This chapter is dedicated to Lenachii, whose rants-slash-reviews have always managed to make me chuckle and to Jee-zee Eunry whose excitement is endearing.
Disclaimer: If I owned Bleach, Orihime would have waked up already to face da truth.
Selama 24 tahun kehidupannya, keadaan di mana Rukia merasakan dorongan kuat untuk melarikan diri adalah ketika Kakek Ginrei mengajaknya dan Nii-sama ke pertemuan khusus para bangsawan. Itupun masih lumayan karena di sana Kyoraku oji-sama dan Ukitake oji-sama akan selalu ada untuk menceritakan kisah-kisah lucu padanya dan kakaknya, atau mengajak Rukia ke tempat di mana mereka 'tidak usah bercakap-cakap dengan paman-paman dan bibi-bibi ini dan makan permen sebanyak-banyaknya'. Selain itu, kadang-kadang Kira-kun juga datang dan mereka akan duduk bersisian di tepi kolam ikan selama berjam-jam sampai tertidur.
Pertemuan klan bangsawan kuno Jepang memegang peringkat pertama Situasi Di Mana Aku Harus Melarikan Diri sampai setengah jam yang lalu.
Sekarang, pemuncak daftar itu adalah ini.
Ini; ruang kerja Ichigo yang diisi oleh si empunya ruang, Ishida-san, dirinya, dan Inoue-san.
Rukia tidak mengerti apa yang harus dilakukan atau dikatakannya dan Kuchiki Rukia tidak pernah mati gaya. Tidak sebelum ini. Atmosfer di ruangan ini terasa aneh. Sedari tadi Rukia memaksa dirinya untuk bersikap wajar dan tidak menggerak-gerakkan tubuhnya dengan kikuk.
Tadi, begitu Inoue-san masuk, Ichigo terlihat sangat terkejut. Inoue-san, sebaliknya, tampak sangat senang dan lega walaupun tampak jelas sekali bahwa ia gugup. Dan untuk melengkapi keanehan yang tak Rukia pahami ini, air muka Ishida-san tidak membuat situasi membaik.
Inoue-san menyapa Ichigo (dan Ishida-san) dengan senyum cerah. Setelah itu dia banyak berbicara dan bertanya; sebuah upaya mempertahankan pembicaraan dengan Ichigo yang tidak luput dari observasi Rukia. Setidaknya Inoue-san berhasil. Ichigo selalu menanggapi apapun yang dikatakan Inoue-san dengan senyum dan kadang-kadang tawa pendek namun tetap terdengar tulus. Matanya memandang Inoue-san dengan lembut.
Kelembutan yang, tetap saja, berbeda dengan jenis yang dipancarkan oleh mata Inoue-san.
"Ishida-san!"seru Rukia tiba-tiba. Suaranya melengking tak wajar.
Ketiga orang di dalam ruangan langsung mengalihkan perhatian mereka.
"Apa lagi, Rukia?"
Rukia melirik Ichigo dengan kejam. "Seingatku aku memanggil Ishida-san, bukan kau."
Ishida berdehem, bertekad menghentikan mereka sebelum hal yang lebih destruktif terbentuk. "Ada apa, Ichinose-san?"
"Aku haus."
Ichigo melempar tatapan datar pada Rukia. "Kau haus." Dia mengulang. "Makananmu bahkan belum habis setengahnya dan sekarang kau haus?"
"Ya. Dan kalau tidak merepotkan, Ishida-san, maukah kau mengantarku ke vending machine terdekat?" tanpa memedulikan Ichigo yang bertanya-tanya dan beberapa detik kemudian memicingkan matanya curiga, Rukia mengarahkan tubuhnya ke Ishida-san.
"Tentu saja. Makanku kebetulan sudah hampir selesai."
Rukia merasa sangat bersyukur Ishida-san mengerti maksudnya. Untunglah ketumpulan Ichigo tidak menular.
Lalu mereka berdua bangkit dan berjalan menuju pintu ruangan.
"Kau pintar sekali membuatku terkejut, Ichinose-san."
Rukia yang sebelumnya merasa tidak perlu membuka percakapan langsung menegakkan kepalanya dan memandang Ishida keheranan.
"Apakah aku sebaiknya menganggap perkataanmu barusan sebagai pujian?"
"Kalau kau suka." Ishida mengedikkan bahunya.
