"Yeoboseo?… ya! Cho Kyuhyun!….. kenapa tidak bilang kalau kau sakit eoh?!…. mworago?….. gwenchana?! Kau bilang baik-baik saja?! Yang benar saja!….. aish! Aku sudah tahu tidak seharusnya aku meninggalkanmu disekolah sendiri kemarin….. arra, istirahatlah, kau mau aku bawakan apa?….. eoh, baiklah "

Dengan kasar Changmin memasukan handphone-nya kedalam saku, ia mendecak keras dan menghentakkan kakinya kuat dilantai, wajahnya berkerut kesal. Namun tak lama ia menghela napasnya, wajahnya kini terlihat benar-benar cemas.

Tadi pagi saat sampai di sekolah ia tidak menemukan keberadaan Kyuhyun disana, bahkan sampai bell istirahat berbunyipun Kyuhyun belum juga muncul dihadapannya. Changmin sempat kalang kabut karena cemas, sampai akhirnya ia menemui appa-nya untuk bertanya mengenai Kyuhyun.

Dan Changmin berani bersumpah demi apapun, mengapa otaknya tak pernah bekerja jika ia tengah panik? Kenapa ia selalu menjadi orang paling tolol di dunia jika merasa cemas?

Sungguh, ia merasa seperti terpeleset didepan para yoja penggemarnya dengan posisi menjijikan! Bahkan ini bisa jadi lebih buruk. Sangat-sangat buruk.

Saat ia bertanya pada appa-nya mengenai Kyuhyun, dengan santai Yoo sonsaengnim menjawab. "Kenapa tidak kau telpon saja Kyuhyun?"

Telpon? Oh, mengapa ia bisa lupa pada benda persegi yang selalu ia bawa? Benda yang bahkan sering ia sebut sebagai belahan jiwanya. Yoo Changmin kau memang bodoh!

.

.

Suara decit pintu memecah keheningan dalam ruangan bercat baby blue itu. Disana diatas tempat tidur yang berada tepat disamping jendela besar yang menghadap kehalaman belakang kediaman mewah keluarga Cho, seseorang dengan rambut coklatnya tengah berbaring menghadap jendela, membiarkan sinar mentari sore menerpanya.

Perlahan tubuh itu berbalik setelah mendengar suara decitan yang berasal dari pintu kamarnya yang dibuka dari arah luar, ia menyingkap selimut tebalnya dan dengan susah payah mendudukkan diri dan bersandar pada kepala tempat tidur.

Senyuman kecil merekah dibibir penuhnya ketika melihat siapa yang datang, warna kulitnya yang pucat seolah menggambarkan dirinya, menggambarkan keadaannya.

Ia mendesah ketika dilihatnya seseorang yang tadi membuka pintu kamar hanya berdiri disana, menatap dirinya dengan pandangan… iba? Entahlah ia tak tahu.

"Yoo Changmin.." serak, suara itulah yang tertangkap pedengaran Changmin.

Suara Cho Kyuhyun, suaranya terdengar seperti ditelan gemerisik suara daun yang saling beradu diluar sana. Pelan dan terasa miris ketika Changmin mendengarnya, sungguh berbeda dengan suara Cho Kyuhyun beberapa tahun lalu ketika mereka tinggal bersama. Ya, bersama Donghae juga tentunya.

"Donghae hyung! Changmin-ah! Cepat tangkap aku!"

Sepasang kaki kecil berlari mengitari halaman luas yang dipenuhi dengan kelopak bunga cherry yang berjatuhan dari tangkainya. Teriakannya terdengar begitu nyaring dan seolah memenuhi udara.

"Kyuhyun-ah! Jangan lari!"

"Kyuhyun-ah berhenti!"

Sementara dibelakangnya, dua orang namja berbeda usia berlari mengejar. Namja yang lebih kecil berlari didepan mencoba untuk menggerakkan sepasang kaki kecilnya untuk melangkah lebih cepat lagi. Sementara yang lebih besar berlari dibelakang dengan kecepatan yang bisa disebut seperti siput.

Bukannya ia tak bisa berlari cepat seperti dua namja kecil didepannya, tapi ia lebih senang berjalan dibelakang, melihat kedua adik kecilnya berlarian saling mengejar, baginya itu jauh lebih menyenangkan dari pada harus memenangkan permainan anak kecil ini.

Namun tiba-tiba ia mendapat ide bagaimana agar kedua anak kecil didepannya ini mau berhenti berlari. Donghae, namja berusia empat belas tahun itu menghentikan langkahnya. Secepat mungkin ia menarik tangan namja kecil yang ada dihadapannya, menggendongnya dan membawanya bersembunyi dibalik pohon besar disamping kiri.

