.
HUNHAN FOREVER!
HUNHAN FOR LIFE!
.
A very proud HunHan Shipper
Author Aruna Wu
Present
Another HunHan Story entitled
.
.
.
"How I Met Your Mother"
.
.
.
Seoul 2025
Sinar matahari perlahan menyusupi ruangan bernuansa biru muda berukuran sekitar 4x3 itu. Dan seorang yeoja cantik dengan rambut madunya yang bergelombang juga perlahan mulai mengernyitkan keningnya.
"Eenghh… enggh..."
Samar – samar suara lenguhan bayi terdengar di telinganya dan segera saja, yeoja cantik yang sudah 7 tahun ini menyandang posisi Nyonya Oh Luhan bangun dari tempat tidur single yang dia tiduri.
"Sudah bangun?" sapa seorang namja yang kini tengah menggendong bayi mungil berusia 3 bulan.
"Sejak kapan Shin bangun?" tanya Luhan seraya menggulung asal rambutnya keatas, walaupun Luhan cantik tapi baru bangun saja yeoja itu ekspresinya sudah sangat dingin. Kini Luhan hanya menggunakan kaus putih bergambar bubble tea yang agak kebesaran di tubunya dan celana kain 10 cm diatas lutut.
"15 menit yang lalu… aku yang membangunkannya hehehe" namja itu tersenyum sangat manis dan bayi digendongannya itu juga ikut tersenyum, bayi dan namja itu terlihat sangat mirip jika sudah begitu. Tentu saja, mereka adalah ayah dan anak.
Luhan, yeoja itu walaupun sudah berusia 32 tahun namun bentuk tubuhnya masih tetap bagus dan kulitnya juga kencang dan mulus, tidak banyak perubahan di wajahnya sejak dulu, bisa dibilang Nyonya Oh yang satu ini memang memiliki baby face.
"Sini biar aku yang memandikan Shin" Luhan menjulurkan kedua tangannya untuk meraih sang baby boy lucu ditangan namja tampan itu, wajahnya sama sekali tak ada ramah – ramahnya.
"Jja… Shin mandi sama Lulu eomma ya…" ujar namja itu santai
"Eoh… kau akan berangkat kerja sepagi ini?" Luhan baru sadar jika namja itu sudah memakai stelan jasnya dengan rapi. Pertanyaan Luhan terdengar ketus di telinga namja itu
"Yup… jadwal sidang hari ini jam 8 dan aku harus bertemu dengan clientku untuk mendiskusikan masalah tuntutannya" jawab namja itu mantap seraya melihat jam di tangannya
"Apa kali ini sidang perceraian lagi?" Luhan bertanya dan dia jadi mendadak kikuk
Dan namja itu hanya mengangguk. "Wae? Apa kau sudah siap menceraikan suamimu?" tanya namja itu sigap seraya menaikkan satu alisnya.
.
Disisi lain Jongin kini duduk disamping sahabat tercintanya yang terbaring lemah tak berdaya di sebuah matras instalasi gawat darurat. Baru saja, kakak kandung Jongin yang berprofesi sebagai dokter selesai memeriksa Sehun.
"Jadi… bagaimana hyung?" tanya Jongin pada Jongdae yang memandang sendu pada Sehun. Jongdae menghela napasnya cukup panjang kemudian menatap Sehun dengan tatapan serius. Jongin sangat gugup kali ini, apa yang akan kakaknya katakan? Hal buruk apa yang terjadi pada sahabatnya? Apakah Chaeri akan segera menjadi anak yatim atau bagaimana? Jongin sudah berpikiran yang tidak – tidak.
"Jika dia siuman beri tau dia untuk menjaga pola istirahatnya. Dia hanya kelelahan dan tekanan darahnya sangat rendah." Jongdae kemudian tersenyum lalu ikut duduk di sebelah Sehun yang lain
Jongin menghela napasnya panjang kali ini, bersyukur bukan sesuatu menyeramkan yang terjadi pada Sehun. Hanya kelelahan dan tekanan darah rendah. Jongin tau betul, Sehun sebenarnya stress, stress berat malah. Jongin bahkan sempat berpikir lebih baik membawa Sehun ke dokter psikiatri daripada ke kakaknya ini.
Tak lama, Sehun terlihat bergerak gelisah di tempat tidurnya, matanya perlahan terbuka dan dia cukup lega melihat Jongin di sampingnya.
"Aku dimana?" tanya Sehun lemah
"Di rumah sakit" singkat Jongin membantu Sehun untuk duduk di tempat tidurnya
"Uuuueeek…. Eugh…" Sehun yang baru duduk malah langsung mual dan ingin muntah, dengan sigap Jongdae mengambil wadah untuk menampung muntahan Sehun sementara
Tak banyak yang keluar, hanya berupa cairan putih yang merupakan asam lambungnya sendiri.
"Asam lambungmu memburuk eoh? Apa kau punya maag?" tanya Jongdae kali ini
"Tidak… hanya saja aku makan tidak teratur akhir – akhir ini…" jawab Sehun pelan dan lemah
"Geurae, berarti diagnosaku tadi benar" Jongdae berbisik sendiri
"Apa hyung? Apa yang terjadi?" Jongin bertanya kali ini
"Ani… tidak apa – apa… Aku akan meresepkan obat untukmu… tunggu disini!" Jongdae kemudian pergi dan meninggalkan dua pasang sahabat itu.
"Kau butuh istrimu!" Jongin menatap tajam Sehun
"Aku tau…"
"Jam berapa ini? Kau tidak ke kantor?" Sehun mengerutkan keningnya mencari – cari penunjuk waktu
"Jam 12… 30 menit lagi Chaeri dan Taeoh pulang sekolah. Kantor sudah diurus dengan baik oleh Minhyuk, tenang saja…" Jongin berujar tenang, tidak mau sahabatnya ini lebih terbebani.
"Aku harus menjemput Chaeri, aku sudah janji akan belanja isi kulkas bersamanya hari ini" Sehun melepas infuse di tangan kirinya dan turun dari tempat tidur seenak jidatnya saja.
"Kau gila? kau belum pulih, setidaknya habiskan satu kantung infuse itu dulu! Biar Chaeri aku yang jemput dan tinggal dirumahku hari ini" Jongin mencoba untuk menahan Sehun.
"Ani! Chaeri lebih membutuhkan aku daripada aku membutuhkan infuse ini!" Sehun sedikit tersenyum pada Jongin dan Jongin menghela napasnya lagi.
"Kau seperti bukan kau…"
Sehun menatap sahabatnya segera.
"Akhir – akhir ini aku merasa kau malah seperti Luhan sunbae… jika kau benar – benar Oh Sehun kau akan mengacak – acak Republik Korea Selatan untuk mencari istrimu… tapi kau malah hanya diam dan memohonnya pulang lewat pesan saja… kau bahkan berubah menjadi sangat lembut… kau mirip Luhan sunbae…"
Jongin mentap sahabatnya dengan tatapan iba, dia tidak menyangka jika rumah tangga Sehun akan melewati masa sulit yang sesulit ini. Tentu Jongin tau betul bagaimana dulunya Sehun bisa berubah karena Luhan. Bagaimana Sehun berusaha terus membuat Luhan bahagia. Bagaimana besi seperti Sehun bisa meleleh hanya karena sosok Luhan. Jongin adalah orang kedua setelah Yifan yang tau betul bagaimana seorang Oh Sehun benar – benar mencintai Luhan. Bahkan Jongin masih sangat ingat bagaimana Sehun tersenyum sebahagia dulu untuk pertama kalinya hanya karena Luhan mendapat nilai ujian matematika tertinggi di sekolahnya mengalahkan Yifan.
Oh Sehun, sudah sangat berubah banyak. Awalnya Jongin pernah berpikir, Sehun berubah menjadi bukan Sehun ketika bersama Luhan. Karena Sehun yang dia kenal dulunya adalah Sehun yang dingin, datar, tajam, tak punya rasa peduli, angkuh dan sombong, tapi ketika Sehun bersama Luhan, seketika anak itu berubah menjadi Sehun yang hangat, peduli, peka, lembut dan penyayang. Tapi… setelah Jongin mempelajari perubahan Sehun lebih dalam, maka kini Jongin yakin, Sehun akan jadi benar – benar Sehun ketika dia bersama Luhan.
"Kau melamun?" Sehun menegur Jongin ketika dia sudah memakai kembali bajunya
"Ayo berangkat, Taeoh dan Chaeri pasti sudah pulang"
Dan lagi Jongin menatap punggung sahabatnya yang berjalam mantap dan lurus di depannya itu membuat Jongin semakin yakin. Sehun sangat mencintai Luhan. Jongin memang bukan penganunt First Love Last Forever, karena yeoja yang dinikahi Jongin akhirnya bukanlah first lovenya, entahlah Jongin sendiri lupa Kyungsoo itu kekasihnya yang keberapa dulu. Tapi Oh Sehun? Gila saja jika Jongin lupa bagaimana dulu Sehun berjuang tidak hanya saat mendapatkan Luhan, tapi saat akan menikahi Luhan, tak sedikit yang Sehun korbankan, termasuk dirinya, sahabat seorang Oh Sehun juga ikut berkorban.
.
.
"Jadi… apakah eommamu sudah pulang?" tanya Taeoh ketika mereka sedang menunggu jemputan kedua orang tua mereka
Chaeri menggeleng dan menunduk lemah. "Ini sudah hari ke 8 dan eomma belum pulang juga, aku harus bagaimana Taeoh-ah?"
Ya… hanya pada seorang Kim Taeoh lah, seorang Oh Chaeri mampu mengungkapkan segala perasaannya dengan jujur. Chaeri bahkan selalu berterimakasih pada Tuhan karena telah memberikan Kim Taeoh sebagai sahabat terbaiknya dalam setiap doa sebelum tidur, tentunya setelah doanya yang sangat menginginkan adik kecil.
Chaeri bukannya ingin menjadi orang lain di hadapan kedua orang tuanya, Chaeri tidak pernah begitu sebelumnya, hanya saja… 8 hari belakangan ini juga cukup banyak mengubah gadis kecil itu. Tentu Chaeri tidak ingin banyak merengek pada sang Appa seperti hari – hari awal eommanya menghilang. Chaeri jelas tau betul jika Appanya sudah cukup stress dengan hilangnya sang eomma, menumpuknya pekerjaan di kantor, menggunungnya pekerjaan rumah dan belum lagi harus memperhatikannya. Chaeri bisa mengerti dengan baik jika Appanya sudah sangat banyak beban tanpa harus ditambah Chaeri yang merengek manja meminta eommanya. Dengan kata lain, Chaeri sedikit berubah menjadi sedikit lebih dewasa dari sebelumnya.
"Kau sudah mencoba mencari tau dimana eommamu?" tanya Taeoh, namja bermarga Kim yang untungnya tidak mewarisi kulit sang Appa itu menatap sahabatnya dengan tatapan sendu
"Sudah… eomma tidak ada di mana – mana…" gumam Chaeri makin tertunduk
"Eommamu pasti akan cepat pulang… dia kan sangat menyayangimu" Taeoh mengusak poni Chaeri sesaat setelah dia selesai berbicara
"Ya! Apa yang kau lakukan!" Chaeri mendongakkan kepalanya dan menatap galak Kim Taeoh yang kini terkejut dengan perubahan sikap Chaeri yang mendadak galak, tentu saja Taeoh belum begitu familiar dengan sikap Oh Chaeri yang diwarisinya dari sang eomma.
"Mian… aku hanya tidak ingin kau… bersedih…" Taeoh nampak menyesal
"Dwaeseo… Taeoh-ah… aku rasa Appaku sedang sakit, kemarin badan appa rasanya lebih hangat dari biasanya" Chaeri kembali mengerutkan keningnya dan Taeoh menghela napas panjangnya
Taeoh tidak mengerti apa yang dipikirkan para orang tua, kadang dia juga pernah mendapati Appa dan Eommanya sendiri tidak berbicara sama sekali selama beberapa hari dan suasana rumah jadi mendadak hening. Sehening kuburan cina yang sering Kim Jongseok ceritakan padanya, Kim Jongseok adalah sepupu Taeoh.
"Mmm… apakah Appa dan Eommaku akan berpisah seperti Appa dan Eommanya Jongwoo?" tanya Chaeri frustasi
Taeoh tentu kaget, bagaimana bisa gadis kecil disampingnya ini berkata begitu?
"Ya… Oh Chaeri…" Taeoh memanggil nama Chaeri dengan agak pelan
"Ng?" Chaeri hanya bergumam
"Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu! Aku adalah sahabatmu, Appa kita juga bersahabat… jadi aku akan menjagamu!" Taeoh berkata sok dewasa seperti adegan film drama yang tayang setiap sore hari.
"Gomawo… Kim Taeoh!" dan jawaban itu juga disertai dengan senyuman Chaeri yang mengembang.
"OH CHAERI!"
Gadis kecil itu tak perlu berpaling untuk mengenali suara yang sangat disayanginya itu. Segera saja Chaeri bangkit dan langsung berlari, tanpa peduli tas dan perlengkapannya masih di bangku dan dia tinggalkan begitu saja!
"APPPAAAA!" Pekik Chaeri
"Ya, Oh Chaeri! Tasmu! Ya! Jangan lariiii…." Taeoh ikut memekik
"APPA!"
Sehun bisa melihat bagaimana Chaeri memekik bahagia ketika melihat dirinya sudah ada di halaman sekolah. Dan bibir Sehun terangkat ketika melihat jagoan keluarga Kim membuntuti putrinya dengan menenteng tas dan perlengkapan milik putrinya sendiri sambil terus mewanti – wanti anak itu agar jangan berlari atau dia bisa terjatuh.
"Chaeri-ah…. Hati – hati…" Taeoh kembali berteriak namun Chaeri malah semakin kencang berlarinya
GREB
Chaeri langsung masuk ke pelukan Sehun dan namja tampan berusia 30 tahun itupun langsung mencium kening putrinya.
"Apa hari ini menyenangkan?" tanya Sehun lengkap dengan senyum di wajah besinya
"Tentu! Taeoh membantu Chaeri untuk membuat origami hari ini" ujar Chaeri
"Chaeri… tasmu…" Taeoh menyerahkan tas sahabatnya itu sambil terengah – engah
"Aigo jagoanku…" Jongin langsung saja menyaup putranya
"Gomawo Taeoh-ah…" Sehun mengacak rambut Taeoh yang kini juga sudah ada di gendongan appanya sendiri.
"Aku harus segera pulang, Kyungsoo butuh bantuan di rumah. Kau bisa menyetir sendiri?" Jongin bertanya dan Taeoh nampak sudah tertidur di bahunya, anak itu memang mirip sekali dengan Jongin, bisa tidur dimana saja dan kapan saja, secepat kilat, padahal baru saja anak itu berlari mengejar Chaeri.
"Kau tenang saja… ada Chaeri bersamaku" jawab Sehun tenang.
Jongin kembali mengerutkan keningnya. Iya dia yakin seratus persen, keyakinannya bahkan sudah sebulat mata istri terkasihnya jika Sehun akhir – akhir ini jadi sedikit lebih lembut, sikap Sehun juga jadi mirip dengan Luhan. Tak sedingin biasanya, walaupun sedang tak bersama Chaeri. Ada yang aneh dengan sahabatnya itu.
.
Chaeri dan Sehun sudah ada di dalam mobil dan akan menuju salah satu pusat perbelanjaan di Kota Seoul. Chaeri terus memandangi Appanya yang selama seminggu ini jadi dekat dengannya. Chaeri sebenarnya ingin bertanya dimana eommanya saat ini, tapi… setiap kali Chaeri bertanya pasti raut wajah Appanya akan segera berubah.
Chaeri jadi ingat pembicaraannya dengan Taeoh saat membuat origami tadi di sekolah. Taeoh tadi menceritakan jika sebentar lagi dia akan memiliki adik bayi. Dia bilang eommanya sedang hamil dan hamil itu artinya akan punya adik. Chaeri tentu tau, punya adik pasti menyenangkan, Sepupunya Joon sering bercerita bagaimana serunya punya adik bayi dan jujur saja Chaeri iri dengan kakak sepupunya itu dan juga Taeoh yang sebentar lagi juga punya adik. Chaeri juga mau punya adik.
Tapi… melihat Appa dan Eommanya yang seminggu ini tidak lagi bersama membuat kepala Chaeri terus bertanya kenapa, kenapa dan kenapa. Apakah orang tuanya akan berakhir seperti orang tua Han Jongwoo? Jongwoo adalah teman Chaeri yang lain, yang terpaksa pindah ke Amerika karena Appa dan Eommanya berpisah dan anak itu harus ikut eommanya ke Amerika.
Chaeri menggelengkan kepalanya, tentu dia tidak mau orang tuanya berpisah dan dia memilih satu diantara orang tuanya, eomma atau appa. Tidak mau… sampai kapanpun Chaeri tidak mau itu terjadi. Tak apa dia tidak punya adik seperti Joon dan Taeoh, asal orang tuanya tak berpisah seperti orang tua Jongwoo. Cukup itu saja.
Chaeri juga ikut stress akhir – akhir ini, walaupun dia merasa semakin nyaman dan dekat dengan Appanya, tapi absennya sang eomma dari kehidupan Chaeri selama seminggu ini membuatnya banyak berpikir sendiri. Demi Tuhan usia Chaeri baru 5 tahun. Dan beban pikiran tentang bayang – bayang orang tuanya yang bisa saja berpisah sebentar lagi terus menghantui pikirannya yang seharusnya memikirkan mainan rumah – rumahannya atau boneka – boneka rusanya di rumah.
"Oh Chaeri…" Sehun memanggil putrinya ketika mereka berhenti di lampu merah. Sehun jelas melihat bagaimana putrinya bengong sendirian barusan.
Oh tidak… kepala Sehun makin berdenyut dan dadanya mulai berdetak gelisah, apa yang telah dia lakukan pada Chaeri sehingga buah hatinya yang biasa cerewet kini pendiam dan bengong. Sehun mulai khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Chaeri. Ini pasti ada hubungannya dengan keadaan keluarga mereka yang tak jelas selama seminggu belakangan. Mendadak Sehun jadi merasa bersalah karena Chaeri berubah, Sehun takut keadaan psikologis Chaeri terganggu dengan semua keadaan ini. Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama, dia harus segera bertemu dan berbicara dengan Luhan, meluruskan semua dan kembali seperti semula. Tapi apakah itu mungkin?
Sehun meremas stir mobilnya ketika dia baru ingat betapa keras kepalanya Luhan belakangan ini. Luhan seperti bukan Luhan, dia seperti orang lain, Luhan berubah.
"Appa…." Chaeri memanggil appanya dengan nada imut ketika gantian Chaeri melihat appanya yang kosong
"Ne Gongjunim…" Sehun kembali ke kesadarannya dan tersenyum
"Bagaimana appa dulu bisa jadian dengan eomma? Appa belum cerita bagian itu…" Chaeri yang duduk di samping kursi kemudi menatap Appanya lekat – lekat.
Sehun menghela napas lega. Untung dia punya topik pembicaraan dengan Chaeri, walaupun ini terkesan pembicaraan yang aneh, tapi setidaknya ini lebih baik daripada mereka hanya diam.
"Appa yang lebih dulu jatuh cinta pada eommamu… eomamu itu…. Susah untuk dibuat jatuh cinta…" Sehun tersenyum mengingat masa lalunya
"Lalu?" Chaeri nampak antusias kembali
.
.
.
Main Cast: EXO's SEHUN – Lu Han
SIDE Cast: Other EXO's Members + Wu Yifan.
.
.
.
.
This is Gender Switch!
.
.
.
Genre: Romance, comedy, drama, love story,
rate T, recommended for every HunHan Hard Shipper!
.
.
.
.
"How I Met Your Mother"
.
.
.
.
"Pertama, kau membuatku memikirkanmu... Kedua, kau membuatku peduli padamu… Ketiga, kau membuatku gila… Dan kali ini, kau membuatku selalu berusaha agar kau bahagia… Aku benar – benar menyukaimu…"
.
.
"How I Met Your Mother"
This is Chapter 4
"Special Gift"
.
.
No Bash. No Plagiarism. No Hate
Disclaimer:
Bila ada kesamaan cerita seperti ini, itu semua hanya ketidak sengajaan.
FF ini murni milik Aruna. Story plot, story line, story idea semua punya aruna.
EXO members punya SM dan EXOL, Wu Yifan punya Aruna. Kekekeke.
.
.
.
.
FF ini khusus dibuat dalam rangka Event "HunHan Bubble Tea Couple" yang menunjukkan kalau HunHan Shipper gak akan pernah mati, HunHan Shipper akan selalu ada dan memiliki ruang kejayaannya tersendiri. HunHan shipper, this story is for you!
