~The Chance~
.
Tao mematung tempatnya. Pria itu, pria yang pernah bersamanya. Sekarang ada di hadapannya yang kini juga mematung di tempatnya. Keduanya saling diam dan saling mereka sama-sama berdetak yang ada di hadapan Tao mengeluarkan keringat dingin di pelipisnya. Entah apa yang harus dia katakan kini.
Tao kembali menulis pesanan dari kedua pengunjung cafenya
"Coffe esspreso…Pesanan nya akan segera datang. Terimakasih telah berkunjung ke café kami." Tao membungkukkan sedikit badannya dan segera berjalan ke arah dapur.
Pria berkulit putih pucat itu menatap Tao yang berjalan cepat menjauh dari mejanya.
"Ada apa Kris?" Pria itu menatap wanita anggun yang ada di sampingnya.
"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa."
Wanita bertubuh tinggi itu menatap seluruh isi café yang sudah penuh oleh pengunjung café yang lain.
"Banyak sekali yang datang ke sini. Untungnya kita dapat meja kosong. Pasti rasa kopi dan makanannya enak. Iya kan?"
Pria itu tersenyum tipis.
"Hmm, ya."
.
.
BRUK!
.
"Kris ge…"
Tao menatap kosong ke arah dinding ruangannya. Terduduk di belakang pintu dan mulai meremas kuat rambutnya.
"Hiks…"
Jatuh sudah air matanya.
"A-aku tidak salah lihat. Hiks, I-itu Kris ge… Aku tak salah lihat…" Lirih Tao
Hening.
Hanya dia sendiri di ruang tersebut. Biar dia sendiri yang menghabiskan rasa sedihnya untuk saat ini. Biarkan air matanya mengalir sampai dia bosan menangis. Tao tak ingin di temani siapapun saat ini. Tak menyangka jika orang yang paling dia tunggu datang dengan cara seperti ini.
.
.
.~*~*~
.
Kelas 3-C, salah satu kelas yang berada di Neul Paran Highschool. Kelas dalam keadaan yang berantakan. Meja dan kursi yang tidak beraturan, Kertas yang bertebaran di lantai,papan tulis yang penuh coretan dengan berbagai kata-kata yang tidak sopan, dan masih banyak lagi keadaan dan tingkah absurd para penghuni kelas 3-C. Di sinilah tempat Sehun yang seharusnya saat ini adalah jam belajar bagi para semua siswa. Tetapi hari ini adalah hari surga bagi semua siswa karena para guru yang sedang mengurus rapat.
Sehun tak berhenti tersenyum sejak dia memainkan ponselnya. Dia terus menggeser layar ponselnya dan melihat berbagai foto di dalamnya.
"Sedang apa kau?" Tanya seorang pria di samping Sehun. Teman sebangkunya.
"Hehe, hanya melihat foto calon istri dan anakku(?)"
"Ck, kau masih mengharapkannya?" Sehun mengangguk.
"Dia tak menyukai mu. Jadi menyerah sajalah." Ujarnya santai dan kembali membaca komiknya.
"Diam atau ku sumpal mulutmu dengan kaos kakiku."
"Wae?! Aku benarkan? Jangan habiskan waktumu untuk hal yang mustahil."
"Mwo? Jangan habiskan waktumu untuk hal yang mustahil katamu? Kai kai, Apa bedanya denganmu? Kau juga sedang mengejar-ngejar seseorang. Bahkan kau tidak pernah bicara padanya walaupun kau sering berjumpa dengannya. Jangan urusi diriku jika urusanmu belum terurus.
Temannya hanya terdiam dan tak bisa membalas Sehun.
"Haha, kau bahkan lebih menyedihkan dari ku Kai…" Ejek Sehun.
"Diam Kau!"
"Hei hei, tenang kawan." Sehun merangkul pudak teman sebangkunya
" Kalau kau tak bisa mengungkapkan perasaanmu. Aku bisa membantumu. Bagaimana?
Teman sebangkunya melepas rangkulannya.
"Aku tak percaya padamu!"
"Kalau tidak mau yaa sudah. Pendam saja terus perasaanmu itu sampai dia di miliki orang lain."
"Ya! Jangan bicara seperti itu!"
Sehun kembali sibuk dengan ponselnya, membiarkan temannya yang berada di dalam masalah asmaranya.
"Baiklah… Aku butuh bantuanmu." Sehun menatap temannya yang berkulit gelap itu dengan senyuman lebarnya.
"Nah, begitu! Kau tenang saja, aku pasti bisa membuatnya menerima mu."
"Kapan kita bisa kesana? Bagaimana kalau sekarang?"
"Ah~ Aku tak bisa, aku harus menjemput Zhuyi sekarang."
"Menjemput Zhuyi? Tapi ini belum waktunya pulang. Rapat guru sebentar lagi akan selesai."
