Naruto © Masashi Kishimoto
Your Nameless Ghost got nothing other than enjoyment for this! This ghost absolutely has nothing other than spirit. Don't sue!
Love, War, and Sacrifice © Your Nameless Ghost
:
:
What to expect: messy plot, alur campuran, beberapa percakapan kasar, sumpah serapah, blood, gore, sadisme, incest(?), kekerasan eksplisit dan implisit, lemon eksplisit and implisit, yuri, yaoi, nudity, typo(s), bad EYD (I'm willing to learn!), OOC-ness, (still) unbeta-ed.
Main pairing: SasuHina
Genre: Romance, Angst, Action, Crime ... General?
Warning: perlu kematangan pikiran, yang ngerasa belom matang silakan klik 'back', sesekali nyerempet MA. Slight gore and sex in this chapter.
:
:
Chapter 3
Kode
.
.
Hidan duduk bersandar di sebuah kursi kerja empuk di ruangan itu. Kakinya menginjak tubuh seseorang yang sesekali ia tendang. Lidah merah mudanya menjilat belati kecilnya yang berkilau ditimpa cahaya bulan yang menembus celah-celah korden di belakang kursi. Ujung belati menggores lidahnya, membuat adanya aliran darah kecil di belati perak itu. Tapi anggota Akatsuki itu tak peduli. Ia malah memasukkan lidahnya, menyesap darah asin itu.
Di depan deretan beberapa rak buku di salah satu sisi ruangan, Kakuzu mengutak-atik deretan buku-buku. Wajahnya nampak bosan. Satu per satu buku ia keluarkan kemudian dimasukkan kembali. Ketika ia melihat ada beberapa judul buku yang menarik baginya, ia memasukkan buku-buku itu ke dalam tas ransel yang digendongnya.
"Kakuzu, belum ketemu?"
Kakuzu hanya menggumam kecil menjawab pertanyaan Hidan.
"Dasar lambat. Aku melanjutkan ritualku saja."
Kakuzu memasukkan salah satu buku dan berkata, "Terserah."
Hidan mendengus kecil. Ia kemudian berdiri dan memainkan belatinya di lidahnya lagi. Setelah itu, ia berjalan menuju pintu. "Hei, kalian!" panggilnya kepada dua orang berpakaian hitam yang berdiri di sudut ruangan. "Tunggu di sini dan bantu Kakuzu mengangkut semuanya. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan!"
Setelah itu, sembari bersiul kecil, ia keluar dari ruangan itu, menuruni tangga menuju lantai satu yang cukup benderang. Suara tap-tap kakinya menggema di rumah besar yang hening itu.
"Dasar berisik," Kakuzu menggerutu kecil –namun tangannya masih aktif bergerak. Rekan Hidan itu tak habis pikir kenapa pemuja Dewa Jashin itu berjalan bersuara ketika ia bisa berjalan tanpa suara. "Hei, kalian, coba urus buku-buku di rak yang itu."
Ketiga orang itu pun bergegas, mengutak-atik deretan buku di rak itu, mengimitasi apa yang dilakukan oleh Kakuzu.
:
:
Sasuke melemparkan ponselnya ke dinding. Ia sangat marah, benar-benar marah. "Sial."
Pemuda itu berjalan mendekati lemari pendingin kecil di sudut ruangan, cahaya kuningnya menyinari botol-botol yang ada di dalamnya, ia mengambil tiga botol di antaranya. Tak lupa, ia mengambil sebuah gelas dari cabinet yang tersedia di atas lemari pendingin. Malam itu, ia akan melupakan segalanya, segala macam kesedihan yang diberikan Tuhan kepadanya. Melupakan kakak jahanam yang mengkhianati kelompoknya. Melupakan betapa rindu ia pada wanitanya. Melupakan bagaimana Akatsuki berhasil mengalahkannya. Sekali lagi.
Cairan bening dengan kadar alcohol tinggi itu sedikit demi sedikit berpindah ke dalam perutnya melalui tenggorokannya.
Segelas.
Dua gelas.
Sebotol.
Dua botol.
Menghabiskan alcohol dalam gelas yang dipegangnya, ia melemparkan gelas itu ke dinding, membuatnya pecah berkeping-keping. Ia mengambil satu botol lain, meneguk isinya dengan marah, terus meneguknya lagi dan lagi. Panas di tenggorokannya tak ia perdulikan. Ia menghabiskan isi botol itu sekaligus, kemudian membiarkan botol kosong itu menggelinding di lantai.
Tok. Tok.
"Sasuke?"
