sebelumnya sya minta maaf karena tiba-tiba hiatus dan tiba-tiba kembali(?) tapi terima kasih banyak buat yang sudah review, fav, alert, maupun cuma nunggu—dan itupun lebih dari cukup—fic ini meskipun lama buanget…. Thank's so much untuk Ridiculous Aura, Miyoko Kimimori, Moku-Chan, Jerza Loverz, Shiroi no Tsuki, SeiHinamori, Twintail, yoouko, AN Narra, Tanigawa Rizumi no Sari-chan, FoX, MewMewMeoong, blueblueberry, kisara-chan, onixsafi1023, dan seluruh readers yang pernah baca dan nunggu kelanjutan Yūyami 夕闇. Dan selamat tahun baru 2014 (meskipun telat banget), semoga tahun ini tambah baik lagi ^_^

Oke, selamat membaca…..

.

.

.

Pair : Sesshomaru x Tenten

Genre : Adventure—maybe end with Romance…

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto, Inuyasha by Rumiko Takahashi, but this fic by Izumi Nairi :)

Rating : K+

.


.

Yūyami 夕闇

Chapter 4

.

Tenten membuka matanya perlahan. Pelan-pelan, dia bisa melihat beberapa orang—gadis dan anak kecil—tengah mengerubungi tubuhnya yang terbaring di lantai yang dingin dan lembab. Kepalanya sedikit pusing, dan dia tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya—dia benar-benar merasa lemas sekarang. Matanya bisa melihat orang-orang itu sedikit menjauh, lalu datang seorang gadis membawa sesuatu ke arahnya.

Kemudian, tanpa dia inginkan ada orang yang mengangkat kepalanya, menyorongkan gelas berisi air putih dan meminumkan padanya. Tenggorokannya yang terasa kering mulai sedikit segar. Tapi dia masih perlu mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

"Kau mau duduk?" tanya salah seorang gadis di antara mereka. Rambutnya berwarna hitam, begitu pula dengan matanya.

"I-iya."

Kepalanya kembali terangkat, begitu pula dengan setengah tubuh bagian atasnya. Kemudian dia disandarkan di dinding di sebelahnya. Kali ini matanya terbuka lebih lebar. Dia bisa melihat bahwa dia—juga dua gadis remaja seumurannya, dua anak perempuan, seorang bayi yang tengah digendong salah satu anak perempuan kecil yang tengah menatapnya—berada di dalam sebuah sel besi yang kumuh dan dipenuhi lumut. Satu-satunya penerangan hanyalah cahaya matahari yang menerobos lewat jendela kecil di dinding di belakangnya.

Tenten memegang kepalanya, mencoba meredakan rasa pusing yang kembali melandanya. Matanya tertuju pada perempuan yang membawakan minuman untuknya. Meminta penjelasan.

"Kau terkurung bersama kami," potong gadis itu. "Sebelumnya, perkenalkan, namaku Karugawa Ayako."

Tenten mencoba tersenyum, namun gagal. Katanya lemah, "Aku Tenten, dari Konohagakure."

"Kalau aku Kiku. Ini Madoka-chan," kata gadis bermata hitam dan berambut hitam tadi sambil menepuk pundak anak kecil berambut coklat di sebelahnya, "dan itu Shirayuri-chan, dan yang digendongnya—" Kiku melirik Ayako.

Ayako menghela napas. "Yah… kami tidak tahu siapa namanya—tiba-tiba saja dia sudah ada di samping Shirayuri beberapa hari yang lalu. Dan itu juga yang terjadi pada kami semua. Termasuk dirimu."

"A-aku masih belum mengerti…"

"Kami pun juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini," kata Ayako. "Tapi yang pasti, kami diculik oleh seorang siluman perempuan bernama Zumomi."

"Diculik?" tanya Tenten tidak percaya. "Kalau begitu, aku juga—"

"Iya," potong Ayako. "Semalam, kau dibawa kemari olehnya."

Gadis bercepol dua itu memejamkan matanya sebentar, kemudian tersenyum bingung. "Tolong ceritakan padaku secara runtut. Semua yang kau tahu, Ayako-san. Aku benar-benar tidak ahli dalam hal ini." Dia menambahkan dalam hati, 'Harusnya Neji ada di sini… dia lebih pintar.'

"Kisah ini dimulai dariku, yang menjadi korban-entah-ke-berapa dari Zumomi, siluman yang menjelma menjadi seorang gadis remaja cantik bermata biru, sangat biru dan terang. Aku terjebak oleh kebaikan hatinya yang seperti malaikat, senyumnya yang teramat sangat bersahabat, dan kisah-kisah yang diceritakan olehnya. Aku terjebak, dan berakhir di dalam penjara ini. Aku sendirian di sini—karena mungkin dia sudah melakukan sesuatu yang buruk pada korban-korbannya sebelum aku—dan aku berpikir kalau setelah ini adalah giliranku.

