"Kau berkelahi?"
"Hanya Aniki yang bisa setujui Hinata jadi sekretarisku, bukan Ayah atau siapapun."
Itachi melihatnya. Ya, dia melihat suatu kesungguhan di dalam matanya. Bagai menemukan fakta bahwa Sasuke yang kemarin dan Sasuke yang sekarang ... berbeda. Sebagai seorang kakak, ia sebenarnya hawatir melihat wajah Sasuke yang jauh dari kata baik. Luka dan memar. Namun, sepertinya Sasuke tak mau membahasnya. Mungkin ia dapat pukulan kesadaran.
"Kesepakatan? Apa yang kau tawarkan?"
"Segalanya. Apapun."
Mendengar jawaban Sasuke, wajah Itachi mengeras. Dan itu tandanya ia sama seriusnya dengan lawan bicaranya. "Inilah kelemahanmu." Itachi menatap dalam-dalam Sasuke yang sedari tadi memandang lurus kearahnya. "Padahal hanya tinggal menunggu hari sampai aku mengabulkan keinginanmu."
Ia membuka dokumen yang disimpan di atas tumpukan dokumen-dokumen lainnya di meja dan menunjukannya pada Sasuke. "Ayah menjadikanmu karyawan bagian promosi agar kau dapat bersabar menyusun strategi matang." Ternyata benar, dokumen pengangkatan Hinata telah ditanda tangani. "Tapi sekarang, segalanya, kau bilang?"
"Bagaimana bisa kau jadi wakilku jika kau tak berkepala dingin?"
Terdiam cukup lama, akhirnya Sasuke berkata, "Maaf. Aku akan berusaha lebih keras." Dan meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun.
.
.
.
Naruto – Masashi Kishimoto
Same Circle – DMalf79
WARNING: SasuHina ^^, OOC, AU, Typo(s), DLDR ^w^
.
.
.
Hinata sempat heran, mengapa akhir-akhir ini Sasuke tak pernah mengunjunginya? Bahkan Sasuke tak pernah datang ke lantai 10 lagi untuk ke ruangan Naruto. Bertemu di dalam lift pun, Sasuke hanya menatapnya dan bungkam. Jujur saja, mulut Hinata sudah sangat gatal untuk bersuara, tetapi dia kebingungan harus bertanya apa.
Terakhir kali mereka berinteraksi adalah saat Sasuke mengirim sms 'dimana' padanya. Dan besoknya Sasuke berubah drastis. Apakah Hinata terlalu kasar padanya? Tapi hanya karena Hinata pura-pura tak kenal dia membuatnya menjadi menjauhi Hinata. Sasuke yang Hinata tau bukan Sasuke seperti itu. Dan yang paling mengganjal darinya saat itu adalah memar di wajahnya.
Entah kenapa Hinata merasakan keanehan Sasuke ada sangkut pautnya dengan Gaara.
Raut muka Gaara saat kembali dari toilet tempo hari terlihat kusut. Dan esoknya Hinata melihat sekilas jika wajah Sasuke memar parah. Mengingat sejarah mereka di masa lalu membuat Hinata semakin yakin bahwa kejanggalan ini berhubungan. Bahkan saat suatu hari Hinata dijemput oleh Gaara, pria dengan tattoo di dahi itu agak berubah ketika tanpa sengaja Hinata bercerita tentang keanehan Sasuke di kantor.
Tapi, Hinata bukanlah orang yang tak tau sopan santun. Ia cukup tau tentang batasan privasi seseorang. Singkatnya, Hinata tak akan memaksa Gaara untuk bercerita apa yang terjadi jika Gaara tak ingin membeberkannya.
Bulan Oktober ini, sebagian besar wilayah Jepang sudah menikmati cuaca yang sejuk dan segar di awal musim gugur. Hari ini Naruto menyuruh Hinata untuk pergi ke ruangan Itachi. Hinata gugup, ia bertanya-tanya ada apa? Bahkan tangan Hinata saling meremas saking gugupnya. Tapi Naruto hanya bilang dengar dengan baik saja.
