Chapter 4! huaah... Sayang, sepertinya virus OOC sudah sampai sini... Jadi maaf kalau ada ke-OOC-an yang banyak di bagian ini!


Mereka sampai di istana, dan sayangnya mereka juga sampainya masih di kandang kuda. Mereka masuk lewat pintu belakang, yang sebenarnya merupakan hal buruk bagi mereka, karena pintu belakang juga merupakan jalan pintas ke ruang musik. Dan di ruang musik, sesuai namanya, pasti ada pianonya, kan?

"Mawar, jangan sampai kamu pergi tanpa pengawasan kita, ya." Kata Peri Senapan. "Baiklah." Kata Mawar. Saat mereka sedang berjalan ke arah ruangan raja dan ratu, Mawar mendengar suara misterius, berasal dari ruang musik. Dia tertarik, dan berbalik ke ruang musik tanpa disadari ketiga peri.

Suara tersebut sangat indah, dan belum pernah ia dengar sebelumnya. Saat ia tiba di ruang musik, ia melihat piano tersebut sedang dimainkan, tapi tak ada siapapun yang duduk di bangku piano itu. permainan piano berhenti, dan terdengar suara seorang laki-laki. "Kau mau memainkan benda ini, kan? Pegang saja…" "T-Tapi, jika aku pegang ini, katanya aku bisa mati." Kata Mawar. "Kamu itu terlalu khawatiran, git. Pegang saja, tak akan terjadi apa-apa padamu. Kau suka suaranya, kan?" Kata suara itu.

"Uhmmm… Iya, tapi…" Mawar masih ragu. "Pegang saja! Aku lihat kau punya bakat, kau pasti bisa memainkannya dengan cepat!" Bentak suara itu, yang frustasi karena Mawar tidak kunjung memegang pianonya. "B-Baiklah, dasar pemaksa…" Kata Mawar, dan dia pun duduk di bangku piano.

"Emmm… Kak Vash, kakak merasa ada yang hilang tidak?" Tanya Peri Moe. "Yang hilang itu Mawar." Jawab Peri Senapan. "TUNGGU. Jika Mawar hilang, berarti… KAWAN-KAWAN, CEPAT KE RUANG MUSIK!" Perintah Peri Senapan pada yang lainnya. Mereka pun berlari segera ke ruang musik.

Sesampainya mereka di ruang musik, mereka melihat Peri Alis yang tertawa terbahak-bahak, Mawar yang tertidur pulas, dan Peri Alis yang batuk-batuk setelah tertawa. "A-Arthur…" kata Peri Moe. "Uhuk-uhuk-HUAHAHAHA! Kutukan telah terlaksana! Gue pergi dulu ya! Yey yey yippie!" kata Peri Alis senang, dan dia menghilang.

Ketiga peri memindahkan Mawar ke kamar aslinya, di salah satu menara kerajaan. "Kita terlambat, saudara-saudara. Dia… akan terus tidur begini?" Tanya Peri Senapan. "Yup. Sekarang, tugas kita adalah mencari cinta sejatinya!" Jawab Peri Fujo. "Eh, jadi tujuanmu meringankan kutukannya adalah, agar kau bisa latihan jadi mak comblang?" Tanya Peri Senapan. "Ya… gitu deh~" Jawab Peri Fujo. Peri Senapan pun facepalm dan headbang pada saat yang sama.

Setelah Peri Senapan puas ber-headbang dan facepalm, Peri Moe berkata, "Kak, sebaiknya jangan sampai raja dan ratu tahu kutukannya terlaksana." "Benar, jika mereka tahu, pasti mereka sedih sekali." Kata Peri Senapan yang sendirinya juga hampir nangis *cengengjugadia*. "Mari kita tidurkan seluruh penghuni istana, dan tumbuhkan tanaman merambat yang tinggi jadi rakyat tak bisa masuk." Kata Peri Fujo.

Para peri pun bekerja, menidurkan seluruh istana dalam mimpi indah. lalu mereka menumbuhkan tanaman merambat yang lebat dan tinggi, para rakyat pun tak tahu apa yang terjadi. Mereka pulang, dan mencari tahu mantra yang tepat untuk mematahkan kutukannya. Meski dikatakan tak ada penangkalnya, mereka tetap nekat. "Kita lakukan ini untuk jaga-jaga apabila kita tak menemukan cinta sejatinya Rosalie~," Komentar Peri Fujo kepada Author dan Asisten Author yang menyamar menjadi kameramen dan reporternya. Duo Author pun kebingungan.

Sementara itu, saat ketiga peri sibuk menguji mantra… "Haduuuuh… Gimana sih, masa' gue yang ekstra awesome bisa nyasar gini~?" kata Pangeran Gilbert sambil mengendarai kudanya tak tentu arah. Dia melihat rumah tiga peri, dan dia pun memutuskan untuk mengetuk pintunya. Tok-tok-tok! "Permisi~ orang awesome datang~" Kata Gilbert dengan salamnya yang (tidak) elit. Peri Moe membukakan pintu. "Silahkan masuk, Tuan…?" "Gilbert. Gilbert si Awesome dari Prussia." Jawab Gilbert dengan pedenya.

"baik, Tuan Gilbert, saya panggil Gilbert saja boleh tidak?" Tanya Peri Moe. "Silahkan…" Kata Gilbert mengizinkan. "Anda ingin minum apa?" "Bir, tentunya yang awesome, ya~" Kata Gilbert dengan senangnya. "Baiklah." Kata Peri Moe dan dia segera pergi ke dapur.

