Judul: Blue Heart
Cast: Jimin, Yoongi (Suga) dan lainnya
Genre: Romance, Hurt
Btw, saya bukan army dan ini pertama kali juga bikin cerita dengan pair JiminSuga, kalau ada kesalahan penulisan nama dan tempat saya mohon maaf. Jika ada kemiripan jalan cerita juga saya mohon maaf karena itu sama sekali ga disengaja.
Enjoy!
Chapter 4
.
Niat ingin memberikan waktu berdua bagi Chanyeol dan Baekhyun itu memang benar, tapi keinginannya untuk makan ramyeon juga tidak salah. Yoongi sudah berniat makan banyak malam ini karena besok adalah jadwalnya praktek.
Jadi disinilah ia sekarang, duduk seorang diri ditempat yang disediakan minimarket, berhadapan dengan dinding kaca hingga dirinya masih dapat melihat gedung apartemen tempat tinggalnya di seberang jalan. Semangkuk ramyeon hanya tinggal menunggu hangat untuk disantap, tak lupa satu cup matcha latte panas disebelah mangkuk ramyeonnya.
Sembari menunggu hangat, Yoongi memikirkan akan tidur di sauna saja malam ini dan pulang pagi-pagi sekali.
Yah, itu ide yang bagus.
Setelah dirasa ramyeonya sudah tidak terlalu panas, Yoongi memisahkan sumpitnya dan mulai menjepit mie-nya, meniupnya sejenak lalu memasukannya dalam mulut. Ia menyeruput makanan khas asia itu sampai benar-benar habis tanpa menggigitnya lalu mengunyahnya dengan mulut mengembung.
Ah, sedapnya. Batin Yoongi.
Suapan kedua pun sama sedapnya sampai ketika seseorang mengetuk kaca dihadapannya dan Yoongi langsung tersedak mie-nya sendiri saat melihat wajah orang tersebut.
Park Jimin. ─Dan senyumnya yang memukau─
Yoongi masih tersedak, Jimin memperlihatkan raut cemas lalu buru-buru memasuki minimarket dan menghampiri Yoongi yang tengah menutup mulut sambil terbatuk-batuk. Jimin tanpa ragu menepuk-nepuk punggung Yoongi berharap kemalangannya segera tuntas.
"Kau baik-baik saja?" yang ditanya hanya mengangguk, tangannya berusaha menggapai matcha latte dan Jimin yang menyadarinya langsung melepaskan tutup cup kemudian menyerahkannya pada Yoongi.
Yoongi pun meminumnya sampai tandas. Nanti dia ingin membeli satu cup lagi untuk dinikmati pelan-pelan.
"Aku baik-baik saja, kau mengejutkanku."
Jimin menduduki kursi kosong disebelah Yoongi "Sorry, saat melihat sosokmu aku langsung saja mendekat."
"Lalu kenapa kau bisa ada disini? Oh, aku tahu, kau kebetulan lewat daerah sini 'kan?" tanya Yoongi setelah mendorong sedikit mangkuk ramyeon-nya, ia sudah tidak bernafsu makan ramyeon lagi sekarang.
"Tidak." Jimin menggeleng "Chanyeol-hyung yang memintaku datang, lebih tepatnya memintaku untuk menemanimu karena dia bilang kau tidak akan pulang malam ini."
Yoongi mengangguk paham, pasti Baekhyun telah memahami rencananya "Seharusnya kau tidak perlu sampai menyanggupinya, Jimin-ah. Lagipula ini tidak ada hubungannya denganmu, yang ada aku malah merepotkanmu jadinya."
Ucapan Yoongi membuat Jimin terdiam, mulutnya sedikit terbuka tanpa suara membenarkan ucapan dokter muda disebelahnya. Memang ini tidak ada hubungan dengannya, lalu kenapa dia mau saja disuruh Chanyeol datang menemani Yoongi? Kenapa tanpa pikir panjang ia langsung mengambil kunci mobilnya dan melesat ke daerah tempat tinggal Baekhyun dan Yoongi?
Kenapa juga...
Ah, sudahlah. Jimin malas bertanya-tanya akan hal yang sudah jelas. Tentu saja ia bersedia datang karena orang yang akan ia temui adalah Yoongi. Min Yoongi.
"Ah...karena...karena Chanyeol-hyung meyakinkanku kalau Baekhyun sangat kepikiran mengenai dirimu yang berada diluar rumah malam-malam. Lagipula jika aku menemanimu, Baekhyun akan bisa menikmati waktunya dengan tenang bersama Chanyeol, bukan?"
Kembali Yoongi mengangguk paham "Benar juga katamu."
Sementara pemuda lainnya hanya berdehem singkat, menyembunyikan rasa gugupnya dan bersyukur karena ternyata lidahnya cukup pandai berdalih. Jimin bertopang dagu dengan tumpuan siku-nya diatas meja, memandang jalan raya dihadapannya sepanjang yang dapat ia lihat. Jalanan tidak sepi, tapi tidak bisa dibilang ramai juga karena cukup lengang dan tidak sepadat saat siang.
"Lalu setelah ini kau berencana tidur dimana? Hotel? Rumah teman?"
Yoongi membawa tubuhnya diposisi yang sama dengan Jimin, tapi setelah mendengar pertanyaan Jimin, ia melayangkan lirikan jahil bersama senyum dibibir tipisnya.
"...hotel?" entah mengapa suara Yoongi membuat Jimin merasa waktu bagai terhenti.
Dua pasang mata saling berbenturan tanpa kata yang terucap. Jimin menahan kelopak matanya agar tidak bergerak dan membiarkan dirinya terperosok dalam pesona netra bening Yoongi yang baru ia sadari keindahannya melebihi mutiara hitam. Ia tak peduli seberapa bodoh tampangnya saat ini, suara Yoongi saat menyebut kata 'hotel?' masih menggema ditelinganya bagaikan radio usang...dan senyum dibibir tipis itu, ingin sekali Jimin mencurinya dan menyimpannya seorang diri agar tak ada orang lain yang dapat melihat senyum itu.