Rukia tersenyum manis lalu terdiam. Setelah beberapa saat, Rukia membuka mulutnya.
"Aku agak merasa bersalah pada Inoue-san. Aku memaksanya membatalkan kejutan—apapun bentuknya kejutan itu—untuk Ichigo. Aku tahu dia tidak ingin mengikutiku kemari, tapi aku membuatnya tidak punya pilihan."
"Tapi kurasa kau juga harus tahu bahwa Ichigo mungkin tidak akan terlalu menghargai sikapmu ini."
Rukia mengerutkan kening.
Ketiadaan suara dari sosok wanita mungil di sebelahnya itu diartikan Ishida sebagai ketidak pahaman.
"Dalam kasus ini… Kau tidak mungkin membantu salah satu pihak tanpa membuat kesal pihak yang lain."
"Akan benarkah jika aku menyimpulkan bahwa mereka pernah memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman? Dan bahwa hubungan itu berakhir tidak dengan cara yang disetujui keduanya?"
Ishida mendorong kacamatanya menyusuri tulang hidungnya dengan anggun. "Aku tidak punya wewenang untuk menjawab pertanyaan itu, bukan begitu Ichinose-san?"
"Aku mengganggumu ya, Kurosaki-kun?"
Ichigo mengerti betul bahwa memandangi bentonya yang sudah lama kosong untuk menghindari pembicaraan serius dengan wanita di depannya ini adalah perbuatan yang tidak sopan; belum lagi ia akan terlihat sangat bodoh.
"Kenapa kau berkata begitu?"
"Kau… tidak terlihat bersemangat."
Ichigo menghela nafas. Tidak nyaman, bukan tidak bersemangat.
"Ada beberapa pasien baru dan keluhan mereka bukan keluhan sederhana."
Yang dibuktikan oleh menumpuknya map-map berisi riwayat kesehatan pasien yang masih tampak sama dan tidak bergeser sesenti pun sejak pagi tadi.
Ichigo tidak ingin membohongi Inoue; tiga tahun sudah lebih dari cukup. Tapi ia tak tahu harus melakukan apa lagi. Ia tak juga mengerti bagaimana caranya menghadapi Inoue tanpa harus menghilangkan keriangan dan senyum-senyum cerahnya.
Ichigo tahu maksudnya datang kemari. Tidak, tidak; mungkin Rukia yang membuatnya datang, tapi ia cukup yakin bahwa rencana awal mantan kekasihnya ini tak jauh-jauh hubungannya dengan dia.
"Apa maksud kedatanganmu, Inoue?"
Inoue tersentak kecil. "Ichi-Ichinose-san yang mengajakku."
"Apa maksud kedatangnmu ke apartemenku?"Ichigo menganggukkan kepalanya ke Sansiviera yang diletakkan di atas meja kerjanya.
Mendengar pertanyaan yang diutarakan Ichigo dengan lebih jelas, Inoue menundukkan kepalanya. Lalu sedetik kemudian, Ichigo mengenali determinasi dan semangat berkilat-kilat di matanya. Ia lalu mempersiapkan dirinya untuk sesuatu yang ia tahu akan dikatakan oleh temannya sejak SMP ini.
"Aku membawakan tanaman khusus dalam ruangan untuk apartemenmu, Kurosaki-kun."
"Terima kasih. Tapi kau tidak perlu melakukannya."
"Aku berpendapat bahwa udara yang lebih bersih sangat baik untukmu. Kalau kau pulang dalam keadaan lelah, maka tanaman ini akan membuatmu segar kembali."
Ichigo tak menyadari senyum kecil yang tersungging di bibirnya sendiri. "Kalau soal itu, Rukia yang akan menyelesaikannya untukku. Tehnya manjur."
Mendengar nama itu, Inoue refleks menggigit bibirnya. Inoue paham betul bahwa ia tak perlu mengkhawatirkan wanita itu. Dia toh, cuma house keeper Kurosaki-kun. Yang membuat hatinya nyeri adalah kesadaran bahwa ia ingin diperlakukan sama. Mereka berteman sejak SMP dan berpacaran selama tiga tahun. Tidakkah ia berhak dipanggil 'Orihime' oleh Kurosaki-kun?
"Inoue?"
Itu dia. Inoue. Bertahun-tahun yang lalu Inoue, sekarangpun masih Inoue.
