ANIMAL GUARDIAN

By Hyuann
Kuroko No Basket Belongs to Fujimaki Tadatoshi
Don't like don't read
Warning: a bit OOC, typo, EYD kemana-mana, strayanimalGOM, contain abusing

Keterangan:
"aaaa" : bicara (terselip huruf italic jika terdapat kata-kata dalam bahasa jepang atau bahasa serapan lainya)
"aaaa": Telepati
'aaaa': Telephone
'aaaa'
: dalam batin/pikiran

CHAPTER 4: Voice and Vision

Previous:

Si biru bisa sedikit tenang sebab ia tahu apabila pamannya tengah melakukan apapun untuk sampai dengan cepat. Yang justru membuatnya khawatir adalah sang doberman misterius yang hidupnya kini berada di ujung tanduk. Tidak menyangka jika dapat bertemu lagi, namun begitu menyakitkan jika harus bertemu dengan cara seperti ini. Ada hal yang ia sadari. Pertama, anjing ini memang memiliki kesamaan dengan ke lima perliharaannya yang lain. kedua, ada perasaan yang berbeda yang ia sendiri tidak tahu dan sulit untuk mengatakan bahkan pada dirinya sendiri—Tetsuya tak ingin kehilangan. Tidak lagi.

"Bertahanlah! Aku tahu kau kuat nee...!" sinar biru itu menatap lembut pada rubi yang nampak berpendar indah dalam remangnya gang di siang hari.

.

"Terima kasih, Tetsuya...!"

.

.

4th Chapter begin here:

(Flashback: 5th years ago)

"Kumohon okaa-san, jangan sakiti dia. Ini salahku yang tak bisa menjaganya, hukum saja aku jangan dia... hiks!" dia memohon, merengek, meminta

"Kau tidak lihat apa yang sudah ia lakukan pada karpet rumah yang baru saja okaa-san beli? Dia mengotorinya dengan kaki-kakinya yang kotor dan menjijikan! Keluarkan dia!" perintahnya

"Tidak! Kumohon, beri aku kesempatan...hiks! Cuma dia satu-satunya temanku."

"Teman katamu? Seekor anjing pembawa kuman seperti ini kau sebut sebagai teman? Apa kau ingin disamakan dengan anjing? Kalian ini jelas berbeda... dan apa kau sebut tadi? Teman satu-satunya? Memangnya kau tak punya teman manusia yang sebaya dan sederajat denganmu? Tenang saja Tetsuya, okaa-san akan mengenalkanmu pada anak-anak dari kolega okaa-san. Kau akan belajar caranya berteman dengan mereka yang pantas dan sederajat!"

Tetsuya tidak mau. Teman manusia seperti itu hanya memanfaatkan dirinya yang pintar dan kaya. Tak ada yang murni ingin berteman dengannya.

Semakin jauh berpikir, ia lupa akan nasib anjing putih yang berusaha ia lindungi,

"Tidak, okaa-san! Jangan sakiti dia!"

"Minggir, Tetsuya!" demikian sang wanita itu membawa anjing yang tak berdaya itu entah kemana, tak membiarkan Tetsuya untuk berinteraksi atau bahkan mendekatinya.

"Tidak! Kumohon, Okaa-san! Shiro... Shiro... Kembalilah Shiro..!"

Tetsuya kecil telah kehilangan sahabatnya untuk pertama kali.

.

Sang langit tersadar dari lamunannya. Ingatan akan si putih di masa kanak-kanaknya sedikit mengusik pikirannya yang sempat kosong kala duduk di lorong tunggu yang sepi. Perasaan kehilangan yang tak ingin lagi Tetsuya alami pada anjing hitam misterius yang baru saja ia selamatkan, dan sekarang dalam penanganan intensif di ruang perawatan.

Jam di smartphone-nya telah menunjukan pukul 4.48p.m dan hampir satu jam sang anjing berada di ruang operasi. Dan Tetsuya dengan setia menungguinya di ruang tunggu selagi ayah angkatnya mengurusi administrasi dan bertemu dengan pelaku kekerasan pada hewan yang di rawat di Rumah Sakit tak jauh dari klinik—untuk memberikan sedikit cinta pada pria malang yang 'beruntung'. Izuki-ojiisan dan Hyuuga-ojiisan yang sebelumnya membantu untuk merescue harus kembali ke Shelter untuk mengurusi anak-anak kaki empat di sana.

