BoBoiBoy (c) Monsta
I'm a Boy 2 (c) Vinie-chan
Warning : This story contains a bit shounen-ai. Don't like, don't read!
-Chapter 3-
"Hari ini Cikgu akan adakan kelas musik untuk melatih jiwa kepemusikan kalian!"
"APA?!"
Betapa terkejutnya kami–siswa-siswi kelas 5 Jujur–begitu mendengar pengumuman dari Cikgu Papa.
"Kelas musik? Bukankah kelas itu akan dimulai kelas 6 nanti? Kenapa dipercepat?" tanya Yaya sebagai ketua kelas kami.
"Ahaha ... Ayolah ... Kalian tidak sayang sama Cikgu, ya? Sudah susah payah Cikgu minta izin dengan Kepala Sekolah 'tuk berikan kelas musik di kelas ini ... Huhuhu ..." Cikgu Papa mulai menangis dramatis.
Gopal tiba-tiba saja mulai panik melihat guru nyentrik itu menangis. "Eh, Cikgu! Kami bukannya tidak senang. Hanya saja tiba-tiba Cikgu berkata akan ada kelas musik, kami tentu saja kaget. Bukan begitu teman-teman?!"
Semua mengangguk mantap.
Cikgu Papa mulai berhenti menangis. "Kalau begitu, ayo kita ke ruang musik, wahai murid-muridkuuuu!" Lagi-lagi dengan gaya nyentrik khas beliau, Cikgu Papa memandu kami untuk berjalan ke ruang musik yang terletak tidak jauh dari kelas.
Kenyataan bahwa ruang musik di sekolah ini ternyata memang benar-benar rapi, bersih, dan dipenuhi dengan not balok. Kami takjub dengan suasana klasik yang menghiasi ruangan ini, bahkan beberapa alat musik sudah bersiap-siap menunggu kami untuk memainkan mereka. Kelas ini lumayan besar untuk ukuran kelas pada umumnya.
Tatapanku beralih pada sebuah gitar akustik yang terletak di ujung kelas musik. Aku tertarik untuk memainkannya. Ku ambil gitar tersebut dan membawanya ke depan, hanya sekadar untuk mengetes dan memutar tuning machines-nya.
Begitu aku selesai dengan kegiatanku, Cikgu Papa menghampiriku.
"Hmm, kamu mau main gitar, ya? Bagus-bagus. Sepertinya kamu lumayan lihai, wahai anak muridku ...," tebak Cikgu Papa.
Wajahku menjadi semerah tomat begitu Cikgu ingin aku bermain gitar. "T-tak lah, Cikgu! A-aku tidak ingin memainkannya! Hanya me ... me ..."
"Alah ... Fang, tidak apa-apa. Mainkan saja, anggap sebagai pembukaan kelas musik hari ini. Aku yakin kamu bisa," kata BoBoiboy, berhasil membuatku ayem tentrem.
Aku menelan ludah. Ya, aku memang bisa bermain gitar. Tapi suasana sepi kayak kuburan yang menantiku untuk memainkannya justru membuatku semakin gugup. Bagaimana tidak kalau banyaknya pasang mata yang menatapku intens.
"B-baiklah. Akan ku mainkan satu lagu."
Semua siswa senang dengan kata-kataku barusan.
Jreng ...
Aku pun menghela nafas panjang.
Rileks ... Ada pula BoBoiBoy yang akan melihatmu. Kau harus bersikap cool, Fang.
Jreng, jreng, jreng ...
Melodi lagu mulai terdengar. Suasana mulai tegang, namun melodi gitar yang bergema merilekskan suasana. Santai, indah tuk didengar.
Ku buka mulutku yang sedari tadi tertutup, mulai menyanyikan lagu yang diciptakan oleh penyanyi dari negara tetangga, Dygta.
"Seandainya kau ada di sini denganku~ Mungkin ku tak sendiri~"
Meski baru lirik pertama, dapat ku lihat wajah BoBoiBoy yang terlihat memerah melihatku bernyanyi. Senyumannya yang manis semakin membuatku ingin terus bernyanyi.