"Aku ingin kita diberikan kesempatan untuk memulai lagi."
Nah. Itu. Sudah dikatakannya. Inoue tak bisa berpura-pura lagi; ia bahkan tak bisa bersikap malu-malu lagi. Pria di hadapannya ini harus tahu keinginannya, harapannya.
Tidak langsung menjawab, Kurosaki-kun menarik nafasnya dalam-dalam. Dengan berani Inoue menatap matanya, mata yang sangat dicintainya.
"Kurasa kau sudah mengerti alasanku mengakhirinya."
"Dan kurasa kau sudah mengerti bahwa aku bukan wanita yang mudah menyerah."
Kurosaki-kun mulai menggaruk bagian belakang kepalanya. Inoue mengenalnya dengan baik. Ia tahu Kurosaki-kun sangat berhati-hati mengatur ekspresinya. Ia tahu Kurosaki-kun menahan diri untuk tidak menampilkan wajah kesal.
"Inoue, maafkan aku. Tapi ini sama sekali bukan seperti ujian yang bisa terjadi berkali-kali dan setiap gagal, kau akan berusaha lebih keras sehingga di kesempatan selanjutnya hal yang sama tidak terjadi lagi. Kau harus tahu Inoue, bahwa aku menyayangimu—"
"Tidak seperti aku menyayangimu." Inoue memotong. Hatinya terasa semakin sakit.
Ichigo memandanginya sedih. "Ya, tidak seperti kau menyayangiku. Dan bukankah kita sudah sepakat itulah yang menyebabkan berakhirnya hubungan kita? Aku sudah mencoba, Inoue. Tiga tahun. Aku yakin pasti ada yang salah denganku karena tidak juga berhasil mencintaimu—jatuh cinta padamu. Tapi begitulah kenyataannya."
Sekarang air mata menggenang di pelupuk mata Inoue. Tinggal tunggu waktu sampai genangan itu berubah menjadi aliran sungai.
Inoue membuka mulutnya, dan berbicara dengan suara pelan.
"Sejak dulu banyak yang mengatakan kita berdua sangat cocok. Rambut kita sama-sama oranye, kita sama-sama dibully karena hal itu. Kata mereka, aku akan mengimbangi sifat pendiam dan pemikirmu dengan karakterku yang berbeda 180 derajat. Kupikir mereka benar, Kurosaki-kun. Kita juga saling mengenal sejak lama sekali. Bayangkan ketika nanti kita menikah dan memiliki anak berambut oranye. Pasti akan lucu sekali." Air mata Inoue mulai mengalir dan suaranya meninggi seiring banyaknya kata-kata yang keluar dari mulutnya namun ia tak berencana berhenti. " Lalu—lalu kita akan membeli humanoid untuk membantu kita mengurus rumah. Dia akan bisa mengeluarkan laser dari matanya dan berenang dengan empat gaya. Setiap hari kau—kau akan makan makanan yang kubuat dan kau akan berkata 'ini enak sekali, Orihime.' Kita akan—"
"Inoue, kumohon—"
"Jangan bicara!" Inoue menjerit kecil, kedua tangannya menutup kedua telinganya. Ia kini sedang menggoyang-goyangkan kepala, menolak mendengar apapun yang akan dikatakan lawan bicaranya. "Aku tidak mau dengar. Tidak mau…"
Kenapa jadi begini, sih?
Saat Rukia memutuskan untuk melakukan hal dungu dengan meminta Ishida menemaninya mencari minum, tidak terbayangkan oleh Ichigo bahwa ia akan menghadapi hal seperti ini. Membicarakan tentang hubungan yang sudah selesai saja dianggapnya sebagai hal yang tidak perlu, apalagi ini? Dia tak diberitahu bahwa akan ada air mata terlibat, Demi Tuhan!
"Lakukan." Akhirnya Ichigo berkata.
Inoue menyentakkan kepalanya dengan keras; begitu kerasnya sehingga Ichigo terkesan lehernya masih baik-baik saja.
"K-Kurosaki-kun…"
"Semua yang menurutmu perlu. Lakukan saja, Inoue."
Wajah Inoue mulai berseri-seri.
"Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu."
"Aku mengerti, Kurosaki-kun—"
Tidak, kau tidak mengerti.
"Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku."
Apa yang barusan ia perbuat?
