Aasaa no Harem
—France Chapter III—
Hetalia Fanfiction
Hetalia (c) Hidekazu Himaruya
Story (c) Yami Youichii
Rate : T
Genre : Romance/Angst
Warn : each girl has different genre/AU/gakuen life/every country names are female except Human names/Harem (don't like, don't read)/etc
Enjoy Reading~
"Sensei, Sensei! Enaknya kemana dulu nih?" tanya France riang sambil berlari kecil ke depan Arthur dan berputar menghadapnya.
Arthur sedikit berdebar-debar melihat gadis yang ia kenal sebagai seorang wanita mesum, hari ini tampak sangat manis di depannya. Arthur memalingkan pandangannya dan menyembunyikan tangannya yang berkeringat ke dalam saku celananya. "Ma... Mana kutahu. Terserah kau saja." jawabnya cuek.
"Ooooh! Wajahmu 'dapat' sekali, Sensei!"sahut France girang sambil megap-megap dan mengibas-ngibaskan tangannya.
"Ugh... Apa-apaan wajah menjijikan itu?" bisik Arthur sensitif.
"KYAAAA! Sensei hari ini penuh spirit ya!" sahut France tambah girang sampai mengayun-ayunkan tangan dan bahunya karena gemas.
Mengetahui kalau France sudah tidak beres, Arthur akhirnya memilih untuk diam. Tiba-tiba dari kejauhan Arthur mendengar suara dari pasangan lain yang memperhatikan mereka.
"Hei, apa mereka pasangan juga?"
"Entahlah, tapi bila iya, ceweknya cantik sekali."
"Tapi sayang sekali cowoknya terlihat sederhana."
Mendengar percakapan itu, seluruh sistem tubuh Arthur seolah membeku. Pikirannya dilanda kecemasan tentang pakaiannya. Orang-orang berkata France terlihat sangat manis, sedangkan dirinya sederhana. 'Apa France tidak malu berjalan denganku?' pikirnya dalam hati. Tidak, penampilannya tidak memalukan, bahkan cukup bagus. Tapi bila dibandingan dengan gaya berpakaian France, ia memang tampak sederhana. Ia pun memutuskan...
"Nah, Sensei! Pertama kita mau kemana?" tanya France lagi.
"Toko baju, gimana?"
.
.
.
"Sensei! Sensei serius mau membelikanku baju?" tanya France mencoba meyakinkan ucapan yang dikatakan Arthur.
"Aku hanya memberikan kesempatan untuk 1 baju, 1 rok atau celana, dan 1 aksesoris. Hari ini masih awal bulan, aku belum dapat gaji. Uangku tidak cukup untuk yang lain-lain nanti." jelas Arthur.
Gadis itu tersenyum dan berbalik memburu baju yang ia sukai. Berpikir kalau wanita bila belanja baju itu lama, Arthur bermaksud pergi ke bagian pakaian laki-laki untuk memilih pakaian untuknya. Tapi belum mengambil 1 langkah dari tempat ia berdiri, ia sudah dipanggil oleh France.
"Sensei~ pakaikan baju ini~" sahut France sambil menunjukkan baju renang string.
"AKU MENOLAK!"
.
.
.
Setelah rusuh beberapa saat, akhirnya France lenyap ke dalam toko baju bagian wanita dan Arthur bisa tenang memilih baju yang ia inginkan. Arthur menyeleksi satu per satu baju yang modelnya ia sukai, tapi tak satupun dari baju-baju tersebut yang modelnya berbeda dari baju yang ia kenakan sekarang.
"Ugh... Yang mana... Aku tidak tahu gaya berpakaian laki-laki saat kencan..." gumamnya mulai pusing melihat baju-baju yang tersusun rapi di toko tersebut.
Ia menggeser satu per satu baju tersebut secara acak, berharap baju yang ditakdirkan untuknya tiba-tiba muncul. Tapi tak berapa lama setelahnya, Arthur menyadari bahwa di sekelilingnya orang-orang yang ada disana adalah pasangan-pasangan yang sedang mencari baju untuk cowoknya. Merasa tidak enak disana karena sendirian, Arthur melarikan diri ke lobby dan duduk disana penuh rasa malu. Ia menggaruk-garukkan kepalanya, seolah tidak tahu lagi harus bagaimana. Kemudian tak beberapa lama setelahnya France muncul dengan membawa 1 baju, 1 rok, dan 1 aksesoris sesuai dengan syarat Arthur.
