Sudah satu minggu Sasuke tinggal di Pondok Cemara. Seminggu itu pula makin hari dia makin kenal sama daerah tempat tinggalnya, suasananya, orang-orangnya, dan nggak lupa sesame penghuni kosannya. Ya… meskipun belum akrab, tapi ada pengecualian buat salah satunya. Hubungannya dengan penghuni kamar kos nomer 9, Naruto, berjalan cukup baik dengan banyak perkembangan- itu menurut Sasuke, ya walaupun baru temenan tapi lumayanlah…
Hari itu adalah hari minggu ke dua Sasuke di Pondok Cemara. Hari minggu pertama adalah ketika dia pindah, dan hari minggu kedua adalah minggu itu. Nggak seperti kebiasaan lamanya waktu masih tinggal di rumah sendiri, yang kalau hari minggu kerjaannya cuman molor, makan, molor, makan kayak kuda nil, sekarang dia jadi rajin. Dia udah bangun pagi-pagi buat nyuci baju dan bersih-bersih kosan. Kenal sama si mahasiswa kedokteran itu berpengaruh banyak buat Sasuke. Ia jadi termotivasi buat lebih rajin dan apik, supaya bisa jadi istri yang baik dan solehah nantinya-lha?
Sasuke mengangkut cuciannya yang ditaruh di baskom besar ke balkon atas yang beralih fungsi jadi tempat jemur baju. Di balkon itu cuma ada tali-tali jemuran, ada juga 'sih sedikit tempat buat nyuci disitu. Ada kran dan papan penggilesan. Sayang nggak ada mesin cuci.
Ia dengan bebas bisa ngejemur cuciannya di situ. Berhubung Pondok Cemara adalah kosan khusus cowok, jadi nggak banyak yang nyuci sendiri dan jemur di balkon. Kebanyakan pada lari ke laundry supaya nggak perlu repot-repot nyuci sendiri. Lagian nggak yakin nyucinya sebersih cucian mamah di rumah. Kalau Sasuke 'sih… meskipun di rumah nggak pernah nyuci, tapi dia suka ngeliatin ibunya nyuci. Jadi sedikit banyak dia tau gimana nyuci dan bilas yang bener.
"Weee… Jemur, mbak?"
PONDOK CEMARA
CHAPTER 4
PANCA KAKI
A NARUTO FANFICTION
DISCLAIMER: NARUTO BELONGS TO MASASHI KISHIMOTO
NARUSASU
Patut disayangkan karena yang menyapanya kala itu bukanlah cowok idamannya, tapi cowok yang bernama lengkap Kiba Inuzuka Sigaligali. Cowok berdarah Batak yang seminggu ini selalu ketemu tiap pagi mau berangkat kuliah.
Cowok itu menjinjing sepasang sepatu basah dan menaruhnya di tembok benteng yang nggak terlindungi asbes. Mungkin biar cepet kering dia jemur disitu. Yang bikin Sasuke risih adalah bukan dari mulutnya yang biasa mengeluarkan kalimat-kalimat nggak jelas, atau wajahnya yang keliatan garang segarang penagih hutang keliling tapi suka senyam-senyum nggak jelas, kala itu si Kiba muncul cuman make kaos singlet putih dekil yang mempertontonkan kult sawo matangnya yang nggak ada indah-indahnya sama sekali, lirik ke bawah dia pakai celana boxer motif Upil Ipil belul belul belul. Amit-amit 'deh. Pagi-pagi disuguhin pemandangan yang nggak patut dipandang begitu.
Sasuke mencoba cuek lagi setelah sebelumnya dia terus ngeliatin Kiba dengan pandangan jijik. Ia melanjutkan acara ngejemurnya. Masih banyak baju yang perlu disangkutin di tali jemuran.
Setelah menaruh sepatunya, Kiba berjalan kembali ke dalam, tapi sempat-sempatnya dia menyapa Sasuke-
"Cantik kali kau pagi ini."-dan mengerling genit padanya. Lalu dia pergi begitu saja sambil tertawa.
Amit-amit, Gusti… Amit-amit digodain sama orang kayak gitu, dalam hati Sasuke menggerutu. Segeralah ia kembali ke kamar kosnya setelah selesai menjemur semua pakaian.
"Sura seuri bah sura seuri si abah…"
Tepat ketika Sasuke buka pintu kamar, handphone-nya yang tegeletak di meja rias berdering. Dia menyambar benda itu karena tau kalau deringnya lagu Sura seuri empunya duo Changmin Sarmimin dan Yunho Hohoho, berarti ada telpon masuk.
