Hallow Minna-san. Ketemu lagi dengan saya di chapter ke empat. Update kilat lho inih fufufu. Sebagai permintaan maaf saya karena kemarin updatenya kelamaan.

Senang banget deh banyak yang suka sama fanfict ini. Author terharu :')

Well, sebelum ke cerita, mau balas dulu review deh ah. . . .

Chimunk: Hehehe, sinetron banget ya ini fanfict. Tapi terimakasih lho udah review :)

kazuna: Gimana ya? Emh ga janji deh. Hehe

MR : Okey terimakasih untu reviewnyaa. .

NaruHinaSasujSaku : Wah terimakasih. Ini udah apdet kilat kok. Moga ga ngecewain ya. Huhuhu

tiffanyyuki : Siappp. Inih udah apdet kilatt :D

Manguni: Iya dong, kehidupan yang tertuang dalam sebuah cerita. Ekhem *sok bijak

Cakacaka : Arigatou :)

laila angel sapphireBluee : Author juga engga tau tuh siapa yang ngirim. Yang jelas, foto itu di ambil saat Sakura membenarkan dasi Naruto di chapter satu. Masih ingatkan? Nah ternyata ada seseorang yang melihat itu dan lalu memotretnya. Huh pastinya harus rumit biar menarik, Hehe. Arigatou untuk reviewnyaa :)

Terminator: Hehe, arigatou untuk reviewnya :)

Guest: Okey lanjuttt :D

amexki chan : Iya nih, berada di waktu dan situasi yang salah. Poor Naruto :(

Van persie : He, arigatou untuk reviewnyaa

doraemoni : Wah gomen, emang sih saya rasa juga ini kecepetan. Emang ga bakat bikin cerita berkelanjutan sih. Tapi ya arigatou untuk reviewnya :)

yuki-chan: Saya juga ga kebayang kalo saya dalam posisi Hinata :'( tapi moga aja engga deh. Jangan sampe itu terjadi.

Hanamiru: Iya sih emang cuma pegangan tangan, tapi ya namanya juga cinta, pasti yang namanya cemburu membutakan. Huhuhu arigatou reviewnya :)

Nagasaki: di tukar pasangannya? wah nanti saya kena plem lagi sama fans naruhina sasusaku. hehe.

Holand : arigatou untuk reviewnyaa :)

U. Dila-chan : Iya nih udah apdet. Cepetkan? hehe Arigatou untuk reviewnya.

Naruhina Luna : Siap, sekarang langsung aja ke cerita. Lanjutttt :D

Happy Reading Minna-san :)


A NARUTO FICT

BY NAMIKAZE MUTIARA HANA

CHAPTER IV

BAD DREAMS II

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing Utama : Uzumaki Naruto & Hinata Hyuuga

Genre: Romance, tragedy, dll

Warning: seperti biasa alur cepat, OOC, gaje, typo (s), not lemon ice de el el

DON'T LIKE DON'T READ


Aku ingin berakhir seperti cerita cinderella, yang hidup bahagia selamanya bersama seorang pangeran yang ia cinta. Tapi kenyataannya, aku hanyalah salah satu dari putri duyung yang perlahan menjadi buih dan akan membawa mati semua rahasia hatiku. Kau memang telah mengetahuinya, tapi tidak semua kau pahami dan mengerti. Atau aku yang tidak memahami dan mengerti hatimu? Sebutlah aku, Hinata, gadis lemah tak berdaya. Sudah terlalu lama menunggu saat yang tepat untuk diriku dan dirimu berbahagia. Dan selama itu, aku melihat benih-benih cintamu padanya yang semakin lama semakin berkembang menjadi bunga yang indah.

Aku sudah kalah. Bahkan sebelum aku mengangkat senjata, aku telah kalah. Kau memang ada dalam hidupku, tapi bukan untukku miliki. Pandangan iris biru itu hanya untuk dia dan selamanya takan pernah berubah. Meski begitu, Mengapa aku tidak mencari jalan keluar dari bayang-bayang dirimu yang selalu menghantuiku?

