Aoba's Bad Day
"Jadi, Mug."
"Iya, Sor?"
"Lu punya hubungan apa sama Aoba-sensei?"
Tsumugi menghentikan santapan es krimnya, tersedak. Kemudian menatap Sasori yang juga ikut berhenti menyeduh mie ayamnya.
"Uhuk! Gak tahu, ya. Memang kenapa, Sor?"
"Begini, lo, Mug. Lu nyadar, gak, kalau nasib kalian tuh sama aja?" Sasori menatap Tsumugi serius. "Maksud gue, kalian, tuh, sama-sama sering ketiban sial."
"Ah? Masa, sih? Emang lu pernah lihat Aoba-sensei kena sial, Sor?" Tsumugi bertanya balik.
"Ya, sialnya gak kayak elu juga, sih, Mug. Tapi gue sering lihat dia kayak dikacangin murid dan guru-guru di sini!"
"Apa iya, Sor? Gue gak ngerasa, tuh?" Tsumugi mengernyitkan dahinya.
"Itu, sih, karena elu juga sama-sama sering dikacangin, Mug! Makanya gak ngerasa!" Sasori menampar pelan lengan Tsumugi. Mereka pun akhirnya tertawa, menertawakan nasib Aoba-sensei dan Aoba Tsumugi.
"E-erm! Kalian sedang membicarakan saya, ya!?" tiba-tiba saja, sebuah suara menginterupsi tawa mereka. Mengubah tawa lepas mereka menjadi tawa hambar. Dengan patah-patah, mereka menoleh ke belakang.
"Ha ha... Aoba-sensei..."
Sasori menyikut Tsumugi. Dengan sekali kerlingan, Tsumugi pun tahu apa maksudnya.
"Sor, dalam hitungan tiga, kita—"
"Lari, Muuuug!"
Duagh!
Tanpa memedulikan duo Aoba itu, Sasori langsung berlari menerobos Aoba-sensei yang mencoba menghalangi mereka. Alhasil, Sasori pun menabrak guru berkacamata hitam itu dan membuatnya terjatuh. Sayangnya Sasori tetap terus berlari, meninggalkan Tsumugi yang hanya bisa celingukan.
"Tu-tunggu, Sooor!" Tsumugi pun ketakutan dan berlari menyusul Sasori. Aoba-sensei kembali tertabrak—tidak sengaja. Tapi, tentu saja Tsumugi terus memacu larinya. Akhirnya ia sampai ke belokan menuju tangga.
Duagh!
"Aaaakh!
"Huwaaaa~"
Lagi-lagi Tsumugi menabrak orang.
Dan kali ini adalah seorang gadis. Sepertinya anak kelas satu.
"Aoba-san, kau tidak apa-apa?" tanya teman si gadis yang tertabrak Tsumugi.
"A-ah, aku tidak apa-apa, Matsuri-san," gadis tadi pun mencoba berdiri dengan dibantu temannya.
"Ayo, kita ke kantin sekarang! Nanti istirahat keburu kelar!" si gadis itupun menarik lengan temannya yang daritadi kebingungan melihat Tsumugi yang masih terjerembab.
"E-eh? Tapi, yang menabrakmu itu bagaimana, Aoba-san?"
"Jangan panggil aku dengan nama margaku. Panggil Moka saja. Ayuk!"
Tidak terdengar lagi suara mereka. Mereka sudah menjauh. Meninggalkan Tsumugi yang hanya bisa meratapi nasibnya hari ini.
'Dasar Aoba kambing! Bukannya nolongin, malah lari!' tangis Tsumugi dalam benaknya.
'Oh, iya! Namaku, kan, juga Aoba!"
Feedback please! ^^
