School is Monster
Chapter 4
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : School life, Drama, Tragedy, Friendship
Rate : Teens
Main Cast : Haruno Sakura
Uchiha Sasuke
Sabaku No Gaara
Warning : Seluruh karakter ini milik Masashi Kishimoto, sedangkan ide ceita ini seratus persen milik saya. Pemain lain dapat kalian temukan di sini jika membacanya hehehe. Kemungkinan yang akan readers temui adalah typo(s), alurnya ngalur-ngidul, dan pemain yang OOC, serta kejelekan lainnya. Oleh karena itu, harap berhati-hohoho.
Preview :
Apalagi melihat kejadian tadi. Bagaimana sikap Gaara yang sepertinya akrab sekali dengan Sakura. Saat Sakura menyuruhnya membukakan pintu, Gaara langsung menurutinya. Apakah sebelumnya Gaara dan Sakura sudah saling kenal? Atau Sakura memang sering bertingkah seperti itu di sekolah? Yaitu langsung akrab dan cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan baru. Atau memang Sakura sekedar mencari masalah agar dikenal seluruh penjuru sekolah?
Lalu bagaimana dengan Neji? Apakah Neji yang merupakan atasan Gaara sama sekali tidak mengetahui tindakan Gaara yang termasuk ke dalam kategori frontal ini? Apakah Gaara mulai menunjukkan perlawanan kepada Neji karena ia sudah bosan diperlakukan seperti hewan peliharaan yang harus patuh pada majikan? Atau ini hanya skenario buatan mereka agar Sakura si anak baru tidak mengenal lingkungan sekolahnya dengan baik dan benar? Kira-kira, begitulah isi dari pertanyaan yang memenuhi otak Ino yang sama sekali tidak paham akan situasi yang sedang terjadi
Happy Reading!^^
Chapter 4 : Meeting You
"Gayamu menjijikkan sekali!" Sakura menatap Gaara yang duduk di sebelahnya dengan menahan tawanya. Gaara tidak membalasnya, dia hanya menatap Sakura dengan ekspresi datarnya.
"Tidak usah menatapku begitu, bodoh! Menjijikkan!" Sakura menempeleng pipi Gaara dengan pelan sehingga pandangan Gaara teralihkan. Tetapi, dengan cepat Gaara kembali ke posisi awalnya.
"Sudahlah. Aku sudah tahu rahasiamu.." Sakura tertawa ringan.
"Kau. Menyukai. Ino!" Sambung Sakura dengan perkataan yang sengaja dia katakan dengan intonasi yang tegas dan penuh dengan penekanan. Sakura mengakhiri pernyataannya dengan senyum di wajah yang berseri-seri. Lagi-lagi tidak ada respon dari Gaara. Laki-laki itu hanya memandang Sakura dengan tatapan datarnya seakan ingin mengatakan "lakukan-saja-apa-yang-kau-mau"
"Aishhh.. Tidak usah dingin begitu. Jika ada yang mau kau ketahui tentang wanita, akulah pakarnya! Jadi katakan saja! Tidak perlu risau dan galau!" ujar Sakura dengan mengibaskan rambutnya ke belakang. Namun, Gaara masih diam saja.
"Sepertinya membahas wanita itu bukan topik yang menarik, ya? Hmm… Lalu apa yang kira-kira asyik untuk dibahas?" Sakura berbicara sendiri dengan jari yang ia ketuk-ketukkan ke bibirnya.
Tak lama kemudian, seringaian terpasang di wajah Sakura.
"Bagaimana rasa bibirku? Apakah terasa manis?" tanya Sakura dengan senyum mesumnya.
"Pasti bibirku ini rasanya manis sekali ya? Karena itu, kau sampai menciumku dua kali. Benar tidak?" Sakura melanjutkan dengan tatapan ala wanita-wanita penggoda.
"Uhuk!" Gaara terbatuk.
Gaara mulai menunjukkan respon. Raut wajahnya berubah menjadi tidak enak. Rona kemerahan muncul di wajahnya. Kepalanya pun dia tundukkan. Sakura tersenyum melihat respon yang diberikan Gaara atas pertanyaannya. Sakura terlihat kesenangan melihat Gaara malu-malu seeprti ini.
"Ehh.. Kenapa kepalamu menunduk? Jawab aku, Gaaraku sayang~" Sakura mengangkat dagu Gaara agar mereka dapat saling bertatap muka. Namun Gaara langsung menepis tangan Sakura dan kembali menunduk.
"Aku lapar. Aku mau ke kantin saja," Gaara langsung beranjak dari tempat duduknya dan menajuhi Sakura yang masih dalam posisi duduk di ranjang.
"Kalau kau lapar, ambil saja keripik kentang yang ada di bawah ranjang. Itu punyaku. Aku pergi dulu," Gaara berpamitan pada Sakura. Sakura hanya tersenyum senang melihat kepergian Gaara. Tetapi, selangkah kemudian, dia menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Kita bisa makan ini berdua. Kenapa harus ke kantin, sih? Temani aku Gaaraku sayang~" Sakura masih saja menggoda Gaara yang masih merona wajahnya.
"Aku mau makan nasi." Jawabnya untuk menghindari Sakura yang sedang bersuka hati. Sakura hanya terkekeh mendengar jawaban dari Gaara.
"Satu lagi. Headphone putih itu punyaku. Kalau kau mau memakainya, pakai saja. Aku pergi," Dengan langkah yang sengaja dibuatnya cepat, Gaara meninggalkan ruang kesehatan itu.
"Thank you, dude! I really love your style!" seru Sakura sambil meraba-raba bawah ranjang. Tak lama dari itu, tangannya menyentuh sebuah kemasan. Sakura langsung menariknya dan memeluknya dengan erat.
Memang ada sebuah kemasan di bawah ranjang. Dan kemasan itu adalah kemasan keripik kentang. Keripik kentang rasa balado. Balado adalah rasa kesukaannya. Emerald Sakura menatap keripik itu dengan berbinar-binar. Sakura segera membuka kemasan itu dan memakannya. Lalu dia mengambil headphone putih milik Gaara yang ada di meja dan menyambungkannya ke ponsel miliknnya. Kemudian dia memakainya. Ia memutar lagu Justin Bieber – Let Me Love You.
Sakura sangat menikmati waktu kesendiriannya di ruang kesehatan ini. Ruang dimana dia dapat makan sambil tiduran. Sakura sedang asyik mengunyah keripik kentang sambil mendengarkan lagu lewat headphone putih milik Gaara.
