Disclamer : Naruto, Masashi Khisimoto.

Warning ; AU, OCC, Alur berantakan, Misstypo dll

Rated : :T (een)

Pairing : NaruHina

Chap empat update!

_Don't Like Don't Read_


"Naruto- kun? " Hinata segera membuka surat tersebut. Dengan perlahan pandangannya melihat tulisan —yang diketahui — khas Naruto memenuhi setengah kertas putih tersebut.

Temui aku di belakang sekolah setelah pulang sekolah, Kau tidak boleh lupa!

Naruto Uzumaki

Raut wajah Hinata terlihat sangat binggung saat melihat perkataan yang bisa disebut juga perintah yang tertara di kertas putiih tersebut 'mengapa Naruto ingin bertemu denganku?' lamunannya terhenti saat melihat beberapa siswa yang kini tengah menatap penuh keanehaan kearahnya membuat Hinata sedikit ragu kalau mereka tak memiliki rencana.

"Hyuuga sudah berapa lama kita tak bermain,hm?"ucap seorang gadis pink dengan suara yang dibuat-buat tak lupa dengan sedikit tingkah yang err.. menggoda.

"Sakura hentikan sikapmu yang memuakan itu" dengan melipat kedua lengannya di dada kali ini Ino menegur Sakura yang menurutnya agak berlebihan yang langsung ditimpali dengan anggukan setuju oleh Sasame dan Shion.

"Cih, aku tahu"Sakura mendengus sesekali dia menatap nyali terhadap Ino yang kini tengah berjalan kearah Hinata yang masih terpaku memutari bangku tempat Hinata berada matanya terus terpaku menatap Hinata yang kini hanya menundukan kepalanya sesekali melirik tingkah Ino dari ekor matanya yang dari tadi tak berhenti mengikuti arah objeknya berada.

"sepertinya kau sangat cocok"Terkejut, Hinata sangat kaget saat Ino menaruh dagunya di ubun-ubun kepalanya dengan tiba-tiba sementara Ino hanya bergumam kecil seraya mengangkat ibu jarinya kearah teman-temannya.

"Hyuuga memang menarik"

"Aku tak sabar menantika—

"Oh ya, Bukannya kau bilang rencana ini sangat konyol,hah?" Sasame mendengus saat Sakura mengejeknya dengan seringai yang menjengkelkan.

"Terserah"

"Hahh.. dan kau besok temui kami diatap kalau tidak— kami akan bertindak kasar terhadapmu" Ino berkata dingin hal yang tak biasa dilakukan oleh seorang Ino Yamanaka sementara Hinata terus meneguk ludahnya sendiri saat mendengar perkataan Ino dan mengganguk tanda mengiyakan.

"Bagus"

.

.

.

.

Hinata berlari tergesa-gesa menuju belakang sekolahnya sudah lebih dari setengah jam lebih dari perintah yang Naruto berikan kepadanya. jika tidak ada Sakura dan lainnya mungkin dia tak akan seperti ini berlari-lari di sepanjang koridor sekolahnya dengan penampilan yang agak berantakan.

'Ya Tuhan, semoga aku tidak telat'

langkahnya terus melebur meniggalkan gedung sekolah yang tampak kecil saat semakin jauh dia berlari, paru-parunya berteriak kekurangan oksigen tubuhnya mengecam semua perbuatan ekstrim yang tak pantas untuk dilakukan seorang gadis tapi tak ayal mengurangi niatanya untuk terus berlari karena disana orang yang disayanginya telah menuggu dan sifatnya yang tak ingin membuat orang menuggulah yang membuat langkahnya tak berhenti.

"Hhh.. sebentar lagi hampir, Naruto-kun tunggulah aku sebentar lagi"

Amesyth'nya terus menajamkan pengelihatan tersebut mencari sosok pemuda yang telah membuatnya cemas dengan keberadaan sang pemuda dan takut atas kemarahan yang mungkin akan dialaminya saat bertemu Naruto membayangkannya saja membuatnya bergetar dibuatnya—apalgi jika hal itu benar terjadi?

lamunannya terhenti saat melihat sang 'Objek' yang dicarinya matanya melebar dibuatnya Hinata tak percaya dengan pemandangan sadis didepanya, apa yang terjadi

—mungkinkah.

"NARUTO-KUNN"

Pemuda tersebut tak sadarkan diri beberapa luka memar di beberapa tubuhnya— alat tajam sepertinya yang telah Naruto tak berdaya seperti itu sementara firasatnya berkata ini pasti ada sangkut pautnya dengannya. dia pernah melihat seperti ini tapi entah kapan, dimana dan dia pun tak ingin tahu tentang hal ini langkahnya terus terpacu kearah Pemuda tersebut sebelum itu terjadi langkahnya kembali dihentikan oleh suara yang tak ingin ia dengar kembali.

