Angel And Devil
.
.
By Ashura
.
.
Disclaimer : Naruto Just Have Mr. Masashi Kishimoto
.
.
Chara : Sasuke Uchiha, Hyuuga Hinata, Sabaku no Gaara
Gendre : Drama, Sufranatural, Hurt Comfort
Rated : M
.
.
Warning!
OOC, TYPO, AU, LEMON, ABAL, GAJE, (Tidak patut ditiru dan dipercaya karna ini hanya fiktif belaka)
.
Don't Like? Don't Read!
Please Press Back/Exit
.
.
Summary
Kegegalapan ada karna adanya cahaya. Meskipun cahaya dan kegelapan hidup selalu berdampingan mereka tidak ditakdirkan untuk bersama karna jika mereka berkehendak demikian hanya akan ada kerhancuran yang didapatnya
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
Chapter #3# They Coming
.
.
Gaara membuka matanya saat sinar matahari menyilaukan matanya. Ia tidak menyangka jika perubahan waktu disini sangat cepat. Atau mungkin karna ia selalu menghabiskan waktunya dengan bermain game seharian hingga malam tiba. Meggeleng pelan dan beranjak dari tempat tidur nyamannya untuk mengambil segelas air putih yang selalu tersedia di meja belajarnya. Sambil meminum habis air dalam gelas, iris jadenya menjelajah sekitarnya yang sudah rapi tanpa ada barang yang disimpan sesuka hatinya. Letaknya sesuai dengan barang yang Gaara letakan sendiri kemarin tanpa sampah yang berserakan tentunya. Ia cukup kagum dengan kemampuan maid yang membersihkan kamarnya ini. Gaara tidak suka barang-barangnya disentuh ataupun di pindahkan dari tempat yang Gaara tempatkan sebelumnya.
Gaara berfikir, rasanya semalam ia tidurnya sangat pulas sekali. Ia bahkan tidak menyadari jika ada orang yang memasuki kamarnya dan membereskan semua kekacauannya. Semalam ia tidak sempat mematikan gamenya, melempar asal wadah bekas makanan yang diberikan oleh maid dan terakhir ia juga tidur di atas karpetnya setelah kelelahan bermain game. Mungkin para maid menyuruh seorang petugas keamanan untuk memindahkannya ke atas tempat tidur. Jika tidak, perempuan tidak akan bisa mengangakat tubuh tingginya seorang diri. Kecuali jika membangunkannya maka ia yakin akan terusik dan tentunya pindah sendiri dengan bentakan yang kasar pada sang maid atas kelancangannya.
Waktu menunjukan jam setengah 8 pagi. Biasanya jika hari libur ini dia sudah mandi sesaat setelah sebelumnya bermandikan keringat karna olah atau raga jogging yang biasa dilakukannya setiap hari minggu.
Gaara beranjak mengambil handuknya dan berjalan santai kearah kamar mandinya. Mungkin hari libur ini ia bisa pergi keluar untuk mencari udara segar. Menikmati aroma pedesaan dengan melihat pemandangan alam setidaknya bukanlah ide yang buruk juga mengingat aura kota sama sekali tidak menyehatkannya.
Tidak ada rencana yang penting selain mungkin berjalan-jalan sebentar di kota terpencil ini. Meskipun begitu ia cukup nyaman ia berada disini. Hanya saja ia tidaklah bodoh dengan adannya aura yang aneh yang sejak kemarin ia rasakan di kota ini. Seperti ada sesuatu yang selalu mengawasinya. Hanya saja entah kenapa kali ini penglihatannya seolah terbentengi disini. Merasa kepalanya mulai pening ia pun segera bergegas meneruskan niatannya untuk membersihkan diri.
Sreek.
Pintu ditutup menyisakan ruang kosong dengan cahaya pagi yang menyinari sebagian ruangan. Hanya saja siapa yang akan menyangka bahwa sebenarnya disini terdapat dua makhluk yang tidak kasat mata memperhatikan Gaara yang telah hilang ditelan pintu kamar mandi. Mereka adalah penggambaran bentuk yang sangat sempurna sebagai makhluk yang diciptakan tuhan. Hanya saja meskipun sama-sama diciptakan dari tangan yang sama mereka bukanlah makhluk yang ditakdirkan dengan kemampuan dan kelebihan yang sama. Mereka bahkan adalah makhluk yang mendapatkan kewajiban dan kepribadian yang bertolak belakang. Spesifiknya mereka adalah gambaran untuk para makhluk yang memiliki sisi yang berbeda. Kebaikan dan keburukan. Kejujuran dan kebohongan. Angel and Devil.
Hinata dan Sasuke.
Gaun putih panjang yang menjuntai jatuh hingga kedua mata kakinya sedikit bersinar lantaran pantulan cahaya matahari yang menyorotnya langsung dari kaca jendela. Senyum tulus tersungging dibibir yang merah alami. Kulit seputih susunya nampak semakin berkilau saat matahari menyentuhnya dengan lembut. Ia tentu sangat senang saat-saat bermanjakan-manjakan dengan alam seperti ini. Namun senyumannya pudar saat awan hitam tiba-tiba menghalangi jalan masuknya cahaya. Ia melirik pria yang kini duduk bersila ditempat tidur. pasti ulah pria itu. Ia mengalihkan tatapannya saat menerima balasan tatapan tajam dari pria yang tidak pernah tersenyum itu.
"Aku tidak suka makhluk yang bahagia dan kau... ku pastikan mendapatkan penderitaan atas kebahagianku." Ucap Sasuke dingin penuh ancaman. "...Kurasa kau terlalu ikut campur kali ini. Seharusnya kau membiarkan kamar ini seperti tempat sampah dan membiarkan kesakitannya melilit setiap persendian tulangnya." Tambah Sasuke bersidekap menyandarkan dirinya pada kepala tempat tidur.
Bukan Hinata namanya jika ia akan terpengaruh dengan kalimat ancaman yang sudah di dengarnya disetiap waktu itu. Toh dia hanya sekedar menggertak dan menakut-nakutinya saja.
