.
.
.
Gintama milik Hideaki Sorachi
OOC, typo, rush
.
.
.
Chapter empat bagian satu: Hisashi
"Mami, ayo! Kaguya sudah siap dari tadi loh!" Sosok mungil Kaguya muncul dari pintu masuk untuk mengecek lagi apakah maminya sudah bersiap di depan pintu. Namun, ia tidak mendapati maminya di tempat itu.
"Iya, aru. Sebentar!" Terdengar jawaban Kagura dari arah ruang tengah kemudian disusul suara benda yang jatuh.
"Kenapa lama sekali sih?" Seraya mencebilkan bibir bawahnya, menandakan ia sudah mulai kesal, Kaguya menabrakkan punggungnya di dinding, kemudian memasang pose menunggu, bersender.
1 menit berlalu telah berlalu sejak Kaguya menyenderkan tubuhnya.
"Mami! Lama sekali sih!" Setelah bosan menunggu lama, akhirnya Kaguya berinisiatif untuk menghampiri sang mami. "Kalau lama Kaguya pergi main saja deh!" katanya sambil melepas sepatu dengan asal.
Ketika ia hendak beranjak dari genkan menuju koridor, Kaguya mendapati Kagura muncul dari kelokan koridor dengan membawa tas belanja beserta dua payung di tangan di tangan yang berbeda, berjalan menujunya.
"Ini, pakai payungmu," kata Kagura sambil menyodorkan payung kecil khas China pada putrinya ketika sudah mendekat. "Dan jangan melepas sepatu sembarangan, aru!"
Kaguya mengambil payung dari tangan Kagura lalu diletakkan di sisinya sementara itu ia duduk. "Dimana mami menemukannya?" tanyanya pelan dalam posisi duduk di ujung undakan sambil kembali mengenakan sepatunya yang baru saja ia copot.
Kagura menatap datar ke arah Kaguya sambil mengangkat sebelah alisnya sebelum menjawab, "Kaguya kira mami tidak tahu ya kalau payungnya disembunyikan?"
Kaguya diam saja, tak menjawab. Jujur saja, ia benci memakai payung. Rasanya, benda berwarna ungu itu menjadi benda yang wajib ia bawa kemana mana. Dan Itu kan sangat mengganggu.
"Mami tahu itu merepotkan, aru. Tapi, nanti Kaguya bisa sakit," ucap Kagura pada Kaguya yang masih berekspresi datar. Namun ketika mendengar itu, Kaguya kembali tersenyum demi maminya.
"Baik mami." Kaguya mengulurkan tangannya dan disambut oleh Kagura. "Kupakai payungnya." Tangan kirinya untuk bergandengan, sedangkan kanan untuk menjinjing payung yang masih terlipat rapi.
Kagura balik tersenyum. "Ayo, aru."
Setelah itu, pasangan ibu-anak itu menyusuri jalanan dengan saling bergandengan. Angin musim semi menerpa rambut indah keduanya. Sekali dua kali, Kaguya mengomentari rambut maminya yang kian memanjang, namun hanya digerai begitu saja.
"Kan jadi berantakan kalau keterpa angin." Kaguya memaksa Kagura untuk berjongkok, menyesuaikan dengan tinggi Kaguya, agar ia bisa merapihkan rambut maminya sebelum berbelanja.
Kagura menurut saja. Walaupun Kaguya manis dan lucu, ia memiliki sifat pemaksa yang tampak sekali diturunkan oleh Sougo. Kagura hanya bisa berharap agar sifat sadisnya dan Sougo pun tidak turun kepada gadis manis ini.
Berbelanja bersama Kaguya adalah kegiatan rutin bagi Kagura. Karena kali ini menu makan malam adalah kare, Kagura berbelanja bahan bahan yang diperlukan. Plus, makanan ringan yang berjubel dan sukonbu.
"Kembaliannya 243 Yen." Si penjual, seorang nenek tua yang mengelola toko kelontong, meneyerahkan kepingan Yen dengan tangan gemetar kepada Kagura.