"Hmph!"
Jimin akhirnya tersadar saat mendengar suara tawa yang ditahan dari bibir pemuda semanis gula disebelahnya.
"Hmph...ahahaha!" Yoongi memperdengarkan suara tawa yang membuat Jimin menatapnya bingung, bingung layaknya orang yang baru tersadar dari mimpi "Aku hanya bercanda, kenapa wajahmu seperti itu, Jimin-ah! Ahaha!"
Hanya suara batuk kecil-lah yang terdengar dari mulut Jimin saat ia tersadar kalau dirinya baru saja terjebak oleh kejahilan Yoongi. Memang, percuma saja berusaha terlihat keren meski sebenarnya ia sedang salah tingkah.
"Aish, sudahlah, berhenti tertawa." Jimin mengibaskan tangannya tepat didepan wajah Yoongi "Jadi sekarang katakan, dimana kau akan menginap?"
Yoongi yang sebenarnya masih ingin tertawa berusaha menahan diri, ia menarik nafas pendek sebelum mengeluarkan suara "Sauna."
"...sauna?"
"Ung! Sauna. Kau pernah ke sauna?"
Nampak berpikir, Jimin mengerutkan kening "Pernah...tapi bagaimana kita bisa menginap di sauna?"
Yoongi meninggalkan kursinya dan tersenyum penuh arti pada pria disebelahnya "Kalau begitu ayo ikut aku."
.
.
.
Dan disinilah Jimin berada. Ditempat yang baru pertama kali ia datangi, Yoongi bilang ini sauna khas Korea tapi saat ia bilang tidak pernah tahu atau mendengarnya, dokter muda itu hanya memutar kedua bola matanya malas dan mendesah sambil berkata 'Dasar orang kaya.'
Dia orang Korea Selatan asli dan baru tahu kalau tempat ini disebut jjimjilbang, ia pikir sauna seperti yang di salon-salon itu.
"Ayo masuk, Jimin-ah. Aku traktir." Yoongi melewati pintu kaca dan Jimin bergegas mengikutinya, ia dapat mendengar Yoongi bicara pada respsionis mengenai pembayaran untuk dua orang.
Tak lama kemudian sang dokter muda menghampiri Jimin dengan dua set perlengkapan sauna seperti sepasang kaus dan celana, handuk serta gelang konsumen. Satu set nya ia serahkan pada Jimin.
"Ayo berganti pakaian."
Dikarenakan benar-benar tidak tahu menahu mengenai jjimjilbang, Jimin hanya mengikuti Yoongi kemana pun pemuda itu melangkah. Setelah memasukan sepatu ke dalam loker khusus, keduanya menuju ruang ganti untuk menukar pakaian dan menyimpannya di sana.
Jimin sedikit lega karena ternyata ruang ganti yang meskipun khusus pria, memiliki satu lagi bilik tambahan di dalamnya, mungkin diperuntukan bagi konsumen yang tidak ingin menanggalkan pakaian didepan konsumen lain meski sesama laki-laki. Dan yang membuat Jimin lebih bersyukur lagi adalah karena Yoongi memilih memasuki bilik tersebut, sejujurnya ia sedikit tidak rela kalau tubuh Yoongi dilihat laki-laki lain.
"Wah, kau cocok juga memakai pakaian sauna." Puji Yoongi melihat Jimin menggunakan hanya kaus biru langit dan celana biru dongker yang merupakan seragam atau pakaian khusus di sauna ini.
Tanpa Yoongi tahu, sebenarnya bukan hanya Yoongi yang memperhatikan Jimin melainkan juga sebaliknya. Jimin mengamati pemuda dihadapannya tersebut dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia tahu kalau Yoongi itu manis, imut seperti perempuan ─ups, apakah ia akan marah jika mendengar ini?─ dan bibirnya semerah delima. Namun yang membuat Jimin semakin terpaku adalah kulit pemuda itu...selama ini Yoongi selalu memakai pakaian medis yang tertutup, dan Jimin tak menyangka jika apa yang berada dibaliknya benar-benar indah.
Kulit Yoongi putih, benar-benar putih seperti snow white, princess snow white.
Dan kakiknya...oh, astaga. Apakah itu kaki seorang laki-laki? Begitu putih, mulus dan langsing.
"Jimin-ah." Suara sang putri salju mengalihkan perhatian Jimin dari kaki...kaki Yoongi yang putih dan mul─ sudahlah, ia menemukan kalau pemuda itu tengah berjalan mendekatinya lalu mengambil handuk dari tangannya "Kenapa ini tidak dipakai, hm?"
Nafas Jimin tertahan saat Yoongi memakaikan handuk tersebut dikepalanya, membentuk buntalan dikedua sisi seperti tanduk domba. Ah, ia baru sadar kalau dikepala Yoongi telah tersemat handuk semacam itu.
"Kau mau makan dulu atau mencoba beberapa fasilitas dulu?"
Jimin tersenyum "Terserah kau saja."
"Baiklah, kalau begitu ayo kita beli minum dan telur dulu saja."
Keduanya menuju konter makanan dan membeli satu mangkuk telur kukus dan dua botol sikhye, minuman khas jjimjilbang yang baru pertama kali Jimin cicipi. Rasanya sedikit asam, meski begitu ia cukup menyukainya...biar bagaimana pun Jimin tetap orang Korea, bukan?
Mereka memutuskan untuk duduk di lantai, Jimin memperhatikan sekeliling, ia baru tahu kalau ternyata pria dan wanita bebas disatukan kecuali tempat treatment yang membutuhkan ruang privasi seperti spa atau pemandian air panas. Karena beberapa fasilitas memiliki sistem prabayar maka dana fasilitasnya pun tidak termasuk dalam dana yang dibayarkan saat konsumen pertama kali membayar di resepsionis. Selain itu lantai tempat ini terasa hangat dan nampaknya cukup nyaman bila kita tidur tepat diatasnya.
