03.
.
.
.
"Jadi, kapan mereka akan memberitahu hasil audisimu?" Laki-laki bertubuh tinggi dengan ciri khas mata bulatnya itu melayangkan pertanyaan pada sosok pemuda asal Thailand yang merupakan rekannya sesama penari underground.
Ten nampak merebahkan tubuh lelahnya pada lantai vinyl bermotif kayu, tempatnya melakukan berbagai macam gerakan tari yang sejak 4 jam lalu ia lakukan. Peluh terlihat membasahi tubuhnya yang mungil, sementara hembusan angin dari air conditioner nampaknya tak terlalu banyak membantu. Pemuda cantik itu menatap langit-langit ruangan, menikmati bagaimana pergerakan jantungnya yang berangsur stabil.
"Entahlah, mereka hanya bilang akan memberitahuku via email, sms, dan mungkin saja telpon jika aku dinyatakan lolos. Lagipula ini baru hari ke-3, masih ada beberapa hari lagi untuk merasa panik." Jelas Ten, berniat untuk menyudahi topik pembicaraan mengenai audisi yang ia lakukan beberapa hari lalu. Jujur saja kali ini ia tidak ingin terlalu banyak berharap seperti yang sudah-sudah. Rasanya begitu menyakitkan ketika ia kembali teringat akan penolakan yang sebelumnya telah ia terima.
"Aku merasakan firasat yang baik kali ini." Ujar Yukhei optimis, berusaha menghibur rekannya yang kini nampak menyunggingkan senyumnya yang sejak tadi tersembunyi rapat. Harus Ten akui, usaha yang dilakukan pemuda itu kali ini cukup efektif.
"Kau selalu mengatakan hal yang sama tiap kali aku melakukan audisi."
"Tidak, tidak, kali ini berbeda. Lagipula kau sendiri yang mengatakan bahwa Johnny Seo, direktur NCT Entertainment mengajakmu berken-." Yukhei terpaksa menghentikan ucapannya ketika Ten bergerak begitu cepat ke arahnya dan mulai menutup mulutnya dengan satu tangan. Ekspresi rekannya itu terlihat cemas dan sedikit ketakutan –agak tidak masuk akal mengingat tak ada orang lain lagi selain mereka berdua didalam studio dance saat ini.
"Sudah kukatakan, itu hanya makan siang biasa dan juga, selama ini dia tidak pernah menyinggung soal audisiku…" Tegas Ten, tak terpengaruh dengan semua hipotesa yang dikemukakan oleh Yukhei soal hubungannya dengan Johnny, direktur NCT Entertainment. Meskipun sampai detik inipun ia masih sangsi dengan semua perlakuan ganjil yang ditunjukkan pria tampan itu padanya.
"Tidak ada pria yang mau mengajakmu makan siang gratis di restoran mewah, kalau bukan karena niat untuk mengencanimu." Gerutu Yukhei kesal dengan sikap Ten yang terlalu apatis. Jelas-jelas petinggi salah satu agensi terbesar itu memberikan signal-signal ketertarikan padanya. Bagaimana bisa ia sampai tidak menyadarinya?
"Lalu apa? Kalau dia menyukaiku, maksudku, kalau memang dia tertarik? Tidak ada kaitannya dengan audisi yang kulakukan?" Pemuda cantik itu hanya menaikkan bahunya, tak ambil pusing dengan teori yang lagi-lagi coba disampaikan oleh rekannya.
Pemuda bermarga Wong kembali memandang Ten dengan ekspresi wajah meradang.
"Kau tahu, kau itu terlalu naif –tentu saja ia akan merasa kasihan melihat orang yang ia sukai gagal meraih impiannya." Sahutnya sedikit geram. Rasanya sulit sekali membuat seorang Ten menyadari betapa potensial posisinya saat ini.
"Aku tidak ingin mereka menerimaku hanya karena kasihan."
"God, Ten! Kita hidup di dunia dimana yang cerdik yang akan menjadi pemenang. Jika kau terus bersikap seperti ini, maka sampai kapanpun kau tidak akan mendapatkan kesempatan itu." Pekik Yukhei, habis sudah kesabarannya menghadapi sikap masa bodoh sang sahabat yang betul-betul kelewat batas –sedikit membuat Ten mendelik ke arahnya dengan ekspresi bertanya-tanya.
"Lalu menurutmu aku harus bagaimana?"