"Sensei~ aku mau beli yang ini! Ayo kita ke kasir~" sahut France menghampiri Arthur.
Arthur memandang baju yang dipilih oleh France, baju itu sangat cantik. Kemudian ia membayangkan France mengenakan baju tersebut, lebih cantik lagi. 'DARIMANA PEMIKIRAN MEMALUKAN ITU MUNCUL!?' sahutnya dalam hati.
"Sensei, ada apa?" tanya France sambil memiringkan kepalanya.
Arthur menatap gadis itu sebentar, kemudian membuka mulutnya seolah ingin berkata sesuatu tapi ragu. "Eh... Anu... Kalau boleh... Aku ingin minta tolong..."
"Hm? Tentu saja! Kalau mon cheri yang minta pasti aku penuhi!" sahut France senang.
"U... Mm... Pi..." wajah Arthur memerah, pandangannya juga entah kemana. Alisnya yang ketebalannya di luar akal sehat itu menyudut seolah memaksa suaranya yang tidak mau keluar untuk keluar, dan tanpa ia sadari ia saling mengetukkan kedua jari telunjuknya satu sama lain.
"Pi...?" merasa semakin senang melihat wajah Arthur yang terus membuatnya gemas, ia berusaha menahan rasa senangnya karena hiburannya akan segera berakhir bila ia menggoda pria Inggris kaku itu.
"Pilihkan... Baju untukku..." bisiknya sambil merundukkan kepalanya menahan malu.
"Tentu saja mon cheriii~!" sahut France sudah tidak bisa lagi menahan rasa senangnya hingga ia melompat dan memeluk lengan Arthur.
Setelah itu France memilihkan 1 set baju untuk Arthur, lengkap dengan aksesoris yaitu : kardigan coklat berbahan bludru, kaos bermotif bendera Inggris, dan celananya tetap celana jeans yang ia pakai, kemudian syal merah bermotif scotish.
"Haahh, sulit sekali memilihkan baju untuk Sensei. Ditawari ini itu tidak mau." keluh France di samping Arthur yang sudah mengganti baju dengan baju yang ia beli.
"Ugh... Aku tidak suka pakaian yang mencolok atau bersinar seperti yang kau pilihkan." gumam Arthur sambil memasukkan sweater, kemeja dan dasinya ke dalam tas belanja.
"Tapi hasilnya ada, kan? Tuh!" France menunjuk ke arah dua orang gadis yang sedang memperhatikan mereka dengan hidungnya.
Arthur mengarahkan pandangannya pada kedua gadis itu dan mendengar pembicaraan mereka.
"Lihat! Cowok itu keren sekali!"
"Ceweknya juga cantik! Apa mereka pasangan model?"
"Benarkah? Tapi aku tidak pernah melihat mereka di majalah!"
"Tapi mereka berdua keren sekali!"
Mendengar pembicaraan gadis-gadis itu, Arthur mengalihkan pandangannya dan salah tingkah dengan berpura-pura merapikan poninya. Tiba-tiba France memeluk tangan Arthur dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu, kemudian berkata :
"Sensei sudah banyak sekali men-service-ku~ sekarang giliranku untuk men-service Sensei~"
.
.
.
Kencan mereka berlanjut hingga makan malam. Karena France sudah booking tempat di sebuah restoran Perancis bintang 4, tidak ada pilihan lain selain melanjutkan kencan mereka hingga makan malam. Seusai makan malam, mereka menikmati pemandangan kota dari taman yang ada di bukit kota yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka makan malam. France menatap kelap-kelip lampu kota dengan senang hingga ia berdiri di dekat pagar, sedangkan Arthur duduk di bangku taman karena kelelahan.
"Sensei~ ayo kesini! pemandangannya indah sekali!"
Arthur hanya menatap muridnya itu dari kejauhan. Lampu taman menyinarinya, membuat ia tampak bersinar dengan dikelilingi kelap-kelip lampu kota. Arthur tidak ingin melepas pandangannya dari gadis itu karena entah kenapa ia merasa France akan berbaur dengan malam dan lenyap dari pandangannya. 'Lagi-lagi pemikiran konyol. Apa yang kupikirkan? Aku ini gurunya. Hubungan ini tidak boleh berlanjut lebih jauh.' pikirnya dalam hati.