"Ini untukmu Jimin-ah." Jimin menoleh pada Yoongi yang tengah mengarahkan sebutir telur kukus padanya. Telur yang telah dikupas bersih dan siap di santap.
"Terima kasih."
Jimin memakan telur tersebut.
Tapi mata Yoongi membulat dan kedua pipinya terasa panas.
Jimin memang memakan telurnya, langsung dari tangan Yoongi, ia tidak mengambilnya lebih dulu tapi langsung melahap telurnya hingga seolah-olah dokter muda itu tengah menyuapinya.
Senyum terlukis begitu saja di wajah rupawan Jimin, ia menikmati bagaimana rona merah mulai meresap dikedua pipi Yoongi, perlahan dan sangat manis...seperti madu.
"Da-dasar, makanlah sendiri." Yoongi buru-buru meletakan setengah telur sisa Jimin tadi kembali dalam mangkuk. Sedangkan untuknya sendiri ia mengupas satu telur lainnya.
Setelah itu keduanya terlarut dalam perbincangan ringan. Mengenai hobi atau film yang di sukai, Yoongi juga bercerita kalau makan malamnya hari ini adalah masakan buatan Chanyeol.
"Aku pun lumayan bisa memasak, kalau kau ingin tahu."
Yoongi membulatkan matanya mendengar ucapan Jimin "Benarkah?"
"Hn." Jimin mengangguk "Lain kali kau harus makan malam dirumahku dan aku akan memasak untukkmu."
Beberapa detik Yoongi terdiam, matanya berkedip dan terlihat lucu karena bulu mata lentiknya. Ia berusaha memikirkan ulang kata-kata Jimin...apakah pemuda tampan itu baru saja menyebut 'rumahku' ?
"Y-ya...?" Yoongi masih tidak yakin.
Jimin tertawa kecil melihat ekspresi Yoongi yang menurutnya lucu. Kenapa Yoongi bisa selucu ini, Tuhan. "Makan malam dirumahku lain kali. Kau mau 'kan?"
Oh tidak, pemuda itu sudah menyebut kata 'rumahku' sebanyak dua kali.
Dan entah apa yang membuat Yoongi mengangguk begitu saja...memberikan jawaban positif atas ajakan Jimin.
.
.
.
Tempat sauna masih cukup ramai pagi ini, beberapa orang yang memang menginap sejak semalam mulai berbenah diri untuk memulai aktivitas awal hari. Pegawai yang berjaga malam pun mulai digantikan oleh pegawai lain yang mendapat giliran jaga pagi, menyiapkan masakan baru dan meracik minuman tambahan.
Namun, masih ada beberapa orang yang belum terjaga dari tidurnya. Mungkin lantai sauna yang hangat terlalu nyaman untuk ditinggalkan.
Contohnya...
"Hei, hei. Bukankah itu Direktur Park dan Dokter Min?"
Dua orang wanita yang hendak menuju ruang ganti, berhenti tepat di depan dua sosok anak adam yang masih terbuai dalam mimpi, dalam posisi duduk bersandar pada dinding. Satu yang berkulit lebih putih nampak menjatuhkan kepala di bahu pemuda lainnya, sementara pemuda lainnya itu tertidur dengan posisi kepala miring hingga bersentuhan dengan kepala pemuda yang berkulit lebih putih.
"Astaga, mereka manis sekali!" salah satu wanita memekik tertahan, ia mengeluarkan ponselnya dan memotret dua orang itu dari segala arah.
Wanita lainnya pun tak kalah girang "Kyaa! Aku minta fotonya nanti, pokoknya aku minta!"
Tak lama kemudian salah satu petugas sauna memutuskan untuk menghampiri dua wanita tersebut karena mendengar mereka terus-terusan memekik girang. Niat awalnya untuk menegur mereka karena dianggap mengganggu konsumen lain, namun melihat hal apa sesungguhnya yang membuat keduanya ribut...petugas tersebut memutuskan untuk mengeluarkan kamera polaroid-nya dan mengambil beberapa gambar untuk nanti menempelkannya di papan kesan.
.
.
.
Jimin meninggalkan loker sepatu dengan penampilan yang sama seperti kemarin malam, ia sudah siap meninggalkan tempat sauna dan hanya tinggal menunggu Yoongi yang nampaknya membutuhkan waktu lebih lama diruang ganti. Ia memutuskan untuk mendekati meja resepsionis, lebih tepatnya ingin melihat papan kesan dan saran yang ditempel sebelah kanan resepsionis, Jimin ingin mengetahui kesan orang lain mengenai jjimjilbang sekaligus ingin tahu lebih jauh mengenai tempat semacam ini.
Ada beberapa foto pengunjung dalam berbagai kegiatan, disebelah foto atau dibawah foto ditulis juga kesan dan pesan yang beragam. Kebanyakan kesan postif karena dalam foto pun wajah pengunjung nampak puas.
Matanya begerak untuk menemukan foto lain, lalu berhenti pada satu foto yang nampaknya tidak asing baginya.
Itu...
Kedua mata Jimin membulat.
Fotonya bersama Yoongi sedang tidur dalam posisi duduk dengan kepala yang saling bersentuhan. Handuk dikepala Jimin tak lagi terpasang melainkan tersampir dibahunya sementara Yoongi masih mengenakan handuk dikepalanya.
Jimin mendekatkan wajahnya, tidak salah lagi itu memang dirinya dan Yoongi. Disebelah foto tertulis kalimat 'Pasangan manis favorit pengunjung lain, semoga kalian berkunjung kembali'
"Pe-permisi." Jimin mendekati resepsionis dengan satu tangan menunjuk papan kesan "Foto itu..."