Mata hijau laut itu masih memandangi sampul majalah yang sejak setengah jam lalu ia genggam. Sejak itu pula tak satupun kata ia lontarkan. Semakin lama dilihat, wajah cantik itu rasanya semakin memojokkan dan menghukumnya.
Kemanakah Kuchiki Rukia?
"Aku tahu kenapa kau melakukan ini. Kau bodoh sekali, Kuchiki…"
Ia malu. Ia malu, sekali. Dia telah membuat kesalahan yang tak bisa dibilang ringan dan meletakkan bebannya di pundak kurus gadis yang semestinya dia lindungi.
"Shiba-sama, meetingnya akan dimulai."
Dengan nafas berat, pria itu melempar majalah yang dipegangnya ke seberang ruangan.
"Kau ingin apa untuk makan malam?"
Rukia tak mengharapkan suasana yang membaik sekembalinya ia dari vending machine terdekat (yang lalu disambung dengan tur keliling rumah sakit dengan Ishida-san sebagai guide) tapi ia juga tak memperkirakan adanya perubahan mood yang kontras sekali, seakan ada yang telah memencet saklar yang dengan otomatis menjungkir balikkan perasaan seseorang.
Ichigo tampak lima kali lipat lebih lelah.
Inoue-san terlihat bersinar seolah ia barusan menelan matahari.
Ada apa dengan dunia ini dan penghuninya? Bahkan Renji yang gila itu saja tidak pernah sevolatile ini.
"Hm?" Ichigo mengangkat kepalanya pelan. Dia benar-benar terlihat lelah.
"Makan malam. Kau mau apa untuk makan malam?"
Rukia tak tahu cara lain untuk membayar 'kesalahan'nya pada Ichigo. Ia tak terlalu mengerti ada apa, atau benarkah ia membuat kesalahan, tapi suasana hati Ichigo sepertinya memburuk. Dan untuk itu, dia harus bertanggung jawab.
"Bisakah kau membuatkanku kare?" tanyanya pelan sambil memijat kedua pelipisnya.
Rukia tersenyum lembut. "Kau akan pulang disambut kare, kalau begitu."
Setelah selesai membereskan peralatan makan bekas Ichigo, Ishida-san, dan dia sendiri—yang diletakkannya di kantong terpisah, Rukia berpamitan.
… Sampai Inoue-san mencegatnya.
"Bo-bolehkah aku ikut, Ichinose-san?"
Rukia mencoba bertanya pada Ichigo lewat tatapan mata, tapi Ichigo menghindarinya. Untunglah setelah itu Ichigo menjawab langsung untuk Rukia.
"Tidak perlu, Inoue. Kau pulang saja. Sudah cukup untuk hari ini dan terima kasih sudah mau datang."
Tanpa menunggu jawaban Inoue-san, Rukia membungkuk dan berjalan cepat-cepat keluar ruangan.
Dia hanya ingin jadi housekeeper. Sesederhana itu. Bukannya berurusan dengan masalah percintaan orang lain begini. Aaaargh!
Mungkin karena belum jam pulang kerja, kereta yang Rukia naiki relatif sepi. Baguslah. Ia sedang malas membaur dengan banyak orang. Peristiwa tadi siang sudah terlalu banyak menyerap energinya. Memang sih, awalnya kota ini kurang-lebih memberi apa yang dia harapkan. Ketenangan, anonymity… sampai saat ia menyadari bahwa ia memiliki majikan dengan masalah pribadi yang tak cukup hanya melibatkan dua orang tapi sekarang juga mencatut namanya.
'Aku tidak dibayar untuk ini…' keluh Rukia dalam hati.
Bagaimana tidak? Sejak pertama kali ia berkenalan dengan pubertas, masalah percintaan tidak pernah serumit masalah Ichigo. Begitu juga dengan orang-orang di sekitarnya. Matsumoto-senpai yang sejak berabad-abad lalu sampai sekarang masih lengket dan romantis dengan Ichimaru-senpai, pasangan dengan wajah rawan-bersemu-merah alias Hinamori dan Kira, Renji yang sering berganti pacar tetapi untungnya mantan-mantannya tak pernah obsesif...
See? Tidak ada yang penuh drama, bukan?
"Lama tidak ketemu ya, Cherry?"