.
.
.
"How I Met Your Mother"
.
.
Chapter 4: "Special Gift"
.
Seoul, 2012
"Ya… ada hubungan apa kau dengan Sehun?" Minseok berbisik pada Luhan, gadis chubby itu benar – benar ingin tau alasan mengapa Luhan memeluk Sehun di ruang praktik kesenian tempo hari.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengannya! Sungguh…" Luhan berkata dengan nada meyakinkan namun Minseok masih tetap tak percaya.
"Lalu mengapa kau memeluknya kalau tidak ada apa – apa, bahkan kau menangis!" Minseok masih ngotot
"Itu karena…. Sehun… Sehun membantuku untuk menangis," jawab Luhan enteng
"Mwo? Itu bukan jawaban Lu!" Minseok memekik
"Lalu kau menginginkan jawaban seperti apa? Apa kau ingin aku bilang bahwa aku dan Sehun memang ada hubungan khusus?" Luhan mulai kesal
"Baguslah, Aku tidak keberatan punya adik ipar sepertimu!" Yifan tiba – tiba ikut nimbrung dalam pebicaraan itu dan langsung saja mendapatkan death glare dari Luhan yang galak
"Adikku bukan namja yang mudah, berhati – hatilah" Yifan menepuk bahu Luhan lalu beranjak ke bangkunya
"Oh Yifan! Jaga bicaramu…" hardik Luhan
"Aku bicara serius… berhati – hatilah dengannya!" Yifan kembali pada buku bacaannya
"Memangnya adikmu kenapa?" malahan Minseok yang penasaran
"Adikku itu tipe orang yang sangat setia akan sesuatu, terutama jika dia sudah menyukai sesuatu itu… dia akan menyukai itu selamanya. Dan tidak akan berubah" ujar Yifan tanpa mengalihkan fokus dari buku yang dia baca,
"Contohnya?" Yixing yang dari tadi diam malah ikut tertarik dengan sosok Sehun
"Mmm… Kim Jongin, dia adalah satu – satunya sahabat adikku sejak mereka masih ingusan, dan sampai saat ini mereka tak terpisahkan walaupun sikap adikku seperti itu. Adikku menyukai Jongin, dalam artian dia sangat nyaman dengan Jongin sebagai sahabatnya, sampai dia rasa dia tidak perlu orang lain untuk dijadikan sahabat selain anak itu, mungkin jika Jongin tidak bergonta – ganti pacar aku sudah curiga mereka pasangan homo"
Semua teman – teman Yifan mengangguk, sisi lain seorang Oh Sehun kembali dia ungkap. Yifan memang sangat mengenal adiknya, bahkan dia sangat sadar jika sebenarnya dia juga adalah salah satu bagian dari hal – hal yang Sehun sukai.
"Jadi… aku rasa jika Sehun sudah memutuskan untuk menyukai seseorang, dia akan suka selamanya dan berusaha mendapatkannya. Maka dari itu, aku bilang kau harus hati – hati Luhan… hati – hati karena adikku akan berusaha keras untuk membuatmu balik menyukainya, Sehun sangat berbakat dalam hal itu" Yifan menatap Luhan tajam kali ini
"Semua namja juga begitu, jika dia ada mau pasti jadi sangat baik dan mengincar seseorang dengan semua gombalannya" Luhan meremehkan kata – kata Yifan
"Kalau aku tidak salah, aku pernah bilang kan kalau harga diri adikku itu sangat tinggi?" Yifan menatap tajam kedua mata rusa milik seseorang yang sudah diyakininya akan menjadi adik iparnya di masa depan itu dengan penuh intimidasi
"Sehun tidak akan pernah berubah menjadi orang lain, dia akan tetap menjadi Oh Sehun dan tidak akan melakukan sesuatu yang murahan untuk mendapatkan yang dia inginkan. Kau bisa buktikan omonganku nanti, jika Sehun sudah menyukaimu dan menginginkanmu, seluruh dunia dan alam semesta bahkan galaxy sekalipun akan membantunya untuk mendapatkanmu. Ini mungkin terdengar berlebihan, tapi aku hanya ingin kau tau saja jika adikku itu… bukanlah namja biasa…. Dia akan mampu membuatmu menyukai dia apa adanya dia, tanpa sekalipun memaksamu."
Yifan tersenyum singkat dan kembali ke buku pelajaran yang dia baca. Minseok dan Yixing mengangguk paham sementara Luhan hanya bengong. Gadis itu terlalu sibuk untuk tidak percaya apa yang Yifan katakan barusan. Bagaimana bisa seorang Oh Sehun yang sebegitu datar, dingin, tidak sopan dan suka menyakiti perasaan orang lain itu dicintai?
Ya memang Luhan akui, akhir – akhir ini Sehun memang membuatnya banyak merubah sudut pandangnya, terutama sudut pandangnya terhadap matematika. Dan ada beberapa kalimat yang Sehun ucapkan secara ketus namun itu sangat menyentuh hatinya, seperti…
"Wae? Apa orang yang tidak punya sopan santun juga pasti tidak bisa minta maaf?"
"Apa menghina orang lain itu prilaku yang sopan?"
"Lalu apa aku harus diam saja melihatmu begitu hanya karena aku bukanlah orang yang tau tata krama?"
"Kau seharusnya memahaminya, bukan menghapalnya…"
"Kau merindukan mereka! Kau hanya perlu mengakuinya"
Dan sadar atau tidak kini Luhan mulai memahami sosok seorang Oh Sehun. Yang walaupun dia dingin dan terkesan tidak pernah peduli pada apapun, tetapi dialah sosok yang nyatanya paling mengerti bagaimana rumitnya perasaan yang dia rasakan.
Luhan menggelengkan kepalanya. Menepis semua pikirannya barusan tentang Oh Sehun.
"Tidak… itu bukan rasa suka… itu hanya… aku hanya menyukainya sebagai seorang hobae!" batin Luhan yang tidak mau mengakui bahwa ya, dia sudah mulai menyukai anak nakal itu.
.
"Kau benar – benar menyukai sunabe itu?" tumben Sehun yang bertanya duluan pada Jongin
"Ng? Kau bertanya padaku?" Jongin balik bertanya dengan tatapan mengejek, namun Sehun hanya menatapnya datar
"Namanya Kyungsoo, Do Kyungsoo… Dia sangat berbeda dari gadis – gadis lain yang aku kenal. Dia bukanlah gadis yang mudah diraih, dia sangat tenang, cerah, pribadiinya menyenangkan dan banyak yang menyukainya. Aku benar – benar menyukai bagaimana cara dia tersenyum, tertawa, bicara bahkan…"
"Bahkan kau sampai ikut masuk kelas tambahan ekonomi dan bisnis hanya untuk bertemu dengannya"
Sehun memotong kalimat panjang Jongin dengan nada bicara seenaknya. Ini memang bukan pertama kalinya Sehun membuat topic untuk dibicarakan bersama Jongin, tapi biasanya jika sudah begitu itu artinya ada hal dari Jongin yang mengganggu Sehun.
"Eoh bagaimana kau tau?" Jongin langsung menoleh kearah Sehun, menatap sahabatnya dengan tatapan takjub
"Karena kau Kim Jongin!" jawab Sehun malas
Jongin kembali mengalihkan perhatiannya ke arah lapangan basket dan menarik napasnya cukup panjang, "Aku sudah bertekad mulai kelas dua nanti kita tidak akan sekelas lagi, mungkin aku akan masuk kelas 2-3 untuk mengambil major IPS" ujar Jongin tenang
Gantian Sehun yang melirik sahabatnya dan mengerutkan kening, "Kau tidak perlu merubah dirimu sendiri untuk mengejar orang lain, biarkan orang lain mencintaimu apa adanya…"
"Mungkin untukmu itu berhasil, tapi untukku… aku hanya bisa memikirkan cara ini, jika aku menyukai seseorang maka aku harus masuk ke dunia orang itu untuk bisa mengenalnya" sanggah Jongin dengan cepat
"Bagaimana jika orang itu ternyata tidak baik dan kau sudah terlanjur masuk ke dalam dunianya?" Sehun seperti menantang Jongin sekarang
Jongin tersenyum sinis kemudian menoleh pada Sehun lagi, "Eoh, seperti kau dan Luhan sunbae?"
"YAK!" Sehun mendelik dan meninggikan suaranya
"Aku tau… kau sudah jauh masuk ke dalam hidup sunbae galak itu… jika tidak mana mungkin kalian berdua sampai berpelukan dan menangis sendu seperti kemarin" ujar Jongin begitu enteng dengan senyum jahilnya ketika dia berhasil menebak apa yang sahabatnya rasakan itu
"Tutup mulutmu!" hardik Sehun seketika
"Tapi benar kan yang aku bilang, kau harus masuk ke dunia ornag yang kau sukai untuk bisa dicintai" Jongin tersenyum penuh kemenangan dan itu benar – benar menyebalkan bagi Sehun
Sehun mendengus kesal sebelum akhirnya dia menghela napas dan menjawab, "Bagian itunya sih benar, tapi untuk berubah menjadi orang lain yang bukan dirimu… aku tidak setuju…"
"Maksudmu?"
"Kau ingin jadi dokter! Itu cita – citamu. Kau bahkan menguasai Biologi lebih baik dari aku, dan apakah hanya karena Do Kyungsoo kau merubah cita – citamu?"
Dan itulah hal yang membuat Sehun merasa kesal dengan sahabatnya kali ini sehingga dia membangun sebuah topic pembicaraan. Jongin yang Sehun kenal selalu gigih meraih cita – citanya sebagai Dokter kini harus merelakan cita – cita itu demi seorang yeoja yang entah mau melihat Jongin atau tidak.
Dari tadi Jongin terus menghadap ke lantai dua gedung A dan Sehun tau ke kelas mana arah pandang Jongin. Sehun mengikuti pandangan Jongin dan mendapati seorang gadis bermata bulat sedang tertawa bersama teman – temannya, salah satunya bernama Baekhyun, Sehun tau yeoja ketua Osis itu. Sehun memandang Jongin dan objek yang dipandangnya secara bergantian. Dan di sana Sehun yakin jika Kim Jongin sahabatnya benar – benar sedang jatuh cinta.
"Yah… Oh Sehun, bagaimana jika mulai sekarang cita – citaku sekarang adalah Do Kyungsoo?"
Jongin berkata dengan nada penuh keyakinan dan sungguh – sungguh, Jongin masih menatap gadis bermata bulat yang kini sedang merangkul Baekhyun yang tadi menarik rambutnya
"Kau berlebihan!" tegas Sehun
"Tidak Sehun-ah…. Aku hanya…. Hanya saja baru kali ini aku benar – benar merasa jatuh cinta.." Jongin masih menatap ke lantai 2 dan memandang penuh harap pada gadis itu
"Bullshit… saat kau mengincar Soojung, Sulli, Yoobi dan yang lainnya kau juga bilang begitu" dengus Sehun tidak suka
"Tidak! Kali ini yang paling benar – benar. Melihat Kyungsoo sunbae saja aku sudah seperti terkena serangan jantung" Jongin memegang dadanya yang bergemuruh kencang. Dia tau dia belum pernah sejatuh cinta ini sebelumnya. Namun Sehun hanya memandang tidak suka pada apa yang Jongin lakukan. Sehun bukannya tidak suka Jongin jatuh cinta pada gadis bermata bulat yang jadi sunbaenya itu,
"Tapi aku tak setuju hanya karena kau mencintai dia kau merubah rencana masa depanmu!" itulah alasan Sehun tidak suka kali ini.
Jongin menatap Sehun untuk beberapa saat, Jongin tentu tau Sehun adalah seorang yang matematis, hal – hal irasional seperti cinta mana mungkin dimengertinya. Dan akhirnya Jongin menemukan perumpamaan yang tepat untuk sang sahabat kemudian berkata,
"Misalnya saja kau, kau ini orang yang dingin, wajah besi, berlidah tajam, tak tau sopan santun dan lain – lain… memangnya jika kau tidak berubah kau yakin ada orang yang akan menyukaimu? Anggap saja kau menyukai Luhan sunbae, apa kau yakin dia akan menyukaimu?"
"Aku menyukainya!"
"Luhan sunbae?"
Sehun mengangguk mantap. Jongin hanya terdiam. Remaja tampan dengan kulit tan itu sempat kaget sesaat, dia masih belum yakin bahwa Sehun baru saja mengatakan jika dia menyukai sunbae galak itu
"Kau serius?" tanya Jongin memastikan
"Ya… aku menyukainya…" jawab Sehun datar
"Baiklah berarti bukan misalnya lagi… sekarang, apa kau akan tetap jadi Oh Sehun yang datar dan dingin begini?" tantang Jongin lagi
"Tentu saja" Sehun mengatakannya dengan mantap
"Wae?" Jongin nampak tak terima
"Dia harus mencintaiku sebagai diriku sendiri. Sudah ku bilang kan, aku tidak mau dicitai sebagai orang lain!" Sehun menghenyakkan tubuhnya di kursi taman sekolah dengan santai
"Lalu jika dia tidak menyukaimu bagaimana?" tawar Jongin masih tak habis pikir
"Berarti dia bukan untukku" ujar Sehun santai kemudian memejamkan matanya dengan nyaman
"Kau gila!" tandas Jongin kemudian
"Kalau tidak gila berarti aku bukan Oh Sehun!" Sehun masih sempat menjawab rupanya
"Tapi baguslah… kau memang cocok dengan Luhan sunbae, ya setidaknya dimataku begitu" gerutu Jongin dengan senyum geli dan kembali menatap ke lantai 2 untuk melihat sunbae mata bulat pujaannya itu
"Ya… Kim Jongin… jangan berubah jadi orang lain hanya untuk Do Kyungsoo itu" bentak Sehun masih memejamkan matanya
"Percaya padaku! Aku akan tetap jadi Jongin sahabatmu walau cita – citaku berbeda… suatu saat kau akan bersyukur karena aku mengubah cita – citaku saat ini"
.
.
.
.
.
Seoul 2025
Dan Oh Sehun memang benar – benar bersyukur dulu Jongin merubah cita – citanya dari Dokter menjadi seorang Bisnis manager. Karena dengan begitu kini dia dan Jongin bisa merintis sebuah perusahaan property dimana Sehun menjadi arsiteknya dan Jongin yang mengelola bisnisnnya.
Sehun dan Chaeri baru saja selesai membayar belanjaan mereka. Banyak kantung belanja yang Sehun bawa di tangan kanan dan kirinya sementara si kecil Chaeri cukup memeluk sebuah boneka hello kitty yang tadi di dapatkannya dari bonus susu formulanya.
Kini keduanya memutuskan untuk makan ice cream terlebih dahulu sebelum pulang, dan ketika keduanya duduk tenang dan makan ice cream di salah satu meja food court tiba – tiba…
"Oh Sehun?" seseorang memekik dari belakang dan itu membuat Sehun dan Chaeri menghentikan acara makan ice cream mereka, keduanya meletakkan sendok ice cream dan menatap namja yang memanggil nama appa Chaeri
Sehun sedikit mengerutkan keningnya kemudian dia ingat, orang di hadapannya ini adalah orang yang dulu sering mendetensinya.
"Annyeonghaseo Park Sunbaenim" Sehun membungkuk dan Chaeri juga ikut membungkuk mengikuti sang Appa
"Aigo… bagaimana bisa disini? Kalian berbelanja? Dimana Luhan sunbae?"
Namja bertelinga peri itu nampak masih sama cerewetnya dengan dulu. Pertanyaan yang namja itu lontarkan masih sama panjangnya dengan pertanyaannya dulu.
"Kami baru selesai berbelanja kebutuhan bulanan…" ucap Sehun singkat tanpa menjawab pertanyaan terakhir. Tentu saja pertanyaan 'dimana Luhan' sangat mengganggunya.
"Aigo… ini Oh Chaeri? Daebak… kau sudah besar eoh?" Chanyeol langsung mengusak poni Chaeri dan si kecil hanya tersenyum geli dan imut
"Bukankah sunbae tinggal di New York?" tanya Sehun kemudian
Chanyeol sedikit melotot ketika Sehun bertanya padanya, ini pertama kali seumur hidup Chanyeol mendapatkan pertanyaan dari Sehun.
"Ah… aku dan keluarga baru saja kembali dari New York dan memilih untuk menetap di Korea. Oh ya, aku ingin meminta bantuanmu Sehun-ah… selama aku pulang hingga sekarang aku tinggal di apartemen, tapi anak – anakku seperti tidak nyaman dengan apartemen. Anakku kembar, mereka banyak bergerak dan aku ingin mebuat sebuah rumah. Jadi, aku ingin meminta bantuanmu untuk membuat rumah keluargaku" ujar Chanyeol santai dengan senyum konyolnya, selalu.
"Ne sunbae, tentu saja… kau bisa datang ke kantorku besok. Kau sudah dapat alamat kantorku?" tanya Sehun lagi
"Tentu, Baekhyun sudah menanyakannya pada Kyungsoo."
GUBRAK! BRUGH!
Terdengar suara gaduh dari arah belakang Chanyeol dan begitu Chanyeol membalikkan badannya dia sudah mendapati sebuah meja food court terbalik dengan segala isinya berserakan.
"YAK! Park Chelsea! Park Jesper! Apa kalian tidak bisa makan dengan tenang?" pekik Chanyeol kemudian
"Kenapa kalian selalu berisik ketika eomma kalian tidak ada eoh? Eomma kalian hanya meninggalkan kalian ke toilet dan aku hanya menyapa kawan lama tapi kalian sudah menghancurkan food court… daebak… anakku memang daebak" gerutu Chanyeol sambil membereskan kekacauan yang kedua putra dan putri kembarnya lakukan
Chaeri hanya menatap kedua anak kembar yang sepertinya berusia 1 atau 2 tahun diatasnya itu dengan seksama. Namun kedua mata sipit Chaeri bertatapan dengan salah satu dari kembar itu, anak yang bernama Jesper. Cukup lama keduanya saling tatap hingga Chanyeol memaksa anak itu bersama kembarannya yang cantik untuk turun dan kembali ke mobil.
"Sehun-ah… besok aku akan ke kantormu, kita bicarakan semuanya ne… aku permisi dulu sebelum si kembar menghancurkan seluruh isi mall ini" Chanyeol berpamitan kemudian menyeret kedua anak kembarnya itu dengan seksama.
1 jam kemudian Sehun dan Chaeri sudah sampai di rumah mereka. Sehun segera menuju ke dapur dan membongkar isi belanjaannya.
"Appa, tadi di sekolah Taeoh bilang jika eommanya sedang hamil, itu artinya dia akan segera punya adik!" Chaeri bicara pada Appanya yang kini tengah sibuk memasukkan satu persatu buah – buahan ke dalam kulkas
"Ne… Taeoh akan segera punya adik!" timpal Sehun yang sudah jelas dan tau pasti kemana arah pembicaraan putrinya ini
"Joon Oppa juga sudah punya adik… Jongseok Oppa juga sudah punya adik…. Joonyi eonni juga… Mmmm…" Chaeri tidak melanjutkan kalimatnya, dia yakin pasti appanya akan kembali murung jika membicarakan itu.
TING TONG
"Biar aku yang buka pintu Appa!"
Chaeri berlari cepat ke pintu depan rumahnya, dalam hati kecilnya dia sangat berharap itu adalah sang eomma yang datang dengan senyum cantik di wajahnya seperti biasa. Kalau boleh juga Chaeri berharap sang eomma datang dengan kue coklat.
Ceklek
"Hello my Princess…"
Sedikit kecewa mendapati sosok lain yang bukan eommanya, namun Chaeri tidak bisa tidak bahagia karena yang datang adalah…
"Uncle FanFan!"
"Eoh… sudah berapa kali Daddy bilang… jangan panggil aku uncle, panggil aku Daddy Fanfan! Aku bukan pamanmu, aku Daddymu princess…"
Yifan meraup Chaeri ke dalam gendongannya dan menciumi pipi gembul ponakan yang selalu dia aku – akui sebagai anaknya, maklum, kedua anaknya adalah laki – laki
"Joon Oppa tidak ikut?" tanya Chaeri lucu
"Tidak, Oppamu belum pulang Hagwon sayang,.." Yifan mengusak poni Chaeri dan mencubit pelan pipinya
"Dimana Appamu?"
"Aku di dapur hyung…"
Yifan langsung masuk ke dapur dan mendapati adik tercintanya sedang duduk di lantai menghadapi kulkas yang terbuka dan memasukkan beberapa isi kulkas ke tempatnya.
Yifan memaksakan senyumnya agar terlihat biasa, Sehun terlihat jauh lebih kurus dari terakhir dia bertemu adiknya itu sekitar… sebulan yang lalu saat Joon putra sulungnya ulang tahun.