"Hidupku sangat bahagia. Tinggal sendiri di ruangan sejuk begini dengan keripik kentang kesukaanku. Semuanya aku dapatkan dengan gratis dan praktis. Astagaaa… Betapa beruntungnya aku di hari pertama ini. Ada saja yang mau menggantikan posisi babu-babuku di Otagakure." Sakura mulai mengoceh sendiri karena terlalu bahagia. Sakura terus saja bersenandung ria untuk menikmati kehidupan menyenangkannya yang sebenernya bersifat fana. Dia terlihat sangat menyukai keadaan sekarang ini. Sendirian tanpa ada penggangu yang mengacaukan harinya.
Senandung yang dikumandangkan dari bibir Sakura berganti dengan umpatan kasar yang patut disensor. Air mukanya langsung berubah menjadi cemberut karena suara berisik yang disebabkan dari pintu ruang kesehatan yang terbuka. Takut kalau itu adalah Kurenai yang ingin memastikan keadaan Sakura, Sakura langsung melepaskan headphone itu dan mengalungkannya ke lehernya.
BRAKKK!
Pintu ruang kesehatan terbuka secara paksa membuat Sakura penasaran dan geram karena ingin langsung memaki orang yang sudah berani mengacaukan hari kejayaannya ini. Ia sudah tidak sabar lagi untuk menonjok orang yang hendak kena semburan mautnya.
"Kamu! Kamu temannya Sasuke kan?! Iya kan?!"
Sakura tersentak kaget. Seorang laki-laki dengan rambut klimis dan wajah dengan air muka khawatir mendobrak pintu dengan tiba-tiba. Kesan pertama yang dia dapatkan saat melihat orang aneh ini adalah.. Ehem.. Seram. Bagaimana tidak seram, teman? Kulitnya itu bukan lagi putih sebening susu. Tapi putih pucat seperti mayat! Dan perlu kau ketahui, hal lain yang paling Sakura benci adalah zombie si mayat hidup.
Dan tunggu dulu…
WHAT THE HELL!
Wajahnya mirip sekali dengan Sasuke! Mereka benar-benar mirip! Sekarang ia mempercayai teori yang mengatakan bahwa kita memiliki tujuh kembaran di muka bumi ini. Orang ini benar-benar mirip dengan Sasuke. Err… Baiklah, Sakura memang sedikit hiperbola.
Tetapi, ini benar. Garis rahang mereka sama-sama tajam. Warna bola mata mereka yang sewarna dengan batu obsidian terlihat memancarkan sinar yang sama. Ekspresi mereka… Itulah yang membedakannya. Pria ini tampaknya tidak memiliki masalah dalam hidupnya atau sebaliknya. Dia memiliki masalah hidup yang overdosis. Dia selalu menampilkan senyum. Bukan senyum biasa, tetapi senyum palsu yang memanipulasi kita. Dia seperti neutron dalam sebuah atom, dia bersifat netral. Baik, abaikan saja yang terakhir.
Baiklah.. Kita terlalu lama membahasnya. Kita langsung saja menuju poin permasalahan. Untuk apa zombie ini datang menemuinya dengan buru-buru dan tiba-tiba?
"Hm.. Memangnya kenapa? Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Sakura dengan raut wajah penasaran bercampur panik. Tentu saja panik itu tak terlalu ditunjukkannya.
"Begini.. Sasuke.."
Turns out that no one can replace me
I'm permanent, you can't erase me
I'll help you remember me
One more kiss all it takes
I leave you with the memory
And the aftertaste..
Suara merdu dari penyanyi favorit Sakura sepanjang masa yang diiringi dengan petikan gitar yang menyuarakan lagu Aftertaste dari Shawn Mendes itu bergema di ruangan karena dia telah melepaskan headphone Gaara. Sebait lagu itu sukses menghentikan sang zombie untuk bicara.
Sakura menatap layar ponselnya yang bergetar di tangannya. Sebuah panggilan masuk dari "Idiot!" yaitu nama khusus untuk menyimpan nomor Sasuke. Tanpa pikir panjang, Sakura menggeser layarnya ke kanan untuk menyambut telepon itu.
"Hey jalang murahan! Sekarang pacarmu sudah ada di tangan kami! Datang ke taman sendirian jika kau ingin menyelamatkannya!" Sakura hanya diam dengan ekspresi muaknya.
"Hey sekawanan babi sial, dengarkan aku! Jika kau berani menyentuhnya, akan kupatahkan tangan dan kakimu! Dan kau akan berakhir di pemakaman! Camkan itu bangsat!" balas Sakura dengan tegas.
"Dasar gadis sial kurang ajar! Cepat kemari! Aku tidak sabar untuk segera menghabisimu!"
Sambungan telepon pun terputus. Sakura segera mengantungi ponselnya dan bangkit dari tempat tidur. Ia tinggalkan semuanya begitu saja. Kecuali untuk keripik balado yang selalu ia genggam dengan erat.
"Antarkan aku ke taman. Dia ada di sana!" ujar Sakura dengan semangat. Orang itu mengangguk.
"Sebenarnya itu yang ingin aku beritahu padamu," balasnya dengan memimpin jalan menuju taman.
Orang itu menuntun Sakura ke taman. Ternyata taman itu berada di dekat ruang kesehatan. Dari ruangan itu, kau tinggal belok ke kiri dan lurus terus menyusuri koridor. Kemudian belok kiri lagi, dan itulah lokasinya. Cukup dekat, sehingga Sakura tidak perlu mengoceh lebih lama.
Di taman terdapat lima orang laki-laki. Dua orang memegangi Sasuke yang menggeleng-gelengkan kepalanya dan sisanya berdiri di depan Sasuke. Sakura menatap orang-orang yang menyandera Sasuke dengan pandangan sinis dan meremehkan.
"Jadi apa mau kalian? Bertarung?" tanya Sakura dengan nada menantang. Orang yang ditengah maju sedikit.
"Aku adalah lawanmu yang pertama!" Sakura memutarkan bola matanya.
"Itu tidak masalah!" Sakura menarik roknya dan melepasnya begitu saja sehingga hanya legging hitam yang menutupi kakinya.
"Jangan lakukan itu Sakura!" Sasuke berteriak memperingati.
"Diam saja bodoh!" Dengan teriakan kasar itu, Sasuke mendapatkan hadiah berupa tinju keras di perutnya yang membuatnya meringis kesakitan. Dan hasilnya, Sasuke pingsan di tempat.
"Babi bodoh! Jangan sentuh dia!" seru Sakura dengan mata menyala-nyala seakan ingin memangsa orang yang memukuli Sasuke itu.
"Lawanmu adalah aku, jalang!"
Orang itu maju dengan tinjunya tetapi dengan mudahnya Sakura menghindari serangan yang mendadak itu. Secara refleks, Sakura memberinya tendangan kecil di kaki kanannya. Setelah itu, Sakura memasang kuda-kudanya. Tangan kirinya yang digenggam di depan, sedangkan tangan kanannya berada di depan dada. Lalu kaki kanannya maju sedikit ke depan, sedangkan kaki kirinya di belakang.
"Kau… Dasar sial!" geramnya.
