Falling In Love

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Typo, Fanon, AR dan AH

읽어보시기바랍니! ^^

Selamat membaca! ^^

.

.

Chapter 3: Dilema

Malam semakin larut, udara semakin dingin sampai menembus kulit ke tulang-tulang. Sakura yang hanya memakai jaket dengan celana pendek merasa kedinginan. Dia memaksakan senyumnya pada pengunjung mall yang hendak keluar dari parkiran. Sesekali dia melirik Sasori di sampingnya yang sibuk bekerja dengan menchecklist karcis parkir.

Walaupun Sakura merasa kedinginan, dia patut bersyukur malam ini karena usahanya tidak sia-sia. Dia bisa bertemu dengan Sasori bahkan dia sekarang berada di sampingnya walaupun hanya untuk berkerja. Dia harus berterimakasih kepada Deidara yang mendadak sakit diare.

Sakura lagi-lagi melirik Sasori di tengah pekerjaannya. Merasa terus diperhatikan, Sasori membuka mulutnya dengan masih terus menchecklist karcis parkir milik para pengunjung.

"Kenapa terus melirikku? Aku tahu kalau aku ini tampan." Para pengunjung yang kebetulan mendengar ucapan Sasori pada terkikik sambil memandang Sakura.

Sakura yang ketahuan, jadi malu sendiri apalagi saat para pengunjung itu menatapnya dengan tatapan menggoda. Sakura buru-buru mamalingkan mukanya untuk menutupi rona merah di wajahnya. Sasori terkekeh melihat tingkah Sakura.

"Tch. Narsis banget dia!" desis Sakura yang sudah membuang mukanya sambil menchecklist karcis seorang pengunjung berambut hitam panjang dengan mata seperti ular.

"Dia memang tampan kok dan dia pantas untuk narsis. Kekeke…" Sakura tersenyum kikuk melihat pengunjung yang bicara tadi padanya.

'Menyeramkan.' Begitulah batin Sakura.

Akhirnya pengunjung sudah mulai sepi karena waktu menunjukkan pukul 10.00 malam dan mall siap untuk di tutup. Sakura duduk di tepian tempat parkir sambil mengusap-usap tangannya yang kedinginan. Tiba-tiba ada sepasang kaki di depannya membuat Sakura mendongak melihatnya.

Sakura melihat Sasori yang berdiri di depannya sambil membawa dua cup cokelat panas. Sasori duduk di samping Sakura lalu memberikan satu cup cokelat panas untuknya.

"Terima kasih," ucap Sakura sambil menghangatkan kedua telapak tangannya di cup cokelat itu.

"Hn," jawab Sasori sambil menyeruput cokelat panas.

Entah kenapa duduk di samping Sasori dengan jarak yang sangat dekat ini membuat jantung Sakura berdegup dua kali lebih cepat. 'Astaga! Dia baik sekali sampai membelikanku cokelat panas ini! Beruntungnya aku!' inner Sakura sambil melompat-lompat senang. Sedangkan aslinya mengalihkan mukanya ke arah lain sambil senyum-senyum gaje.

Sasori melirik Sakura dan dia dapat melihat Sakura yang sedang senyum-senyum sendiri. Sasori tersenyum geli melihatnya. 'Gadis yang benar-benar aneh,' ucap Sasori dalam hati.

Sasori berdehem hingga membuat Sakura kembali normal dengan tidak senyum-senyum sendiri. "Kenapa tidak diminum cokelat panasnya? Kau kira aku memberikannya secara cuma-cuma?" tanya Sasori.

"Hah?" Sakura menolehkan mukanya menatap mata Sasori. Sasori sedikit terkejut dengan tatapan polos Sakura. Sasori terpukau dengan jernihnya mata Sakura dan seolah merasa damai memandang warna mata yang sama dengan batu giok itu. Sekilas ada garis-garis merah di pipinya.

Setelah menguasai keterkejutannya, Sasori mengalihkan matanya agar tidak bertatapan dengan mata Sakura.

"Kau harus bergantian mentraktirku nanti," ucap Sasori sambil berdiri dan meninggalkan Sakura yang duduk mematung mendengarnnya.

Setelah beberapa detik terdiam membeku memandang punggung Sasori yang semakin menjauh, akhirnya Sakura mengerti apa yang dimaksudkan Sasori tadi. Sakura berdiri dan melompat-lompat saking senangnya.

"Yeah! Kami akan bertemu lagi!" seru Sakura senang, lalu dia buru-buru berhenti melompat dan menutup mulutnya yang tadi berseru sedikit keras.

Sakura memukul mulutnya sendiri yang teramat berisik. "Bodoh! Nanti kalau dia dengar, bagaimana?" Sakura melihat Sasori yang terus berjalan, "syukurlah dia tidak mendengarnya," kata Sakura sambil senyum-senyum gaje memandang Sasori.

Sasori yang sedang berjalan mana mungkin tidak mendengar suara Sakura yang lumayan keras tadi. Dia mendengar semua yang Sakura ucapkan tadi. Diam-diam Sasori menaikkan kedua sudut bibirnya sehingga melengkung ke atas.

~FALLING IN LOVE~

Besoknya Sakura kembali lagi menuju Konoha Mall. Kali ini dia datang setelah pulang kuliah dan latihan dance. Sakura dengan matiknya menuju tempat parkir dengan senyum ceria. Membuat beberapa orang ikut tersenyum membalas senyuman hangat Sakura.

Sasori melihat kehadiran Sakura dengan matik putihnya. Sasori tersenyum kecil melihat Sakura yang tampak sangat ceria. Sasori menghampiri Sakura yang sedang memarkirkan motornya.

"Apa kau ada urusan lagi ke sini?" tanya Sasori.

Sakura terlonjak kaget mendengar suara Sasori yang tiba-tiba. Dia segera memasang cengiran lebarnya sambil menatap Sasori.

"Aku akan mentraktirmu minum cokelat hangat hari ini!" seru Sakura.

Sasori mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban Sakura. "Tapi udara sore ini tidak terlalu dingin jadi kurang cocok untuk minum cokelat panas," jawabnya membuat ekspresi Sakura sedikit murung.

"Ah… benar juga." Sakura memainkan tas selempang yang disampirkan di pundaknya dengan lesu.

Karena Sasori tidak enak melihat perubahan ekspresi Sakura, Sasori pun memutuskan hal lain. "Tapi jika kau mau menunggu, nanti malam pasti dingin dan cocok untuk minum cokelat panas."

Seketika itu juga wajah Sakura kembali mendongak dan menatap mata Sasori dengan ceria. Sasori mengalihkan matanya agar tidak bertemu lagi dengan emerald yang indah itu.

"Benarkah?" tanya Sakura dengan semangat.

"Ya, itu juga kalau kau mau," jawab Sasori sambil berjalan meninggalkan Sakura.