"Zitao menitipkan ini untukmu dan Chaeri" Yifan meletakkan Tupperware bag ke atas meja makan, tas itu berisi berbagai macam makanan yang istrinya buatkan khusus untuk adik iparnya yang ditinggal istri itu.
Yifan menurunkan Chaeri dan gadis itu pun segera membuka isi tas dan mengeluarkannya, Yifan cukup kaget dengan kemampuan Chaeri yang bisa dibilang jadi…. Sedikit lebih dewasa dari Chaeri manja yang dia kenal.
"Kau baik – baik saja? Kau terlihat pucat" Yifan bersandar pada kulkas dan melihat adiknya masih menata isinya
"Aku baik, hyung…"
Dan Yifan tau betul, jika sudah ada embel – embel hyung di belakangnya ketika anak itu bicara padanya maka sesuatu pasti tidak baik
"Apa Luhan sudah memberi kabar untukmu?" tanya Yifan begitu Sehun selesai menutup kulkas
Sehun berdiri dan mengambil kantung belanja yang lain dan beranjak sambil menjawab, "Tidak sama sekali, aku juga sudah berhenti menghubunginya sejak… kemarin"
"Kenapa?" Yifan langsung kaget
"Aku tidak ingin memaksanya, jika dia ingin pergi maka biar dia pergi, aku tak ingin memaksanya kembali jika dia tidak mau"
Ucap Sehun seraya memasukkan deterjen, pewangi pakaian, sabun pembersih lantai, dan kawan – kawannya ke dalam lemari persediaannya.
"Apa kau akhirnya menyerah?" Yifan masih asik menyilangkan tangannya dan mengintrogasi sang adik
"Aku tidak menyerah hyung, justru diamku ini adalah sebuah perlawanan, aku tau aku salah. Dan aku tau Luhan pasti pulang padaku dan Chaeri. Dia tau kami membutuhkannya" Sehun akhirnya menutup pintu persediaan dan kembali ke dapur, mencuci wadah – wadah Tupperware yang tadi Yifan bawa.
"Kau tidak ada sidang Hyung?" tanya Sehun ketika sang kakak hanya mengikutinya saja
"Baru saja selesai, jika kau butuh lawyer kau bisa memanggilku. Aku akan jadi kuasa hukummu!" ujar Yifan dengan senyum sinis
"Kau memang kuasa hukumku bahkan sejak aku terlahir di dunia ini hyung!" jawab Sehun santai masih sambil mencuci
"Baguslah kalau kau tau, ya… jangan terlalu stress, Chaeri butuh appa yang sehat!" ujar Yifan sambil memandang ponakan cantiknya bermain dengan boneka hello kittynya tadi.
.
.
.
.
.
Seoul 2012
Ini sudah jam pulang sekolah dan Sehun berjalan santai sambil mengantongi tangannya di saku celana, itu adalah kebiasaan Sehun berjalan dan tingkah itu juga membuat Sehun jadi keliatan cool. Baru sampai di sekitar pohon yang tertanam rindang dekat lapangan basket, Sehun menghentikan langkahnya. Anak itu sedikit menunduk dan melihat kearah semak – semak yang bergerak – gerak tak jelas.
Semakin Sehun perhatikan semak – semak itu semakin berguncang dan karena penasaran Sehun lantas melajukan langkahnya mendekati semak itu.
"Apa yang kau lakukan?" Luhan yang baru datang memergoki Sehun yang sedikit menghendap ke arah semak
Sehun menolehkan wajahnya dan menatap datar Luhan di hadapannya. Beruntung dia punya poker face jadi dia bisa menyembunyikan detakan jantungnya yang tidak normal
"Sehun-ah!" sebuah suara lain memanggil nama Sehun dari arah yang berlawanan. Luhan memiringkan kepalanya sedikit dan melihat sesosok yeoja mungil yang sangat cantik setengah berlari ke arah Sehun
Sehun juga menolehkan kepalanya dan mendapati teman sekelasnya itu mendekat.
"Sehun-ah… apa boleh aku pinjam catatan matematikamu?" tanya yeoja itu lengkap dengan puppy eyesnya
"Untuk apa?" ketus Sehun dan Luhan yang melihatnya hanya mengerutkan kening, Sehun ini kasar sekali pada yeoja, itu yang dipikirkan Luhan
"Aku tadi ketinggalan saat menyalin catatan Kang saem, maka dari itu aku pinjam padamu, punyamu pasti lengkap" yeoja itu sedikit beraegyo pada Sehun
Sehun menajamkan matanya dan sedikit menarik sudut bibirnya keatas
"Punyaku dipinjam Jongin" ujarnya masih sama datar dan sama dinginnya
"Benarkah? Ng… kalau begitu boleh aku pinjam catatan fisikamu?" pinta yeoja itu lagi
Sehun semakin melebarkan smirknya dan mendekat kearah sang yeoja, sementara Luhan…. Gadis itu masih setia diam di tempat.
"Kau pikir aku siapamu? Seenaknya saja meminjam catatan padaku! Apa tidak ada orang lain di kelas selain aku yang bisa kau pinjami?" Sehun memprotes dengan nada tenang namun terdengar cukup dingin dan tak peduli
"Aahahaha… aku meminjamnya padamu karena aku yakin kau pasti punya yang lengkap… kau kan peringkat satu semester ini jadi…"
"Shireo! Aku menjadi peringkat satu bukan untuk dipinjami catatan! Pergilah…"
Yeoja cantik itu hanya menatap Sehun dengan tatapan penuh harap, tatapan itu berlangsung cukup lama sebelum akhir yeoja itu pamit dan undur diri dari hadapan Luhan dan Sehun.
"Ya… kau ini memang anak yang kasar" gerutu Luhan kemudian mendekat kearah semak yang bergerak
Sehun tidak merespon apapun dia hanya diam ditempat dan melihat Luhan berjongkok di hadapan semak – semak itu.
"Memang apa salahnya sih meminjamkan catatanmu pada teman sekelasmu sendiri?" tanya Luhan dan yeoja itu nampak yakin Sehun mendengarnya
"Sudah ku bilang, aku menjadi peringkat satu bukan untuk dipinjami catatan… lagipula aku tidak mau meminjamkan catatan kepada siswa yang kerjanya hanya mengobrol di kelas" Sehun berujar dengan nada dingin dan datar seperti malas untuk menjawab
"setidaknya kan…"
"Jika aku meminjamkannya catatan itu sama saja dengan aku mendukungnya untuk ngobrol di kelas, jadi siswi yang malas dan tidak mengikuti kelas dengan benar. Sekali dipinjami catatan maka dia akan merasa aman dan nyaman untuk melakukannya lagi, mengobrol dikelas dan meminjam catatan lagi. Aku tidak mau dia menjadi orang yang malas…. Makanya aku tidak mau meminjamkan catatanku padanya…"
Sehun berkata panjang lebar lagi, dan Luhan sedikit kaget dengan alasan Sehun barusan, mengapa dia tidak meminjamkan catatannya.
"Lalu kenapa kau meminjamkan catatan matematikamu pada Jongin?"
"Karena saat jam matematika dia dipanggil ke ruang guru untuk persiapan olimpiade biologi" jawab Sehun cepat.
Luhan bangkit dari semak – semak dan berbalik menghadap Sehun, "Arraseo… tapi lain kali gunakanlah cara yang lebih lembut dan sopan untuk menolak temanmu, bukan dengan cara seperti tadi"
"Shireo…" singkat sehun
"Wae?" Luhan makin tidak mengerti
"Jika aku lembut padanya dia akan menyukaiku"
"Woah… percaya diri sekali anak ini rupanya… aaaah…" Luhan berkata dengan ekspresi tidak habis pikirnya, anak di hadapannya ini selain kasar dan tidak sopan rupanya dia narsis juga.
Luhan kembali berjongkok dan menghadap ke semak yang bergerak di depannya, Sehun hanya memperhatikan apa yang Luhan lakukan dan ketika Luhan mengeluarkan sebuah kotak Sehun mengerutkan keningnya.
"Sssst…. Tadi pagi aku menemukannya di perjalanan ke sekolah! Aku akan membawanya pulang bersamaku!" ujar Luhan dengan senyum bahagia dan ceria namun disambut dengan sebelah alis Sehun yang terangkat
PUK
Sebuah kepala anjing kecil muncul dari dalam box yang luhan pegang, anjing kecil berwarna hitam dengan telinga lepek.
"Aku belum memberinya nama, kau mau menyumbangkan nama?" tanya Luhan pada Sehun
Sehun memiringkan kepalanya dan menatap mata bundar anjing itu, mirip mata sunbae yang diincar Jongin. Tapi walaupun matanya bundar, ekspresi anjing itu sungguh tidak begitu bagus… benar – benar datar dan terkesan malas.
"Kkamjong" ujar Sehun dengan raut wajah datar
"Kkamjong?" Luhan bertanya pada Sehun karena nama itu terdengar aneh untuk nama anjing
"Itu ejekkanku untuk Jongin… dia juga hitam makanya aku panggil dia Kkamjong" jawab Sehun ringan
"Kau mau memberi nama anjing ini sama dengan nama Jongin? Ya… kurang ajar sekali.." Luhan mengerutkan kening begitu mendengar alasan Sehun yang menurut Luhan tidak manusiawi
"Tapi itu bagus… mereka sama – sama hitam!" jawab Sehun santai
"Baiklah… aku akan memberikannya nama… Sehun…"
"Wae?" giliran Sehun yang tidak terima
"Coba kau lihat… kalian berdua sama – sama tanpa ekspresi… ahahaha… Sehunnie… namamu Sehunnie" pekik Luhan seenaknya.
.
Luhan benar – benar memberi nama Sehun pada anjing hitam berwajah datar dan berbadan gembul itu. Luhan benar – benar merawat Sehun di rumah dengan baik, memberinya makan dan minum susu setiap hari.
"Kau mau makan ramyeon?" tanya Luhan ketika lagi – lagi Sehun mengantar yeoja itu pulang setelah kelas tambahan matematikanya
Auk Auk
"Ahhh… Sehun pasti lapar" ujar Luhan ketika dia mebuka pintu gerbang rumahnya
"Apa kau benar – benar memberinya nama Sehun?" Sehun medelik tidak suka ketika Luhan menganggukkan kepalanya dengan mantap
"Ayo masuk…" Luhan mengajak Sehun masuk ke rumahnya dan Sehun hanya mengikuti karena penasaran dengan anjing itu.
"aaah Sehunnie annyeong! Kau merindukan noona eoh?" Luhan langsung memeluk Sehun si anjing kecil di hadapan Sehun si namja tampan dengan wajah besi itu
Sehun hanya menjilati wajah Luhan dan yang dijilati hanya tertawa saja. Sehun menatap aneh pemandangan di hadapannya, bagi Sehun nama Sehun sangat tidak cocok untuk anjing itu.
"Duduklah… aku akan menyiapkan makanan untuk Sehun" Luhan berujar ceria
"Ya… apa kau tidak berpikir bahwa aku tersinggung jika kau memberinama mahluk ini dengan nama Sehun?" Sehun menggerutu asal
"Untuk apa harus memikirkanmu, toh dia anjingku kan" Luhan berteriak dari dapurnya
"Kau menyamakan aku dengan anjing?" bisik Sehun yang kini menatap Sehun si anjing kecil dengan tatapan sebal
"Jja… ayo Sehunie.. makanlah… dan jangan lupa susunya diminum ne…" Luhan berujar lembut kemudian meninggalkan ruang tengah rumah mungilnya dan kembali ke dapurnya, memasak ramyeon untuk Sehun yang berwajah besi
Sehun terus meperhatikan anjing kecil berwarna hitam itu dengan pandangan kesal, bagaimana bisa dia disamakan dengan anjing hitam yang tidak lucu ini. Menyebalkan…
BUG
AIING…
Sehun baru saja menekan kepala si anjing kecil hingga tenggelam ke dalam mangkuk susunya. Anjing kecil itu langsung menatap Sehun tidak suka dan Sehun balik menatap si anjing dengan tatapan lebih tidak suka.
Luhan yang diam – diam melihat tingkah kekanakan Sehun itu hanya bisa tersenyum geli. Dia tidak menyangka jika dibalik sikap dingin dan kasar Sehun, anak itu juga sangat kekanakan sebenarnya. Lagi – lagi Luhan tersenyum geli dan…
DEG
"Kenapa aku merasa sebegini bahagia hanya dengan melihat tingkah Sehun seperti itu…?"
Luhan menggelengkan kepalanya lalu menepis semua pikirannya itu sebisa mungkin, sejauh mungkin, sejauh – jauhnya tapi tetap saja… dia tidak mengerti akan perasaannya sendiri.
"Jja… makanlah…" ujar Luhan meletakkan sepanci ramyeon di meja mungil rumahnya
"Apa kau tidak punya bahan makanan lain selain ramyeon?" tanya Sehun dengan kening mengait
Luhan menggeleng dan kemudian tersenyum, "Aku suka makan ramyeon"
Sehun tak lagi berkomentar namun memakan ramyeon yang sudah Luhan masak untuknya. Bisa dibilang ini adalah kegiatan rutin Sehun dan Luhan setiap senin dan kamis, makan malam bersama di rumah Luhan. Dan selalu makan ramyeon.
Tidak butuh waktu lama, Sehun dan Luhan selesai makan, Luhan segera membawa semua prabot kotor ke dapur dan mencucinya, sementara Sehun, namja yang lebih muda dua tahun dari Luhan itu asik bermain dengan Sehun yang lain.
"Anjing ini pintar…" ujar Sehun begitu Luhan ikut bergabung di ruang tengah
"Makanya aku beri nama dia Sehun" dan jawaban itu membuat Sehun kembali mendelik
"Apa itu?" tanya Sehun begitu dia melihat Luhan membawa sebuah benda kotak yang cukup besar.
"Ini adalah album keluargaku dulu… saat aku masih berusia 5 tahun, sebelum appaku sakit dan meninggal" ujar Luhan dengan senyum manis
Luhan membuka album itu dan mengambil satu foto dan dia pindahkan ke sebuah bingkai.
"Ini adalah satu – satunya foto keluarga yang aku punya… Appa, Eomma dan… aku" Luhan menyerahkan foto itu pada Sehun
Sehun menatap lekat – lekat foto itu cukup lama, menurut Sehun, Luhan sangat mirip dengan sang Appa, matanya, hidungnya dan bibirnya… hanya bentuk wajah Luhan yang mirip dengan sang eomma. Dan Sehun juga menangkap senyum yang sangat manis dan ringan dari sunbae galaknya itu.
"Aku akan memajang foto ini tepat di sebelah tempat tidurku, maka aku bisa melihat kedua orang tuaku tersenyum padaku setiap hari… aku memikirkan kata – katamu Sehun-ah… dan kau benar… aku merindukan mereka" kata Luhan dan mengambil bingkai foto itu lagi
"Ya… aku punya penawaran menarik untukmu!" kata Sehun tiba – tiba
Luhan hanya bisa memiringkan kepalanya untuk bertanya apa maksud anak itu.
"Jika kau mendapatkan nilai matematika tertinggi saat ujian kelulusan nanti, kau akan mendapatkan hadiah dariku." Kata Sehun sambil menatap bingkai foto yang Luhan pegang
"Ya… mana mungkin aku bisa mendapatkan nilai terbaik di matematika? Kakakmu itu sanga pintar dan…"
"Kau akan menyesal jika kau tidak mendapatkan hadiah ini… aku serius" kata Sehun mantap
"Memangnya apa hadiah itu?" tanya Luhan penasaran
"Aku kau tidak perlu tau itu sekarang… yang jelas kau harus mendapatkan peringkat terbaik pada mata pelajaran matematika!" tantang Sehun lagi
Luhan hanya menatap Sehun dengan tatapan keragu – raguan, dia sangat ingin mendapatkan hadiah karena jujur saja, dia tidak pernah mendapatkan hadiah apapun untuk setiap prestasi yang dia buat.
"Aku akan membantumu… tenang saja…" Sehun berkata mantap seraya memicingkan matanya pada Luhan. Pandangan itu yang tidak disukai Luhan, rasanya seakan Sehun meremehkannya
"Tidak usah… kau tidak usah membantuku tapi aku menerima tawaranmu!" tantang Luhan lagi
"Call! Tapi jika kau gagal… kau harus memberi sesuatu padaku" ujar Sehun lagi
"Call!"
.
Semenjak Luhan menerima penawaran itu, Luhan tidak pernah menampakkan batang hidungnya di kantin. Luhan seperti mendapatkan dorongan yang besar untuk mempelajari matematika. Sudah hampir seminggu Luhan tidak bertemu dengan Sehun karena kelas tambahan matematika mereka sudah dihentikan oleh pihak sekolah. Sebenarnya kepala sekolah sih yang memberhentikannya, kepala sekolah khawatir karena sang putra bungsu selalu pulang diatas jam 10 malam setiap senin dan kamis. Dan kelas tambahan untuk kelas 3 yang akan ikut ujian bulan February tahun depan juga sudah mulai dilaksanakan.
Ini bulan desember. Dan tepat sebulan setelah ulang tahun Yifan, salju pertama turun. Luhan baru saja masuk ke dalam areal sekolah dan menggendong tas besarnya.
"Salju pertama….." Luhan mengembangkan senyumnya manis, dengan cepat yeoja itu menakupkan kedua tangannya dan berdoa dengan menutup mata.
"Amin" katanya kemudian gadis itu membuka matanya dan…
"WOAH! YA!... kau membuatku kaget!" pekik Luhan begitu melihat Sehun tepat berada di hadapannya
Sehun hanya diam saja dan menatap Luhan dengan tatapan yang bahkan lebih dingin dari suhu udara hari ini.
"Ya…. Kenapa kau menatapku seperti itu?" Luhan memandang aneh hobae wajah besinya itu, kegalakan yeoja itu nampak kumat lagi karena diganggu Sehun.
Bungsu keluarga Oh itu menatap tajam sunbae galaknya cukup lama dan kemudian dia menarik sudut atas bibirnya dan tersenyum sinis dan pergi begitu saja.
"Anak aneh…" Luhan mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya melihat aksi adik teman sekelasnya itu.
Dan dari kejauhan Yifan yang baru saja keluar dari mobil sang appa melihat bagaimana cara Sehun menatap Luhan. Yifan yakin, itu bukan hanya tatapan biasa.
"Kau merindukannya eoh?" gumam Yifan yang hari ini datang ke sekolah dengan jaket tebal, sweater dan hidung memerah
"Minumlah coklat panas di cafeteria dan jangan banyak berpikir dulu… jika kepalamu sakit lagi segeralah ke klinik sekolah" ujar sang kepala Sekolah sebelum meninggalkan anak sulungnya
"Kau masih flu?" Luhan menghampiri Yifan yang juga sama – sama melewati lorong untuk sampai ke lantai 3
Yifan mengangguk dan dia langsung mengantungi kedua tangannya ke dalam saku jaket tebal yang dia pakai
"Aku bahkan tidak boleh keluar kamar tanpa masker karena eomma takut Sehun juga tertular" gumam Yifan dengan suara bengeknya
"Bisakah kau memilih topik yang lain selain adikmu?" tanya Luhan sinis, Yifan sudah terbiasa dengan itu
"Wae? Bukannya kau menyukai 'topik' itu?" Yifan yang bengek masih sempat menggoda gadis yang diyakininya akan menjadi adik iparnya di masa depan
"Tidak sama sekali" ketus Luhan
"Berarti 'topik' itu yang menyukaimu" ujar Yifan lagi
"Bisakah kau diam tuan Oh?" Luhan mendelik pada Yifan saat mereka berdua melewati lorong kelas 1
"Kata eomma saat aku sakit memang aku akan jadi sangat cerewet" Yifan tersenyum manis dan Luhan hanya memukul bahu Yifan beberapa kali.
"Oh Yifan SUNBAE!"
Yifan jelas sekali mengenal siapa pemilik suara itu. Siapalagi jika bukan adiknya,
"Ne… Oh Sehun…. Hobae?" Yifan berhenti di depan kelas adiknya namun tidak dengan Luhan yang tanpa merubah eksresi judesnya langsung naik ke tangga menuju lantai dua
"Aku tidak suka dengan apa yang kau lakukan, sunbaenim" ketus Sehun pada kakak kandungnya sendiri
"Tenang saja… aku tidak akan merebut apapun darimu, hobaenim" kekeh Yifan dengan hidung semerah tomat cherry
"Ya… jika kau sakit seharusnya kau tidak masuk!" Sehun kembali ke mode normal, tanpa embel – embel sunbae lagi pada kakaknya
"Bagaimana bisa aku tidak masuk jika aku punya rival baru di sekolah?!" Yifan memicingkan matanya pada sang adik bermaksud menintimidasi
Sehun hanya menaikkan satu alisnya dan Yifan mengerti apa artinya itu.