Sakura hanya mengabaikannya. Dia maju lalu memberikan tendangan berputar yang mengenai pipi orang itu. Lawan Sakura langsung tumbang begitu saja. Sakura hanya diam saja dengan tatapan penuh iba.
"Knocked out!" serunya dengan senyum sarkastik.
"Ada lagi yang ingin mencoba?" tawar Sakura dengan senyum sinis dan posisi siap.
Melihat bahwa orang-orang yang tersisa sudah mulai ketakutan, Sakura maju ke depan. Dia berjalan ke arah Sasuke yang tampangnya sudah babak tidak parah. Mereka mulai bergetar saat Sakura makin mendekat.
"Lepaskan dia kalau kalian tidak mau terluka." Sakura memperingati dengan nada dingin yang mengintimidasi. Dengan nada suara seperti itu, mereka menuruti perkataan Sakura. Mereka melemparkan Sasuke yang tergolek pingsan di tanah. Zombie aneh itu langsung menangkap Sasuke dan mengamankannya.
"Cih! Sekawanan hewan tolol seperti kalian mana sanggup untuk melawanku. Jadi menyerah saja!" Sakura berkata dengan senyum meremehkan. Mereka mempersiapkan posisi dengan gerakan ragu-ragu. Sakura ingin maju menghabisi mereka, namun…
"Biar aku saja. Seharusnya kau tidak usah menolong si bodoh itu!" Sasuke menghalangi Sakura. Sakura menaikkan alisnya dan memandang Sasuke dengan tatapan bingung dan tak yakin.
"Teman, pasti kepalamu tidak normal karena kau habis dipukuli oleh bajingan itu. Apa kepalamu terganggu karena pukulan di perutmu?" tanya Sakura dengan pelan dan nada yang dibuat selembut mungkin. Sasuke memandang Sakura dengan tatapan datar.
"Kau ingin menyetor nyawa?! Dasar bodoh! Jangan sok pahlawan di depanku! Aku tahu kau itu payah!" seru Sakura dengan marah-marah.
"Serang mereka!"
Satu perintah dari lawan yang sudah Sakura lumpuhkan membuat empat orang itu maju tanpa gemetar lagi. Sasuke langsung mendorong Sakura ke belakang sementara keempat orang itu datang mendekat. Mereka langsung menyerang Sasuke dengan serangan membabi-buta. Pukulan serta tendangan mereka lancarkan untuk Sasuke tetapi berhasil menangkisnya dan membalas semuanya.
Orang-orang itu mengelilingi Sasuke. Dua di samping kiri dan kanan dan dua lagi di depan dan di belakang. Sasuke langsung menendang orang yang ada di depannya sehingga orang itu jatuh. Sedangkan pukulan dari orang yang di belakangnya ia hindari dengan gerakan sempurna. Lalu ia mengambil tangan orang itu dan membantingnya ke tanah. Sementara itu, kedua orang yang ada di sampingnya melayangkan tinjunya. Tetapi tangan mereka berdua ditangkap oleh Sasuke dan ditarik mendekat. Lalu dengan cepat, tangan Sasuke langsung berpindah ke kepala bagian belakang. Kemudian, Sasuke saling mendorong kepala itu sehingga mereka bertabrakan dan tumbang seketika.
Melihat aksi Sasuke itu, Sakura hanya bisa melongo. Sakura sama sekali tidak menyangka bahwa Sasuke dapat tampil sekeren itu. Sakura mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali seakan ingin meyakinkan apa yang telah dia lihat ini bukanlah fatamorgana.
"Sai, urus sisanya." Sasuke memerintah dengan nada seperti seorang boss besar.
Zombie jelek yang mengantarkan Sakura itu langsung menghampiri sekumpulan badut gendut yang tepar itu. Zombie yang dipanggil Sai itu merogoh saku celana si pemimpin. Lalu dia mengeluarkan ponsel dan segera menekan-nekan layar seakan memencet nomor. Ya, dia sedang menghubungi seseorang. Begitu teleponnya tersambung, Sai itu langsung memberikan ponselnya ke Sasuke.
"Kelompok sirkusmu sudah kalah," Sasuke mengucapkan kalimat itu dengan nada yang sedikit menyeramkan. Tanpa ingin mendengar jawaban atas perkataannya itu, Sai langsung mengakhiri sambungan telepon itu dan menjatuhkan ponsel itu begitu saja sesuai dengan isyarat yang diberikan Sasuke.
"Kau…" Sakura menggantung kalimatnya sembari berjalan mendekat ke arah Sasuke yang nampaknya masih baik-baik saja.
"Kau sangat keren, Sasuke! Begitulah seharusnya! Kau tidak usah takut pada tikus-tikus kecil seperti mereka! Buktinya kau bisa mengalahkannya. Kau temanku yang paling keren! Ini baru namanya Sasuke, temanku!" Sakura berseru kesenangan.
Tetapi bukannya turut bahagia atau menampilkan wajah ceria atau senyum menawan, Sasuke malah diam saja. Dia tidak menganggapi Sakura yang sedang kesenangan. Respon yang ia tunjukkan malah sebaliknya, dia terlihat …. Err… Marah?
Sasuke melengos begitu saja. Dia berputar meninggalkan Sakura sendirian di belakang. Orang yang menuntun Sakura untuk datang ke sini alias si zombie juga langsung mengekori Sasuke. Dengan kesal yang tertahan, Sakura juga mengikuti kemana larinya Sasuke dan juga zombie jelek itu setelah memungut roknya.
Ujung-ujungnya mereka kembali ke surga dunia Sakura, yaitu ruang kesehatan. Sasuke mengambil tempatnya yaitu kursi di dekat ranjang, sedangkan si zombie berdiri di samping Sasuke. Sakura menuju tempat yang tersisa yaitu ranjang. Sakura duduk manis di sana.
"Buddy! Kau kenapa? Kau sama sekali tidak gembira? Jadi kau mengacuhkan aku?!" Sakura berdiri di depan Sasuke dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Idiot!" Sasuke menyentil dahi Sakura. Sakura mengelus-elus jidat lebarnya yang memerah akibat perbuatan Sasuke. Kata yang paling ia benci sudah tercetus dari mulut Sasuke, pastilah Sakura siap meledak.
"Idiot? Kau sebut aku, idiot?! Kau tidak sadar, hah?! Kaulah yang idiot! Kau bodoh! Pecundang rendahan! Laki-laki murahan! Bodoh! Kau adalah temanku yang paling tolol! Paling pengecut! Sebaiknya kau mengenakan rok besok! Dasar kau banci tidak sadar diri!"