"Hyuuga-san, saya akan memperkenalkan partner kerjamu yang baru." Kemudian Itachi mengisyaratkan Sasuke untuk memperkenalkan diri pada Hinata.
Jujur saja, Sasuke tak tahan untuk menyunggingkan seringai, "Sasuke Uchiha, wakil president Uchiha Coorporation. Kau akan jadi asisten pri-ba-di ku." Sasuke sengaja mengeja kata 'pribadi' tersebut dan mengulurkan tangannya. Ia benar-benar tak tahan untuk terbahak melihat raut horror Hinata. Sasuke tak akan melupakan ini sampai kapanpun!
Hinata terdiam untuk sesaat. Ia memang merasa bersalah atas omongannya yang mungkin kasar di tempo lalu, tapi untuk yang satu ini, sepertinya inilah cara Sasuke balas dendam padanya, dengan membuat Hinata terjebak terus bersamanya.
"Hinata Hyuuga. Kuharap kita bisa bekerja sama." Kemudian menjabat–meremas– tangan Sasuke dengan kobaran semangat perang.
Merasakan atmosfer perlawanan, Itachi berharap agar tugas Sasuke nanti tak ada yang mengecewakan. Tapi, kegigihan Sasuke menaikkan persentase penjualan dalam waktu kurang dari satu bulan memang fantastis dan patut diberi imbalan. Ya, Itachi hanya bisa berharap agar mereka memang dapat bekerja sama.
-o0o-
Hari-harinya menjabat sebagai asisten Sasuke adalah hari terburuk. Sasuke benar-benar menyiksanya! Menyuruhnya untuk membuatkan kopi pahit, oke. Tapi saat Hinata baru saja meletakannya di atas meja Sasuke, ia inginnya pake gula. Masih oke. Ia memasukan satu bongkah gula, kurang manis. Satu bongkah lagi, masih kurang. Hinata memasukan kembali satu bongkah lagi, dan katanya terlalu manis. Tak apa. Hinata akan buat lagi. Namun, setelah dibuatkan, Sasuke malah seenak jidat menyuruhnya untuk membuat teh, jangan kopi.
Saat itu juga Hinata ingin mengguyurnya dengan air kopi dan membantingkan gelasnya.
Belum lagi, Sasuke selalu protes dengan jadwal yang diatur Hinata. Setiap hari seperti itu. Anehnya, Hinata masih tahan untuk bekerja disana. Sebenarnya jika Hinata mau, sejak dulu ia sudah diterima dengan tangan terbuka di perusahaan keluarganya yang sekarang dikelola Neji-nii. Namun, Hinata ingin hasil kerjanya benar-benar jeri payahnya, bukan dari penghasilan keluarga.
"Mana jadwal hari ini?" Sasuke yang baru datang, mampir ke meja Hinata untuk memeriksa ulang jadwalnya.
Dengan malas, Hinata menyerhkan agenda tersebut. Sambil memeriksa, Sasuke berkata, "Untuk hari ini, kita akan makan siang dimana?"
"Ruanganmu."
"Delivery lagi? Bosan. Kafetaria saja, sudah lama kita tak makan disana." Sasuke kemudian meletakan kembali agendanya.
"Kalau kafetaria, makan masing-masing saja. Takutnya tersebar gossip tak sedap." Hinata terus memperhatikan layar komputernya.
Sasuke menghembuskan nafas lelah. Walaupun Hinata agak cuek padanya, setidaknya tak separah waktu itu, selalu marah-marah. Kegiatan Sasuke yang usil terhadap Hinata hanyalah alasannya agar hubungan mereka membaik. Dan itu berhasil. Hinata yang sekarang lebih lunak. Bahkan akhir-akhir ini kami tertawa bersama–walaupun menertawakan kecerobohan masing-masing– terkadang mereka makan bersama, dan Hinata sesekali mengiyakan tawaran pulang barengnya Sasuke.
