A/N: Fic ini merupakan projek yang memadukan 2 webnovel bergenre issekai [A Realist Hero's Kingdom Reconstruction Chronicle & Modern Weapons Cheat in Another World]. Adapun kemiripan plot yang dimiliki oleh Fic ini merupakan murni penyesuaian. Sedangkan untuk even-even yang terjadi di Fic ini merupakan ide dari Ane. Selebihnya merupakan sumber referensi yang Ane gunakan untuk kepentingan Fic ini.

.

.

.

Sudut Pandang Arturia

Aku benar-benar bingung.

Apakah tempat ini benar-benar berada di atas kapal? Tempat ini benar-benar sangat luas, saking luasnya tempat ini. Aku berpikir bahwa Kami bahkan bisa melakukan pertempuran kavaleri* di tempat ini.

*A/N: Kavaleri berasal dari bahasa Latin caballus dan bahasa Perancis chevalier yang berarti "kuda". Awalnya istilah kavaleri mengacu kepada pasukan khusus berkuda, namun dalam perkembangan zaman, kavaleri bertempur dengan menggunakan kendaraan lapis baja atau tank (sumber: )

Di tempat ini pula, Aku, Namikaze, & beberapa orang Aristokrat lainnya sedang berhadapan dengan beberapa perwira berpakaian hijau. Tak satupun dari mereka yang membawa tongkat besi atau sesuatu yang mereka sebut, 'senjata api'.

Tak butuh waktu lama, salah seorang pria lalu memberanikan diri untuk maju dan memberi hormat kepada kami.

"Selamat datang di kapal Saya, Yang Mulia Namikaze, Arturia-hime, & tuan-tuan Aristokrat sekalian. Nama Saya Harry Aston, ketua divisi logistic sekaligus kapten kapal induk jenis [Nimitz]* ini."

*A/N: kapal induk jenis [Nimitz] merupakan salah satu kapal induk terbesar yang pernah dimilik oleh Angkatan Laut Amerika Serikat.

"Terima kasih karena kau telah menyambut kami, Kapten Harry."

"Anda tak perlu berterima kasih kepada saya, Yang Mulia. Lagipula, ini sudah menjadi tugas seorang bawahan untuk menyambut tuannya."

"Kau terlalu berlebihan, Kapten Harry. Aku ini hanya manusia biasa, sama sepertimu."

"Tidak, Yang Mulia. Anda bukanlah sekedar manusia biasa, justru Anda adalah manusia paling special yang telah diberi berkat oleh [Li Illa] untuk memimpin bangsa ini."

"Tolong hentikan bualanmu itu, Kapten."

Setelah menerima sambutan yang tak biasa dari Kapten Harry, Kami pun diajak olehnya untuk menggelilingi kapal raksasa itu.

Aku berserta rombongan dari kerajaan [Krisna] sangat terkejut dengan puluhan [Helikopter] yang saling berjejer di atas dek kapal. Mereka semua memiliki bentuk yang agak berbeda dengan [Helikopter] yang kami naiki tadi.

"Ne, Namikaze. Seberapa besar ukuran kapal ini?

Aku sedang berjalan-jalan ke arah dek yang dipenuhi oleh beberapa [Helikopter] dan juga kendaraan aneh yang tampaknya memiliki fungsi yang sama dengan [Helikopter] itu.

"… Panjang kapal ini adalah 333 meter. Lebar totalnya adalah 41 meter, daya angkutnya adalah 100.000 ton, kecepatan maksimumnya adalah 30 knot*, dan dapat menampung lebih dari 6.000 orang—termasuk pilot. Yah, karena memiliki ukuran yang begitu besar, kapal ini juga bisa menampung 80 hingga 90 [Helikopter]."

*A/N: 30 knot = 55.5 km/jam

Ja—jadi, ukuran kapal ini jauh lebih besar dari yang Aku kira?! Bahkan kapal ini juga mampu mengangkut 6.000 orang dan 90 [Helikopter] sekaligus! Dan juga, apa-apa dengan kecepatan kapal ini*?!

*A/N: Begini Guys, kecepatan kapal layar (kapal tradisional) adalah sekitar 4 sampai 8 knot (7.4 sampai 14.8 km/jam), adapun sebuah kapal layar cepat dapat mencapai kecepatan 14 sampai 17 knot (23 sampai 31.5 km/jam).

