Inferno

Inspired by Divina Commedia: Inferno the masterpiece of Dante Alighieri

The story itself from the idea of author, moonsea18

All of the character here owned by Riichiro Inagaki and Yusuke Murata


Chapter 4: Venus Flytrap

Ada sebuah pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang dan situasi inilah yang Mamori alami saat ini. Ia saat ini berada disebuah cafe sembari menunggu Yamato dan tidak sengaja bertemu dengan pemuda yang tempo hari sempat ia tolong di lorong kota. Ia tentu saja bingung karena satu-satunya meja yang kosong hanya meja yang di duduki oleh Hiruma. Hari ini cafe terlihat begitu ramai karena Florence resmi memasuki liburan musim panas dan liburan akhir semester. Maka tak heran pusat kota penuh dengan anak muda yang entah berjalan-jalan atau sekedar berkencan dengan pacarnya.

"Silahkan duduk, aku kebetulan kesini hanya sekedar menunggu teman." Tawar Hiruma, ia juga tidak enak melihat seorang gadis berdiri menatapnya dengan tatapan memelas karena semua tempat duduk sudah penuh.

Mamori yang merasa canggung hanya mengangguk dan kemudian duduk, ia hanya duduk diam sembari menatap langit-langit, meja dan sepatunya. Handphonenya dalam keadaan mati karena ia lupa mengisi baterai handphonenya, sehingga ia tidak bisa bermain dengan smartphonenya untuk menghilangkan rasa canggungnya. Sementara itu Hiruma sibuk memainkan handphonenya dan sesekali melirik kearah Mamori, ia berharap Yamato cepat datang sehingga ia bisa kabur dari tempat ini.

"Anu, aku Anezaki Mamori." Akhirnya Mamori bersuara dan mengenalkan dirinya kepada Hiruma. Ia terlihat tidak betah dengan suasana super canggung dan mata pengunjung cafe yang terus melirik mereka.

"Hiruma. Hiruma Youichi." Balas Hiruma yang kemudian menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Mamori dan Mamori langsung menyambut tangan kekar nan ramping itu.

"Kau sudah pesan minuman ?" Tanya Mamori basa-basi, karena ia ingin mengurangi kecanggungan antara dirinya dan Hiruma. Andai handphonenya tidak mati dan dia membawa power bank mungkin saat ini ia tidak perlu berbicara dengan Hiruma dan memilih memainkan smartphone miliknya.

Hiruma membalas dengan mengangkat cangkir minumannya, sementara matanya sibuk melirik smartphone miliknya. Terkesan tidak sopan, tapi Hiruma tidak berani menatap Mamori entah mengapa. Pikirannya selalu kalut setiap kali melihat Mamori entah karena memang ia yang tidak berani macam-macam dengan Mamori karena reputasi keluarganya atau karena itu adalah Mamori, gadis malaikat yang menolongnya tempo hari itu. Saat ini hal yang paling tepat adalah menghindari tatapan mata gadis berambut auburn itu dan menatap layar handphonenya.

Kesunyian kembali menghampiri mereka, Hiruma yang asyik memandang layar smartphone miliknya dan Mamori yang sibuk membaca menu dan membolak-balikan menu. Mereka sama sekali tidak berbicara, tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka, seolah-olah mulut mereka tersegel untuk mengatakan sesuatu. Kesunyian yang terus berlarut-larut bahkan sampai pesananan Mamori datang, semua mata menatap kedua pasangan itu seolah-olah seperti mereka adalah pasangan yang sedang bertengkar. Tak lama berselang, Hiruma mengalihkan pandangannya keluar dan didapatinya Yamato dengan setengah berlari memasuki cafe yang penuh itu. Ada perasaan lega terpancar di wajah pemuda itu yaitu keluar dari kecanggungan yang begitu menyiksa.

"Anezaki ? Hiruma ? Kalian kok bisa duduk barengan ?" Tanya pemuda bersurai hitam acak itu, ia terlihat kebingungan. Tertangkap jelas raut wajah bingung dari wajah pemuda itu.

"Kursinya cuma tinggal satu yang kosong, lagipula masa aku mau membiarkan seorang gadis berdiri sendirian." Jawab Hiruma sembari memasukan handphonenya ke tote bag miliknya itu.