Dan alasan terbesar Sasuke mendesak kakaknya waktu itu adalah, Gaara. Ia selalu ingat kata-kata Gaara tentang merebut Hinata. Sasuke memang ingin berbaikan dengan Gaara, tapi ia juga tak akan biarkan Gaara merebut apa yang sudah di klaim Sasuke menjadi miliknya. Intinya, inilah cara Sasuke agar Gaara tak bisa membuktikan kata-katanya.
Tiba-tiba, iPhone hitam Sasuke berdering, dan ia memicingkan mata saat melihat nomor rahasia yang tertera di layarnya.
"Hallo?"
"Sasuke? Mengapa tak bilang kalau kau sudah balik ke Tokyo?"
"Siapa?" Suara di seberang sana agak kurang jelas, jadi Sasuke mengkonfirmasi agar nama yang didengarnya tak salah. "Apa? Sakura?"
Sasuke dan Hinata sama-sama tau bahwa jika mendengar nama itu disebut lagi, secara alami perasaan mereka menjadi tak enak, tak nyaman. Dan mereka juga tau, baik Sasuke maupun Hinata sama-sama merasakan perasaan yang sama.
Setelah Sasuke mengobrol agak lama dengan Sakura, ia kembali berkata pada Hinata, "Kita diundang makan makan malam di cabang butik baru Sakura." Dan Sasuke cepat-cepat menambahkan, "Kau harus ikut." Agar Hinata tak dapat menolak.
-o0o-
Sakura memang seorang designer hebat. Baju-baju yang dijualnya adalah karya seni yang selalu menampilkan ciri khasnya. Ia dapat mengendalikan kiblat fashion, membuat orang-orang mengikuti gayanya. Dan itu terbukti saat melihat hasil design-nya sold out di cabang baru ini. Bahkan ini adalah cabang kedua yang dirintisnya sendiri.
Ia mengadakan pesta kecil-kecilan bersama orang-orang terdekat termasuk karyawan untuk merayakan keberhasilannya. Pestanya di selenggarakan di butik lantai dua, tempat yang masih kosong yang nantinya akan dipenuhi dengan beratus-ratus pakaian siap pajang.
Saat Hinata dan Sasuke tiba disana, suasana meriah dan atmosfer hangat sangat mendominasi, mengalahkan udara dingin musim gugur diluar sana. Semua orang terlihat bahagia dengan keberhasilannya. Namun, semua itu tak membuat perasaan aneh yang sedari tadi hinggap di hati Hinata memudar. Dan melihat kehadiran si rambut merah yang berjalan mendekat ke arah mereka membuat perasaan tak enak itu semakin merekat.
"Selamat datang! Sepertinya aku orang terakhir yang tau kalau kau sudah ada di Tokyo." Walaupun Sakura sedang memberenggut, tapi penampilannya semakin terlihat cantik, menawan dan dewasa di mata Hinata, dan itu membuatnya sedikit iri.
"Kau juga! Mengapa baru bilang kalau Sasuke sedang ada di Tokyo, huh?!" Sakura bertolak pinggang sambil berbalik menghadap Gaara yang baru tiba di samping kirinya.
Gaara yang sempat melirik penuh arti pada mereka berdua, menatap Sakura untuk menjawabnya. "Yah, kau kan sedang di Osaka membuka cabang pertamamu."
Sakura kembali menoleh pada Sasuke, "Jadi, kau akan menetap di Tokyo?"
"Sepertinya begitu." Ujar Sasuke.
"Bagus kalau begitu. Bagaimanapun aku senang kau datang," Sepertinya Hinata tak dianggap disini. "Err ... Hinata juga, senang dapat melihatmu lagi." Oh sepertinya kata yang lebih tepat adalah, hampir terlupakan.