"Tentu saja aku mau!" teriak Sakura dengan riang. Lagi-lagi Sakura membuat Sasori kembali tersenyum.

'Sepertinya semua akan kembali menghangat seperti dulu,' batin Sasori sambil menuju tempat kerjanya lagi sambil menyentuh dada kirinya.

Sakura sangat tidak sabar menunggu malam tiba. Dia sedang duduk di dekat pohon yang kemarin dia pakai untuk bersembunyi. Dari sana, dia terus memerhatikan Sasori yang sibuk bekerja dengan temannya yang berambut pirang.

Malam pun tiba, Sakura melirik jamnya, waktu sudah menunjukkan pukul 07.05 malam. Sakura merasa perutnya kerucukan minta dikasih makan, tapi dia tidak mau makan kalau sendirian, dia mau makan malam bersama Sasori.

Sakura melirik jamnya lagi, masih ada tiga jam sebelum waktunya Sasori untuk pulang. 'Aku harus kuat menahan lapar!' batinnya sambil membalikkan badan yang tadi sedang memandang Sasori.

Sakura memandang langit gelap yang hanya dihiasi oleh bulan sabit. Sakura mengelus perutnya yang lagi-lagi berbunyi kelaparan. Sebuah benda menyentuh paha Sakura dan Sakura langsung melihat ke pahanya, ada box putih di atas sana.

Sakura menolehkan kepalanya ke kanan dan melihat Sasori yang sedang duduk di sampingnya sambil memegang box yang sama.

"Makanlah, aku tahu kau pasti lapar." Sasori bicara sambil membuka box makanan.

'Ya Tuhan! Sasori-kun baik sekali padaku! Dia tahu saja kalau aku sedang lapar.' Inner Sakura berteriak kegirangan sedangkan aslinya menatap Sasori tanpa berkedip sedikit pun.

"Kenapa terus menatapku? Cepat makan, nanti keburu dingin!" perintah Sasori sambil memutar kepala Sakura untuk melihat ke box-nya.

"Terima kasih," ucap Sakura sambil menunduk melihat box styrofoam di pangkuannya dengan wajah merona. 'Dia perhatian sekali padaku! Kyaaaa!' jerit inner Sakura.

Sasori hanya tersenyum memerhatikan Sakura yang merona. Sejak awal gadis dengan rambut aneh tersebut sudah membuatnya tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Namun dia menepis semua harapan untuk dekat dengan gadis ini karena dia tahu ketika pertama kali bertemu, gadis ini sudah bersama pria lain, dan dia juga sadar bahwa dia bekerja hanya sebagai petugas parkir.

Tapi takdir berkata lain. Dia tidak menyangka kalau gadis ini ternyata muncul lagi di depannya. Entah secara kebetulan atau apa, semua kejadian akhir-akhir ini membuatnya semakin dekat dengan gadis ini. Bolehkah dia menyimpan kembali harapannya?

"Sasori-san," panggil Sakura hingga membuat lamunan Sasori buyar semua.

"Ya?" jawab Sasori.

"Bagaimana cara aku membalas kebaikanmu ini?" tanya Sakura sambil menatap Sasori yang sedang asik mengaduk-aduk makanan.

"Cukup dengan menraktirku nanti dengan makanan yang sama," sahut Sasori sambil menyuap makanannya.

"Berarti kita akan bertemu lagi?" tanya Sakura.

"Jika kau tidak mau bertemu lagi ya tidak masalah." Sasori melirik Sakura tajam.

"Tentu saja aku mau! Mulai sekarang kita berteman, ya Sasori-kun!" seru Sakura sambil memeluk Sasori hingga membuat Sasori tersedak karena kaget.

"Uhuk uhuk! Bodoh! Jangan tiba-tiba memelukku!" omel Sasori.

"Maaf, Sasori-kun…" Sakura menyodorkan air minum pada Sasori.

Setelah Sasori meminum air, dia kembali melanjutkan kegiatan makannya. Sakura memandangi Sasori yang sedang makan. Dari cara dia menyendok nasi, memotong daging, menyampurkan dengan sayur hingga sampai Sasori menyuap makanan tersebut. Rasanya hal kecil seperti itu saja membuat Sakura senang. Atau berada di dekat Sasori yang mampu membuatnya merasa senyaman dan semenyenangkan ini? Sakura tersenyum lembut memandangnya.

Sasori sadar kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Sakura. 'Apa sih menariknya memerhatikan orang yang lagi makan? Kenapa dia sampai senyum-senyum begitu?' batin Sasori. Bersyukurlah Sasori pada gelapnya malam karena Sakura tidak menyadari kalau pipnya sudah tercoret dengan garis-garis merah.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Sudah saatnya Sasori pulang, tapi dia ingat Sakura masih menunggunya di tempat tadi. Sasori langsung menuju ke sana dan dia melihat Sakura yang tertidur di kursi kayu tersebut.

Sasori mendekati Sakura yang tertidur dan menyentuh pundak Sakura untuk membangunkannya. "Hei, bangun!"

Karena Sakura tidak bangun-bangun, Sasori sedikit mengguncangkan tubuh Sakura hingga yang tadinya Sakura menunduk menjadi mendongak dalam keadaan masih tertidur. Sasori tercengang melihat wajah malaikat Sakura, matanya benar-benar terhipnotis sekarang melihat wajah Sakura.

Sasori menelusuri lekukan wajah Sakura dengan matanya. Jidat yang agak lebar, alis yang rapi, bulu mata yang lentik, hidung mancung, pipi yang agak tembem, dan bibir ranum berwarna merah muda. Entah apa yang merasuki otaknya, Sasori mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Dapat Sasori rasakan hembusan perlahan napas Sakura yang sedang tertidur. Sedikit lagi bibir Sasori akan menyentuh bibir ranum Sakura, namun mata Sakura perlahan bergerak untuk membuka matanya. Sasori segera menjauhkan mukanya.

"Nggghh…" Sakura mengerang sambil membuka matanya dan menguap. Tak lama kemudian dia melihat Sasori yang berdiri di depannya. Sakura yang sedang menguap buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangannya. 'Aduh rasanya malu banget!' suara Sakura dalam hatinya.

"Sudah puas tidurnya?" tanya Sasori. Sakura menjawab dengan cengar-cengir gaje.

"Tch." Sasori membalikkan badannya dan berjalan pergi dengan suara hati yang bergemuruh. Sakura segera mengejarnya.

"Sasori-kun, kita jadi minum cokelat panas kan?" Sakura menyejajarkan langkah kakinya dengan Sasori.

"Sudah sangat malam, tokonya juga sudah tutup," sahut Sasori dengan cuek mencoba menutupi detak jantugnya yang berdegup dengan kencang.