"Gadis yang barusan berjalan di sebelahkau, tentu kau sudah tau siapa namanya kan? Dialah rival baruku… aku tidak tau apa yang terjadi tapi anak itu sekarang sangat rajin belajar. Dia tidak pernah lepasdari buku dan perpustakaan… terutama hal – hal berbau matematika… anak itu seperti akan ikut olimpiade tingkat galaxy atau apa… belajarnya seperti orang gila!" gerutu Yifan mengutarakan kekesalannya.
Yah… Oh Yifan… anak itu walaupun terlihat sama cueknya dengan Sehun tapi dia tetap saja tidak mau peringkat juara satu abadinya runtuh di tahun terakhirnya sekolah. Amat sangat tidak mau.
"Semoga beruntung" sahut Sehun tanpa rasa peduli sama sekali
"Geurae… kau juga…" Yifan mengedikkan dagunya dan Sehun melihat arah pandang Yifan. Yifan memandang seorang teman sekelas Sehun yang sangat cantik yang barusan tertangkap basah mencuri – curi pandang ke arah Sehun. Siswi itu adalah siswi yang sama yang dulu sempat ingin meminjam catatan Sehun
.
Jongin menghela napas berat ketika dia melihat sebuah kursi kosong di sebelahnya. Sehun melewatkan kelas pertama. Entah kemana anak itu tapi Jongin yakin pasti ada kaitannya dengan si sunbae galak itu. Ya… hanya sesuatu tentang Luhan lah yang selalu membuat Sehun menjadi sepenasaran itu.
Dan Sehun lagi – lagi berdiri di atap gedung B untuk mencuri pandang ke kelas sang kakak di lantai 3 gedung A. Di tempat yang sama dengan tempat Sehun mengintip Luhan saat awal tahun ajaran lalu.
Sehun dengan jelas melihat bahwa kelas itu adalah kelas matematika. Tidak seperti awal tahun lalu dimana gadis galak bermata rusa selalu menggaruk kepalanya dan mencocokkan pekerjaannya dengan pekerjaan teman sebangkunya, tapi kini Luhan terlihat lebih tenang dan menulis dengan cepat di sebuah kertas untuk menjawab berbagai macam soal. Sesekali bahkan Luhan membuka beberapa buku catatan dan buku paketnya.
"Hmmm…. Kyeopta…" bisik Sehun dengan senyum gelinya.
"OHO…. KAU DISINI LAGI~~?"
Dan mendadak mood Sehun jadi sangat buruk ketika melihat sang ketua kedisiplinan ada dibelakangnya. Apa orang ini punya radar atau CCTV tersembunyi atau bagaimana sih, setiap Sehun bolos pasti saja sunbae bertelinga peri ini menangkapnya
"Sebenarnya apa sih yang kau lakukan disini? Aku bahkan tidak sekali melihatmu ada di sini… ya… apa yang kau lakukan?" tanya namja itu penasaran, namja bername tag Park Chanyeol itu tak begitu galak lagi pada Sehun. Mungkin sudah terbiasa…
"Jadi apa hukumanku kali ini?" Sehun menantang sunbaenya dengan tatapan minta di lempar ke samudra hindia
"Temui seorang di kelas 2-3 yang bernama Do Kyungsoo saat jam istirahat, dan bilang kau adalah relawan barunya untuk hari ini sampai…. 3 hari ke depan" ujar Chanyeol dengan nada tenang dan bahagianya
"Do… Kyungsoo?"
"Jangan bilang kau tidak mengenalnya…" Chanyeol memicing pada Sehun namun Sehun hanya buang muka dan meninggalkan Chanyeol sendirian
"Jangan kabur! Ingat! Setiap istirahat!" pekik Chanyeol yang tanpa memekikpun sebenarnya Sehun masih bisa degar.
.
Dan begitu jam istirahat berbunyi, disinilah Sehun berdiri… kelas 2-3.
"Eoh… kenapa kau disini?" seorang yeoja bername tag Byun Baekhyun bertanya pada hobae wajah besi yang sudah ada di pintu kelasnya
"Aku mencari Do Kyungsoo sunbae…" jawab Sehun cepat
"Kyungsoo?" Baekhyun bertanya bingung namun tak lama kemudian seorang yeoja manis bermata bulat datang dengan senyum riangnya
"Ng? Ada apa?" tanya yeoja manis itu begitu melihat sang hobae menatapnya seperti menatap mangsa
"Aku…. Aku adalah relawanmu untuk… 3 hari ke depan…" ujar Sehun dengan nada malas
"Aaah… khajja… kalau begitu ikut aku ke perpustakaan.." ajak yeoja imut itu lalu berjalan beriringan dengan Sehun.
Seluruh siswa melihat bagaimana Sehun berjalan beriringan dengan Kyungsoo. Mengingat banyak sekali yeoja yang mendambakan sosok Sehun. Semua siswi bahkan seperti menatap tidak suka pada Kyungsoo.
"Perpustakaan perlu di tata ulang, jadi tim relawan sekolah akan membantu pengurus perpustakaan untuk merapikan buku di sana. Dan beberapa buku baru juga datang hari ini… jadi kita bisa sekalian memberi label dan membereskannya" ujar Kyungsoo ceria,
Sehun sedikit aneh melihat sosok sunbae mungil yang diincar oleh sahabatnya ini. Bagaimana yeoja ini bisa selalu tersenyum bahagia dan selalu cerah ceria begini. Sangat berbeda dengan Luhan… ah… lagi – lagi Luhan yang dipikirkan oleh Sehun. Sehun jadi kesal sendiri pada dirinya, kenapa setiap hal yang dia lihat, jalani, dan rasakan selalu berkaitan dengan Luhan, memangnya Luhan apa hingga selalu ada dimana – mana untuk Sehun?
"Luhan sunbae… kau diperpustakaan lagi?"
Benar kan?! Luhan selalu ada dimana – mana bagi Sehun. Barusan Kyungsoo menyapa sosok sunbae galak yang kini sedang duduk di anatara tumpukan buku matematika di perpustakaan. mengerjakan banyak soal dan terlihat banyak bekas kertas orat oret di sekitarnya
"Ujian akhir sebentar lagi… aku tidak mau memperburuk nilai matematikaku Kyungie-ah" ujar yeoja itu tanpa melepas tatapannya dari soal – soal itu, dan nampaknya Luhan tak sadar ada Sehun juga di sana.
"Hobae-ah… kau bisa bergabung di sana dengan relawan yang lain… tunggu disana aku akan mengambil beberapa label buku untuk kalian pasang" Kyungsoo menginstruksikan perintah dan Sehun mengikutinya
Sehun berjalan ke rah rak buku dimana seorang siswa juga sedang menyusun tumpukan buku sesuai dengan temanya.
"Jadi kau menghilang di setiap jam istirahat untuk menjadi relawan?" Sehun bertanya dengan nada sinis pada siswa yang merapikan buku itu
"Oh… Sehun… kenapa bisa di sini?" tanya Jongin yang melotot kaget
"Detensi dari si telinga lebar itu" ujar Sehun datar
"Kau…. Membersihkan kamarmu saja mustahil… sekarang kau membersihkan perpustakaan sekolah?" Sehun lagi – lagi bertanya sinis pada Jongin
"Sudah kubilang kan… aku menyukainya" Jongin hanya tersenyum
"Kau merubah dirimu terlalu banyak…" Sehun menggerutu lagi
"Yeoja itu juga merubah dirinya terlalu banyak" Jongin menunjuk Luhan dengan dagunya
"Aku selalu melihatnya di perpustakaan setiap jam istirahat, jam makan siang dan jam kosong lainnya. Dia selalu belajar matematika seakan – akan hanya mata pelajaran itu yang dia pelajari. Menurut informasi dari penjaga perpustakaan, Luhan dulunya alergi dengan buku matematika… jadi… boleh aku tau apa alasannya hingga kini dua musuh bebuyutan itu jadi sepasang kekasih seperti itu?" Jongin kembali menunjuk Luhan dengan dagunya
"Aku sedang membuatnya mencintaiku" Sehun menarik sudut bibirnya keatas dan melirik Luhan dengan lirikan tak bisa diartikan
"Jongin-ah… bisa tolong letakkan ini di lemari paling atas? Dan Sehun tolong kau urutkan buku yang berjudul sama di kotak itu ne…" Kyungsoo datang menghentikan obrolan dua sahabat itu
"Ne sunbae" jawab Jongin semangat namun Sehun hanya diam dan langsung melaksanakan tugas.
Dalam hati Sehun tertawa terbahak. Satu hal yang dia yakini, cinta bisa merubah segala hal. Cinta bisa merubah Sehun yang tidak peka menjadi peduli, cinta bisa merubah Jongin yang malas bersih – bersih menjadi relawan perpustakaan, cinta bisa merubah Luhan yang memusuhi matematika hingga kini seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Dan cinta juga merubah seorang Oh Yifan.
Sehun selalu merasa sesuatu yang aneh terjadi pada sang kakak semenjak beberapa bulan yang lalu. Setahu Sehun, sang kakak bukanlah namja yang suka keluar rumah. Yifan pun tidak menyukai Hagwon, dia lebih menyukai guru privat datang ke rumah, tapi… semenjak masuk ke semester dua… Yifan malah memulai Hagwon dan bahkan sering keluar dengan alasan mengerjakan tugas dengan guru Hagwon. Padahal sepengetahuan Sehun, Yifan bukanlah orang yang butuh guru Hagwon untuk sekedar mengerjakan tugas.
"Kau mau kemana Yifan?" Jaejong bertanya pada anak Sulungnya yang kini sudah berdandan rapi lengkap dengan baju hangatnya.
"Hagwon" semoga kalian tidak lupa jika Sehun dan Yifan adalah orang yang paling pandai memberi jawaban singkat
"Tapi kau masih flu, udara di luar sangat dingin dan appa tidak di rumah untuk mengantarmu" Jaejong terlihat begitu khawatir pada putranya itu
"Dwaeseoyeo, aku akan naik sepeda" jawab Yifan seenaknya
"Oh Yifan! Kau masih sakit nak… eomma tidak mau kau semakin parah dan…"
"aku juga tidak mau peringkatku turun ke nomor dua!" desis Yifan namun dia menatap lurus pada sang adik yang kini ada tepat di belakang sang eomma
Jaejong menatap Sehun dan Yifan yang kini saling tatap menatap, jika seandainya ini adalah serial anime pasti sudah ada sinar laser yang muncul dari mata keduanya.
Yifan meninggalkan rumah. Entah kemana, yang Sehun tau hanya ke Hagwon. Tapi…. Sehun kembali mengingat akan inspirasi Yifan saat mengaransemen musiknya. Tapi masa bodoh, itu urusan hyungnya.
.
Hari berganti dan ini adalah hari terakhir Sehun menjadi relawan perpustakaan bersama dengan Jongin dan Kyungsoo. Sehun sering melihat bagaimana Jongin sering memberikan perhatian kecil pada gadis mungil itu. Sehun pun baru tau bahwa si playboy itu bisa gentle juga. Seperti sekarang ini, jari kyungsoo baru saja terluka karena terkena pinggiran kertas .
CHUP
Jongin mengisap darah Kyungsoo hinggda darah itu tak lagi keluar dan dengan cepat tangannya merogoh sesuatu di saku belakang celananya. Sehun tau apa itu karena sejak kecil, eomma Jongin selalu menaruh benda itu di sana untuk berjaga – jaga mana tau anaknya yang aktif itu terluka.
Jongin merekatkan sebuah plaster luka dengan motif bintang – bintang di jari tengah Kyungsoo yang terluka.
"Gomawo Jongin-ah…" ujar Kyungsoo dengan senyumnya
"Mmm ne sunbaenim, akan ku sampaikan pada eommaku …" kata Jongin dengan senyum manisnya
"Eomma?" Kyungsoo mengerutkan keningnya tak mengerti
"Eomma… selalu meletakkan plaster luka di saku belakang celanaku sejak aku kecil… hanya untuk berjaga – jaga jika aku terluka dan dia tak berada di dekatku" kata Jongin dengan senyum imutnya
"Waah… eommamu pasti orang yang menyenangkan ya…" Kyungsoo kembali tersenyum
"Ne… sangat menyenangkan... hingga aku sering berharap jika orang seperti eomma ada dua di dunia ini" kata Jongin lembut
"Wae?' Kyungsoo penasaran
"Jadi aku bisa menikahi yang satu lagi dan tidak khawatir karena anakku akan mendapatkan ibu yang sebaik eommaku" ujar Jongin masih dengan nada lembut
Kyungsoo merasa terkesima dengan kata – kata gentle Jongin, tapi tidak dengan Sehun yang rasanya sangat ingin muntah kali ini. Dia tentu kenal baik dengan eomma Jongin. Walaupun yeoja itu memang baik dan imut tapi… demi tuhan, Key ajhuma adalah orang yang sangat cerewet dan banyak aturan. Menurut Sehun eommanya masih lebih baik.
"Kau disni?" Sehun memalingkan wajahnya ketika sesosok yeoja manis berdimple memergokinya melihat Jongin yang mengobrol dengan Kyungsoo sambil menempel label buku
Yixing melirik Kyungsoo kemudian tersenyum. "dia temanmu?" Yixing bertanya ketika dia berdiri di sebelah Sehun.
"Jongin iya, Kyungsoo sunbae tidak" singkat Sehun dan Yixing benar – benar bisa merasakan kemiripan cara menjawab Sehun dengan Yifan
"Do Kyungsoo adalah yeoja yang sangat baik… jika temanmu menyukai Kyungsoo beritau dia untuk bersabar dan terus gigih mengejarnya" ujar Yixing sambil mencari sesuatu di rak bagian matematika
Sebenarnya ini tidak penting tapi sudahlah, Sehun biarkan saja yeoja di depannya ini berceloteh.
"Do Kyungsoo itu… dulunya dalah yeojachingunya Junmyeon… pacarku sekarang" kata Yixing lagi. Demi tuhan ini tidak penting bagi Sehun, tapi sudah lah… Sehun lebih baik tak peduli
"Tapi Junmyeon mencampakan Kyungsoo begitu saja untuk menjadi pacarku, aku punya hubungan yang cukup tidak baik dengan yeoja manis itu… karena… aku merebut Junmyeon darinya"
Sehun diam mematung, demi Tuhan ini sangat tidak penting.
"Tapi itu terjadi saat kami kelas 1 SMA dan Kyungsoo masih junior high… Chanyeol juga sempat mengejar Kyungsoo dulu… namun akhirnya Chanyeol menyerah dan jadian dengan Luhan"
Demi Tuhan apa yang dikatakan yeoja ini sangat….. MWO? LUHAN? SIAPA YANG JADIAN DENGAN LUHAN? SI NAMJA BERTELINGA PERI ITU?
Sehun tiba – tiba membelalakkan matanya dan menatap Yixing dengan tatapan menuntut agar Yixing menceritakan bagian cerita selanjutnya, bukan bagian Kyungsoo, Joonmyeon atau dia tapi bagian Luhan dan si telinga lebar mata belok itu.
"Sehun-ah… kau tau dimana buku tentang Geometri? Aku membutuhkannya" kata yeoja berdimple itu
Dengan sigap Sehun lalu mengambil buku di rak teratas dan menyerahkannya pada Yixing.
"Lalu bagaimana?" tanya Sehun tanpa disadarinya. Oh tentu saja… Sehun penasaran tingkat Neptunus saat ini
"Apanya?" Yixing balik bertanya seperti dia lupa apa yang sudah dia ceritakan
"Dwaeseoyeo" singkat Sehun geram
"Ahahahahhaa…. Luhan hanya berpacaran dengan Chanyeol selama 3 bulan. Dan mereka sudah putus cukup lama, kini mereka sudah seperti kakak adik… itu kan yang ingin kau tau?" Yixing menggoda Sehun dan berhasil… sangat berhasil karena wajah Sehun kini benar – benar merah. Sangat merah.
.
Ini sudah hampir jam pulang sekolah, sebenarnya bisa saja sih pulang sekolah lebih awal karena ini adalah akhir pekan dan beberapa hari lagi sudah liburan natal, tapi banyak siswa yang enggan meninggalkan sekolah dengan alasan belajar, terutama Luhan dan Yifan yang seperti beruang akan hibernasi, bedanya jika beruang mengumpulkan makanan mereka mengumpulkan ilmu.
"YA! OH YIFAN! ADIKMU! SEHUN! SEHUN!" Junmyeon datang bersama dengan Yixing dan mereka berdua berteriak dengan raut wajah yang tidak bisa dibilang santai
"Mwo?"
Hanya itu tanggapan dari seorang Oh Yifan pada dua pasangan heboh itu, lain dengan Luhan yang sudah mengerutkan kening dan Minseok yang mendelikkan matanya.
"OH SEHUN!" Junmyeon kembali berteriak dan menunjuk ke jendela
"Seorang yeoja sedang berhadapan dengan Oh Sehun di lapangan basket!" Yixing berkata dengan amat sangat cepat tanpa bernapas sekalipun
"Mereka bertengkar?"
Luhan yang bertanya, Yifan hanya melengkungkan bibirnya kemudian berdiri
"Entahlah… tapi semuanya berkumpul di lapangan basket!" Junmyeon menjawab pertanyaan itu dengan heboh sendirinya.
Yifan sama sekali tidak bergeming, sama sekali tidak. Dia hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya dan melangkah keluar kelas, menuju lapangan basket. Setahu Yifan, adiknya memang berlidah tajam tapi dia bukanlah anak yang mau diajak duel. Tapi kenapa sekarang kesannya dia sedang ingin duel, bahkan dengan seorang yeoja? Mau dibawa kemana harga diri keluarga Oh jika adiknya itu berduel, apalagi dengan seorang yeoja. Iya kalau menang, kalau kalah bagaimana? Reputasi Yifan juga bisa hancur. Masa iya dia mau dikenal sebagai Oh Yifan yang keren tapi adiknya lemah dan kalah melawan yeoja. Oh ya Tuhan. Andwae…
Luhan dan Minseok tentu tidak mau ketinggalan. Mereka mengekor Yifan bersamaan dengan pasangan Junmyeon dan Yixing. Tak lama mereka sampai di lapangan basket dan benar saja, Sehun kini berdiri tepat di bawah ring dengan seorang yeoja yang berdiri menundukkan kepala sekitar 2 meter di depan Sehun.
"Jongdae-ah… ada apa ini?" Minseok menghampiri namjachingunya yang kebetulan sudah berdiri di sana lebih lama daripada rombongan Yifan dan yang lainnya
"Entahlah, aku baru mau bertanya pada Jongin…" gumam Jongdae kemudian menggenggam tangan Minseok
Sekitar lapangan basket dipenuhi oleh banyak siswa tentu dari berbagai angkatan. Yifan berdiri di dekat pintu masuk lapangan basket yang dikelilingi oleh trails kawat agar bola tidak keluar dari lapangan. Yifan hanya berjaga – jaga siapa tau adiknya pingsan, tapi itu berlebihan.
"Jongin-ah!" Yifan mendengar Jongdae memanggil sebuah nama yang Yifan kenali sebagai sahabat sehidup semati sang adik
"Ada apa sebenarnya?" Minseok yang bertanya pada Jongin kali ini
"Anak itu mau buat masalah apa lagi sih?" Chanyeol tiba – tiba muncul tapi tak berani masuk ke lapangan basket ketika dia melihat Yifan ada diambang pintu masuknya.
Mata Chanyeol dan Luhan saling bertukar pandang sebentar namun kemudian seseorang datang dan menggenggam erat tangan Chanyeol
"Apa dia Shin Aerin dari kelas 7-1?" tanya Baekhyun berpura – pura tidak melihat tatapan pandang Chanyeol dan Luhan dan tetap meggenggam erat tangan Chanyeol
"Shin Aerin akan menyatakan perasaannya pada Oh Sehun" ucap Jongin datar dan Luhan langsung menjadi orang paling kaget di sana.
Yeoja cantik bernama Aerin atau lengkapnya Shin Aerin itu mengangkat wajahnya dan menatap mata Sehun dengan beraninya.
"Jika kau tidak bicara akan aku tinggal, aku masih harus membersihkan perpustakaan" ketus Sehun masih dengan gaya coolnya, gaya yang sama dengan sang Hyung.
"Oh Sehun…. Kita sudah saling mengenal cukup lama… kita juga satu sekolah dan satu kelas sejak kita masih di junior high… dan sejak aku melihatmu aku…. Aku menyukaimu… dan sekarang… aku ingin mengutarakan perasaanku padamu…" ujar yeoja itu dengan wajah cerah cemerlang.