"Ayo, acaranya akan dimulai." Sakura mengajak mereka semua untuk bergabung bersama yang lain. Seperti biasa, Sakura selalu bisa membuat keadaan beku menjadi cair.
Menu buffet yang disediakan terbilang beragam untuk pesta kecil-kecilan ini. Ada bento, egg tofu, bahkan suki pun juga ada. Hinata sendiri mengambil terriyaki yang ditambahkan dengan cabai bubuk. Sasuke yang tak mau Hinata jauh-jauh darinya, cekatan menariknya untuk duduk di sampingnya.
"Eh, tunggu dulu. Katanya ini beef terriyaki." Baru saja Hinata akan memakannya, Sasuke sudah terlebih dahulu menahannya. "Kau kan tak suka daging sapi, kucoba dulu."
Sebenarnya Hinata sudah akan menahannya, "Gila, pedas benar!" tapi Sasuke main makan saja. Hinata kan lumayan suka pedas, bertolak belakang dengan Sasuke yang anti pedas. Dengan panik, Hinata memberikan segelas air minum yang ada didepannya.
Ia jadi geli melihat muka merah Sasuke. Cemen betul dia, pedas sedikit saja langsung kelabakan. "Bukannya tanya dulu, pake pedas atau tidak," Kata Hinata sambil tertawa.
"Errgh, kau tak boleh makan terlalu pedas seperti itu loh, tak baik untuk kesehatan." Sasuke mengomel sambil sesekali menyesap kembali air di gelasnya. "Lagipula, itu memang benar beef terriyaki. Kau makan ini saja, biar aku yang ambil lagi."
Sasuke menyodorkan udon yang sama sekali belum disentuhnya. Ia berdiri untuk mengambil makanan lain, dan Hinata menatap punggungnya sambil tersenyum.
Tanpa disadari oleh mereka, dua pasang mata memerhatikan dengan pandangan yang lain.
-o0o-
"Kalian sepertinya tak mau diganggu ya," Sasuke mengajak Hinata untuk pergi ke atap butik memandangi langit langit musim gugur. Di area sekitar butik ini memang dilarang untuk mendirikan bangunan terlalu tinggi, karena cukup dekat dengan area penerbangan. Dan Gaara datang disaat mereka sedang menikmati suasana dengan khidmat.
Hinata yang mengerti Gaara ingin membicarakan sesuatu dengan Sasuke, segera berkata, "Eh, tidak juga. Aku pergi dulu ke toilet."
Sasuke menoleh, memandangi kepergian Hinata.
Setelah lama terdiam, akhirnya salah seorang dari mereka membuka suara. "Hisashiburi," Ucap Gaara.
"Hn." Ya, benar. Lama tak bertemu. Lama sekali sejak terakhir kali merasakan perasaan seperti ini.
"Sasuke, errr ... bagaimana ya? Aku kesini karena ... hmm, apa ya? ... aku ... "
Sasuke menoleh, tanpa sadar terkekeh pelan melihat Gaara yang gelisah sedang mengacak-ngacak rambutnya tak jelas. "Apa? Minta maaf? Tak ada yang perlu minta maaf dan memaafkan. Kita impas, oke? Errr ... sobat?"
"Hm ... ya, bisa dibilang begitu. Haha, errr ... sobat. Oke."
Sasuke mengangkat tinjunya dan Gaara menyambutnya tanda persahabatan.
"Jadi, bagaimana hubunganmu dengannya?" Gaara menggerakkan dagunya kearah pintu tempat Hinata tadi keluar.
Terdiam sebentar, Sasuke akhirnya menjawab, "Hubungan kami membaik."
"Kupikir benar-benar bersemi. Dilihat dari jamuan tadi sangat seperti sepasang kekasih, nah apalagi tadi, khusyu betul sampai tak menyadari kehadiranku. Omong-omong, kau tak usah pikirkan perkataanku terakhir kali, waktu itu aku hanya sedang emosi."