Peri Moe melewati meja makan, tempat Peri Senapan dan Peri Fujo sedang berbincang. "Kak, bir dimana, kak?" Tanya Peri Moe. "Di belakang masih ada satu tong, memangnya ada apa? Kau mau minum?" Tanya Peri Senapan balik. "Ah, tidak. Ada seorang tamu, dari tampangnya kelihatannya dia seorang bangsawan atau sejenisnya, dan dia minta bir." Jawab Peri Moe.

Peri Senapan terkejut, di pikirannya… 'Peluang besar! Dia bisa jadi kandidat cinta sejatinya Rosalie!' Dia pun langsung pergi ke belakang, mengambil birnya satu tong sekalian, dan berlari ke ruang tamu.

"Silahkan, Tuan!" Kata Peri Senapan menyuguhkan satu tong bir, lengkap dengan gelasnya kepada Gilbert. "Terimakasih sudah membawakan aku yang awesome ini birnya, Tuan…?" "Vash, Vash Zwingli. Tapi aku lebih dikenal dengan sebutan Peri Senapan."

"Tunggu. Kau… peri?" Tanya Gilbert tidak percaya. "Secara teknisnya, ya. Aku, temanku, dan adikku tinggal disini, dan kami semua peri. Meski kami secara teknis adalah peri, kami tak memiliki sayap ataupun kerlipan, tapi kami punya barang ajaib." Jelas Peri Senapan.

Peri Fujo keluar dari dapur, dan melihat Gilbert bersama Peri Senapan dan Peri Moe. "Gilbert? Kamu disini? Eh, gue masih utang satu getokan wajan ama elu ya!" "Eh, tunggu dulu, nenek sihir…." Kata Gilbert. "Grrrrrhhhh…"Peri Fujo menahan marahnya.

"Hei, Vash, kau kenal tidak dengan Mawar? Gue denger dari penduduk dia tinggal di hutan. Eh, tunggu. Dia sendiri yang bilang beberapa waktu lalu." Tanya Gilbert. "Ehmmm… ya, dia memang tinggal disini waktu itu, tapi dia… Sebentar. Apa tujuanmu mencarinya?" Tanya Peri Senapan balik. "Ah, gue cuman minta tanding ulang. Waktu itu gue kewalahan banget buat ngalahin dia, ternyata dia bukan perempuan sembarangan. Dan sekalian gue juga mau bilang kalo gue salut aje…" Jawab Gilbert enteng.

"OH. JADI ELU YA YANG BIKIN DIA BABAK BELUR WAKTU ITU?" Bentak Peri Senapan. "Eh, tenang dulu dong, jadi orang yang awesome, yang sabar, men~" kata Gilbert. "GUE UDAH BERSUMPAH KALO GUE KETEMU ORANG YANG BIKIN MAWAR BABAK BELUR, BAKAL GUE DOR!" Kata Peri Senapan, mengambil senapan yang selalu di sebelahnya.

DOR DOR DOR! Dan, rumah jadi berantakan sekali lagi. Peri Moe sibuk membetulkan hal-hal yang rusak karena Peri Senapan dan Gilbert kejar-kejaran sambil diselingi beberapa tembakan dari Peri Senapan.

Setelah diomeli oleh Peri Moe, mereka kembali duduk di kursi ruang tamu. "Gilbert, kami… perlu bantuanmu." Kata Peri Fujo, yang ikut bergabung di ruang tamu. "Haha~ akhirnya lu ngakuin kalo gue itu awesome, kan? Seharusnya lu udah begitu dari dulu. Sebagai hukumannya, lu harus mau jadi har-" PONGGGG… Gilbert keburu digetok wajan sama Peri Fujo. "Utang gue udah lunas sekarang. Ini bukan soal elu awesome ato kagak, tapi menyangkut nyawanya si Mawar." Jelas Peri Fujo yang masih marah.

"Emang dia kenapa? Mati?" Tanya Gilbert. "Lu benci dia, gue tau. Tapi ya… masa lu seneng kalo dia mati?" Tanya Peri Senapan. "Emm… ya, gue bener-bener benci dia, gue… pengen dia mati kok!" Kata Gilbert. Peri Fujo menyela, "Gil, kau tahu kan satu hal? Yang dulu sering kukatakan padamu?" "Apa?" Tanya Gilbert bingung.

"Akan sulit untuk berbohong di depanku. Aku tahu kau menyukainya. Jujurlah." Kata Peri Fujo tiba-tiba. Peri Moe dan Peri Senapan kaget. "Eh? A-aku tidak suka dia kok! Aku sudah bilang aku benci dia!" Gilbert mengelak. "Gil, sekali lagi kau mengelak, aku yakin hatimu sakit sekarang." Kata Peri Fujo.

Kata-kata Peri Fujo membuat Gilbert berhenti. Sebenarnya, jauh sekali, sekitar 4.000 km di lubuk hatinya yang lebih dalam 1.000 km lagi, dia menyukainya. Dan… dia merasa pernah melihatnya sebelumnya, sebelum mereka bertemu pertama kali di hutan.

"Baiklah, baiklah, aku akan membantu…" Kata Gilbert akhirnya. Peri Fujo menyetel lagu Don't Stop Beli-piiiiiiip-, Peri Senapan dan Peri Moe berpelukan senang sambil loncat-loncat, dan Gilbert cengo melihat mereka.


Mengingat chapter-chapter sebelumnya... kurasa humor disini makin garing saja, ya? later in the next chapter~ (wow, berima!)