Yosh, stlh m'di gnung, mlwti lembah -sok ninja Hattori- akhirx chap 4 update jg. tpi sblm bca, Author mo mnta maaf s'bsr2 cz trs trg n trg trs, chap ini amt sgt gaje n m'bngungkn.. *srius lho*
Say thank to yg udh ripiu:
Hamazaki Youichi,
Undine-Yaha,
MaidoKatoxXnartian,
Iin cka You-nii,
Pablo Hirunata,
Vhy Otome,
Grth,
Aoi-darkblue,
Hiruma Mey-chan,
Muthiruma Youichi.
srt cnta bonus Hiru-kun udh Ie krm ke Inbox msg2 ^-^
.
N bwt yg g login, nih blsan review'a:
Youichi Hikari ga' log in: Thank dah ripiu ^-^ nih, chap 4'a! mga ttp ska n slmt m'nkmati..
Prinsess Lawliet: Ayo tbk, Hiru-kun ngapain di kmr Mamo-chan? Tdr s'kmr? Hoho.. syg'a chap ini tdk m'bri jwban *d'cburin k'empang*
Higuray Akuma: Hehe.. Mamo-chan mmg OOC prah, mkax jd mlaikat yg amt sgt tga skaleee.. #plakk Hiru-kun d'kmr Mamo? hemm.. sya jg bngung *gaploked*
ShiroNeko: Hehe.. Rncana'a emg pgn ng'bwt idup Mamo-chan kyk di nraka *di kmplang sapu* Arigatou pjian'a n ssuai hrpn, chap ini Ie pnjgn dikiiiit bgt, tpi g jmin crita'a g gaje.
.
Enjoy this fic!
Disclaimer:
Inagaki Riichiro & Yuusuke Murata
.
Pairing:
HiruMama
.
Warning:
OOC parah, gaje, garing, typo, dll n khusus unt chap ini, sgt d'srankn agr readers tdk gila m'bca fic'a yg.. GILA stadium 4!
.
OMG!
.
Chapter 4
Brakk!
Mamori menutup pintu kamarnya kasar. Terburu-buru menguncinya dari dalam sembari bersandar di daun pintu dengan nafas memburu.
''Orang itu kenapa? Menakutkan sekali!'' Mamori setengah bergidik. ''Sepertinya aku tidak akan heran kalau suatu hari nanti aku mati di pelukannya. Atau jangan-jangan dia malah pernah membunuh orang karena sifatnya?'' gumannya semakin ngeri.
Eh, matte! Mamori langsung berdiri tegap didepan pintu. Tangan kanannya berkacak pinggang, sementara tangan kirinya memegang dagu. Berfikir.
Harusnya kan ada tiga Hiruma? batin Mamori aneh. Jangan bilang anaknya mati kehabisan oksigen saat di peluk? innernya amat sangat melantur.
Sedetik kemudian, Mamori terkikik sendiri menertawai prediksinya yang konyol.
''Ya, ampun, Mamori! Kau terlalu berlebihan. Bibi Aoi.. err, walaupun aneh, tapi tidak mungkin membunuh anaknya sendiri kan?'' Bicara sendiri, Mamori mengibaskan tangan didepan wajah. ''Kalau itu terjadi, bibi Aoi pasti sudah di penjara kan?'' tanyanya lagi, entah pada siapa.
Terus terang Mamori bahkan tidak yakin dengan ucapannya sendiri mengingat sedetik lalu ia hampir mati sesek nafas. Di tambah lagi, otak jeniusnya sejak tadi mengirimi virus-virus berisi 'jangan-jangan'.
Jangan-jangan Bibi Aoi sudah mengirim anaknya ke dasar neraka dengan pelukan hangat penuh cinta? Lalu, karena takut di penjara, suaminya mengungsikan si istri keluar kota dan bersembunyi di rumah ini.
Ya, ampun! Home sweet home-ku jadi sarang pembunuh, inner Mamori mulai gila.
Gadis berambut coklat sebahu itu mengacak-acak rambut frustasi. Dan sebelum ia benar-benar gila, Mamori memilih cuek. Melangkah kearah spring bed yang terlihat berantakan.
Mamori mengangkat sebelah alis. Seingatnya, ia tidak pernah semalas ini sampai membiarkan kasur bermotif daun hijaunya terlihat 'hancur' dengan selimut bergelung menutupi sesuatu yang ia yakini sebuah guling.