"Ah. Ternyata anda. Tunggu sebentar." Resepsionis tersebut tersenyum saat melihat sosok Jimin lalu mengeluarkan sesuatu dari lacinya "Ini foto untuk anda dan pasangan anda. Terima kasih sebelumnya."
Jimin menerima saja pemberian respsionis tersebut yang ternyata merupakan dua lembar foto kamera polaroid. Foto dirinya dan Yoongi yang sama persis dengan yang tertempel di papan.
Jimin sungguh kehabisan kata-kata.
"Jimin-ah." Suara Yoongi membuat Jimin terlonjak dan refleks menyembunyikan foto tersebut dibalik punggungnya. Yoongi yang melangkah mendekatinya merasa sedikit heran mendapati reaksi Jimin "Ada apa?"
Sang direktur menggeleng "T-tidak ada. Kau sudah selesai?"
"Ung!" Yoongi mengangguk mantap disertai senyum diwajahnya "Ayo pulang, kita masih harus bekerja."
Jimin hanya mengangguk lalu mengikuti Yoongi yang telah berjalan lebih dulu didepannya meninggalkan tempat sauna, diam-diam ia memasukan foto ditangannya kedalam saku jaketnya.
Tempat sauna dan apartemen Yoongi tidak terlalu jauh jaraknya, hanya membutuhkan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit, lagipula kemarin malam itu Yoongi memang tidak berencana pergi terlalu jauh dari tempat tinggalnya, selain karena sudah malam ia juga masih harus bekerja keesokan paginya.
Keduanya kini berjalan menuju gedung apartemen tempat tinggal Yoongi untuk mengambil mobil Jimin yang diparkirkan di basement sana. Sistem diapartemen tersebut memang menggunakan nomor pin sebagai kunci kamar, tetapi pihak pengurus juga memberikan kartu sebagai kunci darurat kepada para penghuninya dan Yoongi cukup menunjukan kartu tersebut agar Jimin dapat memarkirkan mobilnya selama satu malam dengan begitu tagihannya akan muncul bersama tagihan listrik dan air yang akan dikirimkan tiap bulannya.
"Sampai jumpa di rumah sakit."
Yoongi mengangguk pada pria yang tengah berdiri disisi mobil, sambil mengusap tengkuknya yang terasa pegal karena tidak menemukan posisi tidur yang nyaman kemarin malam. Tapi ia cukup senang karena terbangun dan menemukan kalau bahu bidang Jimin menjadi sandaran kepalanya.
Eh─
"Jangan lupa sarapan." Yoongi mengangguk lagi, bibir bawahnya sedikit maju dan kedua pipinya tampak mengembung "Kau sebaiknya minum kopi." Imbuh Jimin saat menyadari kalau sosok Yoongi dipagi hari setelah bangun tidur adalah pemandangan yang manis.
Bagaimana tidak? Wajah manis itu jelas sekali masih diselubungi rasa kantuk, mata tipisnya semakin menyempit berusaha untuk terpejam meski sang pemilik mati-matian menahannya agar tetap terjaga. Rasa kantuk yang mengundang mood menjadi sedikit kurang baik, terlihat dari bibir Yoongi yang cemberut tipis.
Jika Jimin adalah wanita, ia pasti sudah menjerit 'Aw! So cute!' atau jika Baekhyun ada disini dan melihat kondisi teman baiknya ini, dia lah yang akan menggantikan Jimin untuk menjerit.
Jimin tak dapat mencegah senyumnya yang telah mengembang, ia sedikit merapikan poni Yoongi yang sedikit berantakan tanpa ragu sedikit pun.
"Cepatlah pergi. Nanti kita terlambat." Yoongi terdengar seperti merajuk, tetapi hanya sedikit.
Jimin tertawa kecil lalu mengangguk dan meraih satu tangan Yoongi untuk kemudian meletakan selembar kertas diatas telapak tangan tersebut. Kertas yang merupakan foto yang didapat Jimin dari resepsionis sauna, ia meletakannya dalam keadaan terbalik sehingga Yoongi tidak langsung melihatnya.
"Ini apa, Jimin-ah?"
"Lihat saja sendiri." Jawab Jimin dengan nada sedikit jahil. Sebelum akhirnya memasuki mobil dan mengendarainya keluar basement.
Beberapa menit selanjutnya, Yoongi hanya terdiam menatap kepergian Jimin. Ia lalu membalik kertas pemberian Jimin dan langsung saja kedua matanya membulat sempurna saat mendapati bahwa kertas tersebut merupakan sebuah potret...potret dirinya dan Jimin dalam keadaan tertidur di tempat sauna dengan kepala yang saling bersentuhan.
"Ap-apa...bagaimana bisa dia...foto i-ini..." Yoongi menutup mulutnya dengan tangan saat merasakan kedua pipinya mulai menghangat.
Tapi itu tidak berlangsung lama karena Yoongi segera sadar jika ia telah menghabiskan cukup banyak waktu sementara jarum jam semakin mendekati angka seharusnya ia memulai praktek pagi. Karena itu, Dokter muda tersebut buru-buru menaiki lift menuju lantai tiga tempatnya tinggal untuk bersiap berangkat kerja.
Yoongi segera menyandarkan punggungnya pada dinding setelah pintu lift tertutup rapat. Satu helaan nafas terdengar meloloskan diri.
Rasa suka yang didapatnya kembali setelah bertemu Jimin setelah delapan tahun berlalu, tak lantas membuat Yoongi membayangkan akan kisah cinta manis yang belum sempat dirasakannya dulu, ketika dirinya dan Jimin adalah sepasang kekasih.
Jimin...Park Jimin.