"Aku tahu kok di mana took yang buka dua puluh empat jam!" Sakura segera menarik lengan Sasori menuju tempat parkir motornya. Sasori yang kaget hanya bisa menurut saja.

"Sasori-kun, kau yang menyetir!" perintah Sakura sambil memakai helmnya.

"Kau bahkan sudah membawa dua helm untukku?" tanya Sasori saat Sakura menyerahkan sebuah helm padanya.

"Jangan GR dulu! Aku memang selalu membawa helm dua karena aku suka bareng sama temanku ke kampus!" Sakura menggerak-gerakkan jari telunjuknya di depan muka Sasori.

Mau tak mau, Sasori akhirnya naik juga ke atas motor matik itu. Sakura segera menyusul naik di boncengan. Setelah itu mereka berdua pergi dari parkiran. Deidara yang tidak sengaja melihat Sasori pergi dengan seorang gadis berambut merah muda yang kemarin menggantikan tugasnya malah menganga saking terkejutnya.

~FALLING IN LOVE~

Sakura dan Sasori menyusuri jalan Konoha dengan motor matik putih milik Sakura. Hembusan angin malam menyapu kulit-kulit mereka yang terbuka. Hati keduanya membuncah bahagia meski mereka belum mau mengakuinya.

Setelah menempuh waktu sekitar sepuluh menit, mereka berdua pun sampai di sebuah kedai yang menyediakan minuman panas. Sakura membelikan dua cup cokelat panas untuk dirinya dan Sasori.

Sakura berjalan mendekat ke motornya di mana Sasori sedang duduk menunggu Sakura. Sakura tersenyum dan mempercepat jalannya. Ketika sudah mau dekat, tiba-tiba kakinya tersandung batu.

"Kyaaaa!" teriak Sakura yang hampir terjatuh namun dengan tanggap Sasori menahan tubuhnya hingga mereka berpelukan (lagi).

Mereka berdua saling menatap, tak ada satu pun yang melepaskan diri dari kehangatan pelukan itu. Sampai akhirnya Sasori membuka suaranya.

"Aduh! Panas! Panas!" ternyata cup berisi cokelat panas tadi menempel di dada bidang Sasori yang hanya ditutupi kaos hitam, jaketnya tidak diseletingkan.

"Kyaaa! Maaf, Sasori-kun," ucap Sakura sambil membungkuk-bungkukkan badannya.

Sasori menghembuskan napasnya setelah mengibas-ngibaskan kaosnya supaya dada bidangnya tak lagi kepanasan.

"Sudahlah, lupakan saja." Sasori mengambil satu cup cokelat panas di tangan kiri Sakura lalu berjalan dan duduk di atas matik Sakura sambil menyesapi aroma cokelat panas tersebut.

Sakura mengikuti Sasori berjalan dan ikutan duduk menyamping di jok belakang. Sakura memandang langit yang dihiasi bulan sabit.

"Sasori-kun, bagaimana rasanya?"

"Menyenangkan."

"Oh ya? Benarkah rasa cokelat panasnya menyenangkan?" tanya Sakura sambil menatap Sasori meskipun yang terlihat hanya kepala yang ditutupi topi baseball saja.

Sasori tersentak menyadari ucapannya sendiri. Mengapa dia mengira kalau pertanyaan Sakura itu mengarah ke acara mereka malam ini? Bukannya ke rasa cokelat panasnya.

"Y-ya… memang menyenangkan minum cokelat panas di udara dingin seperti ini," kilah Sasori. Sakura membulatkan mulutnya sambil mengangguk-angguk.

Sakura menyeruput cokelat panas itu kemudian dia menyenderkan kepalanya di pundak belakang Sasori. Sasori terkejut dengan itu, tapi dia berusaha mengendalikan rasa keterkejutannya itu.

Sasori tidak marah disenderkan pundaknya oleh Sakura. Dia malah merasa tidak ingin Sakura melepaskan kepalanya dari sana.

"Sasori-kun?"

"Hm?"

"Sebenarnya aku sudah punya pacar."

Deg! Hati Sasori mendadak merasa nyeri mendengarnya. Dadanya terasa kesulitan mengambil oksigen. Dadanya seperti terhimpit sesuatu. Sasori memandang datar genangan cokelat panas di dalam cup-nya.

"Kau tahu? Meskipun aku bilang aku sudah punya pacar, tapi aku merasa tidak punya pacar."

"Maksudmu?" tanya Sasori penasaran walaupun rasanya tenggorokannya sakit untuk mengeluarkan suara.

Sakura tersenyum getir memandang bulan sabit yang seperti lengkungan senyum, tapi juga seperti lengkungan kesedihan.

"Aku dan dia sudah menjalani hubungan ini selama satu tahun. Kau ingat saat pertama kali kita bertemu?" Sasori menganggukkan kepalanya, Sakura merasakan anggukan kepala Sasori dan melanjutkan, "saat itu kami atau lebih tepatnya aku ingin merayakan first annviversary kami. Tapi dia tidak ingat sama sekali.

"Dia bahkan belum pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Dia tidak pernah menghubungiku jika bukan aku yang menghubunginya. Dia tidak pernah menyapaku, memelukku, apalagi menciumku. Sampai akhirnya kami digosipkan kalau dia menerimaku hanya untuk status palsu.

"Awalnya aku menepis jauh-jauh gosip yang didengar oleh salah satu sahabatku yang menyampaikannya padaku. Tapi lama-lama aku menyadari sebuah kenyataan…" suara Sakura terasa bergetar sehingga membuat Sasori menengokkan mukanya ke samping dan melihat kepala Sakura yang terangkat melihat langit dengan mata yang berkaca-kaca.

"…dia tidak pernah menganggapku ada," gumam Sakura sambil menghembuskan nafas berat.

Sasori bisa mengerti apa yang Sakura rasakan. Pasti rasanya sangat tersiksa menjalani hubungan seperti itu. Hati Sasori tidak dapat menerima jika Sakura menderita batin hanya karena lelaki berengsek yang menyebabkan hijau cemerlang di mata Sakura meredup.

Sakura perlahan menyadari statusnya yang masih menjadi kekasih Sasuke. 'Apa yang terjadi denganku? Aku tidak boleh begini! Ini perselingkuhan! Sadarlah Haruno Sakura!' Sakura ingin menjauhkan kepalanya dari pundak Sasori namun suara Sasori menghentikannya.

"Datanglah padaku jika kau merasa kesepian. Aku bersedia memberikan bahuku untukmu bersandar. Dan aku bersedia mendekapmu jika kau menangis," ucapnya dengan memandang lurus ke depan. Dia pun tidak mengerti mengapa bisa mengatakan itu semua untuk gadis yang baru beberapa hari dia kenal. Tapi hatinya ingin sekali melindungi gadis di belakangnya ini.