"Halo?"
"Nduuuukkkkk!"
"…" Sasuke menjauhkan telinganya dari speaker hape. Rasa-rasanya kejadian ini pernah terjadi 'deh.
"Nduk?"
"Iya, Bu?" ibunya yang nelpon ternyata.
"Nduk, ibu kangen! Ibu mau maen ke sana, ya? Kamu nggak kemana-mana,'kan hari ini?" Sasuke diberondong pertanyaan sama ibunya.
"Hah? Mau ke sini? I-iya aku nggak kemana-mana 'kok." Sasuke menjawab ragu. Ia sudah bisa menebak kalau ntar ibunya main ke kosan pasti bakal kayak inspeksi dadakan yang suka diadain di pasar-pasar. Ini itu ditanyain, dikomentarin.
"Kamu 'ndak kangen sama ibu?" nada bicara Mikoto berubah turun. Pertanyaannya kayak jaksa lagi nuntut. Minta dikasih jawaban buat pernyataannya barusan yang bilang kangen itu.
"Kangen, kangen aku kangen sama Ibu!" Sasuke mengeluarkan jurus medoknya, dia kesel ditanyain begitu. Sasuke manyun. Rasa-rasanya nggak penting ngejawabnya.
"Yowes kalo gitu ibu kesana sekarang, ya? Jangan lupa kamarmu harus beres, ibu 'ndak mau liat kamarmu kayak kandang sapi…"
"Iya wong disini 'ndak ada sapi 'kok, 'ndak mungkin berantakannya sampe kayak kandang sapi!" entah kenapa kalau ngomong sama ibunya Sasuke selalu sewot. Nggak kayak kalo ngomong sama bapaknya.
"Bajumu udah dicuci? Sprei? Karpet?"
"Ibu, baru satu minggu aku di sini ngapain cuci karpet segala? Sprei juga masih bersih, aku 'kan 'ndak pernah naik kasur kalo kakiku kotor."
"Tapi baju udah dicuci?"
"Uwes…"
"Yowes ibu tutup telponnya,ya? Nanti ibu telpon lagi kalo udah sampe sana."
"Eeh bentar! Ibu kesini sama siapa?"
"Sama bapakmu."
"Iya? Sama Bapak?" Sasuke nggak percaya dia bakal ketemu bapaknya. Dia kangen berat.
"Tapi cuma nganter sampe tol, dari tol ibu naik angkot. Bapakmu mau langsung ke kantor ada proyek."
"Yaahh…" Sasuke kecewa ternyata nggak bisa ketemu bapaknya.
"Udah dulu, ya ibu tutup telponnya. Nanti pulsa ibu abis. Udah dulu ya, 'nduk.."
"Ibu?"
TUUUT TUUUT
Sambungan telponnya keburu terputus.
Sasuke menghela napas, males banget harus ngerapiin kosan sebelum ibunya dateng. Berantakan dikit aja udah ngomel-ngomel. Terpaksa 'deh Sasuke mulai ngerapiin kamar kosnya secara detail. Demi menyenangkan hati ibu tercinta-nggak juga 'sih, dia melakukan itu demi menghindari wekwekannya Mikoto.
Jam di dinding sudah menunjukkan angka Sembilan tigapuluh kurang sedikit. Itu berarti Sasuke udah beres-beres kamarnya sekitar satu jam. Lumayan lah, udah keliatan rapi dan bersih. Lalu dia berpikir apa yang kelupaan. Aha, dia lupa membersihkan dirinya sendiri. Lupa mandi.
Karena inget ibunya mau dateng, Sasuke menyegerakan ritual di kamar mandinya dari biasanya sekitaran satu jam jadi cuma limabelas menit doang. Yang biasanya pake acara ngelamun dulu, nyanyi-nyanyi dulu, ini dulu, itu dulu, kali itu Sasuke mandi cuma make sabun bersihin badan, keramas, dan sikat gigi-seperti orang mandi pada umumnya. Meski rasanya kurang puas, tapi mau gimana lagi.
Sasuke nggak pernah mau rambutnya di blow make hairdryer, katanya kalo keseringan make hairdryer rambut bisa rusak. Jadi setelah keramas dia membiarkan rambutnya kering dengan alami-walau sesekali dikipasin juga. Sambil nunggu ibunya dateng dia ngipas-ngipas rambut di depan tivi. Jam segitu suka ada acara fashion, sayang kalo dilewatin.