Kau memang sudah menyadarinya, kau menyesal. Tapi itu tetap tidak merubah apapun. Rasamu padanya, seperti rasaku padamu. Mungkin, inilah takdir rasaku. Jika cinta adalah pengorbanan, maka haruskah aku memilikimu seutuhnya? Itu terlalu egois. Maafkan aku. Inilah pengorbananku, membiarkanmu berbahagia tanpa diriku.

Di kutip dari salah satu buku, tapi maaf author lupa lagi judul bukunya. Dengan sedikit perubahan.


Mata lavender dan mata onyx terbelalak melihat kedatangan seseorang yang mereka tak duga. Naruto mengepalkan tangan kanannya. Kemarahan atas kecemburuannya telah meluap-luap di kepalanya. Matanya terasa panas melihat peristiwa itu. Hinata terdiam. Entahlah, ia sama sekali tidak ingin berbuat apapun. Sasuke lalu menghampiri lelaki berambut pirang itu untuk menjelaskan kejadian sebenarnya.

"Dengar, kau salah paham!" kata Sasuke sambil memegang bahu Naruto. Namun, Naruto menepisnya dan malah mencengkram erat kemeja milik Sasuke dengan tangan kirinya.

"Bajingan kau Sasuke!" teriak Naruto sambil mencoba memukul pipi kanan Sasuke, namun lelaki berambut hitam itu berhasil menahannya. Hinata tak berani menatap mereka berdua. Ia diam.

"Persahabatan kita cukup sampai disini. Brengsek!" Naruto lalu mengarahkan kepalanya dan "DUG", kepala mereka saling berbenturan. Saking kerasnya, di kening Sasuke dan Naruto ada darah yang mengalir.

"Dan kau wanita jalang," Naruto melirik sebentar pada Hinata. "Mulai detik ini, aku menceraikanmu!" Naruto lalu mendorong tubuh Sasuke dan ia lekas pergi dari tempat itu. Naruto berada dalam waktu dan situasi yang salah.

Sasuke terjatuh dan hampir saja kepalanya terbentur meja. Hinata bukannya mengejar Naruto, ia malah membantu Sasuke untuk bangun. Tangisnya kembali meledak. Kata-kata berpisah mudah sekali Naruto mengatakannya. Untuk kali ini, hatinya berkata untuk menyerah.

.

.

Naruto mengumpat sepanjang perjalanannya. Tujuannya kali ini adalah rumah kedua orang tuanya. Lelaki itu tidak memperdulikan darah merah segar yang terus mengalir dari keningnya. Pikirannya kacau. Ia tak takut mati. Jika ia matipun, takan ada lagi yang memperdulikannya. Ia memacu mobil sangat kencang. Ketika akan berbelok, seorang anak kecil sedang membawa balon yang sedang menyebrang jalan. Dan Naruto langsung menginjak remnya. Mobilnya tepat di depan anak kecil itu. Semua orang yang melihat berteriak. Naruto menghela nafasnya. Untung saja, ia tidak menabrak anak kecil itu. Ia memang ingin mati, tapi tidak usah membawa orang lain untuk mati karena tingkahnya. Mobil Naruto kini telah di kelilingi orang yang akan menghakiminya.

"Aku minta maaf. Kau tidak apa-apakan?" tanya Naruto pada anak perempuan itu. Anak itu hanya mengangguk pelan dan dengan ekpresi datar. Awalnya, orang-orang itu akan memberikan caci maki pada Naruto karena lelaki itu telah mengemudiakan mobilnya secara ugal-ugalan. Namun, ketika melihat luka naruto dan darah yang terus mengalir dari keningnya, para warga menyarankan Naruto untuk pergi kerumah sakit. Naruto mengangguk dan kembali ia menjalankan mobilnya.

Lelaki itu kini telah sampai di rumahnya. Ia memasuki rumah besar Namikaze dengan terburu-buru. Kushina yang melihat anaknya hendak berkata sesuatu namun di cegah oleh Minato. Naruto langsung berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua.

"Sepertinya Naruto sedang tidak ingin di ganggu. Biarkan saja!" kata Minato lembut pada istrinya, Kushina. Kushina hanya mengangguk. Setelah pernikahan anak semata wayangnya itu, Naruto jarang sekali berkunjung ke rumah orang tuanya. Sekalipun anaknya pulang, pasti ada masalah dengan istrinya.