"Aku bolos. Bye Kai." Sehun mengambil tasnya dan memainkan kunci motornya. Sementara temannya hanya menggelengkan kepalanya dan dia sudah tahu dengan kebiasaan baru Sehun itu.
.
.
Zhuyi duduk di sebuah kursi panjang dan mengayunkan kakinya. Cukup lama Zhuyi menunggu Sehun datang untuk Zhuyi memakluminya karena jarak sekolah Sehun yang lumayan jauh dengan sekolahnya. Hanya ada beberapa anak-anak yang sebaya Zhuyi yang masih ada di dalam pekarangan sekolah. Mereka menunggu jemputan sambil bermain petak umpet. Zhuyi hanya tersenyum kecut saat melihat kebahagiaan anak-anak tersebut yang saling bermain bersama. Zhuyi menunduk dan lebih memilih melihat sepatunya yang sudah sedikit kotor karena sudah dia pakai beberapa hari ini.
"Zhuyi, Zhuyi belum di jemput?" Guru Zhuyi tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Zhuyi.
"Oh, Songsaenim, Sehun ahjussi sebentar lagi akan datang."
"Ooo~ Zhuyi tidak bermain dengan teman-teman?"
Zhuyi hanya menggeleng pelan.
"Kenapa? Zhuyi tidak bosan menunggu sendiri di sini? Kan lebih seru kalau menunggu Sehun ahjussi sambil bermain dengan teman-teman." Saran guru Zhuyi.
"Gak usah songsanim. Zhuyi lebih suka di sini."
Guru muda itu mengkerutkan dahinya, bingung dengan sikap Zhuyi yang selalu menolak untuk bermain bersama temannya. Selama dia mengajar di sekolah ini, dan menjadi wali kelas Zhuyi. Dia tidak pernah melihat Zhuyi bermain dengan teman-temannya yang lain. Dia selalu melihat Zhuyi yang asyik bermain sendiri dengan mainan yang dia bawa dari rumah. Sebenarnya guru muda itu telah melarang Zhuyi untuk membawa mainan ke sekolah. Tetapi Zhuyi selalu memohon kepadanya untuk bisa membawa mainan kesayangannya dengan alasan kalau mainannya adalah temannya, dia tidak bisa meninggalkannya. Akhirnya guru muda mengizinkannya dengan syarat hanya boleh membawa satu mainanan saja dan Zhuyi menyetujuinya.
"Songsaenim tidak pernah melihat Zhuyi bermain dengan teman-teman. Kenapa?" Tanya guru muda itu.
Zhuyi terdiam. Tidak menjawab pertanyaan gurunya.
"Apa Zhuyi sedang berantem dengan teman Zhuyi?"
"…"
"Kalau Zhuyi ada masalah dengan teman Zhuyi, Zhuyi bicarakan saja pada songsaenim, nde? Mungkin songsaenim bisa bantu."
"…"
"Zhuyi?
"…"
"Zhuyi?"
"Hiks…"
"Zhu-Zhuyi?" Guru muda itu langsung menatap Zhuyi kaget.
"Hiks.. hiks.. hiks."
"Zhu-Zhuyi… Zhuyi kenapa menangis? Zhuyi jangan menangis" Guru muda itu menangkup wajah tampan Zhuyi dan mengusap air mata Zhuyi dengan ibu jarinya.
"Zhu-Zhuyi hiks, Zhu-Zhuyi gak punya teman songsaenim, hiks hiks." Zhuyi menangis hingga matanya merah dan sembab.
"Zhuyi…" Tak kuasa melihat anak muridnya menangis sedih, guru muda itu langsung memeluk erat tubuh mungil Zhuyi dan mengusap pelan punggung Zhuyi.
"Kenapa Zhuyi gak punya teman? Ada yang jahat sama Zhuyi?" Tanya guru muda itu lembut.
Zhuyi hanya menggeleng pelan.
"Lalu kenapa hmm?"
"Hiks songsaenim.."
"Ssstt jangan menangis lagi. Ada songsaenim di sini, jika Zhuyi sedang merasa bosan, Zhuyi bisa panggil songsaenim dan kita main bisa bermain bersama, nde?"
Bahu Zhuyi masih bergetar dan masih menangis. Guru muda itu memandang miris kepada Zhuyi. Anak semanis dan setampan Zhuyi tidak mempunyai satupun teman di sekolah. Sekarang dia tahu kenapa Zhuyi lebih suka menyendiri dan tidak bermain dengan anak-anak yang lain.
"Sudah, Zhuyi jangan menangis lagi. Sebentar lagi Sehun ahjussi mau datang loh."
Dengan cepat Zhuyi mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Dia tak ingin Sehun melihatnya sedang menangis.
"Kalau Zhuyi bosan main sendiri, Zhuyi bisa panggil songsaenim lalu kita bisa bermain bersama."
