By: Xylia Park

Bangtan Boys PT.1

CHAPTER 4

.

Kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Ada banyak remaja perempuan yang mendatangi rumah Nyonya Bangtan setiap hari dengan berbagai alasan agar dapat bertemu dengan putranya yang bernama Jungkook. Tapi kali ini sudah keterlaluan, perut gadis itu benar-benar besar. Nyonya Bangtan tidak sanggup bahkan hanya untuk melirik pada perutnya.

"Aku tidak mau, tahu. Kau urus semuanya sendiri!", geram Nyonya Bangtan pada Jungkook lalu kembali duduk dikursinya. Hoseok berusaha menyuruhnya untuk tidak cepat percaya. Bisa jadi anak didalam perut gadis itu bukan anak Jungkook.

"Oppa~", seru gadis itu saat Jungkook berjalan mendekatinya.

"Oppa? Kau bahkan dua tahun lebih tua darinya!", protes Taehyung dengan wajah tidak suka dan langsung mendapat cubitan dipinggang dari Namjoon. Memperingatkan agar berbicara dengan sopan.

"Aku ingin kau menikahi putriku!", ucap Ibu sang gadis tanpa basa-basi. Nampak marah dan penuh tuntutan, tentu saja.

"Kau gila? Jungkook masih kecil!", kali ini Jimin yang bicara dan langsung dibungkam oleh Namjoon. Nyonya Bangtan sudah tidak sanggup menanggapi putra-putranya yang lain. Kepalanya sudah terasa berputar-putar.

Tiba-tiba Jungkook menarik gadis itu berdiri dari tempat duduknya lalu mendorongnya keluar pintu rumah mereka dengan kasar.

"Pergi", begitu katanya dengan datar.

Dia menutup dan mengunci pintunya dari dalam. Tidak peduli pada si gadis yang berteriak mengetuk pintunya di luar sedangkan ibunya masih ada di dalam ruang tamu mereka.

"Kau pikir apa yang kau lakukan?!", geram Ibu si gadis pada Jungkook.

Jungkook masih memasang tampang datarnya dan dengan tidak sopan dia menunjuk Ibu si gadis tepat di depan wajahnya.

"Kau juga pergilah", katanya. Dia hendak mengambil langkah untuk pergi, sebelum Nyonya Bangtan berteriak marah padanya.

"Kembali kesini dan selesaikan masalahmu seperti laki-laki, Jungkook!"

Jungkook membalikkan badannya dengan mata menyalang marah. Dia menatap Nyonya Bangtan dengan marah dan mendengus kesal. "Ibu, percaya pada mereka?", tanyanya.

Nyonya Bangtan hanya diam. Dia percaya-tidak percaya. Anaknya tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Tapi perut gadis itu...

"Oke", katanya. Kemudian berjalan kembali, menghampiri pintu rumahnya yang masih asik diketuk dari luar oleh si gadis. Dia membuka kuncinya, lalu menarik pintunya dengan keras.

"Jungkook-ah"

Tak menghiraukan panggilan dari si gadis, dia menarik lengan si gadis masuk kembali. Lalu tanpa aba-aba dia menarik sesuatu keluar dari balik kaos kebesaran yang dipakai gadis itu. Sebuah perut palsu. Terlihat seperti kulit sungguhan, entah terbuat dari apa. Mungkin karet? Seumur hidup Nyonya Bangtan tidak pernah melihat benda seperti itu. Memang ada?

"Astaga!", semua memekik tidak percaya termasuk Ibu gadis itu.

"Lain kali, jangan mudah dibodohi oleh rubah licik ini", marahnya. Setelah itu Jungkook pergi menaiki tangga dan meninggalkan mereka semua.

"Aigoo, tekanan darahku!", kata Nyonya Bangtan sambil memegangi belakang kepalanya yang terasa sakit.

Dia pikir mimpi buruk akan terjadi dalam keluarganya namun ternyata semua baik-baik saja. Nyonya Bangtan jadi merasa bersalah pada Jungkook. Dia sudah memarahi anak malang itu karena suatu hal yang tidak pernah dilakukannya.

.

"Aku pulang", ucap Yoongi begitu dia memasuki rumah. Lebih terdengar seperti bergumam namun tetap bisa membuat Hoseok mendengarnya dan berlari menghampirinya.

"Ah, Hyung. Kau sudah pulang", sambutnya dengan senyum hangat sinar mentarinya. Padahal hari sudah gelap.

"Ya", jawab Yoongi seadanya.

"Sini, biar aku bawakan tas mu, Hyung", kata Hoseok sambil merebut tas hitam milik Yoongi.

"T-tidak perlu-H-Hey!", percuma, adiknya itu sudah lebih dulu berlari dan menghilang.

Hoseok selalu begitu. Menyambut kepulangannya seorang diri disaat yang lainnya tidak peduli. Yoongi tahu, Hoseok pasti masih berpikir jika Yoongi masih kesepian dirumah ini. Padahal Yoongi sudah baik-baik saja.

Disambut setiap hari seperti itu, membuat Yoongi jadi sering membayangkan jika kelak Hoseok akan tetap menyambutnya setelah pulang bekerja dan mengganti panggilan 'Hyung' dengan panggilan 'sayang'. Ah~ Betapa bahagianya Yoongi jika itu benar terjadi.

"Hyung? Kenapa tersenyum seperti itu?".

Suara Namjoon menyadarkan Yoongi dari khayalannya. Dia tidak sadar dia sudah berjalan masuk sampai ruang makan dan di sana semua orang sudah berkumpul.

"mendapatkan inspirasi, hm?", tambah Namjoon dengan senyum dimplenya.

Yoongi mengangguk cepat sebagai jawaban. Dari pada dia ketahuan sedang membayangkan Hoseok sebagai istrinya.

"Inspirasi untuk apa? Apa Yoongi Hyung sedang mengerjakan sesuatu?", pertanyaan tiba-tiba dari seorang Taehyung yang selama ini tidak pernah bicara dengannya. Yoongi sampai tersedak di tempat.

"Aw! Apa? Aku hanya bertanya!", desis Taehyung pada Jimin yang menyikut tangannya dengan keras. Dan Jimin memberikan isyarat aneh dengan melotot pada Taehyung. Setelah itu, mereka mulai berdebat sendiri.

Tiba-tiba seseorang mendorong tubuhnya dari belakang. Sudah pasti Hoseok. Dengan suara berisiknya yang khas, dia menyuruh Yoongi untuk duduk dan makan malam bersama. Dia bisa apa selain menurut, terlebih jika Hoseok yang meminta.

"Ibu, sepertinya Jungkook sudah tidur. Dia tidak membuka pintunya", kata Hoseok dan semua orang memberikan reaksi yang hampir sama. Seperti kecewa dan menyesal.

Yoongi yang tidak tahu apa-apa, menarik lengan Hoseok dan berbisik padanya.

