Song theme : Shawn Mendes – A Little Too Much.

"Hei hati-hati, nona" Seorang pria dengan surai silver menangkap tubuh hinata yang jatuh tepat dalam pelukannya, perlahan pria itu memperbaiki posisi mereka sejujurnya ia sangat penasaran dengan gadis bersurai indigo yang menabraknya, surai yang sama dengan surai gadis yang ia sayang.

"H-hinata? Hei, Hinata?" Toneri aka pria yang menangkap hinata tersebut menatap hinata dengan pandangan cemas ia melihat Hinata dengan keadaan yang sangat kacau mascara yang berantakan karena air mata lagi jejak air mata yang tersebar diseluruh permukaan wajahnya.

"T-toneri, apapun yang terjadi ku mohon kali ini saja sembunyikan aku dari Naruto-kun" suara Hinata terdengar sangat lemah dan serak, tanpa banyak berbicara Toneri mengangkat tubuh gadis itu dengan bride style.

"Lepaskan Hinata Toneri" Dengan kasarnya Naruto menarik tangan toneri yang sedang mengangkat tubuh hinata, otomatis kehilangan kesimbangan Toneri tanpa sadar melempar tubuh Hinata.

"Apa yang kau lakukan bodoh" Toneri mengacungkan tinjunya kedapan wajah Naruto.

'bruk' suara tubuh yang terlempar seolah menyadarkan Naruto dan Toneri dari pertengkaran mereka.

"Hinata" Naruto mendekati tubuh hinata yang tergeletak diatas lantai dan mengangkatnya dengan posisi sama seperti Toneri, bride style. Dan berlari sekencang yang ia bisa.

Tanpa Naruto sadari sepasang iris lavender pucat mengamati segala yang terjadi dengan pandangan terluka.

"Hinata-senpai selalu menjadi yang terpenting untuk mu Naruto-senpai"

.

.

.

.

.

.

"Kami-sama, ku mohon selamatkan Hinata" Naruto berkali-kali menggertakan giginya dan tak ada habisnya menatap pintu besar dengan tulisan 'unit gawat darurat' .

"Tenanglah dobe, Hinata itu gadis yang kuat" Sasuke menatap datar Naruto yang tak henti-hentinya mengkhawatirkan Hinata.

"Sasuke-kun benar Naruto, duduklah dan tenangkan dirimu" Sakura menepuk kursi penunggu yang kosong disampingnya, mengisyaratkan naruto untuk duduk.

Naruto perlahan menghampiri tempat yang diisyaratkan sakura, dan duduk ia menundukan kepalanya kemudian mengacak surai blonde byang ia warisi dari sang ayah "sejak dulu aku memang tidak berguna, aku tidak bisa menjaganya, menjaga adik ku"

"Naruto, kau harus menyadarinya kau dan Hinata bukan lagi anak berusia tujuh tahun, kau harus sadar semakin kalian dewasa tentu jarak pemisah diantara kalian semakin nyata" Sakura mengusap punggung Naruto, sebagai sepupu naruto dan lagi sahabat Hinata dan Naruto sejak kecil Sakura tentu tau apa yang terjadi antara kedua sahabatnya tersebut.

"Tapi untuk ku dia akan selalu menjadi adik perempuan yang nakal" Naruto tersenyum kemudian melepas tangan Sakura dari punggungnya.

"Bahkan aku kakak kandungnya sama sekali tak peduli" Baik Naruto, Sakura, maupun Sasuke sangat terkejut dengan suara datar nan dingin yang tiba-tiba muncul. Naruto menatap sosok yang baru saja meramaikan koridor rumah sakit yang tadi hanya diisi ole Naruto, Sasuke, dan Sakura.

"Jika kau hanya memperkeruh suasana, ku rasa lebih baik kau pergi Neji" Naruto menjawab dengan suara yang sangat datar.

"Aku kesini bukan karena mengkhawatirkan keadaanya atau apapun, aku kesini hanya untuk menyelesaikan biaya administrasi sangat memalukan jika seorang Hyuuga berhutang budi" Neji menatap Naruto dengan pandangan angkuh khas Hiashi Hyuuga.

