.

Okaeri

NaruMai

YakumoHaruka

© Yuki Yahiko

Ghost Hunt © Fuyumi Ono

Crossover fic with

Psychic Detective Yakumo © Kaminaga Manabu

.

.

.

.

Langkah Yakumo terhenti, ketika sebuah genggaman kuat melingkari pergelangan tangan kanannya. Alis pemuda itu mengernyit diikuti oleh tatapan matanya yang tajam.

"Jangan dikejar."

Satu perintah berkonotasi datar meluncur dari bibir tipis Sang Davis muda. Manik jelaganya menatap lurus manik hijau lawannya. Satu hembusan napas lagi-lagi ia keluarkan. Baginya, tidak butuh suara untuk memahami tatapan tajam yang diberikan oleh Yakumo. Ia cukup paham dengan jalan pikiran pemuda itu.

"Kita tidak tahu apa yang mereka rencanakan."

Satu penjelasan singkat itu mampu untuk membuat seorang Yakumo setuju. Pemuda bersurai cokelat itu mulai merasakan genggaman pada pergelangan tangannya terlepas.

"Kau benar." Ucapnya seraya beralih memutar kenop pintu kamar rawat Mai dan berjalan masuk.

.

.

Tepat ketika Ia tiba di sisi ranjang tempat gadis itu terlelap, kelopak matanya menurun. Tetap tanpa ekspresi memang, namun iris kelam itu terlihat lebih redup dari biasanya. Dengan segenap kekuatannya, ia menekan rasa sakit yang kini menjalar di relung hatinya. Kepalan erat tangan itu bagaikan pertanda bahwa dia tengah menahan diri untuk menjangkau gadis itu.

Naru mengerti, sangat mengerti malah, sentuhan darn panggilan dari dirinya tidak akan pernah mencapai sisi lain dari diri Mai. Saat ini, hanya Mai yang mampu berjuang sendiri untuk kembali ke sisi mereka, atau menyerah dan berjalan menuju sisi lainnya-tempat Gene menanti.

Ya, Hanya Mai sendiri yang mampu menentukan pilihannya. Tidak ada yang lain, bahkan dirinya. Hatinya kembali bergemuruh saat menyadari ketidakmampuannya untuk membuat manik itu kembali terbuka.

'Apa yang harus kulakukan?' batinnya terus mengeluarkan uraian yang sama.

Karena terlalu termakan akan pikirannya, Naru tidak menyadari bahwa ada sepasang manik lain yang menatapnya sendu. Gadis lain yang sedari awal keberadaannya teracuhkan dari atensi pemuda itu. Dengan satu kebiasaan yang sama-menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangan-manik gelap itu mengalihkan pandangannya.

Desiran darah yang mengalir cepat memacu pompa jantungnya membuat napasnya seakan kehilangan oksigen. Terlalu sesak, hingga dia sendiri tidak mampu menghalau iris kelamnya untuk tidak berkaca-kaca.

"Ara, Karena kalian sudah tiba disini, aku ingin mencari makanan. Aku yakin, kalian semua lapar karena kita belum ada yang makan sejak tadi." Kilahnya dengan senyuman yang tidak mencapai mata dari balik telapak tangan yang menutupi wajahnya.

Suaranya mampu memecahkan keheningan di antara mereka bertiga saat ini. Dan, menarik kembali atensi Naru ke dunia sadarnya.

Naru hanya mengangguk sebagai jawaban menyetujui. Langkah kakinya terangkat guna menuju sofa tunggu dibalik tirai putih yang tertutup. Pemuda itu tak menangkap siluet tatapan sendu dan kecewa yang terlukis di wajah gadis itu.

"Baiklah. Apa yang ingin kau makan, Naru?" masih dengan senyuman paksa dan suara senormal mungkin.

"Buat saja sama seperti kalian." Jawabnya singkat seraya menyibak tirai tersebut.

Manik kelamnya sedikit membulat, terkejut, ketika dirinya hampir menabrak Yakumo yang saat itu juga tengah membuka tirai.

Tidak berbeda jauh dengan Naru, manik hijau Yakumo, pun turut melebar sebelum akhirnya memicing tajam.

