"P-Paman Sasuke?" Hinata menatap takut Sasuke yang tengah mengacungkan pistolnya tepat di kepala Gaara.
Pria yang disebut namanya itu sama sekali tak menanggapi Hinata dan masih memandang Gaara tajam. "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya dingin.
Gaara mengganti ekspresi terkejutnya dengan senyuman meremehkan, sama sekali tak terlihat gentar dengan pistol yang siap meledakkan kepalanya kapan saja. "Menyelamatkan Hinata, tentu saja."
"Menyelamatkan katamu?" Gigi Sasuke bergemelatuk. "Kau yang membuatnya seperti ini, brengsek!" Hinata terbelalak mendengar ucapan Sasuke, lagi-lagi ia dibuat bingung mengenai siapa yang benar disini.
"Lagi-lagi kau memfitnahku," tatapan Gaara menyipit tajam. "Dan kau mengurungnya disini, menyembunyikan fakta jika keluarganya masih hidup."
"Jangan mengarang cerita seenaknya!" bentak Sasuke emosi hingga urat-urat di pelipisnya terlihat.
"P-Paman Sasuke.. Gaara Nii-san.. kumohon katakan hal yang sebenarnya padaku.." ucap Hinata dengan tangis terisak. Kedua pria di depannya ini benar-benar membuatnya bingung. Ia sama sekali tak bisa mengetahui siapa yang berkata jujur dan siapa yang tega membohonginya.
Sasuke mengalihkan pandangannya pada satu-satunya gadis disana. "Jangan percaya bualannya, Hina–"
BUGH!
TRAK!
Sasuke meringis saat Gaara menendang tangannya dan menyebabkan pistolnya terlempar cukup jauh. Ia yang sedang lengah tak sempat melawan saat Gaara menarik kerahnya dan membantingnya ke lantai, lalu menendangi perutnya dengan keras. Melihatnya Hinata hanya bisa berteriak-teriak ketakutan dan menyuruh Gaara berhenti melakukannya.
Setelah tendangan ke tujuh Gaara akhirnya berhenti, dia berbalik untuk mendekati Hinata tapi kaki kirinya dijegal dengan sangat keras oleh Sasuke. Membuat tubuhnya limbung dan jatuh ke lantai. Sasuke bergerak cepat untuk menginjak leher Gaara kuat-kuat. Lelaki berambut merah itu berusaha berontak melepaskan kaki kanan Sasuke.
"Paman, Gaara bisa mati!" teriak Hinata dengan suara yang bergetar. Ia menggerakkan kursi rodanya mendekati mereka berdua. Tapi Sasuke mencegahnya dan menyuruhnya mengambil borgol yang ada di laci meja. Hinata mendekati meja, namun ia memilih untuk menjatuhkan dirinya ke lantai dan mengambil pistol Sasuke yang tergeletak.
DOR!
Sasuke dan Gaara langsung menoleh kaget ke arah Hinata saat suara tembakan itu terdengar. Sasuke yakin suara sekeras itu bisa membuat satu apartemen ini mendengarnya.
"Hinata! Apa yang kau lakukan?!" bentak Sasuke dengan raut wajah khawatir saat melihat Hinata yang mengarahkan pistolnya ke atap. Kedua tangannya bergetar dan wajahnya menunduk dengan bulir air mata yang mengalir deras.
"K-Kumohon.." suara Hinata bergetar di tengah isakan tangisnya. "K-Kumohon katakan hal yang s-sebenarnya," ucapnya dengan begitu pilu dan menyayat.
"Dia membohongimu, Hinata! Percaya padaku!" Sasuke melepas injakannya pada leher Gaara dan melangkah mendekati Hinata bermaksud untuk menenangkannya. Gaara terbatuk-batuk sembari meraup udara sebanyak-banyaknya.
"Berhenti disitu!" Hinata mengacungkan pistolnya ke depan dengan tangan yang bergetar. Sasuke menurut dan berdiri di tempatnya terakhir melangkah. "Aku bersumpah Hinata! aku menceritakan yang sebenarnya padamu!" ucap Sasuke dengan raut wajah frustasi.
Hinata masih menunduk dengan bahu yang bergetar. "Paman bilang hatiku terlalu lembut, aku menganggap semua orang di sekitarku baik."