Memang laki-laki yang baik, sekalipun hanya sebagai pelampiasan Taemin, ia selalu memperlakukan Yoongi dengan baik. Selalu tersenyum dan siap membantu dalam bentuk apa pun. Meski hatinya tak dapat ia berikan sepenuhnya pada Yoongi sang kekasih. Begitu pula saat ini, Jimin tidak berubah, masih pria yang baik hati...kebaikan hati yang membuat Yoongi takut untuk berharap.
Yoongi telah berhenti untuk berharap delapan tahun yang lalu.
Kisah cinta pertamanya yang tak kan pernah hilang.
.
.
.
Mood Yoongi bukannya buruk pagi ini, tidak mungkin buruk mengingat ia praktek hari ini dan pastinya akan bertemu pasien-pasien manja nan lucu. Ah, bukan maksudnya ia senang jika banyak anak yang sakit lalu mendatanginya sebagai pasien, namun bagi Yoongi, anak-anak adalah makhluk paling menggemaskan di dunia, siapa dirinya bisa menolak semua daya tarik itu?
Tapi...
Tapi pandangan pegawai rumah sakit lain yang membuat suasana harinya sedikit kritis. Sejak kakinya menginjak lantai rumah sakit saja...entah sudah berapa kali ia menerima tatapan tak biasa dari para rekan kerjanya itu. Ada yang berbisik, ada yang senyum-senyum tidak jelas bahkan ada yang melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki secara terang-terangan.
Jika sudah demikian, entah gosip apa tentang dirinya yang akan muncul nanti. Pastinya dan entah mengapa ia merasa yakin...pasti akan ada sangkut pautnya dengan direktur baru mereka, siapa lagi kalau bukan Park Jimin.
Yah, akhir-akhir ini Yoongi dan direktur barunya itu memang sedang dekat bukan?
"Dokter Min, apakah anda sudah siap? Jika sudah, akan kupanggil pasien nomor urut pertama." Suara Perawat Han ─pendamping prakteknya hari ini─ muncul dari balik pintu dengan memeluk sebuah papan jalan disatu tangannya.
"Oh, ya. Tentu saja." Yoongi memasang stetoskop dilehernya "Silahkan panggil pasien pertama."
"Baik, dokter."
Perawat Han menyerukan nama sang pasien sementara Yoongi telah bersiap dimeja kerja dengan pulpen ditangan kanan. Terlihat perawat Han membuka pintu sedikit lebih lebar memberi jalan bagi pasien dan pendampingnya untuk memasuki ruang periksa. Yoongi mengamati tiga orang yang masuk, seorang pria yang menggendong balita laki-laki mungil nan menggemaskan lalu seorang pria lagi yang kali ini lebih tinggi, tingginya menyamai Chanyeol, kepalanya nyaris menyentuh bagian atas pintu.
Tapi tunggu...
Kening Yoongi mengerut, wajah-wajah dihadapannya ini adalah wajah yang tidak asing. Ya, tidak asing...terutama laki-laki cantik yang menggendong balita itu.
"...Lee Taemin?!" Yoongi langsung berdiri dan memanggil nama laki-laki tersebut sedikit lantang.
Laki-laki cantik tersebut tersenyum lebar "Hai, Yoongi. Apa kabar?"
"Taemin-ah." Yoongi menghampiri Taemin lalu mengusap pundaknya pelan "Astaga, sudah lama tidak bertemu. Kabarku baik dan kulihat kau juga baik."
"Ah, tentu saja. Kalau sudah menjadi seorang ibu sangat pantang untuk sakit bukan?"
Yoongi menyempatkan diri untuk menyalami Minho lalu mempersilahkan pasiennya untuk duduk. Ia menyiapkan selembar kartu pasien untuk mencatat riwayat kesehatan sang pasien, anak tunggal Taemin yang berusia tiga tahun bernama Choi Yoogeun.
"Lalu apa keluhan Yoogeunie?" tanya Yoongi yang tak bosan melempar senyum terhadap Yoogeun, meski sang balita hanya diam dan lebih tertarik memainkan kancing pakaian ibunya.
"Anak ini mengeluh sakit ditenggorokanya. Nafsu makannya sedikit berkurang dan suhu badannya kerap kali naik meski tidak sampai demam. Kalau malam sedikit rewel dan beberapa hari ini batuknya tidak mau hilang."
"Batuknya kering atau berdahak?" tanya Yoongi setelah mencatat poin penting pada kartu riwayat kesehatan Yoogeun.
"Batuk kering." Jawab Taemin mantap.
"Baiklah. Kita timbang dulu, aku perlu mengetahui berat badannya."
Taemin mengangguk paham lalu mengikuti arahan perawat Han untuk meletakan tubuh Yoogeun diatas timbangan. Setelah selesai dan memberi tahu hasilnya pada Yoongi, Taemin membawa kembali putera-nya untuk duduk dipangkuannya.
Setelah itu, Yoongi menyiapkan stetoskopnya dan mendekati Yoogeun bermaksud mengetahui irama detak jantungnya. Tak lupa ia juga memeriksa keadaan tenggorokan sang balita, agak sulit memaksanya untuk membuka mulut, Yoogeun sedikit memberontak karena itu Taemin dan Minho diharuskan turun tangan untuk mempermudah Yoongi menyorot kerongkongan putera cilik mereka dengan senter kecil.
"Yoogeun mengalami radang tenggorokan, bisa karena kelelahan atau karena mengkonsumsi junk food berlebihan. Tapi aku yakin kalian tidak akan memberikan Junk Food pada Yoogeun...karena itu kesimpulanku adalah waktu istirahat Yoogeun sedikit berkurang, benar?"
Taemin menghela nafas sambil menepuk-nepuk punggung Yoogeun "Ya, sebenarnya anak ini sering tidur larut akhir-akhir ini." Terangnya dan Yoongi mendengarkan dengan seksama "Yoogeun bersikeras menunggu ayahnya pulang melewati jam tidurnya meski ujung-ujungnya ia lebih sering tertidur duluan dan tak sempat bertemu dengan ayahnya."
