Untuk saat ini, aku hanya ingin kau tetap berada di sini. Di sisiku.
.
I Want You To Stay [2nd Sequel] © aidaverdyky
Naruto © Masashi Kishimoto
Drama-Hurt/Comfort-Romance
Main Character: Sasuke U., Sakura H., Gaara S.
Other Character: Naruto U., Sai, Ino Y., Uchiha Family
Rate: T
Warning: AU, OOC, typo(s) ect.
Inspired by: BigBang – Let's Not Fall In Love [Song & MV]
.
Sasuke berjalan gontai menuju lapangan basket penuh kenangannya bersama sakura. Mengambil bola basket yang tergeletak di ujung lapangan, Sasuke mulai bermain. Pemuda berambut hitam itu bermain sendirian hingga kelelahan. Sasuke bahkan tak memedulikan hujan yang tiba-tiba turun. Badannya telah basah oleh keringat dan air hujan.
Namun, tiba-tiba Sasuke mendongak. Dia teringat, saat itu juga hujan. Saat di mana Sakura mempertanyakan hubungan mereka untuk pertama kalinya –meskipun hanya melalui tatapan matanya. Dan dengan egoisnya Sasuke meminta gadis itu untuk tidak jatuh cinta padanya, menolak memberikan janji untuk kelanjutan hubungan mereka, namun meminta Sakura tetap tinggal di sisinya.
"Dia benar. Aku memang bajingan egois." Sasuke tersenyum getir. Keinginannya untuk tidak melukai Sakura justru melukai keduanya dengan lebih dalam lagi. Pemuda itu terduduk, menekuk lututnya dan menelungkupkan kepalanya.
Bayangan pertengkaran kakaknya dengan Konan, kekasih Itachi, di telepon. Ingatannya tentang Itachi dan Konan yang saling bentak saat Konan berkunjung kerumahnya. Dan kenangan saat Itachi menangis mendengar tangisan Konan saat meminta putus di telepon menghantui Sasuke.
Dia tak mau Sakura menangis. Dia tak ingin gadis merah mudanya bersedih. Dan dia tak rela Sakuranya terluka. Dia ingin Sakuranya terus tersenyum, tertawa dan bahagia di sisinya hingga dia tak sadar ada hal lain yang lebih diinginkan Sakura. Kepastian darinya.
Kepastian apakah Sasuke benar-benar untuknya.
Sakura bukan gadis lemah, tetapi tetap saja dia hanya seorang gadis yang butuh kejelasan dalam hidupnya. Gadis itu tak ingin lagi diombang-ambingkan. Gadis itu ingin keluar dari dunia yang abu-abu. Dunia dengan kebahagiaan semu yang selama ini di tawarkan Sasuke.
Kini Sasuke sadar. Dia sudah mengkhianati perasaannya sendiri. Dia melarang Sakura untuk jatuh cinta padanya, tetapi hatinya sendiri telah terpaut dengan Sakura. Sudah sejak lama. Tubuh Sasuke bergetar seiring dingin yang semakin menusuk dan tangis yang tak mampu lagi dibendung.
Masih adakah kesempatan untuknya?.
…
Beberapa hari Sasuke tampak seperti zombie. Berjalan dengan gontai sambil menebarkan aura gelap ke sekitarnya. Dan jangan lupa tatapan membunuh yang selalu diberikan pada siapapun yang –dianggap– mengganggunya. Sebagian besar segera menyingkir mendapati sosok Sasuke yang tampak mengerikan, sekaligus menyedihkan. Tetapi tidak dengan tiga orang ini.
Naruto, Sai dan Ino duduk dengan santai bersama Sasuke di kantin kampus. Tak peduli sebanyak apapun deathglare yang diberikannya, mereka bertiga tetap makan dengan santai di satu meja dengannya. Makanan mereka bertiga telah tandas, sementara piring Sasuke masih lebih dari setengah penuh. Sai dan Ino pamit terlebih dahulu. Dan entah dengan kesengajaan macam apa, Sai menggandeng tangan kekasihnya di hadapan Sasuke yang tengah patah hati.