"Namun, beberapa hari kemudian, dia membawa seorang anak kecil—Madoka—yang saat itu masih dalam keadaan tertidur. Mungkin Madoka tidak sepertiku yang terjerat oleh Zumomi, melainkan diculik."

Tenten menatap Madoka, anak perempuan yang juga menatapnya dengan mata hitamnya. Poninya mengingatkannya pada Lee. Teman satu timnya yang mungkin saja tidak bisa ditemuinya lagi.

"Lalu, bagaimana dengan Kiku-san, Shirayuri, dan bayi itu?"

Kali ini Kiku yang berbicara, "Setelah Ayako-san dan Madoka-chan, selanjutnya adalah Shirayuri. Kisahnya mirip dengan Madoka-chan—dia dibawa pergi dalam keadaan tertidur. Kemudian ada aku. Aku sama seperti Ayako-san, sama-sama terjerat oleh perkataan dan persahabatan yang diberikan Zumomi, dan pada akhirnya berakhir di sini.

"Terakhir, bayi itu. Mungkin dia diambil dari ibunya saat sang ibu sedang tertidur, atau dirampas, atau apapun itu. Yang jelas—aku bahkan tidak bisa melihat ada yang jelas dari semua ini," ujar Kiku sambil menghela napas, "aku tidak bisa berpikir, semuanya serba cepat membingungkan. Bahkan sampai detik ini, aku tidak mengerti apa yang terjadi."

Tenten ikut menghela napasnya. Mungkin itu satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang.

Tiba-tiba, bayi yang berada dalam gendongan Shirayuri menangis. Ayako langsung berdiri dan menghampiri dan mencoba menenangkannya, namun tidak berhasil. Kiku juga demikian, namun hasilnya tetap nihil. Tenten yang cuma melihat, mencoba untuk mendekati mereka, meskipun tubuhnya masih dalam keadaan lemah.

Gadis bercepol dua itu tidak berusaha meraih sang bayi—hanya membuat membuat wajahnya terlihat oleh bayi yang kini berada dalam gendongan Ayako. Kemudian dia membuat mimik selucu mungkin, walaupun dia tahu itu mungkin malah membuat sang bayi tambah menangis.

"Oh!" seru Kiku. "Dia berhenti menangis?!"

"Benarkah?" kata Shirayuri dengan mata berbinar.

Kiku mengangguk bersemangat. Binar matanya mulai muncul. "Kau hebat, Tenten-san! Bisa membuat bayi ini berhenti menangis—padahal kami perlu waktu berjam-jam, lho."

"Mungkin dia tertarik melihat cepol duamu itu, Tenten-san," kata Ayako sembari tersenyum kecil.

Tenten masih tidak percaya. Tapi dia cukup senang juga. Senyuman bayi ini mengingatkannya pada Mii-chan. Yang mungkin saja tidak akan pernah dilihatnya juga. Tiba-tiba dia merasa ada yang menusuk ulu hatinya.

Tenten perlahan menjauh dari Ayako, Kiku dan Shirayuri yang masih menghibur sang bayi dengan bersemangat. Dia menyandarkan kepalanya ke tembok, menatap ke depan dengan pandangan menerawang.

Rasanya dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau dia tidak bisa kembali—atau paling tidak, selamat. Dia tidak bisa bertemu dengan teman satu timnya—Neji dan Lee, dengan gurunya, dengan teman-teman di Konoha. Mengingat Neji, dia jadi merasa sangat bersalah karena tidak mendengarkan ucapannya agar berhati-hati—agar tidak mengikuti misi ini. Kalau saja dia sedikit menekan keinginannya, mungkin hal ini tidak akan terjadi.

Tenten meremas celananya, membenamkan kepalanya dalam lututnya. Siapa yang bisa dimintai tolong olehnya? Dia tidak punya senjata, alat komunikasi apapun, dan tidak ada jalan keluar. Dia tidak bisa menyelesaikan misi dengan baik, menyusahkan temannya, dan terperangkap di dalam apapun itu. Dia merasa kosong sekarang.

Andaikan Neji dan Lee ada di sini…

"K-kau baik-baik saja?"

Tenten mendongak, mendapati Madoka menatapnya dengan tatapan datar. Dia langsung teringat Hanabi, sepupu Neji. Duh!

"Iya," jawab Tenten. Dia tersenyum manis.

Madoka bergeming. Gadis itu masih menatap Tenten tanpa ekspresi. Senyum Tenten mengendur.

"Kau baik-baik saja, Madoka-san?" Tenten balik bertanya.

Madoka menggigit bibir bawahnya. Pandangannya ragu-ragu, tetapi akhirnya dia berkata juga, "Aku—aku mendengar wanita itu berkata."

Kening Tenten berkerut. Ayako dan Kiku yang mendengar perkataan Madoka menoleh bersamaan.

