Miracle
.
.
.
Lumin slight Hanxing, gs for Minseok, Yixing. and chibi Sehun. Please! gk suka? Out don't be hater. Thank u ^^
.
.
Remake dari Lisa kleypas 'Christmas Eve at Friday Harbour'
.
.
.
Chapter 4
.
.
.
Meskipun ia bisa menempuh perjalanan selama sejam dengan menaiki pesawat ke Busan,tapi Minseok lebih suka menaiki feri daripada pesawat. Ia suka memandangi sekelompok burung laut yang sedang mencari makan dan pemandangan laut yang memukau. Karena adik perempuannya akan menjemputnya dipelabuhan seberang, ia tidak akan membutuhkan mobil selama tinggal bersama dengan keluarganya, maka Minseok menaiki feri tanpa membawa mobil, ia naik bis menuju ke pelabuhan ini.
Sambil membawa tas bepergiannya, Minseok menuju ke dek utama tempat para penumpang duduk. Ia berjalan ke sepanjang lajur kursi lebar yang berada tepat disamping jendela kaca yang besar. Kapal itu penuh dengan para penumpang, Minseok menemukan sepasang kursi yang saling berhadapan. Salah satunya sudah ditempati oleh seorang pria yang mengenakan celana jins dan kaus polo. Pria itu sedang fokus dengan koran yang sedang dibacanya, beberapa lembar tampak berserakan dikursi yang ada disampingnya.
"Permisi, apa kursi ini...,"ujar Minseok, suaranya memudar saat pria itu menoleh kearahnya.
Sebelum Minseok sempat melihat lain, pandangan matanya tertumbuk mata indah yang memukau. Ia merasakan gelenyar hangat disekujur tubuhnya, seolah jantungnya baru saja dikejutkan dengan kabel listrik.
Itu adalah Kim Luhan...yang berpakaian rapi, terlihat seksi dengan kemaskulinannya yang alami. Saat mengenali Minseok, Luhan menyingkirkan korannya dan berdiri, gerakan sopan yang justru membuat Minseok semakin gelisah. "Minseok. Kau ingin kemana?"
"KeBusan." Minseok mengutuk dirinya sendiri karena terdengar kehabisan napas. "Untuk mengunjungi keluargaku."
Luhan menunjuk ke kursi diseberangnya. "Duduklah."
"Oh, aku..." Minseok menggelengkan kepalanya dan menoleh ke sekeliling mereka. "Aku tidak mau menganggu privasimu."
"Tidak masalah."
"Terima kasih, tapi...aku tidak mau melakukan 'kebiasaab pesawat'-ku denganmu."
Alis gelap Luhan terangkat. "Kebiasaan pesawat?"
"Iya, saat aku duduk disamping orang asing dipesawat, terkadang aku menceritakan padanya...tidak peduli pria maupun wanita...hal-hal yang tidak akan pernah kuakui pada teman terdekatku sekalipun. Tapi aku tidak pernah menyesalinya, karena aku tidak akan pernah bertemu dengan orang itu lagi."
"Kita tidak sedang berada dipesawat."
"Tapi ini tetap saja alat transportasi."
Luhan berdiri disana sambil menatap Minseok, dengan kilau senang tergambar dimatanya. "Waktu tempuh feri ini tidak selama itu. Berapa banyak yang bisa kau ceritakan tentang dirimu sendiri?"
"Seluruh kisah hidupku."
Luhan berusaha keras menahan senyumannya, karena dengan cara itu ia bisa memancing Minseok untuk bercerita. "Kita coba saja dulu. Duduklah denganku, Minseok-ssi."
Itu lebih tepat dikatakan sebagai perintah daripada undangan. Tapi Minseok mendapati dirinya mengikuti perintah itu. Setelah meletakkan tas bepergiannya dilantai, ia duduk dikursi yang berseberangan dengan Luhan. Saat ia menegakkan tubuh, ia menyadari tatapan Luhan menyusurinya dengan cepat dan efisien. Minseok mengenakan celana jins ketat, kaus putih dan jaket hitam.
"Kau terlihat berbeda," kata Luhan.