Sasuke menggeram. Naruto yang tahu apa yang mengganggu sahabatnya sejak kecil ini pun menepuk pundak Sasuke pelan. Sasuke menoleh, mengira bocah berambut pirang jabrik itu hendak menyemangatinya.
"Itu salahmu sendiri, Teme." Bisiknya pelan lalu bergegas melarikan diri sebelum sepasang sumpit di tangan kanan Sasuke menancap di kepalanya. Benar-benar kebodohan mengira si Dobe itu hendak memberinya petuah.
Tetapi, apa yang dikatakan Naruto memang benar. Semua ini adalah salah Sasuke yang tak bisa memberi kejelasan karena alasan-alasan yang belum tentu semenakutkan yang dia bayangkan. Dan Sasuke hanya bisa menghela napas kasar mengingat semua itu.
…
Bukan hanya tiga orang itu yang menyadari perubahan Sasuke. Keluarga Sasuke jelas merasakannya lebih baik dari siapapun. Sang ibu dan ayah yang saling senggol sambil melirik Itachi yang hanya mampu mengendikkan bahunya. Sebagai ibu yang baik, Mikoto mencoba bertanya pada Sasuke.
"Sasuke, ada apa denganmu?." Sasuke mengangkat kepalanya, menunjukkan lingkaran hitam di sekeliling matanya yang memerah lalu kembali menunduk tanpa menjawab. Kembali mengobrol dengan piring makan malamnya yang masih berisi setengah nasi goreng tomat.
Mikoto kembali mencoba memancing Sasuke untuk bicara–
"Oh ya. Kenapa Sakura jarang kemari ya?."
–Sayangnya pancingan yang dibunakannya salah total.
Sasuke mendengus lalu melirik tajam ibunya. Hendak memberikan deathglare, tetapi Sasuke khawatir dikutuk, akhirnya dia memilih meninggalkan meja makan dan berjalan gontai menuju kamarnya. Tiga orang yang tersisa kini saling tatap. Itachi yang nampaknya paling paham pamit untuk menengok keadaan adik tersayangnya itu.
CKLEK
"Hei Ototou, aku ada masalah dengan Sakura ya?." Sasuke mendengus lalu melempar deathglare pada Itachi yang masih berdiri dia pintu kamarnya.
Itachi terkikik saat mengetahui tebakannya benar. Berjalan masuk dan mendudukkan dirinya dengan nyaman di tempat tidur Sasuke, pemuda dua puluh lima tahun itu memandang Sasuke yang bersandar pada kursi di depan meja belajarnya, memunggungi sang kakak. dengan pelan Itachi mencoba bertanya masalah Sasuke. Tak ada paksaan, karena dia tahu adiknya bukan tipe yang akan buka mulut jika di paksa.
Pada akhirnya Sasuke luluh juga dan menceritakan semuanya. Mulai dari dia dan Sakura yang dulu bahagia, hingga gadis itu mempertanyakan hubungan mereka dan Sakura yang sepertinya telah menerima pernyataan Gaara. Itachi mengangguk-angguk saat mendengarkan kisah adiknya. Saat dia bertanya alasan Sasuke tak ingin jatuh cinta dengan Sakura, Itachi tertegun.
"Aku tidak ingin menyakitinya." Itachi tersenyum, paham maksud dari Sasuke "Aku juga tak ingin kami bertengkar seperti kau dan Konan-ne–." Pemuda yang hobi menguncir rambutnya itu terkejut "–Aku tak ingin Sakura menangis karena aku membentaknya lalu meminta putus–." Itachi tersenyum kecut, semua itu pertengkarannya dengan Konan yang pernah disaksikan Sasuke.
"Aku merasa semuanya sudah cukup. Kami sudah bahagia seperti itu." sasuke menunduk, tiba-tiba saja merasakan sesak di dadanya. Benarkah semua itu cukup? Sasuke sendiri tak tahu.
Itachi mengacak lembut rambut hitam Sasuke, membuat pemuda itu mendongak. Dia menemukan sang kakak tengah tersenyum.
