SEBENARNYA, SIAPA ORANG YANG KAU SUKAI?
Fanfiction by: Chikara Hoshi/Ai Natsu
Gintama (Hideaki Sorachi)
Pairing: Sakamoto x Mutsu x Oryo
Karakter yang akanmuncul: Yorozuya Gin-chan, Otae.
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Pesan dari author:
Akhirnya sudah sampai di chapter 4. Terima kasih atas reviewnya, dan terima kasih banyak bagi yang sudah baca dan megikuti fic SakaMutsu ini ^^
Walaupun authornya sendiri sebenarnya masih kebingungan ketika lanjut chapter 4 kayak gimana, yang pasti semoga teman-teman menyukainya. Dan mohon maaf ya kalau di chapter sebelumnya banyak banget yang typo. Sepertinya author butuh kaca mata baru wkwk.
Selamat membaca~
Chapter 3: kencan pertama
Matahari memang belum menampakkan dirinya. Namun hawa pagi sudah mulai terasa. Hembusan angin samar-samar terasa menusuk tulang.
Di jam-jam segini orang-orang masih memilih berada di atas futon mereka dibanding bangun dini hari.
Namun berbeda dengan si gadis pisau cukur ini.
Dia sudah merendamkan dirinya di air hangat onsen penginapan ini.
Ia memejamkan matanya, menarik napas dalam, lalu membuangnya. Seolah beban yang dipikulnya itu keluar semua.
Hangatnya air membuat tubuhnya lebih relax. Memikirkan apa yang terjadi di dermaga malam tadi, dia tersenyum kecut.
Melihat telapak tangan kanannya, ia berkhayal tangan Sakamoto yang menggenggamnya.
.
.
.
"Sakamoto, bagimu… aku ini apa?"
Pria tinggi itu menoleh, tersenyum seperti biasa. Cukup lama Sakamoto untuk menjawab. "Orang yang berharga bagiku. Rekanku yang tak terganti. Kita akan terus bersama di Kaientai. Benar kan?"
Gadis bersurai panjang di sampingnya menoleh ke arah lain, mencoba berhenti bertatap muka dengan Sakamoto.
"…Iya. Kau benar…"
.
.
.
"Aku bodoh.." gumamnya.
Rekan ya…
Telapak tangannya menepuk air. Mengakibatkan wajahnya terciprat air hangat, dan basah.
Kamar yang ditempati Sakamoto dan Gin dibiarkan gelap.
Gin sepertinya tidur sangat nyenyak.
Tapi berbeda dengan Sakamoto. Dia memang terbaring, matanya tertutup, namun sebenarnya dia tidak tidur sama sekali.
"Orang yang berharga bagiku. Rekanku yang tak terganti. Kita akan terus bersama di Kaientai. Benar kan?"
Alisnya mengerut. Dia teringat wajah Mutsu yang tadinya menatapnya dengan penuh keyakinan, berubah menjadi kosong, dan membuang tatapannya.
Apa-apaan kata-kataku itu!
Bodoh!
Ini adalah hari terakhir Kaientai berlibur di pantai. Paginya para awak kapal sarapan bersama di penginapan.
Sakamoto sempat panik ketika melihat makannya si Kagura sangat banyak. Walaupun dia juga pernah melihat Mutsu makan dengan porsi tidak normal, tapi kalau ada dua orang yang makan dengan porsi tidak normal begitu, uangnya terkuras habis.
"Kau mau menguras dompetku ya, Kintoki?" tanya Sakamoto sebal.
"Hah? Kau kan pedagang, punya uang banyak. Segitu sih tidak seberapa. Dan, bisakah kau memanggilku dengan benar? Kau benar-benar akan kubunuh, Tatsuma!" ujar Gin.
"Ahahaha ahaha! Kubunuh juga kau, Kintoki!"
Mengesampingkan Gin dan Sakamoto yang mulai mabuk sambil berceloteh tidak jelas, Mutsu menghampiri Oryo yang belum memakan makanannya.
"Maafkan aku, kau jadi tidak bersemangat." Ucap Mutsu. Mutsu duduk di samping Oryo, gadis yang tadinya melamuni makanannya terkejut akan kehadiran Mutsu.
"Tidak. Ini bukan salahmu. Harusnya aku yang minta maaf, aku yang murung begini jadi merusak suasana." Kata Oryo.
"Begitukah? Dari tadi aku melihatmu terus-terusan melirik Sakamoto. Ada apa?"
di-dia tahu!