"Pasti karena rambutlu." Tanpa sadar Minseok memyisiri rambutnya dengan jari, melalui helaiannya yang panjang dan lurus. "Aku meluruskannya setiap kali pergi mengunjungi keluargaku. Jika tidak, maka kakak-kakak lelakiku akan menjadikannya sebagai mainan, menarik-nariknya...di dalam keluargaku, hanya aku yang berambut ikal. Aku hanya bisa berdoa semoga hari ini tidak hujan. Segera setelah rambutku basah..." Minseok membuat gerakan yang menirukan efek ledakan.
"Aku menyukai keduanya." Pujian itu disampaikan dengan ketulusan yang menurut Minseok seribu kali lebih dahsyat daripada rayuan apapun.
"Terima kasih. Bagaimana kabar Sehun?"
"Masih bicara. Semakin lama semakin banyak yang dibicarakannya." Luhan terdiam. "Hari itu, aku tidak memiliki kesempatan untuk berterima kasih padamu. Apa yang telah kau lakukan untuk Sehun..."
"Oh, itu bukan apa-apa. Maksudku, aku tidak benar-benar melakukan sesuatu yang khusus."
"Itu sangat berarti untuk kami." Tatapan Luhan terkunci dengan tatapan Minseok. "Apa yang kau dan keluargamu lakukan pada akhir pekan ini?"
"Kami hanya akan berkumpul. Memasak, makan, minum...orang tuaku punya rumah tua yang besar di Busan, dan tiga cucu dari 2 kakak laki-laki ku yang sudah menikah. Kami empat bersaudara."
"Kau yang termuda," tebak Luhan.
"Kedua termuda. Aku punya satu adik perempuan." Minseok tertawa gugup. "Bagaimana kau bisa menebaknya?"
"Karena kau orang yang santai. Kau banyak tersenyum."
"Lalu, kau sendiri anak ke berapa? Yang tertua? Tengah-tengah?"
"Yang tertua."
Minseok mengamati Luhan secara terang-terangan. "Itu berarti kau suka membuat peraturan, kau bisa diandalkan...tapi terkadang kau juga sok serba tahu."
"Kriteria itu tepat pada hampir sepanjang waktu," aku Luhan dengan sopan.
Tawa terlontar dari mulut Minseok.
"Kenapa kau membuka toko mainan dipulau?" Tanya Luhan.
"Itu semacam dorongan hati. Dulu aku bekerja sebagai pengecat perabot anak-anak. Dari sanalah aku berkenalan dengan suamiku. Dia memiliki pabrik perabot setengah jadi, dimana aku biasa membeli sebagian barang-barangku...meja kecil yang seset dengan kursinya, rangka tempat tidur...tapi setelah kami menikah, aku berhenti sementara dari pekerjaanku, karena dia...karena penyakit kanker yang diderita olehnya. Dan saat aku mulai bekerja lagi, aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menyenangkan."
Saat Minseok melihat Luhan hendak mengajukan pertanyaan lain, kemungkinan tentang Jongdae, suaminya, ia menyela dengan lebih dulu bertanya, "apa pekerjaanmu?"
"Aku punya bisnis kopi."
"Bisnis rumahan, atau..."
"Aku punya dua toko sendiri, dengan fasilitas lengkap di Seoul dan Busan. Pemanggang kopi skala industri, yang bisa memproduksi sekitar empat puluh lima kilogram perjam. Sekitar setengah lusin jenis kopi yang kami jual dibawah label kami sendiri, tapi kami juga memasok kopi untuk gerai-gerai kopi ditoko lainnya. Dan ada sebuah kedai kopi yang baru kubuka diJeju, dekat dengan blok toko dimana toko mainanmu berada."
"Oh ya? Apa nama restorannya?"
"Happines."
"Oh, nama yang bagus. Kurasa aku pernah melewatinya kemarin, tapi aku tidak pernah mencicipi kopi disana."
"kenapa tidak?"
"Aku berhenti minum kopi beberapa tahun yang lalu, setelah membaca artikel yang menjelaskan pengaruh buruk kopi terhadap kesehatan."