"Hello fashion people… Kimmy Winarno disini bakal nemenin kalian selema setengah jam kedepan untuk bahas tren terbaru di bulan nan cerah ceria ini…"
Sasuke mantengin acara itu di depan tivi sampe iklan lewat. Ketika iklan lewat, dia baru inget kalo dia belum sarapan. Nggak sarapan itu nggak baik gangs, ntar nggak sehat. Diapun beranjak untuk mengambil dompetnya, sekedar beli jajanan di warung depan kosan, syukur-syukur ada tukang bubur kacang ijo lewat. Paling demen 'tuh emang, sarapan pake bubur kacang ijo yang dicampur ama bubur ketan item. Jadi inget, dulu ibunya Sasuke pernah cerita kalau waktu hamil Sasuke, ibunya rajin makan bubur kacang ijo tiap hari. Makanya rambut Sasuke hitam dan lebat berkilau. Untung rambut di kepala doang, ga sekalian ama rambut-rambut lainnya. Kalo rambut yang lain lebat juga 'kan nggak cantik. Kebayang nggak 'sih kalo seandainya Sasuke tangan dan kakinya berbulu? Termasuk keteknya juga?
"HATCHU!"
Sasuke tiba-tiba bersin mendadak. Dia mengusap-usap hidungnya karena gatal. Jangan-jangan ada yang ngomongin, pikirnya. Emang…
Sasuke menuruni tangga sambil nyisirin rambutnya pakek jari. Lumayan udah nggak terlalu basah. Ketika sampai di depan pintu, dia melirik keluar, pas banget ada tukang bubur kacang ijo lagi mangkal depan kosannya. Sasuke nyengir. Begitu dia juga menemukan bahwa ada Naruto juga disana, nyengirnya tambah lebar. Tapi burbu-buru dia tutupin, takut ada yang liat. Yang tadi itu kelepasan…
"Hai Sas!" si abang ganteng asal pameungpeuk yang bernama Naruto itu paling pertama menyapanya dengan senyuman. Dia rupanya lagi makan bubur ketan item di teras.
Tadinya Sasuke mau ngebales dengan senyuman lebar, tapi nggak jadi pas dia sadar kalo di situ nggak cuma ada Naruto seorang, tapi juga ketiga temannya, si Kiba Sigaligali, Shikamaru Sunandar, dan Chouji Suryawidodo-Sasuke tau nama lengkap mereka karena dikenalin sama Naruto.
"Beli bubur kacang juga kau? Mari sini kita makan bersama, disebelahku masih luas ini!" ujar Kiba. Sasuke cuma ngelirik sebentar terus cuek nyamperin mamang tukang bubur kacang.
Saat itu dia bingung. Dia berpikir mending makan disitu apa dibungkus aja.
"Dibungkus apa makan sini neng?" ucap si mamang, baru juga dipikirin pertanyaan itu.
"Makan sini aja." seru Naruto. Sasuke jadi galau.
"Ng…"
Pada akhirnya Sasuke manut sama Naruto. Dia mesen bubur kacang ijo campur bubur ketan item. Makan di tempat.
Dengan ragu dia berjalan masuk lagi ke teras Pondok Cemara.
"Sini, sini." Naruto menggeser duduknya, menyediakan lahan buat pantatnya Sasuke mendarat. Yang tiga lainnya ikut geser, saat itu Naruto duduk paling ujung sebelah kiri.
Tanpa bicara apa-apa Sasuke duduk di sebelah cowok itu.
Ada nuansa canggung di antara mereka –ah mungkin cuma Sasukenya aja yang ge-er, Naruto malah cuek-cuek aja makan bubur ketannya.
"Assalamualaikum~"
Kegiatan Sasuke menggiling bubur di mulutnya terhenti. Ia mendengar suara yang betul-betul dia kenal.
"Ibu?"
Ternyata itu ibunya.
"Nduuuukkkk!" sang ibu langsung saja menerjang dan memeluk anak bungsunya, untungnya Sasuke cekatan, jadi sempet buat naro mangkok plastik bergambar Marsha and the Bear itu di lantai. Tiga orang yang masih makan bubur itu ketawa cekikikan. Sementara yang satu lagi cuma ngeliatin.
"Ibu! Apa 'sih! Malu taukk!" Sasuke risih, dia mencoba melepaskan diri dari pelukan ibunya yang berasa seperti pelukan atlet smackdown itu.