Sakura kembali bersandar di pundak Sasori. "Terima kasih, Sasori-kun," katanya dan butiran Kristal di mata indahnya pun menetes satu persatu.

Sasori menyentuh kembali dada kiri yang jantungnya terasa memompa lebih cepat seperti habis lari sprint. Dia sudah membulatkan tekad untuk berada terus di samping Sakura.

~FALLING IN LOVE~

Sasuke sedang duduk gelisah di kursinya. Dia memandang kursi yang berada tidak jauh darinya, itu adalah kursi Sakura. Sudah seminggu dia tidak mendengar kabar Sakura, bahkan Sakura tidak masuk-masuk kelas. Ada yang mengatakan bahwa Sakura menjadi mahasiswa kelas terbang sekarang, karena Sakura sedang sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi dance.

Setelah jam kuliahnya selesai, Sasuke berjalan menuju mobil Lamborghini putihnya. Sasuke berdiam diri di dalam mobil, dia mengambil ponselnya dan memutuskan untuk menelpon Sakura, namun tidak aktif. Sasuke akhirnya frustasi. Dia benar-benar tidak mau kehilangan Sakura. Sakuralah yang selama satu tahun ini menemani Sasuke, walaupun Sasuke sudah berbuat menyakitkan padanya, Sakura tetap setia berada di samping Sasuke. Sakura selalu menanyakan kabar Sasuke sampai hal yang terkecil pun Sakura selalu memerhatikan Sasuke.

Sasuke menyesal telah menyia-nyiakan Sakura selama ini. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa dia sudah jatuh cinta pada gadis pemilik rambut sewarna dengan bunga sakura tersebut? Sasuke mencoba menepis perkiraannya tadi, namun hatinya malah menguatkan perkiraan tadi.

Sasuke menyelakan mobilnya, dan menyerah. Dia membiarkan hatinya yang akan membawanya entah ke mana nanti. Dia ingin bertemu Sakura sekarang juga. Apa ini yang dinamakan rindu? Sasuke tidak tahu, yang dia tahu seharusnya Sakura menghubunginya, memberikannya kabar, menyapanya dan selalu ada di sampingnya.

Sasuke sampai di Konoha Mall, kakinya menuntunnya masuk ke dalam mall yang sebentar lagi akan berulangtahun tersebut. Sasuke yang sekarang memakai kemeja garis-garis berwarna biru dengan dilapisi blazer abu-abu, dia juga memakai syal hitam pemberian Sakura, saat ini dia berada di dalam sebuah toko perhiasan.

Sasuke membeli sebuah kalung emas putih dengan bandul bergambar hati. Setelah selesai membayarnya, Sasuke langsung pergi dari took tersebut dan kembali menuju parkiran. Dan disaat itulah dia berpapasan dengan Sasori yang memakain seragam petugas parkir.

Sasuke sekilas bertatapan mata dengan Sasori. Sorot mata Sasuke begitu dingin, Sasori juga menatapnya dengan datar. Sasuke mengalihkan pandangannya lagi ke arah depan dan berjalan dengan gaya stoicnya menuju mobilnya yang terparkir manis di tempat parkir.

~FALLING IN LOVE~

Sudah seminggu Sakura serius berlatih dance bersama teman-temannya. Dia bahkan lupa dengan Sasuke. Otak Sakura sekarang sedang diisi oleh jadwal latihan dan seseorang yang selama seminggu ini pula ditemui olehnya, Sasori. Mereka berdua sudah berteman, walaupun yang memutuskan mereka berteman adalah Sakura duluan.

Sakura bersama Ino, Tenten, Sai, dan Naruto sedang istirahat di pinggir ruang latihan mereka. Suara pintu yang dibuka menarik perhatian kelima orang tersebut dan mereka berlima terkejut karena melihat Sasuke sedang berdiri di ambang pintu sambil memandang ke arah Sakura.

Sakura benar-benar terkejut, dia bahkan melupakan Sasuke dan yang sangat membuatnya terkejut adalah kedatangan Sasuke yang tiba-tiba ke ruang latihan mereka. Keempat sahabatnya menatap Sakura dan menyuruh Sakura buru-buru menghampiri Sasuke. Sakura pun berdiri dan menghampiri Sasuke.

"Ada apa, Sasuke-kun?" tanya Sakura setelah tepat berdiri di depannya.

"Menjemputmu pulang," jawab Sasuke datar.

Sakura menaikkan sebelah alisnya mendengar jawaban Sasuke, tumben sekali Sasuke mau menjemputnya pulang.

"Bukannya aku tidak mau, Sasuke-kun. Tapi aku masih ada latihan," ucap Sakura dengan penuh penyesalan.

"Aku tunggu." Setelah mengatakan itu, Sasuke berjalan meninggalkan ruang latihan. Sakura menganga mendengar kalau Sasuke akan menunggunya.

Setelah melihat Sasuke pergi, Ino, Tenten, Naruto dan Sai segera menghampiri Sakura.

"Apa yang dikatakan Sasuke?" tanya Ino.

"Dia pasti minta putus, ya?" tanya Sai membuat dahi Sakura berkedut.

'Mayat hidup yang satu ini memang tidak bisa mengontrol ucapannya!' batin Sakura.

BLETAK! Naruto menjitak Sai karena seenaknya saja bicara.

"Kau ada masalah denganku, Naruto?" tanya Sai dengan senyum buatannya.

"Bodoh! Jangan bicara asal-asalan seperti itu!" teriak Naruto.

"Sudah, sudah. Kalian jangan berantem!" lerai Tenten. Ino sih masa bodoh dengan kedua cowok yang lagi adu deathglare, dia begitu penasaran dengan alasan Sasuke datang menemui Sakura, maklum ratu gosip.

"Jadi, kenapa Sasuke ke sini, Saku?" tanya Ino lagi dengan muka penasaran.

"Dia bilang mau menjemputku," jawab Sakura membuat Naruto dan Sai yang tadi berantem dengan Tenten yang heboh melerai mereka pun menjadi diam terpaku mendengar jawaban Sakura.

"Yang benar, Sakura?" tanya Tenten dengan wajah shock. Sakura mengangguk membenarkan pertanyaan Tenten.

"Astaga… suatu kemajuan dari Sasuke!" jerit Ino.

Sakura hanya tersenyum kikuk, entahlah kenapa perasaannya biasa saja mendengar ucapan teman-temannya. Sakura merasa hatinya kosong, hampa, meskipun Sasuke sudah berubah seperti ini.

Setelah satu setengah jam latihan, akhirnya Sakura keluar juga dari ruang latihan. Dia segera menuju tempat parkir yang dia yakini Sasuke ada di sana. Tepat dugaan Sakura, Sasuke sedang menyandar di mobilnya dan menolehkan kepala setelah menyadari Sakura mendekat padanya.