Kagura menerimanya. Setelah ia memasukkan belanjaannya, Kagura berbalik pergi untuk pulang. Namun ketika ia keluar dari toko tersebut, wanita itu tak mendapati seorang gadis kecil berahoge yang seharusnya sedang duduk manis di bangku depan toko.
"Kaguya!" Rasa panik mulai menjalar ketika Kagura menengok kiri dan kanan namun tidak ada sosok Kaguya. Banyak orang yang berlalu lalang di jalanan. Terpaksa Kagura bertanya pada penjual dango di sisi kiri toko kelontong tersebut. Dan jawaban lelaki tua itu, putrinya berjalan ke arah jembatan yang tak jauh dari sana.
Dengan menenteng belanjaannya, Kagura berlari menuju tempat itu. Dan mendapati Kaguya bersama seseorang di pinggir jembatan kayu itu. Manik Kagura menangkap sosok Kaguya sedang berjongkok di depan pembatas jembatan, menatap aliran sungai yang tenang sambil mengobrol dengan lelaki yang berdiri tepat di sampingnya.
"Kaguya!" Secepat kilat, Kagura langsung menarik Kaguya guna menjauhkan putrinya dari jangkauan pria asing itu. Sekilas, mata Kagura menyipit pada sosok yang berani mendekati putrinya tanpa sepengetahuan dirinya.
"Mami kan sudah menyuruhmu duduk diam di bangku tadi!" kata Kagura dengan suara sedikit membentak. Bagaimana kalau pria itu mau menculik Kaguya.
"Maaf. Tadi Kaguya bosan. Dan paman ini bercerita banyak." Kaguya menunjuk ke arah pria yang masih berdiri di tempatnya, dengan riang.
Wajah Kagura sedikit keruh. Ia tak suka jika ada orang asing mendekati anaknya. "Maaf merepotkan," kata Kagura pada pria itu dengan datar. Kagura menyadari lelaki itu memiliki surai yang sama indahnya dengan milik suaminya. Dan dia juga memiliki pancaran mata yang dapat Kagura percayai meski mereka baru berjumpa.
Lelaki itu menggaruk tengkuknya. "Tidak, tidak. Saya yang minta maaf. Mengobrol dengan anak anda tanpa sepengetahuan ibunya." Mata pria itu masih melekat pada Kagura.
"Tidak apa apa, aru."
Senyum ramah lelaki itu seketika runtuh. "Aru?" Alisnya berkerut dan matanya menatap Kagura dengan penuh kebingungan.
Kagura tertawa pelan. "Itu logat saya."
Lelaki itu terdiam cukup lama. Tampaknya fakta barusan membuatnya menyadari sesuatu. Sekali lagi, ia menatap Kagura dan Kaguya secara bergantian. Tiba tiba saja ia tertawa pelan tanpa alasan yang jelas. "Pantas warna rambut putri anda tak asing di mata saya."
Kagura mengerutkan alis, tak mengerti.
Perlahan lahan, senyum kembali terukir sempurna di wajah tampan pria itu. Membuat manik turquoise gelapnya menyipit. Wajahnya tampak lega seakan ia baru menemukan barang beharga yang telah lama hilang. "Lama tak berjumpa, Kagura-san."
Sekelebat bayangan akan sosok anak laki laki bertubuh lemah di acara senam radio pagi berbelas belas tahun lalu menghampiri Kagura.
Manik biru Kagura membulat. "Kau..., Hisashi?... Aru ne?"
.
.
.
Tanpa banyak omong, Kagura menawari Hisahi untuk makan malam bersama keluarganya. Namun dengan sopan, Hisashi menolaknya.
"Ada acara yang harus kudatangi," katanya sambil mengelus surai Kaguya dengan penuh kasih.
Tapi bukan Okita Kagura namanya kalau mudah menyerah. Lagipula Kagura tahu Hisahi hanya mengarangnya sebab ia canggung atau malu untuk mendatangi kediaman OKita. Dan akhirnya Hisashi menyerah dan mengatakan bahwa ia akan membatalkan rencananya.