Yukhei tersenyum puas, seolah menantikan kata-kata itu keluar dari bibir pemuda bernama Ten yang menatapnya penuh antisipasi, "Mudah saja, yang bisa kau lakukan sekarang adalah dekati dia, buat dia jatuh cinta padamu dan poof kesempatanmu ada didepan mata."
.
.
.
Taeyong kembali membetulkan letak masker di wajahnya, ketika ia memutuskan untuk melangkah keluar dari mobil keluaran eropa miliknya. Sebuah kacamata hitam serta topi baseball menjadi pelengkap penampilannya hari ini yang terkesan begitu didramatisir. Bukan tanpa alasan, dirinya mengenakan segala macam aksesoris yang membuatnya nampak bak gangster. Kejadian kemarin sore dimana dirinya memutuskan untuk hengkang dari kediamannya, membuatnya memilih untuk menghindar dari segala macam eksposure yang bisa saja membuatnya menjadi sasaran empuk para awak media.
Pemuda berwajah sempurna itu terus melangkahkan kakinya dengan gerakan konstan, berusaha bersikap normal meskipun beberapa orang yang ia temui di lobby, sempat mengenyitkan dahinya –menerka-nerka siapa gerangan sosok laki-laki berpenampilan serba hitam ditengah musim yang sedang hangat. Meski begitu Taeyong tidak terlalu ambil pusing, selama bukan reporter media atau sassaeng fans yang ia jumpai.
'ding'
Suara notifikasi mesin elevator membuatnya segera mengakhiri sesi lamunannya, sebelum sesaat kemudian dirinya mulai memasuki mesin bermuatan 20 orang tersebut. Tak lupa ia menekan tombol bertuliskan angka 23 yang terletak di masing-masing sisi depan. Memperhatikan bagaimana dirinya berhasil melewati puluhan lantai dalam kurun waktu tak lebih dari 5 menit, sebelum ia betul-betul tiba di lantai apartment yang ia tuju.
"Permisi…" Ujarnya ketika ia beranjak keluar dari dalam lift yang hanya menyisakan 3 orang lain.
Pemuda dengan fitur wajah atraktif itu kembali meneruskan perjalanannya menuju sebuah apartment bernomor 2304 yang merupakan tempat kediaman seseorang yang begitu ia kenal. Taeyong semakin mempercepat langkahnya, sebelum ia tiba, tepat didepan pintu bercat putih dengan label angka yang sama. Tak perlu menunggu waktu lama sebelum pintu akhirnya terbuka dan menampilkan wajah familiar yang kini menyambutnya dalam sebuah pelukan.
"Taeyong?"
"Minseok hyung!"
.
.
.
Kepulan asap rokok yang menyeruak menjadi penyambut kehadiran sosok pria bernama Johnny. Yuta, pemuda asal Jepang itu, terlihat santai menikmati cerutu ditangannya, sebelum menyadari keberadaan temannya yang kini mulai menujukkan ekpresi tak nyaman. Pria bertubuh tinggi itu memang sejak dulu begitu membenci aroma tembakau bakar. Membuat Yuta terpaksa menghentikan kegiatan yang sejak tadi ia nikmati kala menantikan kehadiran 2 sahabatnya itu.
"Kau masih saja sok keren dengan rokokmu itu." Johnny tak kuasa memberikan komentar, menyaksikan bagaimana Yuta, belum juga berhasil terlepas dari kebiasaannya mengkonsumsi barang beracun itu.
Pemuda yang disindir hanya menaikkan kedua ujung bibirnya, menampilkan sebuah senyum tipis ke arah sang lawan bicara.
"Kau terlihat berbeda, apa terjadi sesuatu? Oh! Apa kau akhirnya memutuskan untuk mendengarkan saranku?" Pertanyaan Yuta yang bertubi-tubi membuat Johnny memandangnya dengan kedua alis saling bertaut. Beberapa hari ini dirinya memang merasakan perbedaan pada sikapnya yang lebih mudah hilang fokus. Johnny kembali teringat pada kejadian di ruang rapat kemarin yang membuatnya hampir kehilangan kredibilitasnya sebagai seorang direktur.