"Kau-," suara beratnya terdengar menusuk, satu tatapan tajam nan malas ia alihkan kepada gadis berhelaian hitam tadi.

"Dimana perempuan bersurai magenta itu?" lanjutnya datar, namun terdapat kilatan kekhawatiran di dalamnya.

Masako yang ditatap sedemikian itu terkesiap.

"A-no, Ozawa-san tadi mengatakan kalua ada seseorang yang ingin ia temui." Jawabnya.

"Seseorang?"

Yakumo bergumam seraya memikirkan siapa orang yang ingin ditemui gadis itu. Perasaan tidak enak mulai melingkupi dirinya. Ia mulai merasakan detak jantungnya yang mulai meningkat diikuti suhu tubuhnya yang terasa dingin. Takut. Pemuda itu takut jika terjadi sesuatu yang buruk setelah, dirinya dengan susah payah memperingati gadis itu untuk tetap disini sampai ia kembali.

Tanpa membuang waktunya, Yakumo segera melangkahkan kakinya menuju pintu.

"Gadis itu." Gusarnya menemani langkah kakinya.

Masako hendak menghentikannya tepat ketika pintu itu kembali terbuka sambil menampilkan sosok yang ia cari-dengan gadis kecil yang terlelap dalam gendongannya-diikuti John dan pria berbadan kekar.

"Nao? Goto-san?" gumamnya heran.

Dari balik pintu itu, Haruka yang tengah tersenyum lebar melangkah masuk, diikuti John dan Goto yang tersenyum canggung.

Manik kelam oliver dan Masako, pun mengamati dua sosok asing yang baru saja tiba itu.

"Oy, Yakumo, Aku tahu ini akan mengganggu kalian berdua tetapi, mendadak tadi Nao ingin meminta bertemu kalian." Jelasnya ketika mendapati ekspresi kesal bercampur meminta penjelasan kepada Sang Ayah angkat.

Yakumo tetap diam mendengarkan seraya menatap Nao yang kini sudah terlelap.

Goto pun turut menatap gadis kecil itu dengan senyuman tipis, "Tetapi sepertinya ia begitu kelelahan hingga tertidur pulas." Imbuhnya seraya meminta Haruka menyerahkan Nao kepadanya.

"Belum ada perkembangan?" tanyanya seraya melirik singkat kearah Mai sekaligus tersenyum sopan ke Naru dan Masako. Sontak, keduanya pun membalas senyuman dari Goto diiringi dengan anggukan singkat-ungkapan sopan santun.

Yakumo mengikuti arah pandang Goto sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Belum ada perkembangan berarti. Aku berniat untuk menjaganya malam ini." Jelasnya

Pria ini mengangguk paham.

Disisi lain, Haruka yang sedari tadi mendengarkan nampak tersenyum tipis.

"Kalau begitu aku juga-,"

"Oy, sampai kapan kelasmu mendapat jatah libur?" potong Yakumo dengan tatapan menusuk.

Haruka terpegun sejenak sebelum garis bibirnya membentuk lekungan ke atas dengan sedikit menggigit pangkal bibir bawahnya. Jari telunjuknya menggaruk pelan pipinya diiringi dengan keringat dingin yang muncul sedikit.

"Yakumo-kun, liburan semester kita masih satu bulan lagi, loh." Kekehnya seraya menetralkan laju jantungya.

Selama mereka tinggal Bersama, Yakumo mulai terbiasa memanggil Namanya terkecuali, saat pemuda itu kesal atau marah kepadanya-sama seperti saat ini.

"Bagus." Jawaban singkat itu bagaikan pertanda buruk untuknya. "Goto-san, ada beberapa hal yang ingin aku diskusikan denganmu." Manik hijau itu mengalihkan pandangan dari Haruka. Enggan mengacuhkan tatapan protes yang dilayangkan gadis itu serta memotong setiap kalimat yang mungkin akan gadis itu utarakan.

"Tapi sebelum itu, Aku ingin kamu membawa gadis itu-Yakumo menunjuk Haruka, dan memastikan Ia tidak keluar dari rumahmu sendirian." Titahnya daripada sebuah kalimat permohonan.

Haruka ingin berteriak protes kalau saja ia tidak ingat jika sedang berada di Rumah Sakit, dan sangat tidak etis jika ia mengeluarkan nada tinggi di ruang inap pasien.

