Chapter 4
Disclaimer : Milik Tuhan, agensi, diri sendiri dan Orang tua mereka.
Rate : T
Genre : Romance / Drama / Family.
Inspirasi (BoA – Key Of Heart)
Warning : BL, YAOI, typo(s) bertebaran, penggunaan EYD yang kurang tepat dan hal-hal tidak jelas lainnya. Banyak hal yang kurang masuk akal di Fic ini :P. Bagi yang TIDAK suka YAOI diharapkan untuk tidak membaca dari pada anda membuat keonaran(?). Jika tak suka dengan Couplenya dimohon untuk tidak membaca pula ya. DON'T LIKE DON'T READ.
Pairing Utama:
KIHAE
.
.
.
Key Of Heart © arriedonghae
.
.
.
Matahari menyeruak melalui celah – celah sempit di korden jendela yang sedikit terbuka. Angin pagi yang sejuk berhembus dengan perlahan dan membuat korden jendela itu semakin terbuka. Membuat cahaya sang mentari tak segan – segan memasuki ruangan yang bercorak kebiruan itu. Menyinari setiap centi dari ruangan itu yang dapat dijangkaunya. Sinar itu terus bersinar seakan berjalan dan mecari sesuatu yang berada di dalam kamar itu.
Dua anak manusia masih sibuk dengan kegiatan mereka, tidur, dengan saling berpelukan, walau sinar matahari yang memasuki ruangan itu seakan ingin membangunkan aktifitas mereka. Namun, sepertinya cahaya itu gagal. Mereka masih sibuk berlayar menyelusuri setiap jengkal lautan mimpi dalam tidur pulas mereka. Mencari kesenangan – kesenangan dalam tidur lelap mereka.
Sepertinya akan sedekit lama saat melabuhkan kapal itu hingga mereka berdua membuka matanya. Mengingat apa yang telah mereka berbuat tadi malam hingga menjelang pagi tadi. Setelah acara sakral dan ritual menandakan sebagai kepemilikan yang seutuhnya. Singgakatnya mereka terlalu kelelahan dengan aktifitas yang memang baru mereka lakulan untuk pertama kali seumur hidup mereka.
Namja yang tampan memeluk Namja yang manis dengan posesiv, seakan Namja itu akan menghilang dari sisinya jika ia tak memeluknya dengan erat. Rambutnya yang sekelam malam sama sekali tak tertata dan berantakan. Tubuh telanjanganya yang tertutupi selimut sedikit berkeringat dan membuat lekukan tubuh itu sedikit mengkilat dengan indah.
Tak jauh berbeda dengan Namja yang manis, yang tengah di peluk si Namja tanpan. Pinggangnya yang telanjang dan penuh dengan tanda kemerahan dipeluk dengan hati – hati oleh sang suami. Kepalanya menempel dengan nyaman di dada bidang yang telanjang milik sang suami. Rambutnya halus kini kusut bak benang yang melilit dengan rumit. Sangat acak – acakan. Serta dengkuran halus yang terdengar dari bibirnya yang manis.
Burung – burung diluar sana seperti ingin ikut andil, membantu sang sinar matari untuk membuat kedua Namja itu segera melabuhkan kapalnya. Mereka berkicau dengan sangat nyaring dan merdu. Seakan – akan memberitahukan kepada semua makhuk hidup bahwa hari ini adalah hari yang cerah untuk dinikmati, terutama kedua Namja yang masih bergelut dengan pelayaran kapal mereka di lautan mimpi.
Deretan awan putih yang seputih kapas yang jumlahnya sangat banyak dan terbentuk tak menentu berjalan perlahan dilagit berwarna bitu itu. Siap mempersiapkan hari yang indah dan cerah agar semua makluk hidup menyambut hari yang indah nan tenang dengan hati yang gembira.
Matahari semakin menaikan dirinya ketempat yang lebih tinggi dilangit biru yang cerah. Burung – burung masih berkicau dengan merdu, beberapa terbang dan menikmati cerahnya hari ini. Angin bertiup sepoi – sepoi, membuat udara disekitar mereka menjadi sangat sejuk.
KIHAE
Perlahan salah satu dari Namja itu telah melabuhkan kapalnya dari lautan dunia mimpi. Matanya yang berwarna hitam kelam mulai menampakkan sinarnya. Sesekali ia menguap karena kantuk yang masih sedikit ia rasakan. Matanya mengerjap – ngerjap menelusuri setiap jengkal ruangan itu.
Hingga ia menemukan sesuatu yang menurutnya sangat indah dan sangat cantik. Namja yang telah membuka kedua matanya itu Kim Kibum. Namja yang telah menjadi suami dari Kim Donghae, namja yang kini masih sibuk dengan lautan mimpinya.
Kibum tersenyum tulus saat melihat istrinya yang terdidur dengan nyaman dipelukannya. Dipandanginya wajah Donghae dengan kedua bola matanya.