Semua tentu tau siapa Shin Aerin. Dia adalah siswa dengan nilai terbaik ke tiga seangkatannya di sekolah itu. Yang pertama tentu Sehun dan yang kedua pasti Jongin. Selain itu, Aerin juga berasal dari kalangan atas. Appanya adalah seorang CEO perusahaan TV suasta dan eommanya seorang hairstylist terkenal hingga memiliki produk perawatan rambut dengan brandnya sendiri. Sungguh yeoja yang sempurna.
"Aku sangat menyukaimu Oh Sehun… bagaimana denganmu?" tanya yeoja itu masih dengan sneyumnya.
Sehun akui yoeja ini pemberani dan senyum manis tercipta di wajah Sehun.
"Sebelum kau mengenal dan menyukaiku… apa kau sudah yakin bahwa kau mengenal dan menyukaiku dengan baik?" daripada disebut bertanya, Sehun lebih mirip dibilang menantang.
"Tentu saja… kita sudah saling mengenal sejak lama kan…" ujar gadis itu
"Apa yang kau tau tentang aku…" tantang Sehun lagi
"Kau pintar, kau suka matematika, kau bersahabat dengan Jongin, ulang tahunmu 12 April, kau adalah adik Yifan sunbaenim, putra bungsu kepala sekolah, kau juga pemenang olimpiade matematika internasional 3 kali berturut – turut"
"Semua orang tau itu!" desis Sehun dengan sombongnya
Aerin hanya diam dan nampak berpikir hal yang lain.
"Apa ada lagi yang kau tau tentang aku selain itu?" tanya Sehun menantangA
Aerin lagi – lagi nampak berpikir. Disisi lain Luhan ikut menjawab dalam hatinya, "kau menyebalkan, kau sombong, kau tidak sopan, kau kasar, kau suka melakukan apapun sesuka kepalamu, kau kejam, kau…"
Luhan menggantung kalimat dalam hatinya dan melanjutkan dengan hal yang lain, "Kau bisa membuat hal rumit jadi sangat sederhana, kau bisa membuat aku jujur pada perasaanku sendiri, kau bisa membuatku menyukai matematika, kau bisa membuatku lebih lega karena menyadarkan aku jika aku menrindukan orang tuaku, kau orang yang sangat bertanggung jawab, kau orang yang mengerti semua kerumitan dalam diriku, kau…. Kau adalah si wajah besi yang lembut, kau adalah gunung es yang hangat dan kau walaupun kau selalu menyebalkan namun kau selalu berkata jujur dan…. Menyenangkan"
Luhan menggelengkan kepalanya menepis semua pemikiran itu. Kenapa bisa Sehun jadi sebegitu baik di kepala Luhan. Bagaimana semua hal buruk dari Sehun malah jadi hal baik dari anak itu. Luhan pasti sudah gila.
"Kau sebut kita saling mengenal, kau yakin? Aku saja hanya tau siapa namamu karena kita selalu sekelas" ketus Sehun dengan nada tajam
"Tapi kau tidak mungkin tidak tau jika aku ini adalah…"
"Aku tidak pernah peduli…"
"Tapi Sehun-ah…"
"Dan tidak ada dari dirimu yang bisa membuatku peduli!" tegas Sehun dengan tatapan mata yang sangat mengerikan
"Kau pasti merasa bahwa kau cantik, apa kau pikir menjadi cantik itu cukup untuk membuatku tertarik padamu?" Sehun sedikit membentak yeoja itu
"Kau juga pasti merasa bahwa kau pintar, apa kau pikir menjadi pintar itu cukup untuk membuatku tertarik padamu?' lagi Sehun menantang Aerin dengan pertanyaan
"Kau juga pasti merasa bahwa hidupmu sangat beruntung, apa kau pikir dengan keberuntungan hidumpu itu cukup untuk membuatku tertarik padamu?" tandas Sehun seketika
Semua siswa ikut berbisik membicarakan mereka. Wajah Aerin sudah sangat merah dan perlahan tangannya mulai meremas roknya karena ketakutan dengan yang Sehun lakukan saat ini, membentaknya dengan nada dingin dan wajah datar mengerikan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau tertarik padaku?" Aerin tak sadar jika dia ikut berteriak
Sehun menarik napasnya yang terasa agak berat. Dia memang tak peduli apapun dan pertanyaan itu cukup membuatnya sebal.
"Aku tidak akan tertarik pada yeoja yang berusaha membuatku tertarik" ucap Sehun enteng,
Luhan menegang di posisinya. Entah kenapa sesuatu dalam dadanya seperti bersorak sorai mendengar kaliamat Sehun yang terakhir.
"Aku tidak mengerti denganmu!" ujar Aerin dan kini airmatanya sudah berjatuhan
"Sudah kubilang kau tidak benar – benar mengenalku, dan kau berani menyukaiku?" Sehun menundukkan tubuhnya hingga sejajar dengan wajah Aerin
"Yang kau sukai bukanlah aku, tapi apa yang kau ingin lihat dariku! Dan aku… tidak butuh yeoja seperti itu" bisik Sehun pelan lalu dengan santainya dia melangkah meninggalkan yeoja itu.
"AKU MEMBENCIMU OH SEHUN!" teriak Aerin, Sehun menghentikan langkahnya dan melirik Aering yang kini menangis lebih kencang
Sehun tersenyum sinis kemudian tanpa kata meninggalkan lapangan basket. Sehun dengan kesal melihat banyak siswa di sana, dan yang lebih membuatnya kesal adalah tatapan dingin sang kakak.
"Tidak bisakah kau menolak dengan cara yang lebih manusiawi?" tanya Yifan ketika mereka berpapasan
"Lalu apa caraku tadi itu ibilsiawi?" Sehun merendahkan nada bicaranya namun terdengar sangat menyebalkan
Sehun melangkah keluar dan matanya bertemu pandang dengan mata Luhan, "Kau juga mau bilang aku jahat?" tanya Sehun lagi
"Kau pasti sudah tau" Luhan lalu menlengos pergi dan semua orang memicing pada Sehun, menganggap jika si bungsu keluarga Oh itu sangat kejam dan berlidah sangat tajam.
.
Yifan merasa kakinya hampir lelah mengelilingi sekolahnya, mana lagi flunya juga belum hilang. Sebut saja Yifan gila, tapi dia merasa dia harus melakukan ini. Ini seperti insting pribadi baginya untuk membela sang adik. Yifan memang seperti pengacara pribadi Sehun dalam hal apapun, termasuk dalam ini.
"Sudah kembali bermusuhan dengan matematika?"
Yifan kemudian duduk di samping yeoja bermata rusa yang didapatinya sedang bengong di halaman paling belakang sekolah yang biasanya sepi. Ya… Yifan sengaja mencari Luhan hanya untuk menjelaskan semua yang Sehun lakukan.
"Kenapa kau disini?" Luhan memandang tak suka pada si sulung keluarga Oh itu
"Ayahku kepala sekolah ini dan beliau memiliki 37% saham di yayasan ini kalau aku boleh sombong dan kau belum tau" ujar Yifan yang mengisyaratkan bahwa dia seharusnya bebas berada dimana saja di sekolah ini
"Kau dan adikmu sama saja!" Luhan mendengus sebal
"Jadi benar dugaanku… kau tengah memikirkan maknae di keluargaku" ejek Yifan yang kini duduk dengan santainya
"Tutum mulutmu atau aku akan memakanmu hidup – hidup" ancam Luhan dengan raut wajah super kesal
"Sehun memang orang seperti itu… dia suka mengatakan sesuatu kenyataan dengan jujur, terlalu jujur seakan lidahnya tak punya filter. Dan itu membuatnya jadi…."
"Kejam… adikmu sangat kejam" gerutu Luhan
"Kau benar, dia terlihat sangat kejam… jika kau mengerti apa maksud perkataanya, maka kau akan menemukan hal yang lain" Yifan berujar dengan santainya
"Sehun tidak menyukai orang yang mengejarnya, Sehun yakin orang yang mengejarnya hanya menyukainya karena hal yang ada di luar dirinya seperti kepintarannya, kehidupannya, bagaimana keluarganya dan siapa kakaknya…. Ahahaha okay bagian terakhir memang tidak penting tapi, Sehun sebenarnya anak yang polos"
"Kau ingin membela adikmu di depanku? Seharusnya kau mengatakan ini pada anak yang ditolak Sehun… bukan padaku! Memangnya…"
"Sehun sudah mengatakannya sendiri pada Aerin…" Yifan memotong kalimat Luhan dan mengarahkan dagunya pada sesosok Aerin yang tengah menangis di sebuah bangku yang jaraknya 5 meter dari tempat Yifan dan Luhan duduk. Namun dimana Luhan dan Yifan duduk cukup tak terlihat dari sisi Sehun dan Aerin. Namun keduanya masih bisa mendengar apa yang Sehun dan Aerin akan bicarakan.
.
"Butuh tissue?" tawar Sehun seraya menyerahkan sebungkus tissue pada Aerin yang menangis
"Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu" ucap Aerin ketus tak mau menatap Sehun
"Aku juga tidak mau melihat wajahmu, aku kemari bukan untuk itu!" Sehun masih saja ketus
"Lalu untuk apa?" ketus Aerin
"Aku ingin meminta maaf padamu tentang semua hal yang aku katakan tadi" Sehun berkata santai dan dia kini duduk di sebelah Aerin
"Kau bisa minta maaf?"
"Wae? Apa menurutmu orang sepertiku tidak bisa minta maaf?" Sehun kembali melontarkan pertanyaan yang sangat pedas
Aerin diam saja, namun hatinya sudah sangat sakit. "Apa kau membenciku sekarang?" tanya Sehun lagi
"Aku sangat membencimu, mungkin kau lah orang yang paling aku benci di dunia ini Oh Sehun" desis Aerin dengan nada penuh kebencian
"Itulah mengapa aku tidak bisa menerima cintamu, Shin Aerin…" Sehun berujar dengan nada yang lebih lembut
Aerin memalingkan wajahnya dan menatap Sehun dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kau bilang kau menyukaiku, tapi begitu kau tau sifat asliku… kau malah bilang kau membenciku dan aku adalah orang yang paling kau benci di dunia ini. Itu artinya… kau hanya menyukaiku dari apa yang kau tau dank au lihat… bukan diriku yang sebenarnya"
Aerin melebarkan matanya dan sepertinya gadis itu mengerti apa yang barusan Sehun ucapkan.
"Aku bilang aku tidak suka pada orang yang mengejarku, itu karena aku tau… orang yang mengejarku pasti tidak tau bagaimana aku yang sebenarnya. Karena jika kau tau, kau akan membenciku… bukan mengejarku."
"Tapi kau bisa mengatakannya dengan lebih lembut kan? Tidak seketus tadi…" Aerin coba memprotes
"Aku tidak akan melakukannya karena itu bukan caraku. Walaupun seandainya aku juga menyukaimu… aku akan melakukan hal yang sama karena inilah aku… aku tidak akan berubah jadi orang lain hanya untuk dicintai, aku hanya akan mencintai orang yang juga mencintai diriku yang seperti ini"
"aku bisa menerimamu seperti ini…"
"Tidak… tadi kau bilang kau membenciku"
Kali ini Sehun mengakhiri kalimatnya dengan senyum yang sangat lebar dan manis.
"Aerin-ah… maafkan aku ne… tapi sepertinya aku memang bukan namja yang kau inginkan. Walaupun kau memaksakan dirimu untuk menerima aku yang sebenarnya, kau pasti akan tersiksa… dan aku tidak mau menyiksa siapapun. Aku tidak mau menambah lebih banyak dosa dengan menyiksa perasaan orang lain, cukup dengan menyakitinya dengan kata – kata saja"
"Yah… kau bilang menyakiti itu cukup… oh ya Tuhan aku mencintaimu tapi aku juga membencimu Oh Sehun!" Aerin tertawa begitu mendengar jawaban Sehun
"Aku tidak masalah dengan itu, tapi… terima kasih kau sudah menyukaiku… maaf aku tidak bisa menerima perasaanmu dengan baik" ujar Sehun lebih kalem kali ini
"Ne,… terimakasih sudah menjelaskannya… aku rasa kau benar, aku hanya menyukaimu dari apa yang aku lihat darimu" ujar Aerin lagi
"Mmmm… dan sekali lagi maaf karena sudah menyakitimu!" ucap Sehun dan dia tersenyum lagi
"Itu lebih baik daripada kau menyakitiku diakhir, dan ya Tuhan… pastikan kau memberitahuku jika nanti ada yeoja yang mencintai sikapmu ini… aku akan memberikannya pelukan untuk menguatkan hatinya" kata Aerin yang dihadiahi tawa dari Sehun.
"Jadi…. Adikku adalah namja yang seperti itu… bagaimana?" tanya Yifan ketika keduanya telah selesai menguping pembicaraan hobae mereka itu.
"Oh Yifan…." Lirih Luhan
"Ng?"
"Aku rasa aku menyukai adikmu…."
.
.
.
.
.
.
Seoul 2025
Luhan berjalan menggendong seorang bayi laki – laki di pelukannya. Kini Luhan tengah berada di sebuah arena bermain sebuah klinik balita. Luhan sesekali tersenyum pada balita itu saat keduanya membuka – buka buku tentang binatang.
"Shin-ah…. Ini gajah… gajah…" ucap Luhan dengan nada sangat imut
"ga… ga… ga…." Jawab bayi tampan itu dengan bahasa bayinya seraya menunjuk – nunjuk gambar di buku itu.
"Anak pintaaaar…" Luhan mengusak rambut tipis sang bayi dan menciumi bayi itu kemudian
"Luhan-ah!"
Yeoja yang menyandang marga Oh di namanya itu langsung saja mendongakkan kepalanya dan mendapati suami sang sahabat disana.
"Jongdae-ah… kau datang bersama Minji, mana Jongseok?" Luhan tersenyum ramah pada sahabatnya itu
"Jongseok belum pulang Hagwon… Minji harus imunisasi… ini bayi siapa?" Jongdae mengerutkan keningnya
"Ah… ini Shin" Luhan menggerakkan sebelah tangan bayi itu dan Jongdae hanya mengangguk
"Kau bersama Shin? Luhan… yang benar saja… bagaimana bisa kau bersama Shin? Apa kau…."
"Ceritanya panjang Kim Jongdae…" Luhan memotong kalimat Jongdae yang penuh tanya
"Aku punya banyak waktu kebetulan…." Desis Jongdae dengan wajah agak memaksa
"Tapi aku dan Shin tidak… Appanya Shin akan segera menjemput kami jam 5 sore nanti yang artinya itu…. 30 menit lagi…" ucap Luhan masih dengan senyumnya
"Oh ya… apa Sehun sudah minum obatnya dengan baik?" Jongdae bertanya pada Luhan dan yeoja itu hanya membalas dengan raut wajah kaget
"Obat?... memangnya Sehun… kenapa?" Luhan terlihat panic sekarang
"Kau tidak tau? Ya…. Nyonya Oh! Tadi siang suamimu dilarikan ke rumah sakit oleh adikku. Tekanan darah Sehun menurun drastic dan pencernaannya bermasalah, dia juga terkena dehidrasi ringan karena kelelahan" Jongdae seperti membentak ibu muda itu namun Luhan hanya membelalakkan matanya.
Dada Luhan bergemuruh dan kekhawatirannya memuncak.
"Luhan…. Apa rumah tanggamu baik – baik saja?" Jongdae memberanikan diri untuk bertanya
"Shin-ah…. Ayo sekarang giliranmu diperiksa sayang…" ujar seorang suster yang baru saja keluar dari sebuah ruang dokter anak bertuliskan Kim Minseok
"Maaf, aku harus masuk… Shin harus diimunisasi" Luhan lalu meninggalkan Jongdae yang menggendong bayi perempuannya yang berusia 1 tahun itu.
"Kau baik – baik saja Lu?" tanya Minseok ketika baru saja dia menyuntik cairan vaksin imunisasi untuk bayi kecil yang Luhan gendong
"Aku tidak tau Seok-ah…" lirih Luhan
"Sampai kapan kau akan mendiamkan Sehun dan tinggal bersama laki – laki itu? Bahkan kau menjaga anaknya sekarang" Minseok seperti membentak sahabatnya
"Entahlah tapi aku rasa aku masih tidak yakin untuk menemui Sehun, lagi pula laki – laki itu kan…"
"Tetap saja dia bukan suamimu dan Shin bukan anakmu! Suamimu adalah Oh Sehun dan anakmu adalah Oh Chaeri… bagaimana bisa kau sekejam ini dan meninggalkan mereka?" Minseok berkata dengan raut wajah serius, rasanya dia seperti memarahi Jongseok putra sulungnya kalau sudah begitu
"Maafkan aku Seok-ah tapi…"
"Bukan padaku kau harus minta maaf… tapi Sehun… terlebih pada Chaeri! Bukankah kau yang paling tau bagaimana rasanya tidak punya ibu? Bukankah kau yang paling tau bagaimana sakitnya melihat ibumu menyayangi anak lain dan bukan dirimu?"
"KIM MINSEOK!"
"OH LUHAN! Kau sudah keterlaluan… aku tidak mau kau jadi istri dan ibu durhaka seperti eommamu… kau lebih baik dari ibumu dan Sehun percaya itu, kau lupa bagaimana dulu Sehun berjuang untuk mempertahankanmu dan memberimu tempat di sisi eommanya?"
MInseok tidak takut memarahi sahabatnya itu karena dia rasa Luhan sudah keterlaluan.
"Singkirkan keegoisanmu dan kembali pada keluargamu" bisik Minseok kemudian
Drrrt…. Drrrt….
Luhan menerima sebuah pesan dan membacanya, setelah selesai dia lalu berkata.
"Appanya Shin sudah menjemput… aku pergi dulu" Luhan segera pergi tanpa melihat bagaimana frustasinya Minseok memandangnya.
Minseok lalu mengambil ponselnya dan mendial sebuah nomor.
"Yifan-ah…. Aku tidak main – main kali ini… ku mohon hanya kau yang bisa menyeret anak itu pulang ke rumahnya!"
.
.
.
.
.
.
Seoul 2012
Tak terasa besok sudah hari natal dan seluruh kota Seoul ditutupi dengan salju yang sangat lebat. Yifan sudah tidak lagi flu dan syukurlah Sehun tidak tertular. Seperti biasanya nyonya Oh Jaejong selalu membuat banyak sekali kue – kue natal dan beraneka macam hidangan untuk menjamu tamu – tamu sang appa yang datang kerumah. Oh Yunho adalah orang penting jadi wajar jika keluarga mereka mengadakan Open House dan semacamnya.
"Besok sore aku akan pergi keluar" Yifan meminta izin pada ibunya
"Kemana? Hagwon lagi? Hagwon libur tuan Oh!" ketus Jaejong yang sudah hapal betul dengan alasan sang anak
"Tidak… lebih tepatnya aku akan datang ke rumah tuan Huang, pemilik Hagwon itu" ujar Yifan enteng
"Untuk apa kau datang ke sana? Melamar jadi guru Hagwon atau melamar anak gadisnya?" sinis nyonya Oh
"Pilihan kedua nampaknya tepat" ucap Yifan seenaknya
"Oh Yifan! Eomma serius!" Jaejong mendelik kaget
"Aku juga serius, Oh Jaejongie sayang…." Yifan malah menggombali eommanya
"Oh Yifan!" Jaejong kembali memanggil nama lengkap putranya
"Ani… ani… aku tidak akan melamar anak gadisnya…" pekik Yifan ketika dia sudah kembali ke lantai atas setelah tadi merecoki eommanya di dapur
"Mungkin tidak sekarang" bisik Yifan tanpa didengar oleh siapapun kecuali dirinya dan biscuit coklat yang dia ambil di dapur barusan
.
"Besok sore aku akan pergi ke luar" kini gantian Sehun yang meminta izin pada eommanya
"Anak gadis mana yang juga akan kau lamar?" bentak Jaejong pada si bungsu
"Aku belum sejauh itu" ucap Sehun kaget dan menatap ibunya aneh
"Lalu mau kemana?" tanya sang eomma yang kini menghiasi kue nastar buatannya sendiri
"Merayakan natal dengan teman – temanku…" kata Sehun santai
"Ne… ne…. anak – anakku sudah besar semua dan mereka meninggalkanku untuk merayakan natal bersama teman – teman mereka" gerutu nyonya Oh pura – pura merana
"Tahun baru aku akan di rumah" ujar Sehun polos dan Jaejong hanya bisa tersenyum pada tingkah dingin namun imut si bungsu itu.
.
Tibalah hari natal, setelah dari pagi keluarga Oh mengikuti kebaktian di gereja akhirnya sorepun tiba. Dan kedua putra keluarga Oh dengan cepat melesat pergi.
"Nampaknya kita akan segera dapat menantu" canda Yunho begitu kedua putra mereka pergi dari rumah
"Ya! Mereka masih muda yeobo…" desis nyonya Oh
.