Acara makan malam mereka berjalan lancar. Tak butuh waktu lama, Soujiro dan Kaguya langsung menyukai paman baru mereka. Setelah selesai makan malam, kedua Okita itu langsung mengerubungi Hisashi di ruang tengah. Mengajak Hisashi ke ruang tengah adalah ide Kagura, yang sedang mencuci piring.
"Paman sudah pergi ke berapa planet di alam semesta ini?" tanya Soujiro sopan namun berusaha tampak terdengar manis.
Hisahi tertawa pelan. "Belum seberapa dengan planet yang ayahmu kunjungi," jawabnya sambil melirik Sougo sekilas yang baru saja melintas dengan tak acuh di depan mereka.
Mendengar nama ayahnya disebut, Soujiro mencibir. "Dia bahkan tak pernah keluar dari planet sumpek ini." Dan hilanglah kemanisan dalam dirinya.
"Papi pernah kok!" sambar Kaguya, membela papinya.
Soujiro mengedikkan bahunya. "Meragukan." Lalu ia bangkit dari tempat duduknya menuju dapur.
Kaguya dan Hisahi mengawasi punggung Soujiro yang menjauh. Lalu Kaguya menoleh untuk menatap Hisahi. "Aniki selalu begitu pada papi. Padahal papi kan sayang padanya."
"Sudahlah, Soujiro memang begitu, aru." Kedua orang itu menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati sosok Kagura yang sedang menguncir rambutnya sambil berdiri. "Kaguya, ini sudah malam. Kenapa tidak kembali ke kamar untuk tidur?" tanya Kagura sambil mengambil celah duduk di sisi Hisashi.
"Tapi mami..."
"Tidak, aru. Peraturan baru kita, Kaguya tidak boleh tidur di atas jam delapan malam."
Kaguya menatap maminya dengan sengit sebelum ia menyambar bonekanya dan berdiri untuk pergi ke kamar. "Mami pelit!" jeritnya lalu sosoknya hilang di balik kelokan meningalkan maminya.
Kagura menghela nafas lelah, sedangkan Hisashi hanya tersenyum melihat itu.
"Dimana Okita-san?" tanya Hisashi setelah tenang. Sejak tadi ia hanya melihat Sougo mondar mandir dalam diam. Dan hanya menyapanya ketika ia pulang dari kerja itu pun setelah Hisashi selesai menyantap kare buatan Kagura. Dan Sougo tidak makan malam bersamanya.
Kagura menunjuk dirinya sendiri. "Di hadapanmu," jawabnya dengan senyum konyol.
"Maksudku Sougo-san."
Kagura tertawa mendengar nada bicara Hisashi yang terdengar sedikit serius. "Bercanda, aru." Kemudian ia menggeleng. "Mungkin sudah tidur."
Hisashi mengangguk tak enak. Apa Sougo tak menerima kedatangannya? Sebelum ia sempat menyuarakan isi hatinya agar dapat pulang tanpa menggangu keluarga kecil ini, Hisashi mendengar Kagura berujar pelan.
"Dimana saja kau selama berbelas-belas tahun ini?"
Hisashi mengangkat pandangannya dan mendapati manik jernih Kagura memancarkan pandangan sedih. "Aku ke rumah sakit setelah bekas pembantumu menghampiriku waktu itu, tapi kau sudah pergi, aru. Tanpa kabar, tanpa pesan." Hisashi dibanjiri perasaan bersalah.
"Aku masih merasa bersalah tak datang pada pagi hari itu."
"..."
"Kau...,"
Pandangan mereka saling bertemu.
"...Memaafkanku kan?"
Memberanikan diri, Hisashi meremas kepalan tangan kiri Kagura. "Tentu saja aku memaafkanmu..., sahabat."
Kagura salah besar karena telah mengira bahwa hanya dia seorang di rumah itu yang dapat mendengar nada lembut yang ganjil yang dilontarkan oleh Hisashi.
.
.
.