Sedangkan untuk kapal modern, kecepatan mereka di atas 20 knot (37 km/jam). Bahkan, sebuah kapal perang dapat mencapai kecepatan lebih dari 30 knot (55.5 km/jam), walaupun kecepatan asli mereka biasanya dikelompokan untuk alasan tertentu.

"Oh yah, Namikaze. Kendaraan-kendaraan yang menyerupai burung itu, apakah mereka memiliki fungsi yang sama dengan [Helikopter]?" tanyaku ke arah sebuah objek asing yang tak pernah Aku lihat sebelumnya.

"Yah, mereka memiliki fungsi yang sama seperti [Helikopter]—untuk terbang. Tapi, mereka tak memiliki baling-baling seperti [Helikopter]."

"Lalu, bagaimana cara mereka untuk terbang?"

"Sebagai gantinya, mereka dilengkapi oleh mekanisme yang mirip seperti tubuh burung—untuk terbang. Kendaraan ini juga dilengkapi oleh mesin pendorong berkekuatan tinggi. Sehingga, mereka dapat terbang tinggi di angkasa bahkan jauh lebih cepat daripada [Helikopter]."

"…"

"Maaf… Apa penjelasanku kurang jelas, Hime-sama?"

"Ti—tidak. Aku ngerti kok!"

Aku bisa mendengar tawa lepas dari kapten Harry saat melihatku—dan rombongan dari kerajaan—dengan wajah tercengang.

Uhh… rasanya Aku ingin mati saja…

Ketika Kami memasuki badan kapal, Aku berserta seluruh rombongan kerajaan kembali dibuat terkejut sampai-sampai kami tak bisa mengatakan apapun.

Kapal ini sangat terang. Apa mungkin mereka menggunakan [Roh Cahaya] untuk dapat menerangi kapal ini?

"Ka… kapal ini terbuat dari besi… Bagaimana bisa kapal ini tetap mengambang…? Selain itu bagian dalamnya terang dan juga sangat luas. Bukankah ini sudah sama seperti istana?!"

Setiap orang dibuat tak berdaya dengan kenyataan yang ada dihadapan kami.

※※※

"Ini sungguh luar biasa…"

Aku mengucapkan kekaguman tanpa sadar.

Dari kapal induk ini, Aku bisa melihat daratan [Krisna] dari kejauhan. Disamping itu, kami juga dapat melihat beberapa species burung-burung camar yang sedang mencari makan di atas laut.

"Apakah Anda menikmati kunjungan kali ini, Hime-sama?"

Namikaze melirik ke arahku saat Diriku masih sibuk memandang indahnya panorama yang begitu memikatku.

"Yah, sangat. Aku tak menyangka bahwa ada pemandangan sebagus ini, ketika menaiki sebuah kapal perang."

Aku sudah tau bahwa kapal induk ini digunakan untuk kepentingan perang atau militer. Tapi, tetap saja Aku tak bisa menyembunyikan rasa kekagumanku pada hal-hal menarik seperti ini.

"Kalo begitu, bagaimana jika kita berkunjung ke markas Angkatan Darat?"

"Markas Angkatan Darat?"

"Yah, ada sesuatu yang ingin Saya perlihatkan kepada Anda."

※※※

Singkatnya, setelah kami meninggalkan kapal induk berukuran raksasa itu. Kami diajak oleh Namikaze menuju markas Angkatan Darat yang berjarak 63 km dari sebelah utara kota [Binonten]. Tentu saja, Kami kembali menggunakan [Helikopter] untuk dapat mencapai tempat itu dalam waktu yang cukup singkat.

"… Hime-sama, tampaknya Anda masih sedikit takut dengan hal ini, kan?" tanya Namikaze dengan rauk wajah khawatir.

"… Ti—tidak kok! Lagipula, ini bukan kali pertama Aku berpergian di atas langit."

"… Mungkinkan Anda sering berpergian dengan menungangi [Wyvern]?"

"… Tidak juga, sih. Aku hanya beberapa menaikinya saat Aku masih kecil."

Jujur, jika Aku disuruh untuk memilih menunggangi [Wyvern] atau menaiki [Helikopter]. Aku tanpa ragu akan memilih kendaraan yang sedang Aku naiki ini daripada hewan bersisik itu.

Alasannya? Tentu saja karena benda ini relatif jauh lebih aman, jika dibandingkan dengan [Wyvern]. Alasan lainnya adalah…

Oke! Aku tak perlu menjelaskan rahasia kecilku kepada kalian, kan?"

