemudian kembali tertawa.
Dengan wajah sembab bibir mungil Kyuhyun memasang senyum. "heum. Ayo bersenang-senang"
Mereka tak dapat melihat Kyuhyun, tak juga mendengar iya-an dari mulut Kyuhyun. Tapi perasaan Kyuhyun sampai pada mereka, hingga senyum akhirnya kembali terpasang.
Pada akhirnya, di satu siang di musim panas tahun ini, mereka dapat kembali berkumpul. Membicarakan Minho yang sekarang sudah pindah ke Seoul sebagai trainer yang sebentar lagi akan debut, mendengarkan cerita menakjubkan dari Changmin yang berhasil mewujudkan mimpinya sebagai food traveler kelas dunia, mengolok-olok Kibum yang hidupnya semakin suram karena menjadi pengangguran dan tentunya, mengenang bocah evil yang akan selalu mereka rindukan.
.
Senja di kota kecil selalu memberikan kesan hangat dan tenang.
Kaki kecil itu mencoba berjalan lurus di pembatas selokan. Badannya bergoyang ke kanan kiri dengan kedua tangan yang direntangkan –berusaha menyeimbangkan tubuh-. Mulutnya bergumam melantunkan nada lagu yang liriknya dia lupa.
Kibum masih betah mengamati dari belakang. Ada perasaan nyaman yang tak terdeskripsikan sejak pertemuan dengan Changmin dan Minho tadi siang, rasanya sekarang semua lebih mudah.
"hingga saat itu tiba-"
Kibum berhenti melangkah ketika Kyuhyun mulai bernyanyi. Lagi ini terdengar familiar.
"ku ingin.." Kyuhyun masih dengan riang bernyanyi.
"terus menatap bayang-" kyuhyun tersentak ketika dia rasakan ada sesuatu yang menubruk punggungnya.
Kibum sedang memeluknya. Begitu erat hingga dia tertarik ke belakang bersandar di dada besar milik hyungnya.
"Kyunnie.."
Lirihan dari Kibum terdengar berbisik di telinga Kyuhyun. Dada Kyuhyun bergerumuh, begitu sesak tapi juga begitu melegakan. Suatu perasaan begitu membahagiakan hingga mendesak airmatanya untuk keluar. "Kibum hyung.."
Tak ada isakan dari Kibum, tidak ada pula air mata. Tapi entah karena apa bahunya bergetar hebat, memintanya untuk semakin erat memeluk tubuh kecil yang dirindukannya.
"Bummie hyung bisa melihatku?"
Kibum menganggukkan kepalanya yang bersandar di kepala kecil Kyuhyun.
"Bummie hyung bisa mendengarku?"
Kibum mengangguk.
"Bisa bermain dengan Kyunnie?"
Kibum mengangguk.
"Kyunnie tidak akan sendiri lagi?"
Kibum mengeratkan tangannya yang melingkari tubuh kecil Kyuhyun. Bummie tidak akan pernah membiarkan Kyunnie sendiri lagi. Tidak akan pernah.
.
.
Chapter 4
Definisi Selamanya
.
2007
Suara tepuk tangan mengiringi murid kelas satu yang secara bergantian naik ke atas panggung. Mereka akan menyanyikan lagu untuk perpisahan murid kelas enam. Berdiri sesuai tinggi, Kyuhyun dan Minho diletakkan pada deretan tengah, sedangkan Kibum dan Changmin diletakkan pada deret paling belakang.
Meminta diam anak berusia enam tujuh tahunan tentunya masih susah-susah-sulit. Untuk itu sesaat setelah mereka dibariskan, para guru masih sibuk mengatur. Ada yang masih mengobrol, saling colek, ada yang hampir menangis karena demam panggung dan sebagainya.
"Kyuhyun berhenti menangis ya? Lihat, Minho jadi ikut menangis" berjongkok di depan anak didiknya, Seo ssaem masih mencoba menenangkan Kyuhyun yang menangis dengan Minho yang sedang terisak bersandar di pundaknya. "tidak apa-apa, suara Kyuhyun bagus kok. Bukankah uri Kyuhyunie sudah berlatih dengan keras?"
Kyuhyun mengangguk, mengelap kasar airmatanya kasar "Kyunnie ingin bersama Bummie.."
"Bummie ada di belakang Kyunnie.. Kyunnie jangan khawatir, nde?" Seo ssaem mencoba menenangkan. Kibum tidak mungkin maju ke barisan lebih depan dan Kyuhyun tidak mungkin mundur ke barisan belakang. Bisa berantakan barisan yang sudah susah payah dia atur.
Dengan setengah hati Kyuhyun mengangguk.
"anak pintar" Seo ssaem mengusak rambut ikal cokelat milik anak didiknya yang manis itu. Lebih manis dengan pipi gembil yang memerah setelah menangis seperti ini. "nah, Kyuhyun sudah tidak menangis. Minho juga tidak akan menangis kan?"
Minho menggeleng.
Seo ssaem kemudian beranjak ke ujung panggung. Dia akan mengiringi nyanyian anak didiknya dengan dentingan piano yang dimainkannya.
Ketika Kyuhyun akan mulai bernyanyi, tubuhnya terhuyung ke belakang karena tarikan kuat dari tangan seseorang. Memaksanya untuk berdiri di deretan paling belakang, diantara murid-murid tinggi lainnya, disamping Kibum.
Saat kau menoleh, di matamu..
Ada kuncup daun yang bersemi
Mereka saling menatap. Diam tak ikut bernyanyi.
Angin musim semi yang berhembus..
Membelai langit biru
Kyuhyun tersenyum lebar, dibalas senyum tipis dari Kibum. Satu hal yang sepasang anak kembar itu sadari. Seberapa besar mereka bertengkar, seberapa keras mereka mencoba saling mengacuhkan, pada akhirnya mereka saling memanggil.
Suatu hari ku kan pergi denganmu
Saat kita sedikit lebih dewasa
Hingga saat itu tiba, ku ingin..
Terus menatap bayang kuncup daun di matamu
Kibum mengeratkan genggaman tanggannya pada tangan yang lebih kecil darinya. Merapalkan janji dalam hati tentang sebuah keyakinan.
Kyunie, selamanya, jangan pernah bertengkar lagi ne? Selamanya akan selalu bersamana.
Disampingnya, Kyuhyun masih dengan senyum sumringahnya menyanyikan lagu perpisahan.
Bummie, aku akan tumbuh tinggi agar bisa berdiri di sampingmu.
.
.
Tbc
.
Waktu merangkak menuju tengah malam ketika aku masih setia menunggu Malioboro yang janji akan datang pukul 00.05. Sendirian di ruang tunggu stasiun tua ditemani suara berisik kipas angin. Tak masalah, sedikit perjuangan untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang pengajar dan pelajar. Selamat malam semua ^^
Tanpa editing dan tanpa baca ulang sedikitpun. Maafkeun.