Sakura meluapkan emosinya dengan tak terkendali. Namun apa balasan dari Sasuke? Dia menenangkan Sakura dengan cara yang sama dengan cara yang dipakai Gaara. Sasuke menyatukan bibirnya dengan bibir Sakura dengan tiba-tiba dan tidak diduga-duga. Sakura hanya mematung di tempat. Sedangkan Sasuke masih memagut dengan baik. Mungkin kita bisa memberinya gelar good kisser? Tak lama kemudian, dia melepaskan ciumannya.
"Brengsek! Apa yang barusan kau lakukan, hah?! Aku kira kau tidak sama dengan para bajingan di sini! Ternyata aku salah. Kau sama saja! Malah kau orang yang paling parah! Dasar kau iblis terkutuk! Bedebah sepertimu patut dikirim ke neraka secepatnya! Dasar laki-laki sialan! Aku harap kau terkena impoten!" seru Sakura dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Mendengar penuturan Sakura, rahang Sasuke mengeras dengan gigi-gigi yang saling gemelatukan.
"Kau duluan yang membuatku marah! Apa kau begitu tolol sehingga kau tidak bisa membedakan kami?! Apa kau tidak bisa membedakan kami berdua!" Sasuke berteriak tidak mau kalah. Mendengar balasan Sasuke yang bernada tinggi, emosi Sakura langsung naik ke tempat yang paling tinggi.
"Setelah memanggilku idiot kau menyebutku apa? Tolol?! Kau itu Sasuke! Jangan banyak menonton film-film aneh! Kau itu orang payah dan bodoh! Namamu itu Uchiha Sasuke! Jangan banyak hayalan, sialan!" Sakura berteriak dengan sekuat tenaga.
"Aku bukan Sasuke, bodoh! Aku bukan Uchiha Sasuke! Aku ini Daisuke! Daisuke! Kau tidak bisa membedakan kami?! Kau masih belum sadar juga?!" Sasuke berteriak marah-marah.
"Kau ini menghayal apa, sih?! Kau itu Sasuke! Bukan Daisuke! Aku tahu, kau ini terlalu banyak membaca dan menonton tentang Percy Jackson kan? Karena itu kau ini terkena ilusi dan penuh fantasi! Bangunlah dari mimpi bodohmu dan berhentilah membual yang tidak-tidak!" Sakura menggeram kesal.
"Kau itu yang bodoh! Coba ingat apa yang telah terjadi! Putar otakmu dan berhenti berteriak-teriak padaku! Dasar otak udang!"
"Apa kau bilang? Otak udang? Ak.."
Cup!
Sasuke berhasil mengentikan rentetan ocehan dengan satu kecupan cepat tepat di bibir Sakura. Sakura yang kaget menjadi beku seketika. Sedangkan Sasuke menatap kedua mata Sakura dengan tatapan yang intens.
"Aku ini Daisuke." Sasuke berkata dengan memegang kedua pipi Sakura yang masih terdiam seperti orang bodoh.
Sakura dan Sasuke yang digendong Itachi berdiri di depan gerbang rumah mereka. Sebelum mereka memencet bel untuk masuk, Sasuke turun dari punggung Itachi. Lalu ia mengambil jaket bertudung dari tasnya dan memakainya. Ya, kalian pasti tahu alasannya apa.
Setelah itu, mereka memijit bel rumah. Pintu gerbang pun dibukakan oleh seorang gadis berambut coklat. Tak lain, tak bukan dia adalah asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini. Syukurlah, itu lebih baik. Jika yang membukakan pintu gerbang ini Mikoto, urusannya bisa panjang. Mereka bisa kena ceramah umum yang tak ada habisnya. Untuk keberuntungan kecil dari Tuhan seperti ini, Itachi menghela napas lega dan memanjatkan puji syukur.
"Ayame, Ibuku pergi kemana?" tanya Itachi untuk memastikan bahwa keadaan benar-benar aman kepada gadis bernama Ayame itu. Kalau Mikoto ada di rumah, lebih baik mereka masuk lewat pintu belakang. Lalu mengendap-endap untuk naik ke kamar atas dengan tangga belakang agar mereka dapat kabur dari ceramah umum Mikoto.
"Nyonya dan Tuan telah berangkat untuk mengikuti pertemuan di Korea," jawab gadis manis itu.
Mendengar jawaban dari Ayame yang memancarkan aura kebebasan, Itachi benar-benar merasa kalau hari ini adalah hari keberuntungannya. Dia benar-benar merasa lega seakan tidak ada lagi beban yang harus dipikul di atas pundaknya. Gurat gembira langsung terpancar di wajah Itachi begitu pula dengan Sasuke yang wajahnya habis dipukuli. Ia hanya tersenyum tipis.
"Sebaiknya kalian masuk, di luar dingin. Saya sudah menyiapkan coklat hangat dan barang-barang Nona Sakura juga sudah saya bereskan," Ayame berkata dengan senyum ramah. Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah diikuti oleh Ayame di belakang.
Mereka bertiga masuk dengan tenang. Mereka langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamar masing-masing. Sakura langsung merebahkan badannya ke ranjang yang sudah dipasangi sprei bertema bunga berwarna merah muda. Kamarnya terasa dingin dan ranjangnya empuk. Sakura merasa bahwa punggungnya disangga dengan kuat.
"Ka-kamu ingin mandi duluan?" tanya Sasuke yang sudah di depan pintu kamar mandi dengan nada ragu-ragu. Sepertinya ia begitu segan dengan Sakura. Sakura menorehkan kepalannya ke arah Sasuke. Begitu mata mereka bertemu dalam sekejap, Sasuke menundukkan kepalanya. Entahlah, sepertinya dia takut pada Sakura karena kata-kata pedas Sakura yang pas sekali untuknya.
"Duluan saja. Aku masih ingin tiduran," jawab Sakura dengan singkat. Sasuke menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sakura memejamkan matanya bermaksud untuk beristirahat sejenak. Sungguh, ini merupakan hari yang paling melelahkan dalam hidupnya. Di pagi hari dia berkelahi dengan Suigetesu. Tadi siang dia dipanggil oleh alien berwujud siluman ular dari planet yang tidak diketahui namanya dan berdebat dengan nenek lampir si tukang sihir. Saat keluarga vampir seram bertandang ke rumah, nenek jahat hati itu menjelek-jelekkan namanya. Lalu Sakura menempuh perjalanan darat selama tujuh jam. Sampai di rumah ini sudah jam tujuh lewat karena macetnya jalanan. Ujung-ujungnya, dia masih pergi menemani Itachi untuk menjemput Sasuke yang ternyata dipukuli orang. Di sepanjang hidupnya, ini adalah hari dengan kegiatan terpadat.