"Saran apa? Soal aku seharusnya berhenti menyiksa diri sendiri dan getting laid dengan orang lain yang kujumpai di club sepertimu? Tidak! Sebanyak aku menyayangimu sebagai sahabat, aku tidak akan menuruti saranmu yang tidak sesuai dengan prinsipku." Jelas Johnny tegas. Ia menyesap teh hangat yang tersedia, menikmati bagaimana cairan itu mengalir melewati kerongkongannya. Suasana di restaurant sushi malam ini memang tidak begitu ramai, hanya terlihat beberapa meja yang terisi pengunjung. Agaknya pengaruh hari kerja menjadi salah satu faktor sepinya tamu yang hadir.
"Aku hanya mengkhawatirkan masa depanmu, bagaimana kalau kau sampai tidak bisa ber-reproduksi hanya karena kau tak memiliki latihan yang cukup." Yuta menaik-turunkan kedua alisnya mengejek, sebelum disambut oleh gelak tawa Johnny yang menggema.
"Hey, uh, ngomong-ngomong bagaimana kabar Winwin?"
Hening.
Hanya terdengar samar-samar suara pengunjung lain yang menjadi latar belakang aksi saling tatap 2 pria dominan berbeda profesi itu. Johnny menjadi pihak pertama yang memecah suara. Pria itu membetulkan posisi tubuhnya menghadap Yuta yang kini menatapnya penuh antisipasi.
"Apapun rencana yang ada dipikiranmu saat ini, sebaiknya segera kau hentikan." Diluar dugaan, Johnny justru terdengar memberikan jawaban implisit pada pria dihadapannya, yang masih belum juga nampak bergeming.
"Apa maksudmu?" Yuta terdengar membuka suara setelah beberapa saat melakukan debat internal pada pikirannya dan memutuskan untuk merespon statement yang dibuat oleh sahabatnya itu.
Johnny menaikkan bahunya, masih bersikap tenang dengan senyum yang kini terpatri diwajahnya.
"Ayolah Yuta, aku telah menjadi sahabatmu selama lebih dari 1 dekade, aku paham bagaimana gerak gerikmu saat kau mulai tertarik pada sesuatu –atau seseorang lebih tepatnya." Pria bertubuh tinggi itu sengaja memberikan jeda sebelum kembali melemparkan pertanyaan yang betul-betul membuat Yuta kehilangan kesempatan untuk melakukan aksi penyangkalan.
"Kau tertarik pada keponakanku, kan?"
Pemuda bernama Yuta itu betul-betul tak mampu memberikan reaksi apapun. Terlebih ketika Johnny mulai menatapnya dengan pandangan asing yang selama ini belum pernah ia saksikan sebelumnya. Pandangan protektif seorang paman yang berusaha melindungi keponakannya dari ancaman.
"Dengarkan aku Yuta, aku minta kau untuk tak lagi mendekati keponakanku, Winwin. Bocah itu belum cukup dewasa untuk mengambil keputusan, dan aku sebagai guardian-nya tidak ingin kau memanfaatkan kelemahannya demi memuaskan nafsu primalmu. Aku harap kau bisa menghargai permintaanku sebagai sahabatmu kali ini."
Ucapan Johnny padanya terasa bak petir di siang bolong. Bagaimana bisa Johnny meminta agar ia tak lagi mendekati Sicheng ketika yang dilakukan pemuda cantik itu justru membuatnya semakin jatuh ke dalam pesonanya? Apa yang harus ia lakukan sekarang, menjauhi sosok Sicheng? Man! Rasanya ia tak akan sanggup untuk melakukannya.
Suasana sempat terasa canggung beberapa saat, sebelum akhirnya tertolong oleh kehadiran sosok Jaehyun yang mulai memasuki frame yang sama. Pria yang sejak tadi mereka nantikan akhirnya tiba dengan ekspresi wajah yang terbeban. Postur tubuhnya sedikit mengendur, dengan senyuman yang sepertinya begitu dipaksakan. Pria itu kemudian mengambil tempat kosong tepat disamping Yuta yang menyambutnya dengan smirk khasnya.
"Kau terlihat buruk?" Ujar Yuta sedikit merasa tak yakin untuk mengatakannya kala melihat kondisi Jaehyun yang tak lebih baik dari seseorang yang baru saja kehilangan pekerjaan.
"Hubunganku dengan Taeyong sedang tidak baik." Pria berlesung pipi itu menelungkupkan wajahnya pada kedua tangannya, berusaha menghindari tatapan penuh tanya kedua sahabatnya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Johnny segera memberikan atensinya pada sosok pria bernama Jaehyun.