"Apa sesuatu terjadi?"

Hoseok mengangguk cemas dan dia mulai menceritakan sebuah peristiwa yang sudah Yoongi lewatkan.

.

Setelah makan malam selesai, Yoongi naik untuk pergi ke kamarnya. Langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar Jungkook yang terkunci rapat. Jungkook memang punya kebiasaan mengunci kamarnya, dia tidak mengijinkan siapapun masuk kesana. Dia selalu bilang jika di dalam kamarnya tidak ada apa-apa, jadi mereka tidak perlu masuk kesana. Dibandingkan dirinya, Jungkook terlihat jauh lebih misterius. Maksudnya, Yoongi tidak pernah merahasiakan apapun-kecuali menyembunyikan jati dirinya yang seorang penulis(yaa, walaupun sudah hampir terancam kerahasiaannya karena Ibunya yang terlalu bangga.). Tapi Jungkook, dia terlihat seperti punya banyak hal yang di sembunyikan.

Keluarganya sudah bercerita tentang apa yang menimpa Jungkook sore ini. Para penggemar Jungkook benar-benar keterlaluan. Adik bungsunya pasti shock sekali.

Yoongi mencoba mengetuk pintunya beberapa kali.

"Jungkook-ah. Ini aku", katanya. Siapa tahu Jungkook mau membukakan pintu untuknya.

Karena tidak ada jawaban, Yoongi mengetuk sekali lagi. "Jungkook", panggilnya.

"Anak cengeng itu tidak akan keluar"

Yoongi terkejut mendengar suara Seokjin dari balik punggungnya. Dia berbalik dan menatap kakaknya itu.

"A-aku hanya mencoba mengajaknya bicara", kata Yoongi.

"Ya, ya. Semua orang memang mencoba mengajaknya bicara. Terserah saja", kata Seokjin sambil berjalan melewatinya menuju kamarnya-kamarnya bersebelahan dengan kamar Jungkook. Dia berhenti dan berdiri di depan pintunya.

"Kau kakak yang baik. Tidak seperti aku", kata Seokjin lagi. Raut wajahnya berubah tidak senang. "Karena kau kakak yang baik, tidak seharusnya kau menyayangi satu adikmu saja hingga membuat yang lainnya cemburu dan berakhir menyusahkanku!", lanjutnya tidak sabaran. Sepertinya Seokjin punya dendam pribadi dengan Yoongi. Sial! Yoongi tidak ingin punya hater baru.

"M-maksudmu, Jungkook?", tanya Yoongi. Well, dia tidak bermaksud untuk meng-adik-emas-kan Jungkook. Dia hanya mencoba untuk membantu. Setidaknya mendengarkan curahan hati adiknya. Itu saja.

"Aku bicara tentang adikmu yang lain"

"Huh?"

Yoongi tidak mengerti, walaupun dia penulis ber-otak jenius sekalipun. Apa hubungannya 'adiknya yang lain' dengan Yoongi yang mencoba mengajak Jungkook bicara dan meng-adik-emas-kan?

"S-siapa yang kau maksud, Hyung?"

Seokjin tidak menjelaskan apapun. Dia justru mengerang kesal dan masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya dengan kasar. Membuat Yoongi mematung ditempatnya.

"Ada yang salah, ya?"

.

Dari pada memikirkan kakaknya yang kesal padanya dan Jungkook yang tak kunjung membuka pintunya. Yoongi memilih untuk masuk ke kamarnya sendiri. Dia seseorang yang sibuk seharian di luar rumah. Tubuh dan otaknya lelah. Dia juga membutuhkan istirahat.

Alih-alih beristirahat. Dia justru dikejutkan oleh seseorang yang sedang tidur meringkuk di atas tempat tidurnya. Bukan ibunya, bukan Hoseok, bukan Namjoon, apalagi snow white. Ini seseorang yang tidak terduga.

"Jungkook?"

Benar. Jungkook yang tidur disana. Tapi dia tidak menyahut. Yoongi pikir dia tidur. Namun saat Yoongi memeriksa, Jungkook masih membuka matanya dan menatap lurus pada tembok di depannya.

"Jungkook, kau baik-baik saja?", tanya Yoongi khawatir.

"Kau tahu sendiri rasanya...", jawab Jungkook pada akhirnya.

Yoongi diam menunggu kelanjutan kalimatnya. Untung Yoongi sudah mengunci pintu, jadi tidak akan ada yang bisa mengganggu Jungkook untuk mengungkapkan semua yang dia rasakan.

"Kau tahu rasanya saat mereka menuduhmu atas apa yang tidak kau lakukan", katanya. Dia duduk dan menatap Yoongi. "Apa yang saat itu kau rasakan, Hyung? Marah? Atau sedih?", tanyanya lagi.

Yoongi menatap adiknya itu dan menghela nafas. Dia mendekat dan duduk didekat Jungkook.

"Aku marah, sedikit. Aku juga sedih, sedikit", jawab Yoongi.

"Hanya sedikit?"

Yoongi mengangguk, tapi Jungkook terlihat tidak puas dengan apa yang dikatakan oleh Yoongi padanya. Maka dari itu Yoongi melanjutkan kata-katanya.

"Ya sedikit sekali, rasa tidak peduli jauh lebih kurasakan". Adiknya itu berkerut bingung.

"Karena bagiku tidak ada gunanya terlalu memikirkan apa kata orang. Selama aku punya orang-orang yang menyayangiku di sisiku, aku tidak akan peduli pada mereka yang membenciku"

.

Bangtan Boys Pt. 1

.

Kata-kata Yoongi terus terngiang di benak Jungkook. Kakaknya itu memang benar. Untuk apa dia memikirkan orang-orang yang membencinya jika dia punya keluarga yang selalu menyayanginya. Namun mengingat hal itu saja tidak bisa membuat suara-suara kebencian itu hilang dari indera pendengarannya.

Sejak melangkah memasuki sekolahnya, tidak ada lagi sambutan hangat. Tidak ada jeritan kecil para gadis yang dilewatinya, tidak ada ponsel yang diarahkan padanya. Yang ada hanyalah tatapan sinis dan bisikan-bisikan benci. Lokernya yang biasanya dipenuhi oleh hadiah-hadiah dari penggemar, kini kosong melompong. Jungkook sebenarnya tidak peduli mengingat dia tidak menginginkan semua perhatian dan hadiah-hadiah itu. Lagi pula, Jungkook jadi tidak perlu repot-repot membawanya pulang, kan?

Entah bagaimana kejadian kemarin sore bisa menyebar begitu cepat bahkan tidak sesuai dan melenceng jauh dengan kebenarannya. Mereka benar-benar percaya bahwa Jungkook yang menghamili gadis itu dan tidak mau bertanggung jawab. Masa bodoh. Tidak akan ada gunanya membela diri, mereka tidak akan berhenti sampai mereka menemukan berita yang lebih menarik.

