Aku kadang cemburu saat aku melihatmu bersamanya…karena meski kau milikku…ada rasa tak tenang mengetahui kau juga menganggapnya penting….

Aku takut…kalau selama ini kau salah paham dengan perasaanmu…kalau selama ini mungkin kau mencintainya, bukan diriku….

Bisakah kau meyakinkan aku untuk percaya padamu di malam natal ini….

Membuatku percaya kalau kau sungguh-sungguh mencintaiku….


Seorang namja manis berpipi chubby tersenyum saat dia menghias pohon natal yang sekarang sudah terlihat begitu indah dengan berbagai hiasan lampu-lampu natal dan hiasan lain. Namja bernama Kim Minseok, yang lebih sering dipanggil teman-temannya dengan nama Xiumin, itu tersenyum manis saat dia menggantungkan lampu terakhir di pohon natal itu dan mengamati hasil kerjanya sebelum menganggukkan kepalanya, puas dengan hasil kerja kerasnya.

Xiumin segera memandang jam tangannya yang menunjukkan jam 4 sore. Namja berpipi chubby itu segera mengambil jaketnya dan berjalan keluar. Lebih baik dia belanja dulu atau dia tidak akan punya makanan apapun yang bisa dia sajikan untuk menjamu namjachingunya, Xi Luhan.

Ya, mungkin semua orang yang mengenal mereka berdua akan tertawa keras kalau Xiumin mengatakan kalau dia dan Luhan berpacaran. Bagaimana tidak, mereka berdua begitu berbeda, Xiumin adalah anak klub vocal, seorang penyanyi dan pemain piano handal yang sudah sering memenangkan penghargaan musik. Dia anak yang tenang, tak banyak bicara, bahkan jarang bersosialisasi kecuali dengan para anak-anak klub vocal karena kesibukannya berlatih piano setiap harinya. Seandainya tak ada kegiatan musik yang memakai namanya…Xiumin yakin orang-orang di sekolah tak akan ada yang mengenalnya.

Sementara Luhan adalah kapten tim sepak bola. Namja China berambut cokelat itu adalah namja yang sering sekali dipuja-puja banyak yeoja karena kemahirannya memainkan bola di lapangan hijau. Berbeda dengannya, Luhan anak yang ceria, dia juga sangat suka bersosialisasi dengan banyak orang, populer, salah satu pangeran sekolah, pujaan hati para siswa-siswi di sekolah.

Entah bagaimana mereka bisa bersama, dan kenapa sekarang mereka bisa berpacaran, jujur saja Xiumin tak begitu mengerti. Dia hanya ingat suatu hari Luhan mendatanginya, memintanya berkolaborasi bersamanya untuk pelajaran seni musik, dan setelah itu…tak usahlah diceritakan. Yang jelas di sinilah mereka sekarang, berpacaran selama setahun…dengan bahagia….

Setidaknya Xiumin berharap kalau mereka bahagia….


"Hmmm…daging sudah, kentang sudah, lalu…" Xiumin membaca daftar yang dia pegang sambil berjalan di sekitar kompleks perbelanjaan, memastikan kalau dia sudah membeli semua bahan makanan yang dia butuhkan saat tiba-tiba ujung matanya menangkap seseorang yang dia kenal. Namja manis berpipi chubby itu segera menyembunyikan diri di samping tembok sebuah toko sebelum mengintip dari sisi toko, menatap toko yang ada di depannya.

Toko bunga…dimana ada seorang namja tampan berambut pirang yang tengah membeli sebuah buket bunga mawar beraneka warna yang diikat dengan pita berwarna merah muda. Buket yang indah, dan Xiumin mengenali orang yang membeli buket itu.

Oh Sehun, tetangga sekaligus teman sejak kecil Luhan dan salah satu dari sekian banyak orang yang mencintai Luhan.

Dia dan Luhan memang tak pernah menyatakan hubungan mereka secara publik di sekolah mereka. Entah kenapa Xiumin merasa tidak enak dan malu untuk menyatakan hubungannya pada Luhan dan Luhan menghargai perasaan Xiumin, akhirnya setuju untuk merahasiakan hubungan mereka (meski dengan sedikit tidak rela). Orang-orang di sekolah hanya melihat mereka sebagai teman sekelas yang cukup akrab, tak ada yang menyangka kalau mereka pacaran.