Tak perlu menunggu waktu yang lama, markas Angkatan Darat yang menjadi tujuan Kami pun kini dapat kami lihat dari kejauhan.

Tunggu dulu! Ada banyak objek asing yang tak pernah Aku lihat sebelumnya—sama seperti saat kami di kapal induk.

"Hei, Namikaze. Butiran-butiran kecil itu apa?"

Aku menunjuk ke titik-titik kecil yang berada tepat di atas tanah.

"Nanti Anda juga akan tahu."

Ketika [Helikopter] kami mulai mendekati titik-titik itu, Aku dapat melihat objek-objek berlapis besi berjejer rapi seakan menyambut kami dengan keangkuhan yang mereka miliki.

"Tidak mungkin! Apakah semua objek berlapis besi ini adalah mesin perang?!"

"Yah, itu memang benar. Mereka semua adalah kendaraan tempur yang dilapisi oleh logam khusus yang mampu menahan peluru-peluru tajam yang dimuntahkan oleh senjata api. Di duniaku, kendaraan-kendaraan ini biasanya disebut dengan [Tank]."

"… Kalo boleh tau, seberapa besar mobilitas mereka jika Kita saling berhadapan dengan musuh di medan perang?"

"Yah, mereka sangat efektif—dan juga efisien—saat digunakan dalam pertempuran terbuka maupun pertempuran tertutup. Selain itu, mereka juga mampu memuntahkan proyektil hulu ledak yang mampu menghancurkan dinding kastil hanya dengan sekali tembak. Ada banyak diantara mereka yang mampu melewati jalan berlumpur maupun jalan berbatu, bahkan mereka juga bisa dijalankah di atas air."

"Heh?! Ka—kau serius, Namikaze?!"

"Yah, Saya serius."

Ini bahkan jauh lebih hebat dari pada [Catapult]*, [Trubuset]*, maupun mesin pengepung lainnya! Aku benar-benar tak terbayangkan jika seadainya persenjataan ini disebar luaskan keseluruh dunia. Pasti dunia akan segera berakhir!

*A/N: Catapult*merupakan senjata pelontar yang digunakan untuk melemparkan atau melontarkan proyektil hingga jarak tertentu—tanpa bahan peledak. Sedangkan Trubuset* merupakan senjata pelontar yang mengadopsi prinsip jungkat-jungkit, sehingga proyektil yang dilontarkannya mampu menghancurkan sebuah objek yang berada tepat di belakang kastil atau benteng.

Uhhh… Membayangkan saja sudah membuat kepalaku sakit—apalagi melihatnya.

Sementara Kami berdua saling berbicara satu sama lain, [Helikopter] kami pun mendarat di salah satu sudut lapangan yang ada di markas itu.

Setelah kami benar-benar mendarat, Namikaze membuka pintu dan mengajakku untuk ikut keluar bersamanya.

Sama seperti saat Kami berkunjung ke kapal induk, Kami pun disambut dengan hangat oleh salah seorang perwira yang tampaknya memiliki jabatan yang tinggi.

Setelah itu, Kamipun diajak untuk mengelilingi markas Angkatan Darat. Dari sudut pandangku, banyak sekali bangunan-bangunan baru yang tampaknya sedang dibangun di markas ini. Kami juga diberi kesempatan untuk melihat bagaimana para insinyur senjata dan beberapa prajurit pemeriharaan yang sedang bekerja di salah satu bangunan yang menyerupai setengah tabung.

Aku bertanya-bertanya, kemana perginya prajurit-prajurit dari kerajaan yang ditugaskan dimarkas ini?

"Ngomong-ngomong, Namikaze. Dari tadi, Aku hanya melihat orang-orang berpakaian hijau di sepanjang jalan. Lalu, kemana perginya prajurit-prajurit dari kerajaan yang biasa ditugaskan dimarkas ini? Apakah kau memindahkan mereka ke tempat lain?"

"Tidak, Aku tidak memindahkan mereka—"

Namikaze lalu menunjuk salah seorang perwira berpakaian hijau yang tampaknya berasal dari ras demi-human yang memiliki daun telinga seperti musang.

"—Justru, Aku menggabungkan mereka semua ke dalam divisi-divisi yang sama dengan prajurit-prajurit ku." Kata Namikaze tanpa menghentikan langkah kakinya.

Di sepanjang jalan, para perwira yang secara kebetulan berpapasan dengan kami pun langsung memberi hormat ke arah kami & Kami berdua pun juga membalas hormat mereka dengan sikap yang sama.