Menjadi populer sunggu melelahkan. Kenapa dia diberi hidup seperti ini? Jungkook tidak pernah minta kepopuleran atau apalah itu yang membuatnya harus menjalani hidupnya sebagai orang lain.

Mengikuti olimpiade dan turnamen sesuai permintaan guru. Dia bahkan tidak bisa menolak karena dia sudah terlanjur menjadi teladan. Jungkook tidak merasakan apapun saat ia berhasil. Dia tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan juara karena itu sudah bakat alaminya. Mereka semua bangga padanya, tapi tidak dengannya.

Popularitas, prestasi, pujian. Bukan itu yang dia inginkan. Karena jujur saja, Jungkook sendiri tidak tahu apa yang menjadi keinginannya. Apa yang menjadi mimpinya. Tidak ada yang sadar jika Jungkook merasa tertekan hidup seperti itu.

Dia menatap kebawah, hanya terlihat jalan setapak dan lapangan rumput sekolah. Jaraknya berdiri begitu jauh dari tanah. Jungkook ada di atap sekolahnya sejak pagi. Merenung, mengasihani hidupnya, menangis dan berakhir berdiri diujung atap.

Bukan pertama kalinya dia berencana untuk lompat kebawah dan mengakhiri hidupnya. Namun setiap kali dia melihat kebawah, berbagai pikiran datang menghampirinya.

Apakah sakit?

Apakah semuanya akan baik-baik saja?

Bagaimana dengan keluarganya?

Ibunya? Kakak-kakaknya?

Bagaimana perasaan mereka jika Jungkook terjun kebawah sana?

"Anak sombong. Memang ada yang suka padamu?", kakaknya, Seokjin yang tidak suka padanya.

"Ada. Kami akan selalu menyukai Jungkook!", dan duo Jimin-Taehyung yang selalu berada di pihaknya.

"Jangan pikirkan apa kata orang. Kau masih punya kami yang akan selalu menyayangimu", kakaknya, Yoongi yang penuh misteri.

"Aku punya buku baru kalau kau mau pinjam", kakaknya, Namjoon yang cerdas.

"Jungkook-ah, makan yang banyak yaa", kakaknya, Hoseok yang penyayang.

Dan Ibunya. "Jungkook, anak kesayangan Ibu", wanita itu sangat menyayanginya. Senyumannya adalah hal yang paling Jungkook suka.

Jungkook tersenyum dan menangis mengingat wajah mereka. Dia tidak bermaksud untuk menjadi adik yang tidak sopan dan kurang ajar. Itu bukan Jungkook. Jungkook sangat menyayangi keluarganya melebihi apapun didunia ini. Jungkook sudah muak dengan hidupnya yang penuh kepalsuan ini. Dia ingin mengakhirinya sekarang juga.

Jungkook menghapus air matanya. Dia semakin mendekati pinggiran atap sekolah. Kakinya sudah siap melangkah untuk terjun kebawah, namun ponselnya yang selama ini dalam mode senyap secara tiba-tiba berdering. Jungkook terkejut sekali. Kenapa susah sekali untuk lompat? Dia segera melihat siapa penelepon yang telah menggagalkan aksinya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat nama ibunya ada disana.

"Ibu?"

"Jungkook-ah? Apa kau lupa membawa pakaian olah ragamu?"

Jungkook hanya diam mendengarkan suara ibunya. Masa bodoh dengan baju olah raga. Kenapa Ibunya menelpon di saat-saat seperti ini?

"Apa perlu Ibu antarkan sekarang?"

"Tidak perlu, Ibu. Kelas olahraganya sudah berakhir", jawab Jungkook sambil menahan tangisnya.

"Ah, begitu.. Apa kau baik-baik saja?"

Jungkook tersenyum getir. Air mantanya keluar semakin banyak. Kenapa Ibunya tidak segera menutup teleponnya agar Jungkook bisa langsung lompat kebawah sana?

"Jungkook?"

"Ibu. Maafkan aku jika aku tidak bisa jadi anak yang baik", kata Jungkook. Dia melepas ponsel di tangannya hingga jatuh dari ketinggian dan menghantam dasar jalan setapak sekolah dengan keras.

.

"Apa maksudmu, sayang? Jungkook? Jungkook, sayang? Yeoboseyo?"

Nyonya Bangtan mengerutkan keningnya dan menatap teleponnya yang sudah terputus dengan bingung.

"Kenapa dimatikan? Aduh.. Kenapa aku jadi semakin gelisah begini?", gumamnya.

Sejak pagi dia terus memikirkan Jungkook. Hatinya gelisah. "Semoga tidak terjadi apa-apa", gumamnya.

PRANG!

Nyonya Bangtan terkejut mendengar sesuatu yang pecah dari arah ruang makannya. Dia segera berlari menghampirinya. Dirumah ini hanya ada dia dan Hoseok yang sedang cuti sekolah karena sakit. Dan Hoseok sedang makan siang disana.

"Hoseok, kau baik-baik saja?", tanyanya begitu dia sampai di ruang makan. Dilihat, anaknya itu sedang memunguti beling di bawah meja.

"Aku tidak apa-apa, Ibu. Aku tidak sengaja menjatuhkan mangkuknya", kata Hoseok.

Nyonya Bangtan menghela nafas. Dia pikir anaknya pingsan lagi. Kondisi Hoseok sudah lebih baik, tapi Ibu tujuh anak itu masih saja khawatir. Dia mendekati Hoseok dan membantunya memunguti pecahan mangkuk.

"Aneh sekali, bu. Rasanya aku ingin sekali agar Jungkook segera pulang", Kata Hoseok setengah tertawa.

Nyonya Bangtan mencelos. Dia menatap Hoseok dengan heran.

Kumohon, jangan sampai terjadi sesuatu pada Jungkook anakku.

.

Sementara itu ditempat penyimpanan gerbong, dimana Jimin dan Taehyung selalu datang kesana setiap kali bolos sekolah.

Mereka duduk, berteduh di dalam gerbong dari sinar matahari yang terik. Tidak ada percakapan. Mereka hanya diam menatap lurus ke depan dengan pikiran masing-masing sebelum akhirnya Taehyung memecahkan keheningan.

"Aku lapar", katanya.

"Aku juga", sahut Jimin.

"Aku merindukan Jungkook".

"Aku juga".

"Aku ingin segera pulang dan bertemu dengan Jungkook"

"Aku juga"

Taehyung melirik Jimin yang terus saja mengatakan hal yang sama. "Dasar tidak kreatif".

"Kau juga"

Taehyung menghela nafasnya. "Kira-kira Jungkook sedang apa, ya?".

.