"Apa kau memiliki waktu? Sepuluh menit?" Naruto berdiri dari duduknya dan mentap neji.

"Untuk apa? Jika membahas tentang hinata aku tidak memiliki waktu aku sebagai pewaris utama hyuuga memiliki segudang kesibukan" Neji memasukan tangan kirinya ke dalam saku celana sedangkan tangan kanannya menendurkan dasi yang melilit kerah kemejanya.

'cklk'

"Keluarga pasien Nona Hyuuga?" Seorang wanita berseragam perawat keluar dari ruang ugd dan menatap keempat manusia yang berada di koridor rumah sakit tersebut.

Naruto dan Neji saling menatap sampai akhirnya Neji memutuskan meninggalkan koridor tersebut, Naruto menggeram menahan amarah saat melihat punggung Neji semakin menjauh.

"Saya sepupunya, ada apa?" Naruto menatap ramah pada perawat yang memengang kertas-kertas yang cukup banyak.

"Anda di tunggu dokter, silahkan lantai dua di blok B dokter Shizune"

"Sasuke, Sakura ku mohon jaga Hinata sebentar" Setelah mengatakannya Naruto meninggalkan koridor tersebut dengan tergesa.

"Sampai kapan mereka menyembunyikan perasaan mereka dan mengatasnamakan persahabatan , Sasuke?" Sakura menatap Sasuke dan meletakan kepalanya di bahu tegap Sasuke.

"Entahlah"

.

.

.

.

.

.

"Jadi, ada apa dengan Hinata Shizune-nee?"

"Tidak ada yang serius, ia hanya kelelahan mungkin dia hanya butuh vitamin dia bisa pulang sekarang aku sudah memberinya sedikit vitamin dan pengurang sakit, kau membuatku panic dengan membawanya ke ugd"

"Kau tidak menyembunyikan apapun kan Shizune nee-sama?" Naruto menekankan setip kat yang diucapkannya dengan mata memicing yang cukup tajam.

"Yatuhan Naruto, kakek mu adalah paman ku dan lagi ibu mu adalah teman ku mana mungkin aku berbohong padamu" Shizune menatap naruto dengan tangan yang menyerahkan sesuatu.

"Apa ini?" Naruto menatap selembar kertas yang Shizune berikan padanya.

"Ini resep untuk pemulihan Hinata. Naruto ada yng ingin ku tanya kan tapi aku ingin kau menjawabnya dengan jujur, sangat jujur" Shizune kembali menatap Naruto dengan pandangan serius, ia menutup bolpen miliknya kemudian meletakannya diatas meja.

"Ada apa?"

"Katakan padaku, apa terjadi sesuatu dengan hinata belakangan ini?"

"Tidak ada, dia sama seperti biasanya selalu tertawa sepanjang hari, makan makanan manis tanpa memperdulikan berat badannya, berlari dengan semangat sesekali berteriak saat olahraga, aku tidak merasa ada yang aneh dengannya nee-sama" Naruto menceritakan keseharian hinata dengan wajah malas tapi tak ada yang dapat melihat ia sedikit tersenyum saat menceritakannya.

"Kau yakin?" Shizune menaikan sebelah alisnya seolah tak puas dengan jawaban Naruto.

"Kau meragukan jawaban ku nee-sama?" Naruto menatap Shizune dengan pandangan angkuh yang sangat cocok dengan iris safir miliknya.

"Sangat, kau tau Naruto? Sejujurnya aku mengambil studi jurusan psikiater, tapi enath kenapa karrir ku jatuh menjadi dokter umum seperti ini" Shizune menampilkan ekspresi seolah-olah kecewa.

"Sarkastik, menurutku to the point lebih bijak" Naruto menampilkan seringai iblis miliknya entah dari mana ia bisa mendapatkan itu.