Sasuke melempar botol kosong di meja ke arah pintu yang diketuk.
"Aku masuk."
Seseorang memasuki kamarnya, membuat kamarnya tersinari cahaya lampu dari lorong kamarnya untuk beberapa saat. Ketika pintu ditutup, kamar itu berubah meremang kembali. Dalam keremangan kamarnya itu, ia hanya melihat siluet seorang perempuan yang sudah tidak asing lagi.
"Sasuke? Apa yang terjadi?" tanya perempuan itu, berjalan menghindari pecahan-pecahan botol yang tersebar di dekat pintu.
Sasuke mengerjapkan matanya, memfokuskan pandangannya pada perempuan itu. Ia tersenyum lebar, kemudian menghampiri perempuan yang hampir setengah jalan menuju dirinya dan memeluknya erat penuh kasih. Memeluk Hinata-nya.
"Kau kemana saja? Aku merindukanmu! Sangat merindukanmu!"
Hinata mendongak, menatap pimpinan Chidori itu dengan pandangan bertanya-tanya. "Sasuke?"
Sasuke menciumi rambutnya dengan penuh sayang.
"Kau mabuk, Sasuke."
"Tidak. Aku tidak mabuk, Hime."
"Kau…"
Sasuke mencium bibir Hinata dengan lembut, ciuman inosen yang kemudian memanas. Pagutan dengan lidah, liur yang bercampur, gigi yang sesekali saling berantuk, dan suara kecap ciuman yang menggema di dalam ruangan itu menambah suhu badan. Dua insan yang lama terpisah mencoba menyatu, di tengah aroma keras alcohol dan pecahan botol bening. Ruangan terasa berputar, bahkan ketika Sasuke membawanya ke atas kasur, meraba-raba wajah cantik itu, memastikan keberadaannya.
Tangan yang menggerayangi wajah Hinata turun ke badannya.
Di antara rasa rindu dan keputusasaan, Sasuke hanya ingin memastikan wanitanya memang berada di sisinya, seutuhnya. Dengan lemah lembut, ia menyibak lapisan baju demi baju yang menutupi tubuhnya, tubuh yang tak ia rasakan selama berbulan-bulan sejak kepergiannya. Sasuke memuja kulit lembut dan kenyal kekasihnya itu dengan berjuta rasa kasih dan sayang, memberinya kenikmatan yang memabukkan.
Seperti kembang api di kala perayaan, semuanya terasa manis. Dengan percikan api terakhir, Sasuke melepaskan segalanya. Erangan panas mereka teredam dua bibir yang menyatu tanpa sela.
"Terlalu lama, kau pergi terlalu lama." Bisik Sasuke lembut sebelum memeluknya erat. "Jangan pergi lagi."
:
:
"Aku tidak bisa menghubunginya."
Shikamaru menggeleng kecil lalu menginjak rokoknya. "Merepotkan!"
Ino mendengus kecil. "Meskipun merepotkan, kau akan tetap melakukannya, kan?"
"Kau tau bagaimana ketua. Sejak Hinata menghilang, dia berubah sepenuhnya." Shikamaru mengangguk kecil. "Ayo masuk sebelum polisi datang."
Di depan mereka, mayat-mayat bergelimpangan. Dan di beberapa titik, segitiga merah dengan potongan-potongan telinga, mata, dan tangan tertata rapi. Bau anyir memenuhi ruangan itu, ruangan yang diingat Ino merupakan ruangan mewah yang sebelumnya selalu dipenuhi suara tawa anak-anak kecil yang bermain di sana.
"Hidan." Sebut Ino sembari mengepalkan tangannya.
Shikamaru mengangguk. "Akatsuki sudah memulai langkahnya lagi."
Ino dan Shikamaru berjalan menuju lantai dua, melompati mayat-mayat manusia berseragam hitam yang bersimbah darah. Sampai di atas, menuju ruang kerja, yang pintunya terbuka lebar, mereka masuk dan menemukan serakan buku-buku dan seorang pria tua yang bertelungkup di atas dua orang anak kecil di samping meja kerja. Ada jejak-jejak debu berbentuk tapak sepatu di punggungnya.
"Kita benar-benar terlambat. Akatsuki mengunci pergerakan kita. Mereka benar-benar bukan manusia." Ujar Ino sambil memicingkan matanya melihat kondisi kakek yang ia tahu sangat menyayangi kedua cucunya itu.
Shikamaru berjongkok di samping pria tua itu. "Tidak benar-benar mengunci. Lihat."