"Ayo kita pulang, Sasuke-kun. Aku lelah sekali." Sakura mencoba tersenyum semanis mungkin pada Sasuke, tapi dalam hatinya merasa kosong dan tidak tenang. Sebenarnya setiap selesai latihan, Sakura pasti pergi ke Konoha Mall untuk bertemu Sasori, namun sepertinya malam ini dia tidak ke sana.

"Tunggu sebentar, ada yang ingin kuberikan." Sasuke membuka pintu mobilnya dan mengambil sebuah kotak berbentuk hati berwarna merah.

Sasuke membuka kotak tersebut dan menunjukkannya pada Sakura. Sakura terperangah melihat sebuah kalung dengan emas putih dan berbandul hati. Sasuke mengambil kalung tersebut dari kotaknya dan memakaikannya di leher Sakura.

"Maaf aku memberikannya telat, happy anniversary," ucap Sasuke sambil mencium pipi kanan Sakura.

Sakura membulatkan matanya mendengar ucapan Sasuke. Dia bingung harus bagaimana sekarang. Dia merasa bersalah karena seminggu ini melupakan Sasuke, tapi di lain hati dia tidak bisa membohongi perasaannya terhadap Sasori. Sakura benar-benar dilema sekarang.

Merasa ada yang aneh dengan Sakura, Sasuke bertanya, "Kau kenapa?"

"Hah? Aku tidak apa-apa kok, Sasuke-kun. Terima kasih, ya. Tapi apa ini tidak berlebihan? Aku saja hanya memberikanmu syal," Sakura pun tersadar bahwa Sasuke memakai syal pemberiannya membuatnya membeku di tempat.

"Tidak masalah, untukmu akan kuberikan apapun karena aku mencintaimu," Sasuke bicara dengan agak kikuk karena dia tidak terbiasa menyampaikan kata-kata cinta seperi itu.

Sakura terdiam mendengar pernyataan cinta Sasuke. Seharusnya Sakura senang, bukan? Tapi kenapa perasaannya datar-datar saja?

"Sakura, mau sampai kapan kau berdiri di sana? Cepat masuk!" perintah Sasuke yang sudah masuk ke dalam mobil duluan.

"Ah… iya," jawab Sakura lalu masuk ke dalam mobil. Sasuke menutup kembali kaca mobil yang tadi dia buka, lalu mobilnya melesat mengantarkan Sakura pulang.

~FALLING IN LOVE~

Sakura datang ke tempat Sasori dua hari berikutnya. Sakura sengaja menghindari Sasuke yang sekarang rajin menjemput dan mengantar Sakura pulang. Sehari saja tidak bertemu Sasori itu sangat menyiksa Sakura. Sasori pun merasa demikian, saat kemarin Sakura tidak mengunjunginya hatinya bergemuruh cemas.

Deidara mulai curiga dengan sahabatnya yang satu ini. Semenjak malam di mana dia melihat Sasori dan Sakura pergi berdua, Sasori berubah banyak. Deidara menghampiri Sasori yang sedang duduk bengong di bawah pohon maple.

"Hei! Kenapa bengong? Pasti karena cewek pink itu ya un?" Deidara menepuk bahu Sakura membuat Sasori tersadar dari lamunannya.

Sasori tersenyum tipis mendengar pertanyaan Deidara. "Hmm… aku juga tidak mengerti." Sasori menerawang memandang langit yang cerah.

Deidara terperangah melihat Sasori tersenyum sambil menerawang. Deidara pun ikut menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membuat sebuah senyuman.

"Kau sedang jatuh cinta un," kata Deidara.

Sasori menengokkan kepala dan menatap Deidara. "Benarkah?"

Deidara tertawa renyah. "Hahaha… dasar bodoh! Sasori yang hebat ternyata masih bodoh sekali dengan urusan seperti ini un!" ejek Deidara. Sasori mendesih mendengar dia diejek.

Ditengah tawa ejekannya, Deidara melihat sosok berambut merah muda yang muncul di tempat parkir. "Putrimu sudah datang un!" goda Deidara. Wajah Sasori tak bisa menyembunyikan rona bahagianya.

Sakura melihat Sasori sedang duduk di bawah pohon maple bersama temannya. Dia pun mengahmpiri kedua orang yang sedang membicarakannya tanpa dia ketahui.

"Hai, Sasori-kun!" sapa Sakura seperti biasa dengan ceria.

"Tumben kau datang jam segini. Kau tidak kuliah memangnya?" tanya Sasori.

"Ciyeee…! Sasori sampai hapal betul jam pulang kuliahnya un!" goda Deidara membuat Sasori dan Sakura mengeluarkan garis-garis merah muda di pipi.

"Jangan menggodaku, Dei-chan!" Sasori memberi tatapan maut ke Deidara tapi untuk kali ini tidak mempan karena Deidara keasikan ketawa.

"Oh iya, un. Perkenalkan, aku Deidara partner kerjanya Sasori yang paling dekat. Jika kau ingin menanyakan soal Sasori, datang saja padaku un." Deidara mengulurkan tangannya di depan Sakura sambil berdiri.

Sakura merona mendengar perkenalan Deidara yang membawa-bawa nama Sasori. Dengan pipi yang seperti memakai blush on warna pink, Sakura menyambut tangan Deidara.

"Haruno Sakura. Panggil saja Sakura," ucap Sakura.

"Aiiiissshh~ Sakura-chan manis sekali! Pantas saja Sasori—" belum sempat Deidara menyelesaikan kalimatnya, Sasori membekap mulut Deidara. Sakura memandang heran ke kedua pria di depannya ini.

"Kau tunggu sebentar di sini, ya!" perintah Sasori pada Sakura, Sakura mengangguk mejawabnya.

Sasori membawa Deidara sampai di depan box karcis parkir. Setelah melihat Sakura sudah duduk di bawah pohon maple, Sasori melepaskan tangannya yang membekap mulut ember Deidara.

"Hosh… hosh… kau mau membunuhku un?" bentak Deidara.

"Sigh! Salahmu sendiri yang punya mulut ember!" sahut Sasori sambil meninggalkan Deidara kembali ke Sakura.

~FALLING IN LOVE~

Sasuke sedang berjalan menuju ruang latihan dance Sakura. Dia membuka pintunya dan tidak terlihat Sakura di dalam sana. Naruto dan Sai yang melihat Sasuke ada di ambang pintu segera saja menghampirinya.

"Mencari Sakura, teme?" tanya Naruto.

"Hn," jawab Sasuke.

"Dia tidak latihan hari ini. Katanya mau ke Konoha Mall." Sai menjawab pertanyaan Sasuke dengan senyum palsunya.

"Untuk apa dia ke sana?" tanya Sasuke lagi.