"Kau lemah Hinata"

Menyakitkan bukan? Hinatapun merasa seperti itu. kali ini seluruh tubuhnya mati rasa suara yang dihormati , dikagumi, karena kebijakan yang ditunjukan pada saat Hinata masih kecil tap dibalik semua Hinata tak suka dengan suara yang membuatnya ingin menagis dan merasakan —Balas dendam.

"Itachi-niisan.."

"Hanya karena pemuda ini kau begitu lemah Imotou"

"Tapi B-bukan m-maksudku itu.."

"Kau akan terus menjadi orang tak berguna jika kau bersikap seperti itu"

Itachi berujar dingin seraya mendekati Naruto yang masih dalam keaadan seperti semula Hinata terdiam melihat tingkah kakaknya terhadap pemuda yang sangat dicintainya "—Pengangu harus dimusnahkan"

"Kumohon Jangan lakukan itu pada Naruto-kun "

"Penganggu harus dimusnahkan"

"Itachi-nii KUMOHON JANGAN.."

"Herosid" Itachi mengunakan Jurus tingat yang hanya berlaku dikalangan tertentu hawa pekat menyelimuti bagian tubuh Itachi bagian mata terlihat kosong hanya sedikit cahya yang terpantul di bagian lensa tangannya terangkat kelangit-langit munculah pedang berukuran sekitar 15 centimeter terambang diudara mengara kepada Naruto yang terbaring ditanah merah pekat.

"Matilah kau Namikaze.."

"Kazentsu"

Prangg! suara yang saling berbenturan menghentikan aksi yang dilakukan oleh Itachi terhadap Naruto temeng cahaya biru yang dibuat Hinata untuk melindungi Naruto sementara dirinya kini tengah terambang bersama sapu terbang yang sengaja Hinata buat untuk mengakses keberadaan Itachi lebih mudah, kali ini dia akan sedikit memberi peringatan terhadap kakaknya tersebut.

"Aku memang lemah, tapi suatu saat nanti akan kubuktikan padamu bahwa kau salah"

"Begitukah" kekuatan Itachi memudar semua nampak kembali normal seperi sedia kala tapi seringai licik masih pekat diwajah Itachi sepertinya dia tertarik dengan ucapan Imotounya tersebut.

"Ku kembalikan Bocah pirang ini kepadamu"Hinata—yang masih menaiki sapu terbang— dengan sigap menagkap Naruto yang dilempar kebawah layaknya kertas oleh itachi sementara sang pelaku telah pergi entah kemana. Hinata bersyukur sekiranya tak terjadi hal yang lebih buruk terhadap Naruto wajah sang pemuda terlihat damai walau ada beberapa luka memar diwajahnya Hinata tersenyum rona merah terpapar jelas dikedua belah pipinya baru pertama kali dia sangat dekat dengan Naruto.

"Naruto-kun, kau sangat tampan" Hinata membelai pipi berkulit tan tersebut dia tak menyangka bisa melakukan hal ini tak perlu waktu lama Hinata menurunkan sapu miliknya kebawah segera Dia rawat luka memar tersebut dengan kekuatan turun menurun yang diwarisi kepadanya sebagai seorang penyihir.

warna Hijau pekat menyelimuti benda seperti tongkat kecil yang ada digengaman Hinata tangan yang nampak berhaya tersebut diarahkan kepada setiap luka yang ada raut wajah Hinata tak bisa diperkirakan antara rasa bersalah dan kecewa terhadap dirinya yang mengorbankan orang seperti Naruto matanya terlihat kosong menatap sang pemuda tanpa menghentikan aktivitas yang dilakukannya. tangannya berhenti di bagian leher sang pemuda matanya kali ini menyapu benda yang mengantung manis dileher sang pemuda

"Kalung ini jangan-jangan.."

Hinata mengeluarkan kotak kecil dia menatap bergantian antara kotak tersebut dan kalung yang dipakai Naruto. senyum Hinata mengembang kala mengingat sesuatu yang sudah lama dicari nya.

'Tidak salah lagi ini pasti ..'

_To Be Continue_

A/N: Gomen telat bangett udah lebih dari Tiga bulan gak di update alur yang sudah dipikir entah lenyap bersama kegalauan chap ini terkesan gimana ya?haha.. saya gak bisa komentar wong yang buat saya hahaha~okelah chap ini Khusus untuk Tsuzuka 'Aita, Kaisar Rikudo yang nyempetin PM buat cepat update#nyengir lima jari. makasih ya~

Terimakasih untuk :X-friendz Forever , cha the princess from the dark, Tsuzuka 'Aita, NHL-chan, Dani Reita Tetsuya, Inainae-chan, Kaisar Rikudo dan para Readers yang telah membaca fic ini.

Jurus dan lainya hanya khayalan Author jadi jangan heran kalau aneh#plakk..

Review, Concrit, saran dll diterima~

Regrads

_Hiko'Ay_