"Jinjjayo? Kim Wonshik saranghae"

"Nado saranghae. Joahae"

"Ehem. Bisakah kalian sudahi aktivitas lovey doveynya? Aku merasa sedikit mual disini"

"Maafkan aku Junnie ehehehe makanya kau segera berpacaran dengan Jaebum. Jaebum, kapan kau segera menyatakan perasaanmu kepada sahabatku ini. Aduh! Mwoya. Kau kasar sekali Junnie"

"Kau bicara apa sih! Akan kujambak rambutmu lagi"

"Secepatnya" Jawab Jaebum singkat dan pelan, namun dapat didengar oleh ketiganya yang lain.

*BLUSH*

[Chapter 4]

"A-aku pamit duluan. Annyeong~"

"Aku juga pamit duluan. Aku akan menemani Junior. Hongbin, Ravi hyung, aku duluan. Annyeong"

"Ne, annyeong Jaebum-ah. Sms atau telepon hyung jika kau membutuhkan saran lagi"

"Kau sepertinya terlibat suatu pembicaraan serius dengan Jaebum. Sebenarnya kau merahasiakan apa chagi?"
"Jaebum meminta saran kepadaku untuk mendekati Junior. Kurasa mereka sedang terlibat cinta tetangga"

"HAHAHAHA! ORANG MACAM KAMU MEMBERIKAN SARAN UNTUK JAEBUM? HAHAHAHA! AH TOLONG PERUTKU SAKIT AHAHAHA HAHAHAHA! BAGAIMANA BISA KAU MENASIHATI JAEBUM, SEMENTARA KAU SELALU DATAR DALAM MENJALANI HUBUNGAN DENGANKU? AHAHAHA"

"Kecilkan suaramu, Binnie.. Jangan permalukan kekasihmu ini"

"Ah maafkan aku. Hiks, ah mataku sampai berair. Kau lucu. Ya semoga saja kau memang bisa memberikan nasihat yang benar dan tak menyesatkannya ahahahaha. Sudahlah, mari kita pulang"

Sepanjang perjalanan, Hongbin tak henti-hentinya menertawakan tingkah kekasihnya yang menurutnya bodoh itu. Konyol memang, ia bertingkah seperti pakar cinta. Sedangkan urusan percintaannya dengan Hongbin selalu datar bahkan sudah beberapa kali Hongbin berniat memutuskan Ravi. Namun, karena kasihan dengan ekspresi menggelikan Ravi pada saat Hongbin memutuskannya, iapun menjadi tak tega dan memilih untuk mempertahankan hubungannya dengan kekasih larvanya itu"

"Park Jinyoung, tunggu aku. Pelankan sedikit langkahmu"
"Ada apa Jae? Aku sangat lapar, aku butuh makan. Itulah sebabnya aku berjalan sedikit tergesa-gesa. Apa kau sudah makan siang?"
"Belum"
"Bagus. Kau berhutang denganku. Kau harus mau menemaniku makan siang. Aku yang traktir kali ini. Bagaimana?"
"As you wish, princess"
"BERANI KAU MENYEBUTKU PRINCESS LAGI AKAN KUPATAHKAN LEHERMU IM JAEBUM!"

"Yes, I love you too. Kajja, aku sudah sangat lapar. Kita makan di kedai ramyun dekat kampus saja"
"SIAPA YANG BERKATA I LOVE YOU KEPADAMU IM JAEBUM. ARGH!"

"Baru saja kau mengatakannya kekeke maafkan aku. Kau menggemaskan jika sedang marah seperti ini. Kejar aku jika kau bisa wleee"

"YAAA IM JAEBUM! TUNGGU AKU"

Youngjae dan Hyuk rupanya sedari tadi sudah mengawasi aksi mereka berdua dibalik dinding persembunyian. Terlintas sedikit ide licik guna membuat hati Junior terbakar cemburu.

