Tepat beberapa langkah dari pintu depan, Sakura mematung. Mata melotot dengan mulut terbuka, kepalanya ia tolehkan ke belakang melihat Sasori yang menyusul masuk sehabis memasukkan mobil ke garasi. Kebelakang—kedepan, kebelakang—kedepan, ia terus menolehkan kepalanya sampai lehernya terasa ngilu.

Tunggu.

Sasori...ada dua?

Eh, Eeeehhhhhh?!

.

.

.

.

Just Because

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre: Hurt/Comfort, Romance.

Character : Sakura. H, Sasori. A, and others.

Rated : T

Warning : AU, OOC, typo(s), gaje, aneh, bahasa tidak baku, Dan masih banyak keburukan lainnya.

.

.

Don't like, Just don't read!

Happy Reading~


.

.

Chapter 4

.

.


"Aku tidak tahu kau punya kembaran?"

Sasori mengetok kepala Sakura pelan dengan koran yang baru dia pungut di depan pintu.

"Baka. Aku anak tunggal, tahu."

"Lho, jadi dia...siapa?"

"Perkenalkan dirimu," kali ini kepala pemuda yang memiliki warna rambut sama dengannya yang jadi sasaran geplakan koran dari Sasori. Kebiasaan barunya kali, mulai sekarang hati-hati meletakkan benda-benda keras. Bisa-bisa Sasori mempertemukan benda itu dengan kepala tersayang kalian.

"Akh..sakit woy." Si pemuda hanya bisa mengelus kepalanya pasrah. Untung cuma pakai gulungan koran. Kalau pakai stik baseball, lumayan bikin benjol atau gegar otak ringan. "Gaara Rei, desu." Setelah mengatakan itu dia membungkuk singkat, lalu kembali pada aktifitasnya—main game. Sepasang headphone melekat ditelinganya.

"Dia sepupuku yang tinggal di Kyoto, tahun ini mulai kuliah di Todai. Sementara rencananya bakal nginep disini beberapa hari sebelum dia dapet apartement sendiri untuk tinggal." Sasori membantu menjelaskan.

Mengharapkan Gaara untuk menjelaskannya sendiri adalah hal yang sia-sia. Itu anak yang umurnya lebih muda delapan tahun dari Sasori adalah tipe orang yang iriiit banget kalo bicara. Buka mulut kalau terjadi hal-hal yang mendesak saja, misalnya waktu dia udah kebelet pengen ke wc tapi orang yang ada didalem gak keluar-keluar. Baru deh, itu pita suara digunakan dengan semestinya.

"Ooh, gitu." Sakura mengangguk paham. Niatnya untuk segera rebahan di kasur seketika meluap begitu saja. Dia malah mengikuti langkah Sasori untuk duduk di sofa dekat Gaara yang lagi asik main game. "Kalian mirip sekali ya? Aku sampai tidak bisa membedakan."

Sasori yang sudah melewatkan satu paragraf berita terkini di koran malah beralih menatap Sakura sesaat, "Bagaimana mungkin tidak bisa membedakan? Selain warna rambut, kami ini sangat berbeda."

"Ah, masa?"

Sakura memperhatikan Gaara dengan jelih, kalau dilihat-lihat memang banyak yang beda sih. Warna mata mereka beda, mata Gaara mirip seperti warna mata Sakura sendiri—zamrud beda dengan Sasori yang memiliki warna mata coklat. Ngomong-ngomong, apa ini gambaran kombinasi fisik jika Sakura dan Sasori memiliki anak, pasti lucu sekali. Hm, anak? Hahah anak ya.. Kenapa Sakura jadi kepikiran sampai sejauh itu, dia jadi salah tingkah sendiri.

"Eh, dia pakai eyeliner ya? Ada lingkaran hitam dimatanya. Lalu apa ini, dasar anak nakal beraninya membuat tato dikening begitu."

Gaara menepis tangan Sakura yang ingin menyentuh keningnya. "Yang pakai eyeliner siapa? Terus ini bukan tato, asal kau tahu."

Sasori kembali melipat korannya dan menggeplak kepala Gaara, kali ini cukup keras. Bisalah buat Gaara ngerasa pedes-pedes gitu.

"Berhentilah memukul kepalaku, haish.." Gaara menatap dengan kesal kakak sepupunya itu.

"Perhatikan gaya bicaramu, dia lebih tua darimu."

"Sudah tidak apa-apa, santai saja." Sakura menengahi keduanya yang sekarang sedang perang tatapan mata. "Lalu kalau bukan eyeliner, kenapa matamu ada lingkaran hitam begitu? Seperti panda saja."

"Itu karena beberapa hari ini aku begadang untuk menamatkan game. Dan ya, onee-san—" dia sengaja melebihkan nada dikata terakhir sambil melirik Sasori, "ini bukan tato, tapi tanda lahir."

"Hee, mana ada tanda lahir membentuk jelas huruf kanji seperti itu. Pasti bohong!"

"Kalau iya kenapa? Hanya orang bodoh yang percaya."

"Gaara.."

"Ya, ya. Gomen." Gaara cepat-cepat berkata sebelum kena tabokan yang lebih mantap dari Sasori yang sudah siap ambil ancang-ancang.

"Aku membuat tato ini tahun lalu, untuk menutupi bekas lukaku–aku tidak berantem sama orang lain, sungguh. Ini luka yang aku dapat saat jatuh dari motor, bekasnya kelihatan sekali jadi kakakku menyarankan untuk buat tato agar bisa menutupinya. Sudah ya, jangan tanya-tanya lagi, aku sibuk. Gamenya jalan terus." Setelah menjelaskan panjang lebar Gaara kembali memasang headphone di kedua telinganya dengan manis, kemudian kembali tenggelam pada kegiatan favoritnya itu.

Sakura bergumam 'oh' pelan, lalu beralih pada Sasori, suaminya itu kini malah sibuk mengutak-atik hp-nya. Lipatan koran terabaikan disampingnya. Jika bisa berbicara mungkin si koran akan sakit hati sambil bilang 'habis manis sepah dibuang, tipikal manusia jaman sekarang. Cih.'