"Dia mau menemui temannya. Kalau tidak salah namanya Saso—" Ino yang baru datang tiba-tiba membekap mulut Sai. Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Sakura datang ke sana untuk belanja keperluan dance kami, Sasuke!" kata Ino mencoba membohongi Sasuke. Sasuke menatap Ino dkk dengan penuh selidik.

"Hn." Sasuke akhirnya pergi dari ruang latihan.

Ino melepaskan bekapan tangannya pada Sai dan menatap pacarnya itu dengan tajam.

"Ada apa, Ino-chan?" tanya Sai dengan polosnya. Ino memutar bola matanya menghadapi sifat pacarnya yang teramat ceplas-ceplos tidak pada tempatnya ini.

"Kau hampir saja membuat Sakura dalam masalah besar, bodoh!" bentak Ino.

"Masalah besar?" tanya Tenten yang ada di samping Ino.

"Jika Sasuke tahu Sakura datang ke Konoha Mall untuk menemui teman barunya, Sasori, dan menghindar darinya. Aku yakin Sasuke akan berbuat yang macam-macam sama mereka berdua," ucap Ino.

"Oh… kalau begitu hampir saja, ya?" tanya Sai sambil tersenyum tidak bersalah. Ino mengehembuskan napas berat.

"Untung Sasuke tidak curiga," gumam Naruto.

Di dekat ruang latihan, Sasuke dengan jelas dapat menguping apa yang mereka bicarakan. Mata Sasuke meyorot tajam dan dia segera pergi dari sana menuju Konoha Mall.

~FALLING IN LOVE~

Sakura yang sedang duduk di bawah pohon maple memerhatikan Sasori yang sibuk bekerja bersama temannya. Di sampingnya ada dua kaleng cola yang baru saja dia beli. Setelah pengunjung mulai sepi lagi, Sasori segera menghampiri Sakura yang sedang duduk sambil memandanginya.

Sasori duduk di samping Sakura, Sakura memberikan sekaleng soda yang baru dia beli tadi pada Sasori. Sasori meneguk cola tersebut mengurangi rasa dahaga yang tadi menyerangnya.

"Terima kasih," ucapnya sambil tersenyum.

"Sama-sama, Sasori-kun," kata Sakura sambil memerhatikan billboard besar yang sedan dipasang oleh tiga orang laki-laki. Sasori mengikuti arah pandang Sakura dan melihat billboard besar itu.

"Kompetisi dance," gumam Sasori.

"Oh iya! Sasori-kun, aku 'kan ikut kompetisi dance yang akan diadakan oleh mall ini!" seru Sakura dengan mata berbinar. Sasori tersenyum melihatnya.

"Apa benar kau bisa menari?" ledek Sasori dengan memasang tampang meremehkan.

"Tentu saja aku bisa!" Sakura menggembungkan pipinya, kesal.

"Hahaha… aku hanya bercanda, bodoh!" Sasori mencubit pipi Sakura dengan gemas.

"Aduh!" Sakura melepaskan tangan Sasori yang mencubit pipinya, "kau harus menontonku nanti!" sambungnya.

"Baiklah," jawab Sasori.

"Janji?" Sakura mengacungkan jari kelingkingnya di depan Sasori.

"Janji." Sasori mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sakura dengan senyum lembutnya, membuat Sakura blushing.

Dari jauh Sasuke bisa melihat kemesraan Sakura dan Sasori. Dengan tangan yang mengepal kuat, Sasuke berjalan mendekat ke tempat mereka berdua.

Di saat Sasori dan Sakura asik tertawa, sebuah suara yang Sakura hapal betul pemilik suara itu, memanggil namanya.

"Sakura."

Deg! Sakura segera menolehkan kepalanya ke samping. Di sebelah Sasori, sudah berdiri Sasuke dengan tatapan yang tajam.

"Sasuke-kun…" Sakura menatap Sasuke dengan mata yang membulat kaget. Sasuke menatap Sakura dengan dingin.

Sasori segera memutar kepalanya ke arah pandang Sakura, dan dia melihat Sasuke. Tatapan mata Sasuke beralih ke Sasori. Mereka berdua ingat bahwa orang yang sedang mereka tatap pernah mereka temui, lebih tepatnya tidak sengaja mereka temui saat berpapasan beberapa hari lalu.

"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi," kata Sasori. Sakura bingung mendengar ucapan Sasori.

"Kalian sudah saling kenal?" tanya Sakura sambil memandang Sasuke dan Sasori bergantian.

"Tidak, aku dan dia sempat berpapasan beberapa hari yang lalu," jawab Sasori, kemudian dia kembali menatap Sasuke, "sorotan matamu tetap saja tajam dan terlihat meremehkan," kata Sasori yang masih duduk sambil melihat Sasuke.

"Apa yang bisa dibanggakan dengan pekerjaanmu ini?" tanya Sasuke dengan senyum mencela. Sakura tersentak mendengar kata-kata Sasuke.

"Lalu kau bangga dengan statusmu sebagai orang kayak karena harta kedua orangtuamu?" tanya Sasori memasang ekspresi datar. Sasuke menggeram mendengar kata-kata Sasori.

"Bukan urusanmu. Sedang apa kau di sini bersama pacarku?" Sasuke menatap tajam mata hazel Sasori.

"Bukan urusanmu," jawab Sasori membalikkan kata-kata Sasuke. Sasuke mengepalkan tangannya siap kapan saja menghajar Sasori.

"Ah… Sasuke-kun, perkenalkan ini Sasori. Dia ini temanku," Sakura mencoba mencairkan suasana yang mulai memanas.

Sasuke menatap tajam Sakura membuat Sakura menelan ludahnya. "Jangan berteman dengan orang seperti itu!" Sasuke menarik paksa tangan Sakura hingga membuat Sakura meringis kesakitan.

Sasori menarik tangan Sakura yang satu lagi, jadi terlihat Sakura seperti diperebutkan oleh kedua cowok tampan tersebut. Sasuke kembali menatap Sasori dengan aura menyeramkan.

"Lepaskan! Kalian berdua membuat tanganku sakit!" teriak Sakura. Sasori melepaskan cengkraman tangannya di pergelangan tangan Sakura dengan raut wajah menyesal. Sasuke juga melepaskan tangannya.

Sakura menatap tajam Sasuke. "Kau tidak berhak mengaturku berteman dengan siapapun, Sasuke! Ini kehidupanku, terserah aku mau berteman dengan siapapun!" gertak Sakura.

PLAK! Sasuke yang emosi menampar pipi Sakura. Melihat Sakura ditampar oleh Sasuke, Sasori tidak tinggal diam lagi.

"Berengsek!" teriak Sasori dan meninju muka Sasuke hingga Sasuke terjatuh.

"Beraninya kau!" Sasuke bangun dan membalas meninju Sasori.