"Bayanganmu yang selalu menemaniku~ Hiasi malam sepiku~ Ku ingin bersama dirimu~"
Suara Cikgu Papa yang menangis haru mendengar nyanyianku. Beberapa anak perempuan mulai berseru kagum.
Namun tatapanku masih tertuju pada BoBoiBoy seorang yang memandangiku meski dari jarak yang cukup dekat.
"Ku tak akan pernah berpaling darimu~ Walau kiniii ... kau jauh dariku~ 'Kan slalu ku nanti~ Karena ku sayang kamu~"
Kini aku ingin tertawa melihat BoBoiBoy gelagapan ketika aku menyanyikan reff-nya sambil melirik ke arahnya. Aku bersumpah ingin sekali menciuminya agar tenang, seperti yang dulu sering ku lakukan. Sayangnya kesempatan itu mungkin memang tidak ada.
"Hati ini selalu memanggil namamu~ Dengarlah melatiku~ Ku berjanji hanyalah untukmu cintaku~ Takkan pernah ada yang lain~"
Tanpa BoBoiBoy sadari, air matanya keluar begitu saja. Inilah kesempatanku untuk terus membuatnya ingat dengan masa lalu kami, bagian yang paling aku suka untuk menekannya.
Ku harap kamu masih mengerti.
"Adakah rindu di hatimu~ Seperti rindu yang ku rasa~ Sanggupkah ku terus terlena~ Tanpamu di sisiku~ Ku kan selalu menantimu~"
Deg! Deg!
Jujur, jantungku rasanya mau copot begitu ku ingat kembali masa laluku dengannya. Lagu ini ternyata begitu menggambarkan betapa aku masih menyayangi BoBoiBoy selayaknya seorang kekasih.
Semua siswa dan siswi menungguku untuk melanjutkan lirik yang sempat ku jeda dengan melodi gitar. BoBoiBoy sendiri tersenyum dengan manisnya melihatku yang memainkan gitar. Dia memang sedikit gelagapan, wajahnya sangat merah, semerah kepiting rebus malah.
Aku tersenyum ke arahnya, membuatnya ke-geer-an dan salting. Ku kedipkan sebelah mataku, malah membuat para siswi mengira aku sedang menggoda mereka, sedangkan mataku sendiri menatap BoBoiBoy yang bersusah payah menutupi wajahnya.
Kau justru terlihat manis di balik topimu karena ke-geer-anmu.
Ku kembali melanjutkan lagu yang belum sempat selesai.
"Seandainya kau ada di sini denganku~ Mungkin ku tak sendiri~ Bayanganmu yang selalu menemaniku~ Hiasi malam sepiku~ Ku ingin bersama dirimu~"
Inilah bagian yang paling ku suka. Ku tarik nafasku dengan panjang, untuk bersiap meninggikan volumeku hanya untuk BoBoiBoy seorang.
"Ku tak akan pernah berpaling darimu~ Walau kiniii ... kau jauh dariku~ 'Kan slalu ku nanti~ Karena ku sayang kamu~"
Bagian reff / chorus berhasil ku nyanyikan dengan suara lantang. BoBoiBoy menutup mulutnya dan bersiap untuk menangis terharu seperti Cikgu Papa. Beberapa siswi terlihat kagum dengan suara nyanyianku, sedangkan seluruh siswa yang ikut menyaksikan melongo melihatku bernyanyi dengan suara selantang penyanyi profesional.
Aku memperlihatkan senyuman terbaikku pada BoBoiBoy yang masih menutupi mulutnya dan ikut tersenyum. Kami saling berpandangan satu sama lain. Ku condongkan sedikit tubuhku agar dekat dengan BoBoiBoy yang memerah.
"Kan slalu ku nanti~ Karena ku sayang kamu~"
.
Lagu berhenti.
.
Suara tepukan tangan terdengar. Kelas kembali ricuh dengan suara tepukan tangan yang membahana. Aku berdiri dari tempat ku duduk, membungkukkan badan 90 derajat tanda terima kasih. Cikgu Papa dan Gopal kini menangis sungguh dramatis.