Biasa jika lenggang tentu ia akan masuk ke dunia light-novelnya, namun sepertinya tidak untuk kali ini. Sama sekali tak ada niatan untuk sekedar menggenggam buku yang membawanya ke dunia lain itu. Ia sadar jika ia bosan menunggu seperti ini, tapi tak setitikpun niat, apa mau dikata? Pikirannya lebih senang untuk tenggelam dalam dunianya yang lain. Peristiwa 'kerasukan' yang ia alami tadi siang. Baiklah, kerasukan bukan kata yang tepat namun ia sendiri juga tidak tahu apa yang ia alami tadi siang. Ia melihat semuanya, ia cukup sadar dengan apa yang lihat saat itu, dan ia juga sangat sadar akan perasaan marah dan benci pada penjahat yang menyakiti anjing hitam itu tadi siang. Yang menjadi masalah, ia tidak cukup sadar untuk menyadari bahwa tangannya bergerak dan membuat pria itu menghantam tembok dengan sendirinya—tanpa mengotori tangan pucatnya. Oh! Apakah sekarang Tetsuya memiliki semacam kemampuan Telekinesis? jawabannya, bisa jadi.

"Tetsuya oh Tetsuya~~... koniciwa! Namaku Tetsuya sang ...~~!"

DEG DEG

'ugh... Tidak lagi!'

Dan pria biru ini kembali tersentak ke dunia nyata akibat suara gadis di kepalanya. Bersamaan tanganya juga meraih dada kirinya yang mulai terasa nyeri. Tangan kirinya lekas memasuki saku celana seragamnya untuk mengambil botol berisi pil yang selalu ia bawa.

Nihil. Botol itu tidak ada pada sakunya. Mungkinkah tasnya?

"uhuk..uhuk! haah..haah.."

Keringat dingin mulai turun dari pelipis pucatnya, nafasnya mulai tercekat dan dadanya semakin terasa terbakar. Ada sesuatu, yang begitu menekan di dadanya. Namun ia tidak pernah tahu apa itu, jantungnya seakan diremas langsung oleh telapak tangan dan mempersempit ruang di paru-parunya. Kala tangan kiri masih menggali sesuatu didalam tas sekolah, sedangkan tangan kanan masing enggan berpindah dari dada kirinya, takut jika jantung di tubuhnya dapat pergi dari raganya.

"haah...haaahh..."

Entah sudah berapa lama, yang pasti itu sangat lama bagi Tetsuya. Botol obat-sialan itu tak segera tergenggam, tersentuhpun tidak. Apakah ia lupa membawanya? Namun suara seseorang setidaknya berhasil menciptakan setitik rasa tenang meski kegelapan hampir menyelimutinya,

"TETSUYA!" suara panik sang ayah angkat yang berlari entah dari mana menggapai sang anak yang mulai kehilangan kesadaran.

"Tetsuya, bertahanlah nak! Tetsuya!"

"sa-sakit!" rintih lemah sang anak

Dari mulut yang sedikit terbuka akibat berusaha meraup setiap oksigen yang ada disekitarnya, lidahnya mulai merasakan rasa pahit yang khas dari obat yang biasa ia minum. Ia hanya merasa kepalanya dituntun sedikit ke atas dan dapat merasakan aliran air yang menyejukan tenggorokanya. Menghapuskan rasa pahit dari obat di mulutnya. Berikut aliran itu berhenti, kepalanya kembali menghadap lantai. Matanya menatap lantai yang bukan lagi putih melainkan coklat kulit yang menjadi warna dari sepatu milik pamannya yang sangat ia ingat.

"haaahhh...hah hah hah!"

"sudah merasa lebih baik?"

Hanya anggukan sekali disela-sela nafasnya yang memburu. Tubuhnya terasa berat, dan dadanya masih terasa sakit namun tidak sesakit sebelumnya. Dan rasa sakit di dadanya memang berkurang sampai kegelapan menyelimuti dirinya.

Grep

"Syukurlah, aku tepat waktu. Istirahatlah, nak! Anjing itu juga pasti akan kuat." Kata Teppei pada sang anak biru yang tak sadarkan diri.

"Teppei?"

"Tak apa Riko. Aku yakin ia akan baik-baik saja!"

.

.

"Aku?" tempat ini putih, tak ada apapun maupun siapapun. Hanya dirinya dan raganya.

"aah.. aku disini lagi, entah apa lagi yang akan kulihat," katanya pada dirinya sendiri.

Entah berada dimana dirinya berada. Hampir setiap kali dirinya kehilangan kesadaran karena angina-nya kumat, pasti ia akan berada di tempat ini. Awalnya semua putih, hingga warna-warni dunia mendatangi dan mewarnai warna putih disekelilingnya. Untuk kali ini, ia berada dalam sebuah pesta megah dengan langit berbintang yang memayungi aula pesta yang penuh dengan tuksedo dan gaun aneka warna.