Sougo pergi menuju Shinsengumi tanpa memberi kecupan pada Kagura. Atau perkelahian sejenak, yang pasangan Okita itu lebih sering lakukan dibanding berciuman. Ia langsung pergi setelah mengusap surai Kaguya sekilas.
Soujiro mengerutkan alis bingung. 'Biasanya harus ada yang mengalami retak tulang dulu,' batinnya sambil menerima kotak bento berbalut secarik kain bercorak dari Kagura.
Kagura, yang dari dulu masih mengidap penyakit ketidakpekaan itu, hanya melambai singkat Sougo dan Soujiro. Ralat, hanya pada Soujiro saja. Walaupun ia merasa aneh tak ada respon negatif dari sang suami.
"Paman Hisashi mana, mami?" tanya Kaguya setelah mereka berbalik masuk.
"Oh, paman menginap di hotel, aru." Kagura memasuki rumah untuk berberes, sedangkan Kaguya masih asyik mengekor.
"Oh iya." Kagura memutar balik tubuhnya agar dapat menatap Kaguya, lalu ia membungkuk demi mensejajarkan dengan tinggi tubuh putrinya. "Mami mau ke rumah paman Gin. Kaguya ikut atau mau di rumah bibi Tae saja?" tanyanya. Kagura agak sedikit merasa bosan pagi hari ini.
Kaguya menimbang nimbang. "Emm, mungkin ke rumah bibi Tae saja, mami," katanya pada akhirnya.
"Baik, aru." Kagura kembali menegakkan punggungnya. "Tapi ingat, jangan sentuh Tamagoyaki buatan bibi ya?" Beberapa minggu yang lalu, Kaguya mencicipi sedikit Tamgoyaki buatan istri Kondo Isao itu, dan hasilnya ia sakit. Bahkan sakit itu lebih lama ketimbang saat Kaguya terkena demam musim panas.
Kaguya tertawa. "Mami jahat, ah."
Lalu mereka berdua tertawa.
.
.
.
Setelah Kaguya berjanji tak akan bandel dan merepotkan di rumah Tae, akhirnya Kagura dapat melangkahkan kakinya dengan tenang menuju kediaman Yorozuya. Meski kini Kagura memiliki rumah sendiri, namun ia tidak bisa lama lama menetap di rumahnya sebelum memijakkan kakinya di tatami rumah Yorozuya.
Rumah itu adalah tempat pertama ia bernaung di bumi tanpa merasakan sesuatu kecuali kenyamanan dan kesanangan. Kagura tak bisa melupakan hangatnya air di bak kayu rumah itu, setiap detailnya, dan udara di dalamnya. Ia sudah hafal selak-beluk rumah milik Otose itu, meski matanya terpejam rapat. Bisa dikatakan bangunan yang kian menua itu adalah bagian dari kehidupannya.
Sebelum Kagura sampai ke Yorozuya, penglihatannya menangkap seseorang dengan surai coklat pasir indah yang berjalan memunggunginya. Awalnya Kagura mengira itu Sougo yang sedang bolos kerja dan hendak berkunjung ke kediaman Gintoki. Namun ia salah besar, setelah memutuskan untuk mengejarnya tanpa menimbulkan suara yang mencurigakan.
Sosok itu adalah lelaki yang menggengam erat tangannya kemarin malam.
"Hisashii." Mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang memiliki suara yang familiar, Hisashi menoleh dan otomatis tubuhnya berputar pelan. Ia mendapati seorang ga-, bukan, -wanita berpayung China berlari pelan ke arahnya, membuat rambut panjangnya sedikit tertiup angin.
"Kagura-san." Hisashi membungkuk sopan saat sosok Kagura mendekat.
Kagura mengibaskan tangannya canggung. "Jangan terlalu formal, Hisashi," katanya. "Mau kemana, aru?"
Hisashi mengedarkan pandangannya ke penjuru jalanan. "Hanya sedang berjalan-jalan."
"Jam segini?"
Hisashi mengangguk sopan.