"Aku sangat senang dengan akhir yang bahagia dan kebersihan dan keteraturan membuat kita tentram dan damai. Dan menurutku semua orang ingin mendapatkan hal itu, Sasuke san."
"Cih." Balas Sasuke mendengus kesal. Iris onyxnya tak pernah lepas dari Hinata yang masih belum menyadari jika dirinya adalah pusat perhatian sang pangeran iblis.
Hinata berjalan pelan kearah jendela. Ia menyibakan tirai yang menghalangi pemandangan dari luar kamar. Ia kembali tersenyum melihat beberapa burung terbang kesana-kemari lantas hinggap di dahan dekat jendela Hinata berada, ia mengalihkan tatapannya pada hutan yang tidak jauh dari tempatnya berada. Hamparan hijau membentang disepanjang kawasan. Ia menyerngit bingung saat sebuah bukit mengganggu pikirannya. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang. Ia menatap Sasuke yang justru masih menatapnya dalam diam.
"Apa kau juga melihatnya Sasuke san?" Tanya Hinata penasaran yang justru dibalas dengan dengusan meremehkan khas Sasuke.
"Aku tidak perduli."
"Kau harusnya.."
Belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya pintu tiba-tiba digeser kasar. Memperlihatkan pria bertubuh proforsional yang hanya memakai handuk yang melilit tubuh bagian pinggangnya saja. Rambutnya yang lembab sehabis keramas dengan mata jade tajamnya terlihat lebih segar dibandingkan sebelumnya. Tak berapa lama ia melihat tirai jendela yang kini tersibak lebar. Ia menyerngit mendapati hal yang aneh dikamarnya. Rasanya ia mandi tidak terlalu lama dan ia yakin telah mengunci pintu kamarnya, lantas siapa yang menyikan gorden kamarnya. Ia sudah memastikan tidak ada eksistensi makhluk astral apapun yang dikamarnya, lantas siapa yang berani memasuki kamarnya. Dan yang paling menyebalkannya ia tidak bisa melihat gambaran apapun diwaktu sebelumnya dalam pikirannya. Merasa tidak ada jawaban apapun iapun berjalan cuek menuju lemari pakaiannya. Ia memilih celana jins warna hitam dan baju biru sewarna laut untuk dikenakannya kali ini. Tanpa ragu iapun mulai melepaskan handuk yang melilit pinggangnya memperlihatkan tubuh proforsionalnya dengan otot hasil latihan olah raga yang tidak cukup rutin. Namun percayalah tubuh Gaara memang sudah bagus dari sananya. Hanya dikembangkan sedikit maka wanita manapun tidak akan menolak untuk menyentuhnya.
Beruntungnya Hinata tentu sudah terbiasa mengingat seberapa lamanya ia hidup bersama pria bersurai merah ini. Ia sudah tidak kaget jika pria itu telanjang dihadapannya. Ia hanya melihatnya sekilas dan kembali menatap pemandangan yang lebih menarik menurutnya. Yah malaikat tidak akan tergiur dalam pemandangan dosa tapi indah itu. Apa Hinata benar-benar berpikir seperti itu? Tentu saja itu cuma pemikiran si author mesum.#plak#
Back to story
Sementara itu ditempat lain, tepatnya dalam sebuah gua yang berda di kaki bukit yang membuat Hinata penasaran. Seekor harimau putih keluar dari tempat persembunyiannya. Tak berapa lama disusul dengan langkah kaki berbulu khas serigala coklat, dengan anggunnya bergerak dengan lincah mendahului sang harimau putih. Namun saat langkahnya menuju aliran sungai jernih dengan aliran yang tenang membuat sang serigala sulit untuk tidak mengeluarkan suara tawanya yang ceria dengan penuh semangat.
"Senangnya.. akhirnya setelah seminggu penuh aku berbaur dengan manusia akhirnya aku bisa santai juga." Tidak berapa lama kemudian sang pemilik suara ceria ini perlahan berubah menjadi sosok gadis cantik bersurai coklat sebahu. Tubuhnya yang putih mulus dengan surai coklat yang nampak berkilau saat terkena cahaya matahari pagi. Ia lantas melompat dan menenggelamkan dirinya ditengah-tengah arus sungai yang lebih tenang dari yang lainnya. Bendungan.
"akh. Sial. Airnya menciprat kesini Matsuri!" Ungkap sang harimau tidak terima. Bulu dengan corak abu-abu dan dominan putih ini melompat menjauhi sungai.
"Hehehe... Gomen ne, Toneri kun." Balas Matsuri masih dengan suara cerianya, ia lantas berenang ketepi untuk melihat tampang kesal harimau putih dengan darah yokai yang kental pada setiap nadinya.
"Kenapa Toneri kun tidak ikut berenang denganku? Biasanya kau selalu melakukannya jika..."
"Aku sedang tidak mood. Jadi jangan ganggu aku." Jawab sang harimau dingin. Ia menatap kesatu titik jauh di ujung perbatasan hutan dengan pemukiman penduduk.
"Jangan-jangan kau masih marah karna aku yang menggagalkan perburuanmu semalam." Goda Matsuri yang keluar dari air lantas mendudukan dirinya pada batu besar disamping sang harimau. Tidak perduli jika dirinya masih dalam keadaan telanjang.
"Jangan membahasnya. Aku semakin kesal jika kau mengungkitnya."
"Toneri kuuun..." Kata-kata manja gadis penjelmaan dari yokai serigala ini biasanya akan meluluhkan hati keras sang harimau. Namun kali ini Matsuri harus menelan kekecewaanya saat sang harimau tidak bergeming sedikitpun, "Ayoolah.. Toneri kun. Aku sungguh tidak tahu jika makhluk berkaki empat itu begitu membuatmu lapar. Dan lagi pula bukannya kita selalu mendapatkan pasokan makanan dari para penduduk yang memuja kita dan ku rasa..."
"Diamlah Matsuri!" Bentak Toneri bersamaan dengan cahaya keemasan beregrak disekitar sang harimau putih dan sekejab bulu putih halusnya berubah menjadi baju kimono putih dengan motif yang hampir menyerupai corak bulu sebelumnya, namun kilauannya yang dan ukuran yang pas membuat sosoknya memukau. Surai putihnya dengan gaya acak-acakannya membuat dirinya seperti sosok peri versi jepang. Namun siapa yang menyangka jika makhluk rupawan ini adalah makhluk bengis yang memiliki perubahan bentuk sebagai hewan liar yang disebut dengan Yokai.