"Aku tidak mungkin mengkhianatimu, Hinata!"
"PAMAN BILANG SEMUA BISA TERJADI, KAN?" Hinata mendongak menatap Sasuke dengan emosi. "Aku ingin bertanya padamu, paman." Sorot matanya berubah sedih. "Kenapa kau tak mengizinkan aku menonton berita di televisi?" tanyanya lirih mengingat selama seminggu ia berada di sini, Sasuke selalu melarangnya untuk menonton televisi.
Nafas Sasuke tercekat. "Berita tentangmu sudah diprovokasi oleh media! Melihatnya hanya akan membuatmu terpuruk!"
Gaara mendengus. "Kau ingin menutupi fakta kalau orang tuanya masih hidup." Lelaki bertato Ai itu mendudukkan dirinya dan masih memegangi lehernya yang terasa sakit.
"Jangan mencuci otaknya!" Dengan emosi Sasuke mendorong punggung Gaara hingga menubruk lantai lalu menduduki perutnya dan menghajar wajah Gaara.
DOR!
Sasuke terbelalak saat punggungnya terasa begitu ngilu saat timah panas menembusnya. Darah segar mengalir dari mulutnya dan menetes mengenai wajah Gaara.
"PAMAN SASUKE!" teriak Hinata histeris saat melihat Sasuke yang ambruk. Ia melemparkan pistol di tangannya dan menyeret tubuhnya mendekati Sasuke. Sungguh ia tak bermaksud menembak pria yang sudah merawatnya itu. Ia hanya ingin memberi tembakan peringatan lagi, namun pelurunya malah mengenai punggung Sasuke.
Gaara mendorong keras tubuh pria besar itu hingga terlempar ke lantai. Dia mengusap darah yang mengalir di mulutnya dengan punggung tangan. Pandangannya terarah ke pintu dan ia melihat beberapa penghuni apartemen yang berteriak ketakutan disana. "PANGGIL POLISI DAN AMBULAN!"
"H-Hi.. na.. ta.." ucap Sasuke terbata saat Hinata berhasil mendekatinya. Gadis itu menangkupkan tangannya di pipi Sasuke dengan tangisan deras dari mata lavendernya. Ia menggumamkan kata maaf berulangkali dan begitu ketakutan saat Sasuke terus terbatuk darah, lalu kedua onyx itu perlahan tapi pasti mulai terpejam. Hinata panik melihat kedua mata itu telah benar-benar terpejam. "PAMAN!" teriaknya histeris dengan tangisan yang begitu keras.
"Kau sudah melakukan hal benar Hinata." Gaara mendekati Hinata dan merangkul pundaknya berusaha menenangkan. Pandangannya tak terlepas dari pintu yang kini menampilkan beberapa penghuni apartemen melangkah masuk. Tangannya terulur untuk mengambil pistol yang tergeletak tak jauh darinya dan mengacungkannya ke dua pria di sana. "Jangan mendekat!"
Gaara memposisikan tubuh Hinata untuk ia gendong. "Kita harus pergi dari sini sebelum polisi datang." Hinata memberontak kecil, ia masih ingin disini menemani Sasuke yang kini sudah tak bernyawa. Tapi Gaara menarik tubuhnya keras hingga membuatnya mau tak mau sudah berada di gendongan Gaara. "Rangkul leherku!" perintah Gaara sebelum ia berdiri, Hinata menurut walau pandangannya masih terarah pada Sasuke.
Gaara berjalan cepat menuju pintu sembari terus mengacungkan pistolnya. Orang-orang di sana sama sekali tak berani bergerak dan membiarkan mereka berdua pergi.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
The Red Room © Hyuuga Sabaku
Thriller
OOC, Typo(s), Psychological
.
.
"Untung polisi belum datang," ucap Gaara sembari menyetir mobilnya. Hinata yang duduk di sampingnya hanya diam dan memandangi kedua tangannya yang bergetar. "A-Aku membunuh Paman Sasuke."
Gaara menggenggam sebelah tangan Hinata dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih fokus menyetir. "Sekarang pria gila itu tak akan mengganggumu lagi," katanya menenangkan.
Hinata mengangguk perlahan dan menatap Gaara. "Kita akan bertemu keluargaku sekarang, Nii-san?"