Yoongi dapat melihat Taemin tersenyum maklum lalu melirik Minho yang tengah mengusap kepala puteranya. Sang dokter hanya mengangguk paham. Dan memerintahkan perawat Han untuk menyiapkan suntikan antibiotik dengan dosis sesuai berat badan Yoogeun.
"Aku hanya akan memberikan antibiotik dalam bentuk suntikan jadi tolong tahan tangannya sebentar saja, Taemin."
Setelah mengangguk paham, Taemin menahan tangan Yoogeun secara lembut agar puteranya tidak curiga. Sementara itu Yoongi mengeluarkan sebuah boneka tangan berbentuk kumamon dari laci meja dan menggeser kursinya mendekati sang pasien hingga kini ia saling berhadapan dengan Taemin yang memangku Yoogeun.
"Yoogeunnie~" Panggil Yoongi dengan suara yang dibuat se-imut mungkin sebagai suara kumamon-nya agar menarik perhatian Yoogeun.
Dan benar saja...bocah itu tertarik terbukti dan tatapannya yang mengarah pada boneka kumamon ditangan kiri Yoongi.
"Namaku Kuma. Yoogeunnie cakit apaaa~"
"Ehehe, Kuma~" Yoogeun berusaha menggapai boneka tersebut. Perhatiannya benar-benar teralih sampai tidak sadar kalau suster Han sudah menarik lengan pakaiannya melewati siku dan mengolesi alkohol.
"Yoogeunnie cakit?" suara imut Yoongie kembali terdengar dan Yoogeun tampaknya sangat senang, ia terkekeh beberapa kali saat melihat bonekanya bergerak-gerak akibat permainan jari sang dokter didalam sana.
Dan saat itulah Yoongi mengisyaratkan pada perawat Han untuk menyerahkan suntikan berisi cairan antibiotiknya, dengan gerakan cepat sang dokter pun menancapkan jarum suntik ke tangan Yoogeun, tepatnya kebagian yang telah diolesi alkohol kemudian menginjeksi cairan tersebut hingga habis.
Tak lama tangisan Yoogeun pun terdengar memenuhi ruangan saat tangannya terasa seperti tersengat sesuatu.
"Ah, no no. It's okay honey." Yoongi refleks berusaha meraih Yoogeun dari gendongan sang bunda, dan ia pun tanpa sadar mengucapkan kalimat yang manis pada pasien kecilnya itu, Taemin sempat sedikit bingung namun sang dokter berhasil meyakinkannya lalu membawa Yoogeun mendekati jendela "Lihat ada pesawat. Bagus sekali ya?" ia menunjuk sebuah pesawat yang kebetulan saja sedang lewat dan meninggalkan jejak kepulan asapnya.
Hal tersebut berhasil mengalihkan perhatian Yoogeun dan membuat tangisnya sedikit mereda, menyisakan isakan kecil dan bibir mungilnya
"Tidak, jangan menangis sayangku. Kau anak yang pintar." Yoongi mengusap air mata di pipi Yoogeun dan merapikan poni rambutnya.
Ia lalu membawa Yoogeun menghampiri perawat Han yang langsung memperlihatkan tiga lembar plester dengan motif yang berbeda. Motif power ranger, motif beruang dan motif bintang.
"Perawat Han punya stiker yang bagus untuk Yoogeunnie, tapi Yoogeunnie harus pilih satu, Yoogeunnie ingin yang mana? Boleh Yoogeunnie ambil." Rayu Yoongi sambil menunjuk stikernya satu persatu.
Yoogeun menunjuk plester bermotif power ranger.
"Yoogeunnie suka yang itu? Baiklah, perawat Han akan memasangkannya untuk Yoogeunnie." Ucap Yoongi yang segera dilakukan oleh perawat Han. Kini plester tersebut telah melekat sempurna ditangan Yoogeun pada bagian yang disuntik "Wah, lihat. Bagus sekali, Yoogeunnie jadi semakin keren."
Yoongi tertawa dan membuat Yoogeun ikut tertawa, seperti sedikit tersipu tapi juga merasa senang, bocah itu bertepuk tangan tanpa suara akibat telapak tangannya yang terlalu kecil dan kulitnya terlalu lembut.
Tapi Yoongi merengek meminta satu plester lagi saat Yoongi hendak mengembalikannya pada Taemin. Jadi Yoongi kembali menghampiri perawat Han dan membiarkan Yoogeun mengambil satu plester lagi kali ini yang bergambar beruang dan langsung mengarahkannya di wajah Yoongi.
"Ada apa Yoogeun-ah?" bingung sang dokter.
"Dotel─ pakai."
Tak butuh waktu lama bagi Yoongi untuk mengerti maksud Yoogeun yang menginginkan dirinya juga memakai plester. Taemin sempat ingin mengambil Yoogeun karena merasa puteranya sudah menyusahkan sang dokter, namun Yoongin mencegahnya dan mengatakan 'it's okay' lewat gerakan mulutnya saja disertai anggukan pelan.
"Baiklah, Yoogeun boleh memakaikannya pada dokter."
Perawat Han membantu Yoogeun membuka bungkus plester, Yoongi tidak menolak saat bocah itu mendekatkan plester di pipi-nya dan menempelkannya begitu saja di sana.
Taemin menepuk keningnya sementara Yoongi hanya tertawa "Sekarang kita sama-sama sudah keren 'kan Yoogeunnie?"
Kali ini Taemin benar-benar mengambil alih Yoogeun dan meminta maaf pada Yoongi meski sebenarnya sang dokter sama sekali tidak keberatan, malah cenderung menikmati waktu bercandanya dengan Yoogeun.
Anak-anak itu makhluk paling menggemaskan didunia bagi Yoongi, ingat?
"Ingat pesanku Taemin-ah. Usahakan Yoogeun kembali pada waktu tidurnya, beri dia air putih yang banyak, kurangi─ kalau bisa jangan berikan dia es dahulu, perbanyak makan buah dan sayur."