Tidak berapa lama kemudian Matsuri beranjak dan melakukan hal yang sama seperti Toneri lakukan namun jika Toneri adalah makhluk dengan wujud pria yang mempesona dan misterius, Matsuri akan merubah dirinya menjadi sosoknya sebagai seorang gadis remaja tanggung usia 17 tahun dengan bentuk tubuh yang bagus dan tak lupa wajahnya yang sangat cantik dengan surai coklat sebahunya. Warna kimono yang serupa warna tanah yang lembut membuat Matsuri nampak seperti seorang hime, karna memang dia adalah seorang hime dari klan serigala yang telah lama musnah oleh sesorang yang begitu ia ingini di dunia ini. Terdengar menyedihkan namun ia tidak tahu apa ia harus bersedih atau sebaliknya.
"Aku tidak mengerti kali ini. Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda diujung sana. Walaupun samar aku dapat merasakan auranya sangat kental dengan para makhluk atas."
Matsuri terkejut saat mendengar penuturan dari pria yang sudah dianggapnya seperti kakak kandungnya ini. Ia berjalan mendekati Toneri dan mencoba melakukan teknik yang sama seperti yang Toneri lakukan dan ia kembali menatap pria yang kini nampak menyeringai masih menatap yang sama.
"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Matsuri.
"Tentu saja. Aku akan melanjutkan rencanaku yang tertunda."
"Apa maksudmu?"
"Apakah kau ingin melihat kekasihmu lagi?"
Matsuri tertegun. Bagaikan gerakan layar rusak ingatannya kembali pada peristiwa 1000 tahun lalu. Pertemuan pertamanya dengan lelaki misterius dengan pakaian yang serba hitamnya, tidak lupa dengan sebuah kipas besar yang selalu dibawanya sangat tampan dan suara ngebas khas pria yang memperkenalkan dirinya sebagai sosok seorang iblis yang mencari sosok seorang dewi yang bergaun putih dengan sayap putih dan mata lavendernya. Matsuri yang telah jatuh cinta pada pandangan pertama patah hati untuk yang pertama kalinya. Ia lantas bertekad untuk menemukan gadis itu sebelum Iblis tercintanya menemukannya yang ternyata gadis yang dimaksudnya adalah seorang angel. Matsuri membuat tipu muslihat untuk membuat sang angel percaya padanya yang pada saat itu benar-benar putus asa. Gadis itu memang sangat cantik, baik hati dan menawan, karna gadis itu memang adalah seorang angel. berbeda dengan dirinya sebagai seorang yokai yang tidak memiliki apapun untuk menyaingi kecantikan sang angel. Hingga pada akhirnya ia merasa benar-benar putus asa saat pria yang dicintainya itu lebih memilih sang angel dibandingkan dirinya. Maka timbul niat jahat lainnya untuk melenyapkan sang angel sebelum pria iblis yang disukainya menemukannya lebih dulu. Dan pada akhirnya ingatannya berakhir pada dirinya yang memegang sebuah belati yang didapatnya dari balik jubah iblis yang sangat dicintainya. Tanpa ia pikirkan akan resiko apapun lagi ia menancapkan belati dengan ukiran perak dan emas berlambang kipas putih dan merah, tepat kedada sang angel. Terakhir yang diingatnya saat pria yang dicintainya datang menghampiri sang angel dengan tatapan yang benar-benar kosong. Kehilangan. Tiba-tiba gejolak kekuatan muncul dalam diri pria yang selama ini selalu ditutupinya selama ini. kekuatan aura sang iblis yang sesungguhnya. Kekuatan dan keinginan untuk menghancurkan apapun yang membuatnya marah.
Guncangan dan petir yang saling menyambar membuat tanah disekitarnya terbelah. Kebakaran yang disebabkan oleh halilintar yang menyambar apapun yang dapat dijangkaunya. Jeritan dan raungan kesedihan terdengar dari penduduk yang mendiami daerah yang tersebut. Matsuri sangat ketakukan. Ayahnya sesama yokai datang menghampirinya. Tidak lupa dengan anggota yokai serigala lainnya juga datang untuk membantu. Matsuri mencoba untuk berbicara pada iblis yang sedang kalap saat merasakan sang angel yang telah lenyap dari pandangannya. Sesuatu yang mencubit hatinya hingga mengakibatkan luka yang teramat parah. Tatapan iris ruby yang menatapnya penuh kebencian dan kekecewaan yang begitu dalam. Namun niat kuatnya untuk meminta maaf dan memperbaiki segalanya. Sang ayah yang merasa sang putri tercintanya mulai masuk dalam bahaya saat sang iblis yang baru diketahuinya adalah iblis klan atas bernama Uchiha. Ia tahu klan iblis Uchiha adalah iblis kejam melebihi iblis manapun didunia ini.
"Izuna kuuun.."
Dan kala Matsuri menyebutkan namanya itulah yang menjadi titik terakhir kesedihannya saat sang ayah beserta semua yokai yang berusaha melindunginya dari amukan sang iblis kini tergeletak tak berdaya didepannya. Bau amis darah dan bulu yang terbakar menyelubungi indra penciumannya. Pria ini bukanlah pria yang selama ini dikenalnya, Tidak. Dia adalah iblis yang selama ini dia cintai selama ini, tidak lebih dari monster yang haus membunuh.
"KAU... TIDAK LAYAK HIDUP!" Ucapnya dingin dan dalam layaknya geraman raja rimba.
Sayap hitam yang begitu dikaguminya kini nampak mengerikan saat bulunya terlepas menjadi potongan belati tajam yang melesat cepat kearahnya. Matsuri pasrah jika pada akhir hidupnya berada ditangan pria yang paling dicintainya. Ia memang sangat salah. Namun bisakah ia berharap untuk kebahagiannya sendiri. Kalaupun menghilangkan satu nyawa sangat setimpalkan dengan kematiannya sendiri ditangan orang yang paling dicintainya sekarang ia mungkin akan rela, asalkan bisakah sang pencipta memberikan sedikit hati Izuna untuknya. Egois.