Tapi akibatnya…jumlah penggemar yang menyukai dan menyatakan perasaan mereka pada Luhan tidak berkurang sedikitpun (malah mungkin bertambah dengan semakin seringnya klub sepak bola mereka dikirim untuk pertandingan dan menang). Luhan memang selalu menolak semua yeoja atau namja yang menyatakan cinta padanya tapi Xiumin sadar kalau orang yang menyukai Luhan itu banyak.

Dan Oh Sehun adalah salah satunya.

Xiumin selama ini tak pernah cemburu pada siapapun yang mendekati Luhan, meski dia mengakui kadang ada rasa takut menghampiri dia percaya pada namjachingunya itu kalau Luhan tak mencintai siapapun yang menyatakan cinta padanya. Xiumin juga percaya kalau Luhan mencintainya dan pasti memilihnya dibanding namja dan yeoja itu. Terkesan sangat percaya diri memang tapi setidaknya Luhan membuktikan kalau rasa percaya dirinya itu benar….

Sayang rasa percaya diri itu langsung runtuh tak berbekas kalau dia berhadapan dengan Sehun.

Xiumin tak punya rasa percaya diri saat dia berhadapan dengan Sehun. Bagaimana mau percaya diri? Sehun lebih segalanya darinya. Sehun adalah salah satu pangeran sekolah yang juga dipuja-puja siswa satu sekolah, anggota klub basket, namja yang berwajah tampan dan memiliki kharisma yang kuat, pintar, kemampuan dan hal apa yang bisa Xiumin banggakan kalau dia berhadapan dengan Sehun? Dibandingkan Sehun sungguh tak ada hal yang bisa dia lebihkan.

Dan hal itu diperburuk dengan kenyataan kalau Sehun adalah teman sejak kecil Luhan, yang berarti dia tahu segalanya tentang Luhan, mengenal Luhan lebih lama darinya, dan jelas...diperhatikan Luhan. Sehun bukan para fans Luhan yang bisa Luhan abaikan kalau memang Xiumin tidak mau Luhan mendekati mereka, Sehun selalu diperhatikan oleh Luhan. Kadang pembicaraan mereka, apapun topiknya, pasti selalu akan ada nama Sehun terselip di sana, pandangan Luhan juga selalu terlihat lembut saat memandang Sehun, membuat semua orang merasa ada perhatian khusus yang diberikan Luhan ke Sehun.

…Bahkan Xiumin yakin kalau di sekolah mereka pasti ada orang-orang yang menganggap Sehun dan Luhan itu pacaran sekarang….

Xiumin segera keluar dari tempat persembunyiannya saat dia melihat Sehun berjalan keluar dari toko bunga dan mengayuh sepedanya pergi. Namja manis itu segera menghela napas sebelum kembali berjalan kembali menuju rumahnya.


Begitu tiba di rumahnya Xiumin segera meletakkan belanjaannya di dalam kulkas sebelum duduk di sofa ruang tamunya, menatap pohon natal yang baru saja dia hias dengan pandangan kosong. Tanpa bisa dicegah, saat-saat dia melihat Sehun dan Luhan bersama di sekolah ataupun di tempat lain mulai berkelebat di otaknya. Namja manis itu segera membenamkan wajahnya di kedua lututnya, mencoba menghapus semua ingatan yang tidak menyenangkan itu dari pikirannya.

Tapi tidak bisa…mau bagaimanapun Xiumin berusaha semua ingatan kedekatan Sehun dan Luhan tak mau pergi dari pikirannya dan jujur saja itu membuat Xiumin tak tenang.