.

.

Hinata mencoba membantu Sasuke bangun dan mendudukan lelaki itu di kursi tamu. Masih dengan tangisannya, Hinata mengambil kotak p3k yang ada di ruang tengah. Gadis itu kembali ke ruang tamu dan segera membuka kotak p3k tersebut. Hinata mengambil kain kasa dan mencelupkannya ke air bersih untuk membersihkan luka yang ada di kening Sasuke. Hinata mengusap pelan darah yang mengalir lalu menekan perlahan kening Sasuke yang terluka itu untuk menghentikan pendarahan. Sasuke terlihat meringis kesakitan. Wajahnya dan Sasuke cukup dekat.

"Aku tidak apa-apa, sudahlah!" kata Sasuke sambil mencoba menepis tangan Hinata yang masih mengobatinya. Namun Hinata tak menggubris. Gadis itu lalu mengambil kain kasa yang masih baru dan menuangkan alkohol lalu menempelkannya pada luka Sasuke. Setelah itu, Hinata mengambil perban agar luka Sasuke tetap bersih dan terhindar dari infeksi.

DEG

Seketika itu jantung Sasuke merasa berdebar. Hinata kini sedang memakaikan perban itu. Gadis itu menyibak sedikit rambut Sasuke. Sasuke merasa wajahnya memanas. Ia tak menyangka, jika cinta yang sudah lama ia kubur, menyeruak tiba-tiba. Sasuke memang sejak kecil diam-diam menyukai gadis bermata lavender itu. Ia tentu saja sangat gengsi jika menyatakannya langsung. Tapi itu dulu. Hatinya kini ada dalam kendali Sakura. Tiba-tiba, wajah manis Hinata mengingatkannya pada sosok ibunda yang sudah lama meninggal. Sasuke jadi teringat ketika ia sewaktu kecil terjatuh dan ibundanya mengobatinya penuh dengan kelembutan seperti ini.

"Sudah selesai." kata Hinata membuyarkan lamunan Sasuke. Sasuke tersenyum sedikit.

"Terimakasih, tapi kau harusnya mengejar dia. Kenapa kau malah menolongku?" tanya Sasuke keheranan. Bukannkah gadis itu yang meminta dia untuk tidak membenci Naruto? ah Hinata sungguh membingungkan.

"A-aku sudah menyerah. Dia telah menceraikanku," kata Hinata dengan suara berat. Gadis itu menggigit bibir bawahnya berusaha mencegah kembali ledakan tangisan dari pelupuk mata lavender miliknya. Sasuke tertunduk lesu. Ia merasa bersalah karena telah berani memeluk istri orang. Tapi ia memang terbawa dalam emosi. Ia hanya berusaha menenangkan Hinata dan juga dirinya sendiri.

"Maafkan aku!" kata Sasuke pelan. Ia menutup wajahnya. Hinata hanya tersenyum getir melihat tingkah Sasuke.

"Tidak apa-apa! Ini sudah takdirku! Aku memang sudah mengira bahwa pernikahanku dengannya tidak akan bertahan lama. Sasuke, maukah kau mengantarkanku ke mansion keluarga Hyuuga? Aku ingin pulang." kata Hinata lirih. Sasuke hanya menganggukan kepalanya perlahan.

"Aku akan mengantarkanmu. Tapi aku tetap akan menjelaskan semuanya pada Naruto. Aku harap rumah tanggamu bisa kau bangun kembali." kata Sasuke tertunduk. Sejujurnya, ia tidak ingin Naruto dan Hinata berpisah. Ia sungguh takut jika hal demikian terjadi, Naruto semakin mengincar istrinya. tapi terlambat, itu sudah terjadi.

"Terimakasih, tunggulah aku akan mengambil baju-bajuku." Hinata beranjak menuju kamarnya.