Lagi-lagi karena malas berfikir, Mamori langsung menjatuhkan diri diatas guling yang tertutup selimut.
Bukk!
Mamori menghempaskan diri.
Keras.
''Sialan!'' Si guling dibawahnya menjerit tertahan yang membuat Mamori serasa tersengat listrik.
Mamori reflek terduduk dan menyingkap selimut putih tebal yang menutupi permukaan keras dibawahnya.
Begitu menemukan 'harta karun' yang di cari, Mamori langsung membeku.
''Dasar cewek sialan! Jangan seenaknya menjatuhkan diri di tubuh orang. Kau pikir tidak sakit?'' Si guling, err.. bukan! Seseorang dibawah Mamori berdesis sinis.
Mata emerald, rambut pirang spike, telinga elf, wangi mint lembut. Semua berbaur menjadi satu dan sukses membuat Mamori lupa diri.
''Dasar bodoh!'' tambahnya lagi, tenang dan menusuk.
Hening! Mamori belum selesai loading.
Mamori bahkan tidak sadar posisinya sedang menduduki perut orang dibawahnya.
''Ck, cepat minggir! Mau sampai kapan kau diatasku?'' Si rambut spike makin keki melihat Mamori tidak bereaksi.
''Hey, jangan bilang kau terpesona pada mataku lagi?'' desisnya narsis.
Ucapan itu lebih di tujukan untuk dirinya sendiri karena ia memang tidak lupa pertemuan pertama mereka tadi sore. Walaupun pria itu bukan tipe yang suka membuang-buang waktu mengingat hal tidak penting, tetapi setidaknya ia masih belum lupa satu-satunya orang yang rela di tembak mati olehnya.
Dan, Yup! seratus untuk si telinga elf. Tebakannya tepat sasaran.
Diatasnya, Mamori seakan tersedot hijau emerald si pria berambut spike. Cantik dan bening. Hijau dedaunan di musim semi yang menenangkan batin. Membuat paru-paru si pemilik bola mata safir harus rela kekurangan oksigen akibat tingkahnya menahan nafas.
''Sialan!'' Pria itu berdecak kesal. Ia bergerak meraih sesuatu dibawah bantal bernuansa merah bata yang ia pakai lalu mengacungkan moncongnya menempel di rahang Mamori.
Klik!
Suara tarikan pelatuk menarik roh-roh Mamori yang beterbangan, kembali ke dunia nyata. Membuat ia menyadari hal yang lebih gila dari sekedar menduduki tubuh orang tak di kenal.
Mamori mengorbitkan bola mata, melirik kebawah memandang.. err, pistol!
''Cepat minggir, sialan!''
3
Safir dan emerald kembali beradu tatap dalam diam.
2
Pria itu mengerakkan sudut bibirnya. Awalnya hanya tersenyum tipis, namun lama-kelamaan menjadi seringai lebar yang memamerkan deretan gigi-gigi panjang dan runcing.
1
Membuat otak Mamori serasa di paksa me-replay kejadian tadi sore.
Dan.. 0!
''Kyaaaa..'' Mamori menjerit histeris. Walaupun tidak ingin mati, tapi bukan berarti ia tidak takut di todongi pistol kan?
Mamori reflek menarik diri. Membanting tubuh kesisi kiri, tempat awalnya naik dan..
Gubrakk!
Tek!
Dugg!
''Awch..'' Mamori klepek-klepek di lantai. Meringis nyeri mengelus lebam ungu memanjang di pelipisnya. Kepalanya berdenyut perih. pikirannya mulai kosong di susul warna hitam pekat yang menyerang indra penglihatannya.
Yah, itulah akibatnya kalau kau tidak memakai otak. Tidak punya perhitungan.
Jatuh dengan kepala duluan? Sudah pasti. Punggung terasa remuk? Resiko ganda nan wajar. Tapi kalau kau juga terpaksa mencicipi sudut lemari kayu kecil disamping spring bed karena berguling menahan sakit, jangan heran bila ada yang mengataimu..
''Bodoh!''