"Boleh saja, asal Haruka-chan tidak keberatan." Sanggupnya seraya melirik kearah Haruka yang tengah mengeluarkan tatapan penolakan, dengan kedua tangan berkacak pinggang dan kedua pipi yang mengembung kesal.

"Aku pastikan dia tidak akan menolak." Sungut pemuda itu yakin seraya tetap tak mengindahkan delikan tajam dari gadis yang menjadi objek pembicaraan mereka.

"Tunggu dulu, Yakumo-kun." Haruka hendak protes ketika suara dingin milik Yakumo menciutkan nyalinya.

Demi Apapun, Tidak bisakah pemuda itu lebih peka terhadap perasaannya saat ini. Haruka ingin tetap berada disini, menjaga Mai seraya menemani pemuda keras kepala yang ia yakin tengah menyembunyikan sesuatu dari mereka, terutama dirinya. Tetapi, sekeras apapun dirinya, Yakumo akan tetap menjadi Yakumo yang pendiam, terlihat tidak peduli, dan sangat suka memaksakan diri kendati dirinya terlihat malas.

Merasa kalah, gadis bersurai magenta itu memejamkan matanya seraya menghembuskan napas Lelah.

"Baiklah." Pasrahnya.

Pemuda bersurai cokelat itu hanya mengangguk singkat seraya melirik jam tangannya.

"Aku akan mengantarkan mereka ke area parkir. Tidak bagus jika terlalu malam disini." Pamitnya kepada tiga anggota SPR itu.

"Ah, tunggu, aku juga akan ikut bersama kalian." Sahut Masako yang dijawab dengan anggukan Yakumo dan Naru.

Goto memberikan jabatan tangannya singkat kepada Naru dan John diikuti dengan Haruka yang membungkuk hormat.

"Maaf jika ini akan merepotkan kalian. Tetapi, aku harap kalian bisa menjaga Adikku." Pamitnya dengan seulas senyum tipis.

"Serahkan semuanya kepada kami, Ozawa-san." Balas John dengan senyuman lebar.

Mereka berempat kemudian beranjak keluar dari ruang rawat inap itu. Dan sebelum Masako menutup pintunya rapat, Naru berucap.

"Hara-san."

"Ya, Naru?" Sahutnya antusias. Pasalnya, sedari tadi, baru kali ini Naru memanggil dirinya. Semburat merah tipis itu menghiasi wajah putihnya.

"Bawalah John bersamamu." Perintahnya seraya melirik kearah John dan dijawab dengan anggukan pemuda itu.

Gurat kecewa tercetak samar di wajahnya sebelum akhirnya dia menjawab, "baiklah."

John segera menyusul mereka dan menutup pintu, Meninggalkan Naru yang menemani Mai sendirian.

.

.

.

"Kalau begitu kita berpisah disini."

John Bersama Masako memberikan senyum perpisahan kepada rombongan Haruka. Tepat dipertigaan jalan, Masako dan John menuju kantin yang berada disisi kanan dan kelompok Yakumo menuju parkiran pada sisi kiri.

"Ya, Sampai bertemu besok." Haruka menjawab seraya melambaikan tangannya.

Kedua kelompok itu saling berpisah menuju tujuan mereka masing-masing. Dalam keheningan, baik Haruka maupun Yakumo tidak ada yang memulai berbicara. Sedangkan, Goto sesekali memperbaiki posisi tidur Nao yang berada dalam dekapannya.

Manik violet itu sesekali melirik kearah pemuda yang berjalan di sampingnya.

'Mo … Yakumo-kun! Berhentilah diam dan jelaskan semuanya kepadaku. Apa lagi yang kamu sembunyiin, sih.' Geramnya yang hanya bisa ia lampiaskan dalam angan. Tidak mungkin ia berani mengucapkan kalimat tersebut secara frontal mengingat situasi mood pemuda itu sedang jelek.

"Yakumo-kun." Panggilnya pelan yang tak diacuhkan oleh pemuda di sampingnya.

"Yakumo-kun." Panggilnya lagi, dan masih tak teracuhkan.

Haruka menghembuskan napas Lelah seraya berbisik mencibir, "Menyebalkan."