"Ya, tapi kita bersembunyi di suatu tempat, biar keluargamu yang menyusulmu."
Mendengarnya Hinata lantas menanyakan mengapa mereka harus melakukan itu. Dan Gaara menjelaskan bahwa di rumahnya sekarang terdapat banyak polisi dan wartawan yang mencari keterangan mengenai dirinya. Gaara juga mengatakan bahwa kematian palsunya itu tengah menjadi berita terpanas saat ini, terlebih dengan status Gaara yang menjadi buronan.
Setelah tiga puluh menit kemudian mereka akhirnya sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Gaara keluar dari mobil dan membuka gerbang rumah itu sebelum akhirnya mereka berdua masuk. Lelaki berambut merah itu menggendong Hinata di punggungnya untuk memasuki rumah. Sesekali Hinata menatap beberapa foto keluarga yang terpajang di sana, ia yakin ini bukan rumah milik Gaara tinggal dulu. "Ini rumah siapa, Nii-san?"
"Rumah kenalanku," jawab Gaara singkat sembari berjalan menuju sebuah ruangan. Dan Hinata sukses terbelalak saat melihat ruangan kosong dengan dinding dan lantai keramik putih di depannya. Ruangan ini mengingatkan dirinya dengan hari terburuk sepanjang hidupnya.
"K-Kenapa kita disini, Nii-san?" tanya Hinata ketakutan.
BRUK!
Hinata mengaduh kesakitan saat Gaara melempar tubuhnya ke tengah-tengah ruangan. "G-Gaara Nii-san." Tubuh gadis itu bergetar hebat saat menatap seringai menyeramkan di wajah laki-laki yang selama ini ia panggil kakak.
"Akhirnya.." Gaara meremas rambutnya sendiri dengan tangan kanannya. "Akhirnya aku mendapatkanmu!" Lelaki bersurai merah itu tertawa sangat keras. Jantung Hinata berdetak cepat, tawa itu sangat mirip dengan tawa orang di balik speaker. Hinata memundurkan tubuhnya ketakutan, harusnya ia mempercayai Sasuke. Semua yang diucapkan Sasuke benar adanya, tapi dia malah membunuhnya.
"Kau tahu betapa sulitnya aku menahan tawaku di mobil tadi!" Tawa Gaara semakin keras, kedua mata azurenya melotot seram menatap Hinata.
"K-Kenapa Nii-san tega melakukan ini padaku?!" Hinata menangis sesegukan, semua orang terdekat yang meyayanginya mati karena dirinya.
Gaara masih melanjutkan tawanya sebelum akhirnya ia berhenti, sorot matanya berubah tajam dan menusuk. "Ini semua salahmu, Hinata!" Gaara melangkah perlahan mendekati Hinata. "Aku selama ini melakukan semuanya untukmu! Tapi yang kau lihat hanya bocah kuning jabrik itu!" Hinata berjengit mendengar Naruto disebut-sebut oleh Gaara. Darimana Gaara tahu kalau ia diam-diam menyukai Naruto selama ini?
"Maka dari itu, kau harus dihukum, Hinata!" Gaara berjongkok dan mencengkram erat kerah Hinata. "Kemana luka-luka indahmu itu?!" teriak Gaara marah saat melihat bekas luka di sekujur tubuh Hinata sudah agak samar. "Pasti pria gila itu yang menghilangkannya!"
"Paman Sasuke tidak gila! Kau yang gila!" hardik Hinata tepat di depan wajah Gaara. Raut wajahnya yang semula ketakutan berubah menjadi marah.
Gaara malah tersenyum lebar melihatnya. "Bagus, Hinata! Perlihatkan semua ekspresimu yang tak pernah kau tunjukkan pada orang lain hanya padaku!" Hinata terkejut mendengar ucapan Gaara.
"Bila Naruto mendapat tatapan kagummu, aku akan mendapat tatapan ketakutan dan kemarahanmu!" Gaara tertawa lagi. "Semua tekanan dariku akan membuatmu hanya memikirkanku!" Tangan Gaara yang semula hanya mencengkram kini berubah mencekik, membuat Hinata kesulitan bernafas. "Ah, aku sangat menyukai ekspresi kesakitanmu, Hinata."
PLAK!