Sebelumnya kegiatan sehari-harinya selalu sama. Urutannya adalah berkelahi, dimarahi, dihukum, menonton perang orang tuanya. Ah, jangan lupakan untuk membantu mengurus kedai. Hanya lima hal itu saja. Tidak pernah dia melakukan kegiatan yang melelahkan seperti ini. Sebenarnya rasa lelah yang ia dapatkan ini disebabkan oleh dirinya sendiri. Salahnya sendiri, kenapa dia harus ikut untuk menemani Itachi kalau dia dapat memilih untuk istirahat? Itu adalah pilihan bodohnya. Seharusnya ia tetap tinggal di rumah untuk istirahat dan masa bodoh dengan yang lainnya. Tetapi, apa daya jika naluri baiknya telah keluar? Ya, Sakura tak dapat menolak bisikan malaikat yang telah menyentuh hatinya.
Sambil berpikir dan merutuki kebodohannya sendiri, Sakura sudah menutup matanya. Pikirannya mulai merambat ke hal yang lain. Dia mulai memikirkan Nutella, Oreo, es jeruk, es krim, pizza, dan puding. Inilah tanda-tanda kalau Sakura ingin masuk ke dunia mimpi indahnya. Dimana di dalamnya hanya ada makanan dan minuman yang membuatnya kenyang dan bahagia. Ya, Sakura semakin terhanyut ke dalam pikiran manisnya. Dan dia mulai jatuh tertidur dan masuk ke dalam dunia mimpi indahnya. Dia tidak lagi memikirkan bahwa hari ini adalah hari tersial dalam hidupnya.
"Kalau kamu mau mandi, silahkan pakai kamar mandinya."
KRAKKK
Hancur sudah semua mimpi indah Sakura yang sangat ia sukai. Satu kalimat yang keluar dari mulut Sasuke itu sukses menghancurkan kebahagiaan semu Sakura. Indra pendengarannya memang sangat sensitif. Jadi, suara sekecil apapun dapat didengarnya. Karena suara Sasuke yang sepelan semut berjalan itu, Sakura terbangun dari tidur cantiknya. Matanya terbuka kembali dengan raut wajah tidak suka karena dia telah diganggu.
"Memangnya kau harus mengingatkan waktunya mandi di saat aku tidur seperti ini?" tanya Sakura dengan berdecak sebal.
Sasuke menelan ludahnya. Dia merasa kalau saat ini dia sedang berada di kandang buaya yang berisi dengan buaya-buaya yang siap menerkamnya kapan saja. Cari aman, Sasuke menundukkan kepalanya. Sakura bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke arah kamar mandi, dan sengaja berhenti di samping Sasuke. "Kau memang pecundang yang payah! Dasar orang bodoh!" bisik Sakura dengan nada meremehkan. Setelah mengatakan itu, Sakura masuk ke kamar mandi.
Rasa bersalah mulai meresap ke hati Sasuke. Dia merasa sangat tidak enak dengan Sakura yang sudah ia repotkan untuk hari ini. Padahal Sakura adalah tamu di rumahnya. Tetapi sang tuan rumah bukannya menjamu malah menyusahkan. Hari ini Sakura sudah berbuat banyak untuknya. Sakura sudah menolongnya untuk lolos dari Gaara dan menggendongnya untuk keluar dari sekolah. Sakura pasti begitu lelah. Tentu saja, badannya pasti berat. Punggung Sakura pasti sakit dan dia pasti kelelahan. Saat Sakura istirahat, bukannya membiarkannya, Sasuke malah membangunkannya. Pantas saja jika Sakura kesal. Sakura benar, dia hanyalah seorang pecundang payah dan orang bodoh yang tidak bisa apa-apa.
Tak lama kemudian, Sakura muncul dengan pakaian yang baru. Dia memakai baju you-can-see merah dengan legging hitam yang membentuk pas kakinya. Rambutnya ia cepol sehingga leher jenjangnya terekspos jelas. Sakura langsung kembali ke ranjangnya dan merebahkan dirinya.
Sasuke juga naik ke tempat tidurnya dan berbaring di atasnya. Ia memejamkan matanya dan berusaha untuk segera tidur, mengingat besok dia harus pergi ke sekolah. Nyatanya, sekarang itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Karena dia masih merasa tidak enak dengan Sakura yang sudah merepotkan diri untuk ikut campur ke dalam urusan yang seharusnya ia hindari, dia jadi sibuk memikirkan nasib Sakura yang besok akan mulai bersekolah di sekolahannya.
Bagaimana kalau komplotan yang sering mengganggu Sasuke juga mengganggu Sakura saat hari pertamanya nanti? Bagaimana kalau Sakura menjadi menderita dan stress karena tingkah menyebalkan dari komplotan itu? Bagaimana kalau kisah Sakura di sekolahnya memiliki akhir yang sama dari kisah Chouji? Semua pertanyaan tentang kelanjutan nasib Sakura berputar-putar di kepala Sasuke.
Stress dengan rasa khawatirnya terhadap Sakura, membuat Sasuke mulai merasa tertekan. Dia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Dia mulai merendahkan dirinya. Dia berpikir bahwa semua yang Sakura katakan itu benar. Dia memang pecundang. Dia memang payah. Dia memang orang yang bodoh. Dia sama sekali bukan laki-laki sejati. Dia hanya pecundang yang selalu perlu bantuan orang lain. Dia memang pengecut karena tidak bisa melawan.
Andaikan dia dapat menjadi orang yang lebih kuat, orang yang lebih berani, orang yang lebih percaya diri. Dia sangat menginginkan kepribadian yang seperti itu. Dia ingin menjadi seperti itu. Dia ingin melindungi seseorang, bukannya dilindungi. Seperti Daisuke.
Memikirkan semua ini dengan perasaan yang tertekan membuat Sasuke menjadi pusing. Semua yang ada di sekitarnya seakan beputar-putar. Rasanya seperti ada yang menghantam kepalanya dengan keras dan mendesaknya untuk menyembunyikan diri atau melangkah mundur. Sasuke membolak-balik posisi tubuhnya sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat nyeri seperti ditusuk-tusuk. Dia benar-benar tidak kuat menahan ini semua. Dan saking sakitnya, Sasuke sampai jatuh ke lantai. Ringisan mulai berkumandang dari bibir tipisnya. Bahkan kini dia berteriak-teriak seperti orang gila saking sakitnya.
Sekejap kemudian, Sasuke berdiam diri. Matanya berubah menjadi lebih tajam dengan pandangan yang dingin dan datar. Irisnya berkilat dengan warna yang senada dengan warna rambutnya. Seringaian terpatri di wajahnya yang menawan.
Ia menatap Sakura yang berdiri di hadapannya. Sasuke yang tadinya tergeletak di lantai langsung mengubah posisi badannya menjadi duduk di atas ranjang. Ia menatap Sakura dengan pandangan yang mengatakan bahwa ia rindu sekali dengan Sakura. Seakan kehadiran Sakura-lah yang ia tunggu-tunggu selama ini. Sakura menatap Sasuke dengan pandangan cemas setengah mati.