"Kirei naa!" Gumamnya. Sudah pasti Tetsuya merasa Out-of-place saat ini. Disaat semua memakai pakaian rapi khusus untuk pesta seperti yang biasa ia datangati bersama orangtua 'lama'nya dulu, saat ini ia hanya memakai kaus polos putih dan celana sekolah hitamnya, gakuran-nya terikat di pinggang seakan ia habis membantu angkut barang di pasar, dan jangan lupa sepatu kets putihnya.

.

(Party Setting: Kuroko's Palace, years ago)

Satu-satunya lampu kristal raksasa membiaskan cahaya lilin-lilin kecil didalamnya, cahaya utama dari bintang dan bulan purnama mempercantik semarak pesta bagi ketukan-ketukan pantofel dan heels di lantai keemasan. Simphony yang merdu dan tenang mengalun dan menggiring berpasang-pasang insan untuk menari bak dua merpati yang saling bertemu rindu dan menikmati waktu berdua ditengah megahnya pesta di Kerajaan terbesar di Dark World.

Mungkin pesta ini terlalu dewasa bagi seseorang yang sedang dipestakan,

Atau tidak?

Diantara berpasang-pasang orang dewasa yang saling menatap. Diantara gaun-gaun aneka warna yang berkibas-kibas kala pasangan pria-pria tanpa beban dan ragu mengangkat pasangannya secara serentak. Tepat ditengah-tengah aula, diantara keramik yang membentuk lingkaran, setengah berwarna biru tua dengan setengah bulan kekuningan di tengah-tengah. Bersatu dengan setengah matahari oranye yang bersinar ditengah langit kemerahan. Seorang pria bersurai biru muda dengan tuksedo yang terkesan simple daripada mewah, selempang dengan lambang kerajaan menjadikan semua orang di dalamnya tahu siapa pria ini. Berdansa dengannya seorang gadis kecil yang tingginya tak sampai dada sang sang pria, rambut sebahu yang sewarna sang ayah dibiarkan tergerai dengan mahkota mawar biru melingkar manis di kepala kecilnya, gaun putih dengan lengan kanan transparan dan lengan kiri yang sleeveless namun terganti untaian mawar biru yang besar.

Pesta ini diperuntukan bagi sang gadis biru tersebut yang saat itu berusia 11 tahun, Kuroko Shiori. Dan jika diperhatikan dalam pesta megah ini tak terlalu banyak orang. Jika dikatakan ratusan, mungkin sebenarnya adalah puluhan sebab ini adalah perayaan hari ke 3 yang memang dikhususkan bagi kerabat dan keluarga. Bukan berarti rakyat tak dapat menikmati kebahagiaan akan bertambahnya usia sang putri mereka, namun pesta bersama rakyat telah dilaksanakan dilain hari, berikut pesta bersama dengan kolega kerajaan termasuk dengan kerajaan dari Light World.

Shiori kecil begitu menikmati pesta ini. Bukan karena kemegahannya, melainkan kepada sang ayah yang memberikan senyum lembut yang sangat jarang dilihat orang lain. menciptakan senyuman lembut lainnya bagi berpasang-pasang mata yang melirik dalam dansa mereka. Bagaimana dengan sang ibu? Sang ratu tengah berdansa dengan pria kecil dengan rambut putih keabu-abuan, bukan karena penuaan dini melainkan karena itu adalah ciri khas dari keluarga Mayuzumi. Kerabat dari keluarga Kuroko. Well, jika dilihat lagi, selain warna-warni kain mewah para tamu, aula ini dipenuhi warna putih keabu-abuan dan teal-blue yang khas dari keluarga Kuroko dan Mayuzumi.

Senyuman dan sukacita bagi mereka yang berada dalam pesta ini. Merayakan bertambahnya umur bagi sang putri kecil yang menyimpan kebijaksaan sang ayah diusia muda.

Sayang sekali pesta ini tak akan lagi indah dalam sekejab mata.

.

KUROKO TETSUYA POV

Siapakah gadis bersurai biru itu? Dan pria yang berdansa bersamanya? Semua wajah disini hanya nampak gelap sehingga aku tak mampu melihat wajahnya, hanya fisik dan surai-surai biru seperti yang kumiliki dan putih keabu-abuan. Meski aku tak dapat melihat wajah-wajah mereka, tapi aku dapat merasakan sukacita disini. Jika boleh jujur, ada perasaan iri yang kurasakan saat ini. Mereka adalah sebuah keluarga sedarah dan sukacita melingkupi mereka demi merayakan ulang tahun sang anak, sedangkan aku...

Ayolah Tetsuya, tak ada gunanya berpikir hal itu.

Dan lagi, aku sendiri tidak tahu-menahu akan penglihatan ini-atau bahkan penglihatan lainya. Dan ini sudah sekitar kelima kalinya aku mendapatkan penglihatan, dan setiap penglihatan tidak memiliki keterkaitan—atau belum—antara penglihatan satu sama lain. suara nyanyian gadis—atau wanita itu sama sekali tak mengatakan apapun padaku.