Ups, Gaara benar-benar terlalu banyak omong. Mengapa bahas yang itu sih? Suasana mereka kan jadi kembali canggung!
"Emm ... melow begini, aku benar-benar berasa seperti cewek puber."
Sasuke tertawa dan Gaara pun ikut tertawa. Ia menonjok pelan pundak Gaara dan berujar, "Kau memang cewek jadi-jadian, baka!"
"Oy, oy!"
Sebenarnya, Hinata tak tau letak toilet dimana, jadi dia terpaksa kembali memasuki kerumunan pesta dan bertanya pada salah seorang karyawan butik. "Hinata, tunggu sebentar." Sialnya, ia malah harus berhadapan dulu dengan Sakura yang menghadangnya.
Percayalah, Sakura adalah orang nomor satu yang paling harus dihindari dalam daftarnya. "Uhm. Ya?"
"Bisakah kita kembali berhubungan baik? Kumohon maafkan aku."
Dan momen inilah yang paling membuat hati Hinata kembali sakit. Bagaimana bisa seseorang yang sudah Hinata anggap sebagai 'partnership'nya dulu, mengkhianatinya. Namun, bukan berarti Hinata tak bisa memaafkan Sakura, hanya saja mungkin tak bisa berhubungan baik dengannya seperti dulu.
"Aku juga minta maaf ya, Sakura."
Entah palsu atau tidak, yang jelas sekarang wajah Sakura kembali ceria. "Kau memaafkanku? Syukurlah. Semoga kita bisa berteman lagi. Kau tak pernah lakukan kesalahan, Hinata. Akulah yang salah." Dan setelah berkata seperti itu, Sakura memeluknya.
Apapun alasannya, Hinata harus bersikap dewasa. Maka dari itu, walaupun agak canggung, tapi perlahan Hinata balas memeluk Sakura.
Ketika Sakura melepaskan pelukannya, ia kembali bertanya, "Kau tau dimana Sasuke berada?"
Deg. Mungkin ini hanyalah sebuah perasaan yang berbekas, tapi tak bisa dipungkiri hatinya ngilu saat Sakura bertanya hal yang agak menjurus begitu padanya. "D–dia di atap, bersama Gaara."
"Benarkah? Mengapa mereka tak ajak aku. Nah kalau begitu, aku pergi dulu."
'Apa katamu? 'Mengapa mereka tak ajak aku?' Memangnya kau siapanya mereka, huh?' Ejek Hinata dalam hati. Sepertinya hari ini Hinata sedang sensitif, sampai-sampai ia berpikir tentang mengapa Sakura tak ajak dia untuk ke atas? Sudahlah, pikirannya saat ini benar-benar buruk. Ia melenggang pergi melanjutkan niatnya menuju toilet.
Hal pertama yang Hinata pikirkan saat membuka pintu atap adalah, ia juga ingin merasakan hal seperti itu, bahkan sejak masa kuliahnya dulu. Ini persis seperti bayangannya saat itu, ketika masih menjadi mahasiswa. Waktu itu, ia membayangkan mereka berempat bisa bersahabat, seperti di film-film. Dan sekarang saat ia melihat Sasuke, Gaara dan Sakura, rasanya ... impiannya terwujud. Tapi, bedanya adalah sekarang rasanya Hinata merasa diabaikan.
Di bawah langit malam yang terbuka, Sasuke sedang tertawa mem-videokan Gaara yang beratraksi senam baling-baling. Dipinggirnya juga ada Sakura yang ikut tertawa melihat aksi Gaara di layar smartphone Sasuke. Semua senang meskipun angin musim gugur bertiup kencang. Rasanya kebahagiaan di ujung sana lengkap ... tanpa kehadiran Hinata.
Ia terus memperhatikan tingkah mereka dalam diam, sambil bersandar pada pintu atap, membiarkan lamunan minor dalam kepalanya mendominasi sampai iPhone putihnya bergetar.