Tidak ada yang lebih Namjoon suka selain membaca buku. Hari ini dia mampir ke toko buku langganannya untuk mencari sebuah buku baru untuk dia baca. Namjoon sudah membaca kisah tentang perjalanan hidup seseorang yang hebat, fantasy, misteri, petualangan, dan beberapa kisah percintaan. Dari sekian buku yang ada di toko itu, pilihannya jatuh pada sebuah buku yang mengisahkan tentang persahabatan. Dia belum pernah baca yang seperti itu. Entah mengapa dia jadi teringat Jungkook saat melihat buku itu. Namjoon tersenyum. Jungkook suka sekali meminjam bukunya. Dia pasti juga suka dengan buku yang satu ini.

.

Yoongi menghela nafas dan menatap gelisah pada layar ponselnya. Sudah banyak pesan yang dia kirimkan, tapi belum ada satu pun balasan dari Jungkook. Padahal dia ingin mengajak adiknya itu makan kebab untuk menghiburnya. Yoongi tidak bisa berhenti memikirkan adiknya itu.

"Atau akau bungkuskan saja untuknya, ya?"

,

Seokjin berhenti saat lampu merah menyala. Dia merasa lelah sekali. Hari ini dia mengikuti audisi, namun sekali lagi dia gagal.

Sepertinya dia benar-benar harus menghentikan obsesinya untuk menjadi bintang. Usianya sudah hampir dua puluh tiga. Sudah terlalu tua untuk mengikuti audisi. Tidak mungkin dia debut di usia setua itu.

Mereka tidak suka akting Seokjin. Katanya Seokjin hanya berwajah tampan tapi tidak bisa menjiwai peran. Oh, ayolah! Kenapa mereka semua mengatakan hal yang sama? Terima saja Seokjin dan beri dia pelatihan akting!

Pasti lebih mudah jika hidupnya seperti Jungkook. Tanpa perlu melakukan usaha apapun, kepopuleran akan datang sendiri padanya. Huh. Mengingat Jungkook membuat hatinya kesal. Anak sombong itu kira-kira sedang apa ya?

"Aihh.. Kenapa aku harus memikirkan dia?", gumamnya.

Lampu hijau menyala. Dengan cepat dia melajukan mobilnya kembali sebelum pria tua dibelakang sana mengomel dan menekan klakson mobilnya berkali-kali.

Belum jauh melaju, dia dikejutkan oleh serang anak laki-laki berseragam yang menyeberang tanpa berhati-hati.

Seokjin mengumpat dan segera menginjak rem mobilnya karena tidak ingin menabrak anak itu dan harus berurusan dengan pihak yang berwajib, atau karirnya yang belum dimulai akan tamat.

Dia menatap anak laki-laki itu, begitu pula sebaliknya. Semakin terkejut saat menyadari anak itu adalah adik bungsunya. Dengan lebam dan darah di wajahnya.

"Jungkook?", suara Seokjin bergetar khawatir saat melihat adiknya itu. Sedangkan adiknya memasang senyum dan memanggilnya dengan sebutan 'Hyung' sebelum akhirnya dia jatuh di jalanan.

Hati Seokjin ngilu melihatnya. Dia pun segera turun dari mobilnya dan menghampiri adiknya itu. Walaupun menyebalkan, Jungkook tetap adik kecilnya. Dan jika kondisinya seperti itu, Seokjin tidak mungkin tidak khawatir padanya.

"Jungkook! Astaga! Aku tidak menabrakmu, kan?", tanya Seokjin. Jarak antara mobil dan adiknya tergeletak itu sangat jauh. Sudah pasti Seokjin tidak menabraknya.

Seokjin khawatir setengah mati, tapi adiknya itu justru tertawa senang. Bibirnya yang merah karena darah itu terbuka lebar menampilkan gigi kelincinya.

"Hyung, Ju-Jungkook yang palsu itu sudah m-mati", kata Jungkook dengan susah payah.

"Huh?", Seokjin berkerut kebingungan.

"Dia sudah mati, Hyung. Aku Jungkook yang sebenarnya!", kata Jungkook sebelum akhirnya tubuhnya terkulai pingsan.

Seokjin menganga lebar menatapi adiknya itu. Lalu mengacak rambutnya frustasi. Apa maksud Jungkook? Apa yang harus dia katakan pada ibunya nanti? Apa dia harus membopong Jungkook sendirian? Maksudnya, lihat dia. Dia bayi besar!

"Aish! Merepotkan saja!"

.

Bangtan Boys Pt. 1

.

"Kenapa bisa seperti ini?"

Hoseok menatapi wajah Jungkook yang luka disana-sini sebelum mulai mengobatinya. Seokjin hanya mengawasi mereka dari jauh sambil melipat tangannya. Mereka baru saja pulang dan Hoseok langsung mencereweti mereka. Dia tidak henti-hentinya bertanya tentang hal yang sama dan Jungkook tetap tidak mau menjawabnya.

"Hyung, apa yang terjadi?"

Seokjin berdecak malas. "kau tanya sendiri saja pada orangnya", jawab Seokjin.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau tertawa terus, huh? Aku harus tahu apa yang terjadi pada adikku. Apa yang akan kukatakan pada Ibu jika Ibu melihat putra kecilnya terluka seperti ini?"

"Hyung...", Jungkook bicara dengan kesulitan karena bibirnya yang sakit. "...mind your own business", tambahnya. Kemudian dia meringis kesakitan karena Hoseok mengomel dan dengan sengaja menekan luka dipipinya.

Hoseok mirip dengan Ibunya, mengkhawatirkan saudara-sauaranya dan juga cerewet. Rasanya seperti punya saudara perempuan. Seokjin bersyukur dia punya saudara seperti dia.

"AW, HYUNG!"

Seokjn berdecak lagi. "Sudah jangan manja!", katanya pada Jungkook yang terus menerus menjerit kesakitan. "Kalau tahu sakit, kenapa masih saja berkelahi?!". Seokjin mendengus dan berniat untuk naik kekamarnya dan meninggalkan mereka berdua. Namun baru saja menaiki beberapa anak tangga, dia kembali turun saat mendengar suara ibunya datang.

Jungkook nampak tenang ditempatnya, tapi Seokjin dan Hoseok sangat panik. Seokjin tidak ingin dibawa-bbawa dalam masalah ini. Dia tidak mau terlibat.

"Kalian jangan khawatir. Jika ibu bertanya, pura-pura tidak tahu saja. Biar aku yang atasi", kata si Bungsu seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menaiki tangga, melewati Seokjin dan mengedipkan sebelah matanya pada yang tertua.

Seokjin menatap gerah padanya. "Anak itu benar-benar menyebalkan. Seharusnya kubiarkan dia pingsan dijalanan!", rutuk Seokjin.

"Lalu kenapa tidak kau biarkan dia pingsan dijalanan?", sahut Hoseok yang sedang menyimpan kotak obat mereka. "Karena kau peduli padanya", lanjut Hoseok sambil berjalan mendekatinya.