Namun saat belati-belati hitam itu tinggal 5 centi lagi mengenai kulitnya benda -benda tersebut berpaling kearah berlawanan. Secara refleks Izuna melompat menghindarinya. hingga menimbulkan ledakan yang sangat besar di berbagai tempat.
Terlihat kebingungan pada ekspresi Izuna saat senjata-senjata yang di layangkan untuk membunuh Matsuri justru berbalik arah padanya.
Kebingungannya terjawab saat sebuah cahaya terang dan menyejukan muncul dari sela-sela langit suramnya. empat sosok makhluk yang hampir menyerupai penampilan Izuna hanya saja, jika Izuna identik dengan warna hitam kali ini putih dan berbagai kilauan cahaya melingkupi tubuh sosok tersebut. Hanya saja warna mata yang sama dengan angel yang dibunuhnya tadi membuat Matsuri terguncang. Akankah mereka akan menghakiminya juga? Mereka adalah para angel. Hanya saja ia tidak bisa mengelak saat sepasang mata yang sama dengan si gadis angel langsung menatapnya dalam diam. Tidak ada ekspresi apapun yang terpancar dari sorot mata itu, justru rasa bersalah yang dalam menerjang jiwanya yang kini mengganggunya. Inikah kekuatan para angel?
Matsuri tidak mengerti akan ucapan para angel yang berdiri melingkari Izunanya. Tidak berapa mereka melakukan beberapa gerakan tangan yang memunculkan sebuah cahaya terang membentuk instagram rumit tepat dibawah kaki mereka. Tapi, sepertinya Izuna marah dan mengeluarkan cahaya pekatnya untuk menyerang para angel. Namun sia-sia saat cahaya terebut justru mengurungnya dalam kukungan cahaya yang dibuat para angel.
Matsuri mendengar kemarahan dalam bahasa yang tak dimengertinya dari perkataan dingin iblis tersayangnya. Izunanya menatapnya tajam penuh kebencian, Ia menunduk sedih. Bahkan dalam sitausi terakhirpun Izuna sama sekali tak menunjukan sedikitpun kasihan dan sedikit cintanya. Ia terpuruk kala ia memang tak akan pernah mendapatkan apa yang di ingininya dari lelaki yang paling dicintainya ini. Ia menangis dan terpuruk. Berteriak dan putus asa akan nasib kehidupannya yang abadi.
"Aku tahu rasa cinta sepihakmu justru membuatmu buta arah. Kau membunuh pendamping hidupku saat itu."
Ia mendongak untuk melihat sosok rupawan yang sedikit meneduhkan hatinya, art angel.
Hanya saja Matsuri tidak tahu harus bersikap apa saat mendengar kata 'pendamping' dari sang angel. Surai coklatnya terlihat sangat lembut dan jangan lupakan sayap putih dengan keperakan seperti warna berlian yang tidak pernah tersentuh oleh tangan siapapun. Aroma bunga anggrek putih yang segar dapat tercium saat pria itu bergerak kearahnya. Aroma yang menyejukan dan membuat hatinya tenang. Sang malaikat yang begitu memikat.
"Hatimu dipenuhi dengan kebencian, Matsuri."
Matsuri memalingkan wajahnya menolak menatap sng angel didepannya. Bahkan hanya dalam kedipan matanya saja lelaki gagah itu sudah berada di depannya.
"Dia adalah istriku. Wanita pertama dari dua wanita yang paling aku sayangi didunia ini selain putriku. Alangkah menyesalkan hatiku saat aku melihat usia putriku mungkin tidak lebih dari usiamu juga." Suara parau dan dingin terdengar berdengung ditelinga Matsuri. Ia sedih dan gelisah secara bersamaan. Kesedihan yang membuatnya merasa putus asa. Keputus asaan yang teramat dalam hingga membuat tubuhnya lemas ditempatnya.
"Aku ingin sekali membunuhmu seperti yang kau lakukan pada istriku. Tapi, aku memberikanmu satu kesempatan lagi." Malaikat bukanlah makhluk yang selalu menghakimi sesuka hatinya. Mereka selalu berfikir untuk menyelesaikan masalah dari sisi yang berbeda. Jika beruntung keputusan yang akan diambilnya akan membawa kabaikan yang bertahan selamanya. Hanya saja dibalik sebuah kebaikan selalu ada kejahatan yang mengintai. Dalam arti yang sebenarnya selalu ada konsekuensinya.
"Aku memang memberikanmu kesempatan kedua untuk jangan pernah berurusan dengan para makhluk atas, terutama dengan semua keturunanku." Suara berat sang malaikat terdengar mersu dan indah. Hanya saja untuk Matsuri dengan mental yang terguncang jelas tidak merasakannya. "Aku memenjarakan Uchiha Izuna. Iblis klan Uchiha. Ia seharusnya berada di dunia pengasingan untuk menjalani masa hukumannya. Hanya saja karna suatu kesalahan ia terbebas. Ia mencari wanita yang menyelamatkannya saat dalam bertugas. Aku tidak memperhatikan beberapa hal hingga membuat dia di pertemukan dengan wanita yang menolongnya adalah istriku." Iris lavendernya menatap datar Matsuri yang menatapnya penuh perhatian.
"Ia mendapatkan hukuman karna lancang masuk ke tanah surga untuk bertemu dengan istriku. Dan ku kira setelah dalam masa hukumannya ia akan bisa berfikir lebih jernih lagi, hingga pada akhirnya ia bertemu dengmu. Tapi, ternyata semua hal kejadian sudah diluar perkiraanku saat kau membunuh istriku dan dia kembali pada jiwa gelapnya." Suaranya sangat dalam dan berbahaya.
"A..Aku memang pantas mendapatkan hukuman apapun, Tuanku." Matsuri berusaha mengeluarkan suaranya yang terasa tercekik karna sesak didadanya,"..Aku sangat mencintainya."