"Sebenarnya kopi adalah tonik kesehatan," tegas Luhan dengan serius. "Penuh dengan antioksidan dan fitokimia. Keduanya bisa mengurangi resiko kanker jenis tertentu. Apa kau tahu kata 'kopi' berasal dari bahasa arab yang berarti 'wine dari biji'?"
"Aku tidak tahu itu," sahut Minseok sambil tersenyum. "Kau selalu menikmati kopimu sendiri, ya?"
"setiap pagi," jawab Luhan. "Aku akan berlari ke mesin pembuat kopiku seperti tentara yang bertemu lagi dengan kekasih lamanya setelah perang."
Minseok menyeringai, memikirkan suara Luhan yang merdu, pelan tapi dalam. "Kapan kau mulai minum kopi?"
"Saat Senior high school. Waktu aku harus belajar untuk ujian. Aku mencoba cangkir kopi pertamaku karena aku pikir bisa membantuku tetap terjaga."
"Apa yang paling kau suka dari kopi? Rasanya? Kafeinnya?"
"Aku suka memulai hariku dengan membaca koran dan menyesap kopi Jamaica Blue Mountain. Aku suka minum secangkir kopi lagi pada sore hari. Aku suka saat mengetahui bahwa dengan secangkir kopi, aku bisa menikmati rasa dari tempat-tempat yang mungkin tidak akan bisa dilihat secara langsung oleh sebagian besar dari kita. Kaki bukit Tanzania di Kilimanjaro...kepulauan Indonesia...Kolombia, Ethiopia, Brasil, Kamerun...Aku suka saat membayangkan seorang sopir truk juga bisa menikmati kopi yang sama dengan seorang jutawan. Tapi yang paling kusuka adalah ritualnya. Kopi bisa mengakrabkan teman, hidangan akhir yang sempurna setelah makan malam...dan sesekali kopi juga bisa memikat seorang wanita cantik untuk datang ke apartemenmu."
"Itu tidak ada hubungannya dengan kopi. Kau bahkan bisa memikat seorang wanita dengan segelas air mineral." Sejenak kemudian, mata Minseok membelalak, dan ia menutup mulutnya dengan tangan. "Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya," ujar Minseok melalui sela-sela jarinya, merasa malu sekaligus takjub.
Tatapan mereka bertemu selama beberapa saat yang menggetarkan. Kemudian Luhan tersenyum, dan Minseok merasa jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya.
Luhan menggelengkan kepalanya untuk menyatakan ia tidak keberatan dengan komentar Minseok. "Aku sudah mendapatkan peringatan dini." Luhan menunjuk ke sekelilingnya. "Alat transportasi membuatmu kehilangan diri."
"Iya." Terpesona oleh mata Luhan yang hangat, Minseok berusaha untuk melanjutkan percakapan mereka. "Apa yang sedang kita bicarakan sebelumnya...? Oh, kopi. Aku tidak pernah mencicipi kopi yang sama nikmatnya seperti keharuman aroma biji kopi yang dipanggang."
"Suatu hari nanti, aku akan membuatkanmu secangkir kopi ternikmat yang pernah kau cicipi. Setelahnya, kau pasti akan terus membuntutiku sambil memohon diberikan lagi air panas yang disaring melalui bubuk Robusta."
Saat Minseok tertawa, ia merasakan ada sesuatu yang hidup diudara sekitar mereka. Ketertarikan, Minseok menyadarinya dengan takjub. Minseok selalu berpikir ia telah kehilangan kemampuan untuk merasakannya, getaran sensual terhadap lawan jenis.
Feri yang mereka tumpangi mulai bergerak. Minseok bahkan tidak menyadari suara peluit tanda keberangkatan kapal tersebut. Suara mesin mengirimkan getaran kesepanjang badan kapal, bam petikan lembut yang menggetarkan kursi dan lantai, seteratur detakan jantung.
Minseok berpikir ia akan lebih tertarik memperhatikan pemandangan, tapi kali ini semua pemandangan indah itu kehilangan kekuatan untuk memikatnya. Minseok kembali menoleh pada Luhan yang duduk diseberangnya, sikap santai pria itu, dengan lutut yang terbuka dan lengannya yang direntangkan dibelakang kursi disebelahnya.