"Mau makan malam apa?" Sakura bertanya pelan.

"Apa saja."

"Lebih spesifik, dong."

Sasori yang dari tadi masih sibuk dengan hp-nya kini meletakkan benda canggih itu untuk memberikan perhatian penuh pada wajah Sakura yang menantinya dengan penuh tanya.

"Apa saja, sejauh ini makananmu selalu memiliki rasa yang enak. Karena aku tahu, disetiap masakanmu pasti kau tidak lupa untuk memberikan satu bumbu utama."

Kening Sakura berkerut, "apa itu?"

"Cinta."

Hoek. Gaara merasa pengen muntah saat ini juga—dia masih bisa dengar meski pakai headphone.

Sakura agak shock. Dimana Sasori bisa mempelajari kata-kata gombal seperti itu? Ada perasaan geli, lucu dan tidak percaya yang bersatu padu dalam diri Sakura saat mendengarnya. Sangat bukan Sasori sekali.

"Apa? Aku hanya mengcopy kata-kata dari video iklan yang barusan kulihat," Sasori menjelaskan dengan tampang datarnya yang seperti biasa. Dia mengatakan itu hanya sekedar iseng, ingin melihat bagaimana reaksi istrinya. Jujur saja sih, ini pertama kalinya Sasori mau mengatakan hal se-cheesy itu, meski dia sendiri sedikit geli. "Tapi, yah. Aku serius soal makananmu yang selalu enak."

"Hm..y—yah. Baiklah. Terima kasih atas pujiannya." Sakura tersenyum malu-malu.

Satu hal yang Gaara benci saat menumpang di rumah pasangan yang sedang anget-anget. Dia pasti akan disuguhi adegan drama picisan setiap saat. Itu menjijikan. Membuat Gaara selalu merasa mual. Karena tidak tahan, pemuda yang baru beberapa bulan lalu lulus SMA itu beranjak dari posisinya kemudian melangkah menaiki tangga menuju lantai atas—kamar yang untuk sementara ini dia tempati.

"Oi, mau kemana?"

"Ke kamar. Mau membereskan barang-barangku." Seratus persen dusta. Karena Gaara cuma berniat pindah tempat agar lebih fokus main game.

"Oke. Jangan sampai ketiduran, aku tidak akan membangunkanmu untuk makan malam."

"Hm."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ini kartu bus-nya, dengan ini kau bisa naik transportasi umum itu sepuasnya. Jangan macam-macam, apalagi ngajak ribut orang lain. Di kota besar ini kau harus jaga sikap. Hidupkan gps-mu, siapa tahu nanti kau nyasar aku jadi bisa melacakmu." Petuah Sasori di pagi hari yang cerah ini. Entah ada angin apa, laki-laki yang biasanya hemat bicara itu sekarang malah jadi lebih cerewet. Inilah dampaknya hidup beberapa bulan bersama Sakura, sifat cerewetnya jadi tertular.

Mendengar ocehan kakak sepupunya itu Gaara hanya bisa memutar bola matanya sambil mencemooh dalam hati, emang Gaara itu bocah SD apa? Lagian, dia bukan tinggal di pedalaman yang tidak tahu bagaimana keadaan hiruk pikuk dikota besar. Cih.

"Ya, ya. Paham kok, paham." Meski begitu, sikap protektif Sasori perlu di apresiasi. Meski keseringan membuat Gaara jengkel tapi Sasori sudah dia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri. Begitu juga sebaliknya, Sasori juga menganggapnya sebagai adik kandungnya.

"Jangan terburu-buru memutuskan apartementmu, santai saja. Cari yang benar-benar tepat. Bila perlu cari yang dekat dengan kampus, biar kau sendiri tidak susah."

"Hm." Gaara bergumam disela kegiatan mengunyah roti panggangnya.

Sakura yang baru selesai membuat kopi hitam kesukaan suaminya langsung meletakkan cangkir yang berisi cairan pekat itu didepan yang bersangkutan, kemudian ikut duduk disampingnya untuk bisa bergabung menikmati sarapan. Melihat interaksi Sasori dengan adik sepupunya membuat Sakura tersenyum sendiri, dia baru tahu jika hubungan keduanya begitu dekat. Pada titik ini dia jadi menyadari, dingin-dingin begitu ternyata Sasori adalah orang yang perhatian juga.

"Nee, Gaara-kun. Kau ambil jurusan apa saat kuliah?"

"Sipil," jawab Gaara singkat. Sensasi krenyes dari roti panggang lebih menarik daripada menjawab pertanyaan Sakura.

"Hoo, sipil. Arsitek dan sipil saling berhubungan, bukan? Kalian berdua bisa bekerja sama saat kau lulus nanti."

"Memang itu tujuannya." Sasori meletakkan cangkir kopinya dengan hati-hati, panas sekali. Sakura ingin membuat mulutnya melepuh apa. "Dia memang sengaja mencari relasi sedini mungkin agar bisa melarikan diri dari tanggung jawab sebagai penerus perusahaan.."

"–Bukankah nii-san sama saja?" potong Gaara cepat. "Kau lebih memilih bekerja diperusahaan orang lain dibanding harus meng-handle perusahaan keluarga."

Sasori tercebik, "Bukannya tidak mau, hanya saja passion-ku sangat bertolak belakang dengan perusahaan itu." Sanggahnya kemudian.

Memang benar, sejak kecil dia sudah sangat tertarik dengan hal-hal yang berbau seni. Dia tidak pernah melewatkan nilai sempurna saat pelajaran menggambar, melukis ataupun musik saat sekolah dulu–melebihi nilai akademisnya yang lain, meski tetap di atas rata-rata sih.

Perusahaan yang dulu sempat dijalankan ayahnya–sekarang pamannya itu berkecimpung dibidang pemasaran. Sumpah demi apa, dia bisa tahan berjam-jam dengan buku sketsa, kertas grafik, aplikasi autocad–atau hal apapun yang masih ada hubungannya dengan gambar-menggambar, daripada dia harus membaca rentetan huruf atau kalimat dari berkas-berkas yang memusingkan kepala. Baca novel sepuluh halaman saja dia sudah ngantuk, apalagi setumpuk dokumen dan berkas. Tidak deh, makasih.