"Akan kubuat kau membenci Jaebum, Junior Park"

Jaebum berlari dengan menengok ke belakang tanpa memperhatikan arah depan, sementara itu dari arah berlawanan Youngjae datang dan dengan sengaja menabrak Jaebum. Jaebum yang tenaganya jauh lebih kuat dari Youngjae tanpa sengaja menabraknya hingga Youngjae terjatuh dengan posisi Jaebum menindihnya. Sedikit seringaian muncul di bibirnya saat Junior menghampiri mereka dan melihat sendiri aksi tindih yang dilakukan Jaebum dan Youngjae. Hyuk tak kalah liciknya dengan Youngjae. Ia mendekati Junior dan menghasutnya.

"Bodoh sekali kau, Park Jinyoung. Kau hanya dipermainkan Jaebum. Ia menyukaimu? Jika ia menyukaimu, mana mungkin ia menindih Youngjae di pinggir jalan yang seramai ini? Kau bisa melihatnya. Benar-benar lelaki brengsek hmm?"

"Tutup mulutmu, Han Sanghyuk. Kuperingatkan"

"Jarak bibir mereka berduapun hanya hitungan sentimeter. Jika aku jadi kau, aku akan pergi dari sini, merutuki sikap pecundangku di kamar dan tak akan menampakkan diri di hadapan Jaebum kembali"

*PLAK*

"SUDAH KUBILANG TUTUP MULUTMU HAN SANGHYUK! AKU TIDAK BUTA! TANPA KAU SURUH AKU AKAN PERGI DARI SINI. KALIAN BERDUA UKE JA***G!"

"Jaga ucapanmu, Jinyoungie. HAHAHA"

Junior meninggalkan mereka dengan satu tamparan keras di pipi Hyuk. Jaebum yang menyadari bahwa Junior melihat aksi salah paham ini bergegas bangun dan mengejar Junior. Sementara kedua sahabat itu hanya bisa memamerkan seringaian licik karena rencana mereka berjalan dengan lancar.

"Rencana pertama berhasil. Akan kubuat kau menderita, Park Jinyoung"

"Park Jinyoung. Ya! Tunggu aku. Dengarkan penjelasan aku. Ini hanya salah paham"

"Cukup, Jae. Aku mohon. Cukup. Hiks. Aku tak mau bertemu denganmu lagi. Aku. Aku.. Hiks. Aku ingin kau jangan menemuiku lagi. Bahkan jika kita harus bertemu secara tidak sengaja, anggap diantara kita tidak ada yang saling kenal. Hiks"
"Dengarkan aku. Yang tadi hanya salah paham. Aku hanya berlari dan menengok kearahmu. Aku tak melihat jika ada Youngjae di hadapanku. Kami hanya bertabrakan, dan terjadilah hal itu"
"Hanya? Kau bilang aksi tindih itu sebagai "Hanya"?! Kau tahu mereka kan? Mereka seperti dua orang yang haus sex dengan semua mahasiswa di kampus ini! Dan kau target mereka saat ini!"

"Dengarkan aku. Kita berada di pinggir jalan ramai, orang-orang melihat kita. Kumohon tahan emosimu. Ikut aku, kita bicarakan baik-baik"
"Lepaskan! Aku tak butuh genggaman tanganmu, bajingan! Aku sudah tak lapar lagi. Pergi makanlah kau bersama mereka!"

Junior segera pergi meninggalkan Jaebum. Sepanjang perjalanan ia hanya bisa menangis, tanpa mempedulikan orang-orang yang melintas bergantian menatapnya. Ia hanya ingin segera sampai di apartemennya dan leluasa menangis semalaman.

"IM JAEBUM AKU BENCI KAMU! HIKS.. APPA. EOMMA… JAEBUM JAHAT KEPADAKU. HIKS.."

Junior hanya menangis dan menangis hingga ia melupakan waktu makan siang dan makan malamnya. Ia sengaja mematikan handphonenya. Ia benar-benar ingin menghindar dari Jaebum. Ia ingin segera menghilangkan perasaannya kepada Jaebum. Belum ada kata resmi jadian saja Jaebum dengan mudahnya membuat hatinya terluka, bagaimana jika nanti berpacaran? MENGAPA ia ditakdirkan bertemu jika harus mengakhiri pertemuannya dengan Jaebum dengan cara seperti ini?