"Apa pendapat mu tentang bekas sayatan di pergelangan tangan Hinata?" Shizune menyeringai saat melihat perubahan di wajah Naruto, entah kemana tatapan sombong yang baru saja ia tampilkan itu.

"Aku tidak tau alasannya melakukan cutting nee-sama, saat aku melihat bekas sayatan itu aku kalap aku membentaknya dia menangis dan pada akhirnya aku tidak tau alasannya" Naruto menunduk ia mengingat beberapa hal yang sangat salah dari hinata beberapa hari ini.

"Depresi?"

"Apa maksud mu nee-sama?"

"Ya hanya dugaan sementara apa dia depresi?"

Naruto menatap tidak percaya dengan yang dikatakan Shizune, kemana saja dia selama ini? Kenapa bisa Hinata sampai depresi sedangkan jika bersamanya hinata selalu tertawa bahkan tingkah konyol Hinata kadang membuatnya muak, apa ia pantas disebut sahabat?

"Apa yang harus ku lakukan nee-sama?"

"Aku tidak tau aku tidak bisa melakukan pengecekan kejiwaan kepadanya dia bisa salah paham, sekarang mungkin yang dapat kita lakukan hanya memantaunya, kembalilah Naruto ku yakin Hinata mencari mu"

"Baik, arigatou nee-sama"

.

.

.

.

.

.

"Kau ceroboh sekali sampai bisa jatuh seperti itu" Sakura menyodorkan sebuah apel yang sudah dikupas kepada hinata yang masih terlihat lemah walaupun sudah duduk diatas ranjang igd.

"Tersandung bukan sebuah kecerobohan" Hinata menggigit apel yang diserahkan sakura kemudian menyipitkan matanya, "Apa ini? Asam sekali"

"Itu apel, toneri yang membawanya" Sakura dengan santainya memasukan potongan apel yang ia kupas kedalam mulutnya.

"Apa? Toneri?" Hinata menatap sakura dengan pandangan kaget seolah meminta penjelasan Sakura.

Sakura mengutuk leluhur keluarga Haruno yang membuatnya mewarisi mulut yang sangat tidak bisa menjaga rahasia, ia menggigit bibir bawahnya kemudian menatap Hinata yang sedang menatapnya serius, demi tuhan tatapan itu lebih seram dari pada tatapan Sasuke saat ia berbohong padanya.

"Sakura aku sedang berbica denganmu" Suara hinata terdengar kembali dan ia menggengam tangan Sakura sekarang.

"A-ah apa kau tidak ingat apapun sebelum kau jatuh?" Sakura menunduk menghindari kontak mata dengan hinata.

Hinata melepas genggaman tangannya pada tangan sakura, ia memikirkan apa yang terjadi sebelum ia terjatuh. Dango yang tidak ia dapatkan, berlari keluar kelas, berbicara dengan Sara, menuju lorong perpustakaan, Naruto dan Shion yang berpelukan, lalu ia berlari, menabrak sesuatu, Toneri mengendongnya, ia terhempas ke lantai saat Naruto tiba-tiba muncul. Hinata menggigit bibirnya, ia mengingat semuanya dari semua ingatanya yang muncul bagian paling sakit adalah mengingat bagaimana mesranya Shion dan Naruto disaat Hinata sedang menunggu Naruto di kelasnya.

"Hinata, ada apa? Jika tidak meengingatnya tak usah dipaksakan"

"Aku mengingatnya Sakura, dimana Toneri apa dia mengikuti sampai kesini?"

"Dia sempat datang, kemudia pergi lagi setelah memberikan apel ini. Naruto melarang ku memberitahu mu bahwa dia datang tapi kau layak tau"

"Naruto? Dimana dia?"

"Menemui Shizune-nee mungkin ia akan segera kembali, ada apa?"

"Sakura aku ingin pulang"

"Kau belum pulih, lebih baik tunggu Naruto mungkin Shizune-nee memberikan mu resep obat"

"Tidak, aku ingin pulang" Hinata mencoba menapakkan kakinya pada lantai rumah sakit yang dingin namun belum sempat kakinya menyentuh lantai Sakura menarik tangannya sehingga ia kembali terhempas ke ranjang igd, "Apa yang kau lakukan Sakura?" Hinata berteriak didepan wajah Sakura tangannya mengepal seolah menahan amarahnya.