Violet itu akhirnya mengalihkan pandangannya, ngambek.

"Ah, kalian berdua tunggu disini saja. Aku akan mengambil mobil dan membawa kemari." Pecah Goto di tengah keheningan mereka.

Tanpa perlu menunggu jawaban, pria dewasa itu segera berlalu dari sana meninggalkan sepasang insan itu.

Sebenarnya, Haruka hendak menyusul ketika telapak tangannya digenggam erat oleh pemuda di sebelahnya.

"Apa?" ketusnya dengan mata menyipit tajam.

"Goto-san menyuruhmu untuk menunggu disini." Jawabnya datar yang dibalas dengan delikan tajam dan wajah terbuang dari lawannya.

"Haru-,"

"Maafkan, aku." Sela cepat gadis itu seraya masih menatap sisi lainnya. "Aku tahu kalau kau mecemaskanku tetapi, Yakumo-kun, setidaknya bicaralah sedikit tentang apa yang mengganggumu terlebih itu menyangkut diriku maupun Mai." Paraunya.

Manik hijau itu melebar ketika menyadari bahu gadis itu bergetar. Ia tahu, saat ini Haruka tengah menangis lagi.

Dalam diam, tangan kiri Yakumo tergerak untuk meraih gadis itu sebelum lagi-lagi dirinya dibuat terkejut oleh tindakan asal-asalan Haruka. Beruntung keseimbangan pemuda itu telah terlatih, sehingga dirinya mampu menahan beban terjangan gadis itu tanpa harus terjerebab menyentuh lantai rumah sakit yang dingin.

"Setidaknya beritahu aku sedikit, Yakumo-kun! Aku juga ingin melindungi dirimu! Berhentilah memaksakan dirimu sendiri, bodoh!" teriaknya dengan suara yang terpendam oleh dada bidang pemuda yang kini tengah didekapnya.

Jantung Yakumo berdegup cepat. Perasaan hangat sekaligus nyeri diulu hatinya bercampur menjadi satu. Otak jeniusnya telah menyusun deretan kata-kata yang bergabung menjadi kalimat untuk ia ucapkan. Sayangnya, bibirnya hanya mampu mengucapkan sebuah kalimat terdiri dari dua kata,

"Maafkan, aku."

Yakumo seketika merutuki mulutnya sendiri. Perasaan aneh yang dari dulu ia kubur kembali menyeruak ke permukaan. Jujurnya, pemuda itu tidak ingin menutupi apapun dari gadis yang kini malah terlelap seraya memeluknya. Baginya, melindungi adalah tugasnya.

Kegagalan berulang kali yang ia lakukan membuatnya enggan untuk melibatkan orang-orang terdekatnya kembali dalam bahaya. Mereka semua berarti untuknya, tak terkecuali gadis brunette yang dengan dirawat di tempat ini kedati mereka baru saja bertemu. Oleh karena itu, dialah yang akan berperan untk melindungi mereka semua.

.

.

.

Deru mesin mobil yang terhenti di depannya membuat Yakumo menglihkan padangannya dari wajah Haruka yang tengah berada dalam dekapannya.

"Haruka-chan juga tertidur." Ucap Goto tak percaya saat melihat Yakumo turut masuk ke dalam mobil Bersama Haruka yang tengah terlelap.

"Dia terlalu Lelah. Sedari kemarin ia kurang beristirahat, bukan?" jawab Yakumo seraya memperbaiki posisi tidur gadis itu agar kepalanya bersandar pada bahunya.

"Kau tidak jadi menginap?" tanya Goto lagi.

"Aku akan kembali menggunakan taksi nanti." Jawabnya.

"Tidak perlu, aku akan mengantarmu kembali nanti."

Dan mobil itu melaju meninggalkan area parkir.

Manik hijau itu sempat kembali menajam kearah luar jendela. Dengan cepat, ia mengeluarkan ponsel berwarna pink dari sakunya dan mengirimkan sebuah pesan pada kontak bernama 'Naru' dalam handphone itu.

"Goto-san, pastikan kita melewati jalan yang ramai nanti." Peringatnya saat dirinya menyadari bahwa …

Mereka tengah diawasi.

.

.

tbc