Sudah lebih dari 8 jam Junior terus menangis hingga menyebabkan kedua matanya membengkak dan sedikit kesusahan untuk membukanya. Ia melirik ke arah jam dinding di kamarnya, sudah pukul 11 malam. Tak ada salahnya jika mandi jam segini, supaya sedikit menghilangkan beban pikirannya. Ia bergegas mengambil handuk yang ia jemur di balkon. Belum sempat ia membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon, ia mendapati Jaebum sedang di balkon kamarnya. Nampak ia sedang murung dan sesekali dari gerakannya seperti sedang menelepon seseorang. Youngjae kah? Gumamnya. Atau dirinya? Persetan dengan itu semua. Junior benar-benar marah bahkan kehilangan akal sehat hingga harus menggunakan kalimat-kalimat kasar. Dengan cuek ia segera keluar untuk mengambil handuk. Keduanya sempat saling bertatap muka untuk beberapa saat sebelum Jaebum yang berinisiatif memulai pembicaraan.

"Gwaencanha? Matamu terlihat bengkak sekali. Kumohon berhentilah menangis, dan makanlah. Kau terlihat suram. Aku tak mau kau sakit. Junior, kumohon makanlah"

"Hmm oke baiklah. Tak menjawab. Maafkan aku, Jinyoungie"

Sakit. Ucapan Jaebum benar-benar hanya dianggap angin oleh Junior. Jangankan menjawabnya, mengangguk saja tidak.

"Akan kutelepon Ravi Hyung. Yoboseyo?"

"Yoboseyo? Ne Jaebum-ah, ada apa kau meneleponku selarut ini?"
"Begini hyung, tadi siang aku dan Junior berniat makan siang bersama di kedai ramyun dekat kampus. Aku menggodanya dan ia marah lalu mengejarku. Aku terlalu asyik berlari dan tak menyadari ada Youngjae di hadapanku. Kami bertabrakan, dan aku menindih Youngjae di pinggir jalan. Tapi sungguh hyung, percayalah kepadaku, aku tak berniat menindihnya. Ini hanya salah paham dan murni sebuah kecelakaan. Junior melihatnya lalu pergi. Ia marah terhadapku, bahkan menangis hingga menyebabkan kedua matanya bengkak. Hyung, kumohon bantu aku. Hidupku benar-benar hancur melihat orang yang aku sayang dalam keadaan mengerikan seperti itu"

"Siapa itu, chagi?"
"Sebentar Jaebum-ah. Ini Jaebum, sayang"

"Loudspeaker pembicaraan kalian. Aku ingin berbicara kepadanya. Ne Jaebum-ah, Hongbin imnida"
"Ne hyung. Aku mendengarmu"
"Aku tak sengaja mendengar pembicaraan kalian berdua. Aku tak kaget dengan masalah ini. Kedua sahabat itu memang licik. Dulu mereka bertingkah yang sama terhadapku. Ia berusaha menghancurkan hubunganku dengan Ravi. Kau tenang saja, urusan Junior aku yang tangani. Besok pagi aku akan membujuknya. Sebaiknya kau beristirahat karena hari sudah dan Ravi juga sudah lelah"

"Kau dengar itu, Jaebum-ah? Kami lelah, kami butuh istirahat"

"Baiklah, terima kasih hyung. Tunggu. Bagaimana bisa kalian berdua berada dalam satu kamar? Bukankah rumah kalian jauh? Jangan-jangan…"

"TIDAK SEPERTI YANG KAU PIKIRKAN, IM JAEBUM. KUTUTUP NE? PPYONG~"

Hongbin tak menekan tombol end call dengan benar, menyebabkan Jaebum dapat mendengar sedikit percakapannya dengan Ravi.

"Ya! Kim Wonshik! Bagaimana bisa kau ingin membocorkan aksi kita tadi ha?! Ingin kupatahkan little brothermu?"