"Pada saat wanita itu membawamu semalam, aku tidak tidur. Aku tidak bisa tidur. Dan aku mendengarnya berkata dengan suara merdu. Dia berdendang dengan suara yang sangat merdu," kata Madoka.

"Apa yang dia ucapkan, Madoka-chan?" tanya Ayako sambil menghampiri mereka berdua.

"Dia berkata, 'Tinggal satu lagi, dan semuanya akan sempurna. Gadis ini, dan seorang lagi. Yang sangat manis, sangat manis.' Dia mengucapkannya dengan berdendang," ujar Madoka. Bahunya sedikit bergetar karena ketakutan. "Kemudian dia berdendang lagi, 'Saat bulan purnama, saat bulan sempurna tercipta. Tinggal satu lagi, yang sangat manis'."

"Bulan purnama?" gumam Kiku kebingungan. "Tinggal satu lagi? Apa maksudnya?"

"Sudahlah, Madoka-chan," kata Ayako menenangkan. Tangannya mengelus pundak Madoka lembut, meskipun dia terlihat khawatir juga. "Kau tidak perlu memikirkannya lagi. Lebih baik kau bermain dengan Shirayuri."

Pandangan Ayako beralih ke Tenten setelah dia memastikan Madoka sudah berada di dekat Shirayuri dan bayi yang digendongnya. Bisiknya pada Tenten, "Apa maksudnya, dia akan mencari seseorang lagi—untuk apapun yang akan dilakukannya, Tenten-san?"

Tenten menatap cahaya matahari yang masuk melalui satu-satunya jendela di sana. "Aku tidak tahu, Ayako-san."

—"—

"Sesshomaru-sama?"

Lelaki berambut seputih salju itu mengalihkan pandangannya dari cahaya matahari yang menerobos dedaunan rimbun di atasnya ke arah satu-satunya siluman yang ada selain dirinya. Tatapannya sedingin es.

"Ada apa?" tanyanya.

Jaken menelan ludah. "T-tidak ada apa-apa. Hanya saja, Sesshomaru-sama tampak tengah memikirkan sesuatu."

Sesshomaru terdiam.

Jaken ikut diam.

Tiba-tiba, angin yang sedari tadi berhembus ikut berhenti. Suara gemerisik dedaunan dan rumput-rumput juga tidak terdengar lagi. Jaken menelan ludah, tubuhnya tiba-tiba merasa kedinginan, padahal ini tengah hari. Akhirnya, satu detik sunyi yang panjang dia lewati ketika mendengar suara tuannya bertitah.

"Bisa kau awasi Rin? Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya."

Jaken mengernyit, minta penjelasan lebih. Namun ketika melihat tatapan tuannya, dia langsung pergi.

Setelah melihat Jaken menghilang dari pandangannya, Sesshomaru kembali bersandar di batang pohon di belakangnya. Matanya menatap langit yang tidak terhalang lebatnya dedaunan pohon itu dengan ekspresi datar.

Tanpa sadar, tatapannya beralih ke tangannya. Ke arah tangan yang pernah digunakannya untuk mencengkeram lengan seorang perempuan—manusia—beberapa waktu lalu. Satu-satunya manusia selain Rin yang pernah dia sentuh. Manusia dengan cepol dua yang menurut Rin lucu. Manusia dengan mata kecoklatan yang hidup dan tidak sedingin matanya. Manusia yang bisa melewati gerbang setinggi lima meter hanya dengan sekali lompatan.

Manusia, yang untuk pertama kalinya, membuatnya takjub.

"Gadis dengan cepol—"

Kening Sesshomaru berkerut tipis. Dia merasakan perasaan aneh. Sangat aneh dan tidak nyaman.

"Sesuatu telah terjadi," katanya pelan. "Atau sesuatu akan terjadi."

.

To be continue. . .

.


.

Author's note: Oke(?) yang di atas tadi bukan A/N, tapi cuma pemanasan #hm? dan akhir kata, semoga feel di chap ini lumayan kerasa—nggak mengharapkan lebih, karena udah berbulan-bulan…

kritik dan saran sangat dinantikan, supaya bisa lebih baik lagi…

Arigato gozaimashu… (^-^)

.

Balasan review

FoX: makasih sebelumnya, karena udah membaca, review, dan mau nunggu (semoga). Ini kelanjutannya, semoga suka :)

MewMewMeoong: ini udah update, meskipun nggak secepat yang diharapkan (_ _) semoga suka dengan chap ini, ya…

blueblueberry: terima kasih, ini udah dilanjutin (^^)

kisara-chan: sya juga suka sama sesshomaru-ku~~ tapi nggak janji bisa buat pair dia cepet-cepet… oh ya, ini udah di-update, meskipun lama banget, semoga nggak mengecewakan…

.

p.s: bagi yang login Insya Allah saya bales lewat PM

.