Dan perasaan itu datang lagi, perasaan ketakutan yang selalu kurasakan ketika menyaksikan penglihatan-penglihatan ini.

END OF KUROKO TETSUYA POV

.

Tak ada yang tahu.

Tak ada yang tahu akan senyuman hingga ke mata dalam sukacita pesta sang putri. Merubah warna-warni pesta di malam tenang dan indah menjadi hitam-putih nan suram bak film dokumenter sejarah yang selalu ia lihat.

Kaki Tetsuya tak mampu digerakkan seakan terpancang di lantai yang ia pijak. Matanya menatap horror pada peristiwa abu-abu seakan tak diijinkan untuk memalingkan pandanganya. Tetsuya tentu tidak bodoh juga dengan cairan keabuan kental yang mengenai pipi pucatnya tanpa ia tahu, dan bahkan meresap pada serat-serat kain yang ia kenakan. Kuroko Tetsuya, satu-satunya yang berwarna namun tak terlihat, membeku dalam peristiwa kelabu mengerikan yang ia saksikan.

"Tidak! Tolong jangan! Tidak lagi! Kumohon!" gumamnya lirih, ia ingin memejamkan matanya namun tak sanggup. Ingin dapat memalingkan diri dari segala apa yang ia lihat saat ini, namun tak bisa.

Seakan waktu berhenti sebab semua orang tiba-tiba berdiri tak bergerak, bahkan musikpun ikut berhenti, segala penerangan menghitam dan menyisakan sang penerang malam. Hanya sunyi, hingga cairan keabuan yang gelap mulai menetes perlahan dan kian deras dari kain-kain yang menutupi tubuh setiap insan. Menetes dari pinggang, kaki, tangan, dada, jari-jari, bahkan pelipis, dan wajah mereka. Dan tubuh mereka jatuh potong demi potong bagaikan daging segar yang telah dipotong sama rata.

"KYAAAAAAAAAA!" netra langit siang tertuju pada tubuh gadis yang dipeluk oleh seorang anak berambut putih keabu-abuan.

Nampaknya masih ada yang hidup. Ada empat orang yang masih berdiri, rupanya sang raja dan sang ratu sekaligus sang ayah dan sang ibu dari gadis yang berulang tahun melindungi sang putri berikut sepupunya yang berasal dari klan Mayuzumi itu. Namun yang aneh adalah, hanya kedua anak itu yang terselubungi oleh sesuatu seperti bola transparan—gelembung mungkin. Si anak laki-laki nampak sedang berkomunikasi dengan kedua orang tua sang gadis sembari berusaha menutupi pandangan sang sepupu dari pemandangan mengerikan yang terjadi tepat dihadapan mereka. Tetsuya ingin tahu apa yang mereka diskusikan namun tak sedikitpun suara terdengar. Namun mengapa ia dapat mendengar teriakan sang gadis tadi?

Si anak bersurai putih itu memberikan anggukan pada kedua orang dewasa yang masih bediri itu, kemudian tangannya mengangkat sang gadis yang sepertinya sudah tak sadarkan diri entah sejak kapan, namun tangannya tetap mencegah mata sang gadis untuk melihat. Seperti hamster yang berlari dalam bola, ia pergi dari tempat laknat itu dalam bola transparan yang menyelubungi dirinya dan sepupu dalam gendonganya. Meninggalkan dua insan yang tersenyum lembut melepas kepergian sang anak. Berlari menembus Tetsuya begitu saja yang tidak luput dengan air mata yang menetes di udara. Sepertinya anak laki-laki itu berlari sambil menangis.

'siapa juga yang tidak menangis jika berada diposisinya.' batinnya prihatin

Matan langitnya kembali pada sepasang manusia yang masih berdiri tersenyum, kini mereka saling menatap, tangannya bertautan satu sama lain, seakan tahu dan pasrah dengan apa yang akan teradi selanjutnya. Seberkas cahaya nampak berpendar dari tubuh mereka, terbang dan lepas seperti butiran-butiran pasir yang diterbangkan angin yang kemudian menggelap dan membentuk sesuatu. Dan nasib mereka sama seperti mereka yang tergeletak mengenaskan, tetesan demi tetesan gelap yang kian deras dari tubuh mereka berdua, dan berjatuhan potong demi potong. Dari tangan yang saling bertautan, kemudian potongan demi potongan daging dan darah segar dari kaki, pinggang, dada, leher, dan kepala yang masih utuh menggelinding begitu saja.

"ugh!" Tangan kanannya refleks menutup mulutnya dan tangan kirinya menekan perutnya, menahan agar segala isi perutnya agar tidak keluar dari pemandangan mengerikan yang ia lihat.