"Hallo?"
"..."
"Apa? Benarkah? Ya. Nanti saya sampaikan."
Hinata benar-benar tak mau mengganggu kesenangan mereka, tapi berita yang dibawanya ini sangat penting, darurat dan harus segera disampaikan pada orang yang bersangkutan. Ia berlari sekencang hembusan angin yang menerpanya.
"Sasuke! Ayahmu ..." Suasana membahagiakan itu lenyap, bagai terbawa angin yang semakin tak bersahabat saat Hinata datang dengan raut gelisah sambil berkata, "Berada di UGD rumah sakit Tokyo."
Wajah Sasuke berubah drastis seketika. Tanpa sepatah kata pun ia langsung melesat pergi meninggalkan semuanya. Sedangkan Hinata, yang masih kelelahan karena berlari memakai hak tinggi, tak bisa mengejarnya. Namun ia langsung memaksakan diri saat Gaara menarik tangannya dan bilang, "Ayo, Hinata! Kita harus cepat-cepat menyusulnya!"
-o0o-
Sejujurnya, Hinata sangat takut ketika mobil yang dikendarai oleh Sasuke melaju dengan kecepatan tinggi di depannya. Bahkan Gaara pun hampir kewalahan mengejarnya. Mereka benar-benar ugal-ugalan di tengah jalan. Saking fokusnya dengan kekhawatiran yang mendominasi, ia sampai tak sadar ketika tangan Sakura dan dirinya saling bertautan erat di kursi penumpang mobil Gaara.
Setelah bertanya pada resepsionis dimana Fugaku berada, mereka langsung menuju kamar tersebut. Ibu dan kakak Sasuke sudah terlebih dulu berada disana. Wajah Itachi yang sedang berdiri menghadap pintu kamar Fugaku sangat tegang, dan Mikoto menangis tersedu-sedu. Sasuke duduk disamping ibunya dan mengelus-ngelus punggungnya menenangkan.
"Kaa-san, apa yang terjadi?"
"Sasuke ... Ayahmu," Mikoto mengambil nafas sejenak dan melanjutkan perkataannya. "Ia terpeleset di kamar mandi dan mengalami serangan jantung mendadak," Sasuke sekuat tenaga menyembunyikan ketegangan di dalam dirinya agar bisa menenangkan Mikoto. Ia memeluk erat ibunya dan kembali mengusap-ngusap punggungnya.
"Kurasa kita berada dalam situasi yang salah." Ujar Sakura pelan.
Hinata menganggukan kepala dan membenarkan dalam hati. Ia juga pernah merasakan yang seperti ini, saat ibunya mengalami keguguran ketika mengandung calon adiknya. Tak ada apapun dalam pikirannya selain keselamatan mereka berdua, namun Kami-sama menakdirkan bahwa Hinata tak akan punya adik.
"Biar aku yang bicara." Kata Gaara. Ia maju mengucapkan sepatah dua patah kata untuk berpamitan dan mendoakan keselamatan Fugaku. Saat mereka bertiga berbalik undur diri, dalam hati Hinata terus beharap agar ayah Sasuke baik-baik saja.
.
.
.
BERSAMBUNG
a.n: Terimakasih untuk reviewer dan reader tercintah :v termiakasih juga yang udah fave&follow story dan sayah :v alhamdulillah saya bisa meneruskan cerita ini. prediksinya story ini bakal berakhir pada ch 8
mengenai ch 4 ini, mungkin memang agak 'biasa aja' tapi ini adalah titik balik karakter Hinata dan Sakura, dan yang paling utama adalah karakter Sasuke :v tentu saja bang Gaara juga gak akan ketinggalan :v pokonya masalah yang utama adalah ... ch depan, okeh? Saya gak enak kalo ngasih spoiler desene :v
.
.
.
review, again?
you always made my day ^^
.
SELAMAT HARI JADI INDONESIA! MERDEKA! :V