Yeah, kurang lebih seperti itu. Seperti yang di katakan pria berambut pirang yang kini berbaring menelungkup, kembali melanjutkan mimpi indahnya yang tertunda tanpa memperdulikan seseorang yang sekarat, butuh pertolongan dan mungkin saja sudah jadi mayat karena sudah tidak bergerak.
_Pip Pause_
Warnig!
Gomeeeen, m'gngu! Ie cma mo blg, tlg para readers m'persiapkn btin cz author sgt sdr stgh lnjtan fic kali ini bkn cm gaje tpi cra pnlisan'a.. hiks.. T.T
Enth k'rsukan stn dri mna, cra nlis Ie tba2 b'ubah T.T huweee.. gomen ne *m'bgkuk dlm2* tlg jgn m'cerca tgn n otak nista saya..
Hbis.. Hikz.. tlsan yg d'atas sblm "Mission Impossible" publish n yg d'bwh stlh slsai.. *cari alasan*
pkok'a gomen! gomen! Gomen!
_Pip Play_
''Gelap..'' Mamori bergumam lirih begitu kelopak matanya terbuka dan mendapati sekelilingnya berwarna malam. Satu-satunya pencahayaan di tempat itu berasal dari sinar bulan purnama yang merembes masuk melalui celah ventilasi diatas jendela, disamping tempat tidur. Tetapi tetap saja hal itu tidak berarti banyak.
Dingin. Mamori menggigil pelan. Hal yang wajar mengingat ia memang berbaring tanpa selimut di lantai keramik yang kini terkontaminasi efek pergantian siang jadi malam.
Gadis bermata safir itu otomatis bangkit, duduk di lantai sembari memutar otak untuk mencerna apa yang terjadi.
Terus terang, cerberum otak Mamori agak linglung menyadari seluruh persendiannya terasa remuk seolah ia baru saja terjun bebas dari menara Tokyo.
''Uh, kenapa aku tidak ingat?'' Sedikit menggerutu, Mamori mengeluarkan ponsel dari saku blazernya, menjadikan benda itu sebagai senter dadakan untuk melihat sekeliling.
Mamori masih di kamar, duduk di lantai disamping meja kecil tempat meletakkan lampu tidur berbentuk model bola langit transparan yang akan memantulkan miniatur rasi bintang galaksi Bima Sakti berwarna-warni di dinding kamar. Tempatnya terantuk hingga pingsan karena..
Tek!
Mamori selesai loading. Secepat kilat menyoroti spring bed didepannya dan mendapati seseorang -seperti-saat-terakhir-ingatannya- sedang menghuni benda empuk itu. Tidur nyaman, menelungkup dalam balutan selimut hijau muda tebal setelah menodongi gadis itu.. pistol?
''ARGH! DI KAMARKU ADA TERORIS!'' Mamori histeris ditengah malam buta sembari terburu-buru melayang di pojok ruangan. Tempat teraman yang ia pikirkan saat ini.
Kalau saja Mamori mau sedikit bersusah payah melirik jam digital di ponselnya, ia akan tahu pukul 02.43 bukan waktu yang tepat untuk berteriak karena di saat seperti itu suara detik jarum jam saja bisa terdengar jelas, apalagi lolongan ngeri.
Tapi, so what? Memang itu tujuannya kan?
Cklek! Cklek!
Brakk! Brakk!
Drap! Drap! Drap! Drap!
Dalam sekejab, seisi rumah keluarga Anezaki terang benderang, di susul bantingan pintu kamar dan derap langkah tergesa-gesa dari dua arah berlawanan.
Langkah-langkah itu semakin lama semakin dekat dan berhenti tepat didepan pintu kamar Mamori.
Sedetik kemudian, pintu itu menjablak kasar, menampakkan dua pasang suami-istri dengan ekspresi bak gado-gado Betawi. Kusut, kaget, bingung, khawatir, heran dan entah apalagi. Yang pasti Mamori menganggap wajah mereka lumayan horror.
Well! Siapa yang tidak bertingkah horror kalau anak gadismu tiba-tiba berteriak menemukan teroris? Atau setidaknya, siapa yang tidak berwajah horror kalau mimpi indahmu honeymoon di Hawai terganggu teriakan aneh nan tidak masuk akal?
Ayah Mamori, Tatsuya Anezaki meraba tembok di sisi kiri pintu, mencari sakelar lampu yang membuat kamar itu diliputi cahaya.