Hinata menatap nanar kamar itu. Baru saja ia merasa bahagia, tapi seketika itu pula berubah menjadi penderitaan yang berkepanjangan bagi Hinata. Gadis itu kembali menangis di dalam kamarnya. Hinata mengambil beberapa pakaiannya lalu memasukannya pada sebuah koper besar. Sambil mengingat semua kejadian kemarin, malah semakin membuat hati Hinata tercabik-cabik. Hatinya hancur seketika ketika Naruto mengatakan untuk menceraikannya.

"Kenapa semua ini bisa berakhir?" tanya ia pada diri sendiri. Hinata kini telah terduduk di tempat tidur kamar itu. Hatinya terasa berat untuk pergi tapi ia harus tetap pergi. Hinata kini bukan lagi seorang nyonya Uzumaki. Hinata lalu mengambil sebuah kertas dan menuliskan sesuatu. Kata demi kata ia tulis dengan tangan bergetar. Mencurahkan segala perasaannya dan penjelasan atas kesalahpahaman yang baru saja terjadi. Air matanya terjatuh dalam kertas itu. Sampai kapanpun, hatinya memang milik Naruto. Takan pernah terganti oleh siapapun.

.

.

Hinata kini telah kembali ke ruang tamu dengan membawa sebuah koper besar. Sasuke menoleh pada Hinata.

"Kau yakin?" tanya Sasuke. Hinata kini telah membulatkan tekadnya. Ia telah mengibarkan bendera putih pertanda ia menyerah dengan keadaan. Perjuangan cintanya telah usai.

"Aku yakin! Aku rasa ini jalan terbaik untuk kami berdua. Kami memang tidak bisa tuk menyatu." jawab Hinata mantap. Sudah tidak ada lagi tangis di antara pelupuk mata lavender gadis itu.

"Baiklah!" Sasuke membantu Hinata mengangkat koper besar miliknya dan pemuda itu telah menghilang dari pandangan Hinata. Hinata lalu mengambil amplop coklat itu. Memasukan kembali foto yang membuat hatinya hancur. Gadis itu juga memasukan surat yang telah ia buat dan buku diary yang telah ia tulis bertahun-tahun yang lalu. Semua tentang cinta, kepedihan, dan kebahagian Hinata pada Naruto. Hinata lalu menyimpan kembali amplop coklat pada tempatnya. Ia lalu pergi membawa luka yang takan pernah lekas sembuh.

Di kamar Naruto. .

Naruto terbaring di tempat tidurnya. Kejadian barusan terus mengacau fikirannya. Kembali, Naruto mengingat kejadian bahagia yang baru ia rasakan kemarin. Ini terlalu cepat. Mengapa Tuhan semudah itu membalikkan keadaan yang semulanya membahagiakan menjadi nestapa bagi dirinya. Matanya sudah sembab akibat terus menerus menangis. Naruto memang cengeng. Hatinya mudah tersentuh dan terlalu rapuh. Tetes demi tetes darah yang masih mengalir tak ia hiraukan. Tak lama kemudian, kepalanya mulai terasa pening. Penglihatannya berkabur. Naruto mulai kehilangan kesadarannya. Ia merasa bumi ini berputar lalu semuanya gelap.

.

.

Dalam perjalanan menuju rumah keluarga Hyuuga, Hinata dan Sasuke hanya terdiam. Sasuke menatap lurus memperhatikan jalan dan Hinata menunduk. Sedari tadi air matanya terus mengalir membasahi pipi putihnya.

"Sudahlah, semuanya pasti baik-baik saja," kata Sasuke mencoba menghibur Hinata. Tidak seperti biasanya ia berbicara duluan seperti ini. Hinata hanya menganggukan kepalanya pelan.

Tak terasa mereka berdua telah sampai di kediaman besar Hyuuga. Hinata turun dari mobil itu dan hendak membawa kopernya. Namun, Sasuke mencegahnya.

"Biar aku saja!" katanya pelan namun masih terdengar oleh Hinata. Hinata langsung membuka pintu rumah bergaya klasik itu di ikuti oleh Sasuke.

"Hinata? Kau kah itu?" sebuah suara terdengar dari ruang keluarga. Dan nampaklah wanita cantik berambut hitam yang satu angkatan dengannya. Ya, itu adalah Tenten. Istri dari Neji sepupunya. Hinata menyunggingkan sedikit senyuman.