"Masa'?" Gaara meragukan alasan yang diberikan Sasori.

"Terserah kau mau percaya atau tidak." Jawab Sasori cuek.

"Iya deh, percaya kok." Gaara menyelesaikan sarapannya, kemudian menandaskan jus apelnya yang tinggal setengah.

"Lagipula, ada Temari-nee dan Kankurou-nii yang akan mengurus perusahaan, jadi seharusnya aku bebas memilih jalan yang kumau, 'kan?" Pemuda berambut merah itu mengedikkan bahunya acuh, beranjak berdiri untuk membersihkan alat makannya. Begini-begini Gaara cukup tahu diri.

"Aah, enak sekali jadi anak bungsu sepertimu."

"Tentu saja, sekali-sekali aku harus memanfaatkan posisiku yang satu itu."

Setelah selesai dengan acara mencuci piringnya pemuda berambut merah itu memakai jaket jeansnya dan menyampirkan tas ransel di salah satu bahunya. Kemudian dia pamit pergi duluan.

"Aku harus mengurus administrasi kuliahku dulu baru keliling mencari apartement," jelas Gaara saat menyadari tatapan heran kakak sepupunya. "Aku pergi, terima kasih makanannya."

"Hati-hati dijalan." Sakura melambai singkat, sebelum bunyi blam pelan terdengar dari pintu depan. Wanita musim semi itu lalu beralih pada suaminya, "kalian sepupu dekat, tapi marganya kok beda?"

Sasori menyeruput pelan kopinya setelah dirasa tidak membahayakan lidahnya lagi baru setelahnya menatap Sakura untuk menjelaskan, "dia memakai marga ayahnya dan kami sepupu-an dari pihak ibu. Jadi sangat tidak mungkin kami memiliki marga yang sama."

"Begitu?" Sakura mengangguk paham. "Aku sudah pernah melihat foto ibumu, beliau sangat cantik. Pasti ibu Gaara juga begitu, iya kan?"

Raut wajah Sasori seketika berubah, dia menjawab pelan. "Hm, yah kurang lebih begitu. Tapi jangan katakan hal itu didepan Gaara."

"Lho, kenapa?" Perubahan raut Sasori tak lepas dari pengamatan seorang Sakura. Sepertinya topik yang dia angkat kali ini sedikit tidak tepat.

"Karena...bahkan sejak lahir dia belum pernah melihat wajah ibunya."

Sakura sudah menggerakkan mulutnya tapi Sasori belum selesai dengan ucapannya. Lantas dia mengurungkan niatnya untuk menyergah.

"–Karena ibunya sudah meninggal saat melahirkannya."

Fakta lainnya yang didapati Sakura. Kenapa Sasori begitu memperhatikan dan sangat menyayangi Gaara layaknya adiknya sendiri itu didasarkan karena mereka memiliki satu persamaan. Sama-sama tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu.

.

.

.

.

"Sakura, Tsunade-sensei mencarimu."

Baru Sakura menuliskan namanya di buku absensi, Shizune sudah memberikan kabar yang tidak mengenakkan bagi Sakura. Pasalnya, jika mantan guru pembimbingnya itu memanggilnya di pagi hari begini pasti ada sesuatu hal yang sangat mendesak untuk dia bicarakan. Macam-macam kemungkinan berputar di kepala Sakura. Apa ya..seingatnya dia tidak melakukan kesalahan apapun akhir-akhir ini. Tidak ada kesalahan saat dia melakukan operasi, dia selalu rutin mengecek keadaan pasien yang ditanganinya, tidak salah menuliskan resep dan selalu memantau perkembangan mereka. Jadi kenapa?

Sibuk dengan pikirannya sendiri Sakura bahkan tidak sadar jika dia sudah berdiri didepan pintu coklat yang menjadi pembatas untuk ruangan Direktur rumah sakit itu. Sakura menghela napas sesaat sebelum mengetuk pintu pelan, jawaban 'masuk' pelan dari dalam lebih tepat sebagai titah ditelinganya. Dia memutar kenop pintu, mendorongnya pelan untuk kemudian menangkap sosok wanita dewasa berambut ash blonde yang sedang duduk dibalik meja kebesarannya.

"Sensei...memanggilku?" Sakura bertanya ragu.

"Ya, duduklah. Ada hal yang ingin kubicarakan."

Tepat. Seperti dugaannya. Sakura menuruti perkataan guru yang sangat dia hormati itu, dia duduk dihadapannya berusaha bersikap rileks–meski tidak bisa. Telapak tangannya sedikit basah, keringat dingin. Dia menyiapkan diri, siapa tahu bakal kena sembur, mungkin saja dia melakukan kesalahan tanpa ia sadari.

Tapi reaksi yang diberikan Tsunade diluar ekspektasinya barusan. Wanita yang sudah berumur–tapi tetap cantik itu menghela napas lelah, meletakkan tangannya diatas meja sembari menautkan jari-jarinya. Dia menatap Sakura dengan tatapan lesu sebelum membuka suara.

"Aku ingin membicarakan tentang Yota."

"Yota?" Alis Sakura naik sebelah, tumben sekali Tsunade-sensei membicarakan bocah manis nan imut itu yang sudah menjadi pasiennya dua tahun belakang.

"Menurutmu bagaimana keadaannya?"

"Dia baik–maksudku, tidak ada tanda-tanda yang aneh pada Yota. Keadannya cukup stabil."

"Kapan tepatnya terakhir kali kau memeriksanya?"

"Seminggu yang lalu."

Kali ini helaan napas yang keluar lebih berat dari sebelumnya, "ya. Dan tadi malam keadaannya tiba-tiba drop."

"A–apa?!" Sakura kaget, untung nada suaranya masih terkontrol.

Tsunade mengangguk singkat, matanya menatap dalam manik zamrud didepannya.

"Kau tahu pasti apa yang harus kita lakukan, bukan?"

"Apa menurut sensei dia sudah siap?" Sakura bertanya ragu, perasaan bimbang menyelimutinya.