"Seminggu yang lalu, yang pertama kali kupikirkan tentangmu adalah kamu itu mesum." gumam Arthur.
"Tidak sopan! Mengatakan langsung hal itu pada seorang lady!" protes France.
"Memang, tapi memang begitu adanya. Tapi setelah mendengar tentangmu dari anak-anak sekelas, aku berpikir kalau kamu adalah tipe Onee-san yang sangat mencintai adik-adiknya. Tidak kusangka kamu benar-benar punya adik."
"Kenapa Sensei tidak menyangka?"
"Habis mereka bilang kamu suka menyatakan dirimu sebagai onee-san, dan dipikiranku orang-orang yang seperti itu adalah seorang anak tunggal yang sangat menginginkan adik." jelas Arthur.
"Huumm... Bagaimana kalau seorang kakak yang merindukan adiknya, sehingga menyatakan semua orang itu adalah adiknya?" sangkalnya.
"... ... Kalau kamu beranggapan begitu..."
"Ya sudah, kita sudahi saja obrolan kelam ini. Ayo kesini Sensei! Pemandangannya indah sekali, lho!"
"... Tidak, aku lelah..."
Karena tidak dilayani oleh Arthur, France cemberut dan berjalan menghampiri Arthur kemudian duduk di sebelahnya. "Sensei, ayo kita tutup kencan kita." gumamnya.
"Tutup? Kau seolah ingin menutup kencan ini dengan sesuatu." ujar Arthur bercanda.
"Oui. Tentu saja dengan ini." France menyentuh dagu Arthur dan membuatnya menatap pada wajah gadis itu yang tengah lembut menatapnya.
"O... Oi... France kamu nggak benar-benar..." terkejut melihat iris sapphire gadis itu yang begitu dekat, Arthur sedikit terkejang.
"Aku serius, Sensei. Pejamkan matamu." lampu taman membuat mata birunya yang berkaca-kaca berkilauan.
Ia mendekatkan tubuhnya pada Arthur. Saat Arthur sadar bahwa ia dapat melihat pori-pori wajah France yang biasanya tidak bisa ia lihat, ia menjauhkan wajahnya dari gadis itu. Tapi pelariannya segera ditangkap lagi oleh France. Kali ini ia mencoba dengan mendorong pelan gadis itu dan menjauh darinya, tapi France langsung memeluk leher Arthur dan menariknya untuk mendekatinya.
"Kamu tidak bisa kabur, Sensei." desahnya dengan suaranya yang terseksi.
Saraf sensual Arthur terkejang melihat wajahnya. Ditambah lagi aroma cinnamon yang keluar dari mulut France, dan tangan France yang menyentuh dadanya. Ia seolah sudah terjerat oleh perangkap gadis itu. Ia tidak bergerak, gadis ini ahli, salah-salah bergerak ia bisa menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak boleh disentuh.
Masih sedikit meronta, Arthur mulai panik dengan aroma cinnamon yang semakin lama aromanya semakin tajam. Akal sehatnya seolah melayang, memaksa nalurinya untuk memejamkan mata dan membuka mulutnya. Perlahan ruang untuk pemasukan oksigennya menipis karena ia menahan napas.
"Ah..." hingga ia benar-benar pasrah setelah matanya mengering karena tertiup napas cinnamon.
RIIII—-NG RIIIIII—NG RIIIIII—NG
Proses mereka terhenti. Baik Arthur maupun France membeku akibat suara ponsel yang berasal dari tas France. Kemudian France menjauhkan wajahnya yang merah dari Arthur dan mengambil ponsel di tasnya dengan gemetaran.
Begitu France mengangkat telepon, Arthur langsung membalikkan wajahnya dan menghembuskan napas panjang, kemudian menutup bibirnya dengan tangannya. Ia masih bisa mencium aroma cinnamon tersebut, sehingga ia tidak bisa berhenti berdebar-debar membayangkan wajah France yang begitu dekat. Entah mau kecewa atau bersyukur. Perasaannya campur aduk.
"... Adikku... Bangun?"
Mendengar gumaman France, ingatan tentang kencan mereka hingga detik ini seolah lenyap.
To Be Continue
Review Comment :
Maruki Shitoichi : Makasih atas Review dan semangat buat si Alis! Dia sudah berjuang keras!
DC? Fandom apa? /ketahuangapernahjalanjalankefandomlain
Thanks for supporting, Maruki Shitoichi-san! \^o^/
Thanks for reading~