"Dengarkan aku Hinata kau harus –

"Biarkan dia pulang Sakura, dia memang sudah diizinkan pulang" Naruto memasuki ruangan tersebut dengan santai, kedua tangannya diletakkan didalam kantungnya.

"Aku akan mengantarnya, Sasuke menunggumu di lobby jangan membuatnya bosan" Naruto mentap sakura dengan pandangan memerintah, seolah mengerti sakura meninggalkan ruangan tersebut, namun saat ia menyentuh knop pintu ia kembali menoleh kepada dua orang yang masih didalam.

"Kau yakin Naruto?"

"Tenanglah tak ada yang dapat menyakiti Hinata, aku bersamanya" setelah mendengar kalimat Naruto, Sakura bergegas meninggalkan ruangan tersebut menyisahkan dua manusia yang saling diam.

"Seharusnya kau menemaninya" Hinata membuka suara tanpa menatap Naruto, suara datar tanpa emosi apapun didalamnya.

"Siapa?"

"Shion, siapa lagi?"

Naruto menghela nafasnya berat, ia mengenggam tangan Hinata pelan dan lembut, "Tak usah memikirkan apapun yang tak penting, saat ini kau harus istirahat. Kita pulang?" Naruto melembutkan suaranya ia berupaya sebaik mungkin tak menyakiti fisik maupun perasaan hinata.

"Dimana Toneri, kau mengusirnya?" Hinata menghempaskan tangan Naruto yang sedang menggenggam tangannya, ia menatap Naruto dengan tatapan sedingin es khas Sasuke.

Naruto mengepalkan tangannya bibirnya bergetar menahan amarah dan kata-kata kasar yang bisa keluar kapan saja dari mulutnya, ia menarik nafasnya berusaha menenangkan dirinya "Dengarkan aku Hinata, toneri bisa menjenguk mu kapan pun ia mau. Saat ini lebih baik kita pulang kan?"

"Baik" hanya itu yang keluar dari mulut Hinata ia berdiri dan berjalan mendekati pintu tanpa memperdulikan Naruto.

"Hati-hati hinata" Naruto menghampiri Hinata kemudian merangkul bahu bgadis itu seperti biasa.

Hinata melirik bahunya yang diselimuti oleh lengan Naruto, ia menghela nafas sejauh apapun ia mengelak tetap saja ia gagal jika itu menyangkut Naruto ia mencoba tersenyum melihat realita ini sangat bodoh ia yang mebiarkan perasaan ini semakin lama semakin kuat, bodoh bukan gadis yang jauh cinta pada sahabatnya sendiri? Gadis yang mendendam dengan kebahagian sahabatnya.

"Hei Naruto" hinata mendonggak menatap wajah Naruto yang sedang merangkulnya.

"Hm?"Naruto hanya meenggumam tidak jelas untuk menjawab panggilan Hinata.

"Terima kasih"

"Itu gunanya sahabat bukan?"

"Sekali lagi terima kasih Naruto-kun" Hinata menunduk mencoba menyembunyikan semburat merah yang menghiasi pipinya.

"Aku selalu berahap semoga kau selalu memiliki sifat manis seperti ini" Naruto tersenyum kecil saat melihat hinata menunduk

.

.

.

.

.

"Jangan lupa minum obat mu, makan dengan teratur dan istrirahat lah ujian akhir sudah dekat kau harus menjaga kesehatan mu" Naruto memberikan pesan yang panjang dan lebar saat sudah sampai didepan gerbang mansion Hyuuga.

"Iya aku mengerti, yatuhan kau seperti perempuan Naruto" Hinata memutar bola matanya bosan mendengar ocehan Naruto yang sangat tidak penting menurutnya.

"Apa aku harus mengantar mu kedalam?" Naruto kembali mencegah Hinata turun dari mobilnya karena ocehannya.