"Apa kau baik-baik saja?" Sakura menempelkan punggung tangannya ke kening Sasuke. Rasa hangat langsung menyergap indra perabanya. Sakura menghela napasnya sambil melepaskan tangannya.
"Kau sakit, ya? Fisikmu ini sangat lemah rupanya. Kenapa tidak mengatakannya padaku? Kalau kau sakit bilang saja. Tidak usah sok kuat menahannya! Memang kau tukang menyusahkan!" omel Sakura dengan berkacak pinggang. Sasuke tidak membalas omelan Sakura itu. Dia tetap fokus memandang mata Sakura.
"Kau ini ada-ada saja. Aku akan minta kompresan pada Ayame. Kau tunggu di sini, jangan bergerak dan jangan kemana-mana!" seru Sakura dengan melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar.
Tetapi, dengan cepat Sasuke menarik dan menggengam pergelangan tangan Sakura sehingga langkahnya terhenti dan mereka kembali mengadakan kontak mata. Sakura melepaskan tangan Sasuke secara perlahan. Sasuke kembali menatap mata Sakura dengan pandangan rindu yang mendalam.
"Bolehkah aku memelukmu? Aku sangat merindukanmu," ujar Sasuke dengan suara baritone indah yang menyejukkan hati.
Sakura menaikkan sebelah alisnya pertanda tidak mengerti. Sakura hanya diam, tak memberi respon. Dia bingung dengan kelakukan Sasuke saat ini. Melihat kalau Sakura diam saja, Sasuke berdiri sehingga wajah mereka bertemu. Dia menganggap diam sebagai kata lain dari iya. Sakura masih saja mematung karena dia tidak mengerti apa-apa. Otaknya masih memproses semua gerakan dan perkataan yang dilancarkan oleh Sasuke.
Greb.
Tiba-tiba saja, Sakura sudah berada di dalam pelukan hangat Sasuke. Sasuke melingkarkan tangannya ke leher Sakura dan meletakkan kepalanya di atas bahu Sakura. Sakura syok di tempat. Dia masih bertingkah seperti seorang idiot yang tidak tahu apa-apa. Dia hanya cengo melihat aksi Sasuke yang terbilang kurang ajar ini.
Sakura hanya dapat mematung. Tidak ada lagi jarak diantara mereka. Keadaan yang hening membuat adegan ini terlihat dramatis. Helaan napas mereka dapat terdengar jelas. Apalagi helaan napas Sasuke yang terdengar jelas dan membuat hawa panas terasa di tengkuknya. Hal itu membuat Sakura menjadi merasa panas-dingin. Dia merasa kalau sekujur tubuhnya merinding.
Begitu dia telah menyambung dengan keadaan yang telah terjadi, Sakura langsung melepaskan pelukan Sasuke. Kemudian dia menatap Sasuke dengan pandangann galak seperti ingin mengamuk. Emerald miliknya membulat tak percaya menatap kelakuan aneh bin ajaib dari Sasuke si pendiam.
PLAKKK!
Sakura menamparnya dengan keras. Pipi Sasuke langsung mendapat cap lima jari dari tangan Sakura yang mendarat di dataran mulus pipinya. Karena kulitnya yang putih, warna merah langsung kelihatan di sana. Sasuke diam mematung menatap Sakura yang sudah panas dan siap untuk meledak. Wajah Sasuke terlihat semakin babak belur.
"Apa yang kau lakukan, hah? Kau kira kau siapa?!" Sakura berteriak keras di depan wajah Sasuke yang tenang-tenang saja.
"Kau kurang ajar, Sasuke! Kukira kau adalah laki-laki bermoral baik dan sopan terhadap perempuan. Tetapi, nyatanya? Kau sama saja! Sama-sama brengsek dan kurang ajar! Dasar laki-laki brengsek!" teriak Sakura dengan keras sehingga dadanya naik-turun.
Mendengar kalimat terakhirnya, air muka Sasuke tak lagi sama. Rahangnya mengeras dengan gigi yang saling bergemelatukan. Dia seakan kesal dan marah mendengar pernyataan yang baru saja Sakura lontarkan. Sakura merasa sedikit takut melihat perubahan Sasuke. Harusnya kan dia yang marah karena dipeluk begitu saja. Kenapa jadi Sasuke yang marah? Apakah laki-laki itu tidak sadar kalau apa yang dia lakukan digolongkan dengan pelecehan karena mereka sama sekali tidak kenal dan bukan saudara kandung?
Sasuke berdiri dan mendekatkan badannya kepada Sakura. Sakura yang merasa kalau keadaannya sedang tidak menguntungkan dirinya, memilih untuk mundur ke belakang. Saat ini lebih baik kalau kita cari aman saja. Dalam situasi seperti ini, Sasuke terlihat berbahaya. Sakura terus mundur sampai akhirnya ia terpojok ke dinding. Gerakannya telah dikunci. Sakura tak dapat bergerak kemana-mana lagi karena Sasuke telah memegangi kedua tangannya. Sakura menatap mata Sasuke yang menatapnya dengan tatapan tajam yang menusuk ke dalam raga.
"Kau tidak bisa membedakan kami? Kau tidak bisa membedakannya?!" Sasuke berteriak pada Sakura dengan sekuat tenaga sampai wajahnya memerah. Sakura menelan ludahnya. Tak pernah ia sangka bahwa Sasuke dengan marah mode on ternyata sangat seram dan berbahaya. Sakura menarik napasnya dan menghembuskannya secara perlahan.
"Tenang dulu. Kau ini sebenarnya kenapa? Ceritakan saja padaku dengan cara baik-baik. Aku pasti akan mendengarkan semuanya. Sampai kau lega dan puas bercerita," Sakura memegang tangan Sasuke dan melepaskan tangan itu dari pergelengan tangan miliknya dengan gerakan gemulai nan lembut.
"Kami berbeda. Apa kau tidak bisa melihatnya?" Sasuke mengulangi pertanyaannya dengan nada yang sudah mulai sedikit tenang. Sakura menghela napasnya.
"Apa yang kau maksud dengan kami? Kau adalah kau, Sasuke! Jangan menghayal hal yang tidak-tidak!" Wajah Sasuke kembali bengis. Matanya memandang Sakura dengan tatapan benci.
"Aku bukan Sasuke, bodoh!" teriak Sasuke dengan emosi yang terlanjur meluap. Sasuke mengetuk kepala Sakura yang menatapnya dengan melotot.
"Apa yang kau lakukan, idiot? Seenaknya saja mengetuk kepala orang! Kau kira kau siapa? Dasar keparat sinting!" balas Sakura yang kehilangan kontrol. Mendengar jawaban yang penuh dengan power, Sasuke balas melotot. Saat itu, Sakura baru menyadari kalau tindakannya salah untuk situasi seperti ini.