"Dia harus siap." Tsunade-sensei berkata mantap, "untuk itulah kita juga harus siap–dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Kau mengerti?"

"H–hai'."

"Kalau begitu cepat persiapkan...operasi terakhir untuk anak manis itu."

"Baik, akan kupersiapkan dengan segera." Setelah membungkuk singkat, Sakura melesat keluar dari ruangan.

Sepeninggalan muridnya, Tsunade memejamkan matanya sambil bergumam pelan.

"Semoga dengan ini penderitanya akan segera berakhir juga."

.

09.18 a.m

Beberapa orang dokter–termasuk Sakura dan Tsunade juga sekitar tiga orang perawat mengelilingi tempat tidur yang ditempati seorang bocah berambut coklat. Meski dalam keadaan tidak sadarkan diri, tapi siapapun tahu banyak guratan rasa sakit yang tergambar di wajah polosnya.

Sakura sangat tidak tega melihatnya. Jika rasa sakit itu dapat dibagi, mungkin dia bakal jadi orang paling depan yang mengajukan diri sebagai relawan.

"Mari kita mulai."

Tsunade memberi instruksi. Suara mesin detektor detak jantung berbunyi.

Inilah saatnya penentuan nasib bocah kecil yang malang itu.

.

.

.

.

.

.

.

Mata melotot, bibir terkatup rapat, gigi bergemeletukkan menahan kesal. Kepalanya sudah terserang migrain yang tidak hilang-hilang malah diperparah dengan ucapan yang dilontarkan oleh bawahan sekaligus mantan juniornya itu.

Shimura Sai menatap tajam nan menusuk laki-laki berambut merah didepannya.

"Kenapa tiba-tiba kau mengajukan pergantian rancangan? Kau sendiri tahu jika kita sudah sepakat kemarin."

"Y–ya, itu kan kemarin sebelum kita survey lokasinya." Sasori menggaruk pipinya–tidak ada bentol ataupun rasa gatal, itu hanya kamuflase untuk menutupi rasa canggungnya karena ditatap sebegitu menusuknya hingga tembus ke ulu hati. Baru kali ini dia merasakan hal itu, biasanya santai-santai saja saat menghadapi Sai.

"Begini, dengarkan dulu.." Sasori cepat-cepat berkata lagi, sebelum Sai membuka mulutnya untuk menyemburkan rentetan kalimat menyakitkan seperti biasa. "Bukan tanpa alasan aku mengajukan ini, pasalnya struktur tanah didaerah itu setelah kupikir-pikir tidak akan kuat jika kita membangun hotel yang bertingkat."

"Hanya karena alasan sesepele itu? Itulah sebabnya meski sudah lulus kau masih harus banyak belajar lagi, pemahamanmu soal hal begini masih jauh berada dibawah. Bahkan semut pun masih jauh lebih pandai merekonstruksi sarang tempat tinggalnya." Nah, kan. Mulut Sai mulai beraksi.

"Ya, aku tahu, kok. Kita memang bisa memperkuat bangunan itu dari pondasinya. Tapi kau sendiri tahu, pondasi yang paling kuatpun pasti memiliki batas beban yang dapat dipikulnya. Untuk itu menurutku, daripada membuang banyak biaya bukankah lebih baik jika kita memanfaatkan yang ada saja, seperti luas lahannya mungkin." Sasori menarik selembar kertas hvs yang terbengkalai di ujung meja, dan mulai mencoret-coretnya.

"Luas lahannya ternyata melebihi bayanganku, bagaimana jika kita beralih untuk membuat Ryokan? Dengan begitu pemanfaatan lahan bisa kita maksimalkan. Lagipula, daerahnya masih sangat asri dan otentik dengan alam dan pepohonan, bukankah itu akan sangat cocok?" Dia menyerahkan coretan abstraknya. Sai menerimanya enggan dengan pandangan menilai. "Jika dilihat dari atas, bentuk penginapannya akan terlihat seperti sebuah labirin. Pada bagian tengahnya kita bisa membangun konstruksi tambahan. Mungkin sebuah taman kecil-kecilan, kolam dengan air mancur, taman bunga atau hal-hal lain yang memanjakan mata. Bukankah lebih menarik dibanding hotel bertingkat yang sangat monoton."

Sai dengan kecintaannya terhadap segala sesuatu yang berbau keindahan. Meski benci mengakui secara lisan, tapi ide Sasori memang terlihat menarik dimatanya.

"Tapi sayangnya tidak semudah itu kau bisa merubah planning yang sudah kita susun bersama klien kemarin. Mereka meminta sebuah hotel yang bergaya modern bukan penginapan yang khas tradisional begitu."

Sasori menjentikkan jarinya, "nah itu dia masalahnya. Aku minta bantuanmu untuk menjelaskan ini pada mereka, bantu yakinkan mereka."

Mata sipit Sai memicing, "enak saja kau memintaku melakukan hal yang merepotkan begitu."

"Ya bagaimana dong, jika mereka masih bersikeras untuk membangun hotel bertingkat itu. Takutnya hanya akan merugikan bagi kedua belah pihak."

"Kalau begitu cari solusinya, bagaimana caranya kau ingin merubahnya tanpa harus membuang keinginan awal klien." Pria berambut hitam itu mengetuk meja dengan jari telunjuknya dengan tidak sabar.

"Err..modern ya, hm.." Sasori berpikir keras jangan sampai berujung pada pukulan keras. "Bagaimana kalau kita buat modern dibagian interiornya?"

"Kau bisa menghandle-nya?"

"Ya...mana bisalah. Aku bukan desainer interior."

"Kalau begitu cari seorang desainer interior–kita harus menemui klien untuk membicarakan perubahan ini." Perintah Sai.

Sasori bergeming, menatap atasannya dengan pandangan bingung. Memang mencari seorang desainer interior semudah mencari pedagang kaki lima yang banyak ditemukan mejeng di pinggiran jalan. Dia tidak punya kenalan orang yang berprofesi seperti itu, kurang tahu juga mengenai perusahaan-perusahaan yang menawarkan jasa tersebut. Jadi, harus mulai dari mana dia?