Hiashi berbalik enggan untuk melanjutkan perbincangannya. Tatapannya ia layangkan pada tiga sosok menawan lainnya yang kini menatapnya penuh perhatian. Bersiaga kala sang pemimpin memberikan perintahnya.
Ia mulai mengepakan sayapnya, terbang sedikit tinggi untuk melihat aura kepakatan yang begejolak pada lubang yang telah mereka buat untuk mengurung sang iblis.
"Uchiha Izuna adalah iblis yang masih dalam tahanan yang kini telah memberontak dan mengacaukan penduduk kota. Menyerang tidak terkendali menghancurkan hampir sebagaian kota," Suara sang pemimpin terdengar menggema hampir seluruh kota. Namun manusia tidak akan mendengarnya.
"Klan Uchiha sudah Uchiha Izuna untuk tetap menjadi salah satu bagian dari Uchiha, sekalipun Uchiha Izuna adalah keturunan inti mereka. Kita memiliki wewenang penuh untuk mengadilinya. Terkurung dalam dunia keputus asaan tanpa cahaya dan akan tetap selamanya ditempatnya hingga ketika salah satu dari darah pengunci akan menghancurkannya."
"Baiklah. My lord."
Bersama dengan itu para malaikat itu bergerak mengikuti sang pemimpin melesat ke angkasa. Berputar dalam sekali putaran. Sayap yang mengepak indah dengan percikan cahaya layaknya peri yang sering didengar dalam cerita-serita pengantar tidur. Cahaya berpendar dari bawah kaki sang raja bergerak menuju titik pusat mempertemukan cahaya lainnya dari 3 malaikat lainnya. Berkelok membentuk diagram rumit yang perlahan melebar menutupi hampir seluruh kawasan hutan. Cahaya biru terang. Sangat indah dan memukau. Hanya saja erangan kesakitan sang iblis tidak akan bisa mengalihkan atensi isris coklat yang terluka dan putus asa.
"AARGHHHHKK!"
Bersama dengan itu Sebuah cahaya yang membentuk tali menjerat tubuh jangkungnya. Menyeretnya masuk kedalam lubang tak berdasar. Ruang hampa. Ia meronta. Sayapnya mengepak keras memberontak melawan arah tarikan dari sang iblis rupawan.
Izuna kun.
Suara rintihan kesakitan yang tidak akan pernah bisa didengar oleh sang pemilik nama. Ia hanya bisa menangis dan menangis. Tanpa bisa menolongnya dari hukuman sang malaikat.
Hingga akhirnya saat sang awan kembali memancarkan cahayanya dan sosok iblis tampannya telah lenyap ditelan oleh lubang kegelapannya, ia sendirian di tanah kosong itu. Kehampaan yang justru membuatnya terdiam kaku ditempanya. Sendirian.
"Aku tidak bisa membiakan semua keburukan ini terus berlanjut untukmu. Aku akan membuat hutan menjadi rumahmu yang akan selalu menaungimu." Suara bariton merdu sang malaikat menggema di udara. Aromanya bahkan tercium hampir diseluruh udara yang dihirup oleh Matsuri. Hanya saja pikirannya yang dipenuhi oleh sang kekasih yang pergi jelas lebih mendominasi hatinya.
"Segel ini akan menjaga kelesatariannya selama kau masih menginginkannya. Setidaknya kau adalah yokai mengetahui batasannya. Dan saat itu terjadi jangan sekali-kali kau bertindak gegabah dengan melakukan perbuatan yang terlarang. Aku berjanji keturunankulah yang akan membinasakanmu."
..
..
"...Suri."
"..."
"...Matsuri!"
"..."
"Woy! Matsuri!
"E..Eh? Ada apa Toneri kun?" Matsuri sedikit gelagan salah tingkah. Ia kepergok melamun oleh Toneri.
"Kau melamun."
"Ti.. tidak." Ia berusaha berkilah. Walaupun hanya sia-sia karna bagaimanpun ia dan Toneri sudah berteman lama. Jadi berbagai ekspresipun akan ditebak dengan mudah saat mereka berbohon.
"Aku yakin. Kau sedang memikirkannya Izuna mu, bukan?" Tebakan yang tepat sasaran. Dan Toneri hanya menyeringai sekilas.
"A..Aku hanya.."
"Mengenang. Aku tahu."
"Apa maksudmu? Apa kau sedang menmbujukku?" Matsuri mendelik sebal lantas ia masuk kedalam gua dengan sangat cepat.
"Aku tidak membujukmu. Aku hanya sedang memberi tahumu sesuatu. Jika kau menolaknya, aku tidak akan memaksa." Ucap Toneri tanpa mengubah posisinya sedikitpun. Udara yang sejuk dipagi hari dan angin yang berhembus menggoyangkan kimono putihnya yang berkilau indah. Kadang Matsuri berpikir bahwa Toneri lebih cocok menjadi kaum elfh dari yokai.
"Kau tahu banyak hal yang ku pikirkan menganai dirimu. Kau lebih cocok menjadi kaum bangsa peri dari pada seorang makhluk jejadian." Lengannya merambat mengusap lengan yang terhalang kimono sutranya. Lihatlah betapa yokai yang selalu tahu bagaimana suatu kenyaman. Yokai berselera tinggi, "..Kau tahu kau sangat mempesona. Jika boleh jujur aku sangat tertarik untuk menghabiskan malamku denganmu."
Toneri mendengus bosan. Ia melepaskan tangannya dari belaian nakal sang serigala. Kitsune memang penggoda yang ulung. Tapi, untuk seorang yokai taiga seperti dirinya sama sekali tidak tertarik dengan wanita yang telah berganti-ganti pasangan seperti kitsune yang merajuk ini.
Kembali ia mengalihkan tatapannya pada tempat yang jauh didepannya ini. Ia merasakannya walaupun tipis. Ia bisa membaunya. Aroma ini.. walaupun berbeda ia masih bisa merasakan dari gen mana ia berasal. Ia menyeringai dingin. Saatnya membalas dendam.