"Bagaimana kau akan menghabiskan akhir pekanmu?" Tanya Minseok.
"Dengan mengunjungi seorang teman."
"Wanita yang datang ke toko bersamamu?"
Ekspresi wajah Luhan berubah serius. "Iya. Yixing."
"Sepertinya dia wanita yang menyenangkan."
"Ya, memang." Minseok tahu seharusnya ia tidak bertanya lebih dari itu. Tapi rasa penasarannya tentang Luhan sudah melewati batas kebiasaannya selama ini. Saat ia mencoba untuk mengumpulkan ingatan tentang wanita yang menarik itu-Yixing-ia teringat bahwa wanita itu terlihat serasi dengan Luhan. "Apakah hubungan kalian berdua serius?"
Luhan memikirkan pertanyaan Minseok. "Aku tidak tahu."
"Sudah berapa lama kalian berpacaran?"
"Beberapa bulan." Luhan terdiam sejenak sebelum menambahkan, "sejak bulan januari."
"Kalau begitu, seharusnya kau sudah tahu apakah hubungan kalian serius atau tidak."
Luhan terlihat bingung, antara jengkel dan takjub. "Sebagian dari kita butuh waktu lebih lama daripada yang lain untuk mengetahui itu."
"Memangnya kenapa kau belum mengetahuinya?"
"Karena aku belum bisa mengatasi ketakutanku akan kekekalan."
"Kekekalan. Kau tidak perlu mengkhawatirkan selamanya...waktu berlalu lebih cepat daripada yang kau kira." Minseok terdiam, senyumannya berubah murung.
"Iya." Ada sesuatu dalam nada suara Luhan yang menyiratkan kepedihan. "Aku mengetahuinya saat aku kehilangan satu-satunya adik perempuanku."
Minseok memberikan tatapan bersimpati pada Luhan. "Kau dekat dengan adik perempuanmu?"
Ada kebisuan yang cukup lama. "Keluargaku tidak pernah memiliki apa yang oleh orang lain disebut sebagai ikatan kedekatan keluarga."
"Siapa yang memasakkan makanan untuk Sehun?" Tanya Minseok memecahkan keheningan diantara mereka.
"Jongin dan aku, tentu saja. Kau suka masak?"
"Aku suka memasak."
"Kita punya kesamaan."
"Kau juga suka masak?"
"Tidak, aku suka makan." Jawab Luhan, tertawa. "Jongin yang biasanya memasak untuk kami, aku hanya sesekali membuatnya. Sebenarnya kami berdua sangat payah dalam urusan memasak."
"Aku punya resep sederhana untuk seorang lajang yang mandiri. Aku akan memberitahumu cuma-cuma." Minseok tersenyum pada Luhan. "Dan kau bisa memasakkan itu untuk kekasihmu. Aku jamin dia akan terkesan."
"Masakkan untukku, aku ingin mencoba masakanmu."
"Yixing tidak akan menyukainya." Minseok tersenyum simpul.
"Memang. Yixing orang perfeksionis, dia akan mengukur kalori yang masuk ke tubuhnya."
"Maksudku, dia tidak akan suka jika aku memasakkan sesuatu untukmu."
Luhan tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap keluar jendela dengan ekspresi gelisah. Apakah Luhan sedang memikirkan Yixing? Tidak sabar ingin bertemu dengan wanita itu?
"Aku penasaran...bagaimana kalian berdua bisa mengambil keputusan untuk membesarkan Sehun bersama?"
"Aku sadar aku tidak bisa melakukannya seorang diri. Tapi tidak ada orang lain yang bisa diminta untuk merawat Sehun, dan aku tidak bisa menempatkan Sehun dipanti asuhan atau diadopsi oleh orang asing. Jadi aku memaksa Jongin untuk membantuku."
"Kau tidak menyesal dengan keputusanmu itu?"
"Aku tidak tahu harus berharap apa. Kami menjalaninya dari hari ke hari. Ada saat-saat yang menyenangkan ...seperti saat Sehun pertama kali menangkap ikan dipantai...bahkan cerita kegiatan biasa yang dilakukan Sehun terasa menyenangkan untuk didengarkan. Tapi ada momen lain, dimana saat kami berlibur ketaman hiburan dan melihat sebuah keluarga..." luhan ragu-ragu. "Aku bisa melihat diwajah Sehun. Pertanyaan seperti apa rasanya memiliki sebuah keluarga."