"Mwoya.. Memang kau sudah lelah kan? Baru kuberi dua ronde saja kau sudah mohon untuk aku menghentikannya. Kau tahu, aku bahkan belum sempat menyampai klimaksku"

"YA KIM WONSHIK!"

"Maaf tak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Dasar kalian pasangan byuntae. Kututup ne? Annyeong!"

"…"

"….."

"…"

"JAEBUM MENDENGAR PERCAKAPAN KITA! AAAAAA!"

Keesokan harinya, Hongbin menemui Junior yang nampak duduk menyendiri seolah menghindar dari keramaian kampus. Ia sangat sedih melihat kondisi sahabatnya itu. Kedua mata yang seharusnya berbinar kini nampak bengkak. Wajah yang selalu ceria kini nampak sedih. Bibir manis yang selalu melukiskan senyum kini nampak murung seolah senyuman sudah bukan dari bagian bibir Junior. Dengan hati-hati Hongbin mendekatinya dan memulai obrolan. Sudah menjadi kebiasaan jika salah satu dari mereka sedang mengalami suatu masalah, mereka tak segan menjadi tempat saling berbagi bahkan tempat saling menumpahkan air mata. Itulah guna sahabat yang sejati, menurut mereka.

"Junnie, gwaencanha? Kau nampak tidak sehat hari ini"

Sebenarnya Hongbin sudah mengetahuinya, tetapi ia ingin Junior sendiri yang menceritakannya jujur kepadanya.

"Kongie.. Hiks.. Jaebum jahat kepadaku. Hiks.. Aku-aku.. Membencinya. Aku tak ingin menemuinya lagi. Ia berselingkuh, ani. maksudku ia memamerkan kemesraannya bersama Youngjae kepadaku. Padahal aku pikir selama ini ia menyukaiku dan melakukan berbagai usaha untuk mendekatiku. Kau tahu, disaat aku mulai merasakan cinta dan aku pikir Jaebumlah orang yang tepat, Jaebum sendiri juga yang membuat aku hancur. Aku.. Lelah. Hiks. Aku ingin berhenti mengenal cinta"

"Kemari, kupeluk kau Junnie. Sst, menangislah selama apapun yang kau mau, tapi kumohon jangan membenci Jaebum. Kau sudah menaruh perasaanmu di orang yang tepat. Hanya saja kalian berdua masih malu-malu untuk mengakuinya"

"Maksudmu? Bercandamu tak lucu"

"Aku tak bercanda. Semalam Jaebum menelepon Ravi malam setelah kalian bertatap muka sesaat"

"Apa yang kau lakukan bersama Ravi?"
"Itu bukan urusanmu... Jadi kulanjutkan ceritanya atau tidak? Kalian berdua benar-benar ingin mengetahui segala aktivitasku dan Ravi eoh?"

"Bukan begitu hahaha lanjutkan ceritamu"

"Kemudian aku menyuruh Ravi untuk mengaktifkan loudspeaker agar aku dapat mendengar percakapannya. Ia bercerita banyak tentangmu, termasuk hal yang membuat kalian bertengkar hebat seperti ini. Itu hanya salah paham. Kau dengarkan aku, seorang sahabat mana mungkin ingin sahabatnya salah dalam memilih pasangan. Aku punya perasaan kuat jika Jaebum benar-benar sayang dan serius kepadamu. Itu hanya murni salah paham. Kau tahu sendiri bagaimana sikap Youngjae dan Hyuk. Bisa saja itu ide licik mereka yang ingin membuat kalian menjauh kan? Ayolah, Jaebum benar-benar hancur tanpamu. Jangan kokohkan pendirianmu soal ini. Kau harus dengarkan nasihat sahabatmu. Aku tak akan menjerumuskan kau ke orang yang salah"

"Hmm baiklah. Tapi.."

"No excuse. Kau harus menemuinya sekarang. Ada hal yang ingin ia bicarakan kepadamu"
"Aku takut. Aku malu jika harus memulai percakapan dengannya"

"Apa kalian mencariku?"