Mutsu tersenyum, "Kalau kau mau bicara dengannya kenapa tidak?", Mutsu bangun dan berkata "Aku sudah mengerti, apa yang kau tidak jadi bicarakan waktu itu. Aku bukan siapa-siapanya dia."
Dia mendekat ke telinga Oryo, lalu berbisik, "Jangan sia-siakan dia. Dia benar-benar mencintaimu lho. Dia memang agak gila, tapi dia pria yang baik untukmu."
Oryo merona. Dia masih kaget, hingga tidak bisa membalas kata-kata Mutsu.
Wanita berusia 24 tahun itu membungkuk di hadapan Oryo,.
"Terima kasih banyak sudah mau menerima ajakan komandan kami."
Mereka tidak menyadari kalau Sakamoto juga memerhatikan.
"Ah, benar-benar rumit ya." Gumam Gin.
Sakamoto menengok, tertawa dengan khasnya "Ahaha, i..iya, selanjutnya gimana ya?" dia menghela napas, merasa bingung harus bagaimana lagi.
Satu posisi dia memang sangat menyukai Oryo, bahkan sampai mengajaknya liburan, tapi dari kemarin dia tidak berkomunikasi lagi ataupun menggodanya seperti biasa. Liburan yang cukup hambar bukan?
Di sisi lain entah kenapa muncul perasaan suka juga dengan asistennya. Mungkin, karena Mutsu selalu berada di dekatnya, dan dialah satu-satunya orang yang paling mengerti kondisi dirinya. Jika Sakamoto sakit dialah yang membawakan obat, menyiapkan makanannya. Jika Sakamoto mabuk, dialah yang membopongnya dan menasehatinya agar tidak usah minum sake atau bir lagi. Jika Sakamoto kesulitan dalam menjalankan bisnis, dialah yang memberi saran, dia juga yang menggantikan posisi komandan ketika Sakamoto keluyuran.
Sebuah dilema yang dirasakan pria mantan ahli pedang ini, membuatnya tetap berdiri di antara dua jalan. Kesulitan memilih mana yang jalan yang harus ia lewati.
"Tatsuma, kalau kau masih terus seperti ini, lebih baik kau sendiri saja dan tidak usah memikirkan wanita." Ujar Gin.
"Jangan menjerumuskanku ke dalam ke-jones-an mu, Kintoki!" balas Sakamoto geram. Gin membalas dengan tatapan konyol. Sedikit perihatin.
Fanfiction by: Chikara Hoshi
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Aku, sangat tidak menykaimu, Sakamoto-san! Bisakah… bisakah kau untuk tidak datang lagi padaku? Aku muak… aku sudah jenuh dengan sikapmu itu! Bisakah kau tidak datang lagi padaku? Apa kau tidak menyadari kalau orang yang selalu bersamamu lebih berharga daripada aku?!"
.
.
.
"Oryo, kau dipanggil manajer di ruangannya."
Oryo yang setengah melamun saat melayani pelanggannya, dipanggil.
"Baiklah."
...
"Apa-apaan ini, Oryo. Kerjamu sedikit menurun akhir-akhir ini. Apakah ada masalah? Kalau sedang ada masalah, atau kau merasa tidak sehat lebih baik istirahat lah di rumah. Lalu kembali jika kau sudah merasa fit." Jelas si manajer.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak apa-apa. Maafkan saya. Saya berjanji akan bekerja lebih baik."
"Benarkah?"
"Iya."
"Baiklah kalau begitu. Bekerjalah dengan baiik."
Di kediaman yorozuya, Gin, Kagura, dan Shinpachi sedang menonton televisi bersama-sama.
Belum ada klien lagi yang menggunakan jasa mereka. Benar-benar musim panas yang membosankan. Bahkan uang pun tidak datang pada mereka.
Dan tiba-tiba saja bel pintu berbunyi.
"Shinpachi, buka pintunya." Perintah Gin.
"Hai."
Shinpachi berjalan dan membukakan pintu.
"Hai, tunggu sebentar."
Srek
"Mutsu-san?"
Gin dan Kagura yang penasaran datang menghampiri.
"Hah? Ada apa lagi kau ke sini?" tanya Gin.
"Aku butuh bantuan."
"Kalau begitu masuklah dulu. Kita bicarakan di dalam." Usul Shinpachi.
Mereka masuk ke dalam dan duduk di sofa.