Pemuda berkuncir itu menggeser tubuh kakek tua itu, Tazuna, agar tidak menimpa tubuh kedia cucunya. Ada goresan darah yang menghilang di balik tubuh salah satu cucunya. Memiringkan tubuh cucu laki-laki kakek tua itu, kedua Chidori itu melihat tulisan samar nyaris terhapus yang nampaknya ditulis dengan darah.
"U…S…O…P? Apa itu?"
Shikamaru mengernyitkan dahinya.
Suara sirine tiba-tiba terdengar di kejauhan. Ino dan Shikamaru saling pandang satu sama lain. Ino mengambil ponselnya kemudian memotret tulisan merah itu sementara Shikamaru menyangga badan cucu laki-laki Tazuna. Ketika selesai, pemuda itu menghapus tulisan itu dan keduanya bergegas meninggalkan ruangan itu.
Mereka berlari menuju mobil sedan hitam yang terparkir di halaman, memacu kendaraan dengan cepat, meninggalkan rumah mewah yang dipastikan menjadi tujuan mobil-mobil polisi yang berkelip-kelip biru merah dari kejauhan.
:
:
Sebelas orang duduk di tempatnya masing-masing. Dalam keremangan cahaya, cincin-cincin yang masing-masing orang kenakan nampak berpendar. Hidan, yang duduk sambil memainkan belatinya menatap ketua bertopeng mereka dalam diam. Keduanya saling berpandang selama beberapa saat sebelum ia mengalih pandangannya pada Kakuzu yang bersilang tangan di dada.
"Baiklah. Lanjutkan saja rencana kita selanjutnya." Kata Tobi selanjutnya sembari memutar kursinya.
"Tapi kami tidak menemukan apa yang kita inginkan." Sela Hidan.
Tobi tertawa kecil. "Siapa perduli? Chidori tidak akan bisa menghentikan kita."
Kesepuluh orang lainnya diam beberapa saat mencerna ucapan ketua mereka yang sedikit eksentrik itu. Beberapa orang mengangguk-anggukkan kepala mereka, menyetujui Tobi. Suara-suara afirmatif berdengung di ruangan itu, disuarakan oleh masing-masing pengguna cincin itu. "Ketua benar, tidak akan ada masalah berarti."
Kursi Tobi berhenti berputar. Kemudian ia menyatukan kedua tangannya, menyangga dagunya, dan menatap bawahannya itu satu-per-satu. "Laksanakan seperti rencana. Jika ada hal besar yang terjadi, segera laporkan, meskipun aku yakin semuanya baik-baik saja."
Tobi memberi jeda sebelum melanjutkan. "Jika tidak ada hal lain lagi, kita tutup…"
"Ketua, aku ingin menyampaikan keluhan." Sela Orochimaru sembari mengangkat tangannya. "Sasori melukai asistenku hingga berdarah." Ujarnya sembari menunjuk Sasori, ada seringai di bibirnya.
Sasori mengedikkan bahunya. "Sedikit luka tidak masalah. Orang yang tidak bisa menahan sedikit goresan tidak pantas berada di dalam Akatsuki."
Deidara bersiul. "Betul, un."
Tobi tertawa keras. "Kau dengar Sasori, Orochimaru. Aku yakin Kabuto tidak apa-apa. Dia nampak kuat, hmmm? Bagaimana jika ia sesekali membantu di lapangan, huh? Terlalu lama berkutat di dalam labmu bisa melemahkannya. Kau terlalu memanjakannya."
Orochimaru menyangga dagunya dan tersenyum sinis. "Aku tak tau, Ketua. Bisa-bisa asistenku itu menggantikan salah satu posisi kalian. Dia tidak pernah gagal dalam melaksanakan misi." Tambahnya, aksen s dalam perkataannya terdengar kental.
Hidan tertawa. "Kenapa tidak kita biarkan ia mencoba, Ketua?"
Tobi mengangguk kecil. "Konan, biarkan Kabuto mengambil alih bagianmu."
Satu-satunya wanita dalam deretan petinggi Akatsuki yang duduk di hadapan Kakuzu mengangguk kecil. "Apa masih ada hal lain lagi? Ada hal yang perlu aku lakukan sebentar lagi."
"Bagaimana?"
"Tidak ada dariku."
"Nah."
"Tidak."
"Tidak ada, un."
"Baiklah, kita tutup rapat kali ini. Laksanakan sesuai rencana." Kata sang ketua. Para petinggi Akatsuki itu berdiri satu per satu. Sebelum seorang pun keluar ruangan, Tobi melanjutkan. "Konan, urus Kabuto."
Konan menoleh sebentar lalu keluar ruangan mendahului lainnya.