Bagaimanapun sebagai teman masa kecil, bukankah itu berarti Sehun adalah bagian dari masa lalu Luhan? Sehun berbeda dengan dirinya yang menjadi bagian dari masa sekarang Luhan, setidaknya Sehun memiliki tempat di kehidupan Luhan, pernah menjadi bagian hidup Luhan, dan mungkin akan selalu menjadi bagian hidup Luhan. Berbeda dengannya, yang mungkin suatu hari nanti…akan berakhir dengan Luhan dan setelah itu…apa? Dia akan digantikan oleh orang lain sementara Sehun…statusnya sebagai teman masa kecil Luhan…tak akan tergantikan oleh siapapun.

Xiumin menghela napas sebelum menyambar handphonenya dan menekan beberapa nomor sebelum membawa handphone itu ke telinganya. Tidak butuh waktu lama sampai ada sebuah suara menjawab teleponnya. "Halo? Jongdae? Bisakah aku bertemu denganmu? Aku perlu bicara…. Baiklah, terima kasih, aku menunggumu…." Setelah selesai Xiumin menyandarkan kepalanya di sofa ruang tengahnya dan memandang pohon natal di hadapannya sekali lagi sebelum sebuah suara klakson mobil menyadarkannya dari lamunannya. Xiumin segera kembali mengambil jaketnya dan melangkah keluar dari rumahnya, tersenyum manis saat Jongdae berdiri di depan rumahnya sambil tersenyum. Namja manis berpipi chubby itupun segera memasuki mobil Jongdae, membuatnya tidak menyadari sepasang mata yang memandangnya dengan tatapan sedih.


Luhan menghela napas saat dia duduk di sofa di apartemennya setelah pulang dari rumah Xiumin. Namja China berambut cokelat itu tadinya berencana untuk mengunjungi Xiumin lebih pagi dari rencananya malam ini tapi baru saja tiba dia melihat Xiumin yang pergi bersama Jongdae, sahabatnya sejak kecil sekaligus teman Xiumin di klub vocal.

Dan kalau boleh dibilang…Luhan merasa cemburu….

Posisi Jongdae sebagai sahabat Xiumin adalah sebuah kenyataan yang tak bisa dihapuskan. Itu kenyataan yang tak mungkin diubah. Jongdae adalah bagian hidup Xiumin, orang yang selalu ada di saat Xiumin membutuhkannya, orang yang mungkin dicari Xiumin saat namja berpipi chubby itu sedang dalam masalah dan membutuhkan seseorang untuk bersandar, dan mungkin orang yang lebih mengerti Xiumin lebih daripada dirinya.

Karena itu wajar kan kalau dia cemburu…mungkin saja…Xiumin…jauh lebih menganggap tinggi Jongdae daripada dia kan?

Luhan menyukai Xiumin sejak pertama mendengar suara namja berpipi chubby itu di kelas musik. Suara yang begitu indah, sangat mempesona Luhan saat dia pertama kali mendengar nyanyian Xiumin. Sejak itu dia berusaha agar dia bisa mendekat pada Xiumin, termasuk memintanya untuk berkolaborasi dengannya di tugas akhir kelas musik, berusaha membuat namja manis itu menyadari keberadaannya dan mau mengakui dirinya sampai akhirnya dia bisa menyatakan perasaanya pada Xiumin dan akhirnya mereka bisa berpacaran.

Dan sejak saat itu jujur saja…dia ingin sekali menyatakan pada dunia kalau Xiumin itu miliknya tapi sayang sekali namja berpipi chubby itu tidak mau. Terpaksalah Luhan menyembunyikan hubungan dia dan Xiumin selama ini, membiarkan tak seorangpun tahu tentang kenyataan hubungan mereka yang sudah berjalan cukup lama ini.

Tiba-tiba di tengah lamunannya, handphone Luhan berdering. Namja China itu segera membawa handphone itu ke telinganya, tanpa ambil pusing siapa yang meneleponnya. Kalau yang meneleponnya hanya para fansnya yang menyebalkan itu malah kebetulan, saat ini dia butuh orang untuk dijadikan pelampiasan amarah karena suasana hatinya yang buruk ini. "Halo?" tanyanya. "Siapa ini?"