"Ibu 'kan kangen karo kamu, 'Nduuukk…"
"Oh… Tante ibunya Sasuke, ya?" ucap Kiba 'sok akrab. Asli modus pengen kenalan sama ibunya Sasuke. Cantik 'sih, pemandangan yang jarang dia liat, karena ibunya sendiri mukanya labih garang dari dia. Bayangin aja, ibunya Kiba itu juragannya para penagih hutang.
"Iya, saya Ibunya Sasuke… ini mas siapa, ya?" jawab Mikoto ramah.
"Saya temennya Sasuke, bu. Saya Kiba Inuzuka Sigaligali, paling tampan se-Medan." jijay. Sasuke pengen muntah dengernya. Sementara tiga temannya yang lain ngetawain. Eh, mereka pada bisanya ketawa mulu ya?
"Oohh… iya, iya. Terus Mas-mas yang bertiga ini juga temennya Sasuke 'toh?"
"Iya bu, saya Chouji. Ini Shikamaru. Terus yang ini Naruto." Chouji ngejawab sambil ngenalin Naruto dan Shikamaru. Yang dikenalin ngangguk-ngangguk aja.
"Oh… iya salam kenal, ya…" Mikoto tersenyum, senyumnya persis banget sama Sasuke. ibu dan anak yang identik. "Eh iya 'Nduk-"
"Jangan panggil aku 'Nduk!" Sasuke menyela dengan bisikan maksa.
"-Ibu bawa makanan, ajakin temen kamu buat makan bareng aja. Ibu bawa banyak, ini 'Nduk." sang ibu masih aja kelepasan nyebut 'Nduk. Sasuke mendecak sebal.
Kala itu Mikoto membawa rantang lima tingkat berisi nasi dan lauknya. Jangan salah, Mikoto ahlinya masak makanan Jawa. Keluarganya yang di Jogja aja pada buka warung makan macam gudeg dan makanan khas Jawa lainnya. Keluarga Uchiha adalah keluarga tukang masak. Cuma Sasuke aja yang belum keliatan bisa apa nggaknya. Bisa 'sih, masak mie istant palingan. Atau nggak masak sosis dan nugget goreng –biasa banget.
"Ini Mas Naruto, ya?" tiba-tiba saja Mikoto menunjuk Naruto yang lagi nyendok bubur kacang ijo punya Shikamaru.
"Iya." Naruto ngangguk sambil ngunyah –asli nggak sopan.
"Saya kayak liat siapaa… gitu. Mas ini mirip temen saya waktu SMA dulu. Dia bule, rambutnya merah, tinggi."
"Hee? Temen ibu bule? Saya juga." Dengan bangganya Naruto menyebut dirinya bule. Emang 'sih –no comment. "Nama temen Ibu siapa, bu? Cewek apa cowok?"
"Dia wedok, namanya Kushina…"
"Hee? Kushina 'mah nama ibu saya, atuh."
"Ibu kamu? Yang bener?" Mikoto kaget.
"Iya. Temen ibu namanya Kushina, Kushina Uzumaki bukan?"
"Iya, iya."
"Iya ibu saya itu."
"Tante mending duduk dulu 'deh, ya." saran Kiba. Dia mempersilakan Mikoto duduk di tempat kosong bekas Sasuke.
"Nggeh, nggeh."
"Jadi gimana, tante? Tante kenal sama ibunya Naruto?" malah Kiba yang nanya, rupanya dia juga penasaran. Naruto keduluan. Karena pertanyaannya sama jadi Naruto Cuma nungguin Mikoto jawab aja. Sementara Sasuke nyender ke tiang teras –ngeliatin mereka ngobrol. Shikamaru dan Chouji mengamati walau masih belum beres makan.
"Kushina itu ibunya Mas Naruto 'toh? Eeehhh… Saya sama ibu kamu itu sahabatan waktu SMA, tapi pas lulus udah 'ndak ada kabar lagi. Saya kangen, pas liat kamu rasane saya liat Kushina, gitu."
"Oh gitu, bu? Iya ibu saya dulu abis lulus SMA pindah ke Garut…"
Dulunya Kushina sempet tinggal di Jogja dan bersekolah di sana. Tapi ketika dia lulus, dia kembali ke kampung halamannya di Garut. Begitupun Mikoto yang hijrah ke Bandung. Pisah 'deh. Jauh 'deh.
"Saya kangen sama ibumu, 'Mas. Inget saya, waktu dulu dia suka manggil saya 'Ceu Mimi'." Mikoto terlihat exited banget ngobrolin ibunya Naruto.