Ia kembali tersenyum saat melihat tubuh bagian atas istrinya terekspost dengan bebas dan penuh dengan bercak – bercak merah yang tak bisa dibilang sedikit. Ia ingat betul siapa yang telah memberikan tanda itu di tubuh Namja manis itu. Ya, Kim Kibum sendirilah yang telah menandai Namja itu dan menjadikan miliknya seutuhnya.
Rasa bahagia menyeruak dari hatinya. Mengingat ia telah memiliki hak penuh atas tubuh dan hati dari Namja bernama Kim Donghae itu. Dengan penuh sayang ia mencium sekilas pipi Namja manis itu.
Perlahan ia melepaskan pelukannya pada tubuh telanjang Namja itu. Kemudian menggerakkan tubuhnya yang telanjang menjadi berdiri. Dilihatnya Namja manis itu sekilas, kemudian ia melangkahkan kedua kakinya menuju kekamar mandi yang berada didalam kamarnya. Dan didalam ruangan itulah ia memulai ritual paginya. Seperti biasa.
xXxXxXxXxXxX KIHAE XxXxXxXxXxXx
Suasana makan siang berjalan dengan penuh kecerian. Kedua Namja yang menjadi pemeran utama kita menikmati makanan mereka dengan lahap, seakan – akan mereka sudah tidak memakan makanan selama beberpa hari atau lebih.
"Kalian makannya pelan – pelan saja Chagi..." Nyonya Kim menyuruh mereka makan dengan pelan – pelan, tapi sepertinya perinyah Nyonya Kim sama sekali tak di anggap.
"Kami lapar Umma..." Jawab Kbum sambil terus memakan makanannya dengan lahap dengan jumlah porsi yang tidak sedikit.
"Aigo.. Pelan – pelan Chagi..." Kali ini Nyonya Lee, menyuruh putra kesayangannya untuk tidak makan dengan terburu – buru.
"Hae lapar Umma. Sejak kemarin Hae belum memakan apapun..." protes Donghae saat Ummanya menyuruh makan dengan pelan.
"Ne Umma tau... Tapi semua makanan ini tak akan hilang jika kau makan dengan pelan – pelan" Kata Nyonya Lee lagi. Putranya hanya menyengir dengan imut. Membuat Nyonya Kim dan Nyonya Lee menggeleng – gelengkan kepala mereka karena melihat kelakuan kekanak – kanakan mereka. Padahal mereka berdua baru saja resmi menjadi sepasang suami istri.
.
.
.
"Hae apa masih sakit?" tanya Kibum dengan nada khawatir.
Saat ini mereka sedang duduk dibawah pohon di depan rumah Kibum, menikmati hari yang sangat cerah. Kibum duduk dibagian bawah dan Donghae duduk dipangkuan Kibum. Tangan Donghae berada dipinggang Namja manis itu, menyangganya agar tidak terjatuh. Sedangkan kepala Donghae sedang menempel dengan nyaman pada dada bidang milik Kibum.
"Sedikit..." jawab Donghae singkat.
"Mianhae, gara – gara aku bermain terlalu kasar tadi malam, kau jadi kesakitan seperti ini, lain kali aku kan bermain dengan lembut. Aku janji" ucap Kibum sambil mecium puncak kepala Donghae berkali – kali.
"Jangan merasa bersalah seperti itu. Walaupun kau bermain kasar tadi malam tapi aku juga menikmatinya..." jawab Donghae malu – malu. "Lagi pula tadi malam adalah yang pertama untukku, jadi pasti sangat sakit, mungkin setelah terbiasa, sakitnya akan berkurang saat melakukannya..." lanjutnya.
"Gomawo, Saranghae Kim Donghae..." ucap Kibum dengan lembut. "Nado saranghae Kim Kibum..." jawab Donghae sambil tersenyum.
"Hae Chagi... Bagaimana kalo kita jalan – jalan sebentar, kau ingin menikmati hari ini dengan mu saja... Sekalikus kita kencan untuk yang bertama kali sebagai pasangan suami – istri" ajak Kibum kepada Donghae yang kini sedang memejamkan matanya.
"Boleh... Tapi kau harus membatuku berjalan... Arra" jawab Donghae sambil membuka matanya.
"Tentu saja Chagi, kalau perlu aku akan menggendongmu sampai tujuan..." kata Kibum sambil menggoda Donghae
"Kau bisa saja Bummie..." jawab Donghae terkekeh.
.
.
.
Mereka berjalan perlahan menyelusuri jalanan yang agak ramai. Hanya beberapa orang saja yang mereka temui dalam perjalan menuju ketampat favorit mereka, yaitu sungai kecil. Mereka bercengkrama kecil sesekali saling menggoda dan saling memandang dengan tatapan yang hangat.
"Hae Chagi... Kau berjanji akan selalu bersamaku, kan?" tanya Kibum saat mereka hampir sampai di sungai favorit mereka.
"Tentu saja... Apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu dan terus mencintaimu... Tapi kau harus janji akan terus bersamaku Kim Kibum..." Kata Donghae sambil memandang wajah tampan Kibum.