Seketika Rukia ditarik keluar dari lamunannya. Suara itu… Nama panggilan itu… Dengan ketakutan, ditengokkannya kepala mungilnya ke arah sumber suara.
Dan di situlah dia.
Tampan dengan garis wajah yang tegas, mata dalam berwarna biru langit, seringai jahil yang luar biasa menarik, dan tentu saja rambut biru yang tidak dimiliki orang lain selain dia.
"Grimmkitty!"
Mata menyihir itu menyipit. "Jangan panggil aku begitu!"
Rukia memejamkan matanya erat-erat, menolak untuk percaya bahwa pemandangan di hadapannya ini nyata. Karena ya ampun, ada urusan apa Grimmjow di Karakura?
"Oi." Grimmjow meletakkan tangan besarnya di atas kepala Rukia dan mengacak-acak rambutnya dengan sayang. "Aku sungguhan di sini. Tidak perlu repot-repot menyangkal."
Rukia membuka matanya dan tentu saja Grimmjow masih di sana. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Grimmjow mengangkat bahunya. "Entah, ya. Ngg… naik kereta?" ejeknya.
"Jangan meledekku, Grimmjow."
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Seisi Tokyo sedang meributkanmu, bingung karena tak juga melihat batang hidung Si Putri Kecil. Jadi, sedang apa kau di sini?"
"Apakah Nii-sama mencariku?" bukannya menjawab, Rukia malah balik bertanya.
"Mana aku tahu? Tapi dari berita yang kudengar, tampaknya dia percaya bahwa kepergianmu ini bukan salahmu. Orang-orang bilang, wajahnya selalu muram. Maksudku, lebih muram ketimbang biasanya. Dan menurut sekretarisnya, dia jadi lebih sering memandangi foto-foto kalian."
Rukia terdiam.
'Nii-sama… Maafkan aku, ya. Tapi aku sudah merencanakan ini matang-matang, dengan tidak mempertaruhkan nama baik keluarga. Pada akhirnya, Kuchiki tidak akan mendapat tuduhan dan kesan buruk. Nii-sama bisa tenang…'
"Cherry, jangan sok misterius. Aku tahu soal Kaien Si Bangsat."
Rukia kaget sekali mendengarnya. "Grimmjow, ini bukan salahnya."
Grimmjow balas menatapnya marah. "Apa maksudmu 'ini bukan salahnya'? Tentu saja ini gara-gara dia."
Rukia menggeleng. "Aku menyesal dia harus ada dalam posisi ini. Setelah apa yang dia lakukan untukku, hanya inilah yang bisa kulakukan untuk memastikan bahwa kebahagiaannya aman. Dan jangan memanggilku Cherry!"
Grimmjow langsung menangkap trik Rukia yang ingin mengalihkan pembicaraan. Dia melengos. "Memangnya kenapa? Sekarang kau sudah tidak perawan lagi?"
"Grimmjow!" Muka Rukia seketika memerah. "Dan apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku masih—masih… p—per… yah, pokoknya itu."
Grimmjow tergelak. "Ya sudah, kenapa kau protes?"
"Diam! Sekarang jelaskan padaku apa yang kau lakukan di sini."
Grimmjow masih tertawa-tawa.
"Grimmkitty."
Mendengar nama panggilan iseng yang sering digunakan Rukia saat mereka masih berpacaran itu, Grimmjow langsung terdiam dan dengan wajah memerah plus kesal, dia menjawab. "Urusan pekerjaan."
Rukia memutar matanya. "Oh ya? Aku baru tahu Kuchiki punya kantor cabang di sini."
"Alasan persisnya mengapa kau memilih kota ini untuk melarikan diri, bukan?" Grimmjow membalas. "Tenang saja, besok pagi aku sudah berada di Tokyo, duduk manis di balik meja kerjaku dan memikirkan cara-cara keji namun rapi untuk membunuh Nnoitra sehingga orang akan berpikir itu kecelakaan."
Rukia tersenyum mendengarnya. Grimmjow masih belum banyak berubah.
Ia dan Grimmjow berpacaran sejak SMP sampai lulus SMA. Enam tahun. Orang-orang tak pernah bosan bertanya mengapa mereka berdua bisa menjadi pasangan karena kalau dipikir-pikir, hal itu sama mustahilnya dengan kepala Ikkaku-senpai tumbuh rambut. Rukia sebetulnya juga tidak terlalu paham. Ia hanya tahu bahwa di balik penampilan premannya, Grimmjow adalah pria dengan determinasi semantap baja dan sisi manis yang tak terduga (walaupun Grimmjow rasanya lebih memilih mati ketimbang mengakui ini). Dan hebatnya lagi, setelah putus pun mereka masih bertahan sebagai teman baik.