"Kalian kenal satu sama lain ?" Tanya Mamori bingung dan Hiruma juga akhirnya tersadar kalau Yamato juga mengenal Mamori, mungkin karena terlalu lega keluar dari kecanggungan yang begitu menyiksa. Ia tidak begitu memperhatikan Yamato yang memanggil nama Mamori dan langsung fokus ke pertanyaan yang di ajukan Yamato.

"Sena pernah ceritakan soal kakak temannya yang kuliah di jurusan sastra ? Nah, Hiruma inilah orang nya." Jawab Yamato yang kemudian duduk dan memecah kecanggungan antara Mamori dan Hiruma, kepribadiannya yang terlalu easy going membuat Hiruma sedikit lega.

Mamori hanya mengangguk paham, akhirnya ia bertemu dengan teman Yamato yang kuliah di jurusan sastra dan seni lukis itu. Ia tidak menyangka dibalik penampilan Hiruma yang super cuek itu ternyata ia adalah seorang jenius. Berkuliah di satu jurusan saja sudah melelahkan apalagi dua jurusan sekaligus, pasti sulit. Ia hanya memandang Hiruma kagum, karena tidak banyak orang yang mengambil kuliah dengan dua jurusan.

"Berhubung kalian berdua sudah bertemu, ada yang harus aku lakukan dan aku butuh pendapat kalian."Yamato akhirnya membuka percakapan sembari memandang kedua orang yang menatapnya dengan tatapan bingung.

"Sebelum itu, kita ke stasiun dulu." Lanjut Yamato yang akhirnya menyeret Hiruma dan Mamori keluar dari cafe dan menuju ke arah mobilnya. Hiruma dan Mamori hanya bisa pasrah, sejujurnya Mamori ingin sekali membatasi dirinya dan Yamato dengan benteng super tinggi. Ia agak risih dan juga enggan berlama-lama dengan pemuda yang sebenarnya juga adalah sepupu jauhnya ini. Pertama karena masalah perjodohan dan yang kedua ia tahu Yamato menuruti perjodohan ini karena ia tipe yang menurut apa yang dikatakan orang tuanya dan Mamori sama sekali tidak butuh penjilat lainnya untuk dijadikan pacar ataupun pasangan hidup.

.

.

Sena sudah mengitari area yang sama kurang lebih tiga kali, sesudah melakukan pindahan bersama Togano dan juga Juumonji. Ia langsung menyeret kedua temannya itu dan langsung pergi kesebuah distrik yang terletak di sekitar perbatasan kota. Area yang ia jelajahi sebanyak tiga kali ini terlihat sepi dan suram, tidak ada tanda-tanda kehidupan dan yang jelas debu nampak menempel disetiap bangunan sehingga menambah kesan kumuh di area ini. Juumonji hanya bisa terengah-engah dan kakinya sudah tidak mampu lagi berjalan mengikuti kaki Sena yang sudah terlatih itu. Togano di lain sisi dia sudah tertinggal jauh dan tidak ada yang tahu dia berada dimana.

"Kurasa aku akan mati kalau mengikutimu lebih lama lagi." Erang Juumonji sambil terduduk dijalanan yang sepi dan lengang itu, ia tidak peduli jika ia tertabrak kendaraan. Kakinya sudah menyerah, paru-parunya berteriak minta ia berhenti melanjutkan perjalanannya dan sendi-sendinya meronta minta istirahat.

Sena memandang Juumonji dan akhirnya duduk sebentar dijalanan, ia juga tidak tega melihat Juumonji yang terengah-engah dan Togano yang keberadaannya entah dimana itu membuat Sena sedikit panik, namun dari kejauhan nampak Togano setengah merangkak dan menuju kearah Sena dan Juumonji yang tengah duduk di jalanan.

"Seharusnya tempatnya ada di sekitar sini." Terangnya yakin sambil terduduk dijalanan.

"Mungkin benar tempatnya disekitar sini. Tapi, kurasa area ini sudah dikosongkan sejak lama. Jadi, kurasa agak percuma mencari sekarang." Jelas Juumonji sembari menatap sekitarnya yang kosong melompong tidak ada apa-apanya itu.

"Kira-kira apa yang terjadi dengan tempat ini ?"

.

.