"Aku tidak!", elaknya.

"Terserah. Tapi itulah yang kulihat", jawab Hoseok. Giliran dia yang mengedipkan sebelah mata pada Seokjin.

"Kau juga menyebalkan!"

.

Alih-alih terjun dari atap sekolahnya, Jungkook lebih memilih untuk terjun menghadapi para preman yang biasa mangkal di gang buntu. Hanya bermodal menubrukkan bahu, dia bisa dengan cepat mendapatkan bogem dan tinju. Sakit memang, tapi dia lega. Dia bunuh diri tanpa benar-benat mati. Dia jadi tidak perlu meninggalkan keluarganya tercinta dan membuat mereka sedih. Dan karena semua tinju itu, Jungkook bisa kembali pada dirinya sendiri. Terima kasih pada semua yang bersangkutan.

Kini beban dalam hidupnya seolah hilang begitu saja. Jungkook merasa ringan. Sekarang semua orang beralih membencinya, tapi Jungkook tidak peduli. Tidak populer lagi, Jungkook juga tidak peduli. Bahkan sekarang dia bisa mempunyai keinginannya sendiri, yaitu menjadi dirinya sendiri dan lebih dekat dengan keluarganya yang sangat dia sayangi.

.

Bangtan Boys Pt. 1

.

Sore itu. Jungkook menuangkan sekarung kardus-kardus hadiah pemberian penggemarnya yang sama sekali tidak pernah disentuhnya, di atas karpet ruang tengah. Keenam saudaranya nampak kebingungan dengan aksinya yang tiba-tiba.

"Ambil saja yang kalian suka. Sisanya kembalikan kedalam karung", kata Jungkook, seperti sebuah komando karena pada detik berikutnya, empat orang dari mereka menjulurkan tangan dan mengambil sebanyak-banyaknya kotak hadiah sesuai dengan kapasitas ruang pelukan mereka. Jungkook tersenyum senang. Dari pada membuangnya, Jungkook lebih memilih untuk membaginya dengan saudara-saudaranya yang lain.

Jungkook melirik pada Yoongi yang memegangi sebuah kotak kecil berwarna hijau seperti rambutnya. Jungkook bisa lihat ada senyuman tipis di bibir Yoongi saat melihat empat saudara mereka yang sedang berebutan kotak paling besar.

Iseng, Jungkook menambahkan dua kotak besar keatas pangkuannya. "Ambil Hyung. Jangan sampai kehabisan", kata Jungkook. Membuat kakaknya itu tertawa-sedikit.

Dia beralih pada kakak tertuanya yang diam cemberut ditempatnya. Jungkook juga memberinya dua kotak besar untuknya, tapi Seokjin lemparkan kembali kotak-kotak itu ke atas tumpukan.

"Aku tidak mau hadiah!", ketusnya. Lalu dia bangkit dan meninggalkan mereka semua di ruangan itu.

"Tidak mau, ya?", gumam Jungkook kecewa dan Yoongi menepuk-nepuk pundaknya untuk menghiburnya.

.

"Hadiah. Cih! Memangnya dia pikir dia siapa?! Aku tidak butuh semua itu. Aku bisa dapatkan sendiri", omel Seokjin. Awalnya dia nampak kesal, namun tidak lama kemudian wajahnya berubah kecewa.

"Tapi kapan? Kapan aku punya penggemar? Kapan aku dapat hadiah?", tanyanya pada dirinya sendiri. Setelah itu dia mengerang dan merengek entah pada siapa.

Dia mendekati cerminnya yang besar. Menatapi wajahnya, postur tubuhnya, penampilannya. Wajah tampan, bahu lebar dan dia keren.

"Tidak ada yang salah. Aku sempurna!", katanya. Seperti biasa, awalnya dia kesal tapi kemudian dia kecewa karena pendapatnya sendiri. "Tapi tidak punya bakat. Huweeeee~!", Seokjin merengek lagi. Dia berniat untuk merengek dalam waktu yang lama, sampai dia puas kalau perlu. Namun dering ponsel menghentikannya.

Seokjin yang awalnya duduk di lantai segera bangkit dan mengambil ponselnya. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Tanpa pikir panjang, dia segera menerimanya tanpa semangat.

"Yeoboseyo"

"Apakah benar ini Seokjin? Kami dari Kstyle magazine. Apakah anda punya waktu untuk bicara?"

Seokjin membelalakan matanya. Untuk apa pihak majalah fashion favoritnya menelepon dirinya?

"Y-y-ya. S-silahkan", jawab Seokjin dengan jantung yang berdegup tidak karuan. Harap-harap cemas.

"Kami sedang mencari seorang model untuk halaman trend style tahun ini. Kami dengar, anda adalah orang yang tepat. Apakah anda bersedia untuk bekerja sama?"

Seokjin tidak bisa berkata-kata. Rahangnya terbuka. Dia tidak percaya ini. Apakah dia sedang bermimpi?

.

"WOOHOOOOOOOO! YEAAAAAAAAAAHHHH!"

Semua yang berkumpul diruang tengah terkejut mendengar suara Seokjin yang berteriak itu.

"Ada apa dengannya?", tanya Taehyung.

"Astaga. Aku sampai kaget!", kata Hoseok dan dia tidak bisa berhenti tertawa setelahnya.

"Ada apa? Apa yang terjadi?", tanya Ibu mereka yang baru saja keluar dari kamarnya. Semua orang mengedikkan bahu dan menggeleng tidak tahu. Termasuk Jungkook.

.

Bangtan Boys Pt. 1

.

Dapur selalu dibuat sibuk seperti biasa. Hoseok dan Ibunya mondar-mandir untuk menyiapkan sarapan. Sedangkan Jimin dan Taehyung masih ribut seperti biasa. Namjoon tertidur di atas meja. Yoongi yang duduk tenang. Sedangkan Seokjin terus senyum-senyum sejak bangun tadi. Hatinya sedang senang karena dia baru saja mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan harapannya selama ini. Menjadi photo model sebuah majalah. Itu luar biasa. Duh, Seokjin ingin meledak saking senangnya.

"Astaga. Ada apa, sayang? Kau terlihat bahagia sekali", tanya Ibunya sambil menangkup dan meneliti wajahnya. Pipi Seokjin terasa hangat karena tangan ibunya yang baru saja memegang panci yang panas.

"Kau juga berteriak tadi malam. Apa sesuatu yang baik sudah terjadi?".

Seokjin sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengatakan apapun tentang penawaran menjadi model majalah itu. Dia tidak ingin merasa malu apabila dia gagal lagi. Maka dari itu dia hanya bisa memberikan senyuman pada ibunya.

"Selamat pagi~"

Seokjin mengalihkan pandangan pada Jungkook yang baru bergabung. Dia diam menatapi Jungkook seperti sedang menatap orang tak dikenal. Begitu pula seluruh orang yang ada disana. Namjoon yang tertidur bahkan membuka matanya lebar-lebar untuk menatapi Jungkook dari atas kebawah.