"Sangat merdu suara kau! Belum pernah Cikgu mendengar suara seindah itu di dalam hidup Cikgu! Huhuhu ...!" puji Cikgu Papa, masih menangis.
"Nadanya terlalu menghayat ... Hiks ... Kau benar-benar hebat, Fang ... Kaulah kawanku yang hebat!" Gopal menepuk-nepuk punggungku dengan pelan.
Aku tertawa kecil. "Thanks, Bro!"
"Hiks, BAIKLAH! Murid-murid kebenaran! Silahkan ambil alat musik kesukaan kalian dan berkumpullah menjadi satu kubu! Kita akan menyatukan musik menjadi paduan band klasik jaman Cikgu Papa! Ayo! Ayo!"
Meski tidak mengerti apa yang diminta Cikgu Papa, seluruh siswa-siswi mengambil alat-alat musik yang ada di dalam kelas. Kelas kembali riuh dengan celotehan Cikgu Papa yang membahana bak radio yang terus menyala.
Mataku sempat melirik BoBoiBoy yang mengambil posisi sebagai pianis. Dia duduk di bagian paling pojok, dekat denganku yang kini berganti membawa biola. Posisinya yang duduk di depan piano klasik sangat bercahaya bak malaikat yang akan memainkan nada-nada indahnya.
Perpaduan antara sifat lugunya dengan piano klasik ...
Cara duduknya yang anggun di depan piano klasik ...
Jari lentiknya yang bersiap berpadu dengan piano klasik ...
Senyumannya begitu melihat ke arah piano klasik ...
Dia benar-benar bagaikan seorang malaikat tanpa sayap.
Ah! Aku tersadar. Sekarang kita sedang ada di kelas musik. Bagaimana aku bisa lupa?
"Fang! Suaramu tadi benar-benar bagus!" Yaya yang duduk di bangku kantin, tepat di samping kanan Gopal, memujiku dengan senyuman lebarnya.
"Ya loh! Kamu memang cocok menjadi penyanyi!" sambung Ying yang duduk di samping kanan Yaya.
Aku tersenyum sinis. "Heh, thanks. Lagipula hanya hobi kecil. Aku jarang bernyanyi, sih."
"Hobi kecil apanya?! Tadi itu luar biasa! Cikgu Papa pun sampai menangis terharu! Kau memang BEST!" seru Gopal sambil mengacungkan jempolnya padaku.
Senangnya aku mendengar pujian dari teman-temanku. Namun aku masih belum puas. Ku lirik BoBoiBoy yang menunduk seperti tengah menyembunyikan sesuatu. Kenapa dia tidak memujiku sama sekali?
Puk.
Tanganku menyentuh kepalanya yang tertutupi topi. BoBoiBoy mengalihkan pandangannya ke arahku. Bisa ku lihat wajahnya yang merah merona dan matanya yang berkaca-kaca.
"Tch. Kau bahkan tidak memuji bakatku. Kenapa diam saja?" tanyaku sinis.
BoBoiBoy termenung. Pandangan beralih kembali, wajahnya semakin merah. Dia menyatu-nyatukan kedua telunjuknya seperti orang yang bersalah.
"A-aku tidak bisa bilang di sini. Tapi tadi suaramu memang bagus dan ... ah! Aku tidak tahu harus bilang apa!" Kedua tangannya menutupi wajahnya yang memanas.
Aku tertawa kecil mendengarnya begitu panik. "Kenapa bingung? Hei, lihat aku." BoBoiBoy menghadapkan wajahnya hingga wajah kami bertemu. Beruntung sekali Yaya, Ying, dan Gopal sempat pamit ke kelas, sehingga kini tinggal kami berdua yang ada di kantin. Itu pun bel sebentar lagi akan berbunyi, siswa-siswi di kantin tentu sudah kembali ke kelas masing-masing.
Bocah di depanku sedikit gelagapan. Dia ingin mengelak, namun tatapan matanya terlihat seperti orang yang terhipnotis.