"Jadi, kau minta bantuan apa lagi?" tanya Gin lagi.
"Begini…"
.
.
.
"Mau sampai kapan kau murung terus, Sakamoto?" Mutsu tampak gusar melihat komandannya yang seperti kehilangan semangat hidup. Sakamoto tidak menjawab, hanya membersit hidungnya terus-terusan dengan tisu. Dia habis menangis? Tidak, tapi hidungnya yang menangis.
"Jaa… kau harus kencan dengannya!"
"E-eh?" Sakamoto kaget setengah mati.
"Perlu kuulangi? Pergilah ke bumi dan kencanlah dengan gadis itu! Atau tidak kau akan mati di tanganku, keriting!"
Sakamoto tidak bisa menjawab apa-apa dan sangat ketakutan. Akhirnya dia pamit pergi menggunakan kapal pribadinya.
.
.
.
"Setelah itu dia hilang entah kemana." Sambung Mutsu.
Muncul urat-urat marah di dahi Gintoki.
"Itu sih salahmu! Kau yang memaksanya begitu sampai membuat komandanmu hilang!" teriaknya.
"Dan kenapa pula gue harus ikut campur urusan percintaan orang? Gak ngerti apa, kalo gue juga belom punya pacar?! Ogah kalo nyari itu orang! Biarin aja dia ilang! Jangan balik sekalian! Kuso!" lanjut Gintoki dengan nada bicara yang cepat dan… agak marah.
Shinpachi dan Kagura menatapnya kasihan.
"Ja-jangan menatapku seperti itu, Shinpachi! Kagura!"
"Hmm, lalu Mutsu-san sebelumnya menyuruhnya apa lagi?" tanya Shinpachi.
Mutsu berpikir, "Kurasa hanya itu. Dia buru-buru berangkat ke klub hostess itu, kusuruh dua anak buahku untuk mengikutinya. Tapi setelah itu mereka kehilangan jejak Sakamoto. Jadi aku meminta bantuan kalian. Boleh kah? Kalau si keriting ubanan tidak mau, kalian berdua saja sudah cukup. Nanti kalian kutraktir makan steak dan parfait."
Mendengar kata 'parfait', Gin reflek bangkit dan dengan penuh keyakinan berkata "Demi sahabat dekatku, aku akan mencarinya! Aku tahu di mana ia berada!"
"Tidak. Kurasa bukan 'demi sahabat' tapi yang kudengar seperti 'demi parfait'." Gumam Shinpachi, dia merasa malu dengan kelakuan Gin.
Kembali di Snack Smile.
Para hostess sedang melayani pelanggan-pelanggannya. Beberapa dari mereka ada yang ikut minum bersama pelanggan, ada yang mendengarkan curhatan pelanggan, atau saling mengobrol.
Hiruk pikuk di tempat ini selalu terjadi tiap hari.
Oryo sedang melayani dua orang laki-laki pegawai kantoran. Sepertinya agak kerepotan, sehingga Otae datang untuk membantunya.
Sepertinya dua laki-laki itu sudah mabuk, muncul kata-kata yang sensual dari dua laki-laki itu kepada Oryo. Membuat Oryo merasa risih.
Dan tanpa diduga, salah satu dari laki-laki itu memegang dada Oryo.
"Kyaaa! Apa yang kau lakukan!" Oryo berteriak.
"Oryo-chan!" teriak Otae.
Sebuah tangan menggenggam erat tangan laki-laki yang baru saja melakukan tindak pelecehan terhadap Oryo.
"Oi, Tuan." Panggil seseorang. Tangan itu berasal dari belakang kursi. Orang itu muncul, dan menaiki papan pemisah kursi mereka. Otomatis tangan yang dipegang laki-laki itu ikut tertarik.
"Walaupun aku sering mabuk, tapi aku tak pernah memegang dada seorang perempuan. Kau tahu, Tuan. Kau sungguh… memalukan!"
Oryo terkejut, "Sa-Sakamoto-san!"
Sakamoto melempar orang itu hingga membentur dinding.
Dan seketika suasana di dalam klub itu menjadi gempar.
Sakamoto tidak berkata apa-apa lagi untuk Oryo, dia malah pergi.
"Sakamoto-san! Tunggu!"
Sakamoto berhenti berjalan.
"Sakamoto-san. Aku ingin bicara denganmu. Bisakah Anda pergi sebentar bersamaku?" pinta Oryo.
Mata Sakamoto berbinar.