"Aku merombak struktur organisasi militer yang ada di negara ini dan mengantinya dengan struktur organisasi yang ada di duniaku. Selain itu, Aku juga melatih ulang prajurit-prajurit [Krisna] dengan berbagai metode pelatihan yang ada di duniaku dan juga membekali diri mereka dengan berbagai keterampilan tambahan untuk meningkatakan kemampuan bertempur mereka."

Oh, pantas saja Aku tak melihat satupun prajurit yang menggenakan serangam perwira dari kerajaan. Disamping itu, tampaknya Namikaze juga sengaja menggabungkan kekuatan militer kami dengan prajurit-prajurit yang Dia panggil dari dunia lain.

Ini aneh, bukankah Dia bisa memanggil persenjataan dan prajurit-prajurit dari dunia lain—sesuka hatinya? Lalu, untuk apa Dia mau repot-repot untuk melatih ulang prajurit-prajurit dari kerajaan dan juga menggabungkan kekuatan militer kami dengan miliknya? Ataukah mungkin… Dia memiliki batasan tertentu dalam pemanggilan?

Yah, mungkin Aku bisa menanyakan hal ini nanti pada Namikaze.

"… Hime-sama? Hime-sama?!"

"Heh?! A—ada apa?"

"… Tampaknya Anda sedang memikirkan sesuatu, apakah itu adalah hal yang penting?" tanya Namikaze yang kini sedang berdiri disampingku.

"Tidak… bukan hal yang penting, kok."

Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju pinggiran hutan yang biasanya digunakan untuk tempat training oleh sebagian besar prajurit di markas ini.

A/N:

Balasan review untuk silent Reader:

nhl chapter 3 . Apr 30

Nggak ngeh ama jalan crita thor, di perbaiki dari awal lagi thor. Tentang latar belakang tokoh utama, sebab akibat kekuatannya muncul, resiko, dan nasib dunia dan keluarga yg ditinggalkan :v

Kalo masalah ini Ane gak bisa janji nyelesainnya #nunduk minta maaf

Tapi kalo sebatas cerita sampingan, mungkin Ane bisa mengurusnya nanti.

Oke, thanks udah ngasih review yang berbobot untuk Ane :)

Guest chapter 1 . Apr 22

Lucu kalimat "ras,suku,bangsa,dan agama" di negara krisna memangnya negara krisna punya pancasila dan apakah tdk ada nama yg lebih bagus untuk setiap negara (maaf klau menyinggung) dan ini bukan flame…

[Krisna] gak punya [Pancasila], tapi mereka memiliki dasar negara yang hampir serupa dengan [Pancasila]. Lalu, untuk pemberian nama negara. Ane sendiripun bingung, gak pandai milih-milih nama-nama asing. Yah, kalo Ane punya saran. Lebih baik kirimkan saja lewat PM, insyaallah… Ane jawab semampu Ane.

Guest chapter 2 . Apr 26

thor fic yang fate future kapan upnya

Maaf banget, bagi kalian yang nunggu Fic ini #nunduk minta maaf

Untuk saat ini, Fic itu Ane drof dikarenakan kurangnya bahan dan juga draf yang gak selesai-selesai. Jadi, sebagai seorang penulis. Ane benar-benar minta maaf karena gak bisa nyelesainnya sekarang.

Guest chapter 1 . Apr 21

Bah ini alur cerita awal kayak light Novel Genjitsushugisha no Oukokukaizouki yak hehe. Semangat author

Yah, memang Ane bikin Fic ini merupakan projek yang menggabungkan 2 WN. Salah satunya iyalah WN itu.

Dan juga, maaf yah kalo Fic Ane gak sebagus pengarang [Genjitsushugisha no Oukokukaizouki] #Merendahkan diri

Oke, thanks buat dukunganmu :)

Lalu, untuk review dari para Reader yang memang memiliki akun , semuanya udah Ane balas lewat PM. Jika ada pertanyaan seputar Fic ini, Ane sarankan untuk menggirimkan PM ke akun Ane. Insyaallah… bakal Ane balas selama hal itu logis dan mampu Ane jawab.

Dan terakhir… Thanks banget udah dukung Fic ini lewat review, favorit, maupun follow Ente sekalian. Semoga kedepannya Ane bisa melajutkan Fic ini hingga tamat, Amin…

Dan sampai jumpa di chapter selanjutnya…

Bye2