Ku dekatkan kepalaku ke kepalanya sehingga jarak kami tinggal beberapa senti. Mata BoBoiBoy sempat tertutup beberapa saat. Jarak antar bibir kami mulai mendekat dan–
Mata BoBoiBoy melebar. Dia langsung mendorong dadaku keras. Jarak kami kembali melebar. Mataku menatap wajahnya yang semakin merah dengan keringat bercucuran.
"M-maaf, Fang! Seharusnya tidak begini!" serunya tiba-tiba.
Tubuhku kaku. Ku pandangi BoBoiBoy yang kini berlari menjauhiku. Ku pukul meja di depanku, tanpa ku sadari wajahku menggambarkan raut wajah marah bercampur sesal.
"Sialan!" umpatku. "Kenapa aku hampir menciumnya?!"
Rasanya sakit di dada ini. Aku mungkin memang masih mencintai BoBoiBoy. Tapi aku lupa kalau dia masih belum bisa menerima perasaanku kembali untuk kesempatan keduaku ini.
Kenapa aku sebegitu bodohnya?!
Cikgu Timi berdiri di depan kelas dengan gaya mengajar yang tidak beda jauh dengan guru-guru lainnya. Bahasa Inggris, itulah pelajaran yang kini kami hadapi. Mungkin sedikit sulit bagi yang tidak dapat mengerti bahasa itu, apalagi untuk kelas 5 ini sudah ada pelajaran tentang tenses dan tetek bengek lainnya. Wajar, siapa yang tidak bingung?
Sementara Cikgu Timi mengajar dan yang lainnya menyimak, aku memandangi BoBoiBoy yang serius mendengarkan ocehan Cikgu. Wajahnya memang terlihat mengantuk, tapi tidak untuk sifatnya yang terus menyimak pelajaran.
Tumben bocah pemalas ini mau mendengarkan Cikgu ngoceh, pikirku.
Tak lama sebelum Cikgu selesai bicara, bel pulang sekolah berbunyi kencang. Tidak ada yang bersorak, hanya suara helaan nafas yang keluar. Bisa ku tebak mereka bosan mendengarkan pidato guru Bahasa Inggris yang mengajar kami.
"Jangan lupa tugas kalian untuk mencari contoh past tenses. Lusa akan Cikgu cek satu persatu. Mengerti?!"
"Mengerti, Cikgu!"
Begitu selesai bicara, Cikgu Timi dan yang lainnya pun meninggalkan kelas, hingga tersisa aku dan BoBoiBoy yang memang selalu tertinggal di kelas.
Aku melirik jam tanganku, lalu menghela nafas.
Klub basket libur untuk dua minggu. Terus apa yang harus ku lakukan?
Mataku melirik BoBoiBoy yang bersiap-siap untuk pulang. Wajahnya pucat sehabis mengantuk. Kakinya hendak melangkah sebelum aku menarik tangannya untuk mencegahnya.
"Mau ke mana?" tanyaku.
BoBoiBoy melirikku tajam. "Mau pulang lah! Sebentar lagi waktunya membantu Atok di kedai. Aku sedang sibuk, jangan ganggu aku!" Dia menepis tangannya yang baru ku genggam dengan erat.
"Tidak mau diantar?"
"Untuk apa? Lagipula aku sedang tidak ingin–"
"Ya, aku tahu aku orangnya genit dan suka gombalin kamu. Tapi jangan jadi dingin begini, dong. Aku tidak suka melihatmu begini."
Mendengar kata-kataku, BoBoiBoy menghela nafas panjang.
"Baiklah. Maumu apa?" Kini dia balik bertanya.
"Aku tahu aku belum bisa move on dari kejadian sebulan yang lalu. Paling tidak berikan saja kesempatan kedua bagiku untuk membahagiakanmu."
Aku menundukkan wajahku, berupaya untuk menutupi pipiku yang merah. Bukan amarah yang ku dengar, rupanya suara tawa yang dilontarkan dari mulut BoBoiBoy. Dia tertawa kecil sambil memegangi perutnya.
"Hahaha, baru kali ini aku melihat orang yang menyatakan bahwa dirinya homo. Kamu aneh banget ..." Dia masih tertawa kecil. Aku sendiri nge-blush tidak karuan karena malu mendengar sindirannya.