"Kenapa kau menyeringai?Aku yakin pikiranmu dipenuhi oleh niat jahat." Matsuri menatapnya Toneri tajam, Sejurusnya ia tersenyum tipis. "Aku tentu sangat mendukung rencanamu ini. Aku sangat berharap bisa bertemu dengannya lagi." Ia melirik pada bukit yang kini menjadi tempat bernaungnya selama ini. Tempat yang selalu menjadi rumahnya untuk pulang. Tempat yang selalu membuatnya merasa lebih dekat dengan Izunanya. Tempat Izuna terkurung selama berabad-abad lamanya.
"Tentu saja. Aku juga sangat menginginkan itu."
...
...
Gaara berjalan santai dengan headset dan i-pad digenggamannya. Ia menghirup aroma pedesaan yang khas dengan udara sejuk memanjakan penciumannya. Hinata setia berjalan mengikutinya disampingnya. Gaun putihnya terlihat lebih bersidar kala cahaya matahari menerpa tubuhnya. Berbeda dengan Sasuke yang masih terlihat suram namun auranya yang menunjukan kekuatan dan rasa percaya diri yang tinggi.
Para penduduk melihat Gaara dengan tatapan yang aneh. Karna sesuatu yang tak lazim saat kau menemukan surai berwarna merah terang milik Gaara. Tapi, disamping itu tidak sedikit orang yang menyapa ataupun membungkuk hormat kepada Gaara. tentu saja keluarga mana lagi yang memiliki surai mencolok macam ciri khas dari keluarga Sabaku.
"Acuhkan saja orang-orang yang tidak penting. Biar bagaimanapun orang-orang itu adalah orang yang sangat menghormati kelurgamu. Betapa akan senangnya saat kau memberikan mereka sedikit sikap menghargaimu.
"Tidak." bisik Hinata lembut. "Biar bagaimanapun mereka adalah orang-orang yang menghargai nama keluargamu atas segala kebaikannya. Mereka tidak akan menyukai orang yang bersikap tidak perduli seperti itu."
"Itu adalah sikap tidak berguna." Balas Sasuke sengit.
"Sedikit senyuman. Tidak akan membuat harga dirimu jatuh."
"Buang-buang waktu. Apapun yang dilakukan disini hanya akan menghambat perjalanan saja."
Gaara pun berjalan lurus tanpa membalas satupun sapaan dari orang-orang yang menyapanya. Sasuke menyeringai senang saat lagi-lagi ialah yang memenangkannya pergulatan pikiran Gaara. Tatapan meremehkan ia layangkan pada satu-satunya gadis yang kini sibuk dengan helaan napasnya. Ia condongkan tubuhnya mendekati Hinata seketika aroma lavender yang selama ini mengiringi perjalannya dapat tercium dengan jelas. Ia sangat menyukainya. Betapa kau angel adalah kaum yang selalu menarik dengan keindahan dan keanggunan yang dimilikinya. Aroma lembut dan suara halusnya sudah menjadi konsumsinya setiap hari. Ia sudah terbiasa dan sangat terbiasa akan semua hal yang ada pada Hinata.
"Lebih baik kau menyerah saja. Biarkan dia menjadi milikku. Maka dengan senang hati aku akan memperlakukanmu dengan sangat lembut, Hinata." Bisikan seduktif Sasuke membuat Hinata tertarik untuk melihat wajah iblis tampan, Sasuke. Perlahan sayap hitam sang iblis melebar membentangkan setiap helai bulu halusnya. Hinata terpaku takjub bahkan tanpa disadarinya sebelah lengan kekar sang devil melingkari tubuhnya membawanya dalam dekapan hangat yang dulu pernah dirasakannya dari orang yang sama.
"Sesungguhnya aku tidak terlalu menyukai pertarungan kekanakan ini. Betapa pun aku lebih menyukai kita yang apa adanya. Aku dan kau akan menjadi pasangan yang menyenangkan dalam berbagai hal." Bisik Sasuke lagi. Sayapnya mengepak secara perlahan. Terbang dengan kerendahan yang stabil. Mengayun seperti menina bobokan seorang anak kecil dan hal yang paling di sukainya saat tubuh mungil sang angel yang berada didekapannya. Terasa sangat sejuk dan aroma yang menenangkannya sungguh membuatnya terbuai.
"Aku sama sekali tidak yakin bagaimana kita akan bisa saling memahami." Ucap Hinata membuyarkan kenyamanan Sasuke. Iris lembut seperti bunga lavender menatapnya.. dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan sama sekali. Iris mata yang berbeda warna ini bergerak menuruni wajah Hinata yang cantik dengan pipi yang dihiasi rona merah cantik. Cantik...sangat cantik. Tanpa disadarinya jarinya bergerak untuk mengelus pipi merona halus dan sejuknya. Sangat terasa menyenangkan di telapak tangannya. Ibu jarinya menelusuri kening turun ke hidung bangirnya dan terakhir pada bibir merah merekah seperti buah tomat segar dengan kilau yang alami.
"Sa..sasuke san."
Bisikan halus yang keluar dari bibir yang masih dipandanginya menggelitik perutnya seolah menarik wajahnya untuk mendekat dan lebih dekat lagi. Hinata memundurkan wajahnya kebelakang namun tangan kekar Sasuke sudah menahannya dengan sigap. Hingga hal terakhir yang dirasakannya adalah benda kenyal nan hangat melahap bibirnya dengan lembut. Hinata terkejut bukan main.
Mereka masih tidak menginjakan kaki ditanah. Sayap hitam dengan bulu sewarna raven ini masih setia mengepak dengan kekuatan yang terkontrol dan teratur. Otak Sasuke tidak merespon apapun yang berada disekitarnya kala rasa manis bibir Hinata begitu mempengaruhinya. Ia bahkan tidak memperdulikan rontaan dan gerakan apapun atas penolakan dari sang angel.
Ia ingin lebih dari ini. Lebih banyak manis lagi yang dicecapnya.
Mendekapnya lebih erat memperdalam ciuamannya dengan lidah yang menerobos masuk kedalam mulut manis sang angel. Sasuke terbuai dengan sensasi yang baru dirasakannya terhadap sang angel. Ciumannya mulai menuntut dan Hinata mulai sedikit kewalahan. Sebelah tangannya mulai bergerak kepinggul dan meremas pantat berisi sang angel. Astaga... Sasuke mulai kehilangan kontrol. Napasnya mulai memburu dan iris onyxnya tergantikan dengan warna darah yang menyela.