"Oh? Hehehe.. Maaf, maaf, aku kelepasan.." Sakura cengar-cengir sambil menggaruk-garuk lehernya yang sama sekali tidak gatal.
"Aku bukan Sasuke! Dasar kau gadis tolol! Idiot!" Sasuke mengulangi pernyataan yang semakin membuat darah Sakura mendidih. Kalian tahu kan, Sakura paling tidak senang diremehkan. Baginya, tolol itu sudah lebih rendah daripada bodoh. Dan itu lebih kasar!
"Aaarghhhh… Kalau kau bukan Sasuke, lalu kau siapa?! Apa yang berbeda dari Sasuke super cengeng yang baru saja aku lihat?! Jangan membual, keparat! Aku sudah lelah mengurusimu hari ini! Jangan buat aku merendahkanmu dengan hinaan yang lebih menyakitkan! Dasar brengsek!" balas Sakura yang juga sudah kehilangan batas kesabarannya.
"Dia tidak akan bisa melakukan ini." gumam Sasuke dengan suara super pelan.
Secara tiba-tiba dan tak diduga-duga, Sasuke memajukan badannya. Tidak ada lagi jarak di antara mereka. Hidung mereka bersentuhan. Dan bibir Sasuke langsung menyambar bibir ranum Sakura. Dia memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Sakura. Sasuke mengamuk di dalam sana. Dia sama sekali tidak mau berhenti, padahal Sakura sudah megap-megap dan sudah berusaha menghentikan perbuatan jahat Sasuke dengan isyaratnya.
Dalam keadaan panik begini, Sakura hanya dapat mengandalkan gerakan refleks. Berhubung tangan Sakura ada di leher Sasuke, tangan Sakura menarik ujung rambut Sasuke yang modelnya seperti ekor ayam. Sakura menariknya sampai kepala Sasuke terdongkak ke atas dan bibir mereka pun terlepas. Sakura melepaskan jambakannya. Dia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk disetorkan ke paru-parunya.
"Apa kau sedang bermimpi mesum? Kenapa kau melakukan itu, hah?!" Sakura marah-marah dengan nafas ngos-ngosan. Sasuke tidak menjawabnya. Dia mengarahkan tangannya ke dagu Sakura. Lalu dia menarik dagu Sakura agar mereka kembali bertatap mata.
"Dengan penampilan yang seperti ini. Dengan tatapan yang seperti ini. Aku bukanlah Sasuke. Aku adalah Daisuke. Akulah pemilik tubuh ini. Sasuke itu adalah orang yang palsu! Hanya ada satu orang yang memiliki wajah dan tatapan seperti ini. Itu adalah aku, Daisuke! Ingat itu baik-baik!" ujar Sasuke dengan ekspresi seriusnya. Sakura hanya bisa berdiam diri saja.
"Terserahmu sajalah. Untuk hari ini, aku mengalah padamu. Karena kau kuanggap seperti adik sendiri," Sakura tertawa secara terpaksa seperti orang gila. Nampaknya, Sasuke juga sudah kelelahan karena berteriak-teriak seperti orang gila sedari tadi.
Sakura pun mengeluarkan inisiatif dari sisi keibuannya. Ia memegang pundak Sasuke. Lalu dia menggiring Sasuke kembali ke posisi awalnya yaitu berbaring. Setelah Sasuke berbaring, Sakura menarik selimut untuk menutupi badan Sasuke. Sakura menampilkan senyum terpaksa yang dibuat sealami mungkin. Err.. Maksudku, agar terlihat manis dan ikhlas saja.
"Apa yang terjadi malam ini adalah ilusi. Jadi, selamat malam dan tidurlah dengan nyenyak. Kau dan aku pasti sedang berkhayal dalam dunia mimpi yang sama. Ya, itu saja. Ini semua bukanlah hal yang nyata. Karena itu, tidak usah dipikirkan. Dan lebih baik kita tidur!" Sakura pun kembali ke ranjangnya dan melakukan hal yang dia lakukan kepada Sasuke.
Tring!
Dia sudah mengingat semuanya. Semua kejadian yang ia sangka hanya sebuah mimpi mesum belaka karena sugestinya sendiri, ternyata semuanya bukan ilusi semata. Melainkan kenyataan yang terpampang nyata! Kalau begini caranya, ciuman pertamanya bukan dicuri oleh Gaara! Pencuri ciuman pertamanya yang sebenarnya adalah Sasuke! Seorang laki-laki alim yang tidak bisa apa-apa selain belajar yang sedang berubah ke wujud monster bernama Daisuke.
Sakura terdiam di tempat. Dia masih sibuk mencerna semua peristiwa hebat yang sepertinya akan menjadi memori abadi untuk otaknya yang lamban. Sedangkan Sasuke menatap Sakura dengan pandangan yang mengatakan "Sekarang-kau-sudah-ingat?" Sakura menghentikan lamunannya.
Sakura mulai stress sendiri. Dia merasa bahwa dia telah dimonopoli oleh dua orang yang bertingkah seenaknya. Yaitu Gaara, musuh bebuyutannya dan Sasuke, manusia kaku yang sangat menyebalkan. Mereka berdua seenaknya saja menempelkan bibirnya kepada bibir Sakura. Memangnya dia adalah patung percobaan? Ini semua adalah pelecahan!
"Daisuke?" Sakura menatap Sasuke dengan pandangan yang mengatakan "apakah-aku-benar?"
"Hn. Kau benar," jawabnya dengan tatapan dingin dan mematikan. Sakura tiba-tiba saja tertawa. Hal ini membuat Sasuke merasa aneh.
"Hal ini menggelikan dan menurutku sangat tidak masuk akal. Jadi Sasuke mengidap D.I.D, begitu? Astaga.. Apakah sekolah ini memang khusus dibuat sebagai sekolah drama? Hahaha… Lucu sekali!" Sakura mulai menunjukkan kebiasaan lamanya, yaitu berbicara sendiri. Dia mondar-mandir seperti setrikaan yang sedang bekerja. Tak lama itu, dia mulai ketawa-ketiwi.
"Hal ini menggelikan? Apakah itu lucu bagimu?" Sasuke bertanya dengan nada rendah yang membuat Sakura merinding karena suaranya seperti alunan melodi kematian.
Sasuke mendekati Sakura yang posisinya sedang duduk tegap seperti tentara. Didekati seperti itu, otomatis Sakura memundurkan dirinya. Namun laki-laki itu tetap saja mendekati Sakura. Ia berhenti sampai kepala Sakura mentok ke dinding dan tak dapat lari lagi. Jujur saja, Sakura takut pada Sasuke yang seperti ini. Walau, ehem.. Dia terlihat sedikit keren. Sedikit! Ingat itu, sedikit saja.