:
:
"Itachi?"
Itachi masuk ke dalam ruangan kecil itu. "Hinata."
Hinata tersenyum kecil, senyuman yang membuat miris. Rambut panjangnya masai. Di tengah-tengah boneka-boneka beruang kecil membuatnya sedikit di luar biasa, nampak aneh. Kedua tangannya diborgol pada dipan, sedang kakinya dibiarkan bebas. Kemeja kebesarannya tidak terkancing dengan bedar, membuat belahan dadanya sedikit nampak.
Sulung Uchiha itu menutup pintu, bersandar pada dinding. "Kupikir kau tidur? Sudah agak lama sejak kita bertemu seperti ini. Kau selalu tertidur."
Gadis itu mengangguk. "Mereka berhenti memberiku bius."
"Sejak kapan?"
"Entahlah. Sudah sangat lama."
Itachi duduk di samping Hinata, menepuk-nepuk kepala kekasih adiknya itu. "Cepat atau lambat, mereka harus berhenti memberimu bius. Aku dengar dari Kakuzu harganya cukup mahal." Ujarnya kemudian mengancingkan kemeja gadis itu.
Hinata tertawa kecil. "Kakuzu masih belum berubah."
"Kau akan terkejut, bahkan selama bertahun-tahun ini, banyak di antara kita yang masih sama."
Kedua orang itu saling berpandang dalam diam, sebelum Hinata bertanya. "Lalu, siapakah Itachi yang sekarang?"
Itachi tak menjawab. Ia berdiri, lalu bertanya. "Kau lapar? Akan kuambilkan makanan."
"Itachi…"
Itachi meninggalkan Hinata sendirian, dalam posisi masih terborgol, dikelilingi boneka-boneka beruang.
:
:
Asuma Sarutobi turun dari mobilnya, memandangi bangunan mewah yang dipenuhi oleh bawahannya yang sibuk keluar masuk. Sedikit kerumunan orang berkumpul di sekitar rumah mewah berdarah itu, menyaksikan polisi-polisi yang berlalu-lalang bersama dengan petugas medis. Sebuah garis kuning polisi sudah dipasang untuk menghadang orang-orang tak berkepentingan.
Di salah satu sudut, salah seorang bawahannya, Raito, melayani beberapa wartawan yang berhasil mengendus kejadian berdarah itu.
Sang komandan memasuki bangunan itu, langsung dihampiri oleh seseorang. "Status?" Tanya pria paruh baya itu pada bawahannya itu.
"Tiga puluh lima orang tewas, dua di antaranya anak-anak. Mayoritas ditemukan di lantai satu. Delapan orang ditemukan di lantai dua, Tuan Tazuna dan kedua cucunya ditemukan di ruang kerja yang berantakan. Kami belum tahu modusnya, tapi kali ini sepertinya menandai aktivitas Shinigami."
"Oh?"
"Ada bekas ritual yang biasa dilakukannya di ruang tengah."
Bawahannya menggiring atasannya itu ke ruangan yang dimaksud. Benar saja, ada beberapa simbol yang menunjukkan aktivitas pembunuh professional itu. Aroma anyir di ruangan itu pekat menyerang hidungnya. Asuma berjongkok di samping salah satu symbol. "Apakah kalian sudah memindahkan semuanya?"
"Kami masih mengurusi lantai satu. Lantai dua, tempat ditemukannya Tuan Tazuna dan kedua cucunya masih dalam posisi sama."
"Bagus. Lanjutkan semuanya. Hubungi keluarga-keluarga korban. Aku akan memeriksa lantai atas." Perintahnya sembari beranjak menuju lantai dua.
"Komandan?" panggil bawahannya itu lagi, mencegahnya naik. "Ada satu hal lain. Salah seorang korban di lantai satu mengenakan seragam yang berbeda. Kami menduga ia salah satu kelompok Shinigami."
"Huh?"
:
:
Tok. Tok.
"Sasuke!"
Sasuke menggeram kecil. Sayup-sayup ia mendengar suara cempreng Naruto dan suara ketukan berulang, mengganggu tidurnya. Ia merasakan hangat kulit yang bertemu kulit, lalu tersenyum. Samar-samar ia mengingat bagaimana Hinata, dengan keajaiban yang diberikan Tuhan, kembali ke dalam pelukannya. Ia membelai puncak kepala gadis dalam pelukannya itu dan membuka matanya, tak sabar melihat sepasang manic lavender yang membuatnya jatuh cinta itu.