Mungkin karena itu, Rukia tanpa sadar membiarkan kata-kata mengalir lancar dari bibirnya; tentang alasan dia pergi, tentang 'pekerjaan'nya, tentang Kurosaki Ichigo… Rukia begitu santai bercerita karena ia tahu; ia yakin Grimmjow akan menyimpan cerita ini untuk dirinya sendiri.
"Ternyata menjadi pelayan memang stres."
"Ya. Sekarang kau menemukan alasan untuk tidak memperlakukan Lolly dan Menoly dengan semena-mena." Rukia mengiyakan.
"Cih." Grimmjow mencibir. "Itu karena mereka bodoh. Kalau mereka seperti kau, tentu saja akan kupeluk setiap hari dan kularang melakukan kegiatan yang melelahkan."
Rukia memandangnya dengan tatapan datar. "Beri applaus untuk Cassanova." sindirnya.
"Dan aku tidak percaya kau menggunakan nama si Kurang Ajar itu"
Rukia mengedikkan bahunya cuek. "Ichinose-senpai tidak perlu tahu."
"Apa ini pelampiasannmu karena perasaanmu pada Ichinose Maki tidak terbalas?" Grimmjow terkekeh.
"Diam, bodoh! Itu kan dulu, ketika kita masih SD! Namanya juga cinta monyet…"
Grimmjow mengabaikannya. "Aku iri si Kurosaki-Kurosaki ini bisa memakan masakanmu setiap hari."
Mendengar ucapan Grimmjow barusan, tiba-tiba Rukia mendapat ide. "Kenapa tidak? Kau mau tidak datang ke apartemen Ichigo untuk menjemputku?"
Grimmjow menyeringai. "Apa kita akan berkencan?"
Untung saja Rukia sudah kebal dari jurus-jurus Grimmjow. "Aku akan membungkuskan masakanku untuk kita makan di alun-alun Karakura."
Grimmjow tersenyum melihat antusiasme di mata mantan pacarnya yang cantik itu. Mata, ekspresi, dan sikap yang mengingatkannya akan mengapa ia dulu mau-mau saja mempertaruhkan keselamatan jiwanya dari Kuchiki Byakuya hanya untuk memacari adik kecilnya itu. "Memang kau tahu di mana alun-alunnya?"
Rukia membuang mukanya dengan arogan. "Cih, tentu saja tidak. Kan kau yang akan menunjukkan tempatnya."
Grimmjow geleng-geleng kepala. "Dasar manja. Aku juga bukan penduduk Karakura, Rukia."
"Tapi kau laki-laki. Semua orang tahu laki-laki dianugerahi sense of direction yang superior."
Kali ini Grimmjow tak bisa menahannya. Ia tertawa lalu mencium ringan kening Rukia. "Ah, Kuchiki Original. Kau tahu betul cara memperbudak seseorang tanpa mereka menyadarinya."
Rukia menepati janjinya.
Setelah melalui hari yang melelahkan dan membuat kepalanya sakit, pulang dengan disambut aroma kare yang menginvasi indera penciumannya adalah ucapan selamat datang yang sempurna dan mampu mengembalikan moodnya.
"Aku pulang!"
"Selamat datang, Pak Dokter!" Rukia balas berseru dari ruang makan. Setelah melepas sepatunya, Ichigo tak membuang waktu lagi dan segera masuk sampai ia menemukan Rukia dengan seragam kebesarannya: tutup kepala dan celemek. Tapi sepertinya ia berdandan lebih rapi…
"Baunya enak." puji Ichigo.
Rukia tersenyum. "Mau mandi dulu atau langsung makan? Aku sudah menyiapkan air panas untukmu."
Ichigo tersenyum senang. "Kau penyelamatku, Rukia."
"Bukan. Aku house keepermu."
Ichigo memberengut. "Terima kasih sudah merusak suasana."
"Sama-sama. Makan atau mandi?"