"Eits.. Santai saja. Kita tidak perlu bicara sedekat ini, bung!" Sakura pun mendorong dada Sasuke agar jarak mereka lebih jauh dengan kedua jari telunjuknya. Sasuke menurut, dia duduk dengan tenang di kursi. Tetapi pandangannya tetap tertuju pada Sakura.
"Lupakan saja, karena pastinya kau tidak ingat denganku. Aku mau kita membuka halaman baru," ucapan Sasuke itu sangat melegakan hati Sakura yang tadinya berkecamuk tak karuan.
"Mulai sekarang, panggil aku Daisuke. Bukan Sasuke. Ingat itu, Sakura." Sasuke menatap Sakura dengan pandangan intens. Ralat, makudnya Daisuke.
"Dai.. Su… ke?" Sakura membeo seperti orang bodoh.
To Be Continue
HELLO GUYS!
AUTHOR SENENG BANGET, YA ARAA. #abisdapetduit
BERHUBUNG KITA DAPAT KEMBALI BERKUNJUNG KE INI AUTHOR BANGKE's WORLD, SEBAIKNYA KITA BERSYUKUR DULU KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA.
DENGAN SEGALA HORMAT, AUTHOR YANG EMANG BANGKE BANGET INI MEMOHON MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA BUAT MASALAH UPDATE YANG SUSAHNYA SETENGAH MAMPUSS.
AUTHOR NGGAK MAU CERITA LAGI ALESANNYA KENAPA, SOALNYA AUTHOR KAGAK MAU BUAT SESI CURCOL OKE?
SEBENERNYAA… AUTHOR STRESS MIKIRIN HASIL ULANGAN SEMESTER YANG KAYAKNYA NGGAK BERSAHABAT SAMA SEKALI HUWAAA #NANGISDARAH #AKHIRNYACURHATJUGA
HIKSS.. HIKSS..
OKE, ITU GAK PENTING. LUPAIN AJA.
MARI KITA LANJUTKAN KE ACARA YANG DITUNGGU-TUNGGU….
YAITU PEMBALASAN REVIEW HOHOHO..
OKE DEH, CAPCUS, YUKKK~
Asuka Kazumi : Yosh! Hallo! Akhirnya kita bertemu kembali yaaa. Gaara emang udah dapet dua kali, tapi Sasuke? Hehehe.. Mereka berdua emang cocok ya buat sahabatan, sampe Ino akhirnya sadar kalau dia suka sama Gaara. Hufty! Yang namanya cinta emang beragam kan? Kagak bis ditebak. Jadi poor you, Ino~ Oh ya, maapkeun author yang kayaknya terlalu bersemangat untuk memojokkan Neji #benderaputih #peacefinger Hehehe.. Kalau masalah karakter, author emang suka Sakura yang strong. Jujur aja, author rada bosen baca ff yang buat Sakura jadi orang lemah yang bisa ditindas sesukanya. Jadi, author buat kebalikannya! Oh iya, kalau masalah si Sasuke yang jarang muncul, jangan khawatir ya. Dimulai dari chap ini, Sasuke bakal bermunculan terus kok! Btw, makasih ya karna udah setia nungguin update untuk ff author ini #tears Author merasa bahagia sekali. Jadi, pastikan kamu muncul lagi di next chap yo! Ohh.. Satu lagi! Makasih karena udah bertandang ke INI AUTHOR BANGKE's WORLD! Bhayy:)
Ranindri : Hallo! Wahh.. ternyata kamu nggak sabaran juga ya? Ehehehe.. author mau kasih tau satu hal dulu. Cerita ini, alurnya cukup lambat, jadi kamu harus lebih sabar karena author nggak mungkin lupain pairingnya. Istilahnya, chap kemarin itu masih jadi pengantar untuk konflik ceritanya. Tenang aja, semuanya dapet bagian kok. Dari sini, Sasuke bakal muncul terus-terusan karena para tokoh mulai menghadapi konfliknya. Jadi, author mohon untuk bersabar sedikit yaa. Setelah baca chap ini gimana? Apa kamu masih nyesel karena mencet fav? Karena udah mau ngasih pendapat kamu sekaligus mampir ke ff author ini, author mengucapkan terima kasih. Semoga aja di next chap, kita bisa ketemu lagi yahh! See yaa!:)
Xiauka07 : Gehehehe.. Makasih yaaa, review kamu buat author ceria deh #lebay #lupakan As your wish, di sini sasusaku udah mulai menampakkan diri yaa. Jadi author harap kamu sabar saja untuk menunggu momen dimana mereka benar-benar bersama #eakk Jadi jangan lupa pantau fic author ini. Kalau bisa sih, next chap nanti author bisa ketemu sama kamu lagi yaa. Btw, makasih udah mau mampir:))
Nurulita as Lita-san : Hehehe.. Iya, kemaren emang full GaaSaku. Tapi mulai dari sini, mungkin SasuSaku akan mendominasi yaa.. Seperti yang author bilang, tenang aja. Semuanya pasti dapet bagian, jadi harap bersabar sedikit yoo.. Btw, makasih yaa karena udah mau berkunjung ke sini lagi. Author pengen kamu bisa muncul di chap selanjutnya. See u next time!:)
Grt Kim : Hi there! Kamu jelas ngerasa ini GaaSaku karena ini masih awal ceritanya. Tapi mulai dari chap ini, SasuSaku mulai terasa pelan-pelan karena author buat cerita ini dengan alur yang pelan. Jadi author harap kamu bisa bersabar karena chap inilah permunculan awal masalahnya. Ngomong-ngomong, makasih ya karena udah mau buang waktu buat baca ff author. Author harap, kita bisa bertemu lagi chap selanjutnya! Jadi, byebye..:)
Nanau10 : Tetep sasusaku kok, tenang aja. Jangan risau dan galau karena author bakal teguh pendirian sama keputusan yang udah author buat. Makasih yaa udah baca fic author ini. Don't forget to come again ! #sokinggris See uuuu:))
CEKBIOAURORAN : GOOD DAMN TO SEE YOU, DUDE! Lah.. author yang baca review dari kamu juga ikut berapi-api. Baca review dari kamu buat author nambah semangat buat lanjutin ff ini hehe.. Makasih lohh buat kehadiran readers berapi-api seperti kamu di sini hohoho. Mungkin kalau kita ketemu, kita bisa jadi pasangan berapi-api kayak Lee-Guy wkwkwk.. Tapi sama kok, author juga kurang suka sama cewek klemer alay yang bikin muak. Cewek sangar plus berani, itu tipe karakter idealnya author ehehehe.. Ah kamu gimana sih? Hinata aja belum muncul di sini, masa udah kesel duluan wkwk.. Pokoknya di chap selanjutnya kamu harus muncul! Harus! #pemaksaan Gak dingg.. pokoknya makasih ya karena udah mampir ke sini. Author harus liat kamu di next chap! #pemaksaanlagi Papayyyy:))