Tahu-tahu Naruto mengeluarkan ponselnya, dan naro ponsel itu di telinga. Mikoto diem, dikiranya dia nerima telpon. Tapi ternyata-
"Bu, ini. Mau ngobrol sama mamah sayah?" –dia nelpon ibunya. Langsung.
"HEEEE?" Mikoto jelas kaget. Dia nyamber ponsel layar tijek itu –eh, layar sentuh itu. terdengarlah suara seseorang yang sangat ia kangeni. "Halo?"
"Halo? Punten ieu saha? Ieu sanes Naruto?" –halo? Ini siapa? Ini bukan Naruto?-. yang di seberang agak heran karena yang ngangkat bukan Naruto, tapi seorang perempuan.
"Mbok Inah! Iki aku, Mikoto!"
Kiba, Shikamaru dan Chouji serempak ngakak ketika mendengar ibunya Naruto dipanggil 'Mbok Inah'.
"Bentar, bu. Saya loud speaker-in dulu, ya." Naruto menyentuhkan jarinya pada layar ponsel itu. Selain dengan layar ponsel, tangannya juga bersentuhan dengan tangan Mikoto. Wajar gak 'sih kalau saat itu Sasuke agak cemburu? Ah tapi masa cemburu sama ibunya sendiri?
"Ceu Mimi? Nyaan ieu 'teh ceu Mimi? Naha bisa nelpon tina nomer anak sayah?" –bener ini 'Ceu Mimi? Kok bisa nelpon dari nomer anak saya?-.
"Mamah! Aa ketemu sama temen mamah, katanya kangen sama mamah." Naruto nyela.
"Aa ketemu sama 'Ceu Mimi di mana? Ceu Mimi, ketemu anak sayah di mana ini teh?"
"Aku ketemu anakmu di kosannya. Anakku kebetulan kosannya sama… Baru aja aku kenalan sama anakmu…"
"Oh gitu? Naha bisa, nya. Dunia teh meni sempit geningan hahaha. Aah… meni kangen…!"
"Mbok Inah kapan ke sini? Kita ketemu di kosannya anak-anak…"
"Aduh… sekarang teh lagi banyak orderan euy… Kumaha nya, nanti saya kasih kabar atuh, saya minta nomer 'Ceu Mimi aja atuh nya?" rupanya Kushina sedang sibuk sama kerjaannya. Belum ada yang tau ya kalau ibunya Naruto itu punya toko oleh-oleh khas Garut? Iya, apalagi kalo bukan toko domba –eh, domba mah bukan oleh-oleh. Maksudnya toko dodol…
"Yowis nanti saya telpon balik aja ke nomer ini ya?"
"Iya, meni kangen ih iraha atuh nya saya teh bisa ka 'Nangor? Saya teh pengen ketemu juga sama anaknya 'Ceu Mimi! Naha anak saya nggak pernah cerita nya, temen kosannya anak 'Ceu Mimi?"
"Mamah, Sasuke baru pindah ke sini seminggu. Aa 'kan belum nelpon mamah seminggu ini."
"Nya Aa teh kumaha atuh!"
"Mbok Inah?" Mikoto memanggil.
"Naon 'Ceu?"
"Nanti kita ngobrol lagi ya, aku 'ndak enak sama anakmu nelpon pake hape-nya…"
"Aahh teu nananon atuh da sayah oge nu ngisian pulsana!" –Ah nggak apa-apa, orang saya juga yang ngisiin pulsanya!-.
"Ibu! Udah ih!" Sasuke menginterupsi. Dia nggak enak sama Naruto. Ibunya ngerepotin.
"Yowis nanti lanjut lagi ya, Mbok Inah… saya tutup dulu, makasih ya…"
"Yooo…"
Telpon ditutup.
"Aduuuhhh matur nuwun yo Mas, saya jadi bisa ngobrol sama 'Mbok Inah…" Mikoto keliatan seneng banget abis nelpon ibunya Naruto. Dia merangkul lengan kekar Naruto dengan manja –tanpa malu-malu, tanpa segan-segan. Persis gaya Sasuke kalo lagi gelayutan ke Itachi.
Sasuke manyun. Bete abis… Harusnya dia yang bisa intim kayak gitu sama Naruto, eh malah keduluan sama ibunya. Awas aja, nanti dia bakalan laporin ke bapaknya. Biar ibunya tau rasa udah ganjen-ganjen sama berondong… muehehehe. Ide jahat berseliweran di kepala Sasuke. cemburu membuatnya jadi gitu, padahal urusannya sama ibunya sendiri.