''Mamo-chan, ada apa?'' Miho dan Aoi bertanya hampir berbarengan. Buru-buru meringsek masuk setelah mendeteksi keberadaan Mamori di sudut kamar.
Gadis berwajah pias itu segera bangkit mendekati dua Ibu yang masih nampak muda dalam usia hampir setengah abad mereka.
''Mamo-''
''Ibu.. umph!''
''Mamo-chan, kau baik-baik saja kan? Kenapa berteriak? Ada apa? Wah, Bibi khawatir sekali!''
Sebelum Mamori dan Ibunya menyelesaikan kalimat mereka, Aoi Hiruma sudah lebih dulu menarik Mamori dalam pelukannya yang -tentu-saja- menyesakkan. Bertanya lebay seolah ialah Ibu kandung gadis itu.
Miho Anezaki sweatdrop ditempat. Meringis nyeri melihat putri semata wayangnya berjuang melawan maut tanpa bisa melepaskan diri, disusul Tatsuya dan Yuuya yang jawdrop sambil menghela nafas.
Penyakitnya kambuh lagi, batin mereka sehati.
''Aoi, jangan memeluk Mamo-chan terlalu erat. Kau bisa membunuhnya.'' Merasa bertanggung jawab, Yuuya Hiruma langsung menarik istrinya agar menjauh dari Mamori yang juga di selamatkan sang Ayah.
''Hehe.. Maaf! Maaf! Habis aku khawatir sekali.'' Aoi nyengir garing didepan sang suami sambil meleletkan lidah tanpa raut bersalah.
Yuuya menghela nafas pasrah. Mau bagaimana lagi, Aoi memang kekanak-kanakan, batinnya. Dan terus terang, hal itulah yang membuat Yuuya jatuh cinta padanya bertahun-tahun lalu.
Aoi mengalihkan perhatian pada Mamori yang berhasil melewati masa kritis. ''Maaf ya, Mamo-chan? Bibi kelepasan. Habis kau manis sekali,'' sahutnya diselingi senyum manis.
''Iy.. iya, tidak apa-apa, Bi..'' Mamori balas tersenyum garing sambil mengelus dada untuk sabar. Bersikap manis meski didalam hati.. Argh! Orang ini berbahaya sekali. Belum duabelas jam, dia sudah hampir membunuhku dua kali, innernya kesetanan.
''Jadi sebenarnya ada apa?''
''Kenapa berteriak?''
''Kau mimpi buruk?''
''Takut gelap?''
''Lihat hantu?''
Miho dan Aoi langsung mencecari gadis itu pertanyaan bernada retoris.
''Bukan! Di kasurku ada teroris!'' Mamori menggebu-gebu. Setengah berteriak menunjuk spring bed bermotif daun-daun hijau kecilnya.
Semua mata mengikuti arah yang di maksud dan mendapati seorang pemuda berambut pirang spike tengah mengeliat diatas kasur, merasa terganggu suara-suara berisik di sudut lain kamar.
Sejujurnya pria itu sudah bangun sejak tadi, namun malas membuka mata karena tahu pembicaraan yang mereka bahas tidak penting.
Tetapi karena akhirnya ia hilang kesabaran, si pemilik mata emerald itu terpaksa membuka mata diiringi tatapan beraura neraka.
''Sialan! Kenapa berisik sekali? Ini masih tengah malam,'' sungutnya menahan kesal disusul gerakan duduk di sisi spring bed. Menatap gerombolan yang berjarak sekitar 6 meter darinya.
Hening!
Yang bereaksi hanya Mamori yang tiba-tiba beringsut mundur beberapa centi dan bersembunyi di punggung Tatsuya. Membuat semua mata teralih memandangnya sekali lagi.
''Itu.. terorisnya?'' Sang Ayah bertanya ragu. Sementara yang lain menautkan alis, saling berpandangan aneh, kemudian tertawa geli menghakimi pikiran paling tidak rasional Mamori.
Memangnya buat apa teroris masuk ke rumah Anezaki? Bikin markas? batin mereka sehati.
Ngeeek!
Tangan usil Aoi berhasil menarik pipi Mamori yang sedari tadi memutih pucat, namun tetap chubby.
''Hihi.. Mamo-chan imut sekali,'' katanya menepuk-nepuk pipi Mamori. ''Kau melindur ya? Kenapa baru sadar You-chan ada di kamarmu?'' tanyanya aneh.