"Aku bukan anak kecil, aku juga bukan gadismu" Setelah menjulurkan lidahnya mengejek Hinata membuka pintu mobil Naruto dan memasuki kawasan mansion Hyuuga tanpa menoleh sedikit pun.

Naruto memperhatikan punggung hinata yang semakin lama semakin menjauh, setelah matanya tak lagi melihat punggung itu Naruto menjalankan kemudinya dan meninggalkan tempat itu

She would not show that she was afraid
But being and feeling alone was too much to face
Though everyone said that she was so strong
What they didn't know is that she could barely carry on
But she knew that she would be okay
So she didn't let it get in her way
Sometimes it all gets a little too much
But you gotta realize that soon the fog will clear up
And you don't have to be afraid, because we're all the same
And we know that sometimes it all gets a little too much

Tanpa disadari naruto ikut menyayikan lagu yang sedang diputar radio mobilnya, lagu ini mambawa ingatannya untk mengingat sosok Hinata Hyuuga, gadis yang sejak kecil menjadi sahabatnya. Ya lagu ini memang memiliki aroma Hinata, sosok yang digambarkan dilagu ini bena-benar seperti Hinata gadis kuat yang menahan segalanya sendirian Naruto kadang menganggap beban yang Hinata bawa terlalu berat gadis remaja yang nakal seharusnya dimaklumi bukan? Tapi tidak dengan Hinata, gadis itu dijauhi diremehkan bahkan tidak dianggap keberadaannya oleh keluarganya sendiri, sebagai sahabat yang seharusnya mengurangi beban Hinata Naruto justru menambah beban gadis itu.

ON FLASHBACK

"Karin, maaf tapi aku ingin hubungan kita berakhir disini" Naruto tersenyum kepada perempuan berambut merah yang menahan tangis didepannya.

"A-apa yang kau katakan Naruto-kun, ini hari jadi kita yang ketiga bulan bukan?" Karin tidak dapat lagi menahan tangisnya, air mata berjatuhan dari matanya. Make up nya berantakan ia tidak pernah berfikir pesta yang ia rencanakan sejak satu bulan terakhir akan semenyedihkan ini diputuskan oleh Naruto, didepan umum dan apa lagi diacara yang ia persiapkan untuk Naruto.

"Aku ingin kita putus Karin, itu yang aku katakan" Lagi, naruto tersenyum tanpa perduli gadis dihadapannya menangis dan beberapa orang yang hadir berbisik bisik menyebut namanya dan nama Karin.

"Apa alasan mu mengakhiri hubungan kita Naruto-kun?" Karin menyeka air matanya ia mendongakan kepalanya yang sedari tadi tertunduk.

"Aku hanya merasa, semuanya berbeda aku ingin A kau ingin B itu berlawanan mana mungkin kita bersama jika arah kita saja sudah berlawanan? Klasik, alasan klasik alasan tak jelas Naruto lontarkan membuat Karin yang tadinya sudah cukup tenang kembali menangis.

"Naruto-kun, ku mohon pertimbangkan kembali keputusan mu hiks" Karin memohon tanpa memperdulikan sekitarnya.

"Sekali tidak, tetap tidak" Naruto memasukkan telapak tangannya kedalam saku dan berjalan mundur meninggalkan Karin.

"Aku membenci mu, aku membenci mu" Karin meraung-raung ditengah keramaian pesta.

"Naruto kau berlebihan itu sangat menyakitinya, dia juga temanku. Minta maaf padanya" Hinata menarik tangan Naruto, membujuk pria itu untuk meminta maaf.

"Tidak itu biasa saja, tak perlu min-

"Jadi ini alasan mu memutuskan ku, naruto-kun? Sejak awal seharusnya aku tau kau memang gadis bermuka dua Hinata, kau mengatakan kau mendukung hubungan ku dengan Naruto lalu sekarang kau merebutnya? Gadis jahat tidak tau malu merebut kekasih sahabat sendiri" jelas sekali perkataan Karin itu membuat seluruh pasang mata menatap Hinata dan Naruto.