Bagaimana tidak. Penampilan Jungkook berubah total. Rambutnya yang biasanya tertata dengan rapi setiap pagi itu sudah tidak ada. Bajunya tidak dimasukkan dengan rapi. Tidak ada sepatu hitam mengkilat-sekarang dia memakai sepatu kets yang dibelikan Ibunya saat pertama kali masuk sekolah menengah pertama. Dulu dia terlihat seperti bayi yang baru selesai mandi. Segar dan penuh pesona. Tapi sekarang, dia terlihat seperti Jimin dan Taehyung yang berantakan.

"Jungkook?", tanya Taehyung. Memastikan jika yang ada di hadapannya itu benar-benar adik bungsunya.

"Apa?", jawab Jungkook. Dengan kasual dia menarik kursinya dan duduk tanpa menghiraukan tatapan heran dari seluruh anggota keluarganya.

"Rambutmu...?", Taehyung bersuara lagi.

"Oh, ini", Jungkook menyisir rambutnya ke atas dengan jari-jarinya. Membuat poninya tersingkap dan membiarkan keningnya yang seksi itu mengintip. "sisir elektrikku rusak. Jadi yaaa, beginilah", jawabnya.

Taehyung mengangguk. Tapi wajahnya masih menunjukkan jika dia masih tidak percaya jika bocah yang baru bergabung itu adalah Jungkook, adiknya. Dia terlalu ramah untuk seorang Jungkook yang dia kenal.

"Apa tidak ada telur dadar buatan Hoseok Hyung?", tanya Jungkook

"Huh? Oh-Y-ya. Akan kubuatkan kalau kau mau", Hoseok dengan wajah kikuk lalu buru-buru kembali ke dapur untuk mengerjakan pesanan Jungkook dan sesekali mencuri pandang pada adiknya itu dari jauh.

Semua orang disana masih asik menatapi Jungkook. Perubahan drastis. Seokjin tiba-tiba teringat ucapan ngelantur Jungkook tempo hari sebelum dia pingsan di jalan. "...Jungkook palsu sudah mati. Aku Jungkook yang asli".

Dia menatap Jungkook lekat-lekat sampai dia tidak sadar jika Jungkook juga sedang menatapinya. Jungkook tersenyum. Bukan senyum meremehkan seperti biasa, tapi sebuah senyuman manis yang tidak akan pernah bisa dibayangkan betapa Seokjin menyukainya.

"Kenapa, Hyung? Aku tampan ya? Hahahahahahahaha", Jungkook meledak tertawa seorang diri. Situasinya persis seperti sedang mendengarkan lelucon pria paruh baya. Kau tidak akan pernah paham di mana letak kelucuannya.

Setelah itu, mereka memulai sarapan mereka tanpa sedetik pun berpaling mata dari Jungkook yang baru.

.

Bangtan Boys Pt. 1.

.

Seperti biasa, duo Jimin dan Taehyung akan selalu membelokkan kakinya berlawanan arah dari sekolahnya. Mereka tidak suka belajar, jadi tolong biarkan mereka mengambil jalan mereka dan menanggung resiko mereka sendiri. Jangan paksa mereka untuk belajar. Mereka pasti akan datang ke sekolah suatu saat nanti jika sudah tiba waktunya.

Penyimpanan gerbong kereta tua. Mereka menemukan tempat itu sudah sejak mereka masih kecil. Bakat pembuat onar memang sudah ada sejak mereka kecil. Saat itu mereka sedang berusaha mengambil apel milik tetangganya. Mereka ketahuan lalu kabur dari amukan pemilik apel dan berakhir bersembunyi di penyimpanan gerbong tua. Sejak saat itulah, mereka menjadikan tempat itu untuk menghabiskan waktu bersama.

Mereka menyukai satu sama lain-sebagai saudara, tentu saja. Tidak terpisahkan(seperti kembar dempet kalau perlu) dan akan terus selalu bersama dan saling melindungi, begitulah janji mereka.

"Hey, sini cepat!", panggil Taehyung yang sedang mengintai sebuah pohon mangga di sekitar jalan perumahan yang sedang mereka lewati. Jimin tahu, Taehyung sedang merencanakan kenakalan lagi. Sebenarnya, Taehyunglah biang onar dari segala kenakalan yang mereka lakukan. Tapi Jimin selalu setuju. Mangga disiang hari yang panas, sepertinya menyegarkan.

"Aku panjat. Kau tangkap. Oke?", kata Taehyung lagi. Jimin mengangguk. Setelah itu mereka segera melancarkan aksinya.

Mereka berjalan mengendap-endap. Sementara Taehyung memanjat pohon mangga itu, Jimin bertugas untuk memastikan area sekitar aman.

"Buahnya banyak sekali. Chim! Tangkap ini!", bisik Taehyung dari atas sana. Dia melempar satu persatu mangga yang sudah dipetiknya kepada Jimin. Mereka terkikik senang dengan apa yang sedang mereka lakukan. Memang dasar anak nakal!

"Sudah. Cukup! Aku tidak bisa membawa semua ini", bisiknya pada Taehyung. Anak pembuat onar seperti mereka memang tidak pernah membawa tas ke sekolah. Jimin saja berniat untuk membungkus semua mangga itu dengan seragam almamaternya.

"Tae! Cukup! Ini terlalu banyak. Bagaimana cara kita membawanya?", katanya sekali lagi.

"Pakai ini saja"

Jimin dan Taehyung tersentak. Terkejut saat mendengar ada suara ketiga di antara mereka. Mereka menoleh pada sumber suara dan semakin terkejut saat melihat-

-"Jungkook?!", pekik mereka bersamaan. Adiknya itu sedang tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar sambil menyodorkan tasnya yang dibuka lebar.

"Cepat masukkan kesini, Hyung", kata Jungkook.

"HEY! Apa yang kalian lakukan? Dasar anak-anak nakal!"

Mereka bertiga membulatkan mata saat pemilik pohon itu memergoki mereka.

"LARI!", Komando Taehyung dari atas pohon. Dia segera merosot turun dan membantu Jimin memasukan mangga yang mereka ambil ke dalam tas milik Jungkook.

Mereka segera ambil langkah seribu tepat saat pemiliki mangga keluar dari rumahnya dengan membawa sapu lidi. Ini seharusnya menjadi bagian yang paling mereka suka. Perasaan menegangkan dimana mereka harus berlari karena ketahuan. Tapi dengan kehadiran Jungkook disana, kedua anak nakal itu jadi agak gugup. Beberapa kali Taehyung terjatuh dan beberapa kali pula Jimin harus menarik Jungkook menuju arah yang benar, karena dia tidak tahu kemana seharusnya mereka melarikan diri.