"Kau adalah keluarganya," ujar Minseok.
"Dua paman dan seorang anak?"
"Ya, itu juga keluarga."
Saat mereka terus bicara, entah bagaimana tercipta percakapan yang nyaman dan santai, layaknya dua orang teman yang sudah lama saling mengenal, keduanya membiarkan percakapan mereka mengalir bagaikan air.
Minseok mengatakan pada Luhan seperti apa rasanya hidup bersama dengan keluarga besar-dengan kompetisi yang tiada habisnya, mulai dari rebutan air panas, perhatian, dan privasi. Tapi sekalipun penuh pertengkaran dan persaingan, mereka tetap saling mencintai dan bahagia, serta saling menjaga satu sama lain. Pada saat Minseok duduk dikelas empat sekolah dasar, ia sudah tahu bagaimana memasak makanan untuk enam orang. Ia juga terbiasa menjalankan tugas harian dirumah, tanpa banyak mengeluh karena semua orang didalam keluarganya saling membantu. Satu-satunya hal yang sering kali membuatnya jengkel hanyalah barang-barang miliknya yang selalu hilang atau rusak. "Kau akan sampai pada tahap dimana kau tidak akan lagi mempermasalahkannya," jelas Minseok. "Jadi sejak kecil aku sudah mengembangkan keikhlasan terhadap semua mainanku. Aku hebat dalam mengikhlaskan segala hal."
Meskipun Luhan merasa tidak nyaman saat sampai pada pembahasan keluarga, tapi ia pun ikut berbagi sebagian pengakuan tentang keluarganya. Minseok menyimpulkan bahwa sebenarnya orang tua Luhan membawa perang pribadi ke dalam pernikahan, sementara anak-anak mereka yang harus menanggung akibatnya. Hari libur, acara ulang tahun, acara keluarga-semua itu menjadi panggung keegoisan mereka masing-masing.
"Kami berhenti merayakan Natal saat aku berusia empat belas tahun," kata Luhan pada Minseok.
Mata Minseok membelalak. "Kenapa?"
"Semua karena gelang yang dilihat eomma ku pada saat dia sedang pergi berjalan-jalan bersama Zitao. Gelang itu dipajang dijendela sebuah toko, dan mereka masuk ke toko agar eomma bisa mencobanya. Setelah itu, eomma mengatakan pada Zitao bahwa dia harus mendapatkan gelang tersebut. Mereka pun pulang ke rumah dengan bersemangat, dan sejak saat itu eomma selalu mengatakan betapa dia sangat menginginkan gelang itu sebagai hadiah Natal. Eomma juga mengatakannya pada appa, dan terus bertanya apakah appa sudah membelikannya, dan hal itu terus berlanjut sampai Natal. Tapi saat acara buka kado di hari Natal, tidak ada satupun kado yang berisi gelang."
"Memangnya apa yang dibelikan appa mu untuk eomma mu?" Tanya Minseok, terkejut sekaligus takjub.
"Aku tidak ingat. Tapi itu adalah peralatan rumah tangga. Hal itu membuat eomma sangat marah, sehingga dia bilang kami tidak akan lagi merayakan Natal bersama."
"Selamanya?"
"Selamanya. Aku pikir eomma hanya mencari-cari alasan, dan ternyata memang benar. Tapi kami semua merasa lega, karena berkurang satu alasan untuk menciptakan pertengkaran. Sejak saat itu, kami semua memiliki rencana sendiri-sendiri setiap natal, entah dengan berkunjung kerumah teman, menonton film di bioskop, atau apa saja." Saat melihat ekspresi wajah Minseok, Luhan merasa harus menambahkan, "Aku sama sekali tidak keberatan. Bagi kami, Natal tidak pernah bermakna seperti seharusnya, tapi inilah bagian cerita yang aneh: Zitao merasa sangat sedih dengan kejadian itu, sehingga dia memaksa aku, Junmyeon dan Jongin untuk mengumpulkan uang, agar kami bisa membelikan gelang itu untuk eomma kami pada hari ulang tahunnya. Kami semua bekerja paruh waktu dan menabung hingga uang kami cukup untuk membelinya, kemudian Zitao membungkusnya dengan rapi dan menghiasi bungkusnya dengan pita besar. Dan saat eomma membukanya, kami semua mengharapkan reaksi yang mengharukan...tangisan kebahagiaan, atau semacamnya. Tapi nyatanya...eomma seolah sama sekali tidak ingat dengan gelang itu. Dia hanya bilang, 'Bagus sekali,' dan 'Terima kasih', itu saja. Dan aku tidak ingat dia pernah memakainya dalam acara apapun."