Sasuke dan Sasori saling balas memukul, meninju satu sama lain. Sedangkan Sakura berusaha memisahkan mereka namun dia tidak bisa karena Sasuke mendorongnya hingga terjatuh dan itu membuat kemarahan Sasori semakin bertambah.

Deidara yang kebetulan mau melewati pohon maple melihat perkelahian kedua pria itu, dia segera berlari ke sana dan memisahkan mereka berdua.

BUAG!

BUAG!

Deidara menghajar Sasuke dan Sasori. "Baka Dei! Kenapa kau meninjuku juga hah?" teriak Sasori.

"Habisnya kau juga tidak mau berhenti berkelahi jika tidak aku hajar un!" bentak Deidara.

"Ckckck… bahkan temanmu seorang banci," cibir Sasuke yang berusaha berdiri setelah dipukul Deidara.

"Kau! Aku bukan banci un!" Deidara mengahajar Sasuke lagi sehingga Sasuke berdiri limbung.

"Sudah! Hentikan! Atau aku akan menelpon polisi!" Sakura berteriak memandang tajam ketiga orang yang terlibat perkelahian.

"Tch! Urusan kita belum selesai," kata Sasuke sambil menatap tajam Sasori yang masih terduduk, lalu dia pergi dari sana. Sebelumnya dia sempat menatap mata Sakura, Sakura segera mengalihkan matanya ke arah lain agar tidak bertatapan dengan Sasuke.

"Sasori, kau tidak apa-apa?" tanya Sakura yang sudah menghampiri Sasori.

Sasuke yang sedang berjalan membalikkan badannya lagi dan dia melihat Sakura yang sedang berusaha memapah Sasori untuk duduk di bangku. Pancaran kesedihan memancar di onyx kelamnya sesaat, namun kemudian mata itu berubah menjadi tajam dan penuh kebencian saat melihat Sasori mengelus pipi Sakura. Sasuke pun membalikkan badannya lagi meninggalkan tempat itu.

"Apa pipimu tidak apa-apa?" tanya Sasori sambil mengelus pipi kiri Sakura yang tampak memerah akibat tamparan Sasuke. Sakura menggelengkan kepalanya.

"Maaf…" gumam Sasori membuat Sakura menaikkan sebelah alisnya.

Mengerti arti tatapan Sakura, Sasori melanjutkan, "Maaf karena aku keterlaluan saat menarik tanganmu," ucapnya sambil menunduk memandang tangan kiri Sakura yang pergelangan tangannya terdapat warna merah.

Sakura meneteskan air matanya dan memeluk Sasori. Tentu saja Sasori terkejut di peluk secara tiba-tiba lagi.

"Bodoh! Kenapa terus memikirkanku padahal lukamu parah!" isak Sakura dalam dada bidang Sasori. Sasori memaksakan tersenyum walau bibirnya terasa sakit akibat tinju yang dilontarkan Sasuke sehingga membuat bibirnya sedikit robek. Sasori pun mengelus lembut rambut Sakura.

"Ehem! Kalian melupakanku un?" sindir Deidara. Sakura melepaskan pelukannya dengan wajah yang semerah lobster rebus.

"Ma-maaf, Deidara-san," gumam Sakura. Deidara malah tertawa melihat Sakura gagap dengan wajah yang memerah.

"Kau memang lucu dan manis sekali, Sakura-chan! Pantas saja dua pria ganteng ini memperebutkanmu un!" seru Deidara dan mendapat timpukan sepatu tepat dimukanya oleh Sasori.

"Apa sih Sasori? Sudah kutolong bukannya bilang makasih malah nimpuk aku pakai sepatu un!" omel Deidara.

"Sigh! Aku akan berterimakasih sekali jika kau mengambilkan kotak obat untukku, Dei-chan!" gertak Sasori sambil merintih menahan sakit di sudut bibirnya yang lebam.

"Ya, ya. Tunggu di sini un!" Deidara pergi mencari kotak obat meninggalkan Sasori dan Sakura berduaan di bawah pohon maple itu.

Sakura tidak menyangka bahwa Sasori akan semarah itu melihat Sakura ditampar oleh Sasuke. Dia juga tidak menyangka kalau Sasori merasa sangat bersalah saat mencengkram tangannya tadi. Ya Tuhan… kenapa Sasori begitu baik terhadapnya? Bahkan Sasuke pun tidak pernah sedikit pun peduli pada Sakura.

Sakura memandangi wajah Sasori yang babak belur di hajar Sasuke. Dia merasa sangat bersalah, karena dialah Sasori jadi terluka seperti itu. Ah… seandainya dia tidak nekat menemui Sasori hari ini, pasti semuanya tidak akan terjadi. Lagi pula kenapa Sasuke bisa sampai datang ke sini? Apa teman-temannya yang memberitahukannya? Pasti si Sai itu yang mulutnya tidak bisa di rem yang membocorkannya.

Memikirkan Sai membuat bibir Sakura mengerucut. Dia heran kenapa sahabatnya, Ino, mau pacaran dengan pemuda mayat hidup yang tidak tahu kondisi disaat bicara.

Secara tidak sadar Sakura menggerutu tidak jelas merutuki Sai dengan muka ditekuk dan bibir yang maju. Sasori yang melihat Sakura tidak dapat menahan tawanya lagi. Sakura ini benar-benar lucu, menurut Sasori.

"Hahaha…" tawa Sasori sehingga menarik perhatian Sakura yang tadi lagi mendumel sendiri.

"Apanya ada yang lucu?" tanya Sakura dengan wajah polos membuat Sasori gemas.

Sasori mencubit kedua pipi Sakura dengan biadab. "Kau itu dasar lemot! Yang lucu itu tingkahmu tadi, tahu!" seru Sasori sambil nyengir-nyengir melihat pipi elastic Sakura yang dia cubit sehingga bibirnya jadi mirip Suneo-Doraemon.

"Sasowi lewpawskawn!" seru Sakura sambil menarik paksa tangan Sasori yang menarik-narik pipinya tadi. Sudah tahu tadi dia ditampar, ini ditambah dicubit. Rasanya panas sekali pipi Sakura.

"Sudah tahu tadi aku ditampar malah dicubit! Sakit tahu!" omel Sakura.

Sasori terkekeh melihat Sakura ngomel-ngomel dengan bibir dibuat semanyun mungkin. "Iya, maaf deh…" Sasori mengusap-usap kedua pipi Sakura membuat Sakura blushing.

'Kami-sama, wajahnya tampan sekali jika dilihat dari dekat begini! Ada lebamnya sih, tapi tetap saja imut! Kyaaaa!' jerit Sakura dalam hati sementara jantungnya dag dig dug.

Sasori menelan ludahnya ketika melihat bibir ranum pink punya Sakura yang terlihat begitu menggoda. Sasori seperti terkena magnet untuk terus mendekat ke bibir itu. Sasori memiringkan kepalanya dan mempersempit jarak antara wajahnya dan wajah Sakura.