"Aku tidak menyangka kau sejahat itu, Hinata" celetuk seorang gadis dengan rambut sewarna dengan Karin, Sara.

Setelah saat itu Hinata untuk sekian kalinya dituduh merusak hubungan Naruto dengan kekasihnya, dan sejak saat itu juga Hinata kehilangan sahabatnya semua karena Naruto. Besoknya sesuai perkiraan satu khs menggossip tentang Hinata bahkan menyangkutpautkan masalah masalah yang sudah lewat dengan masalah baru ini.

END FLASHBACK

.

.

.

.

.

"Kau sedang memikirkan apa si, Naruto?" Kiba menunjukan wajah sebalnya karena sejak tadi ia berceloteh Naruto yang biasa menanggapinya hanya diam sama seperti Gaara dan Sasuke sedangkan Sai hanya tersenyum tanpa peduli dengan ocehan Kiba, Shikamaru? Jangankan mendengarkan sejak sampai di rumah Gaara ia mencari tempat yang sangat strategis untuk tidur.

"Tidak ada" Naruto menjawab tanpa minat tanpa menoleh sedikitpun pada Kiba.

"Hinata"

"Hah Hinata? Apa maksud mu Sasuke?" Kiba dengan secepat kilat mersepon Sasuke yang biasanya anti dengan yang namanya berbicara apa lagi tentang wanita.

"Aku yakin, dobe memikirkan Hinata"

"Berhenti bersikap seakan kau tau segalanya teme" Tanpa diduga kalimat itu muncul dengan sendirinya dari mulut Naruto.

"Lalu, jika bukan Hinata siapa dobe?"

"Ah Naruto kau itu jatuh cinta padanya kan? Kenapa tak menyatakannya saja langsung?"

"Kau tau, dia bukan jatuh cinta padanya dia hanya bernafsu padanya. Bukankah cinta dan nafsu hanya dipisah dinding tipis?" Sasuke mengatakan hal tersebut dengan menatap Naruto dengan pandangan angkuh.

"Ah apa itu benar Naruto? Aku tidak menyangka kau sebejat itu" Kiba tertawa keras saat melihat perubahan ekspresi di wajah Naruto.

"Baik mari kita perkiraan perasaan ku pada Hinata" Dengan wajah datarnya Naruto menatap Sasuke dan Kiba yang balik menatapnya dengan pandangan meremehkan.

Sasuke menyeringai, umpan yang ia berikan ditanggapi baik oleh Naruto, memprofkasi Naruto disaat pria itu kesal memang sangat mudah. Bahkan entah sejak kapan Shikamaru, Sai, dan Gaara sudah ikut terbawa arus pembicaraan Sasuke, Naruto, dan Kiba.

"Silakan dobe, silakan pastikan perasaan mu kepada kita semua disini" Sasuke menyeringai, hebat ia memang sangat hebat untuk memperburuk suasana.

Naruto menghela nafasnya kemudian menatap kelima pasang mata yang menatapnya sejenak ia menarik nafas "Hinata adalah orang yang sejak kecil ku lindungi, saat kecil dia pernah jatuh kesungai demi menyelamatkannya aku rela harus terbentur batu dan melukai kepalaku, saat kami sudah beranjak remaja ditahun kedua junior school aku menenangkan dia saat dia menangis diputuskan oleh kekasihnya, semenjak aku diizinkan membawa kendaraan kemana dan dimana pun Hinata aku selalu mengantar dan menjemputnya, saat ia ingin makan sakura mochi terbaik di musim semi aku rela mengemudi 8 jam tanpa istirahat ke Kyoto hanya untuk memberinya sakura mocha itu, lalu rencana liburan musim panas ke Okinawa batal karena aku lebih memilih ke Hokkaido dan membeli sebucket lavender hanya untuk Hinata, saat musim gugur pada musim olahraga aku meninggalkan tim sepak bola sekolah hanya untuk menyemangati Hinata yang bertanding basket, dan saat musim dingin aku menemaninya ia adalah gadis aneh gadis yang takut salju, saat ulang tahunnya aku menyewa sebuah tempat di Okinawa tempat tanpa salju hanya untuk membuatnya merasa nyaman saat ulang tahunnya" Naruto menutup mulutnya setelah sedari tadi ia berceloteh tentang semua hal yang ia lakukan hanya untuk Hinata, berdiam diri sejenak kemudian ia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman miring "Ya seperti yang kalian bilang aku hanya bernafsu padanya"