"Karena inti masalahnya bukanlah gelang itu."
"Iya." Luhan menatap Minseok dengan tajam. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Sebagian besar pertengkaran pasangan suami-istri bukanlah tentang apa yang mereka ributkan...ada alasan yang lebih dalam kenapa mereka bertengkar."
"Bila aku bertengkar dengan seseorang, itu pasti karena hal yang kami ributkan. Aku selalu mengikuti aturan itu."
"Apa yang biasanya kau pertengkarkan dengan Yixing?"
"Kami tidak pernah bertengkar."
"Kalian tidak pernah bertengkar tentang apapun?"
"Apa itu buruk?"
"Tidak, tidak, sama sekali tidak."
"Kau pikir itu buruk."
"Yah... aku rasa itu tergantung pada alasannya. Apa tidak pernah ada konflik diantara kalian, karena kalian selalu sependapat tentang segala hal? Atau karena kalian berdua tidak pernah peduli dengan hubungan yang sedang kalian jalani?"
Luhan memikirkan hal itu. "Aku akan memancing pertengkaran dengan Yixing, segera setelah sampai disana,dan mencari tahu apa jawabannya."
"Kumohon, jangan lakukan itu," ujar Minseom sambil tertawa.
Rasanya mereka baru mengobrol selama sepuluh atau lima belas menit, tapi akhirnya Miseok menyadari bahwa orang-orang sudah mulai mengumpulkan barang-barang bawaan mereka, dan bersiap untuk turun. Kekecewaan menyerang Minseok saat ia tersadar bahwa waktu terasa terlalu cepat berlalu.
Ia merasa dirinya keluar dari sesuatu yang enggan ditinggal pergi. Dan dalam hati ia mengakui bahwa perjalanannya kali ini berlangsung dengan lebih menyenangkan daripada yang pernah dilakukannya selama berbulan-bulan kemarin.
Sambil berdiri, Luhan menatap Minseok dengan senyuman kecewa. "Hei..." nada suara Luhan yang lembut mengirimkan sensasi menggelitik yang menyenangkan disepanjang bagian belakang leher Minseok. "Kenapa tidak naik kereta bersamaku? Kita sama-sama ke Busan kan?"
"Adikku menjemputku disini."
"Oh."
"Apa kau akan naik feri lagi pada perjalanan pulang besok?"
"Mungkin," hanya itu jawaban Minseok atas pertanyaan Luhan.
"Kau akan naik feri yang berangkat jam berapa?"
"Aku masih belum tahu."
Luhan mengangguk, membiarkan masalah itu berlalu.
Saat Luhan pergi, Minseok masih merasakan sensasi yang menggelisahkan, yang nyaris mendekati rasa mendamba. Ia harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa Luhan sudah menjadi milik orang lain. Dan ia sendiri pun tidak tertarik dengan hubungan percintaan. Bukan saja ia tidak percaya bahwa ketertarikannya terhadap Luhan merupakan sesuatu yang serius, tapi ia juga belum siap untuk menanggung resiko yang muncul karenanya.
Ia tidak akan pernah siap menanggungnya.
Sebagian resiko hanya sanggup kau tanggung sekali seumur hidup.
.
.
.
TBC
.
.
.
Maaf ya lama :3 sibuk nih ceritanya.
Thanks reviewnya lagi-lagi maaf blom bisa bales satu-satu.
Please review lagi, karena pas baca review bangkit niat nulis next chapternya.
See u next chap ^^