Pria yang ditanya hanya menghela nafas kasar, sebelum menjentikkan jarinya membuka salah satu aplikasi di ponsel miliknya. Tak lama ia nampak melemparkan benda elektronik tersebut ke tangan Johnny yang dengan sigap menerima. Pria itu segera membaca deretan kalimat dalam sebuah website berita hiburan yang menyebutkan nama sang sahabat dan kekasihnya yang berprofesi sebagai seorang artist.
"Oh, kalo soal itu aku juga dengar, kebetulan sekretarisku yang baru, sangat tertarik dengan gosip selebritis." Yuta mulai berkomentar setelah berhasil melirik artikel dari dalam ponsel milik Jaehyun. Johnny nampaknya juga tak begitu terkejut, seperti sudah mengetahui sebelumnya perihal masalah yang tengah dihadapi pengacara handal itu.
"Dia masih saja meributkan soal kesediaanmu untuk menikahinya?"
Jaehyun mengambil kembali ponselnya dan menaruhnya ke dalam saku jas, sebelum memberikan respon dengan gesture tubuhnya pada sang penanya.
"Aku kecewa, bagaimana bisa dia mengatakan hal semacam ini tanpa berkonsultasi terlebih dahulu padaku? Lagipula sudah puluhan kali kukatakan padanya kalau aku tidak tertarik dengan ide tentang pernikahan." Jelasnya lagi, masih dengan ekspresi wajah penuh kekecewaan. Ia terlihat menundukkan wajahnya menghindari tatapan judgemental yang sudah pasti akan ia terima dari sang sahabat, Johnny Seo.
"I don't see how you against the idea of marriage so bad. Maksudku, aku tahu dengan pekerjaanmu saat ini kau pasti sering menangani puluhan bahkan ratusan kasus pernikahan yang gagal dan berakhir dengan perceraian. But, man, itu bukan alasan yang tepat untuk membuatmu takut menikah, lagipula kau sudah berkencan dengan Taeyong selama 5 tahun, 5 tahun! You guys are practically married anyway, bedanya hanya kau perlu mengurus surat pemerintah dan mengucapkan janji didepan altar." Johnny mulai memberikan tanggapan atas pernyataan Jaehyun. Sifatnya yang family oriented membuatnya begitu sensitif jika sudah membahas mengenai masalah tentang komitmen pernikahan. Lagipula menurutnya ketakutan Jaehyun seperti tidak beralasan, mengingat bagaimana hubungan sang sahabat dan kekasihnya yang bahkan sudah melebihi pasangan suami istri.
"Aku tidak akan menyuruhmu menikahi Taeyong semata-mata hanya untuk membuatnya berhenti merengek. Kau adalah pria di hubungan kalian, kau yang berhak memutuskan kapan kalian siap untuk menikah, dan jika dia tetap bersikukuh, well, kau mungkin butuh alternatif lain di luar sana." Jawaban lugas dari Yuta mengisi ruang kosong di kepala Jaehyun.
Pengacara tampan itu hanya mampu terdiam, sibuk memikirkan 2 opsi yang saling bertentangan.
.
.
.
Johnny baru saja bersiap mengistirahatkan tubuhnya ketika ia mendengar suara notifikasi panggilan di ponsel-nya. Ia mencoba meraih benda berpendar di meja nakas menggunakan lengannya yang panjang –sedikit usaha yang dilakukan mengingat raganya sudah cukup lelah setelah seharian beraktifitas. Sayangnya ia malah tak berhasil menarik benda segiempat itu dan justru terlihat menjatuhkannya ke lantai. Membuatnya mengerang kesal sebelum beranjak bangkit demi sebuah panggilan tak terjawab yang entah dari siapa.
Ten.
Wajahnya serta merta berbinar, membaca nama yang akhir-akhir ini menjadi pusat rotasi hidupnya. Oke, sedikit berlebihan memang, mengingat ia baru bertemu dengan pemuda cantik itu beberapa hari yang lalu. Salahkan dirinya yang memiliki obsesi berlebih pada dongeng dan drama romantis yang selama ini diam-diam begitu ia nikmati.
Dengan cepat Johnny segera melakukan panggilan ulang ke deretan nomor yang tercetak di layar ponselnya. Tak perlu waktu lama sebelum suara lembut milik seseorang bernama Ten menyapa pendengarannya.
"Hi! Um, maaf aku mengganggu…"
Johnny tersenyum sebelum menjawab sapaan dengan penuh antusias pemuda cantik diseberang sana.
"Aku senang kau berniat untuk menghubungiku lebih dulu."