"Konbawa nee-chan!" kata Hinata ramah.

Tenten melihat mata Hinata begitu sembab. Apa yang terjadi? tanya Tenten dalam hati.

"Kau kenapa Hinata?" tanya Tenten yang langsung mendapat hadangan dari Sasuke.

"Dia sedang ingin beristirahat. Tolong kau jangan ganggu dulu dia dan membebaninya dengan berbagai pertanyaan!" kata Sasuke dengan tampang stoicnya. Tenten tertegun masih tidak mengerti. Muncul berbagai pertanyaan dari hadirnya Sasuke dan Hinata. Kenapa tidak bersama Naruto? Tapi Tenten mengurungkan niatnya untuk bertanya demikian.

"Baiklah, kau boleh pergi Sasuke. Terimakasih telah mengantarkan Hinata!" kata Tenten tersenyum paksa. Wanita itu memang sedari dulu tidak menyukai karakter Sasuke. Pemuda itu terlalu dingin dan so jual mahal. Sasuke meletakan koper besar milik Hinata dan tanpa basa-basi lagi, pemuda itu berjalan keluar dari rumah kediaman Hyuuga.

"Apa ada yang membebanimu?" tanya Tenten.

Hinata masih tersenyum. "Tidak Nee-chan, aku baik-baik saja."

"Kau jangan membohongiku Hinata?"

Hinata terdiam. Tidak menjawab pertanyaan itu. Ia memang tidak pandai berbohong. Kini, Tenten dan Hinata telah sampai di kamar kesayangan rambut indigo itu.

"Kalau ada apa-apa, bilang padaku." Tenten memasang wajah manisnya. Hinata hanya mengangguk pelan dan ia berjalan memasuki kamar lamanya. Dan akhirnya pintu kamar itu tertutup.

Ada apa sebenarnya? batin Tenten.

.

.

Dalam mimpinya, Naruto kembali ke masa lima belas tahun silam saat usianya masih tujuh tahun. Dia berada di rumah kelahirannya, rumah sederhana ketika ayahnya belum sesukses sekarang. Ia sedang bermain dengan teman masa kecilnya, Sakura dan Sasuke. Mereka bertiga sering bertengkar. Sakura yang blak-blakan menyukai Sasuke dan Naruto yang blak-blakan menyukai Sakura. Naruto yang tidak terima, akhirnya menganggap Sasuke sebagai rivalnya. Mereka terus bersaing namun ia tidak pernah bisa menyamai Sasuke. Dari mulai kepopuleran, sampai masalah otak ia kalah. Dan ia juga harus mengalah saat Sakura menikahi sahabatnya itu.

Saat itu, Sasuke kecil hampir tewas karena sebuah kecelakaan. Sasuke harus merelakan kepergian kedua orang tuanya. Mereka bertiga tewas dalam perjalanan menuju sebuah bandara. Dan ajaibnya, Sasuke selamat meskipun ia mengalami luka yang cukup parah. Saat Naruto dan keluarganya datang menjenguk, Naruto tertegun melihat Sakura yang sedang memeluk Sasuke yang masih terlihat trauma dengan terisak. Dan dari situ, Naruto berusaha tegar dan tidak mengindahkan perasaannya lagi pada Sakura. Namun entahlah, perasaan itu terus tumbuh tanpa ia kehendaki.

Naruto perlahan membuka matanya. Ia merasa silau dengan pancaran sinar dari lampu yang ada di atas. Yang pertama kali ia lihat adalah seorang wanita paruh baya berambut merah, Kushina, ibunya.

"Naruto, kau sudah siuman?" tanya Kushina yang masih terlihat panik. Mata ibunya terlihat sembab. Naruto hanya tersenyum mendengarnya.

"Baka! Aku mengkhawatirkanmu kau malah tertawa!" kata Kushina dengan sedikit membentak.

"Hehe, ternyata masih ada yang peduli padaku!" naruto terkekeh. Ia mengedarkan pandangannya. Naruto kini tengah berbaring masih di dalam kamarnya. Namun, Naruto melihat tangan kirinya terdapat infusan.