Belum sempat Sasori berucap tangan Sai sudah terangkat seperti membuat gestur 'aku tidak mau tau.'

"Cari sana–CEPAT!"

Sasori memejamkan matanya reflek takut-takut kena hujan lokal, tapi untungnya Sai masih bisa mengontrol jadi masih selamet itu wajah tampan Sasori. Dia hanya menjawab 'baik' pelan–dan dengan terpaksa, lalu berniat meninggalkan ruangan tersebut.

"Satu jam. Kita akan ketempat klien satu jam lagi."

Kalimat terakhir yang didengar Sasori sebelum dia menutup pintu ruangan Sai.

WTF! Cukup diapa waktu satu jam. Deidara saja kalau pergi bab sampai berjam-jam.

Eh? Tunggu.

Rasa-rasanya si pirang itu pernah bilang kalau punya sepupu yang bekerja sebagai desainer interior kan? Atau percakapan mereka itu hanya halusinasi buatan Sasori yang memang sedang membutuhkan seseorang yang berprofesi seperti itu. Tapi–Aahh..sudahlah. Coba-coba tanya saja dulu, itu orangnya kebetulan lewat depan mata.

"Eh, Dei."

"Hm?" Deidara menoleh cepat untung tidak keseleo itu leher. "Memanggilku?"

"Ya, sini." Sasori memberikan gestur agar si pirang mendekatinya. "Apa pekerjaan sepupumu?" Tanyanya setelah Deidara berada didepannya.

"Sepupu?" Kening Deidara berkerut, "sepupuku banyak, kerjanya juga beragam. Ada yang jadi hacker, pencabut bulu ayam, peternak ular, pawang harimau, perakit bom, penjual petasan dan.. banyak lagi. Aku capek nyebutinnya satu-satu."

Sasori cengo. Itu kenapa kerjaannya gak ada yang bener sih, heran deh. "Bukan-bukan, yang lain. Yang agak normal dikit, seperi..hm, desainer interior mungkin?"

Deidara terlihat seperti berpikir, "ah yang bekerja itu juga ada."

"Serius?"

"Iya. Emang kenapa danna menanyakan itu?"

"Cepat hubungi dia, suruh kesini. Bilang kalau perusahaan kita akan mengadakan hubungan kerja sama dengannya dalam proyek kali ini."

"Lho, lho. Kok tiba-tiba?"

"Sudah lakukan saja. Nanti kujelaskan."

Walau masih bertampang bingung Deidara toh merogoh saku celananya untuk mengambil hp, menelusuri nama-nama di kontak panggilannya. Setelah menemukan nama 'Yamanaka Ino' tombol dial dipencetnya untuk menghubungi si sepupu.

Ah, untunglah satu masalah selesai. Sasori menghela napas lega, dia berdo'a semoga tidak ada masalah lainnya yang datang. Setidaknya, punya teman seperti Deidara ada untungnya juga–yah walau banyak ruginya, sih. Hha.

.

.

.

.

Dunia ini sempit ya. Siapa yang tahu jika ternyata sepupunya Deidara itu ternyata sahabat karib Sakura–istrinya sendiri. Yah, mereka baru pertama kali bertemu sih, saat acara pernikahannya. Tidak sempat obrol-obrol banyak waktu itu Ino langsung pamit pergi karena ada urusan katanya, makanya Sasori belum tahu apa-apa soal wanita berambut pirang pucat itu. Boro-boro tahu soal pekerjaan, namanya saja Sasori baru ingat tadi–saat dia memperkenalkan dirinya.

"Sebenarnya, ini terlalu dadakan aku jadi kurang bisa mempersiapkan diri." Ino tertawa canggung, tiba-tiba dapat telpon dari sepupunya yang menawarkan sebuah proyek membuat Ino buru-buru datang kesini. Maklum, perusahaannya lagi sepi proyek jadi sekalinya dapat tawaran jangan sampai lepas.

"Tidak apa-apa, syukurlah kliennya bisa menerima perubahan yang kami ajukan. Ini juga berkatmu," Sasori berterima kasih tulus. Untunglah dia tidak salah pilih, Ino memang ahli dibidangnya. "Untuk selanjutnya mohon bantuannya."

"Ya, mohon bantuannya." Balas Ino sambil tersenyum, tatapannya kemudian beralih pada pria pucat di samping Sasori. Ganteng sih, tapi wajahnya tak bersahabat. Ino jadi ragu untuk menyapanya. Tapi Sasori bilang ini atasannya, akan sangat tidak sopan jika Ino mengabaikannya. "Mohon bantuannya juga, Shimura-san."

"Hn."

Dingin sekali. Rasanya Ino akan sangat sulit akrab dengan orang yang seperti ini.

Sai berdehem pelan sebelum kembali bersuara, "Kerjamu menjelaskan pada klien lumayan, tapi jangan berbesar kepala. Tampang sepertimu ini biasanya manis diawal macam sales promotion yang datang kerumah-rumah, jadi ini masih tahap percobaan untukmu. Kami berada dalam keadaan kejepit, jadi tidak bisa memilih-milih kolega." Setelah berkata begitu, si Direktur muda melenggang pergi meninggalkan perasaan jengkel yang tumbuh didasar hati sang gadis Yamanaka.

Ha? Apa katanya barusan? Yang benar saja. Masa' iya wajah cantik nan berkelas milik Ino begini disamakan dengan mbak-mbak sales promotion. Gak banget deh, ewh. Ino lalu menoleh pada Sasori berniat meminta penjelasan atas sikap menjengkelkan atasannya, tapi suami dari sahabatnya itu malah menatapnya dengan pandangan prihatin sekaligus iba.

"Apapun yang keluar dari mulutnya, abaikan saja. Jangan dimasukkan hati," Sasori memberi wejangan. Mewanti agar Ino tidak mudah tersinggung dengan ocehan Sai. Pasalnya, mereka pasti akan sering bertemu setelah ini. "Mulutnya memang agak mengerikan, tapi kau akan segera terbiasa."

Hhh.. Semoga Ino tidak terkena hipertensi selama mereka bekerja sama. Untung saja wajah Sai termasuk dalam list 'pria idaman' milik Ino, jika tidak udah kena ludah itu orang tadi.