Jiwa sang iblis Sasuke mulai menuntut. "Aku tidak bisa berhenti disini. Aku ingin lebih lagi, Hinata." Bisik serak sang angel. Hinata tidak menggunakan zat approdisiac untuk membuat sang iblis terbakar napsunya. Ini jelas bahaya baik untuk dirinya maupun untuk Sasuke sendiri. Ia harus segera menghentikan Sasuke secepatnya.
"Ughh.. Hen..hentika aahn.." Astaga apa yang terjadi dengan suaranya. Ini benar-benar tidak bagus. Ini adalah zat aprodisiac dari Sasuke.
Konsentrasi. Hinata mendorong Sasuke sekuat tenaga mengakibatkan tubuh Sasuke terpental jauh dari posisinya. Hinata menatap khawatir Sasuke yang kini meringis kesakitan. Hinata tidak boleh mendekati Sasuke saat ini. Iblis itu sedang bergairah, sangat sulit mengendalikan iblis yang sedang emosional. Tak berapa lama ia mendengar langkah kaki seseorang mendekat kearah mereka berdua. Jantung Hinata serasa mau copot saat Gaara berlari kearahnya. Namun bukan itu yang menjadi pusat keterkejutannya. Dua orang yang bukan manusia berada dibelakang Gaara. Seorang gadis cantik dengan mata coklat dan kimono yang nampak pas ditubuh semampainya dan seorang pemuda dengan mata putih terang dan kimono sutranya yang membuatnya terlihat tampan dan elegan.
Hinata berharap ia sempat menyembunyikan dirinya tepat pada waktunya. Ia juga memakai kekaikan kekai penghalang untuk Sasuke. Agar aura mereka tidak dapat diketahui oleh ketiga orang tersebut. Dan nyatanya...
"Mereka yokai." Bisik Hinata menatap keduanya yang nampak kebingungan mencari asal suara.
"Aku mersakannyaToneri kun. Apa kah kau juga merasakannya?" Matsuri menelengkan kepalanya kesamping memperhatikan pria itu yang nampak fokus pada satu titik. "..Nampaknya kau menemukan sesuatu yang menarik juga ya."
Hinata berjengit waspada kala iris aqua menatap langsung pada lavendernya. 'Apakah dia bisa melihatku?'
Hinata berjalan mundur seiring langkah sang yokai putih berjalan kearahnya. Ia menghentikan dirinya saat phon besar menghalangi gerakannya. Ia memejamkan matanya saat tangan pucat Toneri terulur kearahnya.
Plash.
Menembus namun ia tidak bisa menghilangkan rasa kekhawatirannya sendiri. Telapak tangan itu kini bertengger tepat dikepalanya menyentuh mahkota kecil yang setia bertengger disela-sela puncak kepalanya, perlahan menuruni kearah samping membingkai dengan sangat sempurna.
"Hime."
Deg.
Hinata membelalakan matanya terkejut. Ia melihat iris aqua terang dengan pupil kecil hitam layaknya noda yang mencemari warna biru pucat sang pemiliknya. Surai putihnya nampak terlihat sangat alus tanpa ada gaya yang khusus untuknya. Tapi, tatapan kosong itu jelas sudah memberikan sebuah penjaelasn untuknya bahwa sang empu sama sekali tidak bisa melihatnya. Hanya berdasarkan insting. Ia bernapas lega namun, sesuatu yang dahsyat terjadi tepat saat ia akan membuka mulutnya.
Aura gelap dan energi yang seolah menariknya masuk membuat Hinata menoleh cepat kesampingnya. Ia melihat Sasuke yang menunduk dengan sayap hitam yang membentang lebar. Kala pria itu mengangkat kepalanya mata kanan dengan ruby merahnya menyala tepat kearahnya. Bukan, lebih tepatnya pada pria disampingnya. Ia berjengit saat kekai penghalang energinya pecah seketika dan sosoknya pun dapat terlihat dengan jelas baikoleh manusia biasa. Hinata mulai sedikit gusar. Mungkin kali ini tidak ada cara lain.
Sasuke bukan iblis yang mudah simpati ataupun peduli pada apapun yang ada disekitarnya. Hanya saja mendapati sang angel yang disentuh oleh makhluk rendahan yang bahkan jauh dibawah levelnya jelas membuat harga dirinya terhina. Ia adalah seorang iblis kegelapan, pangeran iblis generasi ke tiga dari sang raja lucifer. Keistimewaan dalam kekuatan menghancurkan dan membinasakan. Bahkah para yokai yang bahkan tidak layak untuk dijadikan bawahan bagi sang pangeran kegelapan. Hanya budak yang pantas untuk dijadikan kain keset bagi kaki sang iblis.
Betapa merendahkan dan darah iblis sang Uchiha tidak pernah perduli.
"Menyingkirlah kau dari sana makhluk rendahan."
Geraman sang iblis membuat setiap syaraf bergetar. Pikiran yang terpokus pada sang iblis membuat hatinya tak berdaya untuk menurutinya. Tapi, tdiak untuk sang putra indigo. Meskipun ini baru pertama kalinya ia melihat sang iblis namun jiwanya tidak genar sekalipun ia manusia biasa.
Jiwa iblis yang terbakar dengan api kemarahan.
Gaara tidak perlu memalingkan wajahnya untuk mengetahui kedua makhluk astral dibelakangnya yang sedang ketakutan. Ia mengerti seberapa jauhnya level kekuatan sang iblis dari kedua yokai dibelakangnya. Namun tetap saja jika sang iblis memang yang terkuat shinigami_aka dewa kematian tetaplah yang paling berkuasa dalam menghukum para jiwa kotor. Iblis adalah jiwa yang dipenuhi kebencian dan kemunafikan, jiwa yang tersesat dalam kegelapan. Apakah ia bisa menyimpulkan bahwa itu adalah jiwa yang kotor. Apakah iblis akan tunduk pada para shinigami? jawabannya, Tidak tahu.