"Kau itu hampir mati bodoh. Kau banyak kehilangan darah." kata Kushina dengan nada tertahan. wanita itu menangis di depan anaknya.

"Sudahlah Kaa-san, aku tidak apa-apa!" kata Naruto sambil berusaha tersenyum. Rasa sakit kini tengah mengerubungi di keningnya. Naruto memegang tangan ibunya, berusaha untuk menenangkan Kushina.

"Tidak apa-apa bagaimana?!" kata Kushina sedikit berteriak. Wanita paruh baya itu sangatlah menyayangi anak semata wayangnya. "Kau hampir membunuhku karena mengkhawatirkanmu Naruto!" Kushina langsung memeluk tubuh anaknya. Ia sangat tidak ingin kehilangan Naruto. Naruto membalas pelukan ibunya dan ia ikut terisak. Ia memang ceroboh membiarkan dirinya mati konyol seperti tadi. Ia masih punya Kaa-san dan Tou-sannya. Dunia ini belum berakhir, batinnya dalam hati.

"Arigatou, Kaasan!"

Minato hanya terpaku melihat istri dan juga anaknya. Pria itu tersenyum. Ia masih berdiri melihat pemandangan yang mengharukan itu.

"Kau sudah siuman Naruto?" tanya Minato sambil menghampiri tempat tidur Naruto. Pelukan antara ibu dan anak itu terlepas dan mereka mengalihkan pandangannya pada Minato. Naruto hanya mengangguk pelan.

"Dokter bilang kau harus istirahat. Tidurlah agar kau cepat pulih!" kata Kushina lembut. Perkataan Kushina di barengi dengan anggukan Minato.

"Terimakasih Tou-san, Kaa-san!" Naruto kembali membantingkan tubuhnya pada tempat tidur itu. Ia membelakangi Kushina yang terduduk di samping tempat tidurnya. Kushina membenarkan selimut yang di pakai Naruto. Sorot mata yang memperlihatkan betapa besarnya kasih sayang seorang ibu pada anaknya.

"Kalau ada apa-apa, langsung panggil kami. Jangan membuat kami berdua khawatir. Kau tahu? Ibumu menangis sejadi-jadinya saat menemukanmu dalam keadaan kritis seperti itu," kata Minato yang langsung mendapat deathglare dari Kushina.

"Kau berisik. Ayo keluar!" ajak Kushina sambil menarik lengan Minato cukup kasar. Mereka berdua melangkah pergi dari kamar Naruto. Naruto hanya tersenyum sambil memejamkan matanya. Entah mengapa, ia kembali merasakan sesak di relung hatinya. Ia merasakan sakit yang amat dalam. Naruto menatap langit-langit kamarnya. Sosok gadis manis bernama Hinata terbayang jelas di hadapannya. Saat gadis itu wajahnya memerah, saat gadis itu tersenyum simpul, saat gadis itu mengenakan gaun pengantin pada hari pernikahan mereka, saat gadis itu menyapanya ramah ketika Naruto pulang ke rumah, saat mereka pertama kali berkencan, saat ia mencium bibir manis gadis itu yang membuatnya ketagihan, dan di saat mereka menikmati indahnya surga dunia. Namun, semua itu hancur saat ia melihat gadis itu berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Air mata Naruto kembali mengalir dari mata biru sapphire miliknya. Apa yang sedang di rencanakan Tuhan pada dirinya? Bukanlah Tuhan selalu merencanakan yang terbaik? Batinnya dalam hati. Naruto kembali menutup matanya. Tapi jauh dari dalam lubuk hatinya, Naruto menyesali apa yang telah ia katakan pada Hinata. Mengucapkan kata cerai ketika otaknya tidak bisa menganalisis dengan baik apa yang telah matanya lihat. Kata-kata itu terucap begitu saja.


fufufu akhirnya selesei chapter empat. Singkat ya? ya gapapa biar reader-san pada panasaran. hehe

Selamat Bermalam mingguan Minna-san. .

Sempatkan Review ya? Biar author cepet apdet lagi.

Arigatou :)