"Iya bu, kapan-kapan main atuh ke Garut, si mamah 'mah selalu mangkal di toko 'da, nggak kemana-mana…"
"Iya Mas, pingin saya main ke Garut kapan-kapan. Kalau saya bawa anak saya juga nggak apa-apa 'kan?" Mikoto yang masih nempel sama Naruto tiba-tiba nunjuk Sasuke. Yang ditunjuk cuma ngelirik males –masih cemburu.
"Sasuke ikut aja nanti kalau mau main ke Garut. Nanti kita ngeliwet, terus makan-makan di sawah, di saung. Kita botram. Depan rumah saya masih banyak sawah lho, bu."
"Wooh… nggeh, nggeh, bagus itu…"
Sasuke belum juga sembuh dari sindrom cemburunya –emang cemburu sindrom gitu?
Ia pura-pura cuek ketika ibunya ngobrol akrab sama Naruto.
Tapi tunggu.
Sasuke langsung menghentikan tangannya yang gratil mrintil-mrintil ujung kaos. Dia menyadari sesuatu. Kalau diurutkan, pertama, ibunya kenal sama ibu Naruto. Kedua, ibunya diajakin maen ke rumah Naruto di Garut. Ketiga, dia bisa kenalan secara instan sama keluarga cowok itu di sana. Bukankah itu emejing? –eh, amazing?
"Eh iya kita-kita boleh ikut nggak nih? Gue udah lama nggak ketemu sama sodara lo, si Karin itu." Chouji nimbrung. Dia pengen juga ikut ke Garut rupanya. Btw dia kenal sama sodaranya Naruto yang namanya Karin juga waktu dia maen ke sana.
"Lu mau ikut? Si Karinnya juga lagi KKN ke Sukabumi…" jawab Naruto.
"Yaah… ya gapapa deh, setidaknya gue bisa makan masakan bokap lu yang enak-enak itu…" Chouji mengatakannya sambil mengelus-elus perut, ia ingat tahun lalu ia ikut pulkam ke rumahnya Naruto dan selama satu minggu di sana dia selalu disuguhi makanan enak sama bapaknya Naruto, Pak Minato Rahmat Sunarto.
"Ya… boleh aja sih… Lu mau ikut juga 'Chik?" tanya Naruto pada Shikamaru yang biasa dia panggil 'Chik' itu.
"Hayu-hayu aja gua mah… selama dapet tempat nginep gratis dan makanan gratis…" Shikamaru menjawab realistis. Anak kosan mana ada yang bisa nolak hal-hal berbumbu gratis?
"Aku juga ikut dong! Kebetulan kan habis minggu-minggu UTS kita ada libur?" Kiba nggak mau ketinggalan. Kiba semakin di depan –itu mah slogan oi.
"Ah iya juga ya. Bu, gimana kalau kita ke Garutnya habis UTS aja? Nanti saya sewain mobil buat transport ke sana." Naruto meminta persetujuan Mikoto.
"Boleh, boleh…" Mikoto mengangguk semangat.
Pada akhirnya, mereka janjian buat maen ke Garut habis selesai UTS. Jadi yang ikut semuanya. Soal transportasi 'mah gampang. Naruto bisa nyetir mobil dan punya SIM –wajib, lagian dia banyak duit, jadi nyewa mobil berhari-hari juga nggak masalah. Gimana dengan Sasuke? Apa dia setuju? OP KORS, siapa juga yang nggak mau ketemu sama calon mertua –eh, maksudnya ketemu keluarga kecengannya secepat itu? Nggak perlu repot-repot PDKT, jadian dan minta izin dulu kali ya? Mungkin aja nanti setelah ketemu, orangtuanya Naruto malah jodoin anaknya sama dia. Ngarep…
KRUNYUUUK
Tiba-tiba saja terdengar suara perut yang keroncongan…
Dan tak dinyana suara itu berasal dari perut Mikoto.
"Hehehe… Maaf ya Mas-mas… saya tadi kesini belum sempet sarapan dulu… Gimana kalau kita makan sekarang?" Mikoto nyengir malu sambil ngangkat rantang bawaannya. Sasuke cuma nepuk jidat.
Hedeuh… Mamihnya Sasuke malu-maluin ih…
"Maap ini teh, mangkoknya pada udah belum yah?" Mamang bubur menginterupsi.
TBC