"Oh, ya. Bagaimana jika kita minum teh bersama, aku akan telpon Sakura untuk bergabung bersama kita nanti." Ajak Ino.

Sasori belum memutuskan untuk menjawab apa, tiba-tiba hpnya yang ada disaku celana bergetar. Panggilan dari orang yang baru Ino sebutkan tadi.

"Hallo?"

Alis Sasori berkerut, dia menjauhkan hpnya dari telinga hanya untuk memastikan kedua kalinya nama kontak yang memanggilnya. Nama Sakura tertera disana, tapi suara yang menyapa tidak seperti suara nyaring milik istrinya itu.

"Aku Senju Tsunade, Direktur rumah sakit tempat Sakura bekerja. Kau pasti suaminya kan, Akasuna Sasori?"

Oh, pantas saja. Dia kira Sakura habis menelan gas helium yang membuat suaranya berubah begitu.

"Ya, benar."

"Begini, bisa kau menjemput istrimu?–ah jangan panik, tidak terjadi apapun padanya. Hanya saja...aku akan menjelaskannya saat kau sudah disini."

"Ah, baiklah. Aku akan segera kesana."

Sambungan terputus.

Sasori menoleh pada Ino yang masih menunggu jawabannya dengan sabar. "Mungkin lain kali, aku harus menjemput Sakura."

"Sou ka? Baiklah kalau begitu." Ino mengangguk mengerti, "hati-hati dijalan." Serunya sembari melambai sebelum mobil Sasori menghilang dari pandangannya.

.

.

.

"Aku sudah bilang padamu untuk mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi, bukan?" Tsunade menepuk pundak muridnya yang sekarang sedang bergetar pelan. Siapapun bisa tahu jika wanita muda itu sedang menangis tanpa suara, meski hampir seluruh wajahnya tertutupi helai merah mudanya. "Mungkin ini cara Tuhan mengangkat penderitaannya. Kita hanyalah sebagai perantara Sakura, sesungguhnya apapun hasilnya semua itu adalah kehendak yang diatas."

Sakura masih tidak sanggup untuk memandang wajah gurunya. Ia merasa gagal sebagai seorang murid sekaligus dokter. Sebelum masuk ruang operasi beberapa jam yang lalu, dia berjanji pada ibu Yota untuk mengembalikan senyum cerah anak manisnya. Bagaimana Sakura bisa seyakin itu jika ternyata hanya kegagalan yang bisa ia berikan.

Pada awalnya operasi pengangkatan tumor yang dilakukan Yota berjalan lancar, namun itu tidak berlangsung lama setelah diketahui bahwa penyakitnya itu sudah menyebar kebagian sel yang lain. Sehingga pendarahan hebat terjadi ditengah operasi dan kondisinya yang langsung menurun drastis. Dua jam yang lalu operasi dihentikan tanpa mendapat hasil yang berarti apapun. Kondisi Yota semakin kritis hingga satu jam setelahnya anak berumur lima tahun itu menghembuskan napas untuk terakhir kalinya.

Tangan Tsunade naik dari pundak menuju ke puncak kepala Sakura, mengusapnya pelan menyalurkan kasih sayangnya. Selain sebagai murid kesayangannya, Sakura sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri. Bohong jika Tsunade tidak merasa terpukul juga atas kehilangan salah satu pasiennya itu, tapi biar bagaimanapun dia sudah beberapa kali melewati kenyataan pahit begini. Berbeda dengan Sakura yang baru pertama kali merasakan kegagalan ini sepanjang karirnya menjadi seorang dokter.

"Sakura, kau lihat sendiri kan betapa damainya wajah Yota, seolah semua beban dan rasa sakitnya terangkat begitu saja."

Tangis Sakura semakin pecah, pertahanan yang selama ini dia bangun hancur berkeping-keping, ketika mengingat kembali wajah polos Yota yang dia lihat untuk terakhir kalinya.

"Kau sudah bekerja dengan sangat keras hari ini, Sakura. Pulanglah, suamimu yang tampan itu sudah menjemputmu daritadi." Tsunade berbisik di telinga Sakura. Memandang Sasori yang hanya bisa berdiri mematung beberapa langkah dari mereka, kemudian beranjak menghampirinya.

Tsunade menjelaskan secara singkat kenapa Sakura bisa berada dalam kondisi seperti sekarang. Dan Sasori yang mendengarkan hanya bisa mengangguk mengerti tanpa berkomentar apapun. Selesai menjelaskan Tsunade menepuk singkat bahu Sasori dan menyerahkan sepenuhnya Sakura padanya.

Perlahan tapi pasti Sasori melangkah mendekati Sakura yang masih tertunduk lesu. Ia masih tidak bisa melihat wajah cantik istrinya akibat rambutnya yang masih menjuntai lepek. Laki-laki berambut merah itu melipat kaki panjangnya, setengah berjongkok dihadapan Sakura. Sasori menyibak sebagian rambut Sakura–yang menghalangi pandangan–hanya untuk mendapati wajah istrinya yang biasanya selalu berbinar cerah kini tampak kacau.

Akasuna Sasori tidak pernah merasa sebingung ini sebelumnya. Ini pertama kali dalam hidupnya menghadapi seorang wanita yang sedang menangis. Karenanya kini otak encernya sedang dipaksa untuk berpikir, mencari apa saja kata-kata yang tepat untuk menenangkan istrinya saat ini.

"Hei, cantik." Dua kata itu lolos begitu saja dari mulutnya, Sasori merutuk dalam hati. Pemilihan kata yang sangat bodoh. Tapi karenanya juga atensi Sakura jadi teralihkan, yang dari tadi hanya menatap marmer putih dibawahnya kini beralih menatap kearahnya.

Tapi, ugh. Sungguh Sasori sangat membenci ketika emerald itu meredup dikarenakan terlalu banyak air mata yang menggenang. Tangan Sasori terulur membelai lembut pipi putih Sakura, menghapus jejak-jejak air mata. Sakura menatap sosok didepannya dengan pandangan kosong, membiarkan tangan besar suaminya memberikan kehangatan pada sisi wajahnya yang mulai mendingin.