Sekalipun tidak mencium aroma apapun, namun tetap saja ada rasa jijik –yang sempat terlupakan- dari melihat segala adegan yang seperti film thriller yang sering dibicarakan teman-temanya di sekolah, bahkan ketika menontonnyapun tidak semengerikan ini yang hampir membuang seluruh isi perutnya.

JEGREG CRIIIITTT

Suara seperti cicitan tikus yang sedikit memekakan telinganya, menarik atensinya karena sejak tadi pendengaranya tak berfungsi selain teriakan dari gadis biru tadi. Ketika ia mengedarkan pandanganya ke sekeliling, matanya semakin melotot kala terdapat benang-benang tipis yang meneteskan cairan abu-abu gelap, melintang kesana kemari dan dimana-mana, bahkan ada yang menembus dirinya—dan bersyukur bahwa dirinya transparan saat ini. Perlahan benang-benang itu tampak mengendur dan turun menutupi daging-daging mayat seperti jaring ikan.

'Senar piano! jadi ini yang menyebabkan tubuh mereka terbelah seperti ini secara tiba-tiba tanpa satupun orang menyadari. Tapi sia pa yang tegamelakukan ini?' batinnya menganalisis kala ia benar-benar dapat melihat senar-senar itu turun perlahan tanpa membelah dirinya.

Dan atensinya kembali teralihkan pada sesosok manusia yang masih hidup, lengkap dengan jas rapi yang masih sangat bersih. Tak setitikpun goresan bahkan tetesan abu-abu gelap nampak muncul di tubuhnya. Di jasnya tersemat lambang kerajaan yang menyatakan bahwa dirinya adalah orang penting kerajaan. Namun warna rambut sebahunya yang berbeda dari warna rambut para tamu di pesta menandakan bahwa dirinya bukanlah seorang dari kerabat kerajaan. Seperti biasa, wajahnya gelap sehingga tak terlihat seperti apa wajahnya. Namun Tetsunya dapat melihat seringai lebar yang membuat bulu kuduknya berdiri. Orang itu melangkah menuju mayat sang raja dan tanpa rasa jijik mengangkat kepala sang raja yang masih meneteskan darah segar. Masih dengan seringainya, Bibirnya bergerak mengatakan sesuatu yang tak dapat tetsuya dengar, dilanjutkan dengan gelak tawa yang mengerikan. Sepatunya nampak menendang-nendang onggokan daging—atau kepala bersurai biru lainnya, yang jika diperhatikan seperti mayat dari gadis biru yang tadi pergi melarikan diri dengan digendong oleh sang sepupu bersurai putih keabuan,

"ti-tidak mungkin! Ba-bagaimana bisa?"

Oh Tetsuya, seandainya kau tahu bahwa mayat itu adalah hasil dari serbuk pasir yang sebelumnya merupakan cahaya yang lepas dari tubuh Sang Raja dan Sang Ratu dan kemudian membentuk potongan-potongan mayat palsu. Dan jika diperhatikan lagi, mayat berambut putih dari sang sepupu juga ada disana

Dan semua kembali putih.

.

"Co-cotto matte! Kenapa? Siapa dia? Siapa mereka? Aku tidak mengerti, kenapa kau menunjukan ini padaku? Apa hubunganya denganku? " Ia berteriak, memohon, berharap, namun entah kepada siapa. Entah kepada suara sang gadis yang terus menariknya untuk memperlihatkan "penglihatan" ini, ataupun kepada siapapun termasuk dirinya sendiri.

Perasaan Tetsuya begitu campur aduk. Takut, marah, bingung dan tersesat. Siapakah dia? Siapakah Kuroko Tetsuya, sampai diberikan penglihatan-penglihatan ini? apakah mereka keluarga Tetsuya? Tapi bagaimana bisa? Bagaimanakah dia lahir sebelum ini?

"Tetsuya oh Tetsuya~~... waktunya bangun Tetsuya~!" dan suara itu kembali terdengar di telinganya. Seakan tak peduli dengan setiap pertanyaan frustasi sang anak, seakan mengejek segala kehidupan yang selama ini ia jalani, membuatnya semakin tersesat dalam pikiran dan batinnya. Namun sepertinya Tetsuya sudah kebal, toh ia sudah biasa diabaikan. Ia pasrah saja ketika dirinya dikembalikan –entah-dengan-apa-caranya- ke dunia nyatanya, hanya delikan yang entah ia tunjukan pada siapa yang menjadi jawaban akan senandungan sang gadis.

.

.

(Klinik, 5.35 p.m)

"Sudah bagun, Tetsuya?" suara yang sudah akrab di telinganya berusaha mengembalikanya dari rasa kantuk setelah sebelumnya pingsan akibat penyakitnya yang kambuh.