"Manusia, sialan. Aku bukanlah iblis yang akan tunduk apda makluk apapun. Kau pikir shinigami adalah makhluk terkuat, huh? Apa kau ingin merasakannya?"
Gaara menatap penuh waspada dan perhitungan. Ia melirik menggunakan sudut matanya pada sisi yokai putih. Ia bisa merasakannya namun samar. Pemilik jiwa tenang, kenyamanan dan ...kebahagiaan? Apa maksudnya? Apakah sang angel?
Gaara memejamkan matanya berharap seluruh panca indranya dapat merasakannya lebih jauh lagi.
"Brengsek! Matilah kalian semua!"
Bersama dengan itu sebuah sinar hitam dilayangkan Sasuke kearah Gaara. Kemarahan karna kecemburuannya menggelapkan matanya. Ia tidak perduli jika dampak dari serangannya akan menimbulkan kerusakan yang parah. yang terpenting mereka semua mendapatkan pelajarannya karna telah memancing kemarahannya.
DHUUUAARRR!
Tidak ada yang sempat untuk melariak dirinya dan dipastikan semuanya akan tewas. Andaikan tidak adanya pelindung yang menghalangi kekuatan kegelapan tersebut. Sasuke menyipitkan matanya saat abu menghalangi pandangannya. Ia menatap tajam mengetahui kekkai siapa yang kini melindungi makhluk lemah tersebut. angin berhembus kuat menghilangkan debu yang menutupi pendangannya. Tentu diketahui siapa pemilik kekuatan tersebut.
"Hinata." Ucap Sasuke dingin dan datar.
Gaun putih bersih tanpa noda menjuntai jatuh hingga mata kakinya. Pandangan Hinata lurus menatap langsung apda Sasuke yang kini menatapnya tajam. Jadi sekarang mereka mulai menunjukan jati diri mereka yang sebenarnya. Setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya mereka akan memulai pertarungan mereka yang sebenarnya.
Gaara menatap Sosok Hinata dibelakangnya. Ia pernah melihat sosok gadis bersurai putih ini sebelumnya. Tapi, ia tidak bisa mengingat pasti kapan dan dimana ia melihatnya. Tapi, wangi lavender ini jelas tidak asing di indra penciumannya.
Toneri dan Matsuri yang gentar hanya bisa melihatnya dengan tatapan tidak percaya. Merasakan sebegitu kuat dan mengerikannya kekeuatan sang iblis yang hampir membunuh mereka semua andaikan jika sosok gadis bergaun putih tersebut tidak segera datang menyelamatkan mereka. Sedangkan Toneri yang sudah lama tidak mendapatkan serangan seperti itu juga sudah tidak bisa mengelak dari rasa takut akan kematian yang pernah dialaminya. Begitu menyakitkan dan mengerikan. Dan ia tidak mau untuk merasakan kesakitan yang sama.
"Hinata. Menyingkirlah!" Perintah Sasuke geram. Ia tidak bisa untuk menyerang Hinata saat ia sedang emosi. Ia tidak akan menjamin akan keselamatan Hinata. Terakhir mereka bertarung, tanpa sengaja ia telah memotong sayap Hinata, bagaimana jika kali ini tanpa sengaja ia membunuh jati dirinya sebagai angel dan menjadi yokai? Tapi,
"Kendalikan emosimu, Sasuke! Kau akan membunuh manusia yang tidak bersalah. Kau akan dihukum oleh para iblis karna telah membunuh manusia yang menjadi misinya." Ucap Hinata memperingatkan.
..Sasuke benci dengan sikap baik sang angel kepada para manusia yang tidak tahu diri.
"Aku tidak perduli. Aku menginginkan mereka mati!"
"Sasuke! Aku tidak akan membiarkanmu."
"Kau ingin melawanku, huh?" Sasuke maju selangkah. Sebuah cahaya merah berpendar ditangannya memunculkan sebuah pedang kesayangannya, "..Ku harap aku bisa membunuh hati naifmu, Hyuuga."
Sasuke melesat ke arah Hinata, mengacungkan pedangnya dan mengahatam lurus pada kepala Hinata lalu..
DHUUUAR!
Sekali lagi ledakan yang yang dahsyat terjadi. Angin yang terlalu kencang membuat Gaara terpental begitu pula dengan Toneri dan Matsuri. Mereka jatuh meringkuk saat terlempar sejauh 10 meter dari lokasi pertarungan antara Hinata dan Sasuke. Mereka terbatuk mempertajam penglihatannya saat debu mulai berangsur menghilang. Gaara melebarkan matanya saat tetesan darah keluar dari ujung pedang Sasuke.
Tii-tiidaaak!
.
.
To Be Countinued
.
.
Oke bagaimana kelanjutan dari perjuangan Sasuke dan Hinata sebagai Devil dan Angel dalam mendapatkan jiwa Gaara dichap ini?
Ku harap reader suka atau mungkin... juga membosankan.
hahahaha..#plak!
Oke..oke
Maaf sebelumnya FF yang TLTF kayaknya bakalan lama buat updatenya#aku kehilangan mood untuk melanjutkan ff itu.. but aku usahain tidak akan di 'Discontinued'in.
sungguh bukan karna banyak komentar jelek yang sering masuk kotak Review
ini karna memang aku sedang kehilangan mood
Entah mungkin karna aku memang penyuka gendre ini hahaha#plak
Oke, untuk adegan lemonnya mungkin nanti nyusul dach.. aku juga harus mengontrol otak yang kadang h*nt*i nya kagak ketulungan
so semoga si chapter ini ada kemajuan walaupun tidak banyak.
.
.
so.. sekali lagi..
HONTOU...GOMMEN NE
.
.
# Spesial Thanks to :
sasuhina69, Reichan Hiyukeitashi, Yuki, Jully Asahina, Guest, Ai, Ozel-Hime, Lovely Sasuhina, Hummy, Shu, luna cha, Yuka, hinatalovers, Lisna Wati716, Narulita706, HHS Hyuuga L, aisyaeva, Mhey-chan, Ana.
Kalian semua adalah penyemangatku
..Arigatou..
.
.
.
.
See you next chap
.