Mamori tidak menyangka orang seperti Yamato menyukai musik yang bisa dibilang cukup hardcore. Mobil yang sudah dua kali Mamori naiki ini selalu menjadi tempat yang tidak terduga, tempo hari ia melihat berbagai macam berkas di kursi belakang dan sekarang berkas itu entah hilang kemana. Tempo hari juga ketika ia menjemput Sena, ia disuguhi dengan bau pengharum ruangan yang beraroma jeruk serta keadaan mobil yang rapi. Kali ini ia mendapati bahwa suasana dimobil ini berubah menjadi tempat headbanger. Ia tidak mengerti dengan tabiat Yamato, apakah pemuda itu mengidap bipolar atau kelakuannya memang sudah seperti itu. Sejujurnya juga ia tidak mau peduli soal hal itu.

Berbeda dari Mamori, Hiruma nampak cukup terbiasa dengan kelakuan bunglon Yamato itu. Ia sudah terbiasa disapa musik yang kadang kerasnya luar biasa, bau apek dan juga kertas dimana-mana. Kadang kala, ia juga disapa oleh pengharum ruangan dan juga keadaan mobil yang rapi serta musik yang menenangkan jiwa. Ia sudah terbiasa melihat fase seperti itu di mobil milik Yamato ini. Bahkan kamar anak itupun tidak jauh berbeda dengan mobilnya.

"Seharusnya kau pakai merk yang satunya. Pengharumnya jauh lebih enak wanginya ketimbang ini." Seru Hiruma sembari mengecilkan suara dari musik yang bergaung keras.

"Taka yang menggantinya tempo hari, jadi aku tidak tahu." Balas Yamato yang berkonsentrasi pada jalanan yang padat.

"Taka ? Bukannya dia sekarang sedang sibuk di Amerika ?" Tanya Hiruma penasaran, ia penasaran kapan Taka Honjo yang jadwalnya sibuk itu bisa bersenang-senang

"Timnya kemarin menang, jadi mereka dapat jatah libur ke Florence." Jawab Yamato ia kali ini mengklakson barisan pengendara sepeda motor yang sedang konvoi.

Mamori yang tidak tahu arah pembicaraan kedua orang itu hanya terdiam dan memandang keluar jendela, ia sungguh tidak peduli dengan kedua orang yang tengah berbincang-bincang itu. Yang ia pedulikan saat ini adalah dirinya dan hidupnya. Terdengar egois, namun memang itulah kenyataannya.

"Oh ya, di dashboard mobilku ada undangan untuk pertunjukan opera nanti di Uffizi. Itu buat kau, Agon, Musashi dan Lauren." Lanjut Yamato yang masih berkonsentrasi dengan jalanan yang ada didepannya.

"Ah, kau lupa kampus kita sudah di undang. Kebetulan tugas akhirku berkaitan dengan acara itu." Balas Hiruma, ia masih sibuk memperhatikan layar smartphone miliknya itu, sesekali matanya melirik kearah Mamori yang sedang memperhatikan jalanan.

"Anezaki dan aku yang menjadi penanggung jawab acara. Kau akan menikmati operanya, pegang saja kata-kataku." Ujar Yamato sombong dan Mamori yang mendengar namanya dibawa-bawa hanya dapat tersenyum dengan terpaksa.

"Kau dan Anezaki ? Kalian berdua punya hubungan apa ?" Tanya Hiruma penasaran, ia penasaran sejujurnya darimana Yamato mengenal Mamori, ia terdengar seperti kekasih yang cemburu karena kekasihnya mengenal sahabatnya. Hiruma menepis pemikiran itu dan menunggu jawaban dari Yamato.

"Perjodohan." Jawab Yamato singkat, namun jawaban singkat itu cukup membuat Hiruma terdiam, apa yang ia harapkan ? Mana mungkin gadis berkelas Anezaki mau dengannya.

.

.

Musashi menatap jam dinding dan menghitung mundur jam yang berdetak itu, itu adalah kebiasaannya yang sungguh aneh namun ia lakukan saat ia berpikir. Seperti saat ini, kepalanya sakit memikirkan sesuatu dan membuatnya melakukan kebiasaannya itu. Agon yang tengah duduk di ruang tengah, nampak memperhatikan Musashi yang tengah menatap jam dinding itu, pasti ia memikirkan si bodoh itu lagi.

"Kau memikirkan si bodoh itu lagi ya ?" Tanya Agon, ia yang tahu bahwa Musashi sanagt overprotektif terhadap tuan mudanya itu. Mungkin dulunya Musashi adalah pengasuh Hiruma di kehidupan sebelumnya.