"Ne... Aku berjanji, aku juga akan selalu bersamamu dan selalu mencintaimu apapun yang terjadi..." jawab Kibum mantap.
"Kalo begitu Kajja kita kesungai..." ajak Donghae.
Sesampainya di Sungai.
"Omo bukankah itu Jungsoo Hyung dan teman – teman?" kata Donghae sambil menunjuk segerombolan Namja yang sedang bermain dengan air.
"Kau benar, itu mereka... Kajja kita temui mereka Chagi..." kata Kibum kemudian beranjak menuju kesungai itu dengan menggenggam tangan Donghae dengan erat.
"Hyungdeul..." pekik Donghae kepada teman – teman sekolahnya sekaligus tetangganya itu. Kemudian Donghae melambaikan tangannya dengan ceria kearah teman – temannya itu.
"Donghae–ah... Kibum–ah" jawab mereka kompak tanpa di komando.
"Apa yanh kalian lakukan disini? Kalian tidak sekolah Hyung? Bukannya waktu pulang sekolah masih lama? Atau jangan – jangan kalian membolos?" tanya Kibum panjang lebar sambil melihat jam tangannya.
"Aish jangan menuduh sembarangan Kim Kibum..." sergah Sungmin sambil memandang tajam Kibum.
"Benar Kibum–ah, kami sama sekali tidak membolos, hari ini sekolah pulang awal karena para Guru akan mengadakan rapat tenatang ujian kita beberapa minggu lagi, jadi kami disini dan bermain disini..." Jawab Ryeowook panjang lebar. Diikuti anggukan dari yang lain.
"Oh, hehehe, Mian ne..." kata Kibum tak enak.
"Ne tak apa.. Dan kenapa kalian kemari? Bukannya kalian dirumah dan bermesraan?" kata Jungsoo sedikit heran dengan pasangan baru itu. Bukannya bermesraan berdua malah pergi ketempat ini.
"Kami bosan dirumah seharian Hyung, lagi pula kami pergi untuk berkencan kok..." jawab Kibum cuek. Kemudian mengajak Donghae duduk di pinggiran sungai itu.
"Hahaha kalian sudah menikah kenapa harus kencan di luar? Lebiah enak kencan diatas tempat tidur, kan? Kheheehehe" ucap Kim Youngwoong dengan cengiran mesum yang kadarnya sudah tinggi.
"Kami sudah melakukannya semalam Hyung..." jawab Kibum dengan santai dan tanpa malu.
"MWO?" teriak mereka semua kecuali Kibum dan Youngwoon, mereka menyeringai dengan mesum. Sedangkan Donghae, ia hanya bisa meundukkan kepalanya karena malu. Bagaimana bisa Kibum dengan mudahnya mengatakan bahwa mereka teleh melakukannya. Benar – benar memalukan.
"Ya Bummie, kenapa kau malah memberi tahukan kepada semua orang eoh?" protes Donghae kemudian sedikit memberi jitakan pada kepala Kibum. "Hehehe..." respon Kibum.
"Aigo, berarti kita akan segera punya keponakan Ne..." ucap MinWook sengat. "YEYYY" lanjut pasangan manis itu.
"Tentu saja, kalian tungggu saja kabar baik dari kami berdua."jawab Kibum sambil merangkul Donghae dengan mesra. Seakan ingin memamerkan kemesraan mereka kepada seluruh dunia.
"Kalian bisa saja... Nah sebaiknya ayo kita main air bersama – sama, sudah lama jugakan kita tak bermain bersama ditempat ini..." kata Jungsoo dengan antusias.
"TENTU SAJA KAMI MAU HYUNG" jawan mereka kompak.
Dan disanalah Kibum dan Donghae menghabiskan kencannya dengan teman – temannya. Tak perlu tepat yang malah ataupun tempat yang mewah. Asalkan senyum bahagia teruhir dari wajah itu, semua akan lebih baik.
.
.
.
—TBC—
End or tbc? Terserah readers
(^.^)/ Min to Review?
Halllo Hallo kembali berjumpa lagi dengan saya XDXD
Hemmmmm saya melanggar jadwal Update sepertinya. Karena Update lebih cepat dari pada yang saya janjikan(?) pada fic lalu XD *dilempar panci
Chapter ini pendek. Mian, soalnya ini saya sedang diburu Waktu
dan jreng jreng... selama beberapa hari saya akan melaukan KEMAH pemirsa, banyangkan KEMAH ;A;
saya sedikit tidak suka dengan kegiatan itu u,u
Tapi yahhh saya bisa berbuat apa u,u dan belum ada kejutan di chapter ini ._.
Chapter selanjutnya saya Update hari kamiss ya, kalo ga kelupaan XDXD
setelah itu akan sangaaaaaaatttttt lama updatenya. Karena kemah mungkin dimulai hari Kamis or jumat u,u
So, makasih banget buat semua Reader yang mau membaca dan meReview Fic ini. Maaf tak bisa membalas satu - satu #bow
So Mind to Review? ^^b