"Aku...,aku–" Sakura tidak bisa menyelesaikan ucapannya, karena semakin dia berusaha berucap semakin air mata menggenang di pelupuk matanya.

"Ssstt..aku tahu apa yang ingin kau katakan. Aku mengerti." Tangan Sasori berinisiatif pindah ke kepala Sakura, menarik wanita musim semi dalam pelukannya, menyalurkan kehangatan yang dia punya–semoga saja itu dapat meringankan bebannya walau hanya sedikit.

Usapan pelan sebelah tangan Sasori yang bebas dipunggungnya tidak serta merta membuat isakan Sakura berhenti, tangisnya malah semakin menjadi-jadi. Menenangkan Sakura saat ini jauh lebih membingungkan bagi Sasori dibanding pada saat dia menenangkan bocah berumur empat tahun yang nangis kejer ditaman beberapa minggu lalu.

"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Tidak apa-apa." Kalimat itu dia ulang berkali-kali sebagai usaha untuk menenangkan. Tidak ada kata lain yang bisa dia pikirkan saat ini, otaknya memang selalu buntu disaat-saat kritis begini.

Beberapa saat berlalu tangis Sakura mereda, dia mulai kelelahan baik fisik maupun mental dan Sasori menyadari hal itu. Ia melepaskan pelukannya, menangkup wajah Sakura dengan kedua tangannya, menghapus air mata dengan ibu jarinya kemudian bertanya dengan lembut, "ayo pulang?"

Satu anggukan dari Sakura menjadi kode bagi Sasori untuk menggenggam erat tangan istrinya. Menggandengnya melewati lorong rumah sakit yang sedang sepi untuk menuju mobilnya yang ada diparkiran.

.

Gaara menatap dengan pandangan heran ketika kakak sepupunya pulang sambil memapah istrinya yang sepertinya berada dalam keadaan yang sedang tidak baik. Pemuda berumur delapan belas tahun itu rela mem-pause gamenya demi melihat wajah berantakan dari kakak iparnya. Matanya memerah dan sembab–sepertinya habis menangis.

Apa mereka bertengkar? Ah, rasanya tidak mungkin. Gaara menepis prasangkanya yang satu itu, karena tadi pagi mereka berdua terlihat baik-baik saja. Dia ingin bertanya tapi sedikit enggan, mungkin nanti saja. Gaara mengubur rasa penasarannya dan memilih untuk kembali larut dalam gamenya kembali.

"Itu pasti sungguh berat untuknya."

"Pasti." Sasori mengangguk, menyetujui perkataan Gaara.

Dia baru saja selesai menceritakan keadaan Sakura pada adik sepupunya itu. Mereka sedang duduk saling berhadapan di meja makan, Sasori dengan kopi hitamnya dan Gaara dengan Jus apel kesukaannya.

"Seorang penjaga gawang pasti pernah mengalami kebobolan, seorang polisi pasti pernah salah tangkap penjahat dan seorang dokter pasti pernah kehilangan pasiennya. Itu semua diperlukan agar seseorang dapat belajar dari masa lalunya."

Apapun analogi yang dipakai Gaara saat ini, Sasori hanya bisa menyetujuinya tanpa bisa berkomentar lebih lanjut.

"Kau tidak mau menghiburnya saat ini?"

"Kurasa yang dia butuhkan sekarang hanya waktu untuk sendiri. Memikirkan apa yang sudah terjadi dan berusaha bangkit."

"Hm, kurasa kau benar."

Sasori bangkit dari posisi duduknya, "kau mau makan? Pesan saja apa yang kau mau, karena sudah pasti tidak akan ada yang bisa memasak untuk kita sementara waktu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah dua hari berlalu sejak Sakura harus kehilangan pasiennya untuk pertama kalinya dalam riwayat karirnya, apalagi pasiennya yang pergi itu adalah salah satu pasien yang sangat menginspirasi hidupnya juga yang selalu membuatnya tersenyum gemas saat melihat anak berumur lima tahun itu tertawa ceria. Haah, mengingatnya Sakura jadi merindukan anak lucu itu, setitik air mulai menggenang di matanya yang langsung ia usap dengan kasar.

Tidak. Jangan ada kesedihan lagi. Benar kata Tsunade-sensei, Yota sudah tidak menderita lagi saat ini, anak itu sudah beristirahat dengan damai–mungkin sekarang dia sedang reuni dengan ayahnya. Tiga hari belakangan ini Sakura izin untuk tidak bertugas dulu di rumah sakit, dia sibuk membenahi dirinya sendiri–baik mental maupun fisik. Yang dia lakukan selama waktu itu hanya berdiam diri di kamarnya–dan Sasori tentu, termenung dari bangun tidur hingga malam menjelang, berusaha menjernihkan pikiran dan merasionalkan sisa-sisa kelogisan yang dia punya. 'Hidup dan mati berada di tangan Tuhan' kata-kata dari gurunya itu terus ia gumamkan dalam hati, sebagai upaya untuk menguatkan dirinya sendiri.

"Pagi."

Satu sapaan lembut di pagi hari yang indah–menurut Sasori–padahal diluar sana awan hitam sudah menggantung di langit siap menumpahkan bulir-bulir air yang sudah terkondensasi itu kapan saja. Dua laki-laki berambut merah yang ada di meja makan menoleh ke arah datangnya suara. Senyum samar terlihat di wajah keduanya melihat satu-satunya wanita di rumah itu akhirnya mau membuka dirinya dengan dunia luar lagi.

"Pagi," Gaara membalas sapaan Sakura dengan wajah datar.

"Sudah merasa baikan?" Kali ini giliran Sasori yang bersuara setelah melihat Sakura menyamankan posisinya duduk di kursi sebelah Sasori.

"Kurasa begitu."

Sakura menggulirkan pandangannya pada meja makan, diatas sana hanya terdapat satu piring yang berisi beberapa tumpukan roti panggang, selai kacang dan coklat bersisihan disampingnya. Lalu dua minuman berbeda jenis masing-masing didepan kedua laki-laki di meja makan tersebut.