"Kenapa kau hanya mengingat pertengkaranku denagn Konan-chan? Apa kau tidak ingat saat aku dan Konan membuat kue bersama untuk ulang tahun Otou-san? Apa kau lupa wajah bahagia kami saat kita bertiga pergi ke taman hiburan?." Sasuke tertegun. Dia benar-benar melupakan semua itu.
"Pertengkaran seperti itu hal biasa asal kau bisa mengendalikan situasinya kembali. Kami justru semakin dekat setelah beberapa pertengkaran. Kau kira Konan benar-benar memutuskanku? Kau kira aku mau saja berpisah dengannya?." Senyum Itachi semakin terkembang kala menyaksikan ekspresi paham sang adik.
"Kau jangan hanya fokus memikirkan cara agar dia tidak terluka. Pikirkan juga cara agar dia semakin bahagia." Sasuke tersentak. Dia sadar, dia telah melupakan hal yang penting. Bagaimana membahagiakan Sakura.
"Tapi dia sudah bersama orang lain." Sasuke menunduk mengingat kedekatan Sakura dan Gaara.
"Kalau dari ceritamu tadi, bukankah dia juga memiliki perasaan yang sama padamu? Apa menurutmu dia akan begitu mudahnya berpaling?." Itaci tersenyum menatap binar mata adiknya. Pemuda itu melangkah menuju pintu, baginya sudah cukup ocehannya kepada Sasuke.
Sebelum benar-benar menutup pintu kamar Sasuke, Itachi kembali berujar "Perjuangkan apa yang menurutmu pantas. Kau tak akan tahu hasil seperti apa yang bisa kau dapatkan."
BLAM
Sasuke tersenyum tipis "Terima kasih Baka-Aniki."
…
Di depan kawasan Fakultas Art and Design tempat Sakura dan Gaara menimba ilmu sasuke berdiri menanti sang gadis merah muda. Sepuluh menit berlalu dan dilihatnya gadis yang dicarinya yang tengah berjalan berdampingan dengan pemuda berambut merah, Gaara. Dengan tergesa Sasuke berjalan mendekat dan menghadang mereka.
"Aku ingin bicara Sakura." Sakura terdiam, Gaara nampak tak peduli. Dan Sasuke lebih tak peduli lagi dengan kehadiran Gaara.
"Aku minta maaf karena membuatmu terluka dengan keegoisanku selama ini. Maaf karena tak bisa bersikap tegas padamu dan diriku sendiri. Maafkan aku karena tak bisa membahagiakanmu dengan lebih baik." Sakura tercekat, bukan hanya akrena perkataan panjang Sasuke yang tulus. Gadis itu ingin menangis rasanya menyaksikan Sasuke yang kacau, wajah yang tampak lebih pucat dari biasanya, lingkar hitam yang hampir mengalahkan milik Gaara dan mata merah seolah tak tidur dua hari. Atau mungkin memang benar?
"Aku–." Sakura tak mampu berkata dan Sasuke tak membiarkannya. Ini belum selesai. Perkataannya yang lebih penting belum terucap. Sasuke menggenggam erat jemari lentik Sakura.
"Sakura. Aku memang bajingan egois. Aku yang memintamu untuk tidak jatuh cinta, tetapi aku sendiri sudah jatuh cinta padamu. Maaf, tapi maukah kau memberiku kesempatan kedua?. Kali ini aku akan berjuang dengan sungguh-sunggu untuk mendapatkanmu. Aku berjanji. Aku akan memberikan janjiku untukmu." Sakura menangis. Kata-kata itulah yang telah ditunggunya selama ini. Dia ingin sekali mengangguk, tetapi gadis itu teringat dengan Gaara.
Sakura menoleh, menemukan Gaara tengah tersenyum kecut. Sedetik kemudian pemuda berambut merah itu mengangguk lalu berjalan pergi sambil menyelipkan telapak tangannya ke dalam saku celana –khas Gaara sekali. Sakura mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Gaara dalam hati lalu kembali menatap Sasuke. Gadis itu mengangguk mantap dengan air mata meleleh di pipinya. Air mata bahagia.