Yifan mengayuh sepedanya dalam cuaca yang cukup dingin, menuju kesebuah areal perumahan di daerang Cheongdam.
"Kau sudah siap?" tanya Yifan pada sesosok yeoja bercoat merah di hadapannya
"Kita naik sepeda?" tanya yeoja itu nampak kaget
"Aku belum cukup umur untuk menyetir mobilku sendiri" ujar Yifan dengan kerennya
"Kita mau kemana, Oppa?" yeoja manis bercoat merah itu bertanya dengan pelan
"Ke Garosugil, disana akan ada festifan natal dan kita bisa menikmatinya" kata Yifan masih dengan senyum karismatiknya
"Naiklah…" ajak Yifan lagi
Gadis itu hanya diam dan memandag sepeda Yifan.
"Zitao-ah… apa kau tidak suka namja bersepeda?" tanya Yifan lagi pada gadis di hadapannya
"Anniyeo Oppa… hanya saja aku bingung…. Aku harus duduk dimana?" Yeoja bernama Zitao itu berkata dengan begitu polosnya hingga membuat Yifan ingin sekali menggemas pipi yeoja imut itu.
"Duduklah disini maka kau akan aman" Yifan menepuk bantangan sepedanya dan Zitao mendelik polos, namun tak lama mengikuti saran Yifan.
.
Beda dengan Yifan, kalian tentu bisa menebak kemana si bungsu keluarga Oh itu pergi.
"Sehun… kau disini?"
"Selamat hari natal!" Sehun menyerahkan sebuah kotak berwarna merah berpita emas pada gadis bermata rusa di hadapannya itu
"Go…. Gomawo… tapi aku… aku tidak punya kado natal untukmu…. Yah eottokhae…" Luhan panic sendiri dan wajahnya benar – benar sangat merah, hampir sama merahnya dengan kotak yang dia pegang
"Aku memberimu hadiah natal bukan untuk mendapatkan hadiah natalku…." Seperti biasa, nadanya bahkan lebih dingin dari udara saat ini.
"Boleh aku buka?" tanya Luhan polos dan Sehun mengangguk
Luhan membuka kotak itu dan mendapati sebuah jepit berpita berwarna coklat muda dengan bunga – bunga kecil diatasnya. Mata Luhan membulat melihat jepit rambut itu dan menatap Sehun dengan tatapan tak percaya.
"Ini cantik sekali" pekik Luhan
"Kau menyukainya?" tanya Sehun menggunakan bahasa banmal seenak bokongnya saja. Namun Luhan sudah terbiasa dengan itu.
Luhan mengangguk dan tersenyum lagi, Sehun meraih pita itu dan menjepitkannya di poni Luhan, membuat kening Luhan terkspose dan secara tidak langsung meperlihatkan wajah Luhan seutuhnya.
"aaah…. Jadi seperti ini wajahmu…" bisik Sehun kemudian tersenyum
"Wae? Memang kenapa dengan wajahku?" Luhan bertanya dengan pipi memerah
"Kau cantik" Sehun berkata jujur dan
BOOOM
Seperti ada sesuatu yang meledak di dalam dada Luhan, entah kenapa Luhan merasa jantungnya jadi pandai melompat kali ini dan wajah Luhan bisa disamakan dengan tomat cherry. Sangat merah.
Luhan sudah biasa dibilang cantik oleh banyak orang, bukannya sombong tapi dia memang sangat cantik. Tapi… baru kali ini, baru ketika Sehun yang mengatakannya Luhan jadi seberlebihan ini.
"Apa keluargamu tidak ada acara hingga kau kemari?" tanya Luhan pada Sehun dan mereka masih berada di depan pintu gerbang rumah Luhan
"Mereka punya banyak sekali acara, makanya aku kemari" Sehun berkata dengan mudahnya
"Ya… apa yang biasa kau lakukan saat natal?" Sehun bertanya pada Luhan dan Luhan dengan segera mengangkat sesuatu yang tergantung di lehernya.
Kamera Polaroid mini.
"Apa yang kau lakukan dengan itu?" tanya Sehun lagi. Entahlah, hanya pada Luhanlah Sehun memiliki rasa ingin tau yang setinggi badannya
"Kau bisa melihatnya nanti…. Khajja!" Luhan mengajak Sehun dan Sehun mengikutinya namun namja itu kembali bertanya
"Hei…. Kau yakin hanya akan menggunakan pakaian begitu?" Sehun menautkan alisnya karena melihat Luhan hanya menggunakan celana jeans dan kaos ditambah sweater dan scraft saja.
"Gwaenchana…" jawab Luhan sesuka hati.
Sehun dan Luhan menaiki bus menuju ke daerah Garosugil, di dalam bus lagu spesial natal terus berkumandang dan Luhan entah disadari gadis itu atau tidak dia ikut berdendang seirama dengan lagu – lagu itu. Dan ini benar – benar tanpa sepengetahuan Luhan, Sehun tersenyum tipis melihat tingkah Luhan yang seperti anak kecil. Suaranya juga sangat merdu dan lembut, Sehun sangat menyukainya.
"Ayo turun" Luhan kembali mengajak Sehun ketika keduanya sudah sampai di tempat tujuan mereka.
Begitu keduanya turun, keramaian ala Natal di daerah itu begitu kental terasa, pohon natal berukuran raksasa ada dimana – mana, cosplay santa clause juga banyak terlihat, dan juga banyak boneka salju.
"Disana biasanya ada festival membuat boneka salju, ayo kita kesana!"
GEP
Sehun menggenggam tangan Luhan secara tiba – tiba, Luhan berbalik dan menatap Sehun dengan penuh kegugupan, Sehun dapat merasakan tangan gadis itu begitu dingin.
"Disini sangat ramai, aku tidak mau kehilangan rusa natal disini!" ujar Sehun dengan nada sinis seperti biasa
Wajah Luhan hanya kembali memerah dan entah kenapa seperti ada kembang api juga meledak di dalam dadanya, dia sangat menyukai genggaman tangan Sehun.
Sehun dan Luhan mendaftar untuk festival membuat boneka salju dan mereka langsung mendapatkan banyak pernak pernik untuk membuat boneka salju. Keduanya kemudian mencari tempat yang nyaman untuk membuatnya.
"Aku akan membuat bagian badannya… aku mau buat yang gendut seperti doraemon" Luhan berkata dengan raut wajah penuh dengan kebahagiaan
"Okay, aku akan membuat kepalanya… aku akan membuat Luhan versi gendut" ujar Sehun dengan nada jahil
"YA! Apa yang kau lakukan… aku tidak gendut!" pekik Luhan kesal
"Aku tidak bilang kau gendut… aku hanya akan membuatmu…." Sehun menggantung kalimatnya dan menggulung tumpukan salju di tangannya hingga jadi sangat bulat
Dan kemudian dia melanjutkan kalimatnya, "versi gemuk!"
"Aku membencimu Oh Sehun!" desis Luhan kesal
"Aku tau" balas Sehun dan dia tertawa
"Oho…. Kau bisa tertawa rupanya?" Luhan meledek Sehun kali ini
"Kau pikir wajah besi sepertiku tidak bisa tertawa eoh?" dan Sehun kembali bertanya dengan nada bicara khasnya
Keduanya kemudian larut pada kesibukan masing masing, Luhan sibuk membuat badan si boneka salju dan Sehun sibuk membuat wajahnya.
"Yaaaah…. Kenapa susah sekali membuatnya jadi bulat!" Luhan membentak tumpukan salju tak bersalah itu.
"Ini pasti karena Kristal saljunya mulai mengeras satu sama lain… aaarghh" Luhan kembali mengerang frustasi
"Mau ku bantu?" Sehun tiba – tiba memberikan penawaran menarik
Sehun membuat sebuah gunungan kemudian menekan – nekan gunungan itu hingga berbentuk persegi yang cukup besar, kemudian dengan cekatan dia mengambil sebilah kayu untuk menyisir bagian yang tidak penting hingga kotak itu menjadi sepertiga bulat.
"Kau hanya kurang menekannya tadi" ucap Sehun dengan pandangan mata lelah menghadapi kekanakan Luhan
"Gomawo…" bisik Luhan sesuka hatinya.
Dan tak lama kemudian boneka salju merekapun selesai. Sehun baru saja menempelkan potongan wortel sebagai hidungnya dan jadilah boneka salju mereka.
"Ini benar – benar mirip denganmu" kata Sehun seenaknya
"ya… apa kau benar – benar akan selalu bicara banmal padaku?" Luhan memprotes Sehun kali ini.
"Maybe… aku tidak melihat kau sebagai sunbaeku" ujar Sehun santai masih memandang pada boneka salju itu
"Jadi kau melihatku sebagai apa?" Luhan juga bertanya namun memandang si boneka salju
"Aku melihatmu…. Sebagai…. Seekor rusa kecil… kau seperti bambi" kata Sehun seenak bokongnya saja
PUK
Luhan memukul lengan Sehun lalu mengambil kameranya dan mengambil gambar boneka salju yang sangat imut itu.
"Khajja… kita ketempat lain" ajak Luhan dan gadis itu dengan lincahnya melangkah pergi
GEP
Lagi – lagi Sehun memegang tangan Luhan, "Aku tetap tidak mau kehilangan anak rusa di keramaian" kilah Sehun.
Luhan kini berdiri di samping air mancur dengan kelap kelip hiasan natal dan pohon natal yang sangat besar. Luhan meminta Sehun untuk duduk di bangku yang tak jauh dari Luhan berdiri sekarang dan mengamati gadis itu. Luhan bilang itu yang dia biasa lakukan setiap natal.
Sehun masih mengaitkan keninganya sambil menyeruput segelas bubble tea dan melihat gadis manis itu berdiri di depan air mancur. Sehun menebak – nebak apa yang Luhan lakukan dan tak lama kemudian ada sepasang kekasih yang mendekati Luhan. Mereka seperti terlibat percakapan dan
Cekrek
Luhan mengambil gambar sepasang kekasih itu dan memberikan gambarnya pada mereka. Sang namja ingin memberikan sejumlah uang pada Luhan namun Luhan hanya menggeleng dan menolaknya. Tak lama kemudian ada sekeluarga datang mendekati Luhan, ayah, ibu dan dua anak mereka meminta Luhan untuk mengabadikan foto mereka.
Dan lagi – lagi Luhan melakukannya secara cuma – cuma. Luhan terlihat sangat bahagia saat memotret semua pasangan dan keluarga itu, senyum bahagia dan penuh dengan keceriaan Luhan berikan pada setiap orang. Dan itu membuat Sehun tersenyum secara tidak langsung. Udara memang sedang sangat dingin, namun entah apa, hati Sehun rasanya sangat hangat. Senyuman Luhan banyak berpengaruh dalam hal ini.
.
"Aku dengar biasanya ada gadis pemotret di sekitar sini, dia akan memotret kita dengan kamera mini polaroidnya dan itu gratis" ujar seorang yeoja imut dengan coat berwarna merahnya. Sebelah tangannya memegang cup coklat panas sementara tangan lainnya digenggam erat oleh seorang siswa yang paling rajin datang ke Hagwon yang ayahnya buka.
"Oh ya…. Kau tau darimana Zi?" tanya namja tampan itu dengan nada yang sangat lembut
"Teman – temanku sering kemari dengan pacar mereka saat natal dan mereka mengambil fotonya di sana, di gadis pemotret itu… katanya dekat air mancur… dan ada yang bilang gadis pemotret itu memotret disana setiap natal sejak dia masih kecil" Zitao, gadis itu tersenyum sangat manis kali ini
"Aaah…. Apa kau pernah datang ke gadis pemotret itu Zi?" tanya pemuda tampan yang tak lain dan tak bukan adalah bungsu keluarga Oh
"Aniyeo Oppa… kau adalah pacar pertamaku…" ucap Zitao malu – malu
Melihat gelagat Zitao, Yifan jadi gemas sendiri… bagaimana bisa seorang yeoja jadi seimut ini. Zitao benar – benar sangat manis dan imut. Dimata Yifan, Zitao adalah sosok gadis yang sangat polos dan murni, itu yang membuat Yifan jatuh hati pada yeoja berkulit eksotis itu. Dan Zitao memang bukan cinta pertama Yifan, tapi entah kenapa bagian dalam diri Yifan menginginkan yeoja manis itu menjadi miliknya. Hanya miliknya. Yifan tau, usianya baru hanya 18 tahun tapi bukannya tidak mungkin kan mencintai satu yeoja untuk waktu yang lama?
"Apa aku adalah cinta pertamamu Zi?" tanya Yifan frontal
Wajah Zitao kembali memerah, namun gadis itu langsung mengangguk, mengiyakan pertanyaan Yifan barusan.
"Lalu apakah aku adalah cinta pertama Oppa?" tanya gadis itu polos
"Mian Zi, tapi sayangnya bukan kau…" ujar Yifan jujur
"Lalu siapa cinta pertamamu?" Zitao bertanya dengan penuh penasaran.
.
Sehun mendekat kearah Luhan yang baru saja selesai memotret sepasang kakek nenek. Luhan bahkan hampir menangis ketika memotret kedua pasangan itu.
"Kau tau… mereka datang setiap tahun, aku sudah berdiri di sini selama 10 tahun dan itu artinya aku sudah memotret mereka 10 kali" kata Luhan ketika Sehun datang
"Kau menangis?" Sehun kaget melihat perubahan emosi Luhan
"Aku terharu…. Sangat terharu karena…. Mereka saling mencintai dan bertahan hingga diusia tua… kau tau? Jatuh cinta itu mudah… tapi mempertahankannya hingga akhir, itulah bagian yang terpenting" ucap Luhan lalu mengusap air matanya.
Sehun menepis tangan Luhan dan dia beralih menghapus air mata itu dengan kedua tangannya seraya menakup wajah Luhan.
"Aku setuju padamu" gumam Sehun
"Sehun-ah… kau tau, ada dua hal yang membuat pasangan bisa berpisah" ucap Luhan ketika keduanya begitu dekat
"Apa?" kini bahkan Sehun berbisik
"Pertama adalah keegoisan… seberapapun besar cintanya jika salah satu menjadi egoism aka hubungan akan hancur…." Luhan juga ikut berbisik
"Lalu yang kedua?" tanya Sehun kali ini menatap kedua manic mata bambinya
"Kedua adalah maut… dan itu yang paling menakutkan…"
Sebulir air mata kembali mengalir di pipi rusa cantik itu.
"Kau tau kenapa aku memotret semua moment couple dan keluarga?" Luhan bertanya dan Sehun menggeleng sebagai jawaban
"Karena aku ingin membantu orang untuk mengabadikan moment indah mereka, karena… tidak selamanya moment indah datang berulang, kita tidak pernah tau… siapa yang akan datang ke hidup kita dan siapa yang pergi… maka dari itu… aku ingin mengabadikan semuanya"
GREB
Anggap saja Sehun sudah dimabuk perasaannya sendiri, karena kini dia memeluk Luhan begitu eratnya hingga rasa hangat langsung menyusup kesetiap permukaan kulit tubuh Luhan. Rasanya begitu nyaman dalam pelukan itu, rasa seperti….
"Aku seperti kembali memelukmu…. Appa…" bisik Luhan dalam hatinya.
Setelah beberapa saat Sehun melepas pelukannya dan kembali tersenyum manis.
"Ayo…. Kita berfoto bersama…." Ajak Sehun kemudian
"Ng?" Luhan kaget dan dia mendadak bodoh
"Kau datang ke hidupku dengan cara yang unik… dan aku juga tidak tau bagaimana kedepan, bisa saja kau pergi atau aku yang pergi…. Belum tentu juga natal selanjutnya kita bersama lagi… jadi ayo… kita berfoto bersama…" Sehun tersenyum dan matanya hanya membentuk garis.
Luhan sangat menyukai senyum itu, senyum Sehun yang membuatnya seperti ingin memeluk lagi namja itu, senyum yang begitu membuatnya nyaman…. Senyum yang nantinya akan diwarisi oleh putri cantiknya di masa depan.
"Khajja…" Luhan menyetujui ide itu dan mendekat kearah Sehun
"Siapa yang akan memotret kita?" tanya Luhan bingung
"Sudah…. Lakukan saja seperti kau berfoto dengan kamera depan… jja…." Sehun merangkul Luhan
"Hana…. Dul…." Sehun mulai menghitung dan degupan jantung Luhan semakin cepat
"Set…"
Cekrek
Sebuah foto tercetak, keduanya melihat foto itu dan tersenyum, "hasilnya bagus…" kata Luhan pelan
"Sekali lagi…" Sehun kembali merangkul Luhan dan Luhan lagi – lagi harus merasakan betapa gugupnya dirangkul oleh Sehun
"Yah… yang ini hasilnya juga bagus… kau benar – benar rusa yang lucu" ujar Sehun dengan senyum jahilnya
"Kau lebih suka yang mana?" tanya Sehun pada gadis di sampingnya
Dan Luhan menunjuk sebuah foto dimana keduanya memperagakan V sign, Sehun terlihat imut di sana.
"Kalau begitu ini untukmu… dan ini untukku… kita punya foto bersama sekarang" Sehun kembali tersenyum dengan manisnya dan Luhan menyambut senyuman itu dengan senyum yang tak kalah manisnya.
"Itu…. Dia… dia adalah cinta pertamaku" Yifan menunjuk kearah Sehun dan Luhan yang kini saling tersenyum melihat hasil selfie mereka degan kamera Polaroid
"Yeoja itu cantik sekali…." Desis Zitao dan wajahnya sangat menyiratkan kecemburuan
"Bukan…. Bukan yang yeoja… tapi yang bersamanya…" kata Yifan mantap
"Oppa! Cinta pertamamu seornag namja?!" Zitao terpekik kaget, benar – benar lucu yeoja itu.
"Ahahahaha…. Ekspresimu sangat bagus Zi… aku menyukainya…" Yifan mencubit hidung Zitao dengan lembut
"Aku serius oppa!" anak itu benar – benar terkejut
"Aku serius Zi… hahahaha… tapi memang bukan namja itu sih… cinta pertamaku adalah yeoja yang mirip dengan namja itu tapi dia jauh lebih tua dariku" ujar Yifan santai
Zitao nampak masih tidak mengerti dan menatap Yifan bingung.
Yifan kemudian mengeluarkan ponselnya dan membuka kunci layarnya kemudian memberikannya pada Zitao.
"Anak itu adalah adikku… namanya Oh Sehun, dia seumuran denganmu… dia sangat mirip dengan cinta pertamaku… dan ini cinta pertamaku…. Eomma kami, Oh Jaejong" Yifan berujar jujur pada gadis kesayangannya itu
Zitao tiba – tiba ingin menangis melihat betapa manis namja yang awalnya dia kira sangat galak karena wajah tegas dan suara beratnya itu, ternyata Yifan benar – benar lembut dan manis seperti cotton candy.
"Aku mencintaimu Oppa" bisik Zitao dan Yifan menoleh pada gadis bercoat merah itu
GREB
CHUP
Dalam sekali gerakan Yifan berhasil mencuri kecupan dari bibir gadis manis bernama lengkan Huang Zitao itu.
"Nadoo saranghae" bisik Yifan dan
CHUP
Mengecup lagi bibir yeoja yang sudah melotot karena kaget itu.
.
HACIH
Luhan langsung saja bersin begitu mereka memutuskan untuk meninggalkan kolam itu.
"Gwaenchanha?" tanya Sehun dan anak itu mendapati wajah Luhan sudah memerah
"Aku baik – baik saja…" Luhan menjawab dengan suaranya yang lumayan parau
HACIH
"Kau tidak baik – baik saja!" Sehun menegaskan suaranya
"Kau berlebihan tuan Oh… aku baik – baik saja… ini mungkin hanya akibat pergantian cuaca yang jadi sangat dingin akhir – akhir ini" jawab Luhan santai
PUK
Sehun menyampirkan blazernya ke tubuh Luhan. Namja itu rupanya melepas blazernya sendiri dan memberikan blazer itu pada Luhan.
"Ayo pulang!" tegas Sehun kemudian menggandeng yeoja bermata rusa dan yang dipanggil Bambi oleh Sehun itu.
Tak ada komunikasi berarti selama perjalanan pulang, bahkan sampai di depan gerbang rumah Luhan pun keduanya tidak berbicara satu sama lain.
"Kau punya obat penurun panas atau obat flu?" tanya Sehun begitu keduanya masuk dan duduk di ruang tengah rumah mungil itu
"Kau terlalu berlebihan Sehun… ini hanya karena pergantian musim dan cuaca yang buruk" kata Luhan mencoba basa basi
"Jadi kau akan menyalahkan pergantian musim dan buruknya cuaca ketika kau sakit? Kenapa tidak menyalahkan dirimu yang tidak menjaga kesehatan diri sendiri saja?" Sehun kembali mengerutkan keningnya tidak suka dengan apa yang Luhan katakana barusan
Sejenak hening, Luhan jadi merasa bersalah pada dirinya sendiri. Luhan kembali membawa kotak obat beserta air minumnya.