"Bagaimana keadaanmu, Tetsuya-kun?" dan satu lagi suara sang ibu angkat yang mulai menjernihkan pikiranya dari segala mimpi—penglihatan yang baru saja menghantuinya.

"Ojii-san, Obaa-san, aku baik-baik saja. Sudah berapa lama aku tertidur?" tanyanya sambil mengucek-ucek matanya dan bangun dari pembaringannya. Ia baru sadar jika sejak tadi ia tertidur berbantalkan paha sang ibu dan terselimuti oleh jaket sang ayah. Dan masih di ruang tunggu klinik.

"Tidak begitu lama, sekitar tiga puluh menit. Kau yakin sudah tidak apa-apa?" jawab sang ayah sekaligus berusaha memastikan keadaan sang anak

"Hai, terima kasih sudah bertanya ojii-san, bagaimana keadaan anjing itu?" jawabnya seakan tidak peduli dengan keadaan dirinya. Namun memangnya Tetsuya sudah tak peduli dengan dirinya sendiri setelah apa yang terjadi.

'sasuga anak ini!' batin paman dan bibi yang dongkol bersamaan."Kami belum tahu, dokter belum memberikan informasi apapun." Jawab sang paman jujur.

"Sou desu ka?" merasa tak puas, ia memilih diam dalam duduknya.

" Nee Tetsuya-kun, bagaimana jika kau mengganti atasanmu? Kau berkeringat sekali, sebaiknya kau ganti baju dan cuci muka. Jika nanti dokter sudah selesai, kami pasti akan memberitahumu," saran sang bibi dengan senyum lembut terulas di wajahnya

"Maa, sepertinya jaketku terlalu panas, ya? Wari-wari!" timpal sang ayah dengan senyum bodohnya ditambah tangan yang menggaruk-garuk kepala belakang yang tidak gatal.

"Mattaku, benar juga! Padahal di sini ber-AC, sebaiknya kau segera mengganti bajumu sebelum kau masuk angin akibat kelakuan ayahmu yang bodoh disana itu!" jari telunjuknya yang lentik menunjuk sukses sang pria yang duduk di kursi sebrang yang masih setia dengan senyum bodohnya.

"Obaa-san, meskipun dia bodoh kau tetap mencintai dan menikahinya juga, kan?" timpal sang anak datar yang seketika menciptakan panah imajiner dan sukses menembus dada sang ibunda angkat.

"Mou, Tetsuya-kun~~! Are? Sudah hilang?" dan sang ibu hanya celingak-celinguk sebab sang bocah yang ingin dibalas telah menggunakan misdirection anadalanya untuk kabur dari amukan ibunda, hanya tersisa tawa renyah sang ayah yang sepertinya berhasil mendapatkan senyum kecil sang anak ketika kabur dan wajah bodoh sang istri yang celingukan mencari sang anak.

.

(Toilet's Clinic)

Rasa syukur kembali Tetsuya haturkan pada segala tuhan akan orang tua angkat yang selalu bisa mengembalikan moodnya. Orang-orang hebat yang sangat berjasa bagi Kuroko Tetsuya. Sayang sekali dalam kesunyian ini rasa senang itu tidak bertahan lama. Mau tidak mau otaknya membuatnya mengingat kepingan 'penglihatan' itu, dan perasaan campur-aduk itu juga kembali mendatanginya tanpa permisi.

"cih!"

Berusaha mengabaikan otaknya, ia mulai melepas kaus putihnya, nampak bagian tubuh berkulit putih yang memunculkan otot-otot terutama di bagian lengan dan perut. Tak bisa dibilang kekar memang, tapi otot-otot inilah yang menjadi saksi bisu bagaimana perjuangan dirinya dalam olah-raga basket kesukaanya. Mau tidak mau Tetsuya menatap pantulan dirinya dari kaca toilet klinik yang menampakan secara penuh bagian depan dadanya dan wajah pucatnya—hal yang paling ia hindari setelah dirinya pindah ke rumah barunya. Ia hanya belum siap untuk melihat penampakan menyedihkan dirinya sendiri yang tanpa ia sadari telah dua tahun berlalu dan menjadi kebiasaanya untuk tidak menatap kaca ketika membuka baju. Nampak sedikit garis-garis merah kehitaman dari pinggir bagian pinggang ke belakang—namun bukan itu yang saat ini menjadi perhatian netra langitnya.

"Apa ini? sejak kapan ada bekas ini?"