"Dia itu bodoh sekali, sampai-samapi menggali kuburannya sendiri dengan berjalan bersama Anezaki." Jawab Musashi kesal, ia kesal harus mengurus Hiruma yang suka mencari perkara dengan sendirinya.

Agon yang mendengar hal itu hanya dapat menyemburkan jus jeruk yang tengah disesapnya, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar dan kali ini tidak hanya Musashi yang merasakan kepalnya berdenyut, tetapi Agon juga merasakannya kepaanya berdenyut dengan hebat karena memikirkan sahabatnya yang suka sekali cari gara-gara dan dengan suka rela mengantarkan dirinya menuju ke kuburannya sendiri.

"Ha! Si bodoh itu, kalau begini terus aku yang habis di marahi Padre."

.

.

Sena tidak mengerti dengan keadaan distrik yang sekarang ia kunjungi, dengan keadaannya yang strategik bukankah seharusnya distrik ini ramai. Apalagi tempat ini dipenuhi toko, apa yang kira-kira terjadi ? Begitu batinnya. Ia sepertinya menyerah, sudah tidak ada harapan lagi mencari gadis itu. Ia sudah mengitari tempat ini berulang kali, tidak ada makhluk hidup yang berkeliaran di distrik ini. Bahkan Juumonji dan Togano sudah menyerah dan tergelatak tidak berdaya di jalan. Tempat ini benar-benar seperti kota mati,

"Kau mencari seseorang, Max ?"

Sena, Juumonji dan Togano memandang satu sama lainnya, setidaknya masih ada harapan dan harapan itu baru saja datang berkunjung mendatangi mereka yang tengah menunggu dalam keputusasaan. Mereka pun menoleh dan mereka mendapati seseorang yang menyerupai monyet berdiri sambil memakan pisang, Sena hanya bisa speechless melihat pemandangan yang baru saja ia lihat ini. Namun, tidak ada waktu untuk itu dan dia segera menanyakan pertanyaan yang sedari tadi ingin ia tanyakan pada pemuda itu.

"Ah, apa kau kenal dengan Taki-san ?"

"Taki ? Maksud kalian si Taki bersaudara, Max ? Ikuti aku!"

Sudah sekitar sepuluh menit Sena, Juumonji dan juga Togano mengikuti pemuda misterius itu. Mereka nampak menembus gang-gang kecil diantara bangunan usang itu, tidak ada satupun di antara mereka yang bersuara karena keadaan yang cukup canggung. Hingga akhirnya mereka tiba disebuah tempat yang ternyata adalah sebuah taman yang sudah terbengkalai. Namun, di taman itu Sena, Juumonji dan Togano menyaksikan ratusan rumah dari kardus yang memenuhi taman. Mereka sama sekali tidak mengerti dengan pemandangan yang mereka saksikan, berusaha memahami semua ini Sena memberanikan dirinya untuk bertanya.

"Ano, ini tempat apa ?"

"Shelter,Max. Shelter bagi orang-orang yang kehilangan rumah mereka akibat ketamakan seseorang."

"Maksudmu ?"

"Kau akan tahu nanti. Mari kuantar ke tempat Taki,Max."

.

.

Ada hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seperti kebetulan. Mamori menyangkal dengan tegas apa yang namanya kebetulan. Seperti saat ini kebetulan ia bertemu Hiruma yang ternyata adalah orang yang di tolongnya tempo hari dan kebetulan juga adalah teman Yamato. Dan sekarang mereka tengah dikereta menuju Milan. Tepat sekali, Milan yang itu. Milan yang punya dua klub sepak bola, Milan yang juga merupakan salah satu kota fashion di Italia. Milan yang jarak tempuhnya kalau naik mobil dari Florence bisa sampai tiga jam. Untungnya kereta yang mereka naiki itu adalah kereta express jadi jarak tempuh ke Milan hanya sekitar satu jam. Yamato yang tengah ke toilet itu meninggalkan mereka dalam keadaan canggung.

"Anak itu bladdernya mungkin penuh cairan ke toilet saja hampir setengah jam." Keluh Hiruma sambil menatap handphonenya.

Yamato yang baru saja kembali sembari membawa makanan, hanya menatap kesal Hiruma, "Iya bladder ku penuh dengan cairan, ketika keluar jadi makanan. Nih makananmu."