"Bodoh"

"Itu namanya cinta, merepotkan"

"Kau sangat menyukai Hinata-san ya Naruto"

"Dobe"

"Aku tidak menyangka kau melakukan semua itu hanya untuk Hinata"

Sasuke tidak menyangka awalnya ia memancing Naruto hanya untuk membuatnya kesal, tapi pada akhirnya bukannya kesal Naruto malah mempertegas perasaannya pada Hinata.

"Nyatakan perasaan mu, toneri sudah kembali" Gaara menyesap hot moccacino miliknya sambil melirik Naruto yang masih bersender pada dinding kamarnya.

"Untuk apa? Hinata dan Toneri memang sudah seharusnya bersamma" Naruto menjawab tanpa menoleh pada Gaara.

"Kau kan dulu yang memaksa Toneri memutuskan Hinata" Dengan sangat santai Kiba menjitak kepala Naruto yang ada disampingnya.

"Sekarang aku berjanji, tidak akan mengusik kebahagiaan Hinata sama sekali" Naruto mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Kiba.

"Kau yakin dengan janjimu, dobe?"

"Entahlah, untuk saat ini biarkan aku focus pada Shion. Hinata pasti mengerti itu"

.

.

.

.

.

"Besok Naruto-senpai akan ulang tahun kan?"

"Ah pasti akan ada undangan yang tersebar hari ini"

"Aku yakin Naru-senpai akan mengundang ku"

Hinata melirik tiga gadis yang ia ketahui adalah adik kelasnya sedang bergossip tentang Naruto, ini adalah jam istirahat sepanjang koridor Hinata dapat mendengar nama Naruto selalu disebut.

"Ya ya ya, mantan ketua osis dan mantan kapten sepak bola sekolah akan ulang tahun tentu saja itu menjadi trending topic" Hinata menggumam tidak jelas sambil memutar bola matanya bosan.

"Hei"

Hinata tersentak saat merasakan ada lengan yang memeluk bahunya, ia tau orang yang melakukan ini hanya Naruto. ia tersenyum kecil dan menyikut dada naruto pelan.

"Hinata itu sakit, kau jahat" Naruto memanyunkan bibirnya dan mengalihkan wajahnya dari Hinata,.

Hinata terkik geli melihat ekspresi Naruto yang menurutnya menggemaskan. "Kau berlebihan bodoh"

"Biarkan, ada apa dengan wajah mu terlihat seperti tidak di setrika"

"Hanya bosan sepanjang koridor selalu membicarakan ulang tahun mu"

"Aku memang terkenal"

"Bodoh"

"Jangan lupakan hadiah untukku, jika kau melupakannya aku jamin kau tak akan bisa mendengar suara merdu ku ini" Naruto terkekeh kecil sambil mengacak surai indigo Hinata.

Mereka tidak menyadari, saat ini mereka berada di koridor sekolah dan lagi saat ini masih jam istirahat berpuluh pasang mata menatap mereka dengan tatapan iri, ya siapa yang tidak iri dengan Naruto dan Hinata? Prince dan princess konoha high school. Bahkan beberapa gadis histeris saat Naruto mengacak surai Hinata atmosfer menyenangkan itu tiba-tiba dirusak oleh kedatangan gadis bersurai pirang panjang-

"Naruto-senpai?"

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc


Hai apa kabar? Maafkan typo dan alur yang ga jelas di fic ini.

maafkan ori yang ga sempet bales review.

with love 7/04/2016 - orihime yoshizuki.