Dalam hati, dia sangat bergembira sekarang.
Di salah satu bilik, Gin, Kagura, Shinpachi, dan Mutsu diam-diam mematai mereka.
Akhirnya, Sakamoto dan Oryo pergi berdua.
Sebelum itu Sakamoto mengajak Oryo menonton film, pergi ke kebun binatang, berjalan-jalan sampai sore.
Dan sekarang, mereka ada di sebuah restoran.
Yorozuya dan Mutsu yang sedari tadi menyamar mengikuti mereka berdua. Beberapa orang menatap aneh mereka karena pakaian penyamarannya sedkit aneh dan mencolok. Hebatnya Sakamoto dan Oryo tidak menyadarinya.
Mereka mendengarkan percakapan dua orang yang sedang kencan itu dari bilik di belakang Sakamoto dan Oryo.
"Hmm… Sakamoto-san. Terima kasih banyak untuk semuanya. Maaf aku selalu membuatmu repot." Ucap Mutsu.
"Ahahaha, ahaha! Tidak apa-apa. Sudah menjadi tanggung jawabku. Ahahaha!"
Oryo hanya tersenyum melihat Sakamoto tertawa.
"Ah, oh iya. Kau… mau bicara apa, Oryo-chan?" tanya Sakamoto.
Oryo tiba-tiba menjadi sedih. Dia menundukan kepalanya.
"Gomen.. gomenasai. Gomenasai, Sakamoto-san," lirih Oryo. Dia menangis.
"Maafkan aku karena telah berbicara kasar padamu. Maaf, aku tidak tahu terima kasih, padahal kau jauh-jauh datang ke bumi untuk mengajakku liburan. Tapi aku mengecewakanmu, gomenasai…"
Oryo berusaha untuk tidak menangis. Dia mengelap air matanya sendiri dengan lengan kimono nya, namun tetap menangis.
Sakamoto menatapnya iba. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
"…Tidak. Itu bukan salahmu." Ucapnya tiba-tiba.
Sakamoto menjulurkan kedua tangannya, dan mengusap air mata yang membasahi pipi Oryo.
"Bukan salahmu, Oryo-chan. Aku baru menyadari. Tindakanku dulu itu gila. Wajar kalau kau tidak suka padaku. Sebenarnya, aku baru memikirkan ini. Kalau aku ingat-ingat… aku tidak pernah melakukannya dengan benar."
Sakamoto berdiri, menarik napas dalam-dalam, merasa sudah siap, lalu membungkukkan badannya.
"Oryo-chan, menikahlah denganku!" Ucapnya dengan lantang. Membuat orang-orang di dalam restoran menyaksikan lamaran itu dengan antusias.
Oryo terharu. Dia tersenyum walaupun air matanya turun lagi.
"Aku… menerimamu." Balasnya dengan penuh haru.
Orang-orang menggoda mereka, ada yang bertepuk tangan, dan… pokoknya suasana di sini benar-benar ramai.
Trio yorozuya menatap simpati si gadis asisten itu yang tersenyum dengan mata terpejam.
"Mucchi…" panggil Kagura pelan.
Mutsu membuka matanya, dengan senyum yang terlihat tenang, melirik dua orang yang sedang berbahagia.
Selamat… komandan…
To Be Continued
Chapter 5: Bulan yang Bersinar
balasan review:
sakamutsu (guest) : sankyuu sudah baca fic ini ^^ terima kasih juga sudah mau menunggu. terus baca hingga akhir ya~
TsukiKonaIzu: halo Kona-chii XD terima kasih sudah membaca. Ahaha, maaf feelnya jadi rusak wkwk. Hoshi kan seneng bikin feel orang rusak :v /timpukAuthor/ ahaha, aku baru nyadar soal pairingnya itu. Tapi intinya SakamotoxMutsu sih. Walaupun Hoshi merasa bersalah karena telah melawan sejarah :" mengingat Oryo sebenarnya istri Sakamoto. Tapi tapi... karena Gintama adalah milik Sorachi-sensei, dan karakternya adalah milik beliau, jadi Hoshi...jadi sedikit gak galau /apasih/ wkwk.
Akhir kata, terima kasih kepada yang sudah membaca, dan mengikuti fanfic ini. Kutunggu review dari teman-teman. Arigatou Gozaimasu~
P.S: setelah fic ini tamat, author Hoshi akan lebih banyak menulis asupan OkiKagu. Bersiaplah!