Jimin sekali lagi harus menarik Jungkook yang terlalu jauh berlari di depan mereka untuk masuk ke dalam tempat penyimpanan gerbong tua. Mereka bertiga bersembunyi di antara deretan kereta yang berjajar di sana dengan nafas tersengal-sengal. Si pemilik mangga sepertinya benar-benar kesal. Dia mengejar mereka sampi jauh sekali.

"Kemana anak-anak itu?!"

Ketiga anak itu semakin merepatkan diri mereka ke dinding gerbong saat mendengar suara pria yang mengejar mereka. Setelah pria itu mengumpat dan berlari pergi(mereka bisa dengar langkah kakinya), Taehyung melongokkan kepalanya untuk mengintip situasi.

"Fiuh~ Dia sudah pergi", katanya. Mereka menghela nafas lega. Kini mereka berdua menatap Jungkook yang sedang tertawa di tempatnya. Mereka merasa kesal, khawatir dan bingung dalam waktu yang bersamaan. Adik mereka itu benar-benar ceroboh, memilih untuk ikut Jimin dan Taehyung bisa membuatnya celaka.

"Sedang apa kau di sini?", tanya Taehyung.

"Bersembunyi, kan?", jawab Jungkook dengan polosnya.

"Maksud kami, bagaimana kau bisa sampai di sini?", Jimin memperjelas pertanyaan Taehyung.

"Oh, Aku mengikuti kalian"

"Kau seharusnya ada di sekolah dan sedang belajar sekarang!", Taehyung nampak panik.

"Kalian juga, seharusnya ada disekolah sekarang"

"Kalau kami beda! Aduh! Bagaimana ini?!", Taehyung menjambak rambutnya frustasi dan melompat-lompat di depan mereka.

"Bagaimana kalau ibu sampai tahu?", tanya Jimin tak kalah panik, tapi masih bisa menahan diri untuk tidak melompat-lompat seperti kera yang tidak diberi pisang.

"Itu urusan nanti", jawab Jungkook.

Kedua kakak Jungkook itu diam menatapi adiknya. Jika ibunya tahu, mereka bertiga akan mati. Jimin dan Taehyung saling melirik dengan tatapan bingung. Berinteraksi dan berdiskusi lewat hati ke hati. Bukannya mereka tidak ingin Jungkook ikut. Hanya saja mereka tidak ingin sesuatu terjadi pada Jungkook jika mereka tertangkap nanti.

"Jadi, apa yang akan kalian lakukan setelah ini? aku boleh ikut, kan? Boleh, ya? Boleh, ya? Aku mohon~~~"

Apa boleh buat. Jimin dan Taehyung lemah pada semua permintaan Jungkook. Apalagi jika dia menambahkan aegyonya.

.

Bangtan Boys Pt.1

.

"Aku pulang~"

Nyonya Bangtan mengalihkan pandangan dari pembukuannya kepada anak-anaknya yang baru saja pulang.

"Selamat datang", sambutnya hangat. Jungkook pulang dengan wajah bahagia. Hari ini dia berubah, dari penampilan hingga cara dia berbicara. Dia terlihat lebih ceria dari biasanya. Nyonya Bangtan senang melihatnya seperti itu. Baginya senyuman bahagia dari anak-anaknya sudah cukup untuk membuatnya merasa bahagia juga.

Nyonya Bangtan menatap dua orang dibelakang putra bungsunya. "Oh, Jungkook pulang bersama Jimin dan Taehyung?", tanyanya dengan senyuman. Nyonya Bangtan tahu Jungkook sudah besar, tapi entah kenapa dia tidak bisa berhenti menggunakan intonasi bicara pada bayi setiap kali dia bicara pada Jungkook.

"Ah? Iya, kami bertemu di jalan, bu", jawab Jungkook.

"Oh, ya ampun. Seragammu kotor sekali, sayang", kata Ibunya sambil menghampiri Jungkook untuk memeriksa anaknya itu. Nyonya Bangtan sudah biasa melihat seragam kotor milik Jimin dan Taehyung. Tapi tidak untuk Jungkook, dia adalah anak yang rapi dan bersih.

"Ah, ini. Tadi aku jatuh, bu. Biasa, anak laki-laki", jawab Jungkook enteng. Jawaban yang sama Nyonya Bangtan bertanya tentang lebam diwajahnya beberapa hari yang lalu. Dia percaya, tersenyum lalu mengusap kepala anaknya.

"Begitu, ya? Ya sudah, cepat mandi. Ibu akan siapkan makan malam"

"Siap, bu!", jawab Jungkook sambil memberi hormat padanya lalu segera pergi ke kamarnya. Sedangkan dua lainnya masih berdiri di depan pintu.

"Kalian kenapa? Tidak mau mandi juga?", tanya Nyonya Bangtan. Jimin dan Taehyung diam dan saling melirilk bingung.

"Ah, Ibu tahu. Kalian juga ingin diusap kepalanya seperti Jungkook, kan? Ayo sini!", Nyonya Bangtan mengulurkan tangannya dan mengusap kepala mereka penuh perasaan seperti bagaimana dia mengusap kepala Jungkook, sambil menggumamkan kata-kata sayang. Secara tidak sadar, dua anak itu sering terlewatkan olehnya. Nyonya Bangtan jadi merasa bersalah.

"Nah, ayo cepat mandi. Setelah itu kita makan"

"Baik, bu", jawab mereka lalu pergi ke kamar mereka.

Nyonya Bangtan berkerut bingung dengan senyuman di bibirnya. "Ada apa dengan mereka bertiga hari ini?". Tumben sekali Jungkook mau berjalan-jalan dengan dua kakaknya itu.

.

Bangtan Boys Pt. 1.

.

Yoongi perpakaian rapi malam ini. Tidak. Bukan. Dia bukan mau pergi kencan. Tapi dia akan pergi untuk menonton aksi panggung Hoseok dan Namjoon di klub mereka. Mereka mengundang Yoongi untuk melihat penampilan perdana lagu baru mereka. Yoongi sangat bersemangat untuk datang. Setelah berpamitan dengan ibunya, Yoongi pergi naik taksi. Tidak butuh waktu lama karena lokasinya tidak jauh dari rumah mereka.

Yoongi juga tidak perlu tiket masuk, karena penjaga klub itu sudah hafal dengan wajahnya. Dan mereka sudah tahu bahwa Yoongi adalah kakaknya J-Hope dan Rap Monster.

Yoongi masuk dan memilih untuk duduk di meja yang letaknya strategis dari pada berdiri bersama penonton lainnya didepan panggung. Kalian tahu kan, Yoongi itu orangnya kalem. Hahaha..