''Eh?'' Mamori linglung sesaat. Otaknya bekerja keras mencari jawaban sampai tidak peduli pada rasa sakit akibat pipinya yang masih di cubit-cubit gemas. ''You-chan sia.. ah, Bibi kenal?''
Pertanyaan bodoh! Setelah bertanya, Mamori langsung menyesal karena merasa otak jeniusnya mulai aus.
Seharusnya Mamori menyadari sejak tadi kalau orang yang ia anggap teroris atau-malah-memang-teroris itu sangat mirip dengan suami si daughter complex didepannya.
Dan bukan hal yang sulit bagi Mamori untuk mengetahui bahwa satu dari tiga Hiruma yang sejak tadi ia sangka sudah mati kini menampakkan diri dalam wujud lebih gila dari sang Ibu. Membawa pistol kemana-mana.
Oh, ya! Sebagai tambahan, bukan hanya 'membawa' tapi juga 'memakai' dan kalau ada yang menganggap orang itu bukan teroris dan tidak berbahaya, tolong periksakan jiwa anda ke psikiater.
Hallo! Memangnya orang yang 'bukan' teroris boleh seenaknya menodongi orang pistol? Memangnya dia siapa? Intel?
Eh, matte! Pistol?
''Argh, tadi orang itu ingin menembakku dengan pistol!'' Teringat nasib buruknya, Mamori kembali menjerit, menunjuk si anak yang di panggil You-chan. Disusul kalimat, ''Dua kali! Aku hampir mati dua kali!''
Sebenarnya tiga kali kalau Mamori pintar menghitung. Kecuali kalau ia sengaja tidak menghitung adegan 'minta di tembak psycho' tadi sore.
''You-chan, kau menakuti Mamo-chan?'' Aoi mendelik ngeri -menurutnya- tapi bagi orang lain terlihat lucu. ''Itu kan tidak sopan!'' sahutnya berkacak pinggang.
Benar-benar tidak menakutkan mengingat wajah Aoi yang kalem, lembut dan imut. Bahkan lebih imut dari Mamori.
''Wanita tua cerewet! Jangan panggil aku You-chan. Itu menjijikkan!''
Bletak!
Entah memakai jurus apa, Aoi tahu-tahu sudah muncul tepat di depan sang anak sembari menghadiahinya tinju gratis di kepala.
''Hiruma Youichi, kau benar-benar tidak manis! Ibu menyesal melahirkan anak sepertimu!'' Aoi menggembungkan pipi sebal. Daripada marah, gayanya lebih mirip anak TK ngambek.
''Aku juga menyesal punya Ibu sepertimu, wanita tua sialan!''
Bletak!
''Jangan mengatai aku 'wanita tua'. Aku masih cantik. Dasar setan kecil!''
Miho, Tatsuya dan Yuuya sweatdrop ditempat. Sedangkan Mamori hanya bisa melongo sapi ompong.
Kenapa endingnya begini sih? Pertengkaran Ibu dan anak yang aneh.
Sebenarnya keluarga Hiruma itu keluarga seperti apa?
Penuh pelaku KDRT.
Tidak mau ikut gila, Mamori merangkul lengan Miho Anezaki yang berdiri disampingnya. ''Bu, aku ngantuk.. Malam ini aku tidur di kamar Ibu saja ya?'' bisiknya lirih lalu cepat-cepat menarik lengan sang Ibu keluar kamar.
Bodo amatlah kalau besok kamarnya seperti kapal pecah.
Masa bodoh juga kalau besok pagi para tetangga berdemo minta ketenangan tidur didepan rumah.
Dan tetap masa bodoh meski di chapter ini -?- terlalu banyak misteri.
Mamori cuma mau tidur. Titik.
.
.
^To Be Continue^
(dgn gaje'a)
So? Tulisan'a bda kn? Aneh y? lbh gaje dari chap2 sblm'a g?
Tdi'a g pgn publish tp udh t'lnjur jnji ma bbrpa readers lwt PM hikzzz..
Gomen ne? Tapi..
Ya-ha! slahkn caci maki dgn ripiu.. sblm publish, author bego ini udh m'persiapkn btin kok ^-^V
T.T tpi jgn kjm2 #plakk