Mamori hanya terdiam melihat kedua sahabat itu saling menghina dan bertengkar. Ia tidak mengerti dengan persahabatan antar anak laki-laki dan sama sekali tidak mau memahami itu semua,

"Anezaki, maaf ya aku membuatmu canggung." Terang Yamato sembari menyerahkan makanan milik Mamori

"Haha. Tidak masalah kok Yamato-kun." Ujar Mamori berbohong, ia berbohong kalau di tinggalkan Yamato bukan sebuah masalah yang besar. Ia benci rasa canggung ini, rasanya benar-benar membuatnya ingin muntah.

"Kalau kau tinggalkan tunanganmu itu, nanti bisa kuambil loh." Canda Hiruma atau sejujurnya ia setengah bercanda. Bagaimanapun juga Hiruma "menyukai" gadis berambut auburn itu yang juga merupakan tunangan dari sahabatnya sendiri.

"Ambil saja." Balas Yamato cuek, kemudian dia hanya tersenyum dan mengacungkan tanda peace kearah Mamori. Tanda bahwa ucapannya tadi hanya bercanda, namun baik Hiruma maupun Mamori mengetahui bahwa ucapan itu bukan candaan semata, Mamori yang selama ini mengira Yamato merupakan penjilat karena mau menuruti perjodohan ini. Nyatanya ia melihat sisi lain pemuda berambut acak itu, ia melihat sisi dimana Yamato sama sepertinya.

Menarik! Aku jadi penasaran denganmu, Yamato Takeru!

.

.

Suzuna Taki, gadis berambut biru gelap itu selalu pergi ke Basicilia of Santa Croce ketika ia butuh ketenangan. Ia bukan anak yang religius, tetapi keadaan gereja selau menenangkan jiwanya. Sementara itu Musashi yang baru saja selesai berbincang dengan Father Adriano, melihat gadis berambut biru duduk dengan tenang dan gadis itu menginatkannya akan seseorang,

"Gadis itu adalah korban ketamakan serta rasa iri hati dari manusia."

Musashi menoleh, didapatinya Father Adriano yang tengah menghampirinya, sepertinya dia ingin mengantar Musashi sampai kehalaman gereja. Sementara itu, Musashi kembali mengalihkan pandangannya kearah gadis itu. Ia menyadari gadis itu mengingatkannya akan Hiruma dan karena hal itulah terbesit dipikirannya untuk melindungi gadis itu. Namun pada akhirnya pikiran itu ia tepis, ia terdengar seperti orang bodoh yang melakukan sesuatu karena suatu hal di masa lalu.

"Aku penasaran siapa yang menjadikan gadis itu korban dari ketamakan dan rasa iri hati mereka itu."

"Anezaki Mamori."

.

.

"Rasakan itu nenek sihir!"

Mamori sekarang tengah berdiri dan badannya penuh dengan bau telur yang menyengat, dilempari telur oleh seseorang yang ia tidak tahu siapa adalah sebuah kejadian bodoh dan memalukan yang terjadi kepadanya. Semua itu bermula ketika ia, Yamato dan Hiruma akhirnya tiba di Milan. Ternyata Yamato ingin memimta pendapat Hiruma dan Mamori soal baju yang akan ia beli, sekalian juga refreshing katanya. Sudah lama juga ia tidak berbelanja, kegiatan ini sekalian menjadi ajang untuk mencuci matanya. Ia sadar bahwa beberapa pasang mata memperhatikannya dan berbisik, "Bukankah itu Anezaki ?" Mamori sendiri juga tidak terlalu peduli, karena ia sadar sekali bahwa ia melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan hampir kesemua orang. Terlebih lagi, ia dulu pernah bersekolah di Milan selama setahun.

Kemudian ia mendengar seseorang meneriaki namanya dan entah apa yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat pelaku yang merupakan seorang gadis itu sudah pergi dan Mamori sudah berlumuran telur. Hiruma yang tidak mengerti dengan situasi yang terjadi dengan begitu cepatnya langsung meminjamkan jaketnya pada Mamori, menutupi gadis itu agar tidak terlihat memalukan didepan publik. Sementara itu Yamato yang memperhatikan sedari awal hanya dapat tersenyum simpul, ia yang paham betul siapa Anezaki Mamori itu tidak menyangka sahabatnya itu terjebak masuk kedalam perangkap nona muda Anezaki itu.