Tangannya mengusap-usap gambar—garis—coretan kehitaman yang menempel di dada kirinya. Tapi tidak berhasil, tak pula lunturan tinta hitam yang ia harapkan menempel di tanganya. Ia coba dengan sedikit bantuan sabun tangan dan air namun tetap nol besar hasilnya. Menyerah, ia menarik tissue toilet untuk mengeringkan dadanya yang basah karena ulahnya. Menambahkan catatan di otaknya untuk membersihkan noda hitam misterius di dadanya ketika pulang ke rumah dan mandi. Dari goodybag yang diberikan ibu angkatnya ia mengenakan T-shirt biru navy berkerah abu-abu dan mengganti celana sekolahnya dengan jeans abu-abu. Setelah merasa nyaman ia melipat rapi pakaian bekas pakai untuk kemudian dimasukan kedalam goodybag dan keluar menghampiri kedua orangtuanya, berharap sudah ada kabar tentang sang anjing yang sejak tadi ia nantikan.

Bingo

Benar saja ketika ia berjalan dari toilet kedua orang tuanya sedang bicara dengan pria berjas putih, lekas-lekas langkah ia percepat untuk segera sampai di tujuan.

.

"Sensei, bagaimana keadaan anjingnya?" tanya sang anak biru tidak sabar, menciptakan jengitan tiba-tiba dari kedua orang tua yang masih belum terbiasa dengan hawa keberadaan tipis sang anak.

"Ano, sejak kapan kau disitu?" dan jangan lupa pertanyaan bodoh sang dokter berikut wajah bingungnya kala melihat sang anak biru yang muncul tiba-tiba dan mengabaikan pertanyaannya.

"Baru saja!" balasnya singkat, padat, jelas, dan datar

'dan seperti biasa ia datang tanpa suara sedikitpun! Sasuga Tetsuya/-kun!' bakin kedua orang tua yang speechless bersamaan.

"ohh, ahh—ya—baiklah! Ehem... seperti yang sudah kukatakan pada kedua orangtuamu, dia kehilangan banyak darah, dan bisa saja kami kehilangan dia jika terlambat lebih dari tadi. Jika tidak ada masalah, setelah tiga hari kau sudah bisa membawanya pulang." Jelas sang dokter hewan, meski sempat terbata akibat serangan jantung mendadak yang ditimbulkan oleh Tetsuya.

"Sou desu ka? Yokatta! Arigatou gozaimasu, sensei!" sebagai bentuk rasa syukurnya, sebuah bungkukan badan ia persembahkan pada sang dokter yang berhasil menyelamatkan sang anjing.

"baiklah, kalau begitu saya permisi!" Ketika sang dokter berlalu, Tetsuya kembali menghilang—tapi setidaknya kedua orangtuanya tahu kemana dia pergi.

.

(One of the cage for animal's patient)

Tetsuya sudah berjongkok dihadapan kandang yang terbilang cukup besar, yang di dalam telah diberi alas yang cukup tebal sehingga hewan yang dirawat inap merasa nyaman pasca operasi. Beruntung, perawat di sana mengizinkan Tetsuya untuk menjenguk sang anjing yang saat itu hampir menutup kandangnya. Jadilah sekarang perhatian Tetsuya 100 persen diberikan pada sang anjing. Tangannya membelai lembut kepala hitam besar yang nampak linglung di pembaringanya. Senyum lega terpancar di wajah tampan sang anak biru.

Anjing terbaring miring di atas alas di kandang klinik, nafasnya teratur dan matanya setengah terpejam karena menyadari kehadiran sang penyelamat yang ternyata masih setia menunggunya dan saat ini tersenyum lembut padanya. Lehernya diperban, sebab bagian leherlah yang terluka parah tadi. Bagian lain yang terluka hanya dicukur dan diberi antiseptik, namun ada pula yang ditutup dengan plester, kaki kanan depannya tertutup perban yang menutupi jarum dan terhubung dangan cairan infus. Miris hati si anak melihat ini, seekor mahluk berkaki empat yang menjadi korban kekerasan manusia. Bukan pertama kali baginya mengetahui hewan-hewan korban kekerasan, namun tetap saja ia tetap miris setiap kali menyaksikan mereka yang masih tetap tegar dan ceria di shelter setelah apa yang mereka terima dari owner lama mereka.

Sisi lucunya, anjing ini akan nampak merah muda, sebab sebagian besar bagian tubuhnya yang berbulu hitam telah tercukur dan menyisakan kulit merah muda. Tapi tentu itu tidak jadi masalah bagi Tetsuya, masih banyak anjing-anjing dan kucing-kucing di Shelter yang masih belum menumbuhkan bulu pasca-pengobatan yang mereka terima setelah diselamatkan oleh tim rescue ayahnya.

"Jadi, akan kau beri nama siapa anjing itu, Tetsuya?" suara sang ayah menginterupsi keasyikannya memanjakan sang doberman, membuatnya menatap kedua orang yang menatap dari belakang karena tak ingin mengganggu kegiatan sang anak.