"Aku mengerti Yoongi-ya. Terima kasih." Ucap Taemin setelah menerima resep obat dari Yoongi. Ia pun berdiri diikuti oleh Yoongi, kali ini yang menggendong Yoogeun adalah Minho "Sampai Jumpa."
"Ya, sampai jumpa Taemin, Minho. Sampai jumpa Yoogeunnie."
Taemin sempat menggerakan tangan Yoogeun agar melambai pada Yoongi sebelum akhirnya melewati pintu meninggalkan ruangan.
Yoongi pun kembali ke-meja kerjanya dan meminta perawat Han untuk memanggil pasien selanjutnya. Dokter berparas semanis gula bagi pasien anak-anaknya itu segera melepas plester diwajahnya yang tadi ditempel oleh Yoogeun sebelum dilihat oleh pasien berikutnya, tapi ia tak lantas membuangnya melainkan menempelkannya lagi secara melingkar di pulpen miliknya.
.
.
.
Pukul satu siang Yoongi dapat meninggalkan ruang prakteknya dengan perasaan tenang karena semua pasiennya telah selesai ia tangani. Berdiri di depan pintu sembari meregangkan kedua tangannya yang kaku, mengingat satu jam telah terlewati dari waktu makan siang juga merasakan perut kecilnya bergemuruh minta di-isi, Yoongi segera berjalan menuju kafetaria untuk menikmati makan siang yang sudah ia dambakan sejak tadi.
"Yoongi-ya, disini!" pemilik nama yang disebut menoleh tepat setelah meninggalkan meja prasmanan dengan nampan berisi makan siang dikedua tangannya. Ia menemukan sosok sahabatnya Baekhyun telah duduk manis disalah satu meja tak jauh darinya, Yoongi pun segera menghampiri sahabatnya tersebut.
"Kau juga baru istirahat?" tanya Yoongi seraya menduduki kursi dihadapan Baekhyun.
Baekhyun mengangguk, mulutnya masih sibuk mengunyah makanan "Aku menggunakan waktu istirahatku untuk mengatur ulang jadwal konsultasi Taehyung, pekerjaan sebagai artis memang tidak dapat ditebak ya."
Sambil menyendok nasinya, Yoongi mengangguk, ia mengingat jika pagi ini Taehyung sempat mengeluh padanya melalui Line kalau pekerjaannya sangat padat di bulan ini, terlebih ada salah satu iklan yang menuntut agar tubuhnya terlihat sedikit lebih berisi, itu artinya ditengah jadwal padat, Taehyung juga harus menaikkan berat badannya tetapi dengan pola dan makanan yang sehat agar tidak membebani kinerja jantungnya.
Saat ia bertanya iklan apakah itu, Taehyung tidak menjelaskannya secara detail, model muda itu hanya bilang kalau dirinya akan banyak menari dan berlari di iklan tersebut, karena itu ia harus telihat bugar dan berseri.
"Aku harap Taehyung akan baik-baik sa─" belum sempat Yoongi menyelesaikan kalimatnya, sosis yang tadinya akan ia lahap kembali jatuh diatas nampan.
Penyebabnya adalah...
Kemunculan dua orang secara mendadak yang langsung menghimpit Yoongi disisi kanan dan kirinya, begitu bersemangatnya mereka sampai membuat tubuh kecil sang dokter gula sedikit berguncang dan menjatuhkan makanannya.
"Hai, Yoongi." Melihat kesebelah kanan, ada Dokter Kim. Kim Jaejoong.
"Hai, Yoongi." Melihat kesebelah kiri, ada Dokter Kim ─juga─ Kim Heechul.
Yoongi mendesah malas menemukan kedua senior yang menghimpitnya kini, bukan apa-apa, sebenarnya tak masalah jika mereka bertemu diluar jam makan siang atau disaat ia akan makan siang, pasalnya kedua seniornya ini terkenal cerewet dan suka berbicara sehingga kerap membuatnya kurang menikmati makan siang.
Dan sekarang, ia bertemu dengan kedua seniornya ini saat makan siang.
Demi kerang ajaib.
"Yoongi-ya, Yoongi-ya." Ini Dokter Kim Jaejoong yang berbicara, dokter spesialis kardiovaskular yang juga merupakan senior Baekhyun. Dokter cantik ─kabarnya paling cantik dirumah sakit─ yang juga sering muncul sebagai narasumber untuk acara kesehatan disalah satu stasiun tv. Acara yang sering Yoongi lihat melalui layar monitor besar yang menggantung dilangit-langit dekat lobi utama.
"Apa?" jawab Yoongi ketus sambil memasukan sosis kedalam mulutnya.
"Aish. Jangan galak-galak begitu nanti imutnya hilang." Goda Jaejoong sembari mencubit pelan pipi Yoongi. Sementara yang dicubit hanya mendengus.
"Yoongi-ya." Kali ini Dokter Kim Heechul yang bicara, dokter spesialis mata yang merupakan ikon rumah sakit ini, wajahnya selalu terpampang pada pamflet, banner bahkan papper bag yang dikeluarkan secara resmi oleh pihak rumah sakit "Sudah berapa lama kau berpacaran dengan direktur baru kita?"
Yoongi langsung menelan kimbab dimulutnya secara utuh tanpa mengunyahnya, alih-alih menyemburkannya karena terkejut akan pertanyaan Heechul. Segelas air putih pemberian Baekhyun pun langsung ia teguk hingga tandas.
"Apa?!" Yoongi mengusap mulutnya dengan punggung tangan "Apa? Berpacaran? Aku?"
Duo dokter Kim mengangguk bersamaan.
"Dengan direktur Park?"
Duo dokter Kim mengangguk bersamaan. Again.
"Direktur Park Jimin maksud kalian?"