Sasuke memeluk Sakura erat. Dan Sakura membalasnya tak kalah erat. Mereka saling menyalurkan kata terima kasih yang tak lagi mampu terucap.
.
END
.
A/N: Yosh! Selesai! Akhirnya selesai juga fiction ini :')
Maaf ya untuk adegan pernyataan cinta yang gagal. Saya gak bisa bikin adegan penuh cinta yang penuh dengan perasaan, maklum jomblo hehe. dan untuk ke'grusa-grusu'an menjelang akhir fiction ini, saya juga minta maaf. Ide saya mentok di sana :"
Dan karena fiction dibikin dengan persepsi cewek, saya minta maaf kalo gak sesuai dengan jalan pikiran dan logika para cowok ya. Tolong jangan gebuki saya :"""
Oh ya, buat yencherry: maaf ya kalo endingnya gak sesuai bayangan, gimanapun aku gak bisa memisahkan Sasu-Saku (yeah, meskipun aku juga suka bayangin craik pairing wkwk). semoga suka aja sih hehe.
Yasudah, terima kasih buat yang sudah betah ngebacanya *bow*
.
Epilogue
.
Sasuke dan Sakura tengah menikmati hembusan angin sepoi-sepoi sore itu. Sakura bersandar pada bahu Sasuke dengan nafas yang masih terengah. Mereka melakukan kegiatan favorit mereka, bermain basket berdua.
"Jadi kau dan Gaara tidak pernah berpacaran?." Sakua menggeleng sambil memainkan jemari Sasuke yang terselip di antar jari-jari lentiknya.
"Aku menolaknya. Meskipun aku ingin menerimanya, pada akhirnya aku menolaknya." Sasuke memusatkan pendengarannya pada perkataan Sakura.
"Tapi dia mendesak. Memintaku memberinya kesempatan untuk mengubah hatiku sambil mengamati reaksimu–." Sasuke menegakkan tubuhnya, membawa Sakura ke hadapannya "–Jika kau tak bergeming juga, dia memintaku mencoba berpaling padanya. Tetapi bagaimanapun tak pedulinya kau padaku. Hatiku masih untukmu. Hingga akhirnya Gaara menyerah saat melihatmu begitu kacau tanpaku."
'Sebegitu dalamnya kah kau mencintaiku Sakura?.' Sasuke merengkuh tubuh mungil Sakura. Sejenak mereka menikmati aroma tubuh sosok di pelukan mereka hingga Sakura yang pertama melepaskan pelukan itu. Menyelami iris mata masing-masing.
"Sasuke-kun. Aku mencintaimu." Sakura tersenyum, begitu pun Sasuke.
CUP
Sasuke mengecup lembut pipi gembil Sakura yang kini bersemu lalu berbisik penuh ketulusan.
"Aku juga mencintaimu, Sakura."
.
END! FIX!
.
A/N: FIX! Bener-bener fix selesai. Saya gak kuat menahan godaan untuk bikin adegan lovey-dovey mereka hehe. Dan yeah, sepertinya saya emang lebih ahli buat bikin cerita pendek kek epilog di atas dan chapter pertama fiction ini daripada cerita panjang –apalagi berchapter– hehe. Saya juga harus banyak berlatih biar bisa bikin cerita yang lebih baik lagi.
Sekali lagi terima kasih buat yang mau baca fiction ini sampai terakhir
Makasih buat flavescens, pinguin, jamurlumutan462, kakikuda, bougenville, desypramitha26, sama yencherry buat reviewnya
Juga RanCherry, echaNm, Nakashima Rie, kakikuda, sama desypramitha26 yang mau nge-follow cerita ini
Dan echaNM, RanCherry, Harika-Chan ELF, bougenville, sama desypramitha26 yang nge-fav cerita saya
Makasih makasih makasih, kalian semua penyemangatku :""" *bow*
Sampai jumpa di fiction-fiction saya yang lainnya. Bye byeee~