Tanpa berkata apa-apa, Ichigo langsung duduk dengan manisnya di meja makan. Ia sudah lapar dan bertekad akan menghabiskan makanan di piringnya ini dalam waktu kurang dari lima menit. Namun setelah satu suapan, Ichigo memejamkan matanya dan pikirannya langsung melayang ke sebuah tempat yang hangat, penuh kegilaan tapi sangat ia rindukan.
Rumah.
"Kau beli curry-mix di mana, Rukia?" tanya Ichigo pelan. Lalu didengarnya suara mendengus.
"Aku membuatnya dari nol. Aku tidak tahu bagaimana dengan kau, tapi aku tidak suka rasa kare yang menggunakan bumbu instan. Kurang sedap. Kurang asli." Rukia mengomel. Tangannya menggosok panci sedikit terlalu keras. Jelas dia tersinggung.
'Untuk apa pakai bumbu instan jika rasanya lebih enak kalau dibuat dari nol?'
Ibu…
Ichigo meletakkan sendoknya pelan dan diarahkannya pandangan matanya pada punggung Rukia. Si empunya punggung masih mencuci piring. Masih dengan penutup kepala dan celemek. Rambut pendeknya melambai riang seiring dengan gerakan kepalanya.
Tanpa sadar, Ichigo tersenyum lembut.
Ichigo menguap lebar-lebar. Setelah makan (dan menambah sebanyak dua kali –sial, dia curiga Rukia memang berniat membuat badannya menggemuk), Ichigo langsung ke kamar mandi. Di sana, di bath-up sudah tersedia air hangat lengkap dengan lilin aroma terapi yang sengaja dinyalakan Rukia.
Rasanya setelah keluar dari kamar mandi hanya bisa diungkapkan Ichigo lewat helaan nafas panjang yang menggambarkan kelegaan dan kenyamanan luar biasa. Kalau tiap pulang kerja dia menemukan hal-hal seperti ini, ia tak akan membutuhkan kopi untuk seumur hidupnya.
Sakit kepalanya sudah sedikit mereda. Ya, sedikit. Karena Ia masih bisa merasakan denyutan pelan namun konstan yang membuat matanya terpejam. Sudah diberi layanan ekstra dari Rukia saja ia masih pening seperti ini. Apa ini karena dia merasa terbebani, ya? Niat Inoue yang diutarakannya tadi siang membuatnya merasa bersalah karena ia tahu, ia hanya menyesatkan teman sekaligus mantan kekasihnya itu.
"Ichigo? Kau tidak apa-apa?"
Ichigo membuka matanya dan menemukan Rukia berdiri hanya semeter darinya dan memandanginya dengan dahi terlipat.
"Aku tidak apa-apa."
Rukia mengangkat satu alisnya.
Ichigo menghembuskan nafasnya, menyerah. "Oh, baiklah. Kepalaku sakit, Rukia."
Rukia hanya mengamatinya seolah-olah Ichigo adalah spesies baru yang menarik yang dihasilkan dari persilangan antara kuda dengan kambing. Setelah diam selama beberapa detik, ia mengedikkan kepalanya ke arah sofa. "Duduk." Rukia memerintah.
"Kau mau apa?" Anehnya walaupun ia bertanya seolah-olah ia waspada, Ichigo mendapati dirinya berjalan ke arah yang dimaksud oleh wanita cantik yang adalah house keepernya ini. Ia sadar seratus persen bahwa ia masih menggunakan jubah mandinya, air masih menetes-netes dari rambut oranyenya yang sedang tidak berbentuk jabrik, dan karena ia sedang pusing, ia mengikat jubah mandinya asal-asalan, sehingga dada bidangnya terlihat.
Ichigo lalu duduk, dan diam saja menunggu instruksi selanjutnya dari Rukia.
"Duduk menyamping dan bersandarlah pada sandaran tangan. Lipat kakimu. Bersila."
Ichigo melakukannya. Apa yang akan dilakukan oleh juru masak-garis miring-tukang bersih-bersihnya ini, ia sama sekali tidak tahu.
Lalu tanpa berkata apa-apa, Rukia duduk di hadapannya; sama-sama bersila. Sejurus kemudian ia mengulurkan kedua lengannya dan menempelkan jari-jarinya di kedua pelipis Ichigo.
Dan mulai memijatnya.