Jaejoong menoyor kepala Yoongi alih-alih mengangguk lagi, ia kesal saja dengan respon junior-nya itu padahal ia hanya mengajukan pertanyaan yang biasa, sangat biasa malah. Memangnya aneh jika kita bertanya soal pacaran atau berapa lama teman kita sudah berpacaran?
Tidak, bukan?
"Kau jangan pura-pura kaget begitu." Kata Jaejoong sambil memutar kedua bola matanya.
"Tapi aku, aku tidak sedang menjalin hubungan dengan siapa-siapa saat ini." Yoongi berkata sambil mengusap keningnya yang ditoyor sang senior.
"Tidak?" Yoongi menganggukki pertanyaan Heechul, ia melihat seniornya itu kini tengah memainkan jarinya diatas layar ponsel "Lalu bagaimana kau menjelaskan ini?"
Kedua mata tipis Yoongi langsung melotot saat Heechul memperlihatkan layar ponselnya tepat didepan batang hidung sang dokter gula, namun yang membuat nafas Yoongi tercekat lebih tepatnya adalah apa yang ditampilkan layar ponsel tersebut.
Sebuah foto.
Iya foto.
Foto dirinya dan Jimin yang tengah tertidur pulas dengan posisi kepala saling bersentuhan, bahu Jimin menjadi sandarannya sementara Jimin menjatuhkan dagunya diatas kepala Yoongi.
Foto yang serupa dengan miliknya, pemberian Jimin pagi ini sebelum direktur muda itu meninggalkan gedung apartemen.
Foto yang saat ini terselip rapi didalam buku agenda yang selalu ia bawa di saku jas dokternya.
"Aih, kau sangat manis di foto ini Sugar." Jaejoong merangkul leher Yoongi dengan gemas dari belakang.
"Da-dari mana kau mendapatkan foto itu sunbae?!" nada bicara Yoongi sedikit naik karena panik.
Biar bagaimana pun, orang pasti salah paham. Lagi pula difoto itu ia tertidur ─dalam artian sebenarnya─ dengan Park Jimin, direkturnya, bos besarnya.
Ini skandal besar, man!
"Bicara apa kau, foto ini telah tersebar, semua orang memilikinya."
Yoongi berkedip beberapa kali guna memproses ucapan Heechul "...A-apa?"
"Aku memilikinya, Chugar." Jaejoong yang masih memeluk Yoongi dari belakang memamerkan layar ponselnya dimana terpampang potret yang sama, selain itu itu mengatakannya dengan suara yang dibuat imut terutama saat menyebut panggilan kesayangan Yoongi.
Semua orang juga tahu kalau Jaejoong itu sangat gemas terhadap Yoongi.
Sementara Yoongi hanya menatap layar ponsel Jaejoong dengan tatapan tidak percaya, kedua matanya melotot dan mulutnya sedikit terbuka.
"Aku juga punya." Suara Baekhyun membuat Yoongi menoleh, sahabatnya itu tengah menunjukan layar ponsel yang membuatnya melotot kuadrat. Baekhyun hanya tersenyum kaku.
Astaga, Yoongi sungguh kehabisan kata-kata. Tampangnya pasti seperti orang paling dungu sedunia saat ini.
"Ya sudahlah, yang terpenting Yoongi kita sudah tidak sendiri lagi sekarang." Jaejoong melepaskan rangkulannya dari leher sang junior lalu memasukan ponselnya kedalam saku celana "Dan pasangannya adalah direktur kita sendiri, pria mapan dan berpendidikan tinggi, selamat ya." Dokter cantik itu menepuk pelan pundak Yoongi beberapa kali.
"Jaejoong benar, kuharap dia bisa menjagamu dengan baik." Heechul mengusap puncak kepala Yoongi lalu berdiri dari duduknya.
"Ta-tapi aku tidak...dengan direktur..."
"Ayo Jaejoong-ah, kita harus kembali bekerja."
"Kau benar, Heechul-ah."
"Ta-tapi aku b-benar-benar..."
Kedua dokter senior itu pun melenggang pergi meninggalkan Yoongi dan Baekhyun begitu saja, sambil berbicara mengenai betapa beruntungnya Yoongi mendapatkan direktur Park Jimin yang tampan dan pintar itu. Ia sudah mengatakan bukan kalau dua seniornya itu sangat suka berbicara? Suara mereka terdengar jelas, demi Tuhan.
"Astaga, aku pasti memiliki dosa besar dimasa lalu." Keluh Yoongi yang langsung mendesah panjang seraya mengusap wajah dengan kedua tangan. Ia melihat Baekhyun yang tersenyum kaku, bingung ingin mengatakan apa, biar bagaimana pun ini gara-gara kekasihnya juga yang menyuruh Jimin menemani Yoongi semalaman.
Yoongi mengerang frustasi dengan mulut tertutup. Ia hanya mampu berdoa dalam hati semoga besok dirinya tidak terbangun diatas ranjang pasien departemen kejiwaan.
Dan...terjawab sudah mengapa orang-orang memperhatikannya dengan tatapan aneh sepanjang hari ini.
Great!
.
TBC
Mohon maaf sebelumnya kalau ada beberapa bagian yang kurang jelas, kayak sauna itu aku Cuma riset sekenanya, dan kalau ada prosedur yang salah saya mohon maaf.
Dan aku agak bingung sama spesialis jantung dan kardiovaskular, pas pertama saya search keduanya bisa jadi satu gelar tapi pas saya nulis chap 4 ini dan saya search lagi ternyata jantung sama kardio bisa beda spesialis. Bingung kuy, eike tak punya kenalan dokter. pokoknya disini Baekhyun sama Jaejoong spesialis kardiovaskular, dan Baekhyun tetep jadi dokter pribadinya Taehyung. Yah begitulah pokoknya. Maapkeun.
Jangan lupa ketik ripiu/vote/comment. Yes? Thank you!