"Kalau begitu, bagaimana ikut saja ke Gin-chan. Kau mau kan, aru?"
Hisashi kembali mengangguk. Setelah mendapat persetujuan, mereka berdua berjalan beriringan dalam diam.
"Kemana Kaguya-chan?" tanya Hisashi sedikit bingung. Biasanya gadis kecil itu selalu bersama Kagura.
"Di rumah Anego, aru. Mungkin dia ingin bertemu Noriko-chan," jawab Kagura lalu kembali menikmati semilir angin. Cuaca pagi ini cerah membuat suasana hatinya menjadi baik. Namun Kagura bukan tipe orang yang akan melakukan perjalanan tanpa obrolan. Karena itulah, Kagura yang bercerita banyak dan Hisashi yang akan menanggapinya.
Sesampai di Yorozuya, Kagura mempersilahkan Hisashi duduk di sofa sementara Gintoki dengan sangat terpaksa mengambilkan minuman pada mereka berdua.
Kagura dan Hisashi berbincang cukup lama sedangkan Gintoki entah kemana.
"Hisashi belum menikah?" tanya Kagura.
Hisashi sedikit merona mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kagura. "Belum."
"Benarkah? Kenapa? Kau kan tampan, baik, dan kaya. Mana mungkin ada wanita yang menolakmu, aru," kata Kagura tanpa memikirkan perasaan Hisashi.
Hisashi tertawa pelan. "Sebenarnya aku kembali ke bumi, tepatnya ke Edo ini untuk melamar seseorang," katanya. Atmofsir antara mereka berdua terasa memberat.
Kagura meneguk nilonya sebelum kembali berbicara. "Benarkah, aru? Kenapa tidak cerita padaku?"
"Tapi sekarang sudah kan?" kata Hisashi kalem.
Kagura tertawa. "Iya, iya." Kemudian ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah depan, tampak tertarik dengan alur pembicaraan. "Jadi, siapa dia, aru?"
.
.
Tbc
.
.
A.N
Halo, halo, ketemu lagi kita di chap empat. Setelah terjangkit WB parah selama 3 minggu akhirnya balik lagi. Setelah melihat review manis kalian, aku jadi termotivasi. Oh ya, aku berterima kasih atas saran kalian. Dan, ini masih bagian pertama ya dari chap empat :)
Ok, aku balesin review dulu ya.
Chikara Hoshi: Kalau ngak parah, namanya bukan si Sougo dong. Aku usahain banyak komedinya, walaupun garing. Makasih ya atas sarannya. Memang suasana manganya sekarang lagi rada suram TT
Rarateetsuuya: Ada typo ya? Padahal aku udah berusaha sekuat mungkin biar ngak ada loh. Hm, sarannya bagus, kupertimbangin ya. Memang ini genrenya Family-Comedy, tapi kehidupan itu ngak selalu lucu terus kan? Makasih atas saran dan jejaknya.
Yonaka Alice: Kerenan Sougolah dibanding chef Ju*a. Cuman masakan Sougo kurang enak aja. Emm, kalau tentang warna rambut dan mata Soujiro udah dijelasin kok, cuman adiknya aja yang belum terlalu mendetail. Makasih Yon udah ngingetin betapa ceteknya pendeskripsianku / Gak bosen kah, Yon?
ATHAYPRI: Wkwk, keluarga Taya kena wabah Pokemon G*? Bahkan emakmu juga?:v. Kalau manis terus, Taya diabet ngak nih? Makasih atas jejakmu dedeq :v
Miraflame: Terima kasih atas koreksi dan pujian manisnya.
Aitara. Fuyuharu1: Bumbu manis memang perlu, tapi kan kehidupan ngak selalu manis kan? Makasih untuk jejaknya. Dan kuterima kok permintaan maafmu :)
ShacchanAndi21: Kalau Kaguya mah akrab sama papinya, cuman si Soujiro doang yang rada ngebandel sama Sougo. Makasih atas jejaknya
.
Special thanks to:
Reader/ Reviewer/ Favoriter/ Visitor