Tiba-tiba sosok yang sedari tadi mereka bicarakan muncul. Deg. Junior begitu gugup menatap Jaebum. Entah mengapa aura ketampanannya meningkat seribu kali lipat pagi ini, walaupun menurutnya Jaebum selalu tampan setiap hari.

"Baiklah, kutinggal kalian berdua. Kalian butuh sedikit privasi kan. Aku menemui Ravi dahulu. Junnie, nanti kabari aku jika kalian sudah selesai. Jaebum, jangan kau buat Junior menangis lagi atau akan kubenturkan gigimu ke tanah"

"...Baiklah"

"Junior, dengarkan aku. Aku minta maaf soal kemarin. Sungguh itu hanya salah paham. Kumohon percaya kepadaku"

"Jaebum.. Aku-aku... Aku juga minta maaf sudah membentakmu kasar kemarin. Hongbin bercerita banyak kepadaku. Ia menceritakan semuanya. Maafkan aku membuatmu hancur"

"Maafkan aku juga. Gara-gara aku, kamu harus menangis hingga menyebabkan matamu bengkak. Kau bahkan melupakan makan siang dan malammu. Jeongmal mianhae"

"Ne gwaencanha"

"Terima kasih sudah menampilkan senyum itu lagi di bibirmu. S-sarangh.."

*Phone's Ringing*

SIAL! Siapa yang menelepon dan menghancurkan acara confessionku?! Gumam Jaebum dalam hati.

*PRIVATE NUMBER*

"Yoboseyo? Yoboseyo? Ya! Siapapun engkau, jangan mempermainkanku. Kau sedang mengganggu kegiatanku"

Sementara dibalik tembok..

"Kugagalkan rencanamu, Im Jaebum. Han Sanghyuk, kita berhasil lagi. HAHAHA!"
"Kau yang terbaik, Youngjae-ya!"

"Panggil aku hyung!"

[Flashback]

"TOILET MANA TOILET?! AHHHH!"

Ravi yang baru saja tiba di kampus mengalami morning sick. Perutnya tiba-tiba sakit menyebabkan ia tergesa-gesa menuju toilet. Ia langsung masuk dan meletakkan tasnya di pintu depan bilik toiletnya. Youngjae dan Hyuk yang pada saat itu sedang berada di toilet untuk merapikan dandanan mereka tiba-tiba memiliki ide licik. Mereka membuka tas Ravi begitu mendengar bunyi notifikasi chat bbmnya. Youngjae bergegas mencari nomor Jaebum dan menyimpannya di kontak handphone miliknya sendiri sementara Hyuk bertugas mengawasi di depan agar tak ada orang yang melihat aksi mereka.

"Ya! Hyung! Makan apa kau semalam eoh? Bau sampah tercium hingga ke luar!"
"Bukan urusanmu, Youngjae-ya. Ahhhh lega sekali" *BROOT BROTT BROTT*

"HYUNG! Aku bisa mati menggemaskan bila harus menghirup bau pembuanganmu. Hoek. Kutinggal!"

Youngjae yang sengaja mengalihkan perhatian Ravi agar ia tak mendengar bunyi retsleting tasnya dibuka dengan kilat meletakkan kembali handphone milik Ravi dan bergegas keluar untuk menjalankan misinya.

[Flashback End]

*TBC*

Halo semua, maaf author lama update. Karena habis UTS dan sedikit diliputi rasa malas untuk mengetik(?) Maaf banget untuk iGOT7 dan Starlight, khususnya Youngjae dan Hyuk biased karena membuat idol kalian jadi peran antagonis disini. Padahal wajah mereka aslinya menggemaskan.. Author memang sedikit bingung mau pake siapa yaudah terlintaslah mereka. Niatnya mau pake coco, tapi coco terlalu kecil(?) Reviewnya selalu ditunggu, tapi dimohon dengan hormat, jangan review dengan kalimat yang tak sopan ya. Nanti kalian akan dibentak Hongbin (?) Chapter selanjutnya akan diselesaikan secepatnya. Thankyou~~