Ekspresi wajah Luhan langsung berubah saat dia mendengar jawaban dari orang di seberangnya. "Kau…mau apa kau meneleponku?" tanya Luhan. "Eh? Kau mau aku menjemputnya? Dia masih ada di concert hall? Oke, baiklah, terima kasih sudah meneleponku." Luhan segera berdiri dan berjalan ke arah pintu untuk mengambil jaketnya, tak lupa membawa hadiah natal yang sudah dia buat untuk Xiumin dan berjalan keluar tapi begitu berjalan keluar dia langsung tertegun saat melihat seseorang yang berdiri di depan rumahnya.

"Sehun-ah…" gumamnya pelan sambil memandang namja tampan berambut pirang di hadapannya itu.


"Jadi begitu ceritanya…."

Sekarang Xiumin bersama Jongdae sedang berada di backstage concert hall untuk konser yang diadakan sekolah mereka. Jongdae hanya memandang Xiumin yang semenjak tadi menundukkan kepalanya, menghidari tatapan teman sejak kecilnya itu.

"Hyung…aku memang tidak mengenal Luhan-hyung dengan akrab, dan aku juga tidak begitu mengenal Sehun, karena manusia muka tembok itu hanya akrab dengan Luhan-hyung dan juga Jongin," katanya menyebutkan nama sepupunya itu. "Tapi…tidakkah pikiranmu itu terlalu berlebihan?"

Dan baru saat itulah akhirnya Xiumin mengangkat kepalanya untuk memandang Jongdae.

"Setidaknya sekarang namjachingu Luhan-hyung itu kau kan, hyung?" kata Jongdae sambil mengayunkan botol air di tangannya. "Tidakkah itu artinya dibanding siapapun kau dianggap yang paling istimewa. Sahabat masa kecil hanya satu orang yang ada di hidupmu, satu bagian dari masa lalu dan kehidupanmu, hyung. Sahabat masa kecil itu orang yang akan selalu ada mendukungmu saat kau butuh. Sahabat masa kecil itu orang yang akan selalu berbahagia kalau kau bahagia dan yang paling penting…" Jongdae menggenggam tangan Xiumin. "Sahabat masa kecil adalah sahabat, bukan kekasih. Tak ada rasa cinta…yang ada hanya rasa sayang. Saat kau bisa mengatakan dengan percaya diri kalau ada orang yang kau anggap sebagai 'orang yang kau cintai' pada sahabatmu, maka sahabat itu selamanya hanya akan jadi sahabat, tidak akan lebih." Jongdae tersenyum manis. "Kau juga begitu kan, hyung? Kita sahabat sejak kecil, tapi aku yakin kau hanya menganggapku adik, jadi…kenapa Luhan-hyung tidak bisa melakukan hal yang sama? Mungkin saja dia hanya menganggap Sehun adik? Tidak kurang dan tidak lebih."

Xiumin memikirkan kata-kata Jongdae sebelum membuka mulutnya. "Ya…memang sih…" katanya pelan. "Tapi…."

"Jangan seenaknya menuduh seseorang tanpa bukti," kata Jongdae. "Tanyakan dulu kebenarannya pada Luhan-hyung, bicaralah baik-baik. Tidakkah konyol kalau akhirnya cinta kalian kandas hanya karena sesuatu yang sebenarnya salah?" Jongdae kembali tersenyum. "Percayalah pada Luhan-hyung, Minseok-hyung. Kalau dia benar-benar mencintaimu dia pasti tidak akan berkhianat padamu."

Tepat setelah Jongdae mengatakan itu Baekhyun mengetok pintu sambil berdiri di ambang pintu. "Jongdae? ayo sebentar lagi giliran kita."

"Ah, baiklah, hyung?" Jongdae segera berdiri. "Kalau begitu aku duluan ya hyung. Ingat nasihatku tadi, dengarkanlah kata hatimu dan percayalah pada Luhan-hyung."

Xiumin tersenyum mendengar jawaban Jongdae. "Ya," katanya. "Terima kasih Jongdae-ah, kau memang sahabat yang terbaik."


Xiumin berjalan keluar dari concert hall sambil memandang jam tangannya. "Sudah jam delapan malam," gumamnya. "Lebih baik aku pulang, mungkin Luhan sudah…." ucapan namja berpipi chubby itu langsung terhenti saat dia melihat Luhan yang bersender di selusur tangga gedung concert hall itu. "Luhan, kenapa kau ada di sini?" tanya Xiumin.