Ichigo mendesah. Matanya otomatis tertutup. Rasanya enak sekali. Rukia memijat pelipisnya dengan ritme teratur dan searah. Tekanan yang diberikan jari-jarinya selalu berbeda setiap putaran. Ichigo membuka matanya.
"Ya Tuhan, rasanya enak sekali."
Rukia hanya tersenyum. Tentu saja mengatakan pada Ichigo bahwa ini adalah trik yang dipelajarinya dari dokter pribadi keluarga Kuchiki tidak termasuk dalam pilihan.
"Kau suka?" alih-alih ia bertanya.
"Hm." Ichigo menggumam. "Kau penuh kejutan, Rukia." ucapnya penuh teka-teki. "Apa lagi yang bisa kau lakukan?" tanyanya parau. Suaranya turun dan menjadi rendah. Sangat rendah sehingga Rukia bisa mendengarnya hanya karena mereka sedang duduk berhadapan.
Rukia tidak menjawab dan kesunyian yang dihasilkan oleh absennya suara wanita itu digunakan Ichigo untuk mengamati wajahnya.
Rambut pendek yang tampak sangat lembut terurai sempurna membingkai wajahnya yang berbentuk hati. Sejumput rambut yang keras kepala jatuh di antara kedua matanya yang besar, yang berwarna violet keabuan. Mata yang dingin—tidak, mata yang menenangkan, yang menyejukkan. Bulu mata yang panjang dan lebat dan sangat gelap sehingga membuat matanya menjadi jauh lebih dramatis. Hidung mungilnya. Bibirnya yang pink…
'Siapa kau, Rukia? Apa kau pikir aku akan percaya bahwa gadis secantik dirimu—belum lagi hal-hal yang bisa kau lakukan—bekerja padaku sebagai house keeper?'
"Rukia…", panggilnya lirih. Rukia tak menyadari bahwa ia telah menghentikan pijatan-pijatannya.
"Hmm?" Ia menggumam lembut. Tanpa sadar wanita berambut hitam legam itu memajukan wajahnya sedikit.
"Kau—"
Dan Ichigo tidak bisa menjelaskan apakah ia harus lega atau kesal luar biasa pada suara bel yang menginterupsi mereka berdua.
"Oi, Ruuuu-kia!"
Ichigo mengernyit mendengar suara pria yang berteriak-teriak dari balik pintu, memanggil nama house keepernya. Ichigo menyipitkan matanya.
"Ah, Ichigo. Maaf aku belum memberi tahumu. Aku… tadi bertemu teman lama di kereta dan kami berjanji untuk makan malam."
Saat itulah Ichigo ingat. Rukia memang sedikit berdandan malam ini. Ia memakai gaun sederhana berwarna biru muda yang panjangnya mencapai lutut. Bibirnya terpoles lipgloss bening tanpa warna (yah, bukan berarti Ichigo tahu macam-macam lipgloss, sih). Dan dengan mengabaikan kepalanya yang masih nyut-nyutan (untungnya sudah jauh berkurang), Ichigo berjalan ke arah ruang tamu dan membuka pintu.
Dan sesosok pria bertubuh atletis berambut biru menyambutnya.
"Oh. Kau bukan Rukia." Senyum di wajah pria itu langsung kuncup.
"Memang bukan. Kau siapa?" tanya Ichigo. Ia mengamati pria sok keren itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. 'Cih, dia pikir dia menarik ya?'
"Grimmjow Jaegerjaquez; teman kencan Rukia yang cantik."
A/N: Whoa! Grimmjow! WHY U SO SMEXY? Oi, kalian! When will you stop being so nice and sweet? Review kalian selalu bikin saya senyam senyum. Dan oh, saya belom proof-reading lagi. Kalau ada typo, kasih tau ya? Nanti saya benerin.
tifva: Naah. Apakah ini sudah lebih panjang?
ChappyBerry Lover: benarkaaaahh? Wah, makasiiiih! Oi, Byakkun! You see this?
shia naru: tiap chapter nanti ada sedikit-sedikit hint soal latar belakang kaburnya Rukia.
Chadeschan: padahal awalnya mau liat itu 49 Days tapi kok ternyata menurut beberapa reviewer, ceritanya sad ending -"
shinshi: Madesu? Shinshi! Teganya2nya bilang begitu! Kira-kun iz a badass. Yosh!
gilbird: waah, leganya kamu suka. Makasiiiih