Zhuyi hanya menganggukkan kepalanya.
.
'Tin! Tin'
Orang yang di tunggu Zhuyi pun datang. Sehun tersenyum ke arah Zhuyi dan memanggil namanya.
"Songsaenim Zhuyi pulang dulu ya. Kamsahamnida Songsaenim." Zhuyi membungkukkan badannya dan segera pergi meninggalkan gurunya.
"Hati-hati Zhuyi."
"Nde songsaenim. Bye-bye." Zhuyi membalikkan badannya dan melambaikan tangannya kepada guru muda itu.
"Bye-bye Zhuyi." Guru muda itu melihat Zhuyi yang berlari kecil menuju Sehun yang tengah duduk di motornya, setelah sampai Sehun langsung menggendong Zhuyi dan mencium sebelah pipinya. Sehun mendudukkan Zhuyi di jok belakang motor Sehun.
Gurur muda itu tersenyum saat melihat kepergian Zhuyi. Guru muda itu berharap Zhuyi dapat menghilangkan kesedihannya.
.
.
.
.~The Chance~
.
"Mau kemana?" Tanya seorang pria paruh baya kepada istrinya yang tengah memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.
"Ke Seoul." Wanita paruh baya yang masih tetap cantik itu masih sibuk dengan kegiatannya.
"Untuk apa pergi ke Seoul."
"Ya ampun sayang, tentu saja untuk menemui Tao dan Zhuyi." Hening sejenak.
Pria paruh baya itu mendengus pelan dan menatap sinis istrinya.
"Untuk apa kau menemui anak sialan itu?"
.
'Brak!'
"Jangan bilang seperti itu!"
"Kenapa? Kau tak terima?"
"Tentu saja! Dia anak ku! Darah daging ku! Dan kau tak pantas bilang dia Tao seperti itu! Kau ayahnya!" Marah wanita itu kepada suaminya.
"Dia bukan anakku."
Sang istri terperangah mendengar ucapan suaminya.
"A-apa?"
"Aku tak sudi mempunyai anak bodoh sepertinya. Meninggalkan orang tuanya demi seorang pria. Ck! Menggelikan sekali."
"DIA ANAK MU! ANAK KITA!"
"Tidak! Dia bukan anakku. Tidak ada orang bernama Huang Zi Tao di sini."
Sang istri menggelengkan kepalanya dengan air matanya yang mulai berjatuhan. Tak menyangka jika suaminya sebegitu bencinya kepada anaknya sendiri.
"Aku tahu kalau dia melakukan hal yang salah… Tapi aku ibunya. Aku tahu yang dia rasakan. Dan aku membiarkan dia memilih jalannya agar dia senang." Ujar wanita itu dengan mata yang memerah.
"Dia menjadi seorang gay dan kau senang?"
"Iya." Ujar wanita itu sungguh-sungguh.
"Heh, kau juga sudah ikutan menjadi orang yang sudah tidak waras rupanya. Baiklah terserah mu saja. Dan aku peringatkan satu hal padamu."
Sang suami menatap tajam mata istrinya.
"Jangan pernah bicara lagi pada ku."
Pria paruh baya itu meninggalkan istrinya yang masih tertunduk sedih.
"Dan aku akan lebih senang jika kau pergi dari sini."
'Blam!'
Wanita itu tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Air matanya mengalir lebih deras.
"Maafkan aku. Hiks… Aku sangat menyayangi Tao. Karena dia anakku satu-satunya." Wanita itu menangis keras meredakan sesak di hatinya.
Semoga Tao tidak sedih saat mengetahui ayahnya tidak datang ke Seoul bersamanya.
.
.
.
.
~TBC~
.
Halo readers~ Kelamaan ya? hahaha Udah lama ngepost pendek lagi ceritanya #plak!
Ada yang mau tahu gak kenapa aku bisa ngepost jam segini?
Soalnya aku tinggal di Riau, readers tahu sendiri kan wilayah Riau lagi kena kabut asap. Hal negatifnya kabut asapnya masih tebal malah lebih tebal dari hari-hari sebelumnya. Tapi hal positifnya aku bisa libur :p #ditabok-readers
Bantu doa ya chingudeul~ Semoga kabut asapnya bisa berkurang. Amin Ya Allah!
Kalo aku tahu siapa yang bakar hutan indonesia yang tercinta ini #ceileh Aku bakal bacok orangnya bareng Tao :v
Okedeh, cuma mo bilang gitu aja.
Oh iya, untuk para readers... Terimakasih... TERIMAKASIH! Udah baca fanfic dari otak lemot sekaligus yadong aku :v
Dan aku akan kasih banyak cinta untuk para readers yang mau kasih review... Tapi maaf kalo aku gak bisa balas review nya semua ~_~' ~Saranghae Chinguya!~ lop yu ful~!
Review plis miaw~*~