"Kau tidak terluka kan, Anezaki ?" Tanya Hiruma panik, tentu saja ia panik baru kali ini ia melihat ada orangyang di lempari telur dihadapan publik. Kejadian ini pasti memalukan bagi Mamori

"Aku baik-baik saja. Terima kasih, Hiruma-san." Jawab Mamori halus, sejujurnya ia merasakan harga dirinya terluka karena perlakuan yang ia dapat dari seseorang yang ia tidak kenal sama sekali itu.

"Tidak usah kau dengarkan perkataan mereka. Anggap saja angin lalu." Lanjut Hiruma, ia nampak tersenyum ramah. Mamori merasakan wajahnya memanas melihat senyum bak malaikat itu dan langsung bergegas pergi, ia tidak mau tenggelam pada pesona Hiruma yang bagai malaikat itu.

.

.

"Sayang sekali, Max. Taki bersaudara sedang pergi berbelanja."

Sena hanya menghela napasnya pasrah, lagi-lagi ia tidak bertemu dengan gadis yang selama ini ia cari. Namun, setidaknya ia tahu gadis itu baik-baik saja atau mungkin agak baik-baik saja. Ia sejujurnya penasaran apa yang terjadi dengan gadis itu dan juga dengan tempat ini, otaknya mengatakan kalau orang-oramg ini adalah penghuni distrik yang tak berpenghuni itu. Tapi, bagaimana mereka bisa berakhir di tempat seperti ini ?" Semua pertanyaan itu terbesit diotaknya dan terus berputar tanpa henti, ia tidak mengerti dengan semua hal yang ia lihat ini.

"Apa mereka korban penggusuran ?" Terka Juumonji, ia akhirnya bersuara. Bagaimanapun agak tidak lazim jika melihat pemuda berambut dirty blonde itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun ketika melihat pemandangan menyedihkan ini.

"Ha. Kalau korban penggusuran kami tidak akan bertahan disini,Max!" Jelas pemuda monyet itu sembari memakan pisangnya, ingin sekali Togano memukul pemuda itu karena bersikap sok keren.

"Awalnya juga tempat ini adalah tempat yang menyenangkan, Max. Kalau saja kami tidak masuk kedalam jebakan manis itu." Lanjut pemuda itu kemudian nampak wajahnya bersusah payah menahan air matanya yang hampir jatuh itu.

"Apapun yang terjadi jangan percaya dengan keluarga Anezaki, Max! Terlebih lagi nona muda Anezaki Mamori!"

.

.

Yamato dan Sena pernah membaca di buku biologi, bahwa Venus Flytrap adalah salah satu tumbuhan yang sangat berbahaya bagi serangga. Bagi lebah ataupun serangga, Venus Flytrap akan mengeluarkan bau yang mereka sukai agar serangga tersebut mendekat, setelah itu tumbuhan ini akan memakan mangsanya tanpa ampun. Bagi mereka berdua, wanita berambut auburn itu adalah Venus Flytrap yang mengeluarkan berbagai macam perangkap agar mereka terjerat. Namun, jujur Sena mungkin sudah terperangkap seperti serangga. Ia bahkan bingung apakah ia harus membenci atau bersikap biasa saja dengan orang yang ia angap kakaknya itu. Berbeda dengan Sena, Yamato paham betul bahwa gadis itu seperti Venus Flaytrap dan akan elalu begitu. Walaupun ia tidak mengatakannya dengan keras atau tindakannya selalu berlainan dengan pikirannya, ia selalu tahu gadis itu tidak bisa dipercaya 100%. Sejujurnya sudah ada orang yang masuk terlebih dahulu kedalam perangkap nona muda itu dan orang itu adalah Hiruma Youichi


Hello~

Selamat menunaikan ibadah puasa ya, bagi teman-teman semua yang mejalankannya. As promised, saya update fanfic ini lagi setelah sebulan yang llu update.

Btw, author ga akan menelantarkan fanfic ini ya. Jadi fanfic ini ga bakal hiatus atau discontinued. Walaupun fanfic ini lama-lama mungkin sudah terlihat out of track tapi author tetap bakal terus update.

Sesuai janji kemaren juga chapter 4 bakalan mulai konflik, walaupun konflik nya kecil dan agak gak keliatan sih tapi sejujurnya author mau bikin flashback yang jadi pemicu konfliknya di chapter ini cuma keknya flashbacknya di chapter depan aja deh. /ditabok masa/

Sekian, ya cuap-cuap author yang tidak jelas ini. Terima kasih buat yang sudah baca, me-review, mem-follow, serta mem-favoritkan fanfic gaje ini.

See you soon~