"Mungkin kau tidak sadar, tapi kau selalu menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang kau buat… atau mencari pembenaran lain dengan menunjuk sesuatu sebagai penyebabnya" gerutu Sehun lagi kini seraya mencari obat flu di kotak obat itu
"Aku memang salah…" disis Luhan penuh penyesalan
"Aku tidak memintamu untuk menyalahkan dirimu sendiri, aku hanya ingin kau berhenti menyalahkan factor lain dan menyelesaikan masalahmu… minumlah obat, lalu beristirahat yang cukup… ini memang hanya sekedar flu, tapi kau hidup tidak hanya menahan rasa sakit kan?"
Sehun tersenyum cukup manis lagi… Luhan mengikuti apa kata Sehun, dia lantas meminum obatnya. namun baru saja Luhan akan membalas senyum Sehun, matanya langsung terbelalak.
"SEHUN! DIMANA SEHUN!" pekik Luhan
"Ak… aku disini…" Sehun jadi terbata karena kaget
"Bukan… bukan Sehun kau… tapi…. Sehun yang kecil!" ringis Luhan melihat kotak tempat tinggal anjing itu sudah tak berpenghuni lagi
"Ah… anjingmu…" Sehun mendengus tidak suka ketika ingat nama anjing kecil hitam yang agak tidak menyenangkan itu juga bernama Sehun.
"Ya… nona Lu… apa kau lupa menutup jendela rumahmu saat kau pergi?" Sehun menunjuk sebuah potongan kaca jendela panjang hingga ke lantai dengan trails di dalamnya
"Dia pasti kabur lewat trails itu… dan menyusup lewat celah – celah pintu pagar" jelas Sehun lagi dan penjelasan itu bisa diterima dengan akal Sehatnya.
Hiks
Sehun mendengar sebuah isakan tangis, Sehun yang tadi menatap arah luar rumah Luhan kini gantian menatap Luhan dan mendapati gadis itu sudah berlinangan air mata
"Kau… kenapa Lu?" Sehun mendekat pada Luhan yang kini duduk tertunduk di lantai yang cukup hangat
Hiks…
Luhan kembali terisak dan Sehun tak mengerti apa yang harus dia lakukan. Menuruti naluri saja dan memang ini yang diinginkan oleh Sehun. Anak itu menakup wajah Luhan dengan kedua tangannya dan dia juga menatap lembut yeoja yang mulai hari ini dia panggil bambi itu.
"Kau kenapa?" tanya Sehun dengan suara berbisik
"Apa aku adalah orang yang harus selalu ditinggalkan?" tanya Luhan di tengah tangisnya
Sehun masih tak mengerti dan dia menatap makin dalam ke dalam mata Luhan.
"Appa meninggalkanku… Eomma juga meninggalkanku… dan kini…. Sehun juga meninggalkan aku… apa aku begitu berdosa hingga semuanya meninggalkanku?" tanya Luhan dan kini dia masih menangis, malah tangisnya makin pecah
"Hei… uljimma," bisik Sehun dengan penuh kelembutan, mendengar suara Sehun membuat seluruh tubuh Luhan menghangat tak hanya tubuhnya, hatinya juga menghangat
Perlahan Sehun menggerakkan tangannya untuk mengusap air mata yeoja berparas cantik itu.
"Mereka mungkin saja meninggalkanmu… tapi aku pastikan…. Oh Sehun tidak akan meninggalkanmu… Sehun yang ini akan selalu bersamamu, tidak akan pernah meninggalkanmu…"
Sehun kembali berbisik, kedua mata mereka saling tertaut hingga mereka sama – sama merasa ada magnet yang yang cukup kuat untuk menarik mereka agar semakin mendekat satu sama lainnya
"Wae? Kenapa kau tidak meninggalkanku juga…?" bisik Luhan ketika keduanya sudah sangat dekat
Sehun bisa merasakan hangat napas Luhan dan wangi mawar segar yang menguar dari tubuh hangan yeoja itu.
"Karena aku…." Suara Sehun memberat dan jarak mulai terhapus diantara keduanya
.
.
.
.
"…..Oh Sehun….." Sehun melanjutkan kata – katanya dengan suara yang makin lembut dan dalam, dan kini kedua hidung mereka sudah saling bersentuhan
.
.
.
.
"…..mencintaimu… Luhan…" Sehun bisa merasakan permukaan bibir merah alami milik Luhan saat mengatakannya dan
.
.
.
.
CHUP
.
.
.
.
Sehun menempelkan bibirnya dengan bibir Luhan, mata mereka saling terpejam dan napas mereka seakan tertahan. Namun lama kelamaan… bibir tipis Sehun mulai bergerak dan melumat perlahan bibir Luhan. Dan kedua tangan Luhan mencengkram erat blazer Sehun.
.
.
.
.
.
.
.
Seoul 2025
"Shin cepat sekali tidur ya, beda dengan Chaeri yang harus dibacakan dongeng atau digendong kemana – mana dulu, apa semua baby boy seperti itu?"
Luhan menatap bayi gembul yang ada dalam gendongannya penuh kekaguman, bayi itu berusia sekitar 3 bulan dan hidungnya mancung persis sang appa.
"Tidak eonni… Joon dulu juga harus dibawa berkeliling rumah dulu baru mau tidur. Kalau Shin sih memang jago tidur" ujar seorang yeoja lain yang kini sedang merapikan botol susu milik bayinya yang sedang digendong sang adik ipar.
Zitao sering bingung bagaimana cara memanggil Luhan. Jika dilihat dari hubungan keluarga, Luhan adalah adik iparnya karena Zitao menikahi Yifan, kakaknya Sehun. Namun jika dilihat dari segi usia, Zitao lebih muda 2 tahun dari Luhan. Tapi karena Zitao lebih terbiasa memanggil Luhan dengan eonni dan tidak nyaman jika memaksakan hal – hal seperti itu, Zitao tetap memanggil Luhan dengan sebutan, eonni.
"Oh ya… Joon dan Yifan pergi kemana?" tanya Luhan yang baru ingat jika putra sulung dan kepala keluarga Oh Yifan tidak ada sejak pagi.
"Yifan Oppa bilang mau ke rumah Jae eomma lalu menjemput Joon pulang hagwon" Zitao tersenyum manis kemudian duduk di samping Luhan dan menatap putra bungsunya yang digendong Luhan
"Yifan memang Appa yang baik… dia selalu bisa meluangkan waktu untuk keluarga dan memiliki waktu khusus untuk bersama Joon. Aku semakin membenci Sehun sekarang" gerutu Luhan penuh amarah
"Eonni! Kau tidak boleh bicara begitu… Sehun adalah arsitek muda terbaik di Korea, dia tentu punya banyak tender yang harus dia kerjakan" Zitao mencoba menenangkan rusa pelarian itu
"Yifan juga pengacara sibuk! Clientnya juga dimana – mana! Tapi Yifan masih bisa meluangkan waktunya untukmu, untuk Joon dan Shin, untuk keluarga dan lain sebagainya…"
Tubuh gembul Shin bergerak – gerak tak nyaman di pelukan Luhan, bayi memang peka dan nampaknya Oh Shin tau jika bibi galaknya itu sedang kesal pada paman wajah besinya.
"Eonni… Gege dan Sehun berbeda… Eonni tidak bisa membandingkan orang yang berbeda eonni… Bukankah selama 7 tahun belakangan eonni tidak pernah masalah dengan kesibukan Sehun? Kenapa baru sekarang eonni merasa kesal dengan Sehun yang sibuk? Kenapa tidak dari dulu?" Zitao mengelus pucuk kepala Shin hingga bayi itu kembali pulas di pelukan Luhan.
Luhan terdiam, benar apa kata Zitao. Dia dan Sehun sudah menikah selama 7 tahun. Dan selama 7 tahun itu Luhan tak pernah sekalipun mengeluh atau mempermasalahkan Sehun yang sibuk dengan sketsa dan desain bangunannya, selama 7 tahun belakangan memang tak sekalipun Luhan menuntut Sehun untuk menjadi Sehun yang lain.
Selama ini Luhan selalu menjadi istri yang paling sabar dan mengerti untuk Sehun. Selama ini juga Luhan selalu menjadi ibu yang baik dan penyayang bagi putri tunggalnya. Luhan tak pernah keberatan harus meninggalkan pekerjaannya demi menjadi ibu rumah tangga yang sibuk mengurus rumah, suami dan anaknya, Luhan juga tak pernah mengeluh jika Sehun pulang larut bahkan harus menginap di luar kota atau diluar negeri tanpanya, Luhan juga tidak pernah mengangkat hal kecil jadi masalah besar seperti ini. Tapi kenapa seminggu yang lalu Luhan malah jadi benar – benar emosi ketika Sehun bilang dia sibuk. Itu bahkan bukan pertama kalinya Sehun bilang dia sibuk dan mematikan telponnya sepihak.
"Eonni… gwaenchanha?" Zitao memanggil Luhan karena dia melihat Luhan melamun sejenak
"Gwaenchanha… aku hanya tak mengerti kenapa aku bisa sekesal ini pada Sehun" Luhan menghela napasnya.
Jujur saja kini dadanya sesak, di satu sisi dia sangat merindukan putri dan suaminya tapi di sisi lain entah kenapa dia sangat marah pada Sehun hanya karena suaminya bilang dia sibuk, padahal jelas Sehun sibuk untuk masa depan keluarga kecil mereka.
"MOMMMYYYY…."
Suara melengking bocah berusia 6 tahun membuyarkan pikiran Luhan. Luhan melihat Joon masuk ke kamar sang adik dan langsung memeluk Zitao.
"Joon-ah… tadi belajar apa saja di Hagwon?" tanya Zitao masih memeluk putra sulungnya
Joon kemudian menceritakan semua yang dia pelajari bersama teman – temannya dan dia juga mengerjakan tugas – tugasnya dengan baik. Oh Joon memang mewarisi otak encer sang Appa.
"Anak mommy memang hebat!" Zitao menakup pipi putranya dan mencium kening sang jagoan
"Lulu eomma… kenapa Lulu eomma lama sekali main di rumah Joon, apa Lulu eomma tidak merindukan Chaeri?" tanya Joon dengan tatapan polos yang dia warisi dari sang Mommy
Zitao yang merasa tidak enak dengan pertanyaan putra sulungnya dan juga perubahan wajah Luhan langsung mencari topic lain untuk dibicarakan
"Ya Joon-ah… bagaimana jika sekarang kau mandi lalu kita makan malam?! Go now…" Zitao menepuk bahu putranya sebentar dan menggiring Joon keluar dari kamar adiknya.
Tak lama setelah Tao dan Joon keluar, Yifan yang kini juga masih menggunakan stelan jas legkapnya masuk ke dalam kamar Shin dimana Luhan masih menggendong bayi kecilnya yang tertidur.
"Senangnya ada kau di rumah… Zitao jadi punya banyak waktu untukku dan Joon…" Kris duduk di tempat tidur single Shin dan bersebrangan dengan Luhan, Luhan tidak menjawab, yeoja itu tau kalau Yifan hanya ingin menyuruhnya pulang ke rumahnya (lagi).
"Shin mirip denganku kan?" tanya Yifan basa – basi
"Aku rasa Shin akan punya wajah dingin sepertimu juga OH!" tegas Luhan
"Hei… jangan menyebut margaku begitu… kau lupa ya jika kau juga bermarga Oh sekarang?" Yifan mengejek Luhan dan yeoja itu melotot
"Eotte? Kau masih ngambek pada adikku?" Yifan bertanya pada Luhan tapi yang dipandang malah Shin
Luhan terdiam sejenak, kepalanya juga berpikir keras, rasanya terlalu kekanakan jika aksinya ini disebut ngambek.
"Entahlah… yang jelas aku sangat kesal pada adikmu!" Luhan menundukkan kepalanya
Yifan lalu merogoh sesuatu dalam tasnya, tak lama sebuah benda persegi berwarna hitam bernama ponsel dia serahkan pada Luhan.
"Bacalah…"
Luhan hanya menerima ponsel itu tanpa melakukan apapun.
"Dua pesan terakhir dikirim oleh Princess Chaeri…"
Setelah itu Yifan langsung bangkit dari tempat tidur Shin lalu pergi meninggalkan Luhan berdua dengan keponakan gembulnya yang masih tidur.
From: Maknae
Hyung… Luhan menghilang, Luhan tidak ada di rumah… saat aku pulang hanya ada Chaeri di kamarnya sedang menangis ketakutan! Luhan meninggalkan Chaeri dan aku hyung…
From: Maknae
Luhan tidak mengangkat teleponku
From: Maknae
Apa Luhan ada di rumahmu? Luhan tidak ada di tempat eomma…
From: Maknae
Apa Luhan mengabarimu?
From: Maknae
Luhan marah padaku karena aku akhir – akhir ini selalu pulang terlambat dan sering ke luar kota. Terakhir Luhan memintaku untuk cepat pulang tapi aku bilang aku sibuk lalu aku memutuskan telpon secara sepihak karena rapat tender akan segera dimulai.
From: Maknae
Apa Luhan menghubungimu atau Zitao?
From: Maknae
Aku terpaksa mengajak Chaeri ikut ke kantor setiap hari, aku juga mengajak Chaeri ke ruang rapat saat aku rapat, aku tak bisa meninggalkan Chaeri sendirian di rumah.
From: Maknae
Ani… Chaeri hanya selalu merengek sebelum tidur, dia bertanya eommanya di mana tapi aku tak bisa menjawabnya.
From: Maknae
Ne, aku kehilangan tender hotel di Jejju dan Villa di Yanggu… Dan perusahaan asing yang menanam modal menuntut sahamnya kembali, maka dari itu aku meminta bantuanmu untuk mengurus gugatan dari Zhuen Corp.
From: Maknae
Chaeri baik – baik saja, dia hanya merindukan masakan eommanya…
From: Maknae
Hari ini aku mulai mengambil cuti, mungkin beberapa hari… aku tidak enak badan dan rumah sudah mulai berantakan, aku takut chaeri ikut sakit…
From: Maknae
Tidak usah, aku ingin membuktikan pada Luhan jika aku adalah suami yang bertanggung jawab pada keluargaku. Aku akan mengurus Chaeri dan rumah selagi Luhan pergi, anggap saja ini untuk menebus kesalahanku yang sudah mengabaikannya selama ini.
From: Maknae
Jika perusahaanku bangkrut mungkin Chaeri tidak akan keberatan jika appanya pindah pekerjaan jadi guru les matematika.
From: Maknae
Aku menghabiskan waktuku bersama Chaeri di rumah. Jangan khawatir, Jongin bisa diandalkan dalam mengurus perusahaan. Luhan benar, aku butuh libur dan membagi waktuku bersama Chaeri.
From: Maknae
Uncle… Appa menangis…
From: Maknae
Appa bilang dia kangen eomma, uncle... what should I do?
Itu semua adalah isi pesan yang dikirim Sehun selama satu minggu belakangan ini kepada Hyungnya. Yang menjadi topik adalah Luhan. Luhan memang selalu meminta Yifan untuk mengontrol Sehun dan Chaeri selama dia pergi, tapi saat Luhan membaca sendiri balasan pesan dari suaminya Luhan bisa merasa jika Sehun selalu berusaha tenang menghadapi semua masalah sendirian. Dan terkahir, itu pesan dari Chaeri… Sehun menangis?
Air mata Luhan jatuh begitu saja, Luhan serasa ditampar oleh kenyataan. Bagaimana sikap konyol dan kekanakannya bisa membuat Sehun menderita. Bagaimana bisa selama ini dia mengabaikan Sehun yang mencarinya, Sehun yang menghawatirkannya, Sehun yang membutuhkannya, Sehun yang tak bisa tanpa dirinya, Sehun yang hampir kehilangan segalanya.
Luhan sudah membuat suaminya menderita selama seminggu ini. Sebenarnya Luhan memang kabur dan tinggal di rumah Yifan, Luhan memaksa Yifan dan Zitao untuk tidak memberitau Sehun. Beruntung Joon dan Chaeri tidak satu sekolah lagi, jika mereka satu sekolah mungkin rahasia ini sudah terbongkar.
Kini Luhan benar – benar ingin memeluk suaminya, Luhan benar – benar ingin memeluk Sehun dan tidak melepaskannya lagi. Luhan benar – benar ingin minta maaf karena seminggu ini sudah egois dan melakukan hal kekanakan. Tapi… disisi lain Luhan merasa gengsi untuk kembali ke rumah. Dia masih ingin Sehun merasakan betapa sepi dan tersiksanya dia sendirian.
.
Yifan baru saja menggendong Joon yang ketiduran di ruang keluarga masuk ke dalam kamarnya, sementara Zitao masih menyusui si bungsu Shin. Keluarga kecil itu terlihat begitu rukun dan damai. Oh Yifan dan Huang Zitao memang menikah hampir setahun setelah Sehun dan Luhan menikah, tapi keluarga Yifan lebih dulu dikaruniai buah hati, Oh Joon lahir 6 bulan setelah kedua orang tuanya menikah, nampaknya Yifan sedikit melakukan kenakalan kecil di masalalu. Dan 3 bulan yang lalu kembali keluarga kecil Oh Yifan dikaruniai buah hati keduanya, putra kedua bernama Oh Shin.
Kini kedua mata rusa Luhan melihat bagaimana Yifan menemani Zitao menyusui Shin, terkadang Yifan berbicara sesuatu dan itu membuat Shin tertawa dan mengigiti puting susu eommanya, Zitao selalu memukul pelan Yifan jika sudah begitu, dan Yifan malah tertawa dan itu semakin memancing Shin untuk ikut tertawa.
Luhan menghela napasnya, dia merinduukan Sehun saat ini. Jauh dari keegoisan dan emosi kekanakannya, Luhan benar – benar merindukan Sehun. Luhan sangat merindukan bagaimana Sehun selalu memeluknya ketika tidur, bagaimana Sehun selalu tersenyum ketika Luhan meniup wajahnya setiap pagi, bagaimana Sehun selalu bingung memilih pakaian untuk kekantor, bagaimana Sehun selalu memanggil nama Luhan ketika dia kehilangan sesuatu, bagaimana Sehun selalu mengecup keningnya setiap saat dan mencuri kecupan di bibir saat Chaeri tidak melihatnya, bagaimana Sehun sekedar menelpon untuk bertanya apakah Chaeri sudah makan siang, bagaimana Sehun menelpon setiap Chaeri pulang sekolah hanya untuk mendengarkan cerita anak itu tentang apa yang putrinya lakukan di sekolah dan masih banyak lagi hal – hal kecil yang Sehun lakukan untuknya.
Luhan baru sadar, sesibuk apapun seorang Oh Sehun, dia tidak pernah sedikitpun mengabaikan keluarganya. Sehun selalu mengontrol istri dan anaknya setiap dia punya waktu, walaupun hanya melalui telpon atau video call. Luhan benar – benar merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah berlebihan, tentu saja Sehun tidak akan bisa berada di sisinya setiap saat, Sehun harus bekerja karena suaminya adalah tulang punggung keluarga, memang dia pikir kehidupan nyamannya selama ini siapa yang menciptakan jika bukan karena hasil kerja keras suaminya? kemana saja Luhan selama ini?
Luhan ingin pulang…. Memang berulang kali Sehun meminta Luhan pulang, mulai dari permintaan halus sampai permintaan macam Sehun yang berlidah tajam sudah Sehun kerahkan tapi sama sekali rusa cantik ini tidak mau menanggapinya, yang Luhan pikirkan hanyalah perasaannya yang kekanakan. Sebegitu tersinggungnya kah Luhan hanya karena Sehun bilang dia sibuk dan tidak bisa pulang?
"Sedang merindukan keponakanku atau adikku?"
Yifan mengagetkan Luhan yang melamun di balkon ruang keluarga rumah Yifan. Selama seminggu memang Luhan menjadi tamu yang menginap di sana, tidak ada yang keberatan malah Zitao benar – benar menyukainya karena dia akan punya teman ngobrol saat Joon sekolah dan Yifan bekerja. Sengaja Luhan tidak memilih kabur ke rumah mertuanya karena dia tentu mengenal betul bagaimana sosok Nyonya Oh Jaejong, pastinya dia tidak bisa menjaga rahasia tentang keberadaan Luhan.
"Meolla…." Singkat Luhan
Yifan mengerutkan keningnya, menatap aneh mantan teman sekelas yang kini jadi adik iparnya. Luhan tak biasanya bicara sebegini singkat, mungkin jika Sehun yang Yifan ajak bicara itu tidak aneh, tapi ini Luhan.