"So?" Meski kesal mendengarnya tertawa, aku tetap bertanya padanya.
BoBoiBoy tersenyum, tapi senyumannya itu melengkung menghasilkan ekspresi dinginnya.
"Bukannya tidak mau, aku tidak ingin jadi homo. Aku masih straight, normal gitu," ketusnya. "Kalau kamu mau berhomo ria, silahkan cari orang lain. Jangan aku. Ingat janji kita sebulan yang lalu."
Sekilas teringat lintasan masa lalu tentang perjanjian kami berdua. Kepalaku langsung blank ketika ingatan itu kembali lagi. Kata-kata menyakitkan itu ...
.
"Tadinya aku sudah lega sewaktu kamu memintaku untuk hanya menjadi temanmu saja. Tapi ketika kamu meminta lebih ... Aku ini laki-laki. Bukan perempuan. Kalau kamu masih seperti ini, cabut aku sebagai temanmu. Anggap aku hanyalah angin lalu."
.
... kenapa aku bisa lupa?
.
.
"Haah ... Kau membuang waktuku, Fang. Lebih baik aku pulang saja," gerutu BoBoiBoy.
Aku masih belum bisa connect dengan kata-katanya yang merupakan pamitan darinya. Begitu aku sadar, kelas sudah sepi total. Hanya ada aku seorang.
Sial, aku terus saja berkelana ke masa lalu. Kepalaku lama-lama bisa sakit kalau terus memintanya seperti ini. Haruskah aku menganggapnya angin lalu seperti yang dulu pernah dia katakan? Kalau iya, seharusnya aku meminta Abangku untuk datang ke sini.
.
Abang?
.
.
.
Cling!
HP-ku berbunyi. Aku pun membukanya dan melihat isi chat dari Kaizo, Abang kandungku. Mataku terbelalak begitu tahu dia memberikan kabar tak terduga.
.
"Pang, aku akan menetap di Malaysia selama satu minggu. Besok aku akan datang. Papa yang memintaku untuk memperhatikanmu untuk sementara waktu."
.
"Tch," aku berdecak. "Kenapa harus secepat itu?"
Aku baru ingat kalau bulan lalu Kaizo sudah memberitahuku kalau dia akan menyambangiku ke sini. Ternyata dia akan menetap di sini–
–dan posisiku sedang dalam BAHAYA!
JAWABAN REVIEW CHAPTER 2
- "Ya, betul. Memang bikin bete. Aku setuju! Merdeka(?)!"
aka-chan - "BoBoiBoy carries him with bridal style?! *LOL* Why do I wanna laugh when suddenly they change their position?! I know that scene! Fang is tsundere? I don't know well, but I also think about that too. I'd like every scenes when Fang tried to protected BoBoiBoy. ^^"
Kurohime - "Bisa, tidak, yaaa ...? Tapi harus melewati Abangnya dulu, dong! Kaizo overprotective terhadap adek kesayangannya, jadi mungkin chapter 4 dia akan muncul. Ditunggu saja!"
HikariFuruya - "Wkwkwk ... Makasih banyak! Idemu ketampung juga, nih! Fang bahkan lebih modus dari sebelumnya. Hahaha ...! Makasih banget!"
Chapter 3 riliiisss ...! Oh, iya. Para readers yang berbahagia, terima kasih sudah membaca cerita ini, yaaa ... Aku terharu ... *nangis lagi*
Padahal cuma fic gaje yang muncul setelah bete berhari-hari, ternyata ... *tahan nafas*
Ah, ya ... Rasanya kalau punya pacar kayak Fang itu bagaimana, ya? Enak, sih, tapi paling bikin takut itu Abangnya, si Kaizo. Di chapter depan dia bakal datang ke kehidupan Fang dan BoBoiBoy. Wuiiihhhh ... Jadi tidak sabar!
Oke, terima kasih sudah membaca cerita ini! Kalau mau kasih inspirasi, silahkan di-review, karena kolom review akan selalu menanti anda semua untuk memberi saran maupun kritikan atau sekadar komentar terhadap suatu fic. Don't forget to review, fav, and follow! I'll see you later! Ciao!