Terdapat jeda beberapa detik sebelum ia berhasil membuat Ten kembali bersuara.
"Um, aku kebetulan sedang berada di dekat sungai Han, tempatmu menurunkanku setelah, kau tahu, acara makan siang waktu itu…"
Pria tampan itu nampak mengerutkan keningnya. Untuk apa Ten berada di sana tengah malam seperti ini?Namun, belum sempat ia memikirkan kata yang tepat untuk merespon, suara milik pemuda bertubuh mungil itu kembali terdengar di speaker ponselnya.
"A-apa kau bisa menemuiku sebentar?" Suaranya sedikit bergetar seolah tak yakin dengan apa yang baru saja ia ungkapkan.
Johnny mendengarkan dengan seksama kalimat yang diucapkan pemuda cantik itu. Menemuinya sekarang? Ayolah, kau pasti bercanda!
"Baiklah, aku kesana sekarang. Tunggu aku dan jangan bergerak kemanapun sampai aku tiba, oke?" Tutur pria yang kini bergerak kelimpungan setelah mematikan sambungan telepon selulernya. Laki-laki dengan kemampuan linguistik itu terlihat sibuk merapikan diri, sebelum bergegas meninggalkan kondominium miliknya yang entah mengapa terasa begitu hening. Ngomong-ngomong dimana keponakannya, Winwin? Sepertinya sejak tadi ia belum menemui bocah keras kepala itu?
'krieeettt'
Suara pintu yang berdecit pelan, agaknya menjadi perantara jawaban atas pertanyaannya terkait keberadaan sang keponakan. Benar saja, tak perlu waktu lama sebelum sosok Sicheng terlihat memasuki ruangan berpenerangan minim itu dengan sedikit mengendap-endap, seolah-olah tak ingin usahanya diketahui oleh sang paman.
Johnny bergerak pelan menuju saklar lampu ruangan utama dan dalam sekejap ruangan tersebut berhasil dikelilingi oleh cahaya terang lampu.
"Astaga! Paman? Kau betul-betul membuatku kaget…" Celoteh pemuda bertubuh ramping yang begitu terkejut ketika mendapati sosok sang paman berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Ekspresi wajahnnya nampak tak terkesan, dengan gesture tubuh yang tak jauh berbeda.
"Kau baru pulang jam segini? Apa yang kau lakukan setelah selesai kuliah? Mengapa tidak langsung pulang dan mengerjakan tugasmu?" Johnny mulai mengarahkan perhatiannya pada laki-laki berusia 21 tahun itu dan mengesampingkan sejenak keinginannya untuk segera menemui sang pujaan hati. Sicheng terlihat menjatuhkan tubuh lelahnya di sofa –tak peduli bahkan untuk sekedar melepas sepatu yang ia gunakan. Sepertinya bocah itu betul-betul baru tiba setelah seharian berada di luar, terlihat dari pakaian yang ia kenakan pagi tadi yang masih setia melekat ditubuhnya.
"Dong Sicheng!"
"Aku lelah, paman, besok saja aku ceritakan. Lagipula kau kan juga bersiap ingin pergi, tidak baik membuat orang lain menunggu lama." Sahut Sicheng tetap tak bergeming dari posisinya.
Johnny betul-betul tergoda untuk melanjutkan omelannya pada Sicheng, jika bukan karena Ten yang kini menunggunya. Dengan berat hati ia meninggalkan sosok sang keponakan dan mengikuti hasratnya untuk menemui seseorang diluar sana.
.
.
.
.
.
.
.
HUEHEHEE chapter 3 is up! To be honest, gue ga gitu suka sama chapter ini karena sebetulnya ini cuman filler sebelum drama yang sesungguhnya! Cuman kalo ga gue jelasin disini nanti kedepannya pada bingung, jadi yauds lah yaa. FYI next chapter bakal banyak adegan menye unch-unch, jae bakal nentuin sikap buat hubungannya sama uri yongieeee, ten yang mulai usaha ngedeketin daddy jyani, dan titik balik hubungan atuy dan winko HEHEHE BTW maap curhat dikit gaes, gue lagi ga sans banget gara-gara SNSD yang nyisa 5 member, sedih woy elah, boy/girlband generasi 2 udah mulai pada rontok atu-atu *cries di pojokan pake lagu time machine* Anyway, muucih banyak buat yang udah baca dan support ff ini. Woof youuuu gaesss~