Gaara menunduk ke samping saat Hinata menamparnya dengan cukup keras. "L-Lepaskan a-aku," cicit Hinata saat Gaara tak kunjung melepaskan cekikannya. Gaara berdiri dengan tangan yang masih mencekik Hinata hingga tubuh gadis mungil itu terangkat. Hinata menangis dengan wajah memerah, nafasnya benar-benar hampir habis. Kedua tangannya yang menarik-narik satu tangan besar di lehernya benar-benar tak berarti.
BRUK!
Gaara membanting Hinata dengan sangat keras. Bagian belakang kepalanya kini terhias warna merah segar. Indigo bercampur merah.
"Sudah cukup kau menyakiti hatiku, Hinata. Kau tidak boleh menyakitiku secara fisik." Gaara meraih pecutan di saku jaketnya. "Sekarang aku ingin mendengar suara teriakan kesakitanmu." Hinata memandang Gaara dengan tatapan ketakutan saat pecutan itu sudah teracung tinggi.
SPLASH!
"ARHH!" Hinata memejamkan matanya erat-erat saat saat tubuhnya lagi-lagi menerima siksaan ini. Beberapa bekas lukanya yang belum mengering sempurna kini terasa lebih menyakitkan.
"Pikiranmu, tubuhmu, semua yang ada pada dirimu hanya boleh memikirkanku!" teriak Gaara yang terus menyabeti tubuh Hinata. Ia begitu menikmati pemandangan gadis yang menjadi obsesinya kini meronta-ronta kesakitan di depannya. Hinata terus berteriak dan menangis, memohon dirinya untuk berhenti tapi dia sama sekali tak peduli.
Setelah sabetan ke puluhan kalinya, tubuh Hinata berhenti meronta. Rasa perih dan panas yang luar biasa menyebar di sekujur tubuhnya. Tenggorokannya terasa begitu sakit karena ia terus berteriak. Kesadarannya mulai berada di ambang batas. Rasa sakit dan bau amis darahnya perlahan mulai menghilang. Ini lebih baik, Hinata ingin penderitaan ini segera berakhir. Ia ingin segera bertemu dengan keluarganya di surga.
"Ayah.. Ibu.. Neji Nii-san.. Hanabi.."
.
.
.
.
.
End
.
.
.
.
.
Haha, bercanda :p
.
.
.
.
.
Hinata terbangun dengan nafas tersengal. Ia tersentak saat melihat wajah Gaara tepat berada di hadapannya. Lelaki bersurai merah dan bertato Ai itu nampak tertidur pulas. Darah dan luka lebam masih menghiasi wajahnya seperti terakhir kali ia melihatnya. Rasa perih di sekujur tubuh Hinata membuatnya meringis perih, terlebih dengan pelukan Gaara yang begitu erat di sekeliling tubuhnya.
Bau amis menguar dimana-mana, tapi nampaknya Gaara sama sekali tak terganggu. Hinata bahkan tak yakin sprei yang membungkus ranjang tempat mereka tidur ini aslinya berwarna putih atau memang merah dari awalnya.
Tubuh Hinata kembali bergetar ketakutan. Ternyata semua yang dialaminya tadi memang bukan mimpi. Itu nyata. Keluarganya memang dibunuh Gaara. Sasuke terbunuh oleh tangannya sendiri. Dan Gaara.. dialah perusak kehidupannya.
Air bening mengalir dari manik lavendernya. Ia berusaha menahan suara isakannya agar tak lolos keluar. Namun ia gagal. Suara isakannya dan tubuhnya yang bergetar hebat mampu membuat tidur lelap Gaara terusik.
Kelopak hitam Gaara perlahan terbuka sebelum menampilkan manik azure yang kini begitu menakutkan bagi Hinata. "Kau sudah bangun rupanya." Gaara tersenyum dengan kedua mata yang berkilat senang. Hinata menggigit bibirnya ketakutan, entah penyiksaan apalagi yang akan diterimanya setelah ini. Ia hanya berharap dirinya akan menyusul keluarganya secepat mungkin.
.
.
.
.
END
.
.
.
A/N :
Jangan timpukin saya dengan ending yang seperti ini, wkwk. Buat penggemar SasuHina jangan bunuh saya, bunuh Gaara aja :D Kalau reviewnya banyak mungkin saya akan membuat sekuel, jadi para silent reader yuk pada muncul :*