"Kalian...sarapan dengan ini terus beberapa hari belakangan?" Tanya Sakura ragu.

Gaara mengedikkan bahunya, "Apalagi? Hanya ini yang paling praktis, tinggal masukkan dalam mesin atur timer, selesai. Tidak harus takut gosong atau sebagainya."

Sasori mengangguk menyetujui ucapan Gaara lalu menyeruput pelan kopinya–serasa ada yang kurang, tapi Sasori hanya mengabaikannya.

"Bagaimana dengan makan siang? Makan malam?"

"Aku makan siang di kantor, tentu saja. Dan Gaara sepertinya selalu diluar juga. Kami pesan diluar untuk makan malam," Sasori menjelaskan.

Sakura menghela napas pelan, sedikit merasa bersalah. Karena sibuk dengan dirinya sendiri dia jadi melupakan tanggung jawabnya. Tiga hari ini dia sepenuhnya hanya mengurung diri dikamar, boro-boro mau memasak menginjakkan kakinya didapur saja baru hari ini. Hanya Sasori yang sesekali mengecek keadaannya, membawakan sarapan dan makan malam untuknya. Suaminya itu membiarkannya untuk berpikir sebebas mungkin, juga memperlakukannya selembut mungkin–Sakura merasa tersentuh jika mengingatnya.

"Gomen, nee." Gumamnya pelan.

Sasori menaikkan sebelah alisnya, "Hm, untuk?"

"Karena aku sudah merepotkan kalian."

Laki-laki bermarga Akasuna itu menghela napas pelan. "Sakura, sudah berapa kali kubilang, tidak ada kata merepotkan diantara suami-istri. Jangan katakan hal seperti itu lagi, oke?"

Sakura menatap wajah suaminya beberapa saat, kemudian mengangguk.

Gaara yang daritadi hanya mendengarkan dalam diam mulai buka suara. "Oh, ya. Aku ingin beritahu kalau aku sudah dapat apartement yang cocok."

"Benarkah?"

"Ya, hari ini aku akan menemui pemiliknya. Mungkin besok atau lusa sudah bisa pindah kesana."

"Apa kau yakin?"

Gaara mengedikkan bahunya, "kurasa. Mungkin ini paling cocok dengan apa yang kucari, lagipula minggu depan sudah upacara pembukaan. Aku tidak punya banyak waktu lagi."

Kali ini Sasori yang mengangguk mengerti. Dia percaya, Gaara sudah dewasa dan dapat memutuskan langkahnya sendiri.

"Nanti beritahu aku alamat apartement-mu."

"Iya, iya. Nanti kuberitahu. Kalau begitu aku pergi dulu."

Seperti biasa, Gaara pergi setelah membereskan peralatan makannya dulu, mengucapkan terima kasih atas makanannya kemudian baru pamit. Terima kasih kepada Temari, berkat kecerewetannya selama ini Gaara jadi was-was kena omel kakaknya karena tidak membersihkan sendiri peralatan bekas makannya–yah meski orangnya ada nun jauh diseberang sana.

Sasori menyeruput tetesan terakhir yang ada dicangkir kopinya, dia juga sepertinya sudah selesai dengan sarapannya. Sambil memakai jas-nya Sasori berkata pada Sakura yang masih termenung duduk disampingnya, "hari ini kau masih izin, kan? Sebaiknya istirahat saja, jangan memaksakan diri dulu."

Sakura menggeleng, "aku ingin keluar hari ini."

"Kemana?"

Wanita musim semi itu tidak menjawab, dia hanya tersenyum–meski senyum itu masih terlihat begitu dipaksakan dimata Sasori.

"Baiklah, kemanapun kau pergi kau harus menghubungiku nanti."

Sasori mengelus lembut helai merah muda milik istrinya, ia sedikit menundukkan kepalanya kemudian mengecup singkat kening Sakura. Rutinitas barunya sejak beberapa hari yang lalu. Perlakuan nyata menjadi hal yang bisa dilakukan Sasori untuk menenangkan sekaligus menyemangati istrinya daripada harus memilih serangkaian kata-kata manis. Dia itu tipe orang yang memegang prinsip talkless do more. Meh. Keren gak tuh.

Meski sudah beberapa kali diperlakukan begitu, nyatanya Sakura tetap saja terkejut bukan main. Jantungnya jadi doki-doki tidak keruan dengan pipinya yang terasa perih seperti habis ditampar.

Lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi Sasori mulai melangkah ke pintu depan, sebelum suara Sakura menghentikan langkahnya itu.

"Sasori..."

Dia menoleh.

"–Itterasai."

"Hm. Ittekimasu."

Senyum manis di wajah tampan suaminya menjadi hal terakhir yang dilihat Sakura sebelum pintu depan tertutup.

Rasanya, kalaupun banyak hal berat yang terjadi kini akan terasa lebih ringan jika mengingat bahwa sekarang dia tidak lagi hidup sendirian dan seseorang yang bersamanya itu tidak akan membiarkannya menanggung beban itu sendiri pula. Kurang lebih Sakura bersyukur karena orang seperti Sasori lah yang berada disampingnya saat ini. Dan dia harus berterima kasih pada ibunya, karena menjodohkannya pada orang yang tepat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

*Ryokan: penginapan tradisional Jepang.


lalisa kw: ngakaknya jangan ditengah keramaian ya, nanti disangka gila heheh..

cantik: kok tahu hhe. Kyk merek motor dong. Yamah* semakin didepan!


A/N: Sebelumnya gue selalu ucapkan terima kasih banyak yang udah menyempatkan dirinya mencet tombol fav/follow atau reviewnya:) dan maaf nih untuk chapter-chapter berikutnya kyknya updatenya gak bisa seminggu sekali kyk 4 chapter yg udh jalan ini. Soalnya gue udh mulai sibuk, biasaa.. rutinitas anak kls 12:" TO-lah, simulasi-lah, UH, praktek segala macem huhuT_T –lah malah curcol wkwk. Tp tenang, gue tetep usahain menyempatkan diri buat update.

Terima kasih atas dukungannya, sampai jumpa di chapter berikutnya^^

Palembang, 27-01-19.