Tidak lama, acara pun dimulai. Kedua adiknya itu naik ke atas panggung dan mulai menyapa. Penonton berteriak histeris. Yoongi tidak begitu suka hingar bingar disana, tapi dia melakukan semua ini karena ini demi mendukung kedua adiknya. Lagi pula, karena mereka Yoongi jadi bisa merasakan pengalaman masuk kedalam klub. Lumayan, untuk pengetahuan agar dia bisa mendiskripsikan suasananya dalam tulisan.

Hoseok dan Namjoon mulai bernyanyi-Rap, tentu saja. Penonton mulai ikut melompat-lompat mengikuti irama lagunya. Tanpa sadar, Yoongi juga ikut menggerak-gerakkan kaki dan kepalanya. Adiknya itu benar-benar hebat dalam menulis lagu. Asal tahu saja, Yoongi kadang-kadang juga membantu Hoseok dan Namjoon dalan penulisan lirik loh.

Sedang asik menikmati penampilan mereka, seseorang di belakang Yoongi menyentuh pundaknya dan berkata dalam suara yang keras.

"Jadi mereka J-Hope dan Rap Monster?", tanya orang itu. Yoongi hanya mengangguk tanpa menengok kebelakang. Yoongi tersenyum bangga, ingin sekali dia memberitahu orang itu jika dua orang di atas panggung itu adalah adik-adiknya.

"Luar biasa! Kakak-kakakku ternyata orang hebat. Kau penulis dan mereka penyanyi!", kata orang itu lagi yang otomatis membuat mata sipit Yoongi membulat.

Dia menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang menyebut J-Hope dan Rap Monster sebagai kakaknya. Dan bagaimana dia tahu jika Yoongi adalah seorang penulis? Betapa terkejutnya dia saat mendapati adik bungsunya lah yang duduk di sana dengan wajah tersenyum senang.

"Jungkook?! Apa yang kau lakukan disini?!".

.

"Kenapa? Aku tidak boleh tahu tentang rahasia kalian? Aku janji tidak akan katakan apapun pada Jimin dan Taehyung tentang ini"

Hoseok menjambak rambutnya frustasi dan melompat-lompat frustasi dibelakang panggung. Yoongi sampai harus menenangkan dia karena dia sangat terkejut dengan kehadiran Jungkook yang tiba-tiba. Hoseok sampai lupa liriknya ditengah penampilan mereka.

"Bukan itu maksudnya", kata Namjoon. Memperjelas pertanyaan Hoseok yang panik. Mengapa Jungkook merasa seperti pernah merasakan hal yang sama sebelumnya.

"Ini sudah lebih dari jam satu pagi. Kau seharusnya sedang di rumah dan tidur, sekarang.", kata Namjoon.

"Aduh, bagaimana ini? Bagaimana kalau ibu sampai tahu Jungkook ada disini? Bisa mati aku!", kata Hoseok panik.

Jungkook mendengus. "Kenapa kalian semua mengatakan hal yang sama? Aku bukan bayi yang harus diam dirumah! Menyebalkan sekali". Fiuh~ Rasanya menyenangkan sekali saat bisa menyuarakan protes. Haha..

"Jangan suruh aku pulang. Aku sudah bayar tiket masuk. Dan itu tidak murah", tambahnya sambil melipat tangannya.

Ketiga kakaknya menatap terkejut ke arahnya. "B-baiklah. Baiklah. Ya ampun. Jangan ngambek, dong", kata Hoseok.

"Ya. Kami hanya khawatir saja", tambah Namjoon.

"Nah, begitu dong", kata Jungkook puas. Dia menatap kakak-kakaknya dengan mata berbinar. "Jadi apa yang akan kalian lakukan selanjutnya? Aku boleh ikut, kan? Aku mohoooon~~"

"Errr?", ketiga kakaknya saling pandang bingung. Mereka semua pasti tidak akan menolak aegyo Jungkook, kan?

.

Bangtan Boys Pt. 1

.

Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Seokjin datang ke tempat yang ditentukan. Sebuah studio yang digunakan untuk pemotretan. Seokjin disambut dengan hangat sejak dia pertama kali melangkah masuk. Tidak perlu mengobrol lama, mereka langsung merias wajah Seokjin, menata rambutnya dan memakaikannya pakaian-pakaian yang bagus. Setelah itu Seokjin diminta untuk bergaya didepan kamera.

Ini adalah saat yang tepat untuk menunjukkan bakatnya. Dengan penuh percaya diri, Seokjin segera melakukan tugasnya. Menunjukkan beberapa gaya sesuai dengan tema. Sang Photografer terus mengucapkan kata-kata pujian pada Seokjin setiap dia selesai menjepret gambar.

"Bagus!"

"Yup! Benar begitu!"

"Kau sempurna Seokjin!"

"Perfect!"

Seokjin senang mendengarnya. Terutama saat melihat hasil potret yang diambil. Dia terlihat sangat keren dan sempurna. Seokjin sudah sering bilang kan? Dia penuh bakat! Kalian tidak percaya, sih!

"Seokjin-ah. Mari kita perbaiki riasan wajahmu", kata salah satu gadis perias. Dia kembali dibawa duduk di depan cermin dengan bola-bola lampu menyala yang membingkainya.

"Tuan director puas dengan hasil kerjamu. Selamat ya", kata gadis itu sambil menambahkan bedak pada wajah Seokjin.

"Benarkah? Terima kasih". kata Seokjin. Dia harus tetap rendah hati jika tidak mau pekerjaannya diambil lagi.

"Beruntung Jungkook memberikanmu pada kami. Sepertinya kau akan dipakai lagi untuk edisi majalah selanjutnya", lanjut si gadis.

"Apa? Jungkook?", Seokjin berjingkat tidak percaya saat mendengar nama adik bungsunya yang menyebalkan itu disebut, hingga membuat gadis perias itu terkejut.

"Y-ya, begitulah yang aku dengar. Jungkook adalah orang yang paling diinginkan oleh director untuk edisi tahun ini. Tapi anak itu malah memberi kami dirimu. Menurutku kau lebih cocok untuk konsep ini. Seokjin? Kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu seperti itu?"

Seokjin menganga tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Jadi semua mimpi indah ini Jungkook yang berikan padanya? Adiknya yang sombong itu?

.

Suatu malam.

"Kau yakin dia bisa?"

"Iya. Aku yakin. Dia sangat profesional"

"Baiklah, kalau begitu"

"Tolong perlakukan dia dengan baik. Dia kakak kesayanganku", setelah itu Jungkook memutus sambungan teleponnya dengan pihak Kstyle magazine yang menawarinya pekerjaan untuk jadi model halaman trend style tahun ini dan blahblahblah.. Jungkook sudah tidak peduli lagi. Dia akan mengumpan segala kepopulerannya yang super menjengkelkan itu kepada kakak sulungnya. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau membawanya pulang ke rumah di malam dia babak belur.

"Good luck, Hyung^^"

TBC

(Maaf kalau banyak typo)

Review(lagi) Juseyo~