"Hyung, apa yang kau lakukan? Aku harus menangkap Kyuhyun!" namja kecil terus memberontak mencoba agar terlepas dari dekapan Donghae, ia tak mau kalau harus kalah dari Kyuhyun dan menyerahkan semua mainan kesayangannya. Tak akan pernah.

"sssstttt… jangan berisik Changmin-ah, kita sembunyi disini saja, eoh? " ujar Donghae sembari tersenyum manis dan memutar pandangannya waspada agar tak ketahuan Kyuhyun.

Changmin nampak menautkan kedua alisnya, bibirnya mengerucut begitu lucu. "Ada apa dengan wajahmu itu, hm?"

Donghae masih tersenyum ia melepaskan Changmin dari gendongannya, "Hyung… kalau kita bersembunyi disini kapan aku menang? Aku tak mau Kyuhyun merebut mainanku lagi! Shireo!" bibir Changmin semakin mengerucut setelah ia melontarkan protesnya.

Kenapa ia harus sembunyi? Kalau begini bukankah akan jelas sekali kalau Kyuhyun yang akan menang? Dan ia tak suka itu! Ia tak suka kalah!

"arraseo Changminnie, aku berani jamin Kyuhyun tak akan menyentuh mainanmu oke? Yang penting sekarang kau diam disini dan turuti apa kataku"

Mendengar penuturan Donghae, Changmin terpaksa mengangguk. Namun meski anggukan kepalanya tampak ragu, sesungguhnya ia amat percaya pada namja dihadapannya ini, ia percaya Donghae hyung-nya takkan pernah berbohong.

Sementara Kyuhyun, namja kecil yang sejak tadi berlari kini menghentikan langkahnya ketika indra pendengarannya tak menangkap suara derap langkah hyung-nya dan juga Changmin.

Ia berbalik dan betapa terkejutnya ketika ia tak menemukan dua sosok yang sejak tadi mengejarnya. Dimana Changmin dan juga Donghae hyung?

"Donghae hyung! Changmin-ah! Cepat keluar aku tahu kalian bersembunyi!"

Tak ada sahutan, yang terdengar hanya hembusan angin yang berputar lembut disekitarnya.

"Donghae hyung! Changmin-ah! Aku akan menemukan kalian!"

Masih tak ada sahutan, Kyuhyun mulai cemas. Biasanya hanya sekali panggil mereka akan segera keluar dari persembunyiannya. Tapi sekarang, bahkan Kyuhyun tak dapat mendengar sedikitpun suara mereka, Donghae dan juga Changmin.

"Kemana mereka…" Kyuhyun mulai bergumam panik, bertanya-tanya kemana Donghae hyung-nya dan juga Changmin.

Kyuhyun berjalan kesana-kemari, mencari keberadaan Donghae dan juga Changmin, "Donghae hyung! Changmin-ah! Kalian dimana?!"

Kyuhyun berlari menuju jalan yang tadi ia lewati, matanya terus berputar gelisah, "Hyung! Changmin!"

Manik hitam itu nampak mulai memerah, air mata menggenang membuat pandangan Kyuhyun menjadi kabur. "Hyung! Changmin!" sekali lagi teriakan Kyuhyun terdengar menggema. Ia tak tahu harus kemana ia mencari Changmin dan juga Donghae hyung-nya.

Tubuhnya kini serasa melemas, ia jatuh terpekur ditanah. Tangannya sibuk menghapus setiap tetesan air mata yang jatuh dari manik kelamnya.

"Donghae hyung…. Changmin-ah…." suaranya terdengar parau, apa yang harus ia lakukan sekarang? Kemana ia harus mencari Changmin dan juga Donghae hyung-nya? Harusnya ia menurut perintah Donghae hyung-nya tadi agar berhenti berlari.

"Kyuhyunnie…"

Kyuhyun membuka kelopak matanya yang tadi sempat terpejam menahan air mata agar tak turun lagi membasahi kedua belah pipinya. Perlahan ia mendongak, ada dua pasang mata yang menatapnya lekat.

Kedua pasang mata itu milik mereka! Orang yang sejak tadi Kyuhyun cari. Changmin dan juga Donghae.

Secepat mungkin Kyuhyun menghambur memeluk Donghae. Dekapannya begitu erat seolah ia tak ingin sedikitpun melepaskannya, takkan pernah. Kyuhyun takkan pernah melepaskannya, Donghae harus selalu ada dalam jarak pandangnya.

"Hyung…." tangis Kyuhyun pecah, ia membenamkan kepalanya dibahu Donghae. Isakannya teredam namun masih terdengar memilukan.

"Kyu… uljima…"Changmin mengelus pucuk kepala Kyuhyun lembut, air mata mulai menggenang di manik hitam Changmin. Mendengar Kyuhyun menangis, seperti anak-anak kebanyakan, mereka seringkali juga ikut merasakan kesedihan itu dan akhirnya menangis bersama.