"Pulanglah…. Adikku perlu istrinya…. Terlebih lagi keponakanku yang cantik pasti perlu eommanya…." Yifan masih berkata lembut, menatap bintang – bintang dilangit yang nampaknya mengejek Luhan
"Zitao mana?"
Yifan kembali mengaitkan keningnya ketika Luhan bertanya sangat ketus, kepalanya terus berpikir apa benar yang disebelahnya ini Luhan? Atau malah Sehun yang menjelma jadi Luhan? Karena gaya bicara Luhan benar – benar Sehun's style.
"Baru saja menidurkan Shin, mungkin sekarang sudah di kamar kami" jawab Yifan sejujur – jujurnya.
Yifan tau, Luhan dulunya memang galak, tapi semenjak Luhan dan Sehun punya hubungan khusus setau Yifan yeoja bermata rusa itu mulai jinak… tapi kenapa hari ini mendadak galak lagi?
"Aku akan tidur di kamar Shin…" Luhan meninggalkan Yifan seenaknya
Yifan juga sering aneh, seminggu ini walaupun Luhan sudah disiapkan kamar tamu tapi dia lebih suka tidur di kamarnya Shin. Bukannya Yifan keberatan, tapi namja tampan beralis tebal itu hanya bingung, sebenarnya adik iparnya itu kenapa? Akhir – akhir ini selalu mendadak lengket dengan Shin.
Dan kali ini Yifan benar – benar merasa iba pada adiknya yang harus menghadapi mood buruk Luhan yang mendadak muncul lagi seperti ini.
.
Sehun kini sedang memandang wajah Chaeri yang sudah terlelap. Dan lagi – lagi Sehun takjub, bagaimana bisa putri kecilnya ini sangat mirip dengannya, kecuali bentuk bibir dan rambut ikalnya, tapi itu tidak berpengaruh banyak mengingat wajah Luhan dan Sehun yang sepintas mirip.
Sehun tersenyum lembut menatap malaikat kecil dengan napas teratur yang saat ini tidur bersamanya. Mereka berdua tidur di kamar utama, Chaeri yang minta tidur dengan appanya, anak itu sebenarnya khawatir karena appanya terlihat pucat sejak tadi siang. Walaupun Sehun berkata dia baik – baik saja namun Chaeri nampaknya sudah tak bisa dibohongi, gadis itu mewarisi kecerdasan orang tuanya. Bahkan anak berusia 5 tahun lebih beberapa bulan itu merasa bertanggung jawab pada keadaan appanya selama sang eomma tidak pulang.
Sehun menarik tubuh mungil Chaeri lekat – lekat kedalam pelukannya, ada perasaan tenang dan bahagia yang tercipta ketika Sehun mendekap buah hatinya seperti itu. Rasanya Sehun tak perlu obat tidur atau obat penenang untuk tidak sakit kepala memikirkan masalah rumah tangganya dengan Luhan, hanya perlu memeluk Chaeri dan semua terasa lebih ringan dan mudah.
Tapi tetap saja, rasa rindunya pada sang istri sulit di redakan. Sehun berani bertaruh apapun jika Luhan ada di sampingnya sekarang pasti rasanya akan lebih baik. Dan Sehun sudah bertekad, jika semua sudah kembali baik dia akan sering – sering memeluk Luhan dan Chaeri setiap hari.
Sebelum tidur tak lupa Sehun mengambil ponselnya, kebiasaan selama seminggu ini adalah Sehun selalu mengirim pesan pada Luhan untuk cepat pulang, tapi kini Sehun menatap kosong nama kontak Luhan di ponselnya. Namja tampan itu bingung, pesan apa yang harusnya dia kirim untuk sang istri? Luhan adalah yeoja yang rumit dan tak mudah di taklukkan, untuk yang satu itu Sehun tau betul seberapa sulitnya.
Otak encer Sehun terus berputar – putar dan akhirnya dia menemukan empat kata yang pas.
"Aku lupa Rusaku itu orang Cina…. Dia pasti mengerti ini…"
Sehun tersenyum sangat manis dan mengetik empat karakter Cina kemudian dia kirim ke Luhan. Semoga empat karakter itu bisa membawa Luhan secepatnya kembali. Setelah itu Sehun kembali meletakkan ponselnya, setelah itu mengecup pucuk kepala aroma strawberry putrinya dan tidur karena dia sudah sangat lelah. Tidur sambil memeluk putrinya.
.
.
.
.
.
.
.
Seoul 2012
Musim dingin sudah hampir berakhir dan Ini sudah 1 bulan lebih terlewati pasca kejadian di rumah Luhan saat malam natal itu.
Kalian pasti mengira hubungan Luhan dan Sehun sudah lebih dari kata teman? Iya kan? Tapi tidak… yang terjadi malahan keduanya tak berani untuk bicara satu sama lain. Keduanya tak berani untuk saling bertemu satu sama lain. Keduanya merasa malu dan canggung.
Jika tak sengaja bertemu pun keduanya akan saling berpura – pura tidak melihat atau berusaha agar tidak bertemu. Katakanlah Sehun pengecut atau Luhan yang membuat semuanya rumit tapi…. Semua itu terlalu cepat. Sehun mencium Luhan di malam natal setelah mengatakan Cinta. Luhan saja belum menjawab pernyataan cinta Sehun karena setelah ciuman itu Luhan langsung meminta Sehun untuk segera pulang, alasannya karena sudah terlalu malam.
Hari berganti dan ujian kelulusan angkatan Yifan sudah didepan mata, tidak terasa bahkan besok ujian itu akan di mulai. Sehun dan Luhan tentu tidak akan pernah Lupa dengan perjanjian yang mereka buat. Tentang hadiah yang akan Sehun berikan jika Luhan berhasil meraih nilai matematika tertinggi di sekolah.
Kini Sehun dan satu angkatannya diluburkan karena ujian angkatan Yifan, Sehun memandang ponselnya dan menatap lirih benda persegi itu.
"Telpon saja… jika kau tak yakin kau boleh mengiriminya pesan… yang penting ada bentuk semangat darimu!"
Itu Jongin yang berbicara, anak itu semalam menginap di rumah Sehun karena hari ini libur dan kedua orang tuanya sedang ada dalam perjalanan wisata ke Cina, sayang sekali Jongin tidak diajak, alasannya karena Jongdae juga tidak ikut.
Sehun memilih untuk menuruti opsi kedua yang Jongin ajukan, mengirim pesan singkat untuk Luhan. Yeoja yang sudah menggantung perasaannya selama 1 bulan lebih.
.
Luhan kini sedang menata lokernya dan lagi – lagi dia harus bertemu dengan kakak iparnya di masa depan, Oh Yifan.
"Sehun tidak terlihat baik akhir – akhir ini…" gumam anak itu
"Aku tidak peduli" jawab Luhan singkat
"Baiklah… tapi setidaknya walaupun kau tidak peduli, jangan menggantungnya seperti itu…" Yifan kemudian meninggalkan gadis yang dipanggil bambi oleh sang adik itu
Drrt… drrrt
Sebuah pesan masuk ke ponsel Luhan dan itu pesan dari Sehun. Luhan sangat gugup kali ini dan dengan buru – buru dia ingin membuka pesan itu.
From: My OSH
Semangat untuk ujiannya, Bambi
Aku dan hadiahmu menunggumu.
Luhan yakin seratus persen jika pipinya sangat merah kali ini. Demi Tuhan Luhan ingin sekali memeluk Sehun saat ini, entahlah… rasa tenang yang tercipta saat dia memeluk anak itu sangat gadi itu rindukan.
"Aku akan mendapatkan hadiahku, Oh Sehun!" bisik Luhan dan itu dia jadikan untuk semangatnya menempuh ujian.
.
Hari berganti, Sehun kembali menjadi peringkat satu di angkatannya semester ini. Sehun dinyatakan naik ke kelas 2-1 A yang artinya itu adalah program akselerasi dan sahabatnya Kim Jongin naik ke kelas 2-3 A yang juga akselerasi namun dalam konsentrasi studi IPS. Walaupun Jongin sudah berpindah jurusan, tetap saja, dia belum bisa mendapatkan yeoja bermata bulat itu. Nasib kedua sahabat itu rupanya sama naas.
Hingga tiba di hari ke lulusan dan pengumuman nilai, akhirnya mereka mau tidak mau akan kembali bertemu.
"Yifan-ah… gunakan dasimu, dan… Oh Sehun, sampai kapan kau akan menatap ponselmu…. Ayo segera siap – siap"
Seperti biasa, sang primadona keluarga kecil Oh itu mengomel di pagi hari, tapi bukan tanpa alasan pagi ini sang nyonya mengomel. Hari ini adalah hari besar dan bersejarah bagi keluarganya karena Yifan hari ini Lulus Senior High School.
Dengan melalui pergulatan hebat akhirnya sekelompok keluarga Oh itu sampai di sekolah. Oh Yunho sang kepala keluarga tentu duduk di kursi kehormatan sebagai kepala sekolah. Oh Yifan, si anak sulung tentu duduk di kursi siswa yang lulus, dan di kursi undangan ada Oh Jaejong dan Oh Sehun. Sehun melihat dengan jelas dua buah kursi kosong yang tak jauh dari tempat duduknya. Dua kursi itu berlabel huruf China yang Sehun tau bacaannya adalah 'LU' marga keluarga Luhan.
Sehun mencari – cari dimana yeoja itu dan akhirnya dia menemukan sesosok yeoja cantik dengan memakai jas dan seragamnya dengan lenkap duduk tepat di sebelah Yifan. Bahkan mereka berdua saling berbincang yang Sehun tidak tau apa itu.
"Hadirin yang berbahagia, ini saatnya mengumumkan hasil nilai 3 peraih peringkat tertinggi di Hyundai School…" seorang MC cantik menyita perhatian semua hadirin
"Peringkat pertama, diraih oleh… Oh Yifan."
Setelah MC memanggil nama Yifan, dan siswa dengan wajah tampan dan postur tubuh sempurna itu maju ke podium untuk menerima ijasahnya. Selagi Yifan berjalan, di layar proyektor sudah tertera transkrip nilai Yifan.
Bahasa Korea 100% - A
Bahasa Inggris 100% - A
Fisika 100% - A
Biologi 100% - A
Kimia 100% - A
Matematika 98% - A
Semua orang bertepuk tangan melihat betapa jeniusnya anak itu. Oh Jaejong bahkan tak henti – hentinya membidik lensa kamera DSLRnya pada sang putra yang kini tengah bersalaman dengan Ayahnya sendiri. Nampak jelas bagaiaman seorang Oh Yunho bangga pada putra sulungnya. Yang artinya adalah, Sehun harus mengikuti jejak Yifan, menjadi yang terbaik dari yang paling baik.
"Peringkat kedua, diraih oleh… Kim Junmyeon."
Sama seperti Yifan, transkrip nilai kakak kelasnya itu juga ditampilkan di layar proyektor namun di kolom nomor dua tepat di sebelah kolom transkrip nilai Yifan.
Bahasa Korea 100% - A
Bahasa Inggris 98% - A
Fisika 98% - A
Biologi 100% - A
Kimia 100% - A
Matematika 98% - A
"Dan peringkat ketiga, diraih oleh… Lu Han"
Sehun membelalakkan matanya dan langsung mengarahkan pandangannya pada transkrip nilai Luhan yang ditayangkan di kolom nomor 3.
Bahasa Korea 100% - A
Bahasa Inggris 98% - A
Fisika 98% - A
Biologi 99% - A
Kimia 98% - A
Matematika 100% - A
Sehun benar – benar melotot kali ini. Nilai matematika Luhan bahkan lebih besar dari nilai matematika seorang Oh Yifan. Daebak. Itu artinya Luhan akan mendapatkan hadiah yang Sehun janjikan.
.
Setelah acara inti selesai, akhirnya tiba pada sesi foto – foto. Keluarga Oh baru saja melakukan sesi fotonya. Semua orang memuji Yifan atas nilainya yang hampir sempurna itu. Sehun bukannya ikut berkumpul bersama keluarganya, anak itu malah mencari sosok 'bambi' yang sangat dirindukannya.
DEG
Sehun menemukan sosok Luhan. Namun Luhan yang dia temukan adalah Luhan yang memandang teman – temannya dengan tatapan iri. Bukan iri pada hasil belajar mereka. Tapi Sehun tau, Luhan iri karena teman – teman Luhan saling berfoto bersama keluarga.
Sehun bisa lihat, keluarga Jongin juga berfoto dengan cerianya. Begitu pula sahabat Luhan yang tidak bukan adalah kekasih kakaknya Jongin. Dan juga keluarga yeoja berlesung pipi cantik yang Sehun tau adalah pacar dari si peraih peringkat dua itu.
Saat tiba jamuan makan – makan dimana para undangan (orang tua siswa) dipersilahkan untuk menyantap hidangan. Maka siswa akan sibuk berfoto ria dengan teman – teman mereka. Saat itulah Sehun berani mendekati Luhan.
"Chukhae sunbaenim" Sehun datang lalu menyerahkan sebuah bouqet bunga pada Luhan
Luhan tersenyum ramah dan menerima bunga itu, "Gomawo… Hobaenim" jawab Luhan lembut.
"Kau berhasil meraih nilai terbaik di mata pelajaran yang kau benci!" Sehun berujar dengan wajah datar namun binar mata yang bahagia
"Eoh… itu karena seorang hobae berjanji untuk memberiku hadiah jika nilai matematikaku lebih besar dari nilai Hyungnya yang jenius itu" jawab Luhan kembali tersenyum
"Sunbaenim…. Tidak berfoto dengan keluarga?" Sehun bertanya dengan senyum jahilnya
"Aku tidak punya keluarga untuk kuajak berfoto…" jawab Luhan tanpa sedikitpun merasa tersinggung
"Kalau begitu ini… hadiah yang hobaemu janjikan…"
Sehun menyerahkan sebuah gulungan kanvas berukuran sedang berpita merah kepada Luhan. "Bukalah…. Semoga kau menyukainya" ucap Sehun tenang
Luhan menuruti apa yang Sehun katakana, gadis itupun membuka gulungan kanvas itu dan…
DEG
Tangan Luhan bergetar melihat apa yang ada diatas kanvas itu. Itu adalah lukisan Luhan bersama kedua orang tuanya, hanya saja Sehun menggambar Luhan yang sekarang dan dengan baju seragammnya, memegang buket bunga dan senyum bahagia diapit oleh kedua orang tuanya yang memeluk Luhan dengan penuh kasih sayang seperti dalam foto yang dulu Luhan pernah tunjukkan pada Sehun.
"Kedua orang tuamu mungkin tidak bisa hadir di sini, kau juga tidak mungkin berfoto dengan mereka saat kelulusanmu, tapi kurasa untuk melukis mereka ada dalam moment ini bukanlah hal yang sulit…. Itu adalah hadiahku!"
Luhan mengangguk dan Sehun yakin Luhan sudah hampir menangis saat ini.
"Ya… apa kau bahagia, sunbaenim?" tanya Sehun dengan nada yang dibuat – buat sok tidak berbanmal
"Mmm… bagaimana bisa aku tidak bahagia ketika aku bisa dilukis bersama kedua orang tuaku?" Luhan tersneyum simpul dan berhasil menahan tangisnya.
Sehun memandang Luhan dengan senyum tenangnya kemudian berkata, "Ya Sunbaenim…. Pertama, kau membuatku memikirkanmu... Kedua, kau membuatku peduli padamu… Ketiga, kau membuatku gila… Dan kali ini, kau membuatku selalu berusaha agar kau bahagia… Aku rasa aku benar – benar mencintaimu… Lu Han sunbaenim"
Luhan tersenyum ambigu, gadis itu kemudian menggulung kembali kanvas yang dia pegang dan mengikatnya kembali lalu memeluknya bersamaan dengan bouquet bunga yang Sehun berikan tadi.
"Ya… sepertinya berfoto dengan hoobae menyebalkan saat kelulusan bukanlah hal yang buruk… mau berfoto denganku?" Luhan mengajak Sehun untuk berfoto bersama
"Geurae… khajja!" Sehun pun menerima ajakan itu dengan riang
"Sudah siap?" kata sang photographer pada Luhan dan Sehun
"Ne…" ucap keduanya
"Dihitungan ke tiga….
"…Hana…."
GEP
Luhan menggenggam sebelah tangan Sehun dengan tangannya yang bebas
"….. Dul….."
SRET
Luhan menarik cepat tubuh Sehun hingga berhadapan dengan dirinya dan
"… Set….."
CHUP
Luhan berjinjit lalu mengecup tepat dibibir tipis Sehun.
CEKREK
Dan moemment itu diabadikan oleh sang photographer, tidak hanya itu…. Semua mata memandang moment manis itu dengan tatapan kaget. Begitu pula dengan Yifan, Jongin, Jongdae, Xiumin, Yixing, dan Junmyeon.
"Nadoo Saranghae… Oh Sehun…." Bisik Luhan kemudian yeoja itu tersenyum penuh kemenangan.
Sehun tercekat kaget, tentu saja, dicium begitu saja dihadapan orang banyak. Itu benar – benar mengagetkan. Luhan memang susah ditebak. Dan sesaat kemudian
SRET
Sehun menarik Luhan kepelukannya lagi dan….
CHUP
Sehun membalas ciuman Luhan tadi dan bahkan lebih lama. Dan begitulah bagaimana Ayah dan Ibu dari seorang Oh Chaeri akhirnya memulai babak yang baru sebagai sepasang kekasih.
"Ya…. Oh Yifan…. Akhirnya si rusa galak dan pangeran wajah besi itu saling jatuh cinta eoh?" bisik Junmyeon dengan nada jahil
"Selera adikmu benar – benar jjang Tuan OH!" bisik Jongdae dengan wajah trollnya
"Entah kenapa malah aku yang bahagia hyung…" gumam Jongin pada sang kakak
Sementara Yifan dengan wajah paniknya berkata…
"Jaebal…. Jangan sampai kedua orang tuaku tahu ini!"
.
.
.
.
.
.
ToBeContinued
.
.
.
.
Chapter 5
"How I Marry Your Mother"
"Dan tepat saat mata kita bertemu… entah darimana datangnya keyakinan itu, hatiku berkata kau adalah sosok ibu yang sempurna untuk anak – anakku kelak"
.
.
.
.
ARUNA's Corner!
Pertama – tama Aruna mau ucapin terima kasih banyak untuk semua readerdeul yang udah setia nunggu FF ini. Maaf kalo ini FF telat update dan semua FF yang lain juga, maklum… Aruna ngetiknya pake satu tangan karena ada musiba dan alhamdulilah sekarang udah sembuh…..
Nah…. Gimana nih readerdeul… di Chapter ini akhirnya HunHan bersatu walaupun itu di masa lalu dan di masa sekarang, kalian udah pada tau kan Luhan dimana? Luhan gak selingkuh kok…. Dia Cuma lagi ngumpet aja dirumah abang suaminya….
Sekali lagi Aruna ucapin makasi banyak ya…. Udah baca, review, fav, follow FF ini…
Dan Aruna juga minta kritik dan sarannya untuk Chap ini di kotak review bagi yang berkenan… Maaf di chap ini Aruna gak bales reviewnya… karena biar keburu update aja ini FF mengingat jadwal Event bubble tea ini mau udahan… hiks… Kak Liyya… diperpanjang napa Eventnya… peliiiisss…. Readerdeul yang pengen event ini diperpanjang siapa? Hayo pecinta HunHan keluar semua yooo…. Ahahahaha
.
.
.
Oh iya…. Selamat hari ibu buat semua Mamanya readerdeul! Salam dari Aruna ya buat Mama kalian… dan buat readerdeul yang sudah jadi Mama… selamat hari ibu ya Chingu… (siapa tau aja ada kan ye…)
.
.
.
Selamat liburan semester buat readerdeul yang masih sekolah, Selamat menempuh Ujian Akhir Semester bagi readerdeul yang kuliah…. Bagi readerdeul yang ada di semester akhir, selamat menggarap proposal, penelitian dan skripsinya ya….. buat readerdeul yang udah kerja, Fighting! Do the best seperti oppadeul kita ya….
Dan satu lagi, selamat hari raya galungan dan kuningan bagi yang berumat Hindu…. selamat Natal untuk yang berumat Kristen dan Katolik….. serta Selamat Tahun baru untuk readers tercinta Author Aruna Wu!
Sokh… karena ini udah malem banget di Bali…. Akhir kata,,, selalu Aruna ucapkan…
AUUUU…. AH! SARANGHAEYEO!
RnR Juseyeooo….
HUNHAN FOREVER!
HUNHAN FOR LIFE!