"Jongdae yang memberitahuku," kata Luhan sambil berbalik menghadap Xiumin. "Dia bilang ada yang ingin kau bicarakan denganku. Ada apa?"

Xiumin menundukkan kepalanya sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa, hanya masalah paranoidku yang sedikit berlebihan dan…."

"Sehun tak pernah mencintaiku, kalau kau mau tahu," kata Luhan memotong perkataan Xiumin, membuat namja berpipi chubby itu terdiam dan memandang Luhan dengan pandangan terkejut. "Dia mencintai Jongin, jadi…bisa dibilang selama ini dia hanya salah paham soal perasaannya. Aku sudah menolaknya dan kukira sekarang dia…pasti sudah menyadari perasaanya pada Jongin."

Xiumin terdiam, matanya tetap memandang Luhan dengan pandangan terkejut. Entah kenapa tiba-tiba lidahnya merasa kelu, membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.

"Aku menyayangi Sehun seperti adikku sendiri," kata Luhan sambil berjalan mendekati Xiumin. "Aku memanjakannya, memperhatikannya, dan menyayanginya sebatas rasa sayang seorang kakak pada adiknya, tidak lebih." Namja China berambut cokelat itu menggenggam tangan Xiumin. "Perasaanku pada Sehun berbeda dengan perasaanku padamu, Minseokkie-hyung. Aku ingin memilikimu. Aku mengharap kau hanya memandangku. Aku egois padamu…. Aku mencintaimu, hyung. Seberapapun aku menyayangi Sehun, perasaanku padanya tak bisa dibandingkan dengan rasa cintaku padamu jadi…."

Perkataan Luhan terputus saat dia merasakan bibir Xiumin yang mengecup pipinya, memberikan kehangatan saat bibir itu menyentuh pipinya yang terasa dingin. Luhan memandang Xiumin dengan mata terbelalak saat namja manis itu melepaskan ciumannya dan memandang Luhan sambil tersenyum manis.

"Aku percaya padamu," katanya sambil mengusap pipi Luhan. "Maafkan sikap kekanakanku. Aku hanya takut…kalau kau mungkin hanya salah paham dengan perasaanmu. Terima kasih…karena mau mencintaiku dan…."

Kali ini perkataan Xiumin yang terputus saat dia merasakan bibir Luhan menyentuh bibirnya. Xiumin memandang Luhan dengan pandangan terkejut sebelum perlahan-lahan memejamkan matanya dan mencium balik Luhan, memperdalam ciuman mereka. Mereka terus berciuman selama beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan ciuman mereka dan saling tersenyum manis.

"Ayo pulang," kata Luhan sambil mengulurkan tangannya pada Xiumin yang menerima tangan Luhan dengan senang hati. "Kita sudah berencana menghabiskan Christmas Eve berdua kan?"

Kedua namja itu segera berjalan bersisian sambil saling berpegangan tangan di bawah butiran-butiran salju yang berjatuhan. Xiumin menyandarkan kepalanya di bahu Luhan sambil tersenyum menikmati kehangatan tubuh dan tangan Luhan yang memberikan kenyamanan untuknya.

"Minseokkie-hyung…" gumam Luhan pelan.

"Hmm~?" kata Xiumin sambil tetap menyandarkan dirinya di bahu Luhan.

"Saranghae, hyung…" bisik Luhan pelan. Xiumin yang mendengar perkataan Luhan tersenyum semakin lebar sebelum mengangkat kepalanya dan mengecup pipi Luhan sekali lagi.

"Wo Ye Ai Ni, Lulu," bisik Xiumin, membuat Luhan balas tersenyum pada namja manis berpipi chubby itu, tanpa mereka sadari tangan mereka yang saling bertautan menjadi semakin erat, seolah-olah mereka memang tidak mau memisahkan tangan mereka.

Mereka tak butuh hal lain….

Mereka hanya perlu untuk selalu bersama…sekarang, nanti, dan selamanya….