"Uljima… maafkan hyung Kyuhyunnie…" gumaman Donghae terdengar amat lembut, sebenarnya ia merasa bersalah karena membuat adik semata wayangnya menangis sampai seperti ini. Tapi ketika maniknya menatap keberadaan Changmin, tanpa terasa senyuman kecil mengembang dibibirnya.

Changmin tengah menangis sembari mengusap kepala Kyuhyun lembut. Changmin dan Kyuhyun-nya menangis bersama. Ini bukan pemandangan asing sebenarnya karena mereka berdua memang selalu seperti ini, mereka tampak seperti kembar tak identik. Terlihat jelas, seringkali mereka saling merasakan perasaan satu sama lain.

Tangan Donghae yang terbebas menarik Changmin kedalam pelukannya, ia mendekap mereka berdua dengan penuh kehangatan. Donghae yang memang selalu menempatkan dirinya sebagai yang tertua dan seorang pelindung. Donghae Hyung yang berhati hangat.

"Maafkan aku… aku berjanji takkan pernah meninggalkan kalian…"

Kau melanggar janjimu Donghae hyung…

"Yaa! Yoo Changmin!"

Changmin terperangah mendengar bentakkan Kyuhyun, ia sadar sejak tadi ia berdiri diambang pintu dan tenggelam dalam lamunannya.

"eoh… ya,"

Changmin melangkah mendekati ranjang Kyuhyun, ia mendudukkan dirinya di atas ranjang dengan sprei berwarna putih bersih itu.

"mana jjangmyeon-nya?" bibir Kyuhyun mengerucut, nada suaranya terdengar memelas. Aigoo.. kyuhyun tengah ber-aegyo sekarang.

Changmin mendecih. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin evil dihadapannya ini masih bisa melakukan aegyo? Sungguh tidak cocok dengan sikapnya yang selalu ia perlihatkan. "Ahjussi sedang menyiapkannya…" tutur Changmin.

Kyuhyun mengangguk tanda mengerti, "Lalu bagaimana keadaanmu sekarang?" lanjut Changmin.

"baik, setidaknya lebih baik dari tadi malam.." Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada jendela yang berada tepat disampingnya.

"dimana…" perkataan Changmin menggantung, matanya lurus menatap tiang infus yang berdiri kokoh disamping tempat tidur Kyuhyun.

"Hm? Mworago?" Kyuhyun menajamkan pendengarannya dan bertanya.

"Dimana Hwa Young noona? Apa ia tahu…"

Kyuhyun tahu benar apa yang Changmin maksud, ia menyunggingkan senyumnya sedikit terpaksa.

"ia di toko bunga, aku menyuruhnya untuk tak pulang sebelum matahari terbenam… kau tahukan ia amat patuh padaku? Jadi kau jangan cemas, ia tak akan tahu…"

Changmin mengangguk pelan, "Tapi Kyuhyun-ah… bagaimana kalau suatu hari nanti ia tahu mengenai ini dan juga tujuanmu itu?" tampak Kyuhyun menelan salivanya, ternyata Changmin juga sama dengannya. Memikirkan kemungkinan yang pasti akan terjadi, cepat atau lambat.

Kyuhyun menatap Changmin lembut sembari tersenyum, "tak usah kau pikirkan mengenai itu Changmin-ah, jangan cemas. Aku yakin cepat atau lambat dia akan mengerti, sekarang biarkan saja semuanya mengalir," Changmin menundukkan kepalanya. Perkataan Kyuhyun mulai meresap dalam pikirannya.

Bukan itu yang ia maksud, bukan hanya itu yang ia khawatirkan.

Seperti yang kau katakan, biarkan semuanya mengalir… dan tanpa kau sadari perasaanmu juga ikut mengalir, menyusuri takdir menyalahi skenariomu Cho Kyuhyun… aku mencemaskanmu, kenapa harus sekarang? Kenapa harus dia?

.

.

Hari mulai gelap, ia harus segera pulang. Sesuai perintah Kyuhyun "jangan pulang sebelum matahari terbenam! Tapi, bukan berarti kau boleh pulang tengah malam!" perintah yang sungguh membingungkan.

Hwa Young tersenyum mengingatnya, ia tak tahu kenapa ia bisa begitu patuh pada seorang namja kecil, ck. Sepertinya pribadinya mulai berubah semenjak ia tinggal di kediaman keluarga Cho itu.

Hwa Young mulai membereskan toko yang sudah sepi. Matanya menatap kesekeliling toko yang sudah nampak rapi, namun pandangannya berhenti pada sebuah pot bunga yang terletak sedikit tersembunyi.

"Lily of the Niel…" Hwa Young bergumam pelan, ia berjongkok dan meraih pot dengan bunga berwarna ungu kebiruan diatasnya.

Senyuman kembali berkembang dibibirnya, tanpa terasa ia kembali bergumam, "Donghae-ya…"

TBC