"Mmmmh, Sasuke…"
Sasuke membuka matanya lebar-lebar. Bukan suara gadisnya. Bukan suara Hinata. Sasuke mendorong orang yang ada di pelukannya dan duduk, menemukan jika yang sebelumnya ada di pelukannya itu memang bukan Hinata. "Kau?!"
Sakura menguap kecil. "Mmmmh…Sasuke, selamat pagi."
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Sakura berkedip. "Sasuke? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Kita…"
Tok. Tok.
"Demi Tuhan, Sasuke! Mau sampai kapan kau tidur?! Sasuke!"
Sakura duduk, membiarkan selimutnya jatuh ke pinggang, menampakkan bagian atas tubuhnya yang dipenuhi bercak merah dan biru hasil perbuatan Sasuke. Sasuke memicingkan matanya, menatap bercak-bercak itu dengan tatapan tidak percaya. Pemuda itu meremas lengan gadis itu. "Apa…?"
Sakura berjengit. "Kau bilang kau merindukanku."
Sasuke mengacak-acak helai rambut birunya, menggeram. "Tidak. Tidak. Keluar! Keluar dari sini!"
"Sasuke? Apa maksudmu?"
"Jika kau tidak mau keluar, maka aku yang keluar."
Tok. Tok.
"Sasuke! Cepat keluar! Sasuke! Demi Ramen, ada keadaan darurat saat ini. Sampai kapan kita akan menunda rapat? Sasuke! Arrrgh, terserah, aku akan mendobrak pintu…" Naruto memutar knop pintu kamar Sasuke. "Eh? Tidak terkunci? Terserahlah. Sasu…ke…?"
Sepatu Naruto menginjak pecahan botol di sekitar pintu. Sasuke dan Sakura bersamaan menatap Naruto, mata Sasuke penuh amarah, sementara mata Sakura nampak berkaca-kaca.
"Sakura? Apa yang…?" Bersamaan dengan itu, Naruto melihat bagian atas tubuh Sakura yang segera ditutupi gadis yang suka melakukan percobaan pada hewan itu. "Oh."
"Baiklah, jika kau tidak mau." Ujar Sasuke, menuruni tempat tidur dalam keadaan telanjang, tak peduli dengan dua audien di kamarnya itu. Ada bekas goresan di kulit punggungnya yang putih, juga bekas bercak merah di lehernya.
Tidak ada yang berkata-kata di ruangan itu.
Hanya Sakura yang menunduk sambil terisak.
Hanya Naruto yang berusaha mengalihkan perhatiannya dari kedua orang yang ia yakini melewatkan malam bersama. Hatinya terasa sedikit perih. Tatapan matanya tertumbuk pada foto Sasuke dan Hinata yang nampak bahagia, enam foto berbingkai menghiasi meja lampu di samping tempat tidur itu. Pemuda beriris biru itu menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
Sang ketua Chidori membuka lemari besarnya, mengambil baju dan mengenakannya dengan cepat. Ia melangkah menuju pintu, berhenti sebentar dan berujar dengan dingin. "Aku tak mau melihatmu di sini ketika aku kembali nanti. Naruto."
Naruto berbalik, mengikuti sahabatnya itu setelah mengirimkan satu tatapan maaf pada Sakura.
:
:
Kakashi melirik dari buku Icha-Icha Paradise-nya ketika pintu ruang rapat dibuka dengan kasar. Aroma alcohol menyergap masuk ke dalam ruangan, disusul oleh Sasuke dan Naruto. Pria bermasker itu bersiul kecil ketika ia melihat bercak di leher Sasuke. "Malam yang panas, Sasuke?"
Sasuke menghempas badannya pada kursi di ujung. "Bukan urusanmu."
Kakashi tertawa kecil, sementara Shikamaru mendengus kecil.
"Kita tinggal menunggu Sakura, kan?" tanya Ino.
Naruto duduk di kursi kosong di samping Ino. "Kita mulai saja. Sakura tidak bisa ikut rapat kali ini. Dia sudah mengabariku."
"Benarkah?" tanya Ino. "Aku tidak bisa menghubunginya dari tadi. Oh, aku ingat. Sasuke? Aku tidak bisa menghubungimu semalam."
Sasuke menoleh. "Ponselku hancur."
Lima orang di ruangan itu terdiam sambil menatap Sasuke.
"Apa?" tanya pemuda itu dengan sedikit sinis. Rasa kesalnya masih terbawa hingga ruang rapat itu.
Ino menggelengkan kepalanya. "Kau hanya melewatkan berita penting."