Sakura menyadari apa yang akan dilakukan Sasori. Dia benar-benar gugup, jantungnya berdetak cepat. Sakura melihat Sasori yang semakin lama semakin dekat saja dengan wajahnya. 'Kami-sama, Sasori-kun mau menciumku. Bagaimana ini?' teriak inner Sakura. Muka Sakura sudah seperti lobster rebus ketika dia merasakan hembusan hangat napas Sasori. Sakura memejamkan matanya, pasrah dengan yang akan terjadi selanjutnya. Semakin dekat… semakin dekat… tinggal beberapa inchi lagi sampai sebuah suara menggelegar merusak moment-moment itu.

"Sasori, Sakura-chan, aku kembali un!" teriak Deidara. Sasori buru-buru menjauhkan dirinya dari Sakura. Deidara sempat melihat Sasori yang akan mencium Sakura tapi bodohnya dia tidak bisa mengontrol suaranya atau dia memang sengaja membesarkan volume suaranya?

"Wah… maaf, aku mengganggu ya un?" tanya Deidara dengan suara yang dibuat semenyesal mungkin. Sakura menggaruk-garuk lehernya dan clingukan dengan salah tingkah.

"Kau bukan hanya mengganggu tapi merusak!" dengus Sasori.

"Hehehe… ini obatnya. Aku pergi dulu ya un! Aku masih harus bekerja. Sakura-chan, kau obati Sasori dulu, ya un!" Deidara pun langsung ngacir takut Sasori ngamuk.

Sakura dan Sasori jadi salah tingkah sendiri setelah insiden tadi. Sakura mengambil kotak obat dan mulai mengobati luka-luka lebam Sasori. Sakura mengompres sudut bibir Sasori dengan hati-hati tapi tetap saja membuat Sasori mengaduh kesakitan.

"Aduh! Pelan-pelan!"

"Ini juga sudah pelan-pelan, Sasori-kun. maaf ya…"

"Sakura," panggil Sasori sambil menatap Sakura dengan serius.

"Hn?" jawab Sakura masih konsentrasi menyembuhkan luka-luka lebam di wajah imut Sasori.

"Kenapa kau mau membelaku? Kenapa kau mau berteman denganku yang hanya petugas parkir ini?" tanya Sasori membuat Sakura menhentikkan kegiatannya.

Sakura duduk tegap menghadap Sasori dan tersenyum lembut. "Aku tidak pernah memilih-milih orang dalam berteman dan apapun pekerjaannya asal itu halal, aku akan menghargainya," kata Sakura membuat Sasori tertegun mendengarnya.

Sasori pun tersenyum menatap Sakura. "Terima kasih," ucapnya. Sakura memandang lembut Sasori dan kembali melanjutkan kegiatannya mengobati luka-luka Sasori.

~FALLING IN LOVE~

Sakura kuliah dengan masuk ke kelas lain. Dia sengaja menghindari Sasuke sehingga dia mengambil mata kuliah di kelas lain. Sakura tidak ingin bertemu lagi dengan Sasuke, dia benar-benar muak dengan sikap Sasuke.

Sementara itu, Sasuke sedang bingung sendiri dengan kejadian kemarin. Dia merasa bersalah telah menampar Sakura. Dia terlalu emosi kemarin karena melihat Sakura begitu dekat dengan Sasori dan membela Sasori. Dia takut sekali jika harus kehilangan Sakura. Sekarang dia dapat mengerti betapa sakitnya hati Sakura dulu saat Sasuke menyakitinya.

Sasuke memutuskan untuk menemui Sakura di club dance-nya. Sasuke menunggu Sakura dari dalam mobilnya. Dia tahu Sakura pasti ke tempat parkir karena Sasuke tadi melihat motor matik Sakura.

Setelah lima belas menit menunggu, Sakura pun muncul sambil membawa tas besar yang dia sampirkan di bahunya. Sakura melihat mobil Sasuke di sana, namun dia berusaha mengabaikannya saja dan terus berjalan melewati mobil itu.

Sasuke keluar dari mobil ketika melihat Sakura melewati mobilnya. "Sakura!" panggilnya. Sakura pun berhenti melangkah.

"Mau apa lagi dia?" gumam Sakura.

Sasuke berjalan mendekati Sakura dan membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke Sasuke.

"Sakura, maafkan aku karena menamparmu kemarin." Sasuke menunduk menyesali perbuatannya.

Sakura menatap Sasuke yang menunduk. Dia tidak menyangka seorang Uchiha mau minta maaf seperti itu padanya.

"Lupakan saja kejadian kemarin, Sasuke-kun," ucap Sakura lembut.

Sasuke mengangkat wajahnya dan melihat Sakura yang tersenyum lembut padanya. Hatinya merasa lega sekarang. Kekhawatirannya karena takut kehilangan Sakura sepertinya tidak akan terjadi.

"Kau sudah memaafkanku?" tanya Sasuke. Sakura mengangguk. "kalau begitu, bisakah kita mulai dari awal lagi?" sambungnya.

Sakura tertegun mendengar kata-kata Sasuke. Tapi kemudian dia tersenyum lembut sambil melepaskan kalung yang dia pakai di lehernya, hadiah dari Sasuke dulu.

"Maafkan aku Sasuke-kun," Sakura meletakkan kalung itu di genggaman tangan kanan Sasuke. Sasuke menatap bingung Sakura.

"Aku rasa kita cukup sampai di sini." Begitu selesai mengucapkan kata perpisahan yang terasa memilukan di hati Sasuke, Sakura segera meninggalkan Sasuke sendiri mematung memandang kepergian Sasuke.

Sasuke menggenggam kalung tersebut dengan erat. Dia menggertakan giginya menahan amarahnya yang memuncak. Hanya satu tujuannya sekarang.

"Sasori, akan kubuat kau hancur!" Sasuke membalikkan badannya menuju mobilnya dengan tatapan tajam yang serasa ingin membunuh.

To be continue…

Mian hamnida, saya update telaaat banget! Udah gitu kebanyakan dialog lagi -.-" kalo ada typos mohon dimaafkan ya, soalnya saya gak sempet baca ulang and edit fict-nya. Makasih ya yg udah review… maaf ya kalo jelek -.-"

Cha: Maaf banget ya Cha-ssi, aku updatenya telat banget soalnya aku punya beberapa tanggungan fic dan fic ini terabaikan begitu saja #plak! Makasih udah review yaaa ^^

Makasih buat: Kurosaki Naruto-nichan, Thia Shirayuki, Millidia Richelle. Udah aku bales lewat PM yaaa reviewnya ^^ Makasih juga buat silent readers ^^

Review again? Kamsa hamnida ^o^