"Kau bilang dia misterius kan? Bagaimana kalau 'Mistery'?" saran yang sepertinya ngaco dari sang ibu. Menciptakan raut wajah aneh sang anak yang kembali menatap sang anjing,

"Aka..akato..aka..." gumamnya berusaha memberi nama yang diawali dengan warna merah, sebab apalagi alasannya jika bukan karena warna matanya,

"Akashi!" terdengar suara pria dipikiranya, menciptakan senyum berarti di wajah sang anak

"Aka—Akashi-kun?" kini giliran suaranya yang memperjelas suara di kepalanya.

'lagi-lagi, aku mengikuti suara-suara itu. Sepertinya kalian memang memiliki nama sendiri. Aku penasaran apakah pemilik awal kalian mengetahui nama-nama indah ini?' batinnya yang tersenyum dan terpancar di mata rubi sang anjing.

"Njaa, selamat datang di keluarga Kiyoshi, Akashi/Akashi-kun!" suara pasangan itu berkoor-ria namun tidak terlalu keras. Tetsuya yang mendengar itu, tahu arti dari kata sambutan itu.

'aku, boleh memeliharanya di rumah?' tanyanya dalam hati yang kemudian dibalas anggukan oleh sang ayah, seakan ia tahu apa yang menjadi pertanyaan sang anak. Dan terciptalah senyum lebar yang sangat dinantikan oleh pasangan Kiyoshi dari wajah pucat sang anak.

"Selamat datang Akashi-kun!"

To Be Continue

STAY CALM AND STOP ABUSING ANIMAL

A/N:

Why do I feel something off with this chapter? Did I made this chapter too blunt or bloody? Should I change the rate? Hrrhhgg... I'm beat! #tepar

Kise: "Hyuanncchi, bangun-ssu!"
Mido: "Biarkan dia tidur, Kise!"
Kuroko: "Midorima-kun benar, Kise-kun!"
Kise: "Demo—"
Kuroko: "Hyuann-san lelah setelah mengejar deadline tugas di bulan ini, jadi maklumi saja kise-kun!"
Kise: "Deadline kok dikejar-ssu?"
Mido: "Dia bukan kamu yang paling malas mengerjakan tugas-nanodayo!"
Kise: "Hidoi-ssu!" *nangisBuaya

Kuroko: Minna-san, domo! Karena hari ini Hyuann-san sedang tepar, maka saya yang akan menggantikannya di Author Note.

Etto, pertama untuk membalas review:

EmperorVer: etto... pesan dari Hyuann-san, Terima kasih untuk EmperorVer-san yang ternyata senang dengan fanfictnya. Mohon maaf jika untuk chapter ini harus telat banget karena kesibukkan di dunia nyata. Dan soal Tetsuya yang dikira akan kena botol, tenang saja! Penyiksaannya untuknya masih tersedia di chapter-chapter mendatang, jadi untuk chapter sebelumnya dibiarkan lolos dulu (Kuroko: "Hyuann-san, tolong bersiap setelah ini aku akan memberikanmu Ignite Pass Kai" *Aura gelap | Hyuann: "hatchi!") Semoga suka dengan chapter ini. Arigato gozaimasu!

May Angelf: Untuk May Angelf-san, Hyuann-san berpesan 'maafkan telah membuat Tetsuya suram seperti ini dan terima kasih atas reviewnya. Semoga May-chan menyukai chapter ini dan mohon akan keterlambatan update-nya' demikian pesan dari Hyuann-san #bow *Aura gelap (Hyuann: hatchi! #kedinginan #TarikSelimut)

Dan untuk minna-san sekalian, terima kasih bagi yang telah bersedia men-follow dan favorite

Kise: "Hyuannchi juga bukannya habis galau-ssu?"
Mido: "Hanya karena anime fandom sebelah habis tamat-nanodyo!"
Kuroko: "jangan begitu Midorima-kun, tidak ada anime itu maka Hyuann-san tidak akan menngenal kita saat ini."
Kise: "Kurokocchi ada benarnya-ssu! Tapi sekarang dia kejebak anime fandom lain, gimana dong-ssu?"
Kuroko: "tidak apa Kise-kun, Hyuann-san selalu berusaha untuk bertanggung jawab, buktinya tugas-tugasnya selesai tepat waktu meski begadang berhari-hari."

-Hyuann di kamar—

Serius amat mereka bertiga *ucek-ucek, ampe lupa mereka buat nutup. Yaudalah ya, gua aja yang nutup. Fict gua ini,

Olla minna-san, #huaaaeemm
Hontou ni gomenasai atas keterlambatan updatenya. Seperti kata mereka memang saya sempat sakit tugas beberapa minggu ini. Hope you guys enjoy this chapter. #Bow #teparLagi

Kritik dan saran saya nantikan,
Follow and Favorite jika berkenan.

Arigato Minna-san