"Tazuna sudah mati di tangan Hidan." Ujar Shikamaru tiba-tiba, membuat semua orang di ruangan itu terkejut, minus Ino yang mengetahui hal itu. "Semua orang di rumahnya mati dan ada symbol yang biasa dibuatnya di sana. Sudah dapat dipastikan adalah ulah Akatsuki."
"Tapi ada sesuatu yang dituliskannya, semacam pesan kematian." Tambah Ino.
Perempuan muda itu mengeluarkan ponsel pintarnya dan membuka foto yang diambilnya. Ia memberikan ponselnya pada Naruto. Satu per satu Neji, Kakashi, dan Sasuke melihat foto itu, lalu mengembalikan ponsel itu pada empunya. "Ada di antara kalian yang merasa familiar dengan itu?" tanya Ino kemudian.
"Usop? Mungkinkah nama orang?" Naruto bertanya. "Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya."
"Nama tempat? US, United States? OP, Orde of Peachers?" Neji berpendapat dengan ragu. "Gereja St Dominic di Washington…mungkin? Akhir-akhir ini beritanya cukup meluas."
"Terlalu luas." Sasuke menyela. "Apa tidak ada hal lain yang bisa dijadikan petunjuk?"
"Merepotkan sekali."
Keenam orang itu terdiam dan berpikir. Neji meminjam ponsel Ino lagi. Keningnya berkerut banyak. "Tulisan ini…bukan USOP."
Naruto memandangi Neji. "Apa maksudmu Neji?"
"VSOP." Bisik pemuda berambut panjang itu.
"Itu sama tidak berartinya dengan usop." Gerutu Naruto.
Kakashi menepuk kening pemuda berambut kuning itu. "Ingat, Tuan Tazuna itu penggemar wine. VSOP, Very Special Old Pale."
"Kemungkinan besar, informasi yang ia punya disembunyikan di gudang winenya." Tambah Shikamaru. "Merepotkan."
Ino mendesah kecewa. "Kita harus menunggu hingga polisi pergi. Tuan Tazuna menyimpan wine-nya di ruang bawah tanah."
"Paling tidak, tidak ada yang tahu informasi ini selain kita. Aku yakin kalian sudah menghapus bukti ini di sana, kan, Ino, Shikamaru?"
Ino dan Shikamaru mengangguk bersamaan mengiyakan pertanyaan Sasuke itu. Shikamaru jelas tidak menyisakan tulisan bertinta darah itu dari bawah tubuh cucu Tazuna. Ino melihatnya. "Selama informasi ini tidak bocor, kita aman."
:
:
Asuma menghisap rokoknya sembari membaca laporan yang dibuat oleh anak buahnya tentang dua kejadian yang terjadi berurutan di hari yang berbeda. Terbakarnya gudang Konofood dan pembunuhan yang terjadi di rumah Tuan Tazuna, salah seorang konglomerat terkaya di Konoha. Komandan yang sudah bertahun-tahun menggeluti profesi polisi itu merasakan adanya sesuatu yang lebih kompleks.
[Kasus kebakaran Konofood
Waktu kejadian: sekitar pukul 07.20 tanggal DD bulan MM tahun YY
Lokasi: Kompleks Konofood II
Korban jiwa: 52 orang meninggal dunia, 13 orang luka parah, 20 orang luka ringan*
Penyebab: beberapa bom yang belum diketahui jenisnya
Terduga: Deidara, Baki, lainnya belum teridentifikasi
Saksi mata: 19 orang*
Saksi 1 menyebutkan adanya suara ledakan besar yang diikuti beberapa ledakan kecil sebelum api menjalar dari lima titik gudang yang berjauhan. Saksi 1 berada di pintu gerbang langsung berusaha menghubungi pemadam kebakaran, namun seluruh jaringan komunikasi tidak berfungsi. Orang-orang berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya sambil menunggu datangnya bantuan pemadam kebakaran. Namun api sulit dipadamkan karena terlanjur menyebar ke sebagian besar gudang, membakar sebagian pekerja yang bekerja di gedung-gedung di sekitar gudang.
Saksi 2 menyebutkan berpapasan dengan beberapa orang yang memasuki kompleks Konofood pada malam sebelumnya mengendarai truk kecil. Saksi 2 tidak menyelidiki lebih lanjut, karena ada seorang pekerja berseragam satpam Konofood yang menemani mereka. Satpam Konofood yang dimaksud…]
"Melelahkan."
Pria paruh baya itu memijit-mijit dahinya.
Ia menutup map laporan itu kemudian membuka map lainnya yang berisi laporan sementara hasil penyelidikan. Pria itu mengembus asap rokok yang membumbung tinggi. Mematikan rokoknya, ia membacanya dengan sungguh-sungguh.
"Konglomerat Konoha bersama orang-orang yang ada di rumahnya. Siapa sangka bodyguard sebanyak itu kalah…" gumamnya.
[Kasus pembunuhan Tazuna
Waktu kejadian: sekitar pukul 01.00 tanggal DD bulan MM tahun YY
Lokasi: Kompleks Perumahan Elit Bara Timur
Korban jiwa: 35 orang meninggal dunia, 1 luka parah*
Terduga: Hidan, lainnya belum teridentifikasi
Saksi mata: 4 orang*
Saksi 1 mendengar suara tembakan beruntun beberapa saat setelah tiga mobil jeep hitam memasuki halaman rumah korban. Saksi 1 segera menghubungi petugas keamanan setempat yang segera menyelidiki situasi. Saksi 1 melihat dari kejauhan ketika dua orang berpakaian hitam menembak dua orang petugas keamanan yang datang menyelidiki. Ketiga jeep keluar dari halaman rumah korban. Saksi 1 segera menghubungi polisi.
Saksi 2 melihat sebuah mobil sedan yang dikendarai dua orang memasuki halaman dan memasuki rumah. Keduanya keluar beberapa menit kemudian sebelum polisi mencapai lokasi. Saksi 2 tidak melihat plat nomor sedan itu…]
Tok. Tok.
"Masuk."
Choji memasuki ruangan komandannya diikuti seorang pria lainnya, Sai. Pria berawakan kontras dari Choji itu selalu tersenyum. Bertugas dalam kepolisian, seseorang harus bisa menampilkan muka datar untuk menutupi rahasia kepolisian. Asuma yakin senyuman palsu bawahan yang sudah berkerja cukup lama di bawah kepemimpinannya itu adalah salah satu caranya menampilkan muka datar. Sang komandan mengakui kemahirannya.
"Choji. Sai."
"Siap, komandan! Saya membawa laporan baru." Hormat Choji kemudian menyerahkan map baru.
Asuma segera memeriksa isi map itu. Ia tersenyum kecil. "Jadi, isi gudang itu memang tidak hanya barang-barang yang dilaporkan oleh Konofood? Ada pistol, senapan, dan mesiu?"
"Iya, Komandan. Seperti kecurigaan komandan, isi gudang bercampur dengan peralatan militer ringan. Meskipun diperkirakan, jumlah seluruhnya sudah berkurang dibandingkan jumlah originalnya."
Asuma mengangguk-angguk. "Bagus. Lanjutkan penyelidikan kalian dan selalu laporkan perkembangan-perkembangannya."
Choji mengangguk mengerti. "Siap, Komandan."
"Sai? Ada keperluan apa? Aku kira kau sedang mengambil cuti?"
"Masukkan saya di dalam kasus ini." Ujarnya langsung ke inti.
Choji menatap kawannya itu dengan mata yang melebar, merasakan sedikit kekaguman atas keberaniannya berbicara kasual seperti itu kepada Komandannya. Ia yang bahkan sudah kenal dengan komandan penggemar rokok bermerek Konboro itu sejak bertahun-tahun silam, masih merasa sedikit segan untuk berbicara secara kasual.
"Apa yang membuatmu ingin menangani kasus ini?"
"Hanya insting."
Choji menggeleng kecil tidak percaya. Teman kerjanya itu benar-benar sudah gila. Tidak mungkin Komandan akan mengizinkannya…
"Baiklah. Sai, kau dan Choji urus kedua kasus ini. Aku merasa ada hubungan erat di antara kedua kasus besar ini. Temukan titik temunya dan segera tangkap pelaku kejahatan yang menyebabkan hilangnya puluhan nyawa ini."
"Tapi…" Choji mencoba menyela bersamaan dengan Sai yang menghormat pada Komandannya itu.
Pada akhirnya, polisi tambun itu turut menghormat dan mengikuti Sai keluar ruangan meninggalkan Sang Komandan dengan tiga map berisi laporan dan sebuah punting rokok yang masih mengepulkan asap putih samar.
Ponsel di sudut meja bergetar dengan adanya satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.
[010 0 10 101 0 1 01 01 10 01 10 01 0 10 0]
Hanya deretan angka itu yang tertera di sana.
:
:
Hinata mengunyah makan malamnya pelan-pelan. Tangannya sudah tak terborgol pada dipan. Tapi kaki kanannya diikat dengan rantai pada kaki meja. Sasori berdiri di belakangnya, menyisir helaian rambut panjangnya. Sesekali, ia menyisir poni gadis itu. Hinata menahan air matanya, merasakan nostalgia kebersamaannya bersama pemuda berambut merah yang dicintainya seperti seorang kakak.
Gadis itu menyuapkan suapan terakhirnya. Kemudian meminum segelas air putih yang disediakan oleh pemuda itu.
"Kau sudah selesai?"
"…iya."
"Kau mau es krim? Aku rasa Itachi membeli beberapa kotak di kulkas. Rasa vanilla…kesukaanmu."
Tawaran Sasori itu terdengar normal.
"Ti…tidak."
"Benarkah?" Tanya Sasori untuk meyakinkan jawaban gadis yang rambutnya tak lelah ia sisiri itu. "Mmmmh, rambutmu perlu dipotong sedikit. Ujungnya sedikit pecah-pecah." Ujarnya sembari mencium helaian rambut gadis itu.
"Sasori…?"
"Mmmm." Gumam pemuda itu.
Hinata menelan ludah, menggeser nampan makannya. Ia kemudian menoleh ke belakang. Dengan takut-takut, ia bertanya pada pemuda itu. "Apakah…kapan…bagaimanakah kabar Akatsuki?"
'Bagaimanakah kabar Chidori?'
Itulah yang Sasori tau ingin ditanyakan oleh Hinata. Pemuda itu melepaskan rambut Hinata, kemudian meraih dagu gadis itu, membuat keduanya saling bertatap beberapa saat. "Kenapa kau menanyakan kabarnya? Kau sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan kelompok anjing itu!" geramnya.
"Sasori…" Bisik Hinata susah payah. Air matanya tumpah.
"Jangan tumpahkan air matamu untuk mereka. Mereka bukan siapa-siapa."
Hinata terisak kecil.
Sasori membebaskan dagu Hinata, kemudian menghapus jejak air mata yang mengalir dari manic lavender gadis itu. Ia benci mengakui, tapi melalui mata yang terlapis air mata itu, ia bisa melihat Hinatanya merapuh. Hal itu membuat hati Sasori terasa sakit dan kecewa. Ia mengecup kedua kelopak mata gadis itu penuh rasa sayang.
"Kau sudah selesai, kan? Aku akan memanggil Kisame untuk menggantikanku." Ujarnya sembari mengangkat nampan dan gelas.
"Kalian tidak berniat membiarkanku keluar dari ruangan ini, kan?" lirih Hinata. "Izinkan aku mengetahui kabar mereka. Aku mohon."
Sasori diam, tak menjawabnya. Ia hanya berjalan menuju pintu, ketika ia hendak keluar, kursi yang diduduki Hinata jatuh. Hinata, yang mulanya duduk dengan kaki terikat pada kaki meja, sudah bertelungkup di lantai. Tangannya meraih ujung jubah Akatsuki yang dikenakan oleh Sasori. Air matanya mengalir deras. "Sasori…"
Pemuda itu memejamkan matanya beberapa saat. "Peperangan sudah dimulai. Chidori tidak akan menang melawan Akatsuki."
Hinata terisak. Genggamannya pada jubah Sasori melemas. "Terima kasih sudah memberitauku, Sasori…"
Sasori melangkah keluar ruangan. Sebelum ia menutup pintu, ia berkata dengan dingin. "Kau tak akan melihatku selama beberapa waktu ke depan."
Pintu pun tertutup rapat, dengan Hinata yang masih bertelungkup di lantai, lengannya terlipat menyangga wajahnya. Ia menangis keras. Isakannya menggema di ruangan kecil itu.
:
:
TBC
.
.
Jangan bantai gue. Gue nggak bermaksud ngebashing Sakura. Dia bakal dapat kebahagiaan yang berlipat ganda pada akhirnya, meski bukan bareng Sasuke. Sekali lagi, meskipun kapal SasuHina karam dari canon, di sini kapal mereka nggak bakal tenggelam. Sail SasuHina all the way!
Fic ini masih nggak dibeta. Gue ucapin makasih banget buat semua yang masih percaya. Gue butuh itu. Makasih juga buat semua yang udah ngasih feedback. Gue terharu masih ada yang sempat baca fic ini meskipun udah lumayan lama sejak terakhir diupdate.
Pertengahan chapter depan, gue udah mulai ngebenerin cara nulis gue. Chapter yang udah lewat, sedikit demi sedikit bakal gue perbaikin. Lumayan ngebenerin 50 halaman bikin gue pengen ngejambak rambut seseorang.
-A whisper